Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

HAK MERK

Oleh :

Bujang Ilmi A.
Fatchur Beny A. S.
Mainarti Dinda S.
Martinah Sekawanti
Sofiya Istiqomah

PROGRAM D-2 TEKNIK INFORMATIKA


AKADEMI KOMUNITAS NEGERI LAMONGAN
2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perlindungan hak kekayaan intelektual sangat penting bagi pembangunan yang
sedang berlangsung di Indonesia. Hak atas kekayaan intelektual yang dilindungi di
Indonesia bisa saja berupa merek, lisensi, hak cipta, paten maupun desain industri.
Kata, huruf, angka, gambar, foto, bentuk, warna, jenis logo, label atau gabungannya
yang dapat digunakan untuk membedakan barang dan jasa dapat dianggap sebagai
sebuah merek.
Di sebagian negara, slogan iklan juga dianggap sebagai merek dan dapat
didaftarkan pada Kantor Hak dan Kekayaan Inteletual (HaKI). Jumlah negara yang
membuka kemungkinan untuk pendaftaran bentuk-bentuk merek yang kurang biasa
didaftarkan seperti warna tunggal, tanda tiga dimensi (bentuk produk atau kemasan),
tanda-tanda yang dapat didengar (bunyi) atau tanda olfactory (bau). Namun demikian,
sebagian besar negara telah menentukan batasan-batasan mengenai hal apa saja yang
dapat didaftarkan sebagai sebuah merek, secara umum adalah untuk tanda-tanda yang
memang secara visual dapat dirasakan atau yang dapat ditunjukkan dengan gambar
atau tulisan.
Pemahaman yang harus dibentuk ketika menempatkan merek sebagai hak
kekayaan intelektual adalah kelahiran hak atas merek yang diawali dengan temuan-
temuan barang atau jasa yang lebih dikenal dengan penciptaan. Pada merek ada unsur
ciptaan yakni : desain logo maupun huruf. Dalam merek, bukan hak atas ciptaan itu
yang dilindungi tetapi merek itu sendiri sebagai tanda pembeda.
Merek pada saat ini bukan hanya sebagai suatu nama atau simbol saja,
melainkan merek memiliki aset kekayaan yang sangat besar. Merek yang tepat dan
dipilih secara hati-hati merupakan aset bisnis yang berharga untuk sebagian besar
perusahaan. Perkiraan nilai dari merek-merek terkenal di dunia seperti Coca-Cola
atau IBM melebihi 50 (lima puluh) milyar dollar masing-masingnya.2 Hal ini karena
konsumen menilai merek, reputasi, citra dan sejumlah kualitas-kualitas yang
konsumen inginkan yang berhubungan dengan merek. Konsumen dalam hal ini mau
membayar lebih untuk produk dengan merek tertentu yang telah diakui dunia dan
yang dapat memenuhi harapan mereka. Oleh karena itu, memiliki sebuah merek
dengan citra dan reputasi yang baik menjadikan sebuah perusahaan lebih kompetitif.
Bahkan bagi beberapa negara di Amerika Selatan, merek dijadikan sebagai simbol
asosiasi kultural dan sentuhan mistik.
Fungsi utama dari sebuah merek adalah agar konsumen dapat mencirikan
suatu produk (baik itu barang maupun jasa) yang dimiliki oleh perusahaan sehingga
dapat dibedakan dari produk perusahaan lain yang serupa atau yang mirip yang
dimiliki oleh pesaingnya. Konsumen yang merasa puas dengan suatu produk tertentu
akan membeli atau memakai kembali produk tersebut di masa yang akan datang.
Untuk dapat melakukan hal tersebut pemakai harus mampu membedakan dengan
mudah antara-produki yang asli dengan produk-produk yang identik atau yang mirip.
Untuk memungkinkan satu perusahaan dapat membedakan dirinya dan produk
yang dimiliki terhadap apa yang dimiliki oleh para pesaingnya, maka merek menjadi
peran penting dalam pencitraan dan strategi pemasaran perusahaan, pemberian
kontribusi terhadap citra dan reputasi terhadap produk dari sebuah perusahaan di mata
konsumen. Citra dan reputasi perusahaan untuk menciptakan kepercayaan merupakan
dasar untuk mendapatkan pembeli yang setia dan meningkatkan nama baik
perusahaan. Konsumen sering memakai faktor emosional pada merek tertentu,

