Anda di halaman 1dari 22

IV.

POLARISASI DIELEKTRIK

IV. 1. Dielektrik Dibawah Pengaruh Medan Listrik

Saat suatu bahan dielektrik berada dalam pengaruh medan listrik maka hal utama yang
terjadi adalah polarisasi, yaitu suatu pembatasan jarak antara dua molekul terikat atau
orientasi didalam suatu molekul dua kutub.
Fenomena polarisasi dielektrik dapat dinilai melalui parameter permitivitas (konstanta
dielektrik) dan faktor disipasi (loss angle atau loss tangent) jika pada fenomena tersebut
terjadi disipasi energi listrik kedalam bentuk panas yang menyebabkan pemanasan pada
dielektrik. Pemanasan dielektrik dapat merupakan akibat dari adanya sejumlah muatan
bebas dalam bahan dielekrtik tersebut, hal ini akan mengakibatkan aliran arus bocor (arus
konduksi) dalam jumlah kecil pada tegangan yang diterapkan. Keberadaan arus ini di
dalam dan pada permukaan dielektrik menunjukkan terjadinya konduksi listrik pada
dielektrik tersebut, kemudian dapat dikuantisasikan menurut konduktivitas volume dan
permukaannya sehingga terlihat hubungan terbalik dengan resistivitas volume dan
permukaannya.
Tegangan yang dapat diterapkan pada semua bahan dielektrik tidak boleh melebihi nilai
batas tegangan yang umum pada keadaan terbatas. Apabila nilai tegangan yang
diterapkan melebihi harga tadi, kegagalan dielektrik akan terjadi, yaitu kehilangan
seluruh kemampuan isolasi bahan tersebut.
Nilai tegangan dimana suatu bahan dielektrik mulai pecah disebut tegangan gagal, dan
kekuatan medan listrik seragam disebut dielectric strength (yang juga dikenal dengan
istilah electric strength atau breakdown strength).

IV. 2. Polarisasi dan Permitivitas Dielektrik

Muatan terikat yang berada pada bahan dielektrik dapat berpindah akibat pengaruh
medan listrik searah dengan gaya yang aktif pada dielektrik tersebut, perpindahannya
akan proporsional terhadap kuat medan tersebut. Saat medan listrik menghilang, muatan-

23
muatan tersebut kembali ke keadaan semula. Pada dielektrik berkutub yang terdiri atas
molekul dua-kutub, medan listrik akan menyebabkan orientasi dua-kutub searah dengan
medan; saat medan listrik memudar, orientasi dua-kutub akan menghilang juga akibat
fluktuasi suhu.
Kebanyakan dielektrik memiliki hubungan yang linier antara perpindahan molekul
dielektrik dan kuat medan listrik yang dihasilkan didalam bahan dielektrik. Pada suatu
kelompok dielektrik tertentu perubahan kuat medan listrik menyebabkan perpindahan
molekul dengan hubungan yang tidak linier hingga mencapai titik jenuh/saturasi pada
kekuatan medan tertentu. Kelompok ini disebut dengan ‘ferroelectrics’. Polarisasi
dielektrik yang tidak linier pertama kali ditemukan melalui penelitian pada Rochelle salt.
Bahan dielektrik apapun dengan elektroda-elektroda diletakkan padanya kemudian
dihubungkan ke rangkaian listrik dapat dianggap sebagai kapasitor dengan nilai
kapasitansi tertentu (gambar IV 1a).

Gambar IV. 1a. Gabungan dielektrik menunjukan berbagai mekanisme dari polarisasi
dalam medan listrik

Gambar IV. 1b. Gabungan dielektrik menunjukan berbagai mekanisme dari polarisasi

24
dalam rangkaian ekuivalentnya

Sebagaimana diketahui, nilai muatan listrik pada suatu kapasitor adalah :

Q  C V (4.1)

dimana C adalah nilai kapasitansi kapasitor dan V adalah tegangan antara dua
elektrodanya. Pada nilai tegangan tertentu, muatan listrik Q adalah jumlah dari dua
komponen,Q0 yang nilainya adalah muatan tersimpan diantara dua elektroda jika
keduanya dipisahkan hampa udara, dan Qd yang nilainya adalah muatan diantara dua
elektroda setelah polarisasi dielektrik tersebut :

Q  Qo  Qd (4.2)

Karakteristik yang banyak digunakan sebagai parameter dielektrik di dunia teknik elektro
adalah konstanta relatif dielektrik atau permitivitas relatif ε.
Nilai ini adalah perbandingan antara Q, yaitu muatan yang tersimpan pada kapasitor saat
suatu tegangan di aplikasikan pada kedua elektrodanya, terhadap Q0 muatan listrik yang
dapat terakumulasi di kapasitor dengan konfigurasi elektroda yang sama pada tegangan
yang sama namun menggunakan ruang hampa sebagai dielektrik :

Q Q0  Q d Q
   1 d (4.3)
Q0 Q0 Q0

Terlihat dari persamaan (4.3) bahwa nilai permitivitas relatif suatu bahan akan lebih besar
dari 1, dan akan bernilai 1 hanya pada hampa udara.
Nilai permitivitas relatif suatu bahan tidak berubah apapun sistem satuan yang digunakan.
Pada pembahasan selanjutnya untuk menyebutkan spesifikasi suatu bahan dielektrik, kata
‘relatif’ tidak digunakan lagi untuk penyingkatan.
Persamaan (4.1) bisa dinyatakan dalam bentuk :

Q  Q0    C  V  C 0  V   (4.4)

dimana C0 adalah nilai kapasitansi kapasitor hampa udara.

