Anda di halaman 1dari 2

Ada Apa dengan Kolombia?

Gelaran Copa America 2015 tahun ini menjadi Anti-Klimaks bagi pasukan Jose Pekerman. Digadang-
gadang sebagai calon juara (bukan calon kuat sih, tapi tetap saja kan?) karena permainan atraktifnya di
Piala Dunia 2014, Kolombia hanya berhasil mengumpulkan 4 poin di Grup C yang berisi Brazil, Peru dan
Venezuela.

Mungkin akan ada suara-suara lantang penyeru “Kolombia nggak beruntung aja, tim lain Parkir Bus
semua” JIKA Kolombia benar-benar bermain atraktif. Namun kenyataannya dengan deretan armada
penyerang top Eropa seperti James Rodriguez, Falcao, Cuadrado bahkan Bacca yang baru saja menjuarai
UEFA Cup, mereka hanya bisa mencetak 1 gol (!). Itupun dari bola mati, oleh seorang Murillo yang
merupakan seorang bek tengah.

Inkonsistensi Jose Pekerman

Pekerman sejak dulu dikenal sebagai pelatih yang kontroversial dalam hal pemilihan pemain. Ketika
menukangi Argentina pada Piala Dunia 2006 di Jerman ia bahkan tidak menurutsertakan Javier Zanetti
dan Walter Samuel yang sudah mapan. Ia juga terkenal sebagai pelatih yang senang bereksperimen.

Ketika ia membesut Argentina U-20 di U-20 World Cup kegemarannya untuk bereksperimen membawa
hasil positif dimana ia berhasil meraih 3 gelar World Cup pada 1995, 1997 dan 2001. Yang menjadi
masalah adalah ketika ia mencoba membawanya ke level lebih tinggi yakni Timnas Senior.

Kegemarannya untuk bereksperimen terus dibawa hingga ia mulai membesut Kolombia dan ternyata
hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Menjelang Piala Dunia 2014 ia mencoba 2 formasi yakni
4-4-1-1 dan 4-2-2-2. Formasi kedua memberikan hasil yang lebih baik namun ia terus memaksakan
penggunaan 4-4-1-1 hingga harus kehilangan klasemen kedua menjadi ketiga dalam kualifikasi Piala
Dunia 2014.

Apa dampaknya pada tim Kolombia sampai saat ini? Hingga saat ini Kolombia masih belum menemukan
ritme dan cara bermain yang tepat karena terus menerus melakukan perubahan pola permainan.
Permainan Kolombia malah menjadi cenderung menunggu dan hanya mengandalkan serangan balik
kilat padahal ada potensi yang bisa lebih digali lagi dari skuad ini.
Kurang Maksimalnya Pemain di Klub

Tak banyak hal yang perlu dijelaskan, tentunya kita bisa melihat sendiri apa yang terjadi. Il Capitano
Radamel Falcao hanya mencetak 4 gol dari 29 penampilannya bersama Manchester United.
Penampilannya pun sebagian besar dimulai dari bangku cadangan, bukan sebagai starter. Tak dipungkiri
cedera ACL yang menerpanya Januari 2014 membuat penampilannya kurang maksimal. Saat ia mulai
bisa bermain, ia malah terjun ke Premier League yang keras. Dampaknya bisa kita lihat sendiri di tim
Kolombia bagaimana El Tigre kehilangan sentuhan mautnya.

Tidak berhenti sampai disitu, Juan Cuadrado yang menjadi andalan Kolombia di sisi kanan lini serang
jarang sekali dimainkan oleh Mourinho di Chelsea. Hampir semua penampilannya tak lebih dari 30
menit. Padahal ketika di Fiorentina ia menjadi andalan Vicenzo Montella.

Belum lagi James Rodriguez, yang mungkin sebenarnya tidak buruk-buruk amat, tapi di Real Madrid
harus mengalah kepada Ronaldo dan Bale, bahkan pada Jese hingga terpaksa bermain sebagai
gelandang serang tengah. Tentunya ketika ia dipindahkan lagi ke sayap ia harus mengubah cara mainnya
lagi yang mana menimbulkan masalah lagi pada dirinya sendiri dan berpengaruh pada tim, apalagi dia
adalah Kartu Truf permainan Kolombia