2
berdasarkan serentetan kualitas yang diinginkan atau fitur-fitur yang terwujud dalam
produk-produk yang dimiliki merek tersebut, contoh : Mobil Toyota yang merupakan
top best seller selama satu dasawarsa terakhir ini di Indonesia telah mempunyai
reputasi yang legendaris sebagai mobil yang tahan segala kondisi dan cuaca serta suku
cadang yang murah dan mudah terjangkau.
Merek juga dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan untuk berinvestasi
dalam memelihara dan meningkatkan kualitas produk yang mereka miliki guna
menjamin bahwa merek produk yang mereka miliki memiliki reputasi yang baik. Hal
ini terbukti bahwa beberapa merek terkenal, seperti : sepatu dan sandal Pakalolo yang
mempunyai kualitas yang bagus senantiasa berinvestasi dan mengembangkan produk
mereka dengan berbagai model dan inovasi yang mutakhir sehingga masyarakat sudah
meyakini kualitas dari Pakalolo.
Walaupun sebagian besar pelaku bisnis menyadari pentingnya penggunaan
merek untuk membedakan produk yang mereka miliki dengan produk para pesaing
mereka, tapi tidak semua dari mereka yang menyadari mengenai pentingnya
perlindungan merek melalui pendaftaran. Dalam banyak kejadian, merek yang
terdaftar dan dengan memiliki reputasi yang baik pada konsumen, juga dipergunakan
untuk mendapatkan dana, dari institusi keuangan yang menyadari arti pentingnya
sebuah merek dalam sukses-nya bisnis sebuah usaha pendaftaran, menurut Undang-
Undang Merek memberikan hak eksklusif kepada perusahaan pemilik merek guna
mencegah pihak-pihak lain untuk memasarkan produk-produk yang identik atau mirip
dengan merek yang dimiliki oleh perusahaan bersangkutan dengan menggunakan
merek yang sama atau merek yang dapat membingungkan konsumen.
Tanpa adanya pendaftaran merek, investasi yang dimiliki dalam memasarkan
sebuah produk dapat menjadi sesuatu yang sia-sia karena perusahaan pesaing dapat
memanfaatkan merek yang sama atau merek yang mirip tersebut untuk membuat atau
memasarkan produk yang identik atau produk yang mirip. Jika seorang pesaing
menggunakan merek yang identik atau mirip, pelanggan dapat menjadi bingung
sehingga membeli produk pesaingnya tersebut yang dikiranya produk dari perusahan
sebenarnya.
Hal ini tidak saja mengurangi keuntungan perusahaan dan membuat bingung
pelanggannya, tetapi dapat juga merusak reputasi dan citra perusahaan yang
bersangkutan, khususnya jika produk pesaing kualitasnya lebih rendah. Mengingat
nilai dari merek dan peran yang dimiliki oleh sebuah merek dalam menentukan
suksesnya sebuah produk di pasar, maka perlu dipastikan bahwa merek tersebut sudah
terdaftar, guna mendapat perlindungan dalam pasar yang bersangkutan.
Dalam kegiatan perekonomian, kadang bisa saja terjadi jika merek yang telah
terdaftar ternyata tidak pernah digunakan dalam kegiatan perdagangan. Merek yang
tidak pernah digunakan tersebut biasanya dikenal dengan merek non use.4 Merek non
use merupakan penyimpangan terhadap definisi merek karena dapat diartikan dengan
merek yang tidak lagi sebagai satu kesatuan yang utuh akibat tidak dipergunakannya
merek tersebut dalam perdagangan barang dan jasa meskipun merek tersebut sudah
didaftarkan dalam Daftar Umum Merek serta telah diberikan hak atas merek tersebut.
Jika pemilik merek tidak memenuhi unsur adanya penggunaan merek baik digunakan
oleh dirinya sendiri atau penggunaannya diberikan kepada orang lain dengan izin,
maka hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek dapat
dimintakan penghapusan merek. Pengertian adanya pelanggaran hak atas merek yang
disebabkan oleh adanya merek non use adalah pelanggaran terhadap kewajiban yang
dimiliki pemilik merek untuk menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan
izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Permasalahan yang cukup penting