25
Terbukti dari persamaan (4.4) bahwa permitivitas ε dari suatu bahan dapat didefinisikan
sebagai suatu nilai perbandingan nilai kapasitansi kapasitor dielektrik tertentu, terhadap
nilai kapasitansi kapasitor hampa udara.

IV. 3. Mekanisme Dasar Polarisasi Dielektrik

Sebelum masuk ke pembahasan fenomena polarisasi, perlu dibedakan antara dua jenis
utama polarisasi yaitu dengan memperhatikan keadaan keseluruhan dielektrik dan
struktur dielektrik.
Polarisasi jenis pertama, pada intinya merupakan proses yang instan dan berkelanjutan
dengan cara yang lentur tanpa terjadi disipasi energi, sehingga berlangsung tanpa
perubahan panas. Polarisasi jenis kedua prosesnya tidak instan, namun prosesnya berjalan
naik dan turun secara bertahap dengan disipasi energi berupa panas pada dielektrik. Hal
ini diketahui sebagai polarisasi relaksasi.
Polarisasi jenis pertama adalah seperti yang terjadi pada mekanisme polarisasi elektronik
dan ionik, sedangkan yang lainnya masuk dalam kategori polarisasi relaksasi. Mekanisme
polarisasi yang sama sekali berbeda dengan jenis polarisasi diatas adalah polarisasi
resonansi yang terjadi pada dielektrik dalam frekuensi cahaya-tampak, dengan demikian
jenis ini pada prakteknya hanya sedikit masuk dalam ilmu teknik elektro.
Nilai kapasitansi kapasitor dan besar muatan yang disimpan bergantung pada sejumlah
mekanisme polarisasi yang terjadi, dimana proses tersebut terjadi secara berkelanjutan
pada satu bahan dielektrik yang sama.
Rangkaian ganti suatu bahan dielektrik yang tengah mengalami beberapa macam jenis
polarisasi, (lihat gambar IV. 1b), terdiri atas sejumlah kapasitansi paralel yang terhubung
pada suatu sumber tegangan V. Kapasitansi C0 dan muatan listrik Q0 menentukan
besarnya medan intrinsik yang terjadi diantara kedua elektroda saat dipisahkan ruang
hampa. Parameter Ce dan Qe adalah hasil dari polarisasi elektronik.
Polarisasi elektronik timbul dari perpindahan elastis dan deformasi kulit elektron (awan
elektron) dan ion-ion. Waktu yang dibutuhkan polarisasi elektronik pada umumnya kecil,
sekitar 10-15 dtk. Nilai permitivitas suatu bahan menunjukkan bahwa polarisasi elektronik
murni secara numerik sebanding dengan kuadrat dari refractive index n. Perpindahan dan
deformasi kulit-kulit elektron di atom dan ion-ion tidak terpengaruh oleh temperatur,

26
meski demikian polarisasi elektron menurun pada saat temperatur meningkat akibat
pemuaian dielekrtik akibat panas dan juga akibat penurunan jumlah partikel per unit
volume. Saat polarisasi elektron terjadi pada suatu bahan dielektrik, perubahan pada
permitivitas bahan dan temperatur merupakan akibat perubahan kepadatan dielekrtik.
Mekanisme polarisasi elektron dapat terjadi pada semua jenis dielektrik dan tidak akan
menyebabkan kehilangan energi.
Polarisasi ionik akibat perpindahan ion-ion berikatan elastis tidak dapat terpisahkan dari
struktur solid ionik (lihat gambar IV. 1b, Ci, Qi). Polarisasi ionik naik seiring dengan suhu
karena pemuaian panas dielektrik yang berakibat bertambahnya jarak antar ion serta
melemahnya elastisitas gaya aksi antar ion tersebut. Koefisien suhu dari permitivitas
untuk dielektrik ionik pada kebanyakan kasus bernilai positif.
Polarisasi relaksasi-dipole (Cd.r, Qd.r, rd.r), biasa disebut dipole atau polarisasi orientasi,
memiliki perbedaan dengan polarisasi elektronik ataupun ionik saat dilihat hubungannya
dengan pergerakan termal dari partikel-partikel. Molekul-molekul dua kutub (dipole)
biasa bergerak secara acak ketika bereaksi terhadap panas, namun medan lisrtik justru
dapat mengorientasi molekul-melokul tersebut sehingga dapat terjadi polarisasi pada
suatu dielektrik.
Polarisasi dua-kutub (dipole) hanya dapat terjadi jika gaya ikatannya tidak menahan
orientasi dipole yang searah medan listrik. Saat suhu mulai naik, kekuatan ikatan
melemah dan kekentalan (viskositas) bahan menurun. Faktor-faktor ini mendukung
terjadinya polarisasi, namun karena energi gerakan termal dari molekul-molekul ikut
bertambah, efek orientasi dari medan listrik menurun kembali. Hal ini yang menyebabkan
polarisasi dipole meningkat pada saat suhu naik namun hanya selama pelemahan ikatan
molekul memiliki efek lebih besar dari peningkatan pergerakan acak molekul-molekul
tersebut. Saat pergerakan acak molekul semakin cepat dengan makin tingginya suhu
maka polarisasi dipole akan mengendur.
Agar dipole-dipole ‘permanen’ yang ada sebelum medan listrik diaplikasikan dapat
berubah arah searah dengan medan pada medium yang rapat, dipole tersebut harus dapat
melawan hambatan medium, inilah jawaban dari rugi-rugi energi yang terjadi pada proses
polarisasi dipole. Pada gambar IV. 1b, hambatan ini dilambangkan dengan hambatan r d.r
terhubung seri terhadap kapasitansi. Pada cairan kental, hambatan bagi gaya putar

