Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

STUDI KERUANGAN DAN MITIGASI BENCANA

(BANJIR)

Disusun Oleh:

Syarifuddin (1720112310015)

PROGRAM STUDI PASCASARJANA IPS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat dan salam tak lupa senantiasa kita
sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang kita harapkan syafa’atnya di
yaumulqiyamah nanti, amin.
Penyusunan makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Studi
Keruangan dan Mitigasi Bencana. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari penyusunan makalah ini jauh dari sempuna. Oleh sebab itu,
penulis memohon kepada pembaca atas kritik dan saran guna melengkapi makalah
ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi
pembaca dan penulis sendiri.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i


Daftar Isi ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................


A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Maksud dan Tujuan ......................................................................................2
C. Rumusan Masalah ........................................................................................2
D. Manfaat ........................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................


A. Gambaran Umum Bencana Banjir di Indonesia...........................................4
B. Potensi Bencana Banjir ................................................................................5
C. Penyebab Terjadinya Banjir .........................................................................6
D. Dampak Bencana Banjir ..............................................................................7
E. Mitigasi Bencana Banjir ...............................................................................8
F. Daerah Rawan Banjir .................................................................................10
G. Studi Kasus (Penelitian) .............................................................................13

BAB III PENUTUP ...................................................................................................


A. Kesimpulan ................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Banjir adalah ancaman musiman yang terjadi apabila meluapnya tubuh air

dari saluran yang ada dan menggenangi wilayah sekitarnya. Banjir

merupakanancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak merugikan.

Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan termasuk

di daerah Bengawan Solo. Bencana banjir termasuk bencana alam yang pasti

terjadi pada setiap datangnya musim penghujan, seperti yang terjadi di daerah

Solo. Banjir disebabkan oleh alam atau ulah manusia sendiri.Banjir juga bisa

disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor hujan, faktor hancurnya retensi

Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir adakalanya terjadi dengan waktu yang cepat

dengan waktu genangan yang cepat pula, tetapi adakalanya banjir terjadi dengan

waktu yang lama dengan waktu genangan yang lama pula. Banjir bisa terjadi

karena curah hujan yang tinggi, luapan dari sungai, tanggul sungai yang jebol,

luapan air laut pasang, tersumbatnya saluran drainase atau bendungan yang

runtuh. Banjir berkembang menjadi bencana jika sudah mengganggu kehidupan

manusia dan bahkan mengancam keselamatanny

a. Penanganan bahaya banjir bisa dilakukan dengan cara struktural dan

nonstruktural. 12 Dua pengertian tentang banjir yaitu (1) aliran sungai yang

tingginya melebihi muka air normal sehingga melempas dari palung sungai yang

menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai sehingga air

tersebut akan mengenangi pemungkiman, (2) gelombang banjir jalan kearah hilir

1
sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air di muara karena akibat

badai.Banjir di Kota Surakarta juga disebabkan cepatnya pertumbuhan Banjir

yang terjadi di Kota Surakarta bulan Desember tahun 2007 mengakibatkan ratusan

rumah di lima kelurahan yang tersebar di dua kecamatan terendam banjir akibat

meluapnya Sungai Bengawan Solo. Kondisi paling parah terjadi di Kelurahan

Sewu, Kecamatan Jebres, di mana ketinggian air yang melanda sekitar 106 hunian

mencapai ketinggian 1,25 meter (Agustinus, 2009)Pada 7 Desember 2010,

detik.com mengabarkan terjadi banjir di kawasan-kawasan langganan banjir yang

berada di bantaranBengawan Solo. Akibatnya sejumlah kawasan di Kota Solo

tergenang air cukup tinggi. Di antaranya adalah di Kelurahan Sewu, Pusangsawit,

Jagalan, dan Gandekan, yang berada di sisi barat Bengawan. Kondisi serupa juga

terjadi di desa-desa bantaran di Kecamatan Grogol dan Mojolaban, Sukoharjo

yang berada di sisi timur Bengawan Solo.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Tujuan penulis membuat makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui penyebab tejadinya bencana banjir dan pencegahannya.

2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bencana banjir.

C. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang permasalahan di atas maka kami merumuskan masalah yang

perlu ditanggulangi sebagai berikut :

1. Faktor apa saja yang menyebabkan bencana banjir ?

2
2. Bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya

bencana banjir ?

