Anda di halaman 1dari 14

Korelasi Masyarakat yang Dinamis dan Kurikulum Pendidikan Indonesia

MAKALAH

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Pengantar Pendidikan
Yang Dibimbing Oleh Bapak Sopingi

Disusun Oleh:
S1 PENDIDIKAN BIOLOGI / OFFERING A

DEWI SAFITRI
160341606086

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Desember 2017
I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bicara soal pendidikan tidak akan pernah lepas dari peran seorang Ki Hajar Dewantara
dalam membangun dasar dan arah pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara mempertegas
peran semua aspek dalam meraih tujuan pendidikan di Indonesia serta hakikat dari pendidikan
itu sendiri. Tidak hanya pemerintah dan seorang pendidik yang memegang kendali terhadap
pendidikan seorang anak, namun seluruh aspek masyarakat berperan aktif dalam membentuk
pola lingkungan yang akan mendukung terwujudnya tujuan pendidikan. Hakikat pendidikan itu
sendiri adalah upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani seorang anak agar
dapat memajukan kualitas hidup, yaitu hidup dan menghidupkan yang selaras dengan alam dan
masyarakatnya. Sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa pendidikan sangat penting dan harus
menempati posisi utama dan menjadi langkah awal yang harus ditempuh dalam upaya perbaikan
kualitas seorang individu maupun demi kemajuan sebuah masyarakat.
Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang sistematis telah diamatkan oleh Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) bahwa salah satu arah kebijakan pembangunan pendidikan adalah
mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu
tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Dunia pendidikan merupakan upaya pencerahan peradaban
suatu masyarakat atau bangsa, kebutuhan dasar, dan usaha sadar untuk menyiapkan Sumber
Daya Manusia (SDM) yang berkualitas melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan
agar dapat mendukung peranannya dimasa yang akan datang.
Sementara itu, secara prakteknya, dunia pendidikan selalu dihadapkan pada masalah yang
kompleks, baik yang berkaitan dengan masalah infrastruktur maupun suprastruktur. Sebagai
contoh adalah perubahan kurikulum, anggaran dana pendidikan, profesionalisme tenaga
pendidik, dll. Persoalan tersebut selalu mengundang perdebatan dari tahun ke tahun dan layak
untuk menjadi pusat perbincangan mengingat keeratan hubungan pendidikan dengan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Jika dikaji lebih dalam, tanggapan masyarakatpun tentang dunia pendidikan cukup
beragam. Mulai dari antusiasme masyarakat tiap tahunnya dalam menyambut tahun ajaran baru
hingga mulai munculnya mosi tidak percaya terhadap system pendidikan yang telah ada. Bukti
antusiasme masyarakat dalam dunia pendidikan dapat terlihat saat ratusan bahkan ribuan calon
siswa ataupun mahasiswa menyerbu institusi pendidikan setiap tahun ajaran baru. Fenomena ini
akan terus meningkat mengingat terus bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya serta
semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan seorang anak.
Namun di sisi lain, kenyataan bahwa perkembangan dan perbaikan system pendidikan
yang dilakukan pemerintah menjadikan pendidikan menjadi sesuatu yang dapat dikatakan masih
labil. Perubahan yang kerap kali terjadi dalam kurikulum tidak serta merta dapat diterima oleh
masyarakat. Proses transisi seringkali menjadi masa kritis kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah. Penyebabnya tentu kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai urgensi dan
maksud dari perubahan itu sendiri.
Dua hal tersebut seolah menjadi dua mata koin yang saling berkebalikan namun
merupakan kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu, penulis ingin
mengkaji lebih dalam mengenai hubungan timbal balik antara kurikulum dan masyarakat.
2. Rumusan Masalah
Adapaun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
Bagaimanakah korelasi antara kurikulum dan masyarakat?
3. Tujuan
Adapaun tujuan dari makalah ini adalah mengetahui korelasi antara kurikulum dan
masyarakat.
II. ISI
1. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Indonesia
Kurikulum secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu Curir yang artinya
pelari dan Curare yang artinya tempat berpacu. Istilah kurikulum mengandung pengertian
suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis awal menuju garis akhir. Kurikulum
dalam bidang pendidikan memiliki makna seperangkat perencanaan yang dijadikan acuan
pendidikan untuk menjalankan proses pendidikan mulai dari awal hingga akhir (Hasan, 1986
: 176).