3
dalam merek non use adalah adanya itikad tidak baik dari pemegang merek non use
untuk merugikan konsumen maupun menyesatkan pihak lain. Undang-Undang Merek
menyatakan bahwa merek tidak dapat didaftarkan atas dasar permohonan yang
diajukan oleh pemohon yang tidak beritikad baik.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis akan meninjau
permasalahan merek dalam sebuah makalah mengenai hak merek.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana syarat dan tata cara pengajuan permohonan Merk ?
2. Bagaimana upaya negara untuk memberikan perlindungan hukum bagi pemegang
Merk Terkenal?
3. Bagaimana menentukan suatu merek yang tidak dapat didaftarkan dan ditolak
dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa ?
4. Lama perlindungan hak merek dan sanksi pelanggaran hak merek.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tata cara pengajuan permohonan hak merek.
2. Untuk mengetahui peraturan hukum mengenai hak merek.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Hak Merek


Terkait dengan berbagai kasus merek yang terjadi perlu untuk diketahui apa
pengertian dari merek itu sendiri. Pengertian dari merek secara yuridis tercantum
dalam pasal 1 ayat (1) UU No. 15 tahun 2001 yang berbunyi :
“Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-
angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya
pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa”.
Selain menurut batasan juridis beberapa sarjana ada juga memberikan
pendapatnya tentang merek, yaitu:
1. Rumusan dari H.M.N. Purwo Sutjipto, S.H., bahwa merek adalah suatu tanda,
dengan mana suatu benda tertentu dipribadikan, sehingga dapat dibedakan dengan
benda lain yang sejenis.
2. Rumusan dari Prof. R. Soekardono, S.H., bahwa merek adalah sebuah tanda (Jawa:
siri atau tengger) dengan mana dipribadikan sebuah barang tertentu, di mana perlu
juga dipribadikan asalnya barang atau menjamin kualitas barang dalam
perbandingan dengan barang-barang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh
orang-orang atau badan-badan perusahaan lain.
3. Essel R. Dillavou, Sarjana Amerika Serikat, sebagaimana dikutip oleh Pratasius
Daritan, merumuskan seraya memberikan komentar bahwa tidak ada definisi yang
lengkap yang dapat diberikan untuk suatu merek dagang.
Pengertian secara umum adalah suatu lambang, simbol, tanda, perkataan atau
susunan kata-kata di dalam bentuk suatu etiket yang dikutip dan dipakai oleh seorang
pengusaha atau distributor untuk menandakan barang-barang khususnya, dan tidak
ada orang lain mempunyai hak sah untuk memakainya desain atau trade
mark menunjukkan keaslian tetapi sekarang itu dipakai sebagai suatu mekanisme
periklanan.
Indonesia adalah negara hukum dan hal itu diwujudkan dengan berbagai
regulasi yang telah dilahirkan untuk mengatai berbagai masalah. Berkaitan dengan
kasus-kasus terkait merek yang banyak terjadi. Tidak hanya membuat aturan-aturan
dalam negeri, negeri seribu ini juga ikut serta dalam berbagai perjanjain dan
kesepakatan internasional. Salah satuya adalah meratifikasi Kovensi Internasional
tentang TRIPs dan WTO yang telah diundangkan dalam UU Nomor 7 Tahun
1994 Tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) sesuai dengan
kesepakatan internasional bahwa pada tanggal 1 Januari 2000 Indonesia sudah harus
menerapkan semua perjanjian-perjanjian yang ada dalam kerangka TRIPs (Trade
Related Aspects of Intellectual Property Right, Inculding Trade in Counterfeit Good),
penerapan semua ketentuan-ketentuan yang ada dalam TRIPs tersebut adalah
merupakan konsekuensi Negara Indonesia sebagai anggota dari WTO (Word Trade
Organization).
Pada tahun 1961 Indonesia mempunyai Undang-undang baru mengenai merek
perusahaan dan perniagaan LN. No. 290 Tahun 1961 dengan 24 pasal dan tidak
mencantumkan sanksi pidana terhadap pelanggaran merek. Dengan meningkatnya
perdagangan dan industri serta terbukanya sistem ekonomi yang dianut Indonesia
maka lahir berbagai kasus merek. Perkembangan sengketa merek di dunia semakin
ramai yang khususnya menyerang pemilik merek terkenal yang menimbulkan konflik
dengan pengusaha lokal, berbagai alasan yang menyebabkannya diantaranya :

