Anda di halaman 1dari 29

DERET KONVERGEN DAN

DIVERGEN
AUGUST 25, 2014SARJANAPENDIDIKAN 3 COMMENTS
Barisan konvergen merupakan barisan yang menuju ke suatu titik atau limitnya memiliki nilai.
Sementara barisan divergen sebaliknya. Barisan konvergen biasanya dapat langsung ditentukan
jika barisan itu terbatas. Contohnya 4,6,8,10. Tetapi untuk barisan divergen tidak dapat
ditentukan untuk barisan terbatas. Namum jika barisan itu tak terbatas pun harus dilakukan
perhitungan menggunakan limit untuk mengetahuinya. Sama halnya dengan barisan, deret pun
ada yang konvergen dan ada yang divergen. Untuk menyelidikinya dapat digunakan Teorema
Limit Barisan.

Deret merupakan penjumlahan dari suatu barisan. Deret pun dapat dibagi menjadi 2
berdasarkan jumlah batasnya yaitu deret terbatas dan deret tak terbatas/tak hingga. Deret
terbatas contohnya : 2 + 3 + 4 + 5 sedangkan deret tak terbatas contohnya 2 + 3 + 4 + 5 + …. .
Deret pun dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Terdapat deret positif, deret negatif dan deret
alternating. Untuk mengetahui bahwa suatu deret tak hingga akan konvergen atau divergen
dapat dilakukan 2 cara yaitu

1. Menggunakan Teorema yang sudah ada


2. Menggunakan Tes

a. Tes Banding

b. Tes Rasio

c. Tes Integral

Sekarang mari kita bahas yang menggunakan cara 1 yaitu menggunakan teorema. Dengan
menggunakan teorema maka akan lebih mudah mencarinya tanpa menghitungnya. Terdapat dua
teorema yang dapat digunakan yaitu Teorema Deret Harmonis dan Teorema Deret Geometri.
Berikut penjelasannya :

1. Teorema Deret Harmonis

Dalam teorema ini dikatakan bahwa jika sebuah deret berbentuk


maka untuk menentukan deret konvergen atau divergen, kita hanya melihat pangkatnya itu p,
jika p > 1 maka deret tersebut konvergen sedangkan jika p<= 1 maka deret tersebut divergen.
Walaupun begitu bentuknya tidak harus seperti diatas, maksudnya bentuk lain boleh asalkan
memiliki pola yang hampir mirip dengan deret harmonis tersebut.

2. Teorema Deret Ukur/Geometri

Dalam teorema ini dikatakan bahwa jika sebuah deret berbentuk

maka untuk menentukan deret konvergen atau divergen, kita dapat menggunakan rasio ( r )
antar tiap suku. Rasio antar tiap suku dapat dicari dengan membagi suku yang berdekatan.
Contohnya suku kedua dan suku pertama. Jika telah mengetahui rasionya maka jika deret itu
konvergen maka -1 < r < 1. Letak rasionya diantara -1 dan 1 maka dikatakan deret tersebut
konvergen. Jika deret konvergen maka akan didapatkan hasil dari deret tersebut yaitu
menggunakan rumus jumlah deret geometri tak hingga yaitu suku awal/(1-r). Jika deret itu
divergen maka rasionya r <= -1 atau r >=1 .

- See more at: http://sarjanapendidikan.com/deret-konvergen-dan-


divergen/#sthash.sKzVWS1m.dpuf

Deret Tidak Berhingga

Deret Bilangan

1. Beberapa Pengertian

 Deret Un, maksudnya u1+u2+u3+…+un =


 Deret tak hingga, maksudnnya:  banyaknya suku tersebut tak terbatas.
 Karena ada pengertian “jumlah n suku suatu deret”, maka bila dikatakan “deret”,
maksudnya deret tak hingga.

 kemungkinan suatu deret konvergen atau divergen, dengan ciri-ciri:

1. Jika

L   ~  deret konvergen

L =  ~  deret divergen
2. Jika  deret divergen

2. Konvergensi Suatu Deret

Untuk mendeteksi konvergensi suatu deret ada beberapa cara.

I. Dengan Uji Banding

Vn deret pembanding dan Un deret yang diselidiki.

1. Vn konvergen

Jika 0<UnVn,maka Un konver-gen

2. Vn divergen

Jika 0<VnUn, maka Un divergen

3. maka kedua-duanya konvergen atau divergen


4. Vn konvergen

Jika , maka Un konvergen

5. V divergen

Jika , maka Un divergen

Sedangkan deret pembanding biasanya digunakan:

1. Deret Geometri

2. Deret Hiperharmonis

3. Deret Bertrand
Contoh:

Selidiki konvergensi deret

Jawab

Deret pembanding ,deret harmonis yang divergen.

Untuk n  3 

Karena Vn divergen maka Un divergen

Contoh-contoh yang lain


DERET

1.1 Definisi dan notasi

Deret merupakan suatu bilangan yang tersusun di dalam bentuk penjumlahan


dari banyak bilangan (tak hingga). Ada deret yang mempunyai nilai terbatas
dan ada juga yang mempunyai nilai tak hingga. Bilangan penyusun deret
dapat berupa rumus tertentu juga ada berupa bilangan yang tidak dapat
dirumuskan.

