Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES SUB MANDIBULA

A. Defenisi
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat atau infeksi
bakteri. (www.,medicastore.com,2004)
Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di
suatu tempat di dalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap benda
asing (Mansjoer A, 2005)
Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan
proses yang disebut peradangan (Bambang, 2005)
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi
nanah. (Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di
mandibula. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya
sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001)
Abses submandibula di defenisikan sebagai terbentuknya abses pada ruang
potensial di regio submandibula yang disertai dengan nyeri tenggorok, demam dan
terbatasnya gerakan membuka mulut.
Abses submandibula merupakan bagian dari abses leher dalam. Abses leher dalam
terbentuk di ruang potensial di antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi
dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah
danleher. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di ruang leher
dalam yang terlibat.

B. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara antara lain:
1. Bakteri masuk kebawah kuit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak
steril
2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain
3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan
tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Lebih lanjut Siregar (2004) menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan
meningkat jika :
1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi
2. Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
3. Terdapat gangguan sisitem kekebalan.
Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001), abses mandibula
sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi. Peradangan ini
menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang pada perabaan sangat
keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi. Sering mendorong lidah keatas dan
kebelakang dapat menyebabkan trismus. Hal ini sering menyebabkan sumbatan jalan
napas. Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas maka jalan napas hasur segera dilakukan
trakceostomi yang dilanjutkan dengan insisi digaris tengah dan eksplorasi dilakukan secara
tumpul untuk mengeluarkan nanah. Bila tidak ada tanda- tanda sumbatan jalan napas dapat
segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah, kelainan ini disebutkan Angina
ludoviva (Selulitis submandibula). Setelah dilakukan eksplorasi diberikan antibiotika dsis
tinggi untuk kuman aerob dan anaerob.
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan
otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika
timbul diwajah.

C. Patofisiologi
Jika bakteri menusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeks. Sebgian
sel mati dan hancur, menigglakan rongga yang berisi jaringan dan se-sel yang terinfeksi.
Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalalm melawan infeksi, bergerak
kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri.sel darah putih kakan mati, sel darah
putih yang mati inilah yang memebentuk nanah yang mengisis rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan pada
akhirnya tumbuh di sekliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini
merupakan mekanisme tubuh mencefah penyebaran infeksi lebih lanjut jka suat abses
pecah di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah
permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.(www.medicastre.com.2004).
D. Anatomi dan fisiologi
A). Mulut (oris)
Proses pencernaan pertama kali terjadi di dalam rongga mulut. Rongga mulut
dibatasi oleh beberapa bagian, yaitu sebelah atas oleh tulang rahang dan langit-langit
(palatum), sebelah kiri dan kanan oleh otot-otot pipi, serta sebelah bawah oleh rahang
bawah.
1) Rongga Mulut(Cavum Oris)
Rongga mulut merupakan awal dari saluran pencernaan makanan. Pada rongga mulut,
dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan
makanan, yaitu:

Gigi(dentis)
Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang
kecil-kecil. Gigi tertanam pada rahang dan diperkuat oleh gusi. Bagian-bagian gigi adalah
sebagai berikut:
Mahkota Gigi
Bagian ini dilapisi oleh email dan di dalamnya terdapat dentin (tulang gigi). Lapisan email
mengandung zat yang sangat keras, berwarna putih kekuningan, dan mengilap. Email
mengandung banyak garam kalsium.
Tulang Gigi
Tulang gigi terletak di bawah lapisan email. Tulang gigi meliputi dua bagian, yaitu leher
gigi dan akar gigi. Bagian tulang gigi yang dikelilingi gusi disebut leher gigi, sedangkan
tulang gigi yang tertanam dalam tulang rahang disebut akar gigi. Akar gigi melekat pada
dinding tulang rahang dengan perantara semen.
Rongga gigi
Rongga gigi berada di bagian dalam gigi. Di dalam rongga gigi terdapat pembuluh darah,
jaringan ikat, dan jaringan saraf.oleh karena itu, rongga gigi sangat peka terhadap
rangsangan panas dan dingin.
menurut bentuknya, gigi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
(a) Gigi seri (incisivus/I), berfungsi untuk memotong-motong makanan.
(b) Gigi taring (caninus/ C), berfungsi untuk merobek-robek makanan.
(c) Gigi geraham depan (Premolare/ P), berfungsi untuk menghaluskan makanan.
(d) Gigi geraham belakang (Molare/ M), berfungsi untuk menghaluskan makanan.
Pada manusia, ada dua generasi gigi sehingga dinamakan bersifat diphydont. Generasi gigi
tersebut adalah gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu adalah gigi yang dimiliki oleh anak
berusia 1-6 tahun. Jumlahnya 20 buah. Sedangkan gigi permanen dimiliki oleh anak di atas
6 tahun, jumlahnya 32 buah.