5
1. Terbukanya sistem ekonomi nasional, sehingga pengusaha nasional dapat
mengetahui dan memanfaatkan merek-merek terkenal untuk digunakan dan
didaftar lebih dulu di Indonesia demi kepentingan usahanya.
2. Pemilik merek terkenal belum atau tidak mendaftarkan dan menggunakan
mereknya di Indonesia.
Banyaknya sengketa merek maka pada tahun 1987 pemerintah menetapkan
Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. M.01-HC.01.01 Tahun 1987
tentang “Penolakan Permohonan Pendaftaran Merek yang mempunyai Persamaan
dengan Merek Terkenal Orang lain”. Dengan adanya aturan tersebut maka banyak
sekali pemilik merek terkenal yang mengajukan gugatan pembatalan mereknya dan
banyak pula perpanjangan merek yang ditolak oleh kantor merek dikarenakan
mempergunakan merek orang lain. Keputusan tersebut kemudian direvisi dengan
Keputusan Menteri Kehakiman No. M.03-HC.02.01 untuk lebih memberikan
perlindungan terhadap pemilik merek-merek terkenal.
Selama masa berlakunya UU No. 21 Tahun 1961, banyak sekali
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam dunia perdagangan, dimana norma
dan tatanan dagang telah berkembang dan berubah dengan cepat, hal tersebut
menyebabkan konsepsi yang tertuang dalam Undang-undang merek Tahun 1961
sudah sangat tertinggal jauh sekali. Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut
maka pemerintah pada waktu itu mengeluarkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang
merek (LN. No.81 Tahun 1992) sebagai pengganti UU No.21 tahun 1961.

2.2. Perlindungan Hukum Bagi Merk


Sebagaimana diketahui, bahwa perlindungan merek di Indonesia, semula
diatur dalam Reglement Industriele Eigendom Kolonien 1912, yang kemudian
diperbaharui dan diganti dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1961 tentang
Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan (disebut pula Undang-Undang Merek
1961). Adapun pertimbangan lahirnya Undang-Undang Merek 1961 ini adalah untuk
melindungi khalayak ramai dari tiruan barang-barang yang memakai suatu merek
yang sudah dikenalnya sebagai merek barang-barang yang bermutu baik. Selain itu,
Undang-Undang Merek 1961 juga bermaksud melindungi pemakai pertama dari suatu
merek di Indonesia.
Selanjutnya, pengaturan hukum merek yang terdapat dalam Undang-Undang
Merek 1961, diperbaharui dan diganti lagi dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun
1992 tentang Merek (selanjutnya disebut Undang-undang Merek 1992), yang mulai
berlaku sejak tanggal 1 April 1993. Dengan berlakunya Undang-undang Merek 1992,
Undang-undang Merek 1961 dinyatakan tidak berlaku lagi. Pada prinsipnya Undang-
Undang Merek 1991 telah melakukan penyempurnaan dan perubahan terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan merek, guna disesuaikan dengan Paris convention.
Undang-undang Nomor 19 Tahun 1992, disempurnakan lagi dengan Undang-
undang Nomor 14 Tahun 1997. Penyempurnaan undang-undang terus dilakukan,
hingga sekarang diberlakukan Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Tahun
4131), yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Agustus 2001.
Untuk lebih mengetahui tentang merk itu, maka penulis menyajikan teori
pengertian merek dari yakni :
1. Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 Merek
adalah Tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,

6
susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya
pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
2. Menurut Philip Kotler (2000 : 404), menyatakan bahwa: “Merek adalah tanda
yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau
kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan
dalam kegiatan perdagangan dan jasa.”
3. Adapun pengertian merk menurut Djaslim Saladin (2003 : 84), menyatakan
bahwa: “Merk adalah suatu nama, istilah, tanda, lambang atau desain, atau
gabungan semua yang diharapkan mengidentifikasikan barang atau jasa dari
seorang penjual atau sekelompok penjual, dan diharapkan akan membedakan
barang atau jasa dari produk pesaing.”
4. Selanjutnya menurut DR. Buchori Alma (2000:105) : “Merek adalah tanda atau
simbol yang memberikan identitas suatu barang atau jasa tertentu yang dapat
berupa kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya.”

