Anda di halaman 1dari 15

“PENGADMINISTRASIAN TES (PENYUSUNAN,

PELAKSANAAN, PEMBERIAN SKOR, PENGOLAHAN


SKOR)”

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penilaian Pembelajaran Matematika


Diasuh Oleh :
Dra. Agni Danaryanti, M.Pd.
Asdini Sari, M.Pd.

Oleh :
Kelompok 3
Fierda Ria Fairuz (1610118120005)
Jumiati (1610118220010)
Nur Indah Martiyani (1610118320018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
MARET 2018
A. PENGADMINISTRASIAN TES
Pengadministrasian tes adalah pelaksanaan tes yang dimulai dari proses
penyuntingan naskah tes sampai dengan proses mengerjakan tes. Pada makalah ini
akan dibahas langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses
pengadministrasian tes. Selain itu juga akan dibahas pula kelebihan dan kekurangan
yang terdapat dalam cara pelaksanaan tes dan beberapa media tes tersebut.
1. Penyusunan Perangkat Tes
Dalam penyusunan perangkat tes yang akan digunakan, perlu
mempertimbangkan dua hal utama, yaitu :
a. Penyuntingan Naskah Tes Suatu Naskah
Suatu tes terdiri terdiri atas beberapa butir soal. Dalam penyusunan
butir tes haruslah mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan
peserta tes dapat mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam mengerjakan
tes tersebut sehingga dapat menjadi suatu perangkat tes. Maka yang menjadi
pertimbangan utama dalam penyuntingan tes adalah peserta tes. Sehingga
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Tes bentuk objektif tidak dilaksanakan secara lisan.
b) Butir tes disusun berdasarkan pokok bahasan awal hingga akhir.
c) Tingkat kesukaran tes disusun mulai dari yang termudah hingga yang
tersulit.
d) Butir tes yang setipe hendaknya dikelompokkan dalam satu kelompok.
e) Petunjuk pengerjaan tes ditulis secara jelas.
f) Penyusunan butir tes sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan kesan berdesak-desakan.
g) Susunlah setiap butir tes sehingga stem dan seluruh optionnya terletak
dalam satu halaman yang sama.
h) Letakkanlah wacana yang digunakan sebagai rujukan satu atau beberapa
butir tes di atas butir tes yang bersangkutan.
i) Hindarilah meletakkan kunci jawaban dalam suatu pola tertentu.

b. Penggandaan Naskah Tes


Dalam proses penggandaan tes, haruslah dapat menjamin kerahasiaan
naskah tes, sehingga tidak akan mengganggu konsentrasi peserta dalam
melaksanakan tes. Penggandaan tes sebaiknya terpisah antara lembaran tes
dari lembaran jawaban.
Beberapa petunjuk praktis dalam penggandaan naskah tes, yaitu:
- Antar butir tes harus cukup tersedia ruangan, sehingga tidak terkesan
saling berdesak-desakan.
- Angka dan huruf yang disediakan di depan alternatif jawaban sama dengan
yang digunakan pada lembar jawaban.
- Untuk jenis tes menjodohkan, kedua kolom yang berisi tes/alternatif
jawaban terletak satu halaman yang sama.
- Butir tes yang menggunakan wacana harus terletak dalam satu halaman
yang sama.
- Semua wacana, grafik, diagram, atau gambar yang digunakan sebagai
landasan butir tes harus jelas.
- Jika naskah digandakan dalam jumlah yang banyak, maka setiap naskah
tes harus sama jelasnya.

B. PELAKSANAAN TES
Dalam pengadministrasian tes haruslah mempertimbangkan berbagai cara
dalam pelaksanaan tes. Cara pelaksanaan tes tersebut meliputi :
1. Open Books vs Close Book
Dalam melaksanakan tes hasil belajar, seorang pengajar memiliki hak
penuh untuk menentukan apakah para peserta tes boleh melihat buku/catatan dan
menggunakan berbagai alat belajar seperti tabel, kamus, kalkulator, dan
sebagainya atau tidak. Boleh atau tidak, keduanya memiliki keuntungan dan
kekurangan.
a. Open Books
Keuntungan dari open books adalah :
 Siswa tidak terlalu tegang dalam menghadapi atau mengerjakan soal.
 Siswa lebih cenderung mengerjakan tesnya sendiri daripada harus
menyontek kepada temannya.
 Siswa akan lebih rajin dalam membuat catatan karena mereka akan sadar
dengan kebutuhan catatan tersebut.
Kekurangan dari open books adalah :
 Siswa mungkin saja akan malas membaca buku/catatan.
 Mereka yang jarang membaca buku akan kehabisan waktu ujian
membolak-balik lembaran buku untuk mendapatkan jawaban.
 Siswa cenderung akan malas berpikir.

b. Close Books
Keuntungan dari close books adalah :
 Siswa akan terbiasa untuk memahami isi buku/catatannya
 Siswa akan terbiasa berpikir sendiri.
 Siswa akan terbiasa membuat rangkuman.