B) Lidah (lingua)

Lidah membentuk lantai dari rongga mulut. Bagian belakang otot-otot lidah melekat pada
tulang hyoid. Lidah tersiri dari 2 jenis otot, yaiyu:
(1) Otot ekstrinsik yang berorigo di luar lidah, insersi di lidah.
(2) Otot instrinsik yang berorigo dan insersi di dalam lidah.
Kerja otot lidah ini dapat digerakkan atas 3 bagian, yaitu: radiks lingua (pangkal lidah),
dorsum lingua (punggung lidah), apeks lingua (ujung lidah). Lidah berfungsi untuk
membantu mengunyah makanan yakni dalam hal membolak-balikkan makanan dalam
rongga mulut, membantu dalam menelan makanan, sebagai indera pengecap, dan
membantu dalam berbicara.
Sebagai indera pengecap,pada permukaan lidah terdapat badan sel saraf perasa (papila).
ada tiga bentuk papila, yaitu:
(1) Papila fungiformis, berbentuk seperti jamur, terletak di bagian sisi lidah dan ujung lidah.
(2) Papila filiformis, berbentuk benang-benang halus, terletak di 2/3 bagian depan lidah.
(3) Papila serkumvalata, berbentuk bundar, terletak menyusun seperti huruf V terbalik di
bagian belakang lidah.
Lidah memiliki 10.000 saraf perasa, tapi hanya dapat mendeteksi 4 sensasi rasa: manis,
asam, pahit, dan asin.

C) Kelenjar Ludah
Makanan dicerna secara mekanis dengan bantuan gigi, secara kimiawi dengan bantuan
enzim yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar ludah. Kelenjar ludah mengandung
menghasilkan saliva. Saliva mengandung enzim ptyalin atu amylase yang berfungsi
mengubah zat tepung atau amilum menjadi zat gula atau maltosa.
Kelenjar ludah terdiri atas tiga pasang sebagai berikut:
(1) Kelenjar parotis, terletak di bawah telinga. Kelenjar ini menghasilkan saliva berbentuk
cair yang disebut serosa. Kelenjar paotis merupakan kelenjar terbesar bermuara di pipi
sebelah dalam berhadapan dengan geraham kedua.
(2) Kelenjar submandibularis / submaksilaris, terletak di bawah rahang bawah.
(3) Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.
Kelenjar submandibularis dan sublingualis menghasilkan air dan lender yang disebut
Iseromucus. Kedua kelenjar tersebut bermuara di tepi lidah.

Ruang Submandibula
Ruang submandibula terdiri dari ruang sublingual, submaksila dan submental.
Muskulus milohioid memisahkan ruang sublingual dengan ruang submental dan
submaksila. Ruang sublingual dibatasi oleh mandibula di bagian lateral dan anterior,
pada bagian inferior oleh m. milohioid, di bagian superior oleh dasar mulut dan lidah, dan
di posterior oleh tulang hioid. Di dalam ruang sublingual terdapat kelenjer liur sublingual
beserta duktusnya.
Ruang submental di anterior dibatasi oleh fasia leher dalam dan kulit dagu, di bagian
lateral oleh venter anterior m. digastrikus, di bagian superior oleh m. milohioid, di bagian
inferior oleh garis yang melalui tulang hyoid. Di dalam ruang submental terdapat kelenjer
limfa submental. Ruang maksila bagian superior dibatasi oleh m. milohioid dan m.
hipoglossus. Batas inferiornya adalah lapisan anterior fasia leher dalam, kulit leher dan
dagu. Batas medial adalah m. digastrikus anterior dan batas posterior adalah m. stilohioid
dan m. digastrikus posterior. Di dalam ruang submaksila terdapat kelenjer liur submaksila
atau submandibula beserta duktusnya. Kelenjar limfa submaksila atau submandibula
beserta duktusnya berjalan ke posterior melalui tepi m. milohioid kemudian masuk ke
ruang sublingual. Akibat infeksi pada ruang ini mudah meluas dari satu ruang ke
ruang lainnya.

E. Pencegahan
Menurut FKUI (1990), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob
harus diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anasksi lokalal
untuk abses yang dangkal dan teriokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses
dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi 05 tiroid,
tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda
infeksi reda.
Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengna
sendirinya dan mengeluarkan isinya.kadang abses menghilang secara perlahan karena
tubuh menghancurkan. infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan
bisa meninggalkan benjolan yang keras.
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk
dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak memiliki aliran darah, sehingga pemberian
antibiotik biasanya sia-sia Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal
ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses
menyebarkan infeksi kebagian tubuh lainnya.