Menurut Kotler (2000:404) ada enam pengertian yang dapat disampaikan


melalui suatu merek :
1. Atribut
Sebuah merek menyampaikan atrribut-atribut tertentu.
2. Manfaat
Ada manfaat yang bisa diambil dari merek tersebut yang akan dikembangkan
menjadi manfaat fungsional atau emosional.
3. Nilai
Merek menunjukan nilai produsen.
a. Budaya
Merek menunjukan budaya tertentu.
b. Kepribadian
Merek mencerminkan kepribadian tertentu. Jika merek merupakan orang,
binatang, atau suatu obyek.
c. Pemakai
Merk menunjukan jenis konsumen yang membeli atau yang menggunakan
produk tersebut.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa semua definisi mempunyai


pengertian yang sama mengenai merek yakni salah satu atribut yang penting dari
sebuah produk, dimana merek suatu produk dapat memberikan nilai tambah bagi
produk tersebut. Merek tidak hanya sebuah nama bagi produk, tetapi lebih dari itu
merupakan identitas untuk membedakan dari produk-produk yang dihasilkan dari
perusahaan lain. Dengan identitas khusus, produk tertentu akan lebih mudah dikenali
oleh konsumen dan pada gilirannya tentu akan memudahkan pada saat pembelian
ulang produk tersebut. Pada dasarnya merek terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang
dapat diucapkan yaitu nama merek, dan bagian yang dapat dikenali tetapi tidak dapat
diucapkan yaitu tanda merek.

Menurut Djaslim Saladin (2003 : 84) ada empat bagian merek :


1. Nama merek (brand name), adalah sebagian dari merek dan yang dapat
diucapkan.
2. Tanda merek (brand sign), adalah sebagian dari merek yang dapat dikenal
namun tidak dapat diucapkan, seperti misalnya lambang, desain, huruf, atau
warna khusus.

7
3. Tanda merek dagang (trade mark), adalah merek atau sebagian dari merek
yang dilindungi oleh hokum karena kemampuannya untuk menghasilkan
sesuatu yang istimewa. Tanda dagang ini melindungi penjualan dengan hak
istimewanya untuk menggunakan nama merek dan atau tanda merek.
4. Hak cipta (Copyright), adalah hak istimewa yang dilindungi oleh undang-
undang untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual karya tulis, karya
musik atau karya seni.

Merek yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat,
asosiasi merek yang tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan
kesetiaan konsumen terhadap merek yang tinggi. Dan Merk juga sangat
memungkinkan konsumen untuk mengatur dengan lebih baik pengalaman tempat
belanja mereka membantu mereka mencari dan menemukan keterangan produk.
Adapun fungsi merek adalah untuk membedakan kepentingan perusahaan, penawaran
dari semuanya.
Dengan adanya merk, dapatlah membuat produk yang satu beda dengan yang
lain sehingga diharapkan akan memudahkan konsumen dalam menentukan produk
yang akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai pertimbangan serta menimbulkan
kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyalty). Kesetiaan konsumen terhadap suatu
merek atau brand yaitu dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.

Merk dapat dipahami lebih dalam pada tiga hal berikut ini :
1. Contoh brand name (nama) : nintendo, aqua, bata, rinso, kfc, acer, windows,
toyota, zyrex, sugus, gery, bagus, mister baso, gucci, c59, dan lain sebagainya.
2. Contoh mark (simbol) : gambar atau simbol sayap pada motor honda, gambar
jendela pada windows, gambar kereta kuda pada california fried chicken (cfc),
simbol orang tua berjenggot pada brand orang tua (ot) dan kentucky friend
chicken (kfc), simbol bulatan hijau pada sony ericsson, dan masih banyak
contoh-contoh lainnya yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari.
3. Contoh trade character (karakter dagang) : ronald mcdonald pada restoran
mcdonalds, si domar pada indomaret, burung dan kucing pada produk
makanan gery, dan lain sebagainya.

2.3. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Merk


Jenis-jenis terdiri dari beberapa macam yakni :
1. Manufacturer Brand
Manufacturer brand atau merek perusahaan adalah merek yang dimiliki oleh
suatu perusahaan yang memproduksi produk atau jasa. Contohnya seperti soffel,
capilanos, ultraflu, so klin, philips, tessa, benq, faster, nintendo wii, vit,
vitacharm, vitacimin, dan lain-lain.
2. Private brand atau merek pribadi adalah merek yang dimiliki oleh distributor atau
pedagang dari produk atau jasa seperti zyrex ubud yang menjual laptop cloud
everex, hipermarket giant yang menjual kapas merek giant, carrefour yang
menjual produk elektrinik dengan merek bluesky, supermarket hero yang menjual
gula dengan merek hero, dan lain sebagainya.
Ada juga produk generik yang merupakan produk barang atau jasa yang
dipasarkan tanpa menggunakan merek atau identitas yang membedakan dengan
produk lain baik dari produsen maupun pedagang. Contoh seperti sayur-mayur,
minyak goreng curah, abu gosok, buah-buahan, gula pasir curah, bunga, tanaman, dan
lain sebagainya.