3. Wilayah manakah yang berpotensi terjadi bencana banjir ?

4. Bagaimana cara mitigasi bencana banjir ?

D. MANFAAT

1. Mengetahui penyebab terjadinya bencana banjir

3. Mengetahui wilayah yang memiliki terjadi bencana banjir

4. mengetahui cara mitigasi bencana banjir

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Bencana Banjir di Indonesia

Ditinjau dari karakteristik geografis dan geologis wilayah, Indonesia adalah

salah satu kawasan rawan bencana banjir. Sekitar 30% dari 500 sungai yang ada

di Indonesia melintasi wilayah penduduk padat. Lebih dari 220 juta penduduk,

sebagian adalah miskin dan tinggal di daerah rawan banjir. Pada umumnya

bencana banjir tersebut terjadi di wilayah Indonesia bagian barat yang menerima

curah hujan lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian Timur.

Berdasarkan kondisi morfologis, penyebab banjir adalah karena relief

bentang alam Indonesia yangsangat bervariasi dan banyaknya sungai yang

mengalir diantaranya. Daerah rawan banjir tersebut diperburuk dengan

penggundulan hutan atau perubahan tata-guna lahan yang tidak memperhatikan

4
daerah resapan air. Perubahan tata-guna lahan yang kemudian berakibat

menimbulkan bencana banjir, dapat dibuktikan antara lain di daerah perkotaan

sepanjang pantai terutama yang dialiri oleh sungai. Penebangan hutan secara tidak

terkontrol juga menyebabkan peningkatan aliran air (run off)pemukiman yang

tinggi dan tidak terkendali, sehingga menimbukan banjir bandang dan kerusakan

lingkungan di daerah satuan wilayah sungai. Pedoman Praktis Penanggulangan

Bencana Banjir - Bakornas PB 6 Dari data kejadian bencana selama tahun 2003-

2005, bencana hidrometeorologi menempati urutan terbesar (53,3%) dari total

kejadian bencana di Indonesia. Dari total bencana hidrometeorologi tersebut,

34,1%-nya adalah bencana banjir.

B. POTENSI BENCANA BANJIR

Secara umum daerah yang memiliki resiko tinggi adalah di wilayah Indonesia

bagian barat,karena curah hujannya lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian

Timur. Berdasarkan data BMG, di beberapa provinsi yang berpotensi rawan banjir

pada bulan Nopember 2007 (awal musim penghujan), diperkirakan terjadibencana

banjir dengan tingkat potensitinggi terjadi di 20 Kabupaten/Kota, tingkat potensi

menengahterjadi di 50 Kabupaten/Kota dan tingkat potensi rendahterjadi di 50

Kabupaten/Kota. Sedangkan pada bulan Desember 2007, terjadi bencana banjir

dengan tingkat potensitinggi di 90 Kabupaten/Kota, tingkat potensi menengah

terjadi di 83 Kabupaten/Kota dan tingkat potensi rendah terjadi di 36

Kabupaten/Kota.

5
C. Penyebab Terjadinya Banjir

1. Penyumbatan aliran sungai ataupun sekolah sering membuang sampah di

sungai.

Masyarakat beranggapan dengan tingkah lakunya karena jika sampah dibakar,

maka akan menyebabkan polusi udara dan bau tidak sedap. Sehingga

masyarakat mengambil jalan pintas tanpa memikirkan sebab dan akibatnya.

Penyumbayatan yang terjadi karena sedimentasi atau pengendapan area hilir

sungai yang dapat mengurang kemampuan sungai dalam menampung air.

2. Curah hujan yang tinggi

Curah hujan yang relatif tinggi dapat menyebabkan sungai tidak dapat

menampung volume air yang dapat melampau kapasitas.

3. Pendirian rumah di sepanjang sungai

Masyarakat yang mendirikan rumah di pinggir sungai biasanya mengurangi

lebar sungai. Dengan berkurangnya lebar sungai dapat menyebabkan sirkulasi

air tidak optimal.

4. Penggundulan hutan

Sikap manusia yang berfikir singkat tanpa berfikir kedepannya sebelum

bertindak, menyebabkan manusia bertindak sewenang-wenang terhadap

lingkungan. Tindakan tersebut berupa penebangan hutan yang tidak

menggunakan sistem tebang pilih. Akibatnya tidak ada pohon untuk menyerap

air sehingga air mengalir tanpa terkendali.

