Anda di halaman 1dari 3

MEMBUAT TAHUN BARU HIJRIYAH JADI BERMAKNA

Dari sekian ragam peristiwa penting Islam, peristiwa hijrah sesungguhnya menempati
posisi yang utama. Sebab, peristiwa ini bukan saja menandai babak baru penanggalan Islam
yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab, melainkan juga sebagai titik balik peradaban Islam
terkonstruksi dengan gemilang. Karena itulah, setiap tahunnya kita memperingati peristiwa
hijrah sebagai tahun baru Islam. Harapannya, tentu disamping memutar kembali ingatan
tentang peristiwa fenomenal itu, juga mencoba menggali makna yang terkandung dalam
peristiwa hijrah itu.

Puncak kegemilangan sejarah Islam lewat momen hijriyah patut dibilang sebagai sebuah
revolusi tanpa kekerasan yang pertama kali dalam sejarah. Dalam waktu yang cukup singkat
Muhammad mampu mengubah keadaan kota Madinah dari pola masyarakat yang
diskriminatif, primordialis-fanatis dan eksklusif menjadi masyarakat yang terbuka, egaliter,
dan penuh dengan nilai-nilai persaudaraan. Kota Madinah yang pada awalnya diselimuti oleh
pertentangan antarsuku menjadi komunitas yang dipenuhi dengan semangat kolektif untuk
membentuk peradaban baru.

Sangat disayangkan, ketika tahun baru masehi lebih di ingat dan di kenang dan ditunggu-
tunggu daripada tahun baru Islam. Dan sangat disesalkan, apabila tahun baru masehi itu lebih
di persiapkan dengan matang dengan penyambutannya yang kadang melampaui batas
menghambur-hamburkan uang sedangkan tahun baru Islam? Hanya di jadikan momentum
semalam dan berkata “selamat tahun baru Islam, yuk kita istirahat, besok ada tugas yang
lebih penting lagi dari pada sekadar merayakannya” atau “eh besok libur karena tahun baru
Islam ya? Ya udah yang penting liburnya, yuk besok jalan…”

Sangat tidak menghormati, sangat tidak disambut dengan baik, minimal kita ingat dan
berdoa pada momentum ini. Agar momentum ini tidak hanya menjadi moment yang ‘hanya
lewat’ dalam setiap tahunnya.

Sebagai titik awal perkembangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru
Islam ini dengan baik walau tanpa perayaan yang berlebihan dan terlalu semarak, setidaknya
kita mengingat tahun baru ini dengan penuh kesadaran sambil introspeksi, merenungkan apa
yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.

Pada tahun baru Islam ini ada peristiwa hebat yang sangat menyejarah. Sebuah peristiwa
perintah dari Allah melalui seruan Rasul-Nya kepada seluruh umat muslim untuk berhijrah
(berpindah tempat) dikarenakan Mekkah sudah tidak aman. Dan makna yang terkandung di
dalam kisah ini adalah keharusan kita untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain
bilamana tempat tersebut sudah tidak kondusif.
Hijrah merupakan usaha dan semangat besar manusia yang ingin merubah masyarakat
yang beku menjadi manusia yang maju, sempurna dan bersemangat. Jadi inti dari peringatan
tahun baru Hijriah adalah pada soal perubahan, yaitu hijrah dari yang buruk-buruk ke yang
baik-baik, hijrah dari tidak pernah shalat berjamaah kepada shalat berjamaah, hijrah dari tidur
setelah subuh menjadi baca Al-Quran setelah subuh dan hijrah yang lain-lainnya. Intinya
adalah Hijrah ke ARAH yang LEBIH BAIK.

Maka ada baiknya momen pergantian tahun ini kita jadikan sebagai saat saat untuk
merubah diri menjadi lebih baik. Itulah fungsi peringatan tahun baru Islam. Ada 3 pesan
perubahan dalam menyambut tahun baru Hijriah ini, yaitu:

1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama atau hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun
yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini.
2. Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang
nilai pahalanya luar biasa dimata Allah SWT, seperti membiasakan shalat dhuha 2
raka’at, suka sedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak-anak yatim, dll.
3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik
dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat
muslim lainnya.

Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang bersifat jangka pendek, dan
melupakan sesuatu yang bersifat jangka panjang. Manusia sering tergesa-gesa dan ingin cepat
berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang menempuh jalan pintas. Islam
menekankan bahwa hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan
dan rintangan.

Bagi kita umat Islam di Indonesia, sudah tidak relevan lagi berhijrah berbondong-
bondong seperti hijrahnya rasul, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman,
di negeri yang dijamin kebebasannya untuk beragama, namun kita wajib untuk hijrah dalam
makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan
intelektual, perpindahan dari kekufuran kepada keimanan, dengan meningkatkan semangat
dan kesungguhan dalam beribadah, perpindahan dari kebodohan kepada peningkatan ilmu,
dengan mendatangi majelis-majelis ta’lim, perpindahan dari kemiskinan kepada kecukupan
secara ekonomi, dengan kerja keras dan tawakal.
Pendek kata niat yang kuat untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan
umat sehingga terwujud “rahmatal lil alamin” adalah tugas suci bagi umat Islam, baik secara
individual maupun secara kelompok. Tegaknya Islam dibumi nusantara ini sangat tergantung
kepada ada tidaknya semangat hijrah tersebut dari umat Islam itu sendiri.

Semoga dalam memasuki tahun baru Hijriah ini, semangat hijrah Rasulullah SAW, tetap
mengilhami jiwa kita menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, sehingga
predikat yang buruk yang selama ini dialamatkan kepada umat Islam akan hilang dengan
sendirinya, dan pada gilirannya kita diakui sebagai umat yang terbaik, baik agamanya, baik
kepribadiannya, baik moralnya, tinggi intelektualnya dan terpuji.