Anda di halaman 1dari 13

LABORATORIUM Waktu : 13.00-16.

00
KOMPUTER Tanggal : 21 November 2017
Hari : Selasa

SPECENERG : SPECIFIC ENERGY AND DEPTH


RELATIONSHIPS

Nama : Danti Saputri


NIM : F44160057
Kelompok :1

Nama Asisten :
1. Michelle Natali (F44150050)
2. Steven (F44150052)

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2017
PENDAHULUAN
Fluida tidak dapat menahan perubahan secara permanen. Fluida akan berubah
bentuk secara kontinu (terus menerus) bila terkena tegangan geser. Aliran fluida
tersebut mengalir melalui suatu pipa akan mengalami gesekan dengan pipa
sehingga terjadi kehilangan energi akibat adanya gaya tahanan yang ditimbulkan
oleh pengaruh lapisan batas dan oleh adanya pemisahan aliran. Fluida dapat
dibagi menjadi dua, yaitu fluida statis, fluida dalam keadaan diam atau tidak
bergerak dan fluida dinamis, fluida yang bergerak (Fran dkk 2017).
Aliran dalam saluran terbuka dapat digolongkan menjadi berbagai jenis dan
diuraikan dengan berbagai cara. Penggolongan berikut ini dibuat berdasarkan
perubahan kedalaman aliran sesuai dengan waktu dan ruang (Bungin 2005).
Aliran melalui saluran terbuka banyak dijumpai pada turbin air, pertambangan dan
lainnya. Karakteristik aliran fluida yang melalui saluran terbuka mempunyai
bentuk dan kecepatan yang berbeda untuk setiap perubahan tekanan dan
kecepatan aliran. Sehingga diperlukan praktikum mengenai pengaruh kedalaman
terhadap energi spesifik pada aliran.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan menentukan energi spesifik dengan kedalaman aliran
dan menentukan kedalaman kritis serta membandingkan nilai suatu energi spesifik
minimum.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Laptop
2. Program QB64
3. Perangkat lunak Microsoft Excel
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Data debit aliran
2. Data kedalaman awal dan akhir aliran
3. Data interval kedalaman aliran

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 21 November 2017, pukul 13.00–
16.00 WIB di Laboratorium Komputer Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan,
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Peralatan yang digunakan
adalah laptop atau komputer dengan program Quick Basic dan Visual Basic.
Program Quick Basic menggunakan perangkat lunak QB64 sedangkan Visual
Basic menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007. Hasil perhitungan
yang ditunjukan dengan program Quick Basic dan Visual Basic mengenai nilai
nilai kedalaman aliran dan besarnya energi spesifik pada kedalaman tersebut.
Secara sederhana langkah dalam praktikum ini digambarkan pada diagram alir
berikut.
Mulai

Program QB64 diaktifkan.

Kode (coding) pada lampiran 2 dimasukkan dalam program.

Menu Run diklik.

Data lebar saluran, debit aliran, kedalaman awal, kedalaman akhir dan interval
kedalaman dimasukkan.

Lebar saluran (B) = 76 mm


Debit aliran (Q) = 0.005 mm3/det
Kedalaman awal (Y0) = 10 mm
Kedalaman akhir (Y1) = 200 mm
Interval kedalaman = 10 mm

Tombol enter ditekan.

Huruf Y diketik dan tombol enter ditekan.

Kedalaman awal, kedalaman akhir dan interval kedalaman dimasukkan.

Tombol enter ditekan.

Huruf N diketik dan tombol enter ditekan.

Selesai

Gambar 1 Diagram alir pada Quick Basic


Mulai

Microsoft Excel diaktifkan.

Tabel data lebar saluran, debit aliran, kedalaman awal, kedalaman akhir
interval kedalaman, kedalaman dan energi spesifik (lampiran 2) dibuat.

Menu Developer diaktifkan.

Fitur Command Button dibuat sebanyak tiga buah dengan nama calculate
1, calculate 2, dan erase.

Coding (lampiran 2) dimasukan dalam masing-masing Command Button.

Menu Run diklik.

Tombol enter ditekan.