27
molekul-molekul sangat besar saat diaplikasikan medan yang berubah dengan cepat,
dipole-dipole tidak akan memiliki cukup waku untuk menjadi searah dengan medan,
dengan demikian polarisasi dipole bisa saja tidak timbul sama sekali saat frekuensi
tegangan yang diterapkan mengalami kenaikan.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi orde dipole yang terorientasi oleh medan
akibat pergerakan thermal hingga 1/e ≈ 0.368 dari harga awalnya setelah pemindahan
medan dinamakan waktu relaksasi.
Polarisasi dipole adalah ciri dari gas polar dan cairan polar. Mekanisme polarisasi ini
dapat juga diamati pada bahan organik padat polar, namun disini polarisasi biasanya
terjadi akibat rotasi dari radikal-radikal berkaitan dengan molekul mereka, dan bukan
akibat rotasi molekul yang bersesuaian. Mekanisme polarisasi seperti ini juga diberi
istilah polarisasi radikal dipole. Contoh bahan yang mengalami mekanisme ini adalah
selulose yang kemampuan polarisasinya tergantung pada kelompok hidroksil yang
dimilikinya.
Pada kristal kisi-kisi molekular dengan ikatan Van der Waals lemah, bahkan partikel yang
lebih besar dapat terkena orientasi medan.
Polarisasi relaksasi ionik (Ci.r, Qi.r, ri.r) terjadi pada bahan kaca inorganik dan pada
substansi inorganik dari struktur kristal ionik dengan ion-ion yang terikat lemah (lihat
gambar IV. 2a dan gambar IV. 2b). Disini pengaruh medan listrik luar menambah panas
induksi akibat perpindahan acak ion-ion berikatan lemah ke arah medan tersebut.

Gambar IV. 2a, Struktur dari kumpulan ion-ion Sodium Chlorida yang rapat dan
2b, kumpulan ion-ion Cesium Chlorida yang renggang.

28
Saat medan dialihkan, perpindahan ion akan surut secara eksponensial. Polarisasi
relaksasi ionik meningkat seiring dengan suhu.
Polarisasi relaksasi elektronik (Ce.r, Qe.r, re.r) berbeda dengan polarisasi jenis ionik
maupun elektronik. Polarisasi jenis ini timbul akibat ekses elektron atau hole karena
pengaruh suhu.
Polarisasi relaksasi elektronik banyak terjadi pada dielektrik dengan indeks bias tinggi,
medan intrinsik tinggi dengan peningkatan konduksi elektronik. Beberapa diantara
dielektrik jenis ini adalah titanium dioksida yang mengandung pengotor seperti Nb +5,
Ca+2, Ba+2; titanium dioksida dengan kekosongan anion dan ion Ti +3; sejumlah campuran
dengan dasar oksida logam (titanium, niobium, bismuth) yang memiliki valensi tidak
stabil.
Perlu diperhatikan bahwa permitivitas dapat bernilai tinggi saat terjadi polarisasi relaksasi
elektronik dan kurva ε terhadap τ akan memiliki puncak. Menyangkut dengan mekanisme
polarisasi jenis ini pada bahan keramik yang mengandung unsur titanium, hubungan ε-f
sesuai dengan teori bahwa permitivitas menurun seiring dengan kenaikan frekuensi.
Polarisasi Migrasional (Cm, Qm, rm) dipahami sebagai suatu mekanisme tambahan
pembuktian polarisasi pada bahan padat suatu struktur tak seragam yang memiliki sifat
makroskopik heterogenitas dan impuritas. Polarisasi jenis ini terjadi pada frekuensi
rendah dan menyebabkan disipasi energi listrik cukup besar. Polarisasi ini adalah
mengkonduksi dan mensemikonduksi pemasukan (inclusions), tiap lapisan menunjukkan
tipe konduksi yang berbeda-beda; yang bermuara pada mekanisme polarisasi jenis ini
terdapat pada bahan dielektrik komersial.
Saat suatu bahan heterogenis terekspos ke suatu medan listrik, elektron dan ion bebas
konduksi dan semikonduksi masukan mulai bergerak didalam ikatan pengotor masing-
masing sehingga membentuk region-region besar terpolarisasi. Pada bahan-bahan yang
memiliki laminasi, muatan-muatan ion yang bergerak secara lambat dapat berkumpul
pada perbatasan antar lapisan dan pada lapisan yang dekat dengan elektroda.
Semua nilai kapasitansi yang ada pada rangkaian ganti gambar IV. 1b diparalel dengan
tahanan Rins, yang mewakili efek lawan isolasi terhadap arus bocor yang melalui bahan
dielektrik.