Kekurangan dari close books adalah :


 Akan membuat siswa terdorong untuk menyontek.
 Siswa belum tentu terlatih menggunakan buku catatan sebagai sumber
belajar.
 Berkurangnya prinsip yang mengatakan bahwa buku itu untuk digunakan
bukan untuk dihafal.

2. Tes Diumumkan vs Tes Dirahasiakan


Pelaksanaan tes dapat dilakukan dengan memberi pengumuman lebih
dahulu atau tanpa pemberitahuan sebelumnya. Para ahli psikologi pendidikan
tidak dapat menyetujui adanya tes yang pelaksanaannya tidak diumumkan atau
dirahasiakaan.
a. Tes Diumumkan
Kelebihan dari tes yang diumumkan, yaitu:
 Dapat mengukur pengetahuan yang dimiliki oleh siswa.
 Dapat memotivasi usaha belajar.
 Dapat digunakan sebagai alat peningkatan disiplin belajar.
Keterbatasan tes yang diumumkan adalah :
 Dapat membuat siswa yang tidak lulus atau yang mendapat nilai rendah
merasa malu sehingga dapat menghapus motivasi belajar mereka.
 Guru yang tidak dapat mengumumkan nilai siswa tepat waktu akan
mendapatkan cemoohan dari para siswa.
 Memerlukan kemampuan administrasi yang prima yang memerlukan
fasilitas dan dana tambahan.

b. Tes Dirahasiakan
Kekuatan tes yang dirahasiakan adalah :
 Tidak menuntut kemampuan administratif yang prima dan mahal.
 Tidak akan mendapatkan protes-protes dari para peserta didik.
 Jika dipandang perlu, maka nilai seorang peserta tes dapat dipupuskan
dengan mengikutsertakan faktor-faktor non tes.
Keterbatasan tes yang dirahasiakan adalah :
 Tes akan dianggap tidak berguna karena tidak komunikatif dengan para
siswa yang bersangkutan.
 Dapat membuat tenaga pendidik main hakim sendiri tanpa diketahui oleh
siapapun.

3. Tes Lisan vs Tes Tertulis


a. Tes Tertulis
Kekuatan tes tertulis adalah :
 Kemampuan memilih kata-kata, kekayaan informasi, kemampuan bahasa,
kemampuan memilih ataupun memadukan ide-ide dan proses berpikir
peserta tes dapat dilihat dengan nyata.
 Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik seperti yang
disebutkan diatas dapat dibandingkan antara yang satu dengan yang lain.
 Dalam waktu yang relatif terbatas dapat dilaksanakan tes yang terdiri atas
sejumlah besar peserta tes sehingga ekonomis.
 Memungkinkan dikoreksi oleh lebih dari seorang korektor sehingga lebih
objektif.
Keterbatasan tes tertulis adalah :
 Khusus untuk tes bentuk essai, tes tertulis dapat menuntut tugas peserta tes
yang lebih berat.
 Dalam tes bentuk essai, maka iketun'abiahasaan akan merugikan peserta
tes yang bersangkutan apabila masalah bahasa diperhitungkan dalam
memberi nilai.
 Yang bersifat massal itu biasanya kurang baik dibandingkan dengan yang
individual.
 Siswa cenderung menuliskan jawabannya secara panjang lebar.

b. Tes Lisan
Kekuatan tes lisan adalah :
 Dapat dilaksanakan secara individual. Sehingga lebih cermat dan dapat
dilakukan “probing” sehingga penguji mampu mengetahui secara pasti
dimana posisi hasil belajar peserta didik yang bersangkutan.
 Kemampuan-kemampuan seperti yang ada pada tes tertulis yang telah
diuraikan diatas, dapat dipantau secara langsung oleh tenaga pendidik
yang .menguji.
 Melalui tes lisan dapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dan
dialog aktif.
 Siswa dapat mengungkapkan argumentasinya secara lebih bebas.

Keterbatasan tes lisan adalah :


 Tidak ekonomis.
 Jika yang melaksanakan tes hanyalah satu orang, maka akan terjadi
subjektifitas yang sukar dikontrol.
 Bagi peserta tes yang gagap karena merasa tegang akan dirugikan dengan
cara ini.
 Memungkinkan tenaga pendidik “main hakim sendiri”.