F. Manifestasi Klinik
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :
1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengakakan
5. Kemerahan
6. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi benjolan.
Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah,
maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di
dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Abses
dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi keseluruh tubuh.
Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri leher disertai pembengkakan di
bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin berfluktuasi.

G. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali.
Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses, biasanya
pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menetukan
ukuran dan lokasi abses dalam bisa dilkukan pemeriksaan rontgen,USG, CT, Scan, atau
MR.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
ABSES MANDIBULA
1. Pengkajian.
Pengkajian adalah usaha untuk mengumpulkan data-data sesuai dengan
respon klien baik dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, wawacara, observasi
dan dokumentasi secara bio-psiko-sosio-spiritual (Doenges, 2001).
Data yang harus dikumpulkan dalam pengkajian yang dilakukan pada kasus abses
mandibula menurut Doenges, (2001) adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas/istirahat
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera (trauma).
b. Sirkulasi
Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas (hipoventilasi, hiperventilasi,
dll).
c. Integritas ego
Data Subyektif: Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau dramatis)
Data Obyektif : cemas, bingung, depresi.
d. Eliminasi
Data Subyektif : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.
e. Makanan dan cairan
Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.
Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.
f. Neurosensori.
Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental,
kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.
g. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : nyeri pada rahang dan bengkak
Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.
h. Pernafasan
Data Subyektif : Perubahan pola nafas.
Data Objektif: Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/ otot aksesoris.
i. Keamanan
Data Subyektif : Trauma baru akibat gelisah.
Data Obyektif : Dislokasi gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak.
j. Prioritas keperawatan
1) Mengurangi ansietas dan trauma emosional
2) Menyediakan keamanan fisik
3) Mencegah komplikasi
4) Meredakan rasa sakit
5) Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan
6) Menyediakan informasi mengenai proses penyakit/prosedur pembedahan, prognosis dan
kebutuhan pengobatan
k. Tujuan pemulangan
1) Pasien menghadapi situasi yang ada secara realistis
2) Cidera dicegah
3) Komplikasi dicegah/diminimalkan
4) Rasa sakit dihilangkan/dikontrol
5) Luka sembuh/fungsi organ berkembang ke arah normal
6) Proses penyakit/prosedur pembedahan, prognosis, dan regimen terapeutik dipahami
Sedangkan menurut Dr. Rahajeng, (2006) pengkajian pada Abses Mandibula, adalah:
a. Keadaan umum: lemah, lesu, malaise, demam
b. Pemeriksaan Ekstra oral : asimetri wajah, tanda radang jelas, fluktuasi (+), tepi rahang
teraba
c. Pemeriksaan intra oral: Periodontitis akut, muccobuccal fold, fluktuasi (-)

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut T. Heather Herdman, et.al (2007), diagnosa keperawatan pada pasien dengan
abses mandibula adalah:
a. Nyeri Akut yang berhubungan dengan egen injuri biologi
Menurut Carpenito (2000) nyeri akut adalah keadaan dimana individu melaporkan dan
mengalami adanya rasa ketidaknyamanan yang hebatatau sensasi yang tidak
menyenangkan selama enam bulan atau kurang.
b. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit.
Menurut Carpenito (2000) Hipertermi adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
atau berisiko untuk mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,5C
peroral atau 38,C per rektal karena faktor–faktor eksternal.
c. Kerusakan Intergritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik.
Menurut Carpenito (2000) kerusakan integritas kulit adalah suatu keadaan dimana seorang
individu mengalami atau beresiko mengalami kerusakan jaringan epidermis dan dermis.

Sedangkan menurut Doenges, (2001) diagnosa keperawatan yang muncul pada klien
dengan infeksi rongga mulut adalah:
a. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan post operasi.
Menurut Carpenito (2000) defisit volume cairan dan elektrolit adalah Keadaan dimana
seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko mengalami
dehidrasi vaskuler, interstisial atau intravaskuler.
b. Nyeri berhubungan dengan adanya proses peradangan, luka insisi pembedahan. Menurut
Carpenito (2000) nyeri akut adalah keadaan dimana individu melaporkan dan mengalami
adanya rasa ketidaknyamanan yang hebab atau sensasi yang tidak menyenangkan selama
enam bulan atau kurang.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan
tubuh. Menurut Carpenito (2000) resiko terhadap infeksi adalah keadaan dimana seorang
individu beresiko terserang oleh agen patogenik atau oportunis (virus, jamur, bakteri,
protozoa dan parasit lain) dari sumber-sumber endogen atau eksogen.
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan menelan
makanan, nyeri area rahang. Menurut Carpenito (2000) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan suatu keadaan dimana individu yang tidak mengalami puasa atau yang beresiko
mengalami penurunan berat badan atau yang berhubungan dengan masukan yang tidak
adekuat