29
Garis putus-putus pada gambar IV. 1b menggambarkan Csp, Qsp, rsp yang dikaitkan dengan
mekanispe Polarisasi Spontan yang terjadi pada bahan ferroelektrik.
Substansi-substansi yang memiliki mekanisme polarisasi diatas memiliki region-region
terpisah (daerah asal–domain) yang mempunyai momen listrik meskipun tanpa adanya
pengaruh medan listrik luar. Namun momen listrik dari tiap domain berbeda arah
orientasinya. Saat terkena efek medan listrik eksternal, momen-momen listrik dari
domain-domain tersebut mengalami gaya yang membuat orientasi mereka menjadi searah
dengan arah medan luar tersebut hal ini menyebabkan efek polarisasi yang besar. Sebagai
pembeda dari jenis mekanisme polarisasi lainnya, polarisasi jenis ini menyebabkan
saturasi pada kekuatan medan luar tertentu, namun kenaikan kuat medan seterusnya tidak
akan mempengaruhi besar intensitas polarisasi. Dengan alasan inilah mengapa nilai
permitivitas tergantung pada nilai kuat medan dalam hal polarisasi spontan. Kurva
permitivitas – temperatur memiliki satu atau beberapa nilai maksimum. Ketika terkena
pengaruh medan a.c., bahan-bahan tersebut akan memperlihatkan mekanisme polarisasi
spontan mendisipasi banyak energi misalnya dalam bentuk peningkatan panas.

IV. 4. Pengelompokan Jenis Dielektrik Berdasarkan Mekanisme


Polarisasi

Dielektrik dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut ciri-ciri khusus polarisasi
yang terlihat.
Kelompok pertama meliputi dielektrik yang hanya mengalami polarisasi utama yaitu
polarisasi elektronik. Jenis ini adalah nonpolar dan polar lemah bahan padat yang
ditemukan pada kondisi amorf dan kristal (paraffin, sulfur dan polystyrene) dan juga
bahan cair nonpolar dan polar lemah dan juga gas (benzena, hidrogen, dll.).
Kelompok kedua meliputi dielektrik yang memperlihatkan gejala polarisasi elektronik
dan relaksasi dipole secara bersamaan. Bahan yang termasuk dalam kelompok ini adalah
organik polar (dipole), semiliquid dan bahan padat (campuran minyak-resin, resin epoksi,
selulose, beberapa jenis hidrokarbon terklorinasi, dll.).
Kelompok ketiga termasuk bahan dielektrik anorganik padat yang terlihat mekanisme
polarisasi elektronik, ionik dan relaksasi elektronik-ionik. Selanjutnya kelompok ini

30
dibagi lagi menjadi dua sub bagian berdasarkan perbedaan substansi karakteristik listrik
dari bahan-bahan tersebut :

(1) dielektrik yang dapat terkena polarisasi elektronik dan ionik


(2) dielektrik yang dapat terkena polarisasi elekronik, ionik dan relaksasi

Sub bagian pertama mayoritas terdiri atas bahan dengan struktur kristal ionik yang rapat,
seperti kuarsa, mika, garam batu, corundum, rutile (lihat gambar IV. 2a). Sedangkan
bahan yang termasuk dalam sub bagian yang kedua adalah bahan gelass anorganik, bahan
yang mengandung vitrous phase (porselen, mycalex), dan dielektrik kristalin dengan
struktur kisi-kisi yang tidak rapat.
Kelompok ke empat meliputi bahan ferroelectric seperti garam Rochelle, barium titanat,
dan lainnya dengan ciri yang dimiliki mengalami polarisasi spontan, elektronik, ionik dan
polarisasi relaksasi elektronik-ionik.
Klasifikasi-klasifikasi ini membantu dalam menentukan ciri-ciri dasar sifat kelistrikan
dielektrik.

IV. 5. Permitivitas Gas

Substansi bersifat gas memiliki ciri berkepadatan molekul rendah akibat jarak yang besar
diantara melokulnya. Karena itu, nilai permitivitas dari semua jenis gas berharga tidak
signifikan (≈ 1).
Polarisasi pada bahan gas dapat jadi murni polarisasi elektronik, atau dipol jika
molekulnya polar, meski demikian polarisasi elektronik juga banyak berpengaruh pada
gas-gas polar.
Tabel 4.1 merupakan harga-harga permitivitas beberapa gas, juga terdapat jarak antar
molekul dan indeks relatifnya.