Contoh

1 1 1
1+2+ + + ….
3 4

Dalam banyak bentuk, deret dapat dirumuskan ke dalam suatu bentuk


perulangan (looping) yang bergantung pada suatu nilai variabel yang
membesar ketika berulang. Seperti contoh diatas, dapat dilihat penyebut dari
bilangan penyyusunannya membesar dengan beda satu, artinya setiap
perulangan bilangan penyusunannya (penyebutnya) ditambah satu. Untuk
merumuskan deret di atas dapat digunakan variabel n yang membesar
dengan beda satu, digunakan sebagai penyebut bilangan penyusun deret,
dan operasi penjumlahan digunakan dengan notasi ∑∞
n=1 atau sigma yang
artinya perulangan n dimulai dari satu sampai tak hingga. Perumusan deret di
1 1 1 1
atas adalah ∑∞
n=1 2 = 1 + 2 + + + ….
3 4

Contoh


1 1 1 1
∑ n
= 1 + + + + ….
2 2 3 4
n=1


1 1 1 1
∑ =1+ + + + ….
n! 2 6 24
n=1

1.2 Deret Konvergen dan Deret Divergen


Deret tak hingga terbagi menjadi dua yaitu, deret tak hingga yang konvergen
dan deret tak hingga yang divergen.
Tinjau suatu deret berikut :

1 n 1 2 1 3 1 4 1 n
∑ ( ) = 1 + ( ) + ( ) + ( ) + … . + ( ) + ….
2 2 2 2 2
n=0

Namakan deret dengan Sn :


1 1 1 1 1 n
Sn = 1 + 2 + + + 16 … + (2) + …
4 8

Kita kalikan Sn dengan ½ akan didapat :


1 1 1 1 1 n+1
½ Sn = 2 + + + 16 … + (2) + …
4 8

Jumlahkan Sn dengan (-1/2) Sn akan didapat :


1 1 1 1 1 n
Sn = 1 + 2 + + + 16 … + (2) + …
4 8

1 1 1 1 1 n+1
-1/2 Sn = - [2 + + + 16 … + (2) + …] +
4 8

1 n+1
½ Sn = 1 - (2)

Dengan demikian kita dapat menghitung nilai deret di atas


1 n+1
1−( )
2
Sn = 1
2

S = lim Sn = 2
n→∞

Oleh karena nilai S dapat dihitung dan bernilai batas maka deret tersebut
dinamakan deret konvergen. Jika S tidak dapat dihitung atau bernilai tak
hingga maka deretnya dinamakan deret divergen. Suatu barisan (Sn)
dikatakan konvergen ke suatu bilangan hingga s jika berlaku lim Sn = s.
n→∞

Artinya : untuk sembarang bilangan positif ϵ kecil, ada bilangan bulat positif
m, sedemikian sehingga untuk n > m, maka |s − sn| < ∈ Sn mempunyai limit
disebut barisan konvergen, tapi jika baris tak mempunyai limit maka barisan
disebut divergen.Suatu barisan (Sn) dikatakan divergen ke ∞ atau lim Sn =
n→∞

∞ jika untuk sembarang bilangan positif m bagaimana besarnya, selalu ada


bilangan positif m, sedemikian sehingga untuk n > maka |Sn| > m atau jika Sn
> m, lim Sn = + ∞ dan lim Sn = − ∞
n→+∞ n→−∞

Dalil dalil untuk barisan


- Setiap barisan tak trun (tak naik) tetapi terbatas konvergen
- Setiap barisan tak terbatas adalah divergen
- Suatu barisan konvergen (divergen) akan tetap konvergen (divergen) jika
beberapa atau semua suku – suku ditukar
- Limit dari barisan konvergen adalah unik lim Sn = s dan lim tn = t
n→∞ b→−∞

- lim (Sn ± tn) = s + t


n→∞

- lim (k . Sn) = k . s
n→∞

- lim (Sn . tn) = s . t


n→∞

- Jika Sn adalah barisan yang suku – sukunya tak nol dan jika lim Sn = ∞
n→∞
1
maka lim =0
Sn

- Jika a > 1 maka lim an = +∞


n→+∞

- Jika |r| < 1 maka lim r n = 0


n→∞

1.3 Uji Deret Konvergen dan Divergen


Suatu deret dapat dikatakan konvergen bila telah diujji dengan beberapa jenis
uji yang dapat memberikan kepastian tentang sifat konvergen. Ada beberapa
jennis uji konvergensi bagi deret, diantaranya
a. Uji Awal (Preliminary Test)
Uji ini dilakukan pertama kali sebagai uji apakah deret bisa bersifat
konvergen atau bahkan divergen. Melalui uji ini, suatu deret dapat
langsung dinyatakan bersifat divergen, atau deret masih memiliki
kemungkinan bersifat konvergen dari deret tersebut.
lim an = 0, ada kemungkinan deret konvergen
n→∞

lim an ≠ 0, deret pasti divergen


n→∞

Dalil

Jika ∑∞
n=1 a n konvergen, maka lim a n = 0
n→∞

Dalil ini tidak bisa dibalik, jadi jika diperoleh lim an = 0 belum dapat
n→∞

dikatakan bahwa deret ∑∞


n=1 a n konveregen (lanjutkan ke uji yang lain)