6
5. Sedikitnya daerah serap

Di zaman modern, daerah resapan cenderung ditemukan. Khususnya di daerah

perkotaan yang pada dasarnya sangat rentan terhadap banjir, mengingat

kondisi kota yang berada di dataran rendah. Daerah serap justru banyak

tertutup dengan aspal ataupun pembetonan sehingga air tidak dapat meresap

ke dalam lapisan tanah.

D. Dampak bencana Banjir

1. Menimbulkan korban jiwa

Hal ini disebabkan dari arus air yang terlalu deras sehingga banyak

penduduk yang hanyut terbawa arus

2. Rusaknya areal pertanian

Banjir mampu menenggelamkan areal sawah yang merugikan bagi para

petani dan kondisi perekonomian negara menjadi terganggu.

3. Rusaknya sarana dan prasarana

Air yang menggenang memasuki partikel pada dinding bangunan, jika

dinding tidak mampu menahan kandungtan air maka dinding akan mengalami

retak dan akhirnya jebol.

4. Hilangnya harta benda

Banjir dengan aliran yang berskala besar dapat menyeret apapun baik itu

meja, pakaian, kursi, kasur, mobil, motor dan lain-lain.

7
5. Sebagai bibit penyakit

Penyakit yang dapat ditimbulkan adanya banjir adalah gatal-gatal, Demam

berdarah, dan banjir membawa kuman sehingga penyebaran penyakit sangat

besar.

H. Mitigasi Bencana Banjir

1. Umum

Pola penanganan bencana banjir dilakukan dengan mengutamakan upaya

kesiapsiagaan dan kecepatan bertindak sejak kesiapsiagaan tanggap darurat

hingga pemulihan darurat.

2. Kesiapsiagaan

• Kesiapsiagaan dilakukan oleh Pemerintah Daerah SATLAK PB dan

SATKORLAK PB. Sedangkan Pemerintah pusat yang dikoordinasikan

BAKORNAS PB sebagai unsur pendukung.

•Adapun Kegiatan yang dilakukan antara lain:

- Pemantauan cuaca

- Pemantauan debit air sungai

- Pengamatan peringatan dini

- Penyebaran informasi

- Inventarisasi kesiapsiagaan

- Penyiapan peta rawan banjir

- Penyiapan sumberdaya untuk tanggap darurat

- Penyiapan alat-alat berat dan bahan banjiran

8
- Penyiapan pompa air, mobil tangki air dan mobil tinja.

- Penyiapan tenaga medis dan para-medis dan ambulance

- Penyiapan jalur evakuasi dan lokasi penampungan sementara

- Penyiapan keamanan

3. Tanggap Darurat, dengan kegiatan:

•Pendirian POSKO

•Pengerahan personil (Tim Reaksi Cepat)

- Mengerahkan kekuatan personil dari berbagai unsur operasi (pemerintah dan

non-pemerintah) terutama untuk penyelamatan dan perlindungan (SAR) dengan

membentuk TRC untuk memberikan pertolongan/ penyelamatan dan inventarisasi

kerusakan.

•Pemenuhan kebutuhan dasar dalam penampungan sementara. - Distribusi

bantuan (hunian sementara, pangan dan sandang) Pada tahap awal, bantuan

pangan berupa makanan siap-santap. - Pendirian dapur umum.

•Pemberian layanan air bersih, jamban dan sanitasi lainnya.

•Pemberian layanan kesehatan, perawatan dan rujukan.

•Pengoperasian peralatan

- Mengoperasikan peralatan sesuai kebutuhan di lapangan, termasuk alat-alat

berat.

•Pengerahan sarana transportasi udara/laut

- Dilakukan pada situasi/kondisi tertentu yang memerlukan kecepatan untuk

penyelamatan korban bencana dan distribusi bantuan kepada masyarakat/korban

bencana terisolasi.

9
•Koordinasi dan Komando

- Setiap kejadian penting dilaporkan kepada POSKO

F. Daerah Rawan Banjir

Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan

yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan

sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan

bumi kawasan tersebut.

Dalam cakupan pembicaraan yang luas, kita bisa melihat banjir sebagai

suatu bagian dari siklus hidrologi, yaitu pada bagian air di permukaan Bumi yang

bergerak ke laut. Dalam siklus hidrologi kita dapat melihat bahwa volume air

yang mengalir di permukaan Bumi dominan ditentukan oleh tingkat curah hujan,

dan tingkat peresapan air ke dalam tanah.