31
Tabel 4.1. Permitivitas, Indeks Refraksi, dan Jari-Jari Molekul untuk Beberapa Gas
Gas Jari-Jari Indeks n² Permitivitas
Molekul, Ǻ Refraksi, n
Helium 1.12 1.000035 1.000070 1.000072
Hidrogen 1.35 1.00014 1.00028 1.00027
Oksigen 1.82 1.00027 1.00054 1.00055
Argon 1.83 1.000275 1.00055 1.00056
Nitrogen 1.91 1.00030 1.00060 1.00060
Karbondioksida 2.30 1.00050 1.00100 1.00096
Etilen 2.78 1.00065 1.00130 1.00138

Catatan : Data-data diatas diambil pada suhu 20º C dan pada tekanan 760 mmHG (101,325 Pa ≈ 0.1 MPa)

Perubahan nilai permitivitas beserta suhu dan tekanan ditentukan sebagai perubahan
jumlah molekul dalam setiap unit volume gas, no. Nilai ini berbanding lurus terhadap
tekanan dan terbalik terhadap mutlak dari suhu.

Tabel 4.2. Nilai dari ε pada Gas sebagai Fungsi dari Tekanan
Udara Karbondioksida Nitrogen
Tekanan, ε Tekanan, ε Tekanan, ε
MPa MPa MPa
0.1 1.00058 0.1 1.00098 0.1 1.0006
2 1.0108 2 1.020 2 1.0109
4 1.0218 4 1.050 4 1.055

Tabel 4.2 berisi permitivitas dari udara, karbon dioksida dan nitrogen pada tekanan
berbeda dan suhu normal. Tabel 4.3 menunjukkan nilai permitivitas udara yang berbeda-
beda terhadap suhu pada tekanan 0.1 MPa.

Tabel 4.3. Nilai dari ε dari Udara sebagai Fungsi dari Temperatur
Temperatur Ε
ºC K
+ 60 333 1.00052
+20 293 1.00058
-60 213 1.00081

32
Tabel 4.2 dan 4.3 berisi data yang berhubungan dengan gas kering. Pengaruh dari
kelembaban udara terhadap permitivitas udara dapat dilihat melalui data berikut (pada
suhu dan tekanan normal) :

Kelembaban relatif udara, % .............. 0 50 100


Permitivitas......................................... 1.00058 1.00060 1.00064

Efek ini dapat diabaikan pada suhu normal namun akan terlihat kenaikannya saat suhu
mengalami peningkatan.
Perubahan permitivitas akibat perubahan suhu secara umum dapat di lambangkan
menurut persamaan berikut
1 d
TC      (4.5)
 dt
Persamaan (4.5) digunakan untuk menghitung variasi relatif dari permitivitas saat suhu
mengalami perubahan baik naik ataupun turun sebesar satu derajat C atau K. Kuantitas
ini dikenal sebagai koefisien temperatur permitivitas.
Harga TCε dari gas nonpolar dapat ditentukan melalui persamaan berikut

TC  (  1) / T

Sedangakan untuk udara kering dengan T = 20°C (T = 293 K)

1.00058  1
TC    2  10 6 K 1
293K

Hubungan antara permitivitas gas dengan besar tekanan ditunjukan oleh hubungan
berikut ini :

1 d   1
 
 dt p

Untuk udara kering pada p = 101,325 Pa ≈ 0.1 MPa

33
1 d 1.00058  1
   0.0058MPa 1
 dt 0.1MPa

Banyak molekul gas yang terdapat pada satu satuan volume gas apa saja, n0, dapat
ditentukan melalui persamaan dasar untuk gas yaitu:

n0  p /( kT )

IV. 6. Permitivitas Dielektrik Cair


Dielektrik cair dapat memiliki komposisi molekul polar (dipol) atau nonpolar.
Permitivitas cairan nonpolar biasanya bernilai kecil, dan bernilai hampir sama dengan
kuadrat indeks refraksi, ε ≈ n2.
Permitivitas cairan nonpolar berubah seiring dengan kenaikan suhu akibat penurunan
jumlah molekul dalam setiap satuan volumenya seperti telah dijelaskan. Sedangkan nilai
mutlaknya, TCε dari suatu cairan nonpolar mendekati nilai koefisien temperatur muai
volume β. Harus diingat bahwa TCε dan β berbeda tanda. Permitivitas cairan nonpolar
pada umumnya tidak akan lebih dari 2.5. Tabel 4. 4 berisi nilai TCε untuk beberapa
cairan nonpolar dan polar lemah. Efek yang ditimbulkan suhu dan frekuensi terhadap
permitivitas dari suatu cairan nonpolar digambarkan pada gambar IV. 3.