Contoh

1 1 1 1
∑ = 1 + + + + ……
2 2 3 4
n=1

lim an = 0, deret belum pasti divergen tetapi memberikan kemungkinan


n→∞

deret konvergen (walaupun akhirnya deret divergen). Harus dilakukan uji


lain yang dapat memastikan deret konvergen.

b. Uji Perbandingan dengan Deret Lain (Comparison Test)


Setelah melalui uji awal dan ada kemungkinan deret konvergen, dilakukan
uji perbandingan untuk memastikan deret konvegen.
Suatu deret ∑∞
n=1 bn yang telah diketahui bersifat konvergen digunakan

untuk membandingkan (uji perbandingan) deret ∑∞


n=1 a n , dimana

∑∞ ∞ ∞
n=1 a n < ∑n=1 bn , deret ∑n=1 a n konvergen

∑∞ ∞
n=1 a n > ∑n=1 bn , digunakan uji lain untuk menentukan ∑∞
n=1 a n

konvergen atau divergen.


Contoh :
1
Uji deret ∑∞
n=1 n! dengan uji banding, gunakan sebagai deret pembanding

1
∑∞
n=1 yang merupakan deret konvergen
2n

Bandingkan
1 1
N n! 2n
n! 2n
1
1 1 2 1 >
2
1 1
2 2 4 >
2 4
1 1
3 6 8 >
6 8
1 1
4 24 16 <
24 16
1 1
5 120 32 <
120 32

1 1
< untuk n ≥ 4
n! 2n
1
Maka deret ∑∞
n=1 n! konveregen

c. Uji Integral
∞ ∞ ∞ ∞ ∞
∫N an dn → ∫N f(n)dn → ∫N f(x)dx ↔ ∫N f(x)dn = ∫ f(x)dx

Ketentuan jika ∫ f(x)dx
1. Nilainya berhingga maka deret ∑∞
n=1 a n konvergen

2. Nilainya tak berhingga maka deret ∑∞


n=1 a n divergen

Untuk lebih memudahkan, batas integral bisa ditinjau batas atasnya saja

Contoh

k
Selidiki kekonvergenan deret ∑∞
k=1 2
ek

Penyelesaian

∞ b
k −1 2 −1 1 1 1
∫ ak dk = lim ∫ k2
dk = lim e−k | b1= lim ( b2 − ) =
1 b→∞ 1 a 2 b→∞ 2 b→∞ e e 2e

1 k
Karena integral tak wajar di atas kekonvergen maka deret ∑∞
k=1 2
2e ek
1 k 1
konvergen ke 2e dan ∑∞
k=1 2 =
ek 2e

d. Uji Nisbah (test d’allembert)


Teorema
an+1
Tinjau deret ∑∞
n=1 a n lalu cari nilai ρn = | | kemudian lakukan lim ρn =
an n→∞

ρ
Jika :
ρ < 1 , konvergen
ρ > 1 , 𝑑𝑖𝑣𝑒𝑟𝑔𝑒𝑛
ρ = 1 , pengujian gagal melakukan kesimpulan (dilakukan dengan tes lain)
Contoh
k
Selidiki kekonvergenan deret ∑∞
k=1 k!

Jawab
1 ak+1 1
Misal ak = maka lim = lim k+1 = 0
k! k→∞ ak k→∞
1
Jadi deret ∑∞
k=1 k! konvergen

e. Tes Akar (Test Couchy)


k
Misal ∑∞ k
k=1 a k deret positif dan lim √a = a
k→∞

Maka
1. Bila a < 1 maka deret ∑∞
k=1 a k konvergen

2. Bila a > 1 atau a = ∞ maka deret ∑∞


k=1 a k divergen

3. Bila a = 1 maka tes gagal melakukan kesimpulan (dilakukan dengan


tes lain)

Contoh

3k+2 k
Tentukan kekonvergenan deret ∑∞
k=1 (2k−1)

Jawab :

3k+2 k 3k+2 3
Misal ak = (2k−1) maka lim k√ak = lim 2k−1 =
k→∞ k→∞ 2

3k+2 k
Jadi deret ∑∞
k=1 (2k−1) konvergen

f. Tes Limit Perbandingan


a
Misal ∑∞ ∞ k
k=1 a k dan ∑k=1 bk merupakan deret positif dan lim b = 1 Maka
k→∞ k

kedua deret konvergen atau divergen secara bersama – sama bila 1 < ∞
dan 1 ≠ 0
Contoh
1
Tentukan konvergensi deret ∑∞
k=2 k2 −1

Jawab
1 1 1
Pandang deret – p, ∑∞
k=2 k2 konvergen. Misal a k = k2 dan bk = maka
k2 −1
a k2 −1 1
lim bk = lim = 1 Jadi deret ∑∞
k=2 k2 −1 konvergen
k→∞ k k→∞ k2

1.4 Deret Bolak-balik (Alternating Series)


Deret bolak-balik adalah deret yang suku-sukunya berganti tanda. Sebagai
contoh,
1 1 1 (−1)n+1
1− + − + ⋯+
2 3 4 n
Deret bolak-balik ∑∞
n=1(−1)
n+1
an , dengan an positif, konvergen jika memenuhi
dua syarat berikut:
i. Setiap suku-suku deret ini secara numerik kurang dari suku-suku
sebelumnya, |an+1 | < |an |.
ii. lim |an | = 0.
a→∞

1.5 DERET PANGKAT


1.5.1 Definisi deret pangkat

C
n 0
n ( x  a) n  co  c1 ( x  a )  c 2 ( x  a) 2  c 3 ( x  a) a  ...

dimana X adalah variabel C n dan a konstanta

Perhatikan bahwa dalam notasi deret pangkat telah sengaja memilih


indeks nol untuk menyatakan suku pertama deret, c0 yang selanjutnya

disebut suku ke-nol .Hal ini digunakan untuk memudahkan penulisan


,terutama ketika membahasa pernyataan suatu fungsi dalam deret
pangkat .