Peta Sebaran Banjir di Jakarta

10
Daerah rawan banjir di Jakarta Pusat :

1. Matraman Dalam
2. Mangga Dua
3. Kalipasir Kwitang
4. Karang Anyar
5. Bunderan HI, Kebon Kacang, Teluk Betung
6. Serdang
7. Pejompongan/AL
8. Gunung Sahari
9. Jatipinggir
10. Cempaka Putih

Daerah rawan banjir di Jakarta Utara :

1. Kapuk Kamal
2. Sungai Bambu
3. Kapuk Kamal Sediatmo
4. Papanggo
5. Pantai Indah Kapuk
6. Yos Sudarso
7. Kapuk Muara, Teluk Gong, Muara Angke
8. Sunter Timur, Kodamar
9. Pluit
10. Perum Walikota Jakarta Utara
11. Pademangan Barat
12. Kelapa Gading
13. Pademangan Timur
14. Rawa Badak, Tugu, Lagoa
15. Sunter Agung
16. Tugu Utara
17. Sunter Jaya
18. Semper
19. Lagoa Buntu
20. Dewa Ruci, Dewa Kembar
21. Kebon Bawang
22. Rorotan / Babek ABRI
23. Warakas

11
Daerah rawan banjir di Jakarta Barat :

1. Rawa Buaya
2. Tomang Rawa Kepa
3. Duri Kosambi
4. Jati Pulo
5. Tegal Alur
6. Pinangsia
7. Kapuk Kedang/Poglar
8. Mangga Besar
9. Cengkareng
10. Tanjung Duren
11. Kembangan Green Garden
12. Grogol
13. Meruya
14. Sukabumi Utara
15. Pesing
16. Kelapa Dua
17. Krendang, Duri Utara
18. Duri Kepa
19. Jelambar

Daerah rawan banjir di Jakarta Selatan :

1. IKPN
2. Pondok Pinang
3. Cireundeu Permai
4. Kebalen, Mampang Prapatan
5. Tegal Parang
6. Petogogan
7. Pondok Karya
8. Damai Jaya
9. Pulo Raya
10. Setiabudi Barat
11. Bukit Duri, Kebayoran Baru, Bidara Cina, Kampung Melayu
12. Pengadegan, Kalibata, Rawa Jati, Gang Arus
13. Cipulir, Ciledug Raya

Daerah rawan banjir di Jakarta Timur :

1. ASMI, Perintis
2. Pulo Mas

12
3. Pulo Nangka
4. Rawa Bunga
5. Kebon Nanas
6. Cipinang Jaya
7. Cipinang Indah, Cipinang Muara, Cipinang Melayu
8. Malaka Selatan, Pondok Kelapa
9. Buluh Perindu, Tegal Amba
10. Halim Perdanakusuma
11. Kramat Jati
12. Kampung Rambutan, Ciracas, Cibubur
13. Ujung Menteng

G. Studi Kasus (Penelitian)

TINGKAT KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP


BENCANA BANJIR DI PERUMNAS TLOGOSARI, KOTA
SEMARANG

(Rizsa Putri Danianti* dan Sariffuddin)

Hasil:

Matrik tipologi kerentanan masyarakat di Perumnas Tlogosari menunjukkan

bahwa kerentanan siang dan kerentanan malam memiliki perbedaan. Pada saat

siang hari, masyarakat memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi

dibandingkan pada saat malam. Hal ini ditandai dengan peningkatan

jumlah masyarakat yang berada di kuadran 1 dan 2 pada saat malam, dan diikuti

oleh penurunan jumlah masyarakat yang berada di kuadran 3 dan 5. Prosentase

penurunan dan peningkatan jumlah masyarakat tersebut sebesar 2-3%.

Sebagian besar masyarakat berada di kuadaran 2 yang mengartikan bahwa

masyarakat kurang rentan dalam menghadapi banjir yang terjadi. Prosentase

masyarakat yang berada di kuadran 2 pada saat siang sebesar 44%, sedangkan

13
pada saat malam sebesar 46%. Untuk jumlah masyarakat yang

terkecil, berada di kuadran 5 yang mengartikan bahwa masyarakat sangat rentan

dalam menghadapi banjir. Prosentase masyarakat yang berada di kuadran 5 pada

saat siang sebesar 2%, sedangkan pada saat malam tidak ada masyarakat yang

berada di kuadran tersebut. Penjelasan lebih lanjut tentang jumlah masyarakat

yang berada di masing-masing kuadran kerentanan siang danmalam, dapat dilihat

pada gambar 4 berikut ini.