Tabel 4.4. Nilai dari ε dan TC ε untuk Nonpolar dan Weakly Polar Liquids
Cairan n n² ε TC ε . 10³, K‾ ¹ Β . 10³, K‾ ¹
Benzena 1.5 2.25 2.218 -0.93 1.24
Toluena 1.5 2.25 2.294 -1.16 1.10
Karbon
1.46 2.135 2.163 -0.91 1.227
Tetraklorida
Polarisasi pada cairan yang mengandung molekul dipol adalah akibat dari mekanisme
berkelanjutan eksitasi elektronik dan dipol. Semakin besar momen dipol permanen suatu
molekul dan juga jumlah molekul per satuan volumenya, maka akan semakin besar juga
nilai permitivitas cairan tersebut.

34
Gambar IV. 3, Permitivitas dari cairan nonpolar sebagai fungsi dari temperatur
a/ dan frekwensi, b/ tb-titik didih

Cairan polar-kuat dengan nilai permitivitas tinggi, seperti air dan etanol, tidak dapat
digunakan sebagai dielektrik karena mereka akan bersifat sangat konduktif.
Pada cairan polar, hubungan antara permitivitas dengan temperatur akan lebih rumit
dibandingakan dengan hubungannya pada cairan nonpolar.

Gambar IV. 4, Grafik Permitivitas vs Temperatur untuk cairan polar (sovol)


saat f1 = 50 Hz , f2 = 400 Hz, dan f3 = 1.000 Hz
Gambar IV. 4, memperlihatkan kurva permitivitas terhadap temperatur untuk cairan polar
dengan nama chlorinated biphenyl (sovol). Bentukan kurva ini dapat dijelaskan dengan
dasar mekanisme polarisasi dipol yang telah dijelaskan diatas.

35
Penentuan nilai TCε pada suhu berbeda paling sering menggunakan metode diferensiasi
grafik dari kurva ε(t) dengan f = konstan, seperti terlihat pada gambar IV. 4. Dengan
demikian untuk menentukan TCε pada suhu t1 dan pada frekuensi yang telah ditentukan
f1, digambar suatu garis tangent kearah kurva pada titik perpotongan yang diinginkan
(titik A) dan bentuk suatu segitiga siku-siku dengan ukuran sembarang dengan garis
tangent tadi sebagai hypotenusanya.
Perbandingan dari panjang kedua kaki segitiga tersebut dianggap sebagai perbandingan
antara ε dengan t, dibagi dengan nilai ε pada titik A akan memberikan nilai koefisien
temperatur yang tidak diketahui
1  1 2.25
TC      0.0089 K 1
 t 5.5 46 K
Metode ini dapat digunakan untuk menentukan nilai TCε suatu cairan dengan mekanisme
polarisasi dan bentuk kurva ε(t) seperti apapun.




Gambar IV. 5, Grafik permitivitas vs frekuensi untuk cairan polar (sovol)

Frekuensi adalah hal yang menyebabkan efek yang dapat terasa pada permitivitas suatu
cairan dipol. Gambar IV. 5, menunjukkan grafik antara ε dan f untuk cairan polar. Bentuk
dari kurva tersebut sejalan dengan aturan yang telah disebutkan sebelumnya : selama
frekuensi bernilai sangat rendah sehingga dipol-dipol dapat berbaris searah dengan
medan yang diaplikasikan, maka permitivitas ε akan besar dan mendekati nilai ε∞ nilai
yang didapatkan pada pengaplikasian tegangan dc. Saat frekuensi menjadi tinggi hingga

36
cukup bagi molekul tidak dapat mengikuti perubahan medan, nilai permitivitas kontan
mendekati nilai ε∞ terlepas dari polarisasi elektronik yang terjadi (ε∞ = n2).
Frekuensi f0 dimana ε mulai menurun (gambar IV. 5) dapat dihitung melalui persamaan
berikut :

kT
f0 
8 2r 3

dimana η adalah viskositas dinamis dan r adalah radius dari suatu molekul.
Waktu relaksasi τ0 dari suatu molekul berhubungan dengan nilai frekuensi f 0 sesuai
dengan persamaan berikut :
1
f0  (4.6)
2 0

Permitivitas cairan polar memiliki nilai seperti dielektrik komersial yang berada pada
kisaran nilai 3.5 sampai 5, sehingga nilainya jauh melampaui ε cairan nonpolar (lihat
Tabel 4.4). Dampak frekuensi pada hubungan ε-t untuk cairan polar dapat dilihat pada
gambar IV. 4.