e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada area rahang dan luka
operasi. Menurut Carpenito (2000) perubahan polatidur adalah keadaan di mana individu
mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas
polatidurnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang
diinginkannya
f. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan adanya peradangan di area
mulut. Menurut Carpenito (2000) Gangguan komunikasi verbal adalah keadaan dimana
seorang individu mengalami, atau dapat mengalami penurunan kemampuan atau
ketidakmampuan untuk berbicara tetapi dapat mengerti orang.
g. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota
tubuh. Menurut Carpenito (2000) gangguan gambaran diri adalah suatu keadaan dimana
individu mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam cara pencerapan citra
diri seseorang.

3. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan adanya proses peradangan, luka insisi pembedahan.Menurut
Carpenito (2000) nyeri akut adalah keadaan dimana individu melaporkan dan mengalami
adanya rasa ketidaknyamanan yang hebab atau sensasi yang tidak menyenangkan selama
enam bulan atau kurang

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat nyeri yang dialami klien dan 1. Untuk mengetahui tingkat skala nyeri
lokasinya yang dialami klien

2. Catat umur dan berat pasien, masalah medis / 2. Rasional pendekata pada manajemen rasa
psikologis yang muncul kembali, sensitivitas sakit pasca operasi berdasarkan kepada
idiosinkratik yang digunakan. faktor-faktor vareaasi multipel.

3. Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardia, 3. Dapat mengindikasi rasa sakit akut dan
hipertensi dan peningkatan pernafasan, bahkan ketidaknyamanan.
jika pasien menyangkal adanya rasa sakit

4. Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya


latihan nafas dalam, bimbingan imajinasi, 4. Lepaskan tegangan emosional dan otot :
visualisasi. tingkatkan perasaan kontrol yang mungkin
dapat meningkatkan kemampuan koping.

5. Kaji ketidaknyamanan yang mungkin selain 5. Ketidaknyamanan mungkin disebabkan /


dari prosedur operasi. diperburuk dengan penekanan pda kateter
indwelling yang tidak tetap, selang NGT,
jalur parentral.

6. Pahami ketidaknyamanan.
6. Berikan informasi mengenai
ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan. 7. Mungkin mengurangi rasa sakit dan
meningkatkan sirkulasi. Posisi semi-fowler
7. Lakukan reposisi sesuai petunjuk, semi – dapat mengurangi tekanan otot abdominal
fowler; miring. dan otot punggung arthritis, sedangkan
miring mengurangi tekanan dorsal.

8. Mengurangi ketidaknyamanan yang


dihubungkan dengan membrane mukosa
8. Berikan perawatan oral regular. yang kering pad azat-zat anastesis, restriksi
oral.

9. Agar klien dapat beristirahat, karena


urang tidur / istirahat dapat meningkatkan
9. Berikan lingkungan yang tenang. persepsi nyeri dan kemampuan koping
menurun.

10. Respirasi mungkin menurun pada


pemberian narkotik, dan mungkin
10. Observasi efek analgesik menimbulkan efek-efek sinergistik dan zat-
zat anastesi.

11. Analgesik IV akan dengan segera


mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan
11. Kolaborsi obat sesuai petunjuk . (analgesik IV) penghilangan yang lebih efektif dengan
obat dosis kecil. Pemberian IM akan
memakan waktu lebih lama da
keefektifannya bergantung kepada tingkat
dan absorbsi sirkulsi.

b. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan


tubuh. Menurut Carpenito (2000) resiko terhadap infeksi adalah keadaan dimana seorang
individu beresiko terserang oleh agen patogenik atau oportunis (virus, jamur, bakteri,
protozoa dan parasit lain) dari sumber-sumber endogen atau eksogen.

Rasional
Intervensi

1. Pantau tanda-tanda peradangan, demam, 1. Untuk mengidentifikasi adanya


kemerahan, bengkak da cairan yang keluar. tanda-tanda infeksi secara dini.

2. Perhatikan peningkatan suhu, demam


menggigil. 2. Dengan adanya infeksi / sepsis
membutuhkan evaluasi pengobatan.

3. Cuci tangan sebelum dan sesudah 3. Menurunkan resiko terjadinya


melakukan tindakan infeksi nasokomial.
4. Pertahanan luka aseptik, pertahankan balutan 4. Melindungi pasien dari
kering. kontaminasi silang selama
penggaintian balutan. Balutan basah
bertindak sebagai sumbu retrograd,
menyerap kontaminan eksternal.