8
Merk terdiri dari 3 (Tiga) macam Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun
2001, yaitu :
a. Merk Dagang :
Merk yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan
dengan barang-barang sejenis lainnya.(Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2001 Tentang Merk)
b. Merk Jasa :
Merk yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan
dengan jasa-jasa sejenis lainnya. (Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2001 Tentang Merk)
c. Merk Kolektif :
Merk yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama
yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-
sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya. (Pasal 1
angka (4) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merk

2.4. Strategi Merek / Merk (Brand Strategies)


Produsen, distributor atau pedagang pengecer dapat melakukan strategi merek
sebagai berikut di bawah ini :
1. Individual Branding / Merek Individu
Individual branding adalah memberi merek berbeda pada produk baru seperti
pada deterjen surf dan rinso dari unilever untuk membidik segmen pasar yang
berbeda seperti halnya pada wings yang memproduksi deterjen merek so klin dan
daia untuk segmen pasar yang beda.
2. Family Branding / Merek Keluarga
Family branding adalah memberi merek yang sama pada beberapa produk dengan
alasan mendompleng merek yang sudah ada dan dikenal mesyarakat. Contoh
famili branding yakni seperti merek gery yang merupakan grup dari garudafood
yang mengeluarkan banyak produk berbeda dengan merek utama gery seperti
gery saluut, gery soes, gery toya toya, dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya
yaitu seperti motor suzuki yang mengeluarkan varian motor suzuki smash, suzuki
sky wave, suzuki spin, suzuki thunder, suzuki arashi, suzuki shodun ,suzuki
satria, dan lain-lain.

2.5. Syarat dan tata cara Permohonan Pendaftarana Merk


Ketentuan yang mengatur mengenai syarat dan tata cara Permohonan Merk
berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 diatur dalam :
1. Pasal 7 sampai dengan pasal 10 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001
2. Pasal 1 hingga Pasal 6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 1993 tentang tata cara Permintaan Pendaftaran Merk.

Tata cara pengajuan Merk yakni ;


1. Tata cara pengajuan permohonan
Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Direktorat
Merk dengan ketentuan:
a. Permohonan diajukan dengan menggunakan formulir yang bentuk dan
isinya seperti contoh yang dilampirkan pada Peraturan Pemerintah Republik

9
Indonesia No. 23 Tahun 1993 tentang Tata Cara Permintaan Pendaftaran
Merk.
b. Pengisian formulir Permohonan tersebut wajib dilakukan dalam rangkap
empat dengan mencantumkan:
c. Tanggal, bulan dan tahun
d. Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat Pemohon
Pemohon dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang secara bersama,
atau badan hukum.
Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dari satu Pemohon yang secara
bersama-sama berhak atas Merk tersebut, semua nama Pemohon
dicantumkan dengan memilih salah satu alamat sebagai alamat mereka.
e. Nama lengkap dan alamat kuasa apabila Permohonan diajukan melalui
Kuasa
f. Tempat tinggal Kuasa yang dipilih sebagai domisili hukumnya di
Indonesia, apabila Pemohon bertempat tinggal atau berkedudukan tetap
diluar Negara Republik Indonesia
g. Warna-warni apabila merk yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan
unsur-unsur warna
h. Jenis barang dan/atau jasa yang termasuk dalam kelas yang dimohonkan
pendaftarannya
Permohonan untuk dua kelas barang atau lebih dan/atau jasa dapat diajukan
dalam satu Permohonan.
i. Nama Negara dan tanggal permintaan merk yang pertama kali dalam hal
permohonan diajukan dengan hak Prioritas

2. Menandatangani Permohonan
a. Permohonan ditandatangani Pemohon atau Kuasanya, dengan ketentuan
dalam hal permohonan diajukan oleh lebih dari satu Pemohon yang secara
bersama-sama berhak atas Merk tersebut, Permohonan tersebut
ditandatangani oleh salah satu Pemohon yang berhak atas Merk tersebut
dengan melampirkan persetujuan tertulis dari para pemohon yang mewakili.
b. Dalam hal Permohonan tersebut diajukan melalui Kuasa (Konsultan Hak
Kekayaan Intelektual), Permohonan ditandatangani oleh Kuasa dengan
ketentuan:
 Surat Kuasa untuk itu ditandatangani oleh semua pihak yang berhak
atas Merk tersebut
 Jika penerima Kuasa lebih dari satu orang, dan dalam surat kuasa
tidak terdapat klausul “surat kuasa diberikan kepada kuasa-kuasa
tersebut untuk bertindak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-
sama”, menurut pendapat penulis, Permohonan harus ditandatangani
oleh semua penerima kuasa.