Schubert (1986, 31) menekankan bahwa pemahaman bahwa kurikulum memuat mata
pelajaran yang berhubungan dengan yang diajarkan ke kurikulum sebagai modal kecakapan
hidup. Kurikulum sebagai program kegiatan memiliki arti perencanaan ruang lingkup,
urutan, keseimbangan mata pelajaran, teknik mengajar, cara-cara memotivasi siswa, dan hal-
hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya dalam pembelajaran. Kurikulum sebagai hasil
belajar bertujuan untuk memberikan fokus hasil belajar yang dapat dipertanggungjawabkan
secara terbuka. Kurikulum sebagai reproduksi kebudayaan bertujuan mencapai tujuan
nasional dan membangun generasi yang mempunyai peradaban dan martabat yang tinggi.
Kurikulum sebagai tugas dan konsep yang merupakan interpretasi kecakapan hidup manusia.
Kurikulum bukan hanya mementingkan tujuan pendidikan saja tetapi juga pembelajaran dan
pengembangan kepribadian. Kurikulum penting untuk menunjukkan pemilihan dan
pengorganisasian substansi yang akan mencerminkan investasi dalam pola kegiatan
pembelajaran (Taba, 1962 : 6).
Kurikulum merupakan aturan dan cara yang di pakai oleh sebuah lembaga pendidikan
dengan tujuan untuk meningkatkan mutu dari pendidikan atau lembaga pendidikan.
Kurikulum di katakan penting dalam sebuah pendidikan karna keberhasilan sebuah
pendidikan untuk dapat mencetak output atau di sebut dengan peserta didik yang bermutu
dan baik sangat di tentukan oleh kualitas kurikulum sebuah pendidikan. Kurikulum dalam
Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 18
didefinisikan sebagai “…..seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Sejak awal kemerdekaan Indonesia, kurikulum pendidikan nasional telah berubah
hingga beberapa kali. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya
perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan
bernegara. Kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara
dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat (Darmaningtyas,
2012 : 216). Perubahan kurikulum di Indonesia lebih bersifat menyempurnakan terhadap
penerapan kurikulum sebelumnya berdasarkan hasil evaluasi dan penyesuaian dengan
tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Tahun 1947 istilah yang digunakan adalah kurikulum Leer Plan atau rencana
pembelajaran dan masih banyak dipengaruhi oleh system pendidikan Belanda. Kurikulum ini
mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran
dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan jasmani. Tahun
1952 muncul kurikulum dengan rencana pelajaran terurai yang mulai merinci setiap mata
pelajaran. Masa orde baru, kurikulum selalu mengalami perubahan hampir tiap dekade (10
Tahun). Tahun 1964 ditingkatkan lagi dengan pengantar dari rencana pendidikan, kurikulum
1968 untuk membentuk karakteristik indonesia berlandaskan pancasila, kurikulum 1975
ditekankan pada suatu pendekatan, 1984 kurikulumnya belajar siswa aktiv, 1994 guru
ditekankan harus mampu memilih dan mempergunakan satu strategi yang dapat melibatkan
murid untuk mempelajari secara mental, secara fisik, dan pada proses untuk menjadi secara
sosial aktif. Pasca reformasi (Mei 1998) muncul kurikulum baru bernama KBK tahun 2004
yang kemudian berkembang menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) tahun
2006 serta yang terakhir adalah kurikulum 2013 yang merupakan pengembangan lebih lanjut
dari KBK dan disiapkan untuk generasi emas Indonesia tahun 2045.
Pada dasarnya, perubahan kurikulum mutlak harus terjadi karena kurikulum berperan
sebagai landasan dalam menjalankan proses pendidikan. Kurikulum haruslah sesuai dengan
kondisi masyarakat saat itu namun juga beberapa langkah lebih maju agar dapat menjalankan
perannya sebagai acuan utama untuk mencapai tujuan pendidikan Indonesia.
2. Dampak Perubahan Kurikulum
Globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menyebabkan
perubahan dalam masyarakat terjadi sangat cepat akibat, sehingga sekolah sering tidak
sanggup mengikuti jejak kemajuan masyarakat. Akibatnya sekolah atau lembaga pendidikan
dicap sebagai konservatif (ketinggalan zaman). Oleh karena itulah, sekolah tidak boleh
seperti menara gading yang serba eksklusif. Ia harus terbuka oleh perkembangan zaman, dan
selalu menjemput bola liar peradaban yang terus bergerak maju itu. Perubahan yang
demikian cepat mengharuskan semua insan pendidikan berbenah diri untuk turut mengikuti
perkembangan itu. Tidak terkecuali keberadaan kurikulum pun akan mengalami
pembenahan. Jika tidak, mereka akan menjadi bulan bulanan zaman. Oleh karena itu,
lembaga pendidikan harus terus menerus meninjau kurikulum agar tetap relevan dengan
perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
Perubahan kurikulum yang kerap terjadi tentunya menimbulkan tanggapan yang
beragam dalam masyarakat Indonesia yang plural terutama pada masa awal peralihan
kurikulum. Perubahan kurikulum tidak hanya menyebabkan perubahan pada cara seorang
guru untuk mengajar peserta didiknya, namun juga berpengaruh terhadap materi yang akan
diajarkan di sekolah, system penilaian peserta didik, kompetensei dasar yang ingin dicapai,
dll.