Beberapa contoh deret pangkat :

x x2 x3 (  x) n
(a) 1    .....  n  .....
2 4 8 2
x2 x3 x4 (1) n 1 x n
(b) x    .....   .....
2 3 4 n
x3 x5 x7 (1) n1 x 2 n1
(c) x    .....   .....
3! 5! 7! (2n  1)!

( x  2) ( x  2) 2 ( x  2) n
(d) 1   .....   .....
2 3 n 1

1.5.2 TEOREMA DERET PANGKAT

Konsep Dasar
Deret pangkat merupakan suatu bentuk deret tak hingga

a
m 0
m ( x  x0 ) m  a0  a1 ( x  x0 )  a 2 ( x  x0 ) 2  a3 ( x  x0 ) 3  ..... (1)

Diasumsikan x, x0 , dan koefisien a i merupakan bilangan real. Jumlah

parsial untuk n suku pertama bentuk di atas adalah s n yang dapat

dituliskan sebagai s n ( x)  a0  a1 ( x  x0 )  a 2 ( x  x0 ) 2  ......a n ( x  x0 ) n

(2)

Dan sisa deret pangkat (1) didefinisikan sebagai Rn

Rn ( x)  a01 ( x  x0 ) n 1  a n  2 ( x  x0 ) n  2  ...... (3)

Untuk persamaan (1) di atas dapat diperoleh

s0  a0
R0  a1 ( x  x0 )  a 2 ( x  x0 ) 2  a3 ( x  x0 ) 3  ....
s1  a 0  a1 ( x  x0 )
R1  a 2 ( x  x0 ) 2  a3 ( x  x0 ) 3  a 4 ( x  x0 ) 4  ...
s 2  a 0  a1 ( x  x0 )  a 2 ( x  x0 ) 2
R2  a3 ( x  x0 ) 3  a 4 ( x  x0 ) 4  a5 ( x  x0 ) 5  ...

1.5.3 Konvergensi

Jika diambil suatu nilai x = x1 maka deret pangkat (1) dinyatakan


konvergen jika

lim s n ( x1 )  s( x1 ) hadir sebagai suatu bilangan real.


n→∞

Sebaliknya deret pangkat itu akan divergen jika lim s n ( x1 )  s( x1 ) tidak


n→∞

hadir sebagai suatu bilangan real.jika deret (1) adalah konvergen pada
x  x1 ,dan jumlah deret tersebut untuk x  x1 dapat dituliskan sebagai


s( x1 )   a m ( x1  x0 ) m
m 0
Maka untuk tiap n tertentu dapat dituliskan

s( x1 )  s n ( x1 )  Rn ( x1 ) (4)

Pada kasus konvergensi ,untuk suatu nilai positif  tertentu terdapat


suatu nilai N (yang tergantung terhadap  ) sedemikian sehingga
,untuk (4)

Rn ( x1 )  s( x1 )  sn ( x1 )   untuk setiap n>N (5)

Secara geometris ini berarti bahwa semua s n ( x1 ) dengan n>N ,terletak

antara s( x1 ) dengan n>N ,terletak antara s( x1 )   dan s( x1 )  


.Untuk deret yang konvergen ,kita dapat menentukan nilai pendekatan
dari s (x ) untuk x  x1 dengan mengambil harga n yang cukup besar .

1.5.4 Radius Konvergensi

Untuk menentukan nilai x, yang menghasilkan deret konvergen,tes


rasio (Boas, 1983) dapat digunakan.Tes rasio menyatakan bahwa jika
rasio absolute dari suku ke-m+1 terhadap suku ke-n mendekati suatu
nilai  karena n   ,maka deret dikatakan konvergen jika   1 dan
divergen jika   1

a m 1
  lim x  x0 (6)
m  a
m

1
 x  x0 (7)
R

Dimana

1 a am
 lim m1 x  x0 atau R  lim (8)
R m am m a
m 1
Jika limit ada ,maka deret adalah konvergen ,dan konvergensi
menyatakan   1 ,sehingga

x  xo  R (9)

R adalah radius konvergensi ,dan deret akan konvergen pada interval

x0  R  x  x0  R (10)

Jika deret konvergen ,maka deret yang diperoleh dari hasil turunannya
juga konvergen.

Untuk deret pangkat yang diberikn pada persamaan (1) hanya terdapat
tiga kemungkinan

 Deret tersebut konvergen hanya ketika x  xo ,jika diperoleh harga

R=0
 Deret tersebut konvergen pada x  xo  R ,jika diperoleh harga R=1

 Deret tersebut konvergen untuk semua x,jika diperoleh harga R= 

Untuk tiap x yang membuat deret(1) konvergen ,maka deret ini


akan menghasilkan nilai tertentu s(x) .Dapat dituliskan fungsi s(x)
yang konvergen dalam interval berikut:


s( x)   a m ( x  x0 ) m ( x  x0  R) (11)
m 0

Contoh 1

Selidikilah konvergensi dari deret berikut :

 m! x
m0
m
 1  x  2 x 2  6 x 3  .....