4. Tes Tindakan atau Tes Praktek


Kekuatan tes tindakan atau tes praktek adalah:
 Terjadinya pengecekan terhadap terbentuk atau tidaknya keterampilan yang
dirumuskan di dalam TIK.
 Membuat pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat
dikurangi/dihilangkan.

Keterbatasan tes tindakan atau tes praktek adalah :


 Tidak semua bahan dapat diuji praktekkan.
 Tergolong. mahal dan tenaga pendidik dituntut lebih mampu dari siswanya.
 Jika prakteknya tidak dalam keadaan yang sesungguhnya, maka siswa
cenderung akan main-main/tidak serius atau sebaliknya.

C. PEMBERIAN SKOR
Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan
jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari
suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Angka-angka hasil penilaian
selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade). Agar tidak terjadi kesalahan dalam
memahami skor dan nilai lebih dahulu harus dipahami perbedaan antara skor dan
nilai. Hal ini didasarkan dengan masih banyaknya anggapan antara skor dan nilai
mengandung satu pengertian atau sama.
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh
dari angka-angka dar setiap butir soal yang telah di jawab oleh testee dengan benar,
dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya.
Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka atau huruf yang
merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor
lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Sehingga nilai
sering disebut juga dengan skor standar (Standarg Score).
Maka dapat disimpulkan bahwa Penskoran (scoring) adalah suatu proses
pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka. Skor adalah hasil
pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap
soal tes yang dijawab dengan benar oleh siswa. Skor maksimum tidak selalu tetap,
karena ditentukan berdasarkan atas banyak serta bobot soal-soal tesnya.
Dalam menskor atau menentukan angka, dapat digunakan 3 macam alat bantu
yaitu :
1) Pembantu menentukan jawaban yang benar, disebut kunci jawaban
2) Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah, disebut kunci
skoring
3) Pembantu menentukan angka, disebut pedoman penilaian
Adapun pada umumnya, pengolahan data hasil tes menggunakan bantuan
statistik. Menurut Zainal Arifin (2006) dalam pengolahan data hasil tes
menggunakan empat langkah pokok yang harus di tempuh.
a) Menskor, yaitu memperoleh skor mentah daritiga jenis alat bantu, yaitu kunci
jawaban kunci scoring dan pedoman konversi.
b) Mengubah skor mentah menjadi skor standar
c) Menkonversikan skor standar kedalam nilai
d) Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas
dan realibilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index) dan daya
pembeda.
Adapun cara pemberian skor terhadap hasil tes hasil belajar pada umumnya
disesuaikan dengan bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, tes uraian
(essay) atau tes objektif (objektive test).
1. Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Uraian
Menurut Zainal Arifin (2011:223) sistem bobot ada dua macam:
Pertama, bobot yang dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat
kesukarannya.
∑𝑿
Rumus : 𝑺𝒌𝒐𝒓 =
∑𝑺

Keterangan :

∑ X = jumlah skor

S = jumlah soal

Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan


tingkat kesukaran soal.
∑ 𝑿𝑩
Rumus : 𝑺𝒌𝒐𝒓 =
∑𝑩

Keterangan :
TK = Tingkat Kesukaran
X = skor tiap soal
B = bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal

∑ XB = jumlah hasil perkalian X dengan B

2. Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Objektif


Ada dua cara untuk memberikan skor pada bentuk tes objektif :
a. Tanpa Rumus Tebakan (Non-Guessing Formula)
Pemberian skor pada tes objektif pada umumnya digunakan apabila
soal belum diketahui tingkat kerumitannya. Untuk soal objektif bentuk
true-false misalnya, setiap item diberi skor maksimal 1 (satu). Apabila
peserta menjawab benar maka diberikan skor 1 dan apabila salah maka
diberikan skor 0.
b. Menggunakan Rumus Tebakan (Guessing Formula)
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu pernah
diujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat
kebenarannya. Adapun rumus-rumus tebakan sebagai berikut :
 Bentuk Benar-salah (True or False)

𝐒 = ∑𝐁− ∑𝐒

Keterangan :
S = skor yang dicari

∑ B = jumlah jawaban yang benar

∑ S = jumlah jawaban yang salah

 Bentuk Pilihan Ganda (Multiple choice)

∑𝐒
𝐒 = ∑𝐁 −
𝐧−𝟏
Keterangan :
S = skor yang dicari
∑ B = jumlah jawaban yang benar