Perubahan dalam pendidikan khususnya kurikulum adalah hal yang wajar. Perubahan
harus disertai dengan beberapa aspek seperti aspek kebutuhan bangsa, kebutuhan subyek
didik, kebutuhan lembaga yang mendidik atau pemerintah, kebutuhan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta kebutuhan teknologi dan pengajaran. Semua aspek harus merasa siap dan
mampu mengetahui titik tolak perubahan kurikulum dan menyesuakan diri dengan perubahan
tersebut. Salah satu wujud nyata upaya penyesuaian diri sebagai dampak perubahan tersebut
adalah adanya kegiatan workshop kurikulum yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan
sebagai upaya sosialisasi dan penyamarataan persepsi terhadap kurikulum yang baru
diterapkan.
Dampak perubahan kurikulum lain yang dirasakan oleh suatu instansi pendidikan bisa
berupa perubahan system penilaian, cara pengajaran, dll. Pendidik yang merupakan barisan
terdepan dalam upaya penyuksesan suatu kurikulum haruslah memiliki pemahaman yang
mendalam mengenai tujuan dari kurikulum itu sendiri. Pendidik haruslah memahami dengan
baik metode pembelajaran yang ingin diterapkan oleh pemerintah melalui kurikulum
tersebut. Tak hayal bila guru bisa dikatakan menjadi aspek terpenting dalam upaya mencapai
tujuan pendidikan melalui sebuah kurikulum.
Bagi siswa, perubahan kurikulum tentunya akan membawa dampak bagi mereka.
Dengan adanya kurikulum yang dinamis sesuai perkembangan zaman dan tuntutan masa
depan akan mempermudah siswa dalam upaya perbaikan diri menjadi Sumber Daya Manusia
(SDM) yang kompetitif mampu bersaing secara internasional. Dampak baiknya yaitu siswa
bisa belajar dengan mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju tapi didukung
dengan faktor-faktor seperti kepala sekolah, guru, tenaga pengajar, siswa didik bahkan
lembaga itu sendiri.
Dampak negatifnya adalah mutu pendidikan menurun dan perubahan kurikulum yang
begitu cepat menimbulkan masalah-masalah baru seperti menurunya prestasi siswa, hal ini
dikarenakan siswa yang belum dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada
kurikulum yang baru. Terkadang, tenaga pendidik yang kurang mampu memposisikan
dirinya dengan adanya kurikulum yang baru juga mmbawa pengaruh yang cukup besar bagi
tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
3. Peran Masyarakat dalam Pendidikan
Peningkatan mutu pendidikan, tidak dapat terlaksana tanpa adanya pemberian
kesempatan sebesar-besarnya pada sekolah yang merupakan ujung tombak terdepan untuk
terlibat aktif secara mandiri mengambil keputusan tentang pendidikan. Sekolah harus
menjadi bagian utama sedangkan masyarakat dituntut partisipasinya dalam peningkatan mutu
yang telah menjadi komitmen sekolah demi kemajuan masyarakat. Peningkatan mutu hanya
akan berhasil jika ditekankan adanya kemandirian dan kreativitas sekolah. Proses pendidikan
menyangkut berbagai hal diluar proses pembelajaran, seperti misalnya lingkungan sekolah
yang aman dan tertib, misi dan target mutu yang ingin dicapai setiap tahunnya,
kepemimpinan yang kuat, harapan yang tinggi dari warga sekolah untuk berprestasi,
pengembangan diri, evaluasi yang terus menerus, komunikasi dan dukungan intensif dari
pihak orang tua, masyarakat. Hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan
keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat baik dukungan moral
maupun finansial. Masyarakat di sini meliputi masyarakat setempat dimana sekolah itu
berada, orang tua murid, dan masyarakat pengguna pendidikan yang memiliki kepedulian
terhadap dunia pendidikan.