Penyelesaian :
Dari deret di atas ,diperoleh a m  m! ,dengan demikian
am
R  lim
m a
ma

m!
R  lim
m   ( m  1)!

1
R  lim
m m  1

R0

Menurut tes rasio ,kenvergensinya menyatakan bahwa

1 1
 x  x0  x  1
R R

Deret ini divergen untuk x  0 dengan demikian deret ini konvergen


hanya ketika x=0

Contoh 2

Selidikilah konvergensi deret geometri berikut :


1
  x m  1  x  x 2  ...... ( x  1)
1  x m 0

Penyelesaian :

Dari deret geometri di atas diperoleh a m  1 untuk setiap m ,sehingga

am
R  lim
m x a
m 1

R 1

Menurut tes rasio ,konvergensinya menyatakan bahwa

1
 x  x0  x  1
R

Dari tes rasio didapatkan bahwa deret geometri ini konvergen untuk
x 1

1.5.5 Penurunan dan Pengintegralan Deret Pangkat


Jika y (x ) merupakan fungsi dari deret pangkat pada persamaan (1)


y ( x)   am( x  x 0 ) m
m 0

Mempunyai radius konvergensi R > 0 ,maka hasil turunan dan


integrasi dari deret pangkat tersebut pada selang x  x 0  R diberikan

oleh


y ' x    ma m ( x  x 0 ) m 1
m 1 (12)


y ' ' x    mm  1a m ( x  x 0 ) m  2
m 1 (13)

x  x 0 m 1
 yx dx   a m 0
m
m 1 (14)

Penjumlahan

Dua deret pangkat dapat dijumlahkan,misalkan


f x    a m x  x 0 
m
(15)
m0


g  x    bm  x  x 0 
m
(16)
m 0

Memiliki radius konvergensi positif (R>0) dan jumlah dari f(x) dan g(x)
dapat dituliskan sebagai berikut

 a
m0
m  bm x  x 0 
m
(17)

Konvergensi dari fungsi hasil penjumlahan ini terletak di dalam interval


konvergensi dari tiap-tiap fungsi asal .

Perkalian

Dua deret pangkat f(x) dan g(x) yang dinyatakan pada persamaan (15)
dan (16) dapat diperlakukan operasi perkalian ,dengan hasil berikut

 a b
m 0
0 m  a1 bm 1  .....a m b0  x  x 0  (18)

 a0 b0  a0 b1  a1b0 x  x0   a0 b2  a1b1  a 2 b0 x  x0   .....


2

Konvergensi dari fungsi hasil perkalian ini terletak di dalam interval


konvergensi dari tiap-tiap fungsi asal.

1.6 Ekspansi Deret

Kadang kala dalam menyelesaikan sebuah permasalahan dalam fisika,


sebuah fungsi diekspansikan ke dalam bentuk deret agar mempermudah
penyelesaian permasalahan tersebut. Sebuah fungsi f(x) jika diekspansasikan
menjadi bentuk deret disebut bderet Taylor – Mc Laurin

Dengan

f n (0) adalah turunan ke – n dari f(x)

Misalkan f(x) = sin x ; maka :

C0 = 0

C1 = 1

C2 = 0

1
C3 = -3 !

Sehingga sin x = c0x0 + c1x1 +c2x2+c3x3+......


Dengan cara yang serupa,bentuk deret dapat didapatkan untuk beberapa
fungsi lainnya

Untuk nilai x sangat kecil, maka :

Sin x = x

Cos x =1

Exp (x) =1+x

Pendekatan nsemacam ini kadang dijumpai pada bidang ilmu mekanika


misalnya pada ayunan bandul dengan sudut simpangan yang kecil.

Bukti : Deret Taylor

Konsep deret ini sungguh tidak sulit jika kita sudah mengenal konsep
derivatif. Sangat mudah..

Berikut adalah formula yang dikenl dengan nama Deret Taylor

Untuk setiap fungsi f(x) yang diferensiabel di titik c, maka


berlaku ekspansi dari f(x) sebagai berikut .

𝑓 ′ (𝑐) 𝑓 ′′ (𝑐) 𝑓 ′′′ (𝑐)


F(x) = f(c)+ (x-c) + (𝑥 − 𝑐)2+ (𝑥 − 𝑐)3 +......(dst)
11 2! 3!

Teorema Taylor

Untuk fungsi f(x) yang diferensiabel dititik c, maka hanya akan terdapat 1
fungsi yang memenuhi kondisi berikut.

F(x) = a0 + a1(x-c)+a2(x − c)2 + ⋯

Conto soal :
Diketahui f(x) = x 3 + 3x 2 + 2x + 1 , dengan c=1 , berapakah nilai daro
a0,a1,a2,a3,dst,, yang memenuhi persamaan berikut ?

F(x) = a0+a1(x-c)+a2(x − c)2+a3(x − c)2 +...

Jawab :

Fungsi di atas merupakan polinomial yang berderajat 3. Oleh karena itu , kita
tidak perlu memperhatikan derajat yang lebih besar dari 3 , seperti (x −
c)4 , (x − c)5 . Artinya , nilai yang perlu dicari adalah nilai a 0,a1,a2,dan a3 saja.
(sisanya bernilai nol).