∑ S = jumlah jawaban yang salah

n = alternatif jawaban yang disediakan


1 = bilangan tetap

D. PENGOLAHAN SKOR
Setelah proses pemeriksaan dan pemberian skor langkah selanjutnya adalah
mengolah skor tersebut menjadi nilai-nilai yang merupakan hasil akhir.
Sebagimana telah diketahui sebelumnya antara skor dan nilai adalah tidak sama.
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh
dari penjumlahan angka-angka dalam setiap butir soal yang di jawab dengan benar
oleh testee, dan memperhitungkan bobot jawaban, sedangkan nilai adalah angka
atau huruf yang merupakan hasil konversi (rubahan) dari penjumlahan skor yang
disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu yang pada dasarnya merupakan
lambang kemampuan testee terhadap materi atau bahan yang diteskan.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan nilai, maka
skor-skor yang telah didapat masih merupakan skor mentah dan perlu diolah dan
dikonversikan sehingga skor dapat berubah menjadi nilai (menjadi skor yang
sifatnya baku atau standar (Standard Score) :
1. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Menjadi Nilai Standard
(Standard Score)
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan dan pengubahan
skor menjadi skor stdandard atau nilai yaitu :
a. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan
mengacu pada kriterium (Criterion) atau sering juga disebut dengan
patokan. Cara pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion
referenced evaluation. Di dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan
istilah Penilain Acuan Patokan (PAP) ada juga yang mengatakan dengan
istilah Standar Mutlak.
b. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan mengacu
pada norma atau kelompok. Cara kedua ini dikenal dengan istilah norm
referenced evaluation. Di dalam dunia pendidikan Indonesia dikenal
dengan istilah Penilaian Acuan Norma (PAN).

2. Pengolahan Dan Pengubahan Skor Mentah Menjadi Nilai Dengan


Berbagai Macam Skala
Misalnya : skala 5 (Stanfive), yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal
dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan F. Skala sembilan (Stanine) yaitu nilai
standar berskala sembilan dimana rentang nilainya mulai dari 1 sampai dengan
9 (tidak ada nilai =0 dan >10), skala sebelas (standard eleven/ eleven points
scale) rentang nilai mulai dari 0 sampai dengan 10, z score (nilai standar z),
dan T score (nilai standar T).

3. Cara Memberi Skore Skala Sikap


Untuk mengukur sikap dan minat belajar siswa, guru dapat menggunakan
alat penilaian model skala, seperti sikap dan skala minat. Skala sikap dapat
menggunakan lima skala, yaitu: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu
(TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala yang digunakan
5,4,3,2,1 (untuk peryataan positif) dan 1,2,3,4,5 (untuk pernyataan negatif).
Begitupun dengan skala minat, guru dapat menggunakan lima skala, seperti
Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB),
dan Tidak Berminat (TB).

4. Cara Memberi Skor Untuk Domain Psikomotor


Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang diukur adalah penampilan
atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes
tindakan.melalui simulasi, unjuk kerja atau tes identifikasi. Salah asatu
instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari
Sangat Baik (5), Baik (4), Cukup (3), Kurang Baik (2), sampai dengan Tidak
Baik.