5. Untuk mencegah terjadinya


5. Anjurkan klien untuk menjaga area infeksi kontaminasi atau infeksi.

6. Periksa kulit untuk memeriksa adanya infeksi 6. Gangguan pada integritas kulit atau
yang terjadi. dekat dengan lokasi operasi adalah
sumber kontaminasi luka.
Menggunting / bercukur secara
berhati-hati adalah imperatif untuk
mencegah abrasi dan penorehan pada
kulit.

7. Ulangi studi laboratorium ntuk kemungkinan 7. Peningkatan SDP akan


infeksi sistemik. mengindikasikan adanya infeksi
dimana prosedur operasi akan
mengurangi (mis, apendisitis, abses,
implamasi dari trauma) atau
munculnya infeksi sistemik / organ,
dimana mungkin dapat menyebabkan
kontraindikasi dari prosedur
pembedahan atau anestesi.

8. Dapat diberikan secara profilaksis


8. Kolaborasi : berikan antibiotic sesuai petunjuk bila dicurigai terjadinya infeksi

d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan


menelan makanan, nyeri area rahang. Menurut Carpenito (2000) Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan suatu keadaan dimana individu yang tidak mengalami puasa atau yang
beresiko mengalami penurunan berat badan atau yang berhubungan dengan masukan yang
tidak adekuat.
Intervensi
Rasional

1. Kaji riwayat nutrisi termasuk makan yang 1. Mengindikasikan defisiensi,


disukai. menduga kemungkinan intervensi

2. Kaji keluhan mual, tidak napsu makan, dan 2. Dengan mengalami keluhan pasien
muntah yang dialami pasien. dapat membantu intervensi
selanjutnya.

3. Pemberian makanan yang mudah ditelan 3. Membantu mengurangi kelelahan


seperti : bubur, tim, dan hidangkan selagi masih pasien dan meningkatkan asupan
hangat. makanan karena mudah ditelan.

4. Pemberian makanan dalam porsi kecil dengan 4. Untuk menghindari mual dan
frekuensi sering. muntah.

5. Pantau masukan dan keluaran. 5. Memberikan deteksi dini adanya


ketidak seimbangan kebutuhan
nutrisi.

6. Timbang berat badan setiap hari. 6. Penimbangan berat badan yang


tepat dapat mendeteksi status gizi
klien.

7. Kolaborasi dengan ahli gizi. 7. Membantu dalam membuat


rencana diet untuk memenuhi
kebutuhan individual
DAFTAR PUSTAKA

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt J.
Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13. jakarta : EGC.
1999.

Docterman dan Bullechek. Nursing Invention Classifications (NIC), Edition 4, United States Of
America: Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. Nursing Out Comes (NOC), United States Of America:
Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.
Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-BedahBruner and


Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester. Edisi
8 jakarta : EGC,2001.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GANGUAN PADA SISTEM
PENCERNAAN
SEHUBUNGAN DENGAN “ ABSES MANDIBULA”
DI RSUD DR. IBNU SUTOWO BATURAJA
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
A. IDENTITAS
1. Identitas Klien
Nama : Tn “S”
Umur :
43 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama :
Islam
Status Pernikahan : kawin
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :
Pegawai PT. Minanga Ogan
Alamat :
Komplek Minanga Ogan
No. Reg :
54477
Tanggal Masuk : 19-04-
13 Pukul: 16.00
Tanggal Penkajian : 24-04-13
Diagnosa Medis : “ABSES
MANDIBULA”

2. Identitas Penaggung Jawab


Nama : Ny “N”
Umur :
38 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Hubungan Dengan Klien : Istri klien
Almat :
Komplek Minanga Ogan

B. STATUS KESEHATAN
1. Riwayat Perjalanan Penyakit
Klien mengatakan sebelum ia masuk rumah sakit, klien melakukan
cabut gigi ±3 hari yang lalu, kemudian di malam hari nya klien merasakan
demam disertai nyeri bengkak pada pipi kiri dan sulit untuk
menelan, dan akhirna pada tanggal 19 April 2013 keluarga
kelien membawa klien ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

2. Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada bagian pipi sebelah kiri.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Saat pengkajian klien mengatakan nyeri pada pipi kiri seperti di
tusuk-tusuk.
Skala nyeri: Ringan ( 1-4 ), Sedang ( 5-8 ), Berat ( 9-10 ).
P: Nyeri disebabkan adanya abses pada daerah mandibula.
Q: Nyeri seperti di tusuk-tusuk.
R: Nyeri pada bagian pipi kiri.
S: Skala 6.
T: Pada saat beraktifitas.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Saat pengkajian klien mengatakan bahwa penyakit yang ia alami
timbul pada saat keadaan giginya mulai rusak. Klien mengatakan
bahwa ia tidak memiliki penyakit yang lain selain yang ia derita, klien juga
mengatakan bahwa tidak memiliki alergi obat- obatan, tetapi klien
memiliki kebiasaan buruk yaitu merokok.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Genogram keluarga Tn “S”

: Klien

: Perempuan

: Laki-laki

Dari pengkajian dari keluarga klien didapati hanya klien sendiri


yang menderita
penyakit ABSES MANDIBULA.