IV.7. Pemitivitas Dielektrik Padat

Permitivitas benda padat dapat memiliki besar yang bermacam-macam sehubungan


dengan variasi pada struktur mereka. Berbagai jenis mekanisme polarisasi dapat terjadi
pada bahan padat. Dielektrik nonpolar padat mengikuti aturan yang hampir sama dengan
cairan nonpolar dan gas nonpolar. Ini adalah pembuktian dari tabel 4.5 dan fungsi ε(t)
dari paraffin digambarkan pada gambar IV. 6. Saat paraffin padat berubah wujud menjadi
keadaan cair (titik didih 54°C), nilai permitivitasnya menurun tajam sebagai akibat dari
penurunan kepadatannya.
Tabel 4.5. Permitivitas dan Indeks Refraksi dari beberapa benda padat nonpolar pada
t = 20 0C
BAHAN n n² ε
Paraffin 1.43 2.06 1.9 – 2.2

37
Polystyrene 1.55 2.40 2.4 – 2.6
Sulfur 1.92 3.69 3.6 – 4.0
Diamond 2.40 5.76 5.6 – 5.8
Dielektrik padat yang diwakili oleh kristal ionik dengan struktur terikat-erat
menunjukkan terjadinya kedua polarisasi yaitu polarisasi ionik dan elektronik, sedangkan
nilai permitivitas mereka memiliki besar yang sangat bervariasi.

 t

tmelt
Gambar IV. 6, Grafik permitivitas vs temperatur dielektrik nonpolar (paraffin)

Koefisien temperatur permitivitas untuk kristal ionik kebanyakan berharga positif,


kecuali untuk kristal yang mengandung ion-ion titanium : rutile (TiO2) dan jenis titanat
lainnya. TCε negatif diakibatkan karena polarisasi elektronik yang terjadi pada kristal-
kristal ini dan kemudian membesar sejalan dengan perpindahan ionik akibat medan
intrinsik tambahan.


4 .6

4 .4

4 .2
t
4 .0
0 40 80 120 o
C
Gambar IV. 7, Grafik permitivitas vs temperatur untuk kristal ionik KCI
Tabel 4.6 berisi nilai ε dan TCε untuk beberapa kristal ionik (pada t = 20°C), dan
gambar IV. 87 menggambarkan fungsi ε(t) pada TCε > 0.

Tabel 4.6. Nilai dari ε dan TC ε untuk Kristal Ionik


Kristal ε TC ε . 106 , K-1

38
Rock salt (NaCl) 6 +150
Corundum (Al2O3) 10 +100
Rutile (TiO2) 110 -750
Perovskite (CaO . TiO2) 150 -1500

Dielektrik padat dengan struktur kristal ionik berikatan tidak erat, dimana terjadi
polarisasi relaksasi-ionik bersama dengan mekanisme polarisasi elektronik dan juga
polarisasi ionik, sering kali didapat memiliki permitivitas yang relatif rendah dan nilai
koefisien temperatur tinggi. Sebagi contoh, dapat kita lihat porselen listrik dimana kurva
permitivitas bergantung pada temperature yang ditunjukkan oleh gambar IV. 8.

Gambar IV. 8, Grafik permitivitas vs temperatur untuk Porselen Elektrik

Pada bahan glass anorganik (dielektrik quasi-amorf), harga permitivitas berada pada
kisaran yang sempit yaitu sekitar 4 sampai 20, sedangkan nilai TCε bahan glass selalu
bernilai positif.
Jika pada suatu bahan glass terdapat ion-ion besi alkali yang siap dipindahkan, nilai TCε
nya dapat mencapai harga +(500-1000).10-6 K-1. Namun, suatu bahan dengan nilai TCε
negatif bisa didapatkan dengan cara menggabungkan bahan lain dengan TCε negatif
seperti rutile, ke dalam komponen-komponen glass kristalin.
Sebagaimana disebutkan diatas, ketika dalam wujud padat, dielektrik polar organik
sensitif terhadap polarisasi dipol. Pada golongan dielektrik ini terdapat selulose,
derivatifnya dan polimer polar lainnya. Polarisasi dipole juga didapati pada es.
Permitivitas bahan yang disebutkan diatas bergantung pada kenaikan suhu yang besar dan

39
frekuensi dari tegangan yang diaplikasikan, dan secara umum mengikuti aturan yang
sama seperti aturan yang berlaku bagi cairan polar.

Gambar IV. 9, Permitivitas dari es sebagai fungsi dari temperatur pada frekuensi
yang bervariasi

Dapat dicatat bahwa permitivitas dari es juga memiliki variasi dalam range yang besar
dalam pengaruh temperatur dan frekuensi, sebagai bukti dapat dilihat pada gambar IV.9.
Pada frekuensi rendah dan pada temperatur mendekati 0°C, permitivitas dari es (dan air)
mendekati 80, namun begitu temperatur menurun, nilai ε akan mengalami penurunan
drastis hingga mencapai 2.85. Tabel 4.7 berisi nilai-nilai permitivitas untuk beberapa
bahan padat.