E. PETUNJUK-PETUNJUK PENGADMINISTRASIAN TES


Petunjuk-petunjuk yang harus diperhatikan sungguh-sungguh dalam
Pengadministrasian tes:
1. Dalam memberikan tes jangan sampai menyimpang dari prosedur yang telah
digariskan dalam manual ini. Penyimpangan sedikit saja dapat mempengaruhi
nilai ilmiah tes itu.
2. Usahakanlah untuk memegang teguh pada kata-kata dan/atau kalimat-kalimat
yang sudah dicantumkan dalam petunjuk-petunjuk khusus dan setiap tes.
Petunjuk-petunjuk itu menuntun secara jelas apa yang harus dikerjakan dan apa
yang harus dikatakan oleh pernberi tes (tester) kepada yang mengerjakan tes
(testee). Petunjuk-petunjuk yang harus dikatakan itu dicetak dalam huruf besar
dan harus diberikan secara verbatim (kata demi kata, kalimat demi kalimat, apa
adanya).
3. Pernyataan-.pernyataan yang diajukan oleh testee selama mereka menerima
penjelasan tentang contoh-contoh soal atau soal-soal latihan harus dijawab
dengan pedoman sebagai berikut:
- Jika pertanyaan-pertanyaan itu berhubungan dengan penjelasan sesuai
jawaban soal, maka petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan itu harus
dibaca kembali, jangan diubah; ditambah dan/atau dikurangi.
- Jika pertanyaan itu berhubungan dengan detail-detail dan prosedur,
misalnya dimana jawaban-jawaban itu harus dimasukkan maka hal itu dapat
dijawab secara langsung. Tegaskan kepada mereka bahwa tidak akan ada
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Setelah mereka
mulai mengerjakan tes.
4. Disamping memegang teguh pada petunjuk-petunjuk khusus, maka harus
dicegah adanya gangguan-gangguan perasaan atau kesehatan. Misalnya
perasaan takut, tegang, tertekan, bingung, dsb pada testee. Hal itu dapat digapai
dengan jalan menyelenggarakan kegiatan sebagai kegiatan sekolah yang wajar
dan bukan sebagai kejadian yang istimewa atau khusus.
5. Jagalah, jangan sampai testee melihat goal-goal tes sebelum waktu mengerjakan
tiba. Usahakan sungguh-sungguh, jangan sampai testee saling dapat melihat atau
mencontek satu dengan yang lainnya selama mereka mengerjakan tes.
6. Pakailah stopwatch atau petunjuk waktu lainnya asalkan ada petunjuk jarum
detik. Jika bukan stopwatch yang dipakai catatlah dengan teliti waktu mulai dan
berakhirnya tes sekaligus. Batas waktu (time limit) setiap bagian tes
harus.ditepati dengan teliti dan sungguh-sungguh.
7. Untuk menulis jawaban tes yaitu dengan cara memberi tanda silang (X), dengan
menggunakan pensil, .balpoint atau pulpen. Cadangan untuk alat-alat tulis itu
Iebih baik disiapkan bila sewaktu-waktu diperlukan.

PETUNJUK KHUSUS
Langkah-Iangkah pemberian tes berikut ini harus dilaksanakan secara
hirarkis oleh pemberi tes (tester). Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut:

Langkah I : Meneliti bahan-bahan testing; Meneliti macam dan jumlah bahan-


bahan testing yang diterima yaitu: buku tes, lembar jawaban, berita
acara testing. Terutama buku tes, jumlah yang dibagikan harus
benar-benar diperhatikan.
Langkah II : Mengatur tempat duduk siswa; Memeriksa kemudian mengatur
(jika diperlukan) apakah murid-murid sudah duduk di tempatnya
masing-masing, atau sudah duduk sedemikian rupa sehingga tidak
ada kemungkinan untuk saling mencontoh.
Langkah III : Membentuk rapport (hubungan baik) dan memberi motivasi murid;
Jelaskan kepada mereka darimana Saudara berasal dan apa tujuan
Saudara memberikan tes. Di dalam membentuk rapport dan
memberi motivasi ini hendaknya situasi dibuat sesantai mungkin
agar murid dalam mengerjakan tes tidak terlalu tegang.
Langkah IV : Membagi buku tes dan lembar jawaban; Jelaskan kepada murid-
murid bahwa untuk mengerjakan tes disediakan lembar jawaban
tersendiri di samping buku tesnya. Untuk itu perlihatkan kepada
siswa, mana yang buku tes dan mana yang lembar jawabannya.
(Sudah tentu pada tester harus ada buku tes dan lembar
jawabannya). Jawaban harus ditulis atau diberikan dalam lembar
yang telah disediakan dan sesuai dengan nomor soalnya.
Selanjutnya (apabila murid-nurid telah jelas dengan cara
mengerjakan tes) katakana kepada mereka lembar jawaban dan
buku tes akan dibagikan. Terlebih dahulu yang diberikan adalah
lembar jawaban. Apabila murid telah menerima lembar jawaban,
tuntunlah mereka menuliskan identitas pribadinya (Namanya,
jenis kelaminnya, dan sebagainya sesuai dengan yang tercantum
dalam lembar jawaban).
Langkah V : Pemberi tes (tester) harus tahu pasti, bahwa murid mengerti dan
mengindahkan perintah itu. Buku tes harus diletakkan terbalik
sehingga mereka tidak dapat membacanya.
DAFTAR PUSTAKA

Pasani, M.Si, Dr. Chairil Faif , dan Dra. Hj. Agni Danaryanti, M.Pd. 2016. Bahan
Ajar Penilaian Pembelajaran Matematika. Banjarmasin: Universitas
Lambung Mangkurat.
Wahyudin, Uyu. t.thn. “Direktori FIle UPI.” file.upi.edu. Diakses Maret 15, 2018.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/196009
261985031-UYU_WAHYUDIN/Menskor_dan_Menilai.pdf.