Syarat Permohonan
Setiap Permohonan wajib dilengkapi dengan:
1. Surat pernyataan pemilikan Merk
a. Tanda tangan dan isi
Surat pernyataan itu harus ditandatangani oleh pemilik merk dan bermeterei
cukup yang dengan jelas dan tegas menyebutkan bahwa:
 Merk yang dimohonkan pendaftaran adalah miliknya

10
 Merk yang dimohonkan pendaftaran tidak meniru merk orang lain baik
untuk keseluruhan maupun pada pokoknya.
b. Terjemahan
Apabila tidak menggunakan bahasa Indonesia, surat pernyataan itu harus
disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

2. Etiket Merk
Jumlah etika merk yang diperlukan adalah sebanyak dua puluh helai dengan
ketentuan:
a. Ukuran
Etiket itu berukuran maksimal 9X9 cm dan minimal 2X2 cm
b. Warna
Apabila etiket merk berwarna, harus disertai pula satu lembar etiket yang tidak
berwarna (hitam putih)
c. Terjemahan
Etiket merk yang yang menggunkan bahasa asing dan atau di dalamnya
terdapat huruf selain huruf latin atau angka yang tidak lazim digunakan dalam
bahasa indonesia wajib disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia, dalam
huruf lain, dan dalam angka yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia.

3. Akta pendirian badan hukum


Apabila pemohon adalah badan hukum Indonesia, dilengkapi:
a. Akta pendirian badan hukum yang termuat di dalam Tambahan Berita
Negara
b. Salinan yang sah akta pendirian badan hukum.

4. Surat Kuasa Khusus


Surat kuasa khusus diperlukan apabila permohonan diajukan melaui kuasa,
dengan ketentuan Surat Kuasa Khusus itu selain harus menyebutkan untuk
mengajukan Permohonan dengan menyebutkan Merknya.
Namun, Surat Kuasa Khusus ini mutlak diperlukan jika Permohonan diajukan
oleh Pemohon yang bertempat tinggal atau berkedudukan tetap di luar wilayah
Negara Republik Indonesia. Hal ini disebabkan, menurut ketentuan Pasal 10 ayat
(1) Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merk, Permohonan yang
diajukan oleh Pemohon yang disebutkan di atas wajib diajukan melalui kuasanya
di Indonesia.

5. Pembayaran biaya
Permohonan harus disertai pembayaran biaya dalam rangka Permohonan,
sesuai dengan jenis dan besar yang ditetapkan oleh Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia.

6. Bukti Penerimaan Permohonan


Apabila Permohonan diajukan dengan menggunakan hak prioritas,
Permohonan harus disertai bukti penerimaan Permohonan yang pertama kali yang
menimbulkan hak prioritas, dengan disertai terjemahannya dalam bahasa
Indonesia.

7. Salinan peraturan penggunaan merk koletif

11
Apabila merk yang dimohonkan pendaftaran akan digunakan sebagai merk
kolektif, Permohonan harus disertai salinan peraturan penggunaan merk kolektif,
dengan ketentuan salinan peraturan penggunaan merk yang tidak menggunakan
bahasa Indonesia harus disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

2.6. Ruang Lingkup Merk Yang Tidak Dapat Didaftarkan & Ditolak
Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 yakni :
1. Merek yang didaftarkan atas dasar Itikad Tidak Baik. (Pasal 4 Undang-undang
No. 15 tahun 2001 tentang Merk)
2. Merek yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku,
moralitas agama, kesusilaan, ketertiban umum; Tidak memiliki daya pembeda;
Telah menjadi milik umum; Merupakan keterangan yang berkaitan dengan
barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya. (Pasal 5 Undang-undang
No. 15 tahun 2001 tentang Merk)
3. Memiliki persamaan pada pokoknya/keseluruhan dengan merek milik pihak lain
yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis, Merk
yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa yang sejenis,
dan indikasi geografis yang sudah dikenal. (Pasal 6 ayat (1) Undang-undang No.
15 tahun 2001 tentang Merk)
4. Merek yang menyerupai nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum
yang dimiliki orang lain; Tiruan atau menyerupai nama atau singkatan sinkatan
nama, bendera, lambing atau symbol atau emblem Negara atau lembaga
nasional maupun internasional; Tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau
stempel resmi yang digunakan oleh Negara atau lembaga pemerintahan. (Pasal 6
ayat (3) Undang-undang No. 15 tahun 2001 tentang Merk)