Tabel 4.7. Nilai dari ε untuk gelas unorganik dan dielektrik organik polar
Inorganic Glass ε Organic solid dielectric Ε
Fused quartz 4.5 Organic glass 4.0
Alkaline glass 6.5 Phenol formaldehyde resin 4.5
Barium glass 10.0 Cellulose 6.5

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa nilai permitivitas dari ferroelektrik biasanya
bernilai besar, dan ditandai bergantung pada besar dari medan dan nilai temperatur. Salah

40
satu sifat pembeda dari feroelektrik adalah histerisis dielektrik yang timbul pada bahan-
bahan ini ketika perubahan pada kepadatan fluks listrik (juga diistilahkan sebagai
perpindahan kepadatan listrik atau perpindahan induksi listrik) tertinggal terhadap
perubahan pada kekuatan medan listriknya. Sifat feroelektrik biasa ditemukan pada
bahan-bahan seperti tetrahidrat dari potasium-sodium tartrat (garam Rochelle)
NaKC4H4O6 X 4H2O, barium titanat BaTiO3, dihidrogen potasium fosfat KH2PO4, dan
lainnya.

Gambar IV. 10, Permitivitas dari barium titanate sebagai fungsi dari temperatur dalam
medan elektrik lemah

Gambar IV. 10, menunjukkan kurva ε versus temperatur untuk keramik barium titanat.
Sebagaimana terlihat dari kurva, permitivitas membuat suatu garis melintang tajam
mencapai maksimum pada suhu 125°C.
Temperatur dimana ε mencapai nilai maksimum disebut titik Curie atau temperatur
Curie. Pada temperatur diatas titik Curie, bahan akan kehilangan ciri feroelektriknya,
lebih rincinya, permitivitas dari bahan tersebut tidak lagi bergantung pada kekuatan
medan listrik yang diaplikasikan. Gambar IV. 11, menggambarkan loop hysterisis dari
suatu feroelektrik keramik dan plot dari kepadatan fluks listrik dan permitivitas sebagai
fungsi dari kuat medan listrik. Data tersebut didapat pada temperatur dekat dengan titik
Curie untuk bahan jenis ini.

41
C
m2

MV
 m

Gambar IV.11, Pergerakan hysterisis dan titik dari kerapatan flux elektrik dan
permitivitas keramik ferroelektrik sebagai fungsi dari kekuatan medan

Nilai permitivitas untuk beberapa bahan feroelektrik yang terkena medan yang lebih
rendah pada t = 20°C adalah sebagai berikut :

Rochele Salt ..................................................................... 500 - 600


Barium titanat ................................................................... 1,500 - 2,000
Barium titanat dengan campuran ...................................... 7,000 - 9,000

Bahan feroelektrik dapat mengalami penuaan elektrik, yang ditunjukkan sebagai


penurunan nilai permitivitas seiring perjalanan waktu. Hal yang mungkin menyebabkan
fenomena ini adalah tersusun kembalinya domain-domain. Perubahan pada permitivitas
akibat waktu dapat dilihat pada suhu mendekati titik Curie. Saat dipanaskan hingga
temperatur melampaui titik Curie kemudian didinginkan, nilai permitivitas feroelektrik
kembali normal. Permitivitas dapat juga dipulihkan dengan mengaplikasikan suatu medan
listrik dengan kekuatan yang ditingkatkan kepada feroelektrik tersebut. Gambar IV. 12,
menggambarkan plot dari ε sebagai fungsi dari waktu untuk barium titanat.

42

Setelah pemanasan

Gambar IV. 12, Permitivitas terhadap waktu dari sebuah bahan ferroelektrik

Permitivitas dari bahan dielektrik komposit padat yang terbuat dari campuran bahan-
bahan dengan permitivitas sedikit berbeda, nilainya dapat diperkirakan dengan dengan
bantuan hukum logaritma tentang penggabungan, yang secara umum sesuai untuk
perhitungan kuantitas seperti konduktifitas panas, indeks bias, dan lainnya. Berikut
adalah implementasinya :

x x
 x  1 1   2  2 (4.7)

Dimana ε, ε1 dan ε2 adalah nilai permitivitas dari campuran tersebut dan dua bahan
pembuatnya, kemudian θ1 dan θ2 adalah volume konsentrasi dari kedua komponen
tersebut, dengan mengikuti aturan θ1 + θ2 = 1; dan x adalah suatu konstanta yang
menggambarkan penyebaran dari bahan penyusunnya dengan rentang antara plus satu
hingga minus satu (+1 < x < -1).
Pada kasus khusus, dengan komponen-komponennya tersusun paralel, konstanta x = +1,
maka asumsi formula adalah:

x x
  1 1   2 2 (4.8)

Saat komponen-komponennya tersusun seri, konstanta x = -1, maka kita dapatkan :

43
1 1  2
  (4.9)
 1  2

Pada akhirnya saat keduan komponen penyusunnya terdistribusi secara acak (banyak
terjadi pada sejumlah dielektrik komersial yang diminati, seperti dielektrik keramik), nilai
x menjadi nol hingga persamaan (1.7) setelah diturunkan dengan prinsip transformasi x
menjadi :

log    1 log  1   2 log  2 (4.10)

Koefisien temperatur permitivitas untuk dielektrik campuran didapatkan dengan


menurunkan persamaan (4.10) dengan memperhatikan temperatur, sehingga
menghasilkan :

1 d 1 d 1  2 d 2
    
 dt  1 dt  2 dt
atau

TC  1TC 1   2TC 2

44