Dalam konsep pendidikan diperlukan kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang
dimulai dengan komunikasi. Dalam komunikasi satu sama lain diperlukan inisiatif dari kedua
belah pihak. Komunikasi interaktif diharapkan mampu menyampaikan pesan yang
berhubungan dengan kebutuhan belajar anak. Komunikasi yang interaktif perlu dilanjutkan
dengan tindakan partisipatif, yakni mengembangkan hubungan kerja sama sekolah, orangtua
dan masyarakat untuk menjadikan lingkungan kondusif dalam menunjang efektifitas proses
pembelajaran anak.
Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan
Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 14. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah
didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu
pendidikan. Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung
jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu
pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga
diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi
kemajuan suatu sekolah. Dengan demikian tujuan pembentukan Komite Sekolah dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalammelahirkan
kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan.
b. Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan di satuan pendidikan
c. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam
penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan
(Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Adapun fungsi Komite Sekolah, sebagai berikut:
a. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu.
b. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia usaha/dunia
industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
c. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan
yang diajukan oleh masyarakat.
d. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan
mengenai:
1. kebijakan dan program pendidikan
2. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS)
3. kriteria kinerja satuan pendidikan
4. kriteria tenaga kependidikan
5. kriteria fasilitas pendidikan, dan
6. hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan
e. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung
peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan
f. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di
satuan pendidikan.
g. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan
keluaran pendidikan di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Peran masyarakat. di sekolah adalah menerima pelayanan yang berkualitas melalui
siswa-siswa yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Mereka dapat berpartisipasi
dalam proses sekolah, mendidik siswa secara kooperatif, berusaha membantu perkembangan
yang sehat kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi,
mendukung dan melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis, meningkatkan
keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan
moral dan finansial dalam upaya adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. Secara
kontekstual menurut Kepmendiknas nomor: 044/U/2002 peran Komite Sekolah sebagai:
1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan
pendidikan di satuan pendidikan.
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun
tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan
Depdiknas dalam bukunya Partisipasi Masyarakat (2001:22), menguraikan tujuh
peranan Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni:
1. Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di
sekolah baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan
2. Melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha pemantapan sekolah
dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketakwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan berbangsa dan bernegara,
pendidikan pendahuluan bela negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan
kepemimpinan), keterampilan dan kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga,
daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni dan budaya
3. Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.
4. Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum, baik intra
maupun ekstrakurikuler dan pelaksanaan manajemen sekolah, kepala/wakil kepala
sekolah, guru, siswa, dan karyawan.
5. Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah.
6. Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Sekolah (RAPBS).
7. Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu.
Untuk mewujudkan upaya tersebut diperlukan paling tidak ada lima langkah dari
peran serta masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan antara lain adalah:
a. mengidentifikasi potensi masyarakat untuk berperan serta dalam pelaksanaan program
pendidikan.
b. membentuk organisasi peran serta masyarakat
c. menyusun program peran serta masyarakat
d. melaksanakan program peran serta masyarakat
e. mengevaluasi peran serta masyarakat
Dari paparan diatas dapat ditafsirkan bahwa peran Komite sekolah dalam peningkatan
mutu pendidikan meliputi :
a. Penyusunan Program yang meliputi :
1. Perencanaan sekolah.
2. Pelaksanaan program
3. Pengelolaan sumber daya pendidikan.
b. Pengelolaan yang meliputi :
1. Pengelolaan sumber daya
2. Pengelolaan sarana dan prasarana
3. Pengelolaan anggraran
c. Pengawasan yang meliputi :
1. Mengontrol perencanaan program sekolah
2. Memantau pelaksanaan program.
Dengan demikian peranan peranan Komite Sekolah sebagai wujud peran serta
masyarakat untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan baik
moral maupun financial mutlak diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Masyarakat yang dimaksud disini meliputi masyarakat setempat dimana sekolah itu berada,
orang tua murid, masyarakat pengguna pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap dunia
pendidikan.
4. Kurikulum dan Masyarakat yang Dinamis
Salah satu ciri masyarakat itu adalah dinamis. Kedinamisannya menuntut terus
berkembangnya peradaban. Masyarakat senantiasa berubah dan terus-menerus akan berubah.
Ilmu pengetahuan dan teknologi ialah daya-daya yang sangat mempercepat perubahan dalam
masyarakat, sehingga merupakan suatu revolusi. Perubahan teknologi dalam beberapa tahun
akhir-akhir ini saja lebih berat dan lebih banyak daripada yang pernah dialami nenek kita
sepanjang hidupnya. Segala perubahan itu sedikit banyak mempengaruhi cara hidup dan cara
berpikir manusia.
Masyarakat kita sekarang ini sangat dinamis dan senantiasa akan berubah.