Selesai

Gambar 2 Diagram alir pada Visual Basic

PEMBAHASAN
Energi spesifik adalah jumlah dari energi potensial dan energi kinetik fluida
per satuan berat. Konsep energi spesifik seringkali berguna dalam pertimbangan
aliran kanal terbuka (Munson et al 2005). Energi spesifik aliran pada setiap
penampang tertentu dihitung sebagai total energi pada penampang itu dengan
menggunakan dasar saluran sebagai referensi. Dalam suatu aliran fluida terdapat
energi spesifik minimum yang terjadi saat kedalaman kristis. Untuk nilai energi
spesifik yang ditentukan, suatu aliran dapat mempunyai kedalaman alternatif
(Harianja 2007).
Suatu aliran dapat dibedakan berdasarkan energi spesifik. Apabila energi
spesifik minimum yang terjadi saat kedalaman kritis, maka aliran tersebut
digolongkan sebagai aliran kritis. Apabila energi spesifiknya lebih besar dari
energi spesifik minimum, maka aliran tersebut dapat digolongkan menjadi aliran
subkritis atau aliran superkritis. Aliran subkritis dan superkritis dibedakan
kembali berdasarkan kedalaman aliran. Aliran subkritis terjadi saat energi
spesifiknya lebih besar dari energi spesifik minimum dan kedalaman alirannnya
lebih besar dari kedalaman kritis. Aliran superkritis terjadi saat energi spesifiknya
lebih besar dari energi spesifik minimum tetapi kedalaman alirannnya lebih kecil
dari kedalaman kritis (Munson et al 2005).
Bilangan Froude (Fr) adalah parameter berdimensi penting dalam studi saluran
aliran terbuka. Bilangan Froude didapat dari perhitungan kecepatan rata-rata,
panjang karakteristik yang terkait dengan kedalaman (kedalaman hidrolik untuk
aliran saluran terbuka), dan percepatan gravitasi. Untuk penampang persegi
panjang, kedalaman hidrolik adalah kedalaman air. Secara fisik, bilangan Froude
merupakan rasio gaya inersia untuk gaya gravitasi. Jenis aliran dapat berdasarkan
pada bilangan Froude. Aliran dikatakan kritis apabila bilangan Froude (Fr) sama
dengan 1, sedangkan aliran disebut subkritis atau kadang-kadang dinamakan
aliran tenang (trianguil flow) apabila Fr kurang dari 1 dan disebut superkritis atau
aliran cepat (rapid flow) apabila Fr lebih dari 1 (Fitriana 2014).
Hasil perhitungan menggunakan program Quick Basic menunjukkan bahwa
untuk lebar saluran 76 mm dan debit 0.005 mm3/det, kedalaman awal 10 mm dan
kedalaman akhir 200 mm dengan interval 10 mm, nilai energi spesifik tertinggi
sebesar 2216.042 mm yang terjadi saat kedalaman aliran 10 mm. Selain itu, nilai
energi spesifik terendah sebesar 114.4694 mm terjadi saat kedalaman aliran 80
mm. Untuk mendapatkan data energi spesifik minimum dan kedalaman kritis
yang lebih detail, dilakukan perhitungan kedua yang mendekati kedalaman 80 mm
yaitu, dengan kedalaman awal 70 mm dan kedalaman akhir 85 mm serta interval 1
mm. Dengan perhitungan menggunakan Quick Basic didapat bahwa energi
spesifik minimumnya sebesar 114.1933 mm terjadi saat kedalaman kritis
alirannya 76 mm. Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.

Tabel 1 Hasil perhitungan pertama menggunakan Visual Basic


No. Y E
1 10 2216.04
2 20 571.51
3 30 275.12
4 40 177.88
5 50 138.24
6 60 121.28
7 70 115.02
8 80 114.47
9 90 117.24
10 100 122.06
11 110 128.23
12 120 135.32
13 130 143.05
14 140 151.26
15 150 159.80
16 160 168.62
17 170 177.63
18 180 186.81
19 190 196.11
20 200 205.52
Tabel 2 Hasil perhitungan kedua menggunakan Visual Basic
No. Y E
1 70 115.02
2 71 114.76
3 72 114.55
4 73 114.40
5 74 114.29
6 75 114.22
7 76 114.19
8 77 114.21
9 78 114.26
10 79 114.35
11 80 114.47

Hasil perhitungan pertama menggunakan program Visual Basic menunjukkan


bahwa untuk lebar saluran 76 mm dan debit 0.005 mm3/det, kedalaman awal 10
mm dan kedalaman akhir 200 mm dengan interval 10 mm, nilai energi spesifik
tertinggi sebesar 2216.04 mm yang terjadi saat kedalaman aliran 10 mm. Selain
itu, nilai energi spesifik terendah sebesar 114.47 mm terjadi saat kedalaman aliran
80 mm. Untuk perhitungan kedua dengan kedalaman awal 70 mm dan kedalaman
akhir 80 mm dengan interval 1 mm didapat bahwa energi spesifik minimumnya
sebesar 114.19 mm terjadi saat kedalaman kritis aliran 76 mm. Hasil perhitungan
tersebut dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2. Hasil perhitungan menggunakan
program Visual Basic dan Quick Basic menunjukkan nilai kedalaman aliran yang
sama dan energi spesifik yang hampir sama, hanya berbeda dalam hal pembulatan
angka desimal yang pada Visual Basic menggunakan pembulatan dua angka
desimal.