Soal ini dapat dikerjakan dengan penjabaran biasa(yang sesungguhnya, akan


lebih efektif menggunakan formula Deret Taylor).

x 3 + 3x 2 +2x+1 = a0+a1(x-1)+a2(x − c)2 +a3(x − 1)3

x 3 + 3x 2 +2x+1 =a0+a1(x-1)+a2(x 2 − 2x + 1) +a3(x 3 − 3x 2 + 3x − 1)

Setelah dikalikan dan dijumlahkan menjadi sbb:

x 3 + 3x 2 + 2x + 1
= (a3)x 3 + (a2 − 3a3)x 2 + (a1 − 2a2 + 3a3 )x + (a0 − a1 + a2
− a3)

Dengan menghubung-hubungkan koefisien ruas kiri dan kanan , kita akan


menemukan jawaban :

A0 = 7 , a1=11,a2=6,dan a3=1.

Bukti Deret Taylor

Dari Teorema Taylor , didapat fungsi yang didefinisikan sbb:

F(x)=a0+a1(x-c)+a2(x-c)2+a3(x-c)3+.....+an(x-c)n+...

Bagaimana jika fungsi tersebut kita turunkan 1 kali,2 kali,dan


seterusnya?Hasilnya ditunjukkan dibawah

F’(x)=a1+2a2(x-c)+3a3(x-c)2+.....

F’’(x)= 2a2+33.2..a3(x-c)+4.3a4(x-c)2+...
F’’’(x)=3.2.a3+4.3.2.a4(x-c)+.....

Fn(x)= n!(an)+(n+1)!an+1(x-c)+(n+2)!an+2(x-c)2+....(dst)

Kemudian, pada fungsi awal dan fungsi-fungsi turunan tersebut , jika kita
bmenetapkan x=c, maka :

F(c)=a0

F’(c)=a1

f’’(c)=2!.a2

f’’’(c)=n!.an

dengan memasukkan harga a0, a1, a2, a3, dst, maka Deret Taylor pun terbukti

f′ (c) f′′ (c) f′′′ (c)


f(x)=f(c)+ (x − c) + (x − c)2 + (x − c)3 + ⋯ dst
1! 2! 3!

1.7 Latihan Soal


n2
1. Tentukan deret berikut menggunakan uji awal ∑∞
n=1 (n+1)2

Penyelesaian
n2 n2
lim = lim = 1 (divergen)
n→∞ (n+1)2 n→∞ (n2 + 2n+1 )

1⁄ dx
2. Hitung ∫0 2 dengan pengembangan deret satelit empat desimal.
1+x2

Penyelesaian
1⁄ dx 1⁄
∫0 2 ~ ∫0 2(1 − x 2 + x 4 - x 6 + x 8 − x10 + x12 − ⋯ . ) dx
1+x2

x3 x5 x7 x9 1/2
~ [x − + − + −⋯] o
3 5 7 9

1 1 1 1 1 1
~ 2 – 2.23 − 5.25 − 7.27 + 2.29 + 11.211 + ⋯
~ 0,50000 – 0,04167 + 0,00625 – 0,001112 – 0,0004 +0,00001 -

~ 0,4636

1
3. Selidiki konvergensi deret ∑∞
n−2 n log n

Penyelesaian
Suku-suku dari deret ini lebih kecil dari suku-suku deret harmonis
Tetapi tidak dapat kita ambil kesimpulan
∞ dx ∞ d (log x)
Tetapi ∫2 = ∫2 = lim log log x| b2= ∞
x log x log x b→∞

Deret tersebut divergen

log n
4. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n−1 n

Penyelesaian
log n 1
un = > n untuk n≥ 3
n
1
Diketahui deret ∑ n divergen, maka deret tersebut diatas divergen.

log n
5. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n−1 n!

Penyelesaian
un+1 2n+1 n! 2
lim = lim . 2n = lim =0
n→∞ un n→∞ ( n+1)! n→∞ n+1

nn
6. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n−1 n!

Penyelesaian
un+1 (n+1)n+1 n! n+1 n+1 n
lim = lim . nn = lim .( )
n→∞ un n→∞ (n+1)! n→∞ n+1 n

1 2
= lim (1 + n) = e > 11.
n→∞

2n
7. Selidiki konvergensi deret ∑∞
n=1 1.3.5………..(2n+1)

Penyelesaian
un+1 2n
lim = lim
n→∞ un n→∞ 1.3.5………..(2n+1)(2n+3)
2
= lim = Deret Konvrgen.
n→∞ 2n+3

n2 +2n
8. Selidiki konvergensi deret ∑∞
n→1 2n n2

Penyelesaian
n2 +2n 1 1
un = = + n2
2n n2 2n
1 1
Masing-masing deret ∑ 2n dan ∑ n2 konvegen. Maka jumlah dari dua deret

konvergen pula.

ln n
9. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n=1 2n3 − 1

Penyelesaian
1 1
Dapat dipahami bahwa ln n < n dan 2n3 −1 ≤ n3
ln n n 1 1
Maka : ≤ = n2 . Deret ∑ n2 konvergen.
2n3 −1 n3
1
Ternyata deret ∑∞
n=1 n2 konvergen.