Kurikulum, dengan demikian, harus elastis dan fleksibel mengikuti detik demi detik
perkembangan yang terus diusahakan oleh manusia itu. Kurikulum yang fleksibel penting
untuk menjaga kelangsungan manusia, sebab sifatnya yang fungsional dan mempersiapkan
anak untuk menghadapi masalah-masalah di dalam masyarakat tempat mereka hidup. Isi
kurikulum harus senantiasa dapat berubah sesuai dengan perubahan masyarakat. Karena
kurikulum harus dinamis dan ini hanya mungkin dengan bentuk kurikulum yang fleksibel,
yakni yang dapat diubah menurut kebutuhan dan keadaan. Dengan demikian kurikulum itu
cukup elastis, sehingga senantiasa terbuka untuk memberikan bahan pelajaran yang
penting dan perlu bagi murid-murid pada saat dan tempat tertentu. Karena kurikulum tidak
dapat ditentukan secara mutlak dan uniform untuk semua sekolah dalam bentuk suatu
rencana pelajaran terurai yang harus diikuti oleh guru hingga detail yang sekecil-kecilnya.
Kurikulum yang uniform mematikan inisiatif guru, mengekang kebebasannya dan
menutup kemungkinan untuk menyesuaikan kurikulum dengan keadaan masyarakat dan
kebutuhan murid-murid setempat. Kurikulum yang uniform juga bertentangan dengan prinsip
untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individual. Keadaan dan kebutuhan yang
serba ragam di berbagai daerah di Tanah Air kita memerlukan kurikulum yang fleksibel,
sehingga keperluan-keperluan masyarakat itu dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
Hanya dengan jalan demikian sekolah dapat memberikan pendidikan yang fungsional,
sehinggga anak-anak benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi masalah-masalah di dalam
masyarakat tempat ia hidup.
III. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kurikulum memiliki makna seperangkat perencanaan yang dijadikan acuan
pendidikan untuk menjalankan proses pendidikan mulai dari awal hingga akhir. Sejak
awal kemerdekaan Indonesia, kurikulum pendidikan nasional telah berubah hingga
beberapa kali. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya
perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa
dan bernegara. Kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan
secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Perubahan dalam pendidikan khususnya kurikulum adalah hal yang wajar.
Perubahan harus disertai dengan beberapa aspek seperti aspek kebutuhan bangsa,
kebutuhan subyek didik, kebutuhan lembaga yang mendidik atau pemerintah, kebutuhan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan teknologi dan pengajaran. Semua aspek
harus merasa siap dan mampu mengetahui titik tolak perubahan kurikulum dan
menyesuakan diri dengan perubahan tersebut. Masyarakat kita sekarang ini sangat
dinamis dan senantiasa akan berubah. Kurikulum, dengan demikian, harus elastis dan
fleksibel mengikuti detik demi detik perkembangan yang terus diusahakan oleh manusia
itu. Kurikulum yang fleksibel penting untuk menjaga kelangsungan manusia, sebab
sifatnya yang fungsional dan mempersiapkan anak untuk menghadapi masalah-masalah
di dalam masyarakat tempat mereka hidup. Isi kurikulum harus senantiasa dapat berubah
sesuai dengan perubahan masyarakat.
2. Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya masih terdapat banyak sekali kesalahan
dan kekurangan terutama dalam penyajian informasi dan pengolahan kata. Sehingga
saran yang dapat diberikan untuk penulisan makalah selanjutnya adalah perlunya
pengkajian literature secara lebih luas dan lebih mendalam mengenai masalah yang
sedang diangkat agar memperoleh data yang lengkap. Dan juga diperlukan banyak
membaca contoh makalah lain dan latihan menulis agar kekurangan dalam pengolahan
kata dapat diminimalisir.
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1997. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta.


Hasan, S.H. 1988. Evaluasi Kurikulum. Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek
Pengembangan Lembaga Penddikan dan Tenaga Kependidikan.
PP Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan yang dikeluarkan oleh
Presiden RI.
Schubert, William H. 1986. Curriculum : Perspective, Paradigm and Possibility. New York :
Mcmillan Publishing Company
Surahmad, Winarno. 1997. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud
Taba, Hilda. 1962. Curriculum Development : Theory and Practice. New York : Harcourt,
Brace Word, Inc.
Nasution, S. 2003. Asas-asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.
Warsiman. 2013. Kurikulum dan Masyarakat. Sidoarjo. Makalah Seminar Nasional.
”Imlementasi Kurikulum 2013: antara Tantangan dan Harapan”. Bojonegoro.