C. ASPEK PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL
1. Status Psikologis
A. klien merasa terbebani dengan penyakit yang ia derita
karena pasien tidak
bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
B. klien mengatakan pekerjaanya selama ia di rawat di RS
telah di gantikan oleh
anak buahnya.
C. keluarga klien mengtakan tidak merasa terbebani dengan
penyakit yang
diderita klien, karena manusia ada kekurangan dan kelebihan

2. Status Sosial
A. peran pasien dalam keluarga sudah di gantikan oleh sanak
saudara klien untu sementara.
B. hubungan antar dan inter keluarga sangat baik terlihat dari
keluarga dan
tetangga yang dating bergantian untuk menjenguk dan
menjaga klien.

3. Status Spiritual
A. klien mengatakan bahwa ia menganut agama islam.
b. saat di rawat pasien tidak melakukan ibadah di karenakan
masih sering terasa
nyeri di pipi sebelah kiri dan anjuran untuk istirahat.

D. POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI

No Pola Aktivitas Sebelum di RS Setelah di RS


1. Nutrisi
- Makan
Frekuensi 3X / Hari 3X / Hari
Porsi 1 piring 1 piring tidak habis
Diet Tidak ada BB

- Minum
Jenis minum Air Putih Air Putih
Frekuensi ±8 gelas / Hari ±8 gelas / Hari

2. Eliminasi
- BAK
Frekuensi ±6X / hari ±5X / hari
Warna Kuning Kuning

-BAB
Frekuensi ±3X / hari ±3X / hari
Warna Kuning Kuning
Konsistensi Lembek lembek

3. Pola Aktivitas Mandiri Dibantu


4. Istirahat Tidur
- Tidur malam
Lamanya ±5-6jam / hari ±4-5 / hari
Insomnia - Ada

-Tidur Siang
Lamanya 1-2jam / hari ±1jam /hari

E. PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE


1. KEADAAN UMUM
A. Kesadaran : compos matis
B. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 130 / 80 MmHg
Pulse : 84X / Menit
RR : 23X / Menit
Temp : 38,2 ®C

2. KEADAAN KHUSUS
A. kepala
- Rambut
Warna :
Hitam keputihan
Distribusi :
Lebat dan lurus
Keluhan
: Tidak ada ( Normal )
- Wajah
Bentuk :
Oval
Kesimetrisan :
Simetris ( normal )
-Mata
Kebersihan :
Bersih
Fungsi penglihatan : Miopi ( rabun
jauh dan dekat )
Diplopia
: Tidak ada ( fungsi normal )
Pupil
: isokor ( sama bulat )
Konjuntiva
: Anemis
Skelera
: Ikteris
-Hidung
Kebersihan :
Bersih
Polip
: Tidak ada
-Mulut
Bibir
: Pucat
Mukosa
: Lembab
Caries :
Ada ( Gigi bagian belakang )
Jumlah gagi :
sudah tidak lengkap
-Telinga
Kebersihan :
Bersih
Kesimetrisan :
Simetris ( tidak ada kelainan )

B. Leher
- Pergerakan : Normal
- Tekanan vena Jugolaris :
Ada Benjolan : ( - ) berkurang

C. Dada
- Tipe pernapasan : Teratur
Suara nafas :
Vesicular
Retraksi dinding dada : Normal ( tidak ada )
Keluhan
: Tidak ada ( Normal )
- Payudara
Kesimetrisan :
Simetris
Keluhan
: Tidak ada