n
10. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n=1 n2 +1

Penyelesaian
∞ M
x dx x dx
∫ 2
= lim ∫
1 x +1 M→∞ 1 x 2 + 1

M
1 d(x 2 + 1)
= lim ∫
2 M→∞ 1 x 2 + 1
1
= lim ln (x 2 + 1)| M1
2 M→∞

= lim {ln(M 2 + 1) − ln 2}
M→∞

=∞

Deret divergen

n
11. Selidiki konvergensi dari deret ∑∞
n=1(−1)
n−1
n2 +1
Penyelesaian
n n+1
|un | = dan |un + 1| =
n2 +1 (n+1)2 +1

Jelas un + 1 < un untuk n ≥ 1


1
Sedangkan lim un = lim n+1⁄ = 0
n→∞ n→∞ n

Deret alternative konvergen, tetapi deret dengan suku – suku positif


n
∑∞
1 n2 +1

12. Selidikilah konvergensi deret berikut


xm x2
ex    1 x   .....
m 0 m! 2!

Penyelesaian :

Menurut tes rasio ,konvergensi menyatakan bahwa

1 1
 x  x0  x  1
R R

Karena harga R=  ,maka deret di atas konvergen untuk semua x ,dan


dari tes rasio diperoleh x  

13. Tentukan radius konvergensi dari deret berikut


 1m x 3m  1  x 3  x 6 x9

m0 8m 8 64

512
 .....  .....

Penyelesaian

Deret ini merupakan deret dengan pangkat t  x 3 denga koefisien


a m  (1) m / 8 m , maka

am
R  lim
m  a
m 1

8 m 1
R  lim
m  8 m

R 8
Menurut tes rasio ,konvergensi menyatakan bahwa

1 1
 x  x0  x 3  1
R R

Dengan demikian deret ini konvergen untuk t  x 3  8 yang memenuhi

x 2

14. Gunakan ratio test


2n
2n − 1
2 2(n+1) 2(n+1)
un = ; un+1 = =
2n − 1 2(n + 1) − 1 2n + 1
2(n+1)
un+1
lim = lim 2n + 1
n→∞ un n→∞ 2n
2n − 1
2(n+1) 2n − 1
= lim
n→∞ 2n + 1 2n
2n . 2 2n − 1
= lim
n→∞ 2n + 1 2n
4n − 2
= lim
n→∞ 2n + 1

4n 2
+
= lim n n
n→∞ 2n 1
n +n
4∞ 2
+
= ∞ ∞
2∞ 1
∞ +∞
4
=
2
= 2 divergen

15. Gunakan Couchy test


∞ 1
n n
∑( n
)
(n + 1)e
n=1
1 1
n n n n
un = ( n
) = ( n n
)
(n + 1)e ne + 1e
n 1
n n
lim √un = lim √( n
n
n
)
n→∞ n→∞ ne + 1e
1 n
n n
= lim [( n n
) ]
n→∞ ne + 1e

1 n
n ⁄n
= lim [( )]
n→∞ ne + e
1⁄
n n2
= lim ( 1⁄ 1⁄ )
n→∞ ne n +e n

n 1⁄n2n
2

= n2
ne1⁄n2 n2 1 n2
2 + e ⁄n2
n

=
∞+∞
=∞

π
16. Ekspansikan fungsi f(x) = cosx disekitar x = 2 !

Penyelesaian

π
f ′ (x) = − sin x f ′ ( 2 ) = −1
π
f ′′ (x) = − cos x f ′ ′( 2 ) = 0
π
f ′′′ (x) = sin x f ′′′ ( 2 ) = 1
π
f (IV) (x) = cos x f (IV) (x) ( 2 ) = 0
π
f (V) (x) = − sin x f (V) ( 2 ) = −1
π
f (VI) (x) = − cos x f (VI) ( 2 ) = 0

π π
π (x− )3 (x− )!
2 2
cos x = − (x − 2 ) + − +⋯
3! 5!

17. Ekspansikan fungsi f (x) = sin x, f(x) = cos x, f(x): f(x) = ln(x + 1) di sekitar 0
Penyelesaian :
x3 x5 x7
sin x = x − + − +. .
3! 5! 7!
x x4 x6
cos x = 1 − 2 + 4! − 6! + ..
x2
ex = 1 + x + 2! +…
x2 x3
Ln(1 + x) = x + −⋯
2 3

18. Ekspansikan ke dalam deret taylor dan max laurins : f(x) = e−2x
dengan b = 0 dan n = 4
penyelesaian :
f(x) = e−2x f(b) = e−2.b = e−2.0 = e−0 = −1
f I (x) = e−2x . −2 = −2e−2x f I (b) = −2e−2.b = −2e−0 = −2
f II (x) = −2e−2x . −2 = 4e−2x f II (b) = 4e−2b = 4e−0 = −4
f III (x) = 4e−2x . −2 = −8e−2x f III (b) = −8e−2b = −8e−0 = 8
f IV (x) = −8e−2x . −2 = 16e−2x f IV (b) = 16e−2b = 16e−0 = −16

19. Ekspansikan ke dalam deret taylor dan mac laurins.f(x) = (1 + x 2 )1/2

Penyelesian :

f(x) = (1 + x 2 )1/2 dengan b = 0 dan n = 3

f(x) = (1 + x 2 )1/2 f(b) = (1 + b2 )1/2 = (1 + 02 )1/2 = √1 = 1

1 1 1 1/2 1
f I (x) = 2 (1 + x 2 )−1/2 f I (b) = 2 (1 + b2 )−1/2 = 2 (1 + 02 )−1/2 = =2
√1