Gambar 3 Kurva hubungan kedalaman dan energi spesifik 1


Gambar 4 Kurva hubungan kedalaman dan energi spesifik 2

Berdasarkan tabel hasil perhitungan program Visual Basic, dihasilkan kurva


hubungan antara kedalaman dan energi spesifik. Kurva hasil perhitungan pertama
yang terlihat pada gambar 3 menunjukkan bahwa untuk kedalaman awal 10 mm
dan kedalaman akhir 200 mm dengan interval 10 mm, garis kurva yang dihasikan
tidak terlalu melengkung sehingga nilai kedalaman kritis dan energi spesifik
minimumnya tidak dapat diketahui dengan jelas. Dengan perhitungan kedua
kedalaman awal 70 mm dan kedalaman akhir 80 mm dengan interval 1 mm yang
dapat dilihat pada gambar 4, kedalaman kritis dan energi spesifiknya dapat
diketahui dengan jelas karena kelengkungan garis kurva menunjukkan titik
perpotongan pada energi spesfik minimum dengan kedalaman kritis. Berdasarkan
kurva tersebut juga dapat diketahui bahwa aliran subkritis terjadi saat
kedalamannya lebih besar dari 76 mm, aliran superkritis terjadi saat
kedalamannya lebih kecil dari 76 mm dan aliran kritis terjadi saat kedalamannya
sama dengan 76 mm dengan energi spesifik minimumnya sebesar 114.19 mm.
Bentuk kurva hubungan antara kedalaman dan energi spesifik hasil praktikum ini
sesuai dengan literatur yang terdapat pada lampiran 4.
Aplikasi perhitungan energi spesifik dan kedalaman aliran dalam bidang
Teknik Sipil dan Lingkungan diantaranya dapat kita temukan pada kanal irigasi
dan sungai, baik yang alami maupun buatan. Selain itu, perhitungan kedalaman
pada saluran juga diterapkan perancangan drainase suatu perkotaan (Putri 2012).
Perhitungan energi spesifik dan kedalaman kritisnya juga diterapkan untuk
membuat bangunan peredam energi pada pembangkit listrik (Djauhari 2012).
Pemilihan saluran terbuka sering kali didasarkan pada proses pembangunannya
yang sederhana dan biaya yang relatif murah dibandingkan saluran tertutup
(Andreas dan Dalu 2012).

SIMPULAN
Energi spesifik memiliki hubungan dengan kedalaman suatu aliran, yaitu
energi spesifik minimum terjadi saat kedalaman kritis. Hubungan antara energi
spesifik dan kedalaman juga dapat menjadi dasar untuk menentukan jenis aliran,
yaitu aliran kritis, aliran subkritis dan aliran superkritis. Berdasarkan hasil
praktikum ini, untuk lebar saluran 76 mm dan debit 0.005 mm3/det, dapat
diketahui bahwa aliran subkritis terjadi saat kedalamannya lebih besar dari 76
mm, aliran superkritis terjadi saat kedalamannya lebih kecil dari 76 mm dan aliran
kritis terjadi saat kedalamannya sama dengan 76 mm dengan energi spesifik
minimumnya sebesar 114.19 mm.

Saran
Praktikum berjalan dengan aman dan tertib. Sedikit terjadi kendala saat
running data. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam meng-input data agar tidak
terjadi kesalahan. Selain itu, untuk membuat suatu saluran kita harus
mempertimbangkan dan memperhitungkan kedalaman kritis serta energi spesifik
yang sesuai kebutuhan. Suatu saluran yang energi spesifiknya terlalu besar dapat
dikurangi dengan bangunan peredam energi agar saluran tersebut tidak mudah
rusak.

Daftar Pustaka
Andreas S dan Dalu S. 2012. Pemodelan dan pengujian model dinamis saluran
terbuka hidrolik yang menggunakan weir segitiga. Jurnal Ilmiah
Elektroteknika. 11(1) : 65 – 74.
Bungin SW. 2005. Pengaruh kedalaman aliran di hulu pintu air terhadap ketelitian
pengukuran aliran [skripsi]. Makassar (ID) : Universitas Hasanudin.
Djauhari A. 2012. Perencanaan bendung pembangkit listrik tenaga minihidro di
Kali Jompo [Skripsi]. Jember (ID) : Universitas Jember.
Fran F, Helmi, Prabawati.2017. Penyelesaian persamaan blasius dengan metode
new homotopy pertubation (NHP). Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya.
6(1) : 37-44.
Fitriana N. 2014. Analisis gerusan di hilir bendung tipe vlughter (uji model
laboratorium). Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan. 2(3) : 418-423.
Harianja J, Gunawan S. 2007. Tinjauan energi spesifik akibat penyempitan pada
saluran terbuka. Majalah Ilmiah UKRIM. 1(21) : 30-46.
Munson B, Young D, Okiishi T. 2005. Meknika Fluida Edisi Keempat. Jakarta
(ID) : Erlangga.
Putri A. 2012. Kajian sistem drainase di daerah Jalan Swadarma Saya, Jakarta
Selatan [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar coding proportional depth pada beberapa program. (a) Quick
Basic, (b) lanjutan Quick Basic, (c) Visual Basic, (d) lanjutan Visual Basic.

(a)

(b)
(c)

(d)
Lampiran 2 Hasil perhitungan proportional depth menggunakan program. (a)
kondisi 1 Quick Basic, (b) kondisi 2 Quick Basic, (c) kondisi 1 dan 2 Visual Basic.

(a)

(b)
(c)

(d)
Lampiran 3 Diagram energi spesifik

Sumber : Buku Mekanika Fluida Jilid 2 Edisi Keempat karya Munson et al 2005