D. Abdomen
- Kesimetrisan :
Simetris
Lain-
lain : Nyeri tekan pada bagian bawah

E. Genetalia
- Kebersihan :
Bersih
Keluhan
: Nyeri
Lain-
lain : pembenkakan kelenjar prostat

F. Anus
- Kebersihan :
Bersih
Hemoroid :
Tidak terdapat Hemoroid
Keluhan
: Tidak ada

G. Ekstrimitas
- Kesimetrisan : Baik /
simetris
Kekuatan :
Baik
Keluhan
: Tidak ada

H. Punggung
- Kebersihan :
Bersih
Nyeri tekan :
Tidak ada
Keluhan
: Tidak ada
Lain-
lain : Tidak ada

F.THERAPY OBAT

NO JENIS PEMBERIAN DOSIS


1 RL IVFD Gtt 20 x/mnt

2 Ranitidin IVFD 3 x 1 amp

3 Ceftriaxone IVFD 3 x 1 amp

4 Keterolac Drip 3 x 1 amp

5 Metronidazole IVFD 2 x 500g


6 PCT Oral 3 x 500g

G. DATA PENUNJANG
A. laboratorium
Tanggal pemeriksaan Pemeriksaan Parameter Hasil Nilai normal

20-04- 2013 Darah L : 12-14 g/dl


Hemoglobin 11,4
P: 12-13 g/dl
L : 4’5-5,3 juta/ul
Eritrosit -
P : 4,0-5,0 juta/ul
Leukosit 8.800 5.000-10.000 /ul
Trombosit 243.000 150.000-400.000 /ul
L : 40-48%
Hematokrit 40%
P : 37-43%
L : < 10 mm /jam
Laju endapan -
P : < 20 mm /jam
Urine Reduksi (-)
Protein (-)
Bilirubin (-)

Sedimen:
• Leukosit + penuh
• Eritrosit + 8-10 / lp
• Sel epitel + / penuh
• Kristal Amorp ( + )
• Silinder -
• Lain-lain -

Gula darah Gula darah puasa - 70-110 mg%


Glukosa 2 jam setelah < 180 mg%
-
makan
Gula darah sewaktu 83 < 140 mg%
Cholesterol 141 < 200 mg%
Trigliserid - < 200 mg%
LDL - <130 mg%
HDL L : > 50 mg%
-
P : > 60 mg%
Asam urat L : 3-7 mg%
4,0
P : 2-6 mg%
Ureum 22
Creatin L : 0,9-1,2 mg%
0,7
P : 0,6-1,1 mg%

Total protein - 6,7-8,7 g%


Albumin - 3,8-5,1 g%
Globulin - 1,5-3,0 g%
Bilirubin total 0,9 < 1,1 mg%
Bilirubin direct 0,3 < 0,3 mg%
Bilirubin indirect 0,6 < 0,75 mg%
SGOT 26 Sampai 34 U/l
SGPT 28 Sampai 34 U/l
Gamma GT - Sampai 50 U/l
HBS Ag ( - ) neg neg

H. ANALISA DATA

No. DATA ETIOLOGI MASALAH


1 Nyeri berhubungan dengan Abses mandibula Terjadinya
abses pada daerah mandibula Nyeri
ditandai dengan :
saraf sensorik
DS:
Klien merasa nyeri pada pipi
sebelah kiri hipotalamus
DO:
Klien tampak meringis dan
gelisah

K/u : lemah sraf motorik


Td : 130 / 80
MmHg
Pulse : 84X /
Menit
RR :
23X / Menit
Temp : 38,2 Nyeri
®C

2 Hipertermi yang berhubungan abses mandibula hypetremi


dengan proses penyakit
DS : terjadinya
peradangan
Klien mengatakan demam
DO: hipotalamus
- suhu tubuh klien tinggi
38,2 ®C tidak terkontrolnya
suhu tubuh

hypetermi
3 Gangguan pola nutrisi kurang Nyeri Ganggusn pola
dari kebutuhan berhubungan nutrisi
dengan ketidak mampuan Hipotalamus
menelan makanan, nyeri area Saraf simpasis
mandibula terangsang
DS :
Klien mengatakan sulit untuk
melan Ganguan aktivitas
DO :
Klien tidak dapat menealn
makanan karena nyeri di
daerah mandibula Ganggusn pola
nutrisi

B. Prioritas Masalah
1. Nyeri berhubungan dengan abses pada mandibula.
2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit.
3. Gangguan pola nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan
menelan makanan, nyeri area mandibula.