14
Gambar 5 dan gambar 6 di atas menunjukkan tipologi kerentanan masyarakat di

waktu siang dan malam. Apabila dilihat secara keseluruhan, masyarakat yang

berada pada kuadran 1, 2 dan 3 lebih banyak dibandingkan dengan yang berada

pada kuadran 5. Masyarakat yang berada diketiga kuadran tersebut merupakan

masyarakat yang belum rentan atau masyarakat masih berada pada selang

toleransi kemampuan mereka untuk menghadapi banjir yang terjadi. Apabila tidak

dilakukan intervensi dengan melakukan bentuk adaptasi yang tepat, maka

masyarakat yang berada di kuadran 1, 2, dan 3 dapat berubah menjadi masyarakat

yang rentan bahkan sangat rentan. Terdapat beberapa variabel yang memiliki hasil

perkalian skoring dengan bobot paling tinggi pada kerentanan siang dan malam

masyarakat. Pada komponen keterpaparan, variabel yang mempengaruhi

kerentanan siang dan malam, yaitu kondisi jaringan drainase. Kondisi jaringan

drainase memiliki skor dan bobot yang cukup tinggi, mengingat bahwa banjir

yang terjadi merupakan banjir lokal yang diakibatkan karena kualitas dan

kuantitas drainase, baik drainase primer (Sungai Tenggang) maupun drainase

lingkungan yang buruk. Pada komponen sensitivitas, variabel yang memiliki

hasil perkalian skor dan bobot tertinggi berbeda pada kerentanan siang dan

malam. Pada kerentanan siang, variabel yang hasil perkalian skor

dan bobotnya tinggi adalah jumlah anggota keluarga yang berada di rumah pada

saat siang hari. Sedangkan pada kerentanan malam, adalah koefisien dasar

bangunan (KDB). Untuk kapasitas adaptasi masyarakat, variabel yang paling

berpengaruh pada kerentanan siang dan malam,yaitu kesejahteraan masyarakat.

Kesejahteraan masyarakat Perumnas Tlogosari tinggi, karena termasuk ke dalam

15
golongan menengah ke atas dan setiap bulannya masyarakat dapat menyisakan

pendapatan yang dihasilkan untuk kebutuhan yang tidak terduga. Penjelasan lebih

lanjut tentang masing-masing variabel yang paling berpengaruh terhadap tingkat

keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptasi adalah sebagai berikut:

Kondisi Jaringan Drainase di Perumnas Tlogosari belum optimal, hal ini

ditandai dengan adanya permasalahan dari segi teknis maupun sistem.

Permasalahan teknis pada jaringan drainase meliputi kondisi drainase yang

sempit, dangkal dan tidak lancar mengalirkan air akibat banyaknya

sampah yang menyumbat. Untuk permasalahan sistem yang ada berupa tidak

terintegrasinya jaringan drainase, akibat penutupan salah satu jaringan yang

disebabkan oleh pelebaran jalan.

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Banjir hanyalah salah satu dari sekian banyak bencana alam yang sering

terjadi. Banjir sering terjadi terutama pada musim

hujan dengan intensitas yang sering dan lebat. Daerah yang menjadi

langganan banjir terutama pada daerah sekitar arus sungai.

Namun daerah yang jauh dari sungai pun kadang terkena musibah banjir

juga jika curah banjir terjadi hujan yang datang terus menerus dan sungai tidak

lagi sanggup menampung banyaknya air hujan.

Bencana banjir yang terjadi di Indonesia selama ini tidak semata-mata

disebabkan oleh alam, namun juga disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri.

Dengan demikian, maka seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia serta

pemerintah harus bersama-sama mencegah agar bencana banjir tidak semakin

parah, dan pada akhirnya Indonesia bebas dari banjir.

17
DAFTAR PUSTAKA

Danianti Rizsa Putri, Sariffuddin. Tingkat Kerentanan Masyarakat Terhadap


Bencana Banjir di Perumnas Tlogosari, Kota Semarang. ISSN 2337-
7062 © 2015

Ma’arif Syamsul. Pedoman Bencana Banjir. Pelaksanan Harian BAKRNAS


jakarta, 2007

http://bencanapedia.id/Daerah_Rawan_Bencana

http://www.mediaindonesia.com/news/read/93628/big-dan-bmkg-perluas-peta-
rawan-banjir/2017-02-23

https://www.bmkg.go.id/iklim/potensi-banjir.bmkg

18