2.7. Perlindungan Hukum bagi Pemegang Merk Terkenal


Menurut Sudikno Mertokusumo memberikan gambaran terhadap pengertian
Perlindungan hukum , yaitu segala upaya yang dilakukan untuk menjamin adanya
kepastian hukum yang didasarkan pada keseluruhan peraturan atau kaidah-kaidah
yang ada dalam suatu kehidupan bersama. Keseluruhan peraturan itu dapat dilihat
baik dari Undang-Undang maupun Ratifikasi Konvensi Internasional.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis beranggapan bahwa perlindungan hak
kekayaan intelektual khususnya terhadap Merk Terkenal bersifat preventif dan
repressif.
1. Perlindungan secara preventif dititkberatkan pada upaya untuk mencegah agar
merk terkenal tidak dapat dipakai oleh orang lain secara salah. Upaya itu dapat
berupa :
a. Penolakan pendaftaran oleh kantor Merk
b. Pembatalan Merk terdaftar yang melanggar hak merk orang lain. Akibat
kesalahan pendaftaran yang dilakukan oleh petugas kantor merk, suatu merk
yang seharusnya tidak dapat didaftar tetapi akhirnya didaftar dalam daftar
umum merk(DUM) yang mengesahkan merk tersebut. Padahal merk tersebut
jelas-jelas melanggar merk orang lain, karena berbagai hal antara lain mirip
atau sama dengan merk lain yang telah terdaftar sebelumnya.
2. Perlindungan secara Represif dititikberatkan pada pemberian hukuman kepada
barang siapa yang telah melakukan kejahatan dan pelanggaran merk sebagaimana
diatur dalam pasal 90, 91, 94 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merk.

12
BAB III
KESIMPULAN

Merek adalah salah satu atribut yang penting dari sebuah produk, dimana merek suatu
produk dapat memberikan nilai tambah bagi produk tersebut. Merek tidak hanya sebuah
nama bagi produk, tetapi lebih dari itu merupakan identitas untuk membedakan dari produk-
produk yang dihasilkan dari perusahaan lain. Dengan identitas khusus, produk tertentu akan
lebih mudah dikenali oleh konsumen dan pada gilirannya tentu akan memudahkan pada saat
pembelian ulang produk tersebut. Pada dasarnya merek terdiri dari dua bagian yaitu bagian
yang dapat diucapkan yaitu nama merek, dan bagian yang dapat dikenali tetapi tidak dapat
diucapkan yaitu tanda merek.
Kini masyarakat dalam melakukan pengajuan permohonan sudah tidak mengalami
kesulitan karena Pemerintah melalui DITJEN HKI telah banyak melakukan sosialisasi baik
lewat masmedia maupun forum-forum yang yang telah dibentuk. Sehingga akhirnya bagi
pemilik hak tersebut tidak usah khawatir akan adanya kerugian yang diakibatkan oleh oknum
yangtak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan kepopuleran merk suatu produk
tertentu.
Bahwa telah kita bahas dihalaman sebelumnya tentang upaya pemerintah melakukan
perlindungan terhadap pemilik hak merk sudah sangat ketat dengan melalui beberapa tahap
proses penyeleksian terhadap pendaftaran merk dan itu dibuktikannya dengan beberapa
undang-undang dan peraturan pemerintah Republik Indonesia yang selalu di perbaharui
seiring perkembangan dan semakin maraknya persaingan di dunia perdagangan baik nasional
maupun internasional. Sehingga dengan adanya beberapa regulasi tersebut dapat menekan
berbagai macam tindak kejahatan dibidang Hak Kekayaan Intelektual khususnya Merk.

13
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Kompilasi Peraturan Perundang-undangan tahun 2011, HKI


Sumber dari Internet, www. Google.com
Pendapat Prof. dr Sudikno Mertokusumo
Blog seperti http://www.mukahukum blogspot.com/2011/02/Perlindungan hukum terhadap
merk-merk.
Blog www.philipjusuf.com/2011/03/syarat dan tata cara permohonan pendaftaran Merk.

14