1 1 1 −1/4
f II (x) = − 4 (1 + x 2 )−3/2 f II (b) = − 4 (1 + b2 )−3/2 = − 4 (1 + 02 )−3/2 = 3 =
√1
1

4

3 3 3 3/8 3
f III (x) = 8 (1 + x 2 )−5/2 f III (b) = 8 (1 + b2 )−5/2 = 8 (1 + 02 )−5/2 = 5 =8
√1

Deret taylor :
fI 1
f II 2
f III
f(x) = f(b) + (x − b) + (x − b) + (x − b)3 + … …
1! 2! 3!

1/2 −1/4 3/8


= 1+ (x − 0)1 + (x − 0)2 + (x − 0)3 + … …
1! 2! 3!

1 1 3
= 1 + x − x 2 + x 3 + … … ..
2 4 8

Deret max laurins

f I (b) 1 f II (b) 2 f III (b) 3 f IV (b) 4


f(x) = f(b) + (x) + (x) + (x) + (x) + … … …
1! 2! 3! 4!

1/2 1 −1/4 2 3/8 3


=1+ (x) + (x) + (x) + … …
1! 2! 3!

1 1 3
= 1 + x − x 2 + x 3 + … … ..
2 4 8

20. Ekspansikan kedalam deret taylor dan mac laurins


a.
f(x) = ex f(b) = e0 = 1
f ′ (x) = ex . 1 f′(b) = e0 = 1
f ′′ (x) = ex .1 f′′(b) = e0 = 1
f ′′′ (x) = ex .1 f′′′(b) = e0 = 1
f ′v (x) = ex . 1 f ′v (b) = e0 = 1
f v (x) = ex .1 f v (b) = e0 = 1
Deret taylor
f ′ (b) 1
f ′′ (b) 2
f ′′′ (b) 3
f ′v (b)
F(x) = f(b) + (x − b) + (x − b) + (x − b) + (x − b)4
1! 2! 3! 4!
f v (b)
+ (x − b)5
5!
1 1 1 1 1
= 1 + (x − 0)1 + (x − 0)2 + (x − 0)3 + (x − 0)4 + (x − 0)5
1! 2! 3! 4! 5!
1 1 1 1 1
= 1 + x1 + x 2 + x 3 + x 4 + x 5
1! 2! 3! 4! 5!
Deret mac laurin

f ′ (b) 1 f ′′ (b) 2 f ′′′ (b) 3 f ′v (b) 4 f v (b) 5


F(x) = f(b) + x + x + x + x + x
1! 2! 3! 4! 5!
1 1 1 1 1
= 1 + x1 + x 2 + x 3 + x + x 5
1! 2! 3! 4! 5!
1 1 1 1 1
= 1 + x1 + x 2 + x 3 + x 4 + x 5
1! 2! 3! 4! 5!
b.
f(x) = (x + 1) −1 f(b) = (0 + 1)−1 = 1
f ′ (x) = −1(x + 1) −2 f ′(b) = −1(0 + 1)−2 = −1
f ′′ (x) = 2(x + 1) −3 f′′(b) = 2(0 + 1)−3 = 2
f ′′′ (x) = −6(x + 1) −4 f ′′′(b) = −6(0 + 1)−4 = −6
f ′v (x) = 24(x + 1) −5 f ′v (b) = 24(0 + 1)−5 = 24
Deret taylor
f ′ (b) f ′′ (b) f ′′′ (b)
F(x) = f(b) + (x − b)1 + (x − b)2 + (x − b)3
1! 2! 3!
f ′v (b)
+ (x − b)4
4!
(−1) 2 (−6) 24
=1+ (x − 0)1 + (x − 0)2 + (x − 0)3 + (x − 0)4
1! 2! 3! 4!
= 1 − x + x2 − x3 + x4

Deret mac laurin


f ′ (b) 1 f ′′ (b) 2 f ′′′ (b) 3 f ′ (b) 4 f v (b) 5
F(x) = f(b) + x + x + x + x + x
1! 2! 3! 4! 5!
(−1) 1 2 2 (−6) 3 24 4
=1+ x + x + x + x
1! 2! 3! 4!
= 1 − x + x2 − x3 + x4

21.Tentukan konvergen atau divergen dengan menggunakan integral test


a. f (n) = sin n
penyelesaian :
F (n) = sin n
~ u

∫ f(x) dx = lim ∫ sin x dx


u→∞
1 1

u
= lim cos x |
u→∞ 1

= lim (cos u − cos 1)


u→∞

= cos ~ − cos 1
= ~ − 0,99 = ~

50
b. f (n) = misal : t = x+1
n+1
dt
=1
dx

dx = dt

~ u
50
∫ f(x) dx = lim ∫ dt
u→∞ t
1 1
u1
= lim 50 ∫1 dt
u→∞ t
u
= lim 50 (ln t) [
u→∞ 1
u
= lim 50 . ln(x + 1) [
u→∞ 1
= 50 (ln(~ + 1) − ln(1 + 1))
= 50 (0 − 0,693)
= −34,65
karena −34,65 < 1 maka disebut konvergen