ASUHAN KEPERAWATAN

N Perencanaan Tindakan Keperawatan


Diagnosa Keperawatan E
o Tujuan Intervensi Rasional Implementasi
1 Tupen: 24 April 2013 S
Nyeri berhubungan dengan Pukul 08.30
diharapkan s
abses mandibula ditandai setelah dilakukan • Mengobservasi
tindakan
•Observasi •Diharapkan tanda-tanda vital.
dengan : dapat O
tanda-tanda Td : 110 / 80 MmHg
keperawatan T
DS: vital. menormalkan Pulse : 80X / Menit
P
1X24 jam klien tanda-tanda RR : 23X / Menit
Klien merasa nyeri pada pipi R
dapat tidak vital
Temp : 38,0 ®C
T
merasa nyeri • kaji tingkat
sebelah kiri A
nyeri • Skala Nyeri
DO: •Diharapk P
Tupan: berkurangmenjadi skala
Klien tampak meringis dan Nyeri 3
I
diharapakan •jelaskan pada
gelisah klien tentang berkurang
setelah dilakukan
penyebab nyeri •Klien telah mengetahui s
tindakan
K/u : lemah
keperawatan •Diharapkan bahwa nyeri disebabkan
Td : 130 / 80 oleh penumpukan push E
MmHg 3X24 masalah • Kolaborasi Klien
mngetahui di bagian rahangnya
Pulse : 84X / Menit klien teratasi dengan dokter
RR : 23X / Menit
dengan krieria: dalam penyebab
Temp : 38,2 ®C pemberian nyeri • Berkolaborasi dengan
-nyeri berkurang
therafi obat, dokter dalam
- klien tampak pemberian therafi obat,
tenang •Diharapkan
-Rl gtt 20x/m
kolborasi -ranitidin
bermanfaat -ceftriaxone
- keterolac
-Metronidazole
-Pct
2 24 April 2013
Hipertermi yang berhubungan Pukul 10.00 S: k
Tupen: diharapkan
tubuh
dengan proses penyakit suhu tubuh klien mulai m
setelah dilakukan  diharapkan suhu
DS : tindakan • Monitor suhu klien terpantau normal dari 38,2˚C kini O
keperawatan 1X24
Klien mengatakan demam jam suhu tubuh tubuh klien menjadi 36,7˚C A
 diharapkan dapat
DO: pasien kembali P
normal memberikan rasa nyaman
- suhu tubuh klien tinggi •Atur posisi  klien nyaman dengan I
38,2 ®C Tupan: yang nyaman  diharapkankolaborasi posisi yang dianjurkan t
diharapakan bagi klien. bermanfaat
setelah dilakukan
tindakan  Berkolaborasi dengan t
keperawatan 3X24 a
masalah klien dokter dalam
teratasi dengan • Kolaborasi pemberian antipiretic: E :
krieria:
dengan dokter - PCT 3 X 500g
- demam
berkurang dalam
- suhu tubuh
pemberian
normal
antipiretic,
3. Tupen: diharapkan 24 April 2013 S
Gangguan pola nutrisi kurang Pukul 10.00
setelah dilakukan
dari kebutuhan berhubungan tindakan b
keperawatan 1X24 •mengatur •Diharapkan dapat •Klien mengatakan sudah O
dengan ketidak mampuan jam klien bisa posisi membantu pasien nyaman dengan posisi A
menelan makanan, nyeri area memenuhi senyaman untuk nyaman yang di anjurkan
kebutuhan mungkin
s
mandibula nutrisinya P
•Diharapkan dapat •Klien mengatakan bisa
DS : •berikan membantu dalm I
Tupan: menelan makanan yang
Klien mengatakan sulit untuk makanan dalam linkungan melakukan lunak
a
diharapakan bentuk lunak pemenuhan
melan setelah dilakukan E
kebutuhan nutrisi
DO : tindakan •Nyeri berkurang dari
keperawatan 3X24 •lakukan sekala 6 menjadi sekala 3
Klien tidak dapat menelan masalah klien kompres untuk •Diharapkan dapat
makanan karena nyeri di teratasi dengan mengurangi mengurangi nyeri
krieria: nyeri
daerah mandibula - dapat menelan
- Nyeri tidak terasa
lagi

CATATAN PERKEMBANGAN

Hari/waktu Diagnosa keperawatan Perkembangan (SOAPIE) Ttd


perawat
25 Nyeri berhubungan denganS : Klien mengatakan masih sering terasa nyeri
April 2013 abses mandibula pada daerah rahang
O : klien tampak susah, di bantu dalam
Pukul melakukan aktivitas.
09.00 A : masalah teratasi sebagian.
P : intervensi lanjutkan
I : pantau sekala nyeri klien
E : k/u membaik

Hipertermi yangS : Klien mengatakan jika nyeri pada bagian


berhubungan dengan proses rahang selalu d iringi oleh suhu tubuh yang naik
penyakit O : suhu tubuh klien naik turun
A : masalah teratasi sebagian.
P : intervensi lanjutkan
I : lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalm
pemberian antipiretic jika suhu kembali naik
E : k/u membaik
26 Nyeri berhubungan denganS : Klien mengatakan nyeri sudah berkurang
April2013 abses mandibula O : klien tampak tenang dan melakukan
aktivitas.
08.30 A : masalah teratasi sebagian.
P : intervensi lanjutkan
I : tidak ada intervesi yang di terapkan
E : k/u membaik

Hipertermi yangS : Klien mengatakan suhu tubuhnya sudah


berhubungan dengan proses normal
penyakit O : suhu tubuh klien sudah kembali normal
A : masalah teratasi sebagian.
P : intervensi lanjutkan
I : tidak ada intervesi yang di terapkan
E : k/u membaik