Anda di halaman 1dari 3

DISPENSING DI APOTEK

oleh khahyun pada 25 November 2013

Sebagai seorang farmasis, istilah long life learner memang harus benar-benar
diimplementasikan. Karena sifat dasar manusia adalah pelupa, dan seorang farmasis harus
senantiasa mengupgrade ilmunya agar selalu up to date.

Saya merasakan sendiri akibat tidak update ilmu, karena saya bekerja bukan disarana pelayanan
(alasan), jadi banyak sekali ilmu farmasi yang lupa, dilupakan, atau terlupakan. Maka dengan
alas an itu, saya mencoba mengulang materi kuliah dengan menuliskan kembali materi kuliah
agar saya mengingat kembali dan tidak cepat lupa.

****dispensing di apotek****

1. RESEP

Adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker di apotek
untuk meracik, menyiapkan, dan menyerahkan obat kepada pasien.

2. ALUR RESEP di APOTEK:

Dokter/drg/drh > PASIEN > APOTEK (Apoteker) > SIMPAN (Dokumentasikan selama 3-5
tahun) > MUSNAHKAN

3. KELENGKAPAN RESEP

 DOKTER : Nama, Alamat, No Telp, SID, TT


 PASIEN : Nama, Alamat, Umur
 ISI RESEP : Nama Obat, Dosis, Perintah- perintah

4. PEMBACAAN RESEP

Harus cermat dan Teliti dalam membaca resep karena terdapat resiko yang sangat tinggi jika
terjadi kesalahan membaca resep. Jika mendapat resep yang tidak terbaca, sebaiknya
berkonsultasi kepada dokter yang membuat resep, karena konsekuensi salah baca dapat berakibat
fatal bagi kelangsungan hidup pasien.

5. RESEP RASIONAL & IRRASIONAL

Sebagai seorang farmasis, kita harus terbiasa jeli untuk melihat mana resep-resep yang rasional
dan mana resep yang irrasional. Pembacaan dan analisa resep yang rasharus dilakukan secara
farmakologi, farmasetis, gabungan keduanya juga dari aspek Biofarmasetis.
6. RESEP OBAT PSIKOTROPIKA

Kelengkapan resep

 Sama seperti resep obat biasa

Catatan di apotek

 Perlu untuk referensi pelaporan


 Dicatat secara jelas jumlah tersedia, terpakai, dan sisa

Pelaporan

Dilaporkan setiap maksimal 3 bulan sekali dan dikirimkan ke dinas terkait, seperti Badan
Pengawas Obat dan Makanan pusat, BPOM provinsi setempat, Dinkes propinsi setempat, dan
arsip apotek.

7. RESEP NARKOTIKA

Satu hal yang penting dalam melayani resep NARKOTIKA adalah resep tersebut harus asli
bukan copy resep. Adapun copy resep yang bisa dilayani adalah copy resep yang dibuat oleh
apotek kita dan harus dilayani kembali oleh apotek kita, kita tidak boleh melayani copy resep
apotek lain.

Copy resep yang kita buat bukanlah untuk pengulangan resep (iter), namun untuk obat-obat yang
diambil sebagian, dan sisanya kita buatkan copy resep agar dapat diambil/ditebus kembali di
apotek kita di lain waktu.

Resep NARKOTIK tidak boleh diulang (iter). Jika ada resep narkotik yang meminta
pengulangan jangan dilayani. Ditolak.

Kelengkapan resep NARKOTIKA

 Sama seperti resep obat biasa


 Lebih ditekankan dokter & pasiennya
 Tidak ada pengulangan (iter)

Catatan di apotek

 Perlu untuk referensi pelaporan


 Dicatat secara jelas jumlah tersedia, terpakai, dan sisa

Pelaporan
Dilaporkan setiap maksimal 3 bulan sekali dan dikirimkan ke dinas terkait, seperti Badan
Pengawas Obat dan Makanan pusat, BPOM provinsi setempat, Dinkes propinsi setempat, dan
arsip apotek.

8. RESEP RACIKAN

Kelengkapan resep

 Sama seperti resep obat biasa


 Memerlukan perhatian lebih karena dalam peracikan terdapat perubahan bentuk obat juga
bisa jadi terdapat perubahan dosis, biasanya racikan obat yang dibuat dosisnya berbeda
dengan dosis pada bentuk sediaan yang ada.

Rasionalitas resep

 Secara FARMAKOLOGI
 Secara FARMASETIS
 Gabungan keduanya
 BIOFARMASETIS

Perhitungan dosis

 Sesuaikan dengan umur pasien


 Gunakan logika farmakologis
 Gunakan logika farmasetis, misal obat-obat yang memiliki bentuk tablet selaput jangan
diubah bentuknya atau jangan diracik.

9. TANGGUNG JAWAB PROFESI

Pelaksanaan praktek kefarmasian adalah tanggung jawab profesi yang harus


pertanggungjawabkan.