Anda di halaman 1dari 14

Mekanisme Pembentukan Urin

1. Penyaringan ( Filtrasi )
Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan
struktur spesifik dibuat untuk menahan komonen selular dan medium-
molekular-protein besar kedalam vascular sistem, menekan cairan yang identik
dengan plasma di elektrolitnya dan komposisi air. Cairan ini disebut filtrate
glomerular. Tumpukan glomerulus tersusun dari jaringan kapiler. Pada mamalia,
arteri renal terkirim dari arteriol afferent dan melanjut sebagai arteriol eferen
yang meninggalkan glomrerulus. Tumpukan glomerulus dibungkus didalam
lapisan sel epithelium yang disebut kapsula bowman. Area antara glomerulus
dan kapsula bowman disebut bowman space dan merupakan bagian yang
mengumpulkan filtrate glomerular, yang menyalurkan ke segmen pertama dari
tubulus proksimal. Struktur kapiler glomerular terdiri atas 3 lapisan yaitu :
endothelium capiler, membrane dasar, epiutelium visceral. Endothelium kapiler
terdiri satu lapisan sel yang perpanjangan sitoplasmik yang ditembus oleh
jendela atau fenestrate (Guyton.1996).
Dinding kapiler glomerular membuat rintangan untuk pergerakan air
dan solute menyebrangi kapiler glomerular. Tekanan hidrostatik darah didalam
kapiler dan tekanan oncotik dari cairan di dalam bowman space merupakan
kekuatn untuk proses filtrasi. Normalnya tekanan oncotik di bowman space tidak
ada karena molekul protein yang medium-besar tidak tersaring. Rintangan untuk
filtrasi (filtration barrier) bersifat selektiv permeable. Normalnya komponen
seluler dan protein plasmatetap didalam darah, sedangkan air dan larutan akan
bebas tersaring (Guyton.1996).
Pada umunya molekul dengan raidus 4nm atau lebih tidak tersaring,
sebaliknya molekul 2 nm atau kurang akan tersaring tanpa batasan.
Bagaimanapun karakteristik juga mempengaruhi kemampuan dari komponen
darah untuk menyebrangi filtrasi. Selain itu beban listirk (electric charged) dari
sretiap molekul juga mempengaruhi filtrasi. Kation (positive) lebih mudah
tersaring dari pada anion. Bahan-bahan kecil yang dapat terlarut dalam plasma,
seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain,
dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan
di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa
dengan darah tetapi tidak mengandung protein (Guyton.1996).

2. Penyerapan ( Absorbsi)
Tubulus proksimal bertanggung jawab terhadap reabsorbsi bagian
terbesar dari filtered solute. Kecepatan dan kemampuan reabsorbsi dan sekresi
dari tubulus renal tiak sama. Pada umumnya pada tubulus proksimal
bertanggung jawab untuk mereabsorbsi ultrafiltrate lebih luas dari tubulus yang
lain. Paling tidak 60% kandungan yang tersaring di reabsorbsi sebelum cairan
1
meninggalkan tubulus proksimal. Tubulus proksimal tersusun dan mempunyai
hubungan dengan kapiler peritubular yang memfasilitasi pergherakan dari
komponen cairan tubulus melalui 2 jalur : jalur transeluler dan jalur paraseluler.
Jalur transeluler, kandungan dibawa oleh sel dari cairn tubulus melewati epical
membrane plasma dan dilepaskan ke cairan interstisial dibagian darah dari sel,
melewati basolateral membrane plasma (Sherwood, 2001).
Jalur paraseluler, kandungan yang tereabsorbsi melewati jalur
paraseluler bergerakdari vcairan tubulus menuju zonula ocludens yang
merupakan struktur permeable yang mendempet sel tubulus proksimal satu
daln lainnya. Paraselluler transport terjadi dari difusi pasif. Di tubulus proksimal
terjadi transport Na melalui Na, K pump. Di kondisi optimal, Na, K, ATPase pump
menekan tiga ion Na kedalam cairan interstisial dan mengeluarkan 2 ion K ke sel,
sehingga konsentrasi Na di sel berkurang dan konsentrasi K di sel bertambah.
Selanjutnya disebelah luar difusi K melalui canal K membuat sel polar. Jadi
interior sel bersifat negative . pergerakan Na melewati sel apical difasilitasi
spesifik transporters yang berada di membrane. Pergerakan Na melewati
transporter ini berpasangan dengan larutan lainnya dalam satu pimpinan
sebagai Na (contransport) atau berlawanan pimpinan (countertransport).
(Sherwood, 2001).
Substansi diangkut dari tubulus proksimal ke sel melalui mekanisme ini
(secondary active transport) termasuk gluukosa, asam amino, fosfat, sulfat,
dan organic anion. Pengambilan active substansi ini menambah konsentrasi
intraseluler dan membuat substansi melewati membrane plasma basolateral
dan kedarah melalui pasif atau difusi terfasilitasi. Reabsorbsi dari bikarbonat
oleh tubulus proksimal juga di pengaruhi gradient Na. (Sherwood, 2001)

3. Penyerapan Kembali ( Reabsorbsi )


Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu,
99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus
proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus
kontortus distal. Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada
filtrate dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari
178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini
direabsorbsi beberapa kali. (Sherwood.2001)
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin
sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin
sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya,
konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya
ureum dari 0,03′, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap
2
melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air
terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal (Sherwood.2001).

4. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai
terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter
adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen
empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. Zat sisa metabolisme
adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini
sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20,
NHS, zat warna empedu, dan asam urat (Cuningham, 2002).
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran
zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa
tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa
zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan
PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai
kebutuhan, misalnya sebagai pelarut (Sherwood.2001).
Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan
zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh.
Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan
dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna
empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh
hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi
urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat
merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan
amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena
daya larutnya di dalam air rendah (Sherwood.2001).

Inkontinesia Urine
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan air kencing.
Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit yang sering
ditemukan pada pasien geriatri. Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin
berkisar antara 15–30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri
yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan
bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun.

Klasifikasi Inkontinensia Urin


Inkontinensia urin diklasifikasikan :
1. Inkontinensia Urin Akut Reversibel
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat
pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi
3
maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang
menghambat mobilisasi pasien dapat memicu timbulnya inkontinensia urin
fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti fraktur tulang
pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.
Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula
menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra
(vaginitis dan urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi
juga sering menyebabkan inkontinensia akut.
Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya
inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan
insufisiensi vena dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian
mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam obat
juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium Channel
Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik, antikolinergik
dan diuretic.
Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut
reversible dapat dilihat akronim di bawah ini :
D --> Delirium
R --> Restriksi mobilitas, retensi urin
I --> Infeksi, inflamasi, Impaksi
P --> Poliuria, pharmasi

2. Inkontinensia Urin Persisten


Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara,
meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis,
klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan
intervensi klinis.

Kategori klinis meliputi :


a. Inkontinensia urin stress (stres inkontinence)
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal,
seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya disebabkan oleh
melemahnya otot dasar panggul, merupakan penyebab tersering inkontinensia
urin pada lansia di bawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi
mungkin terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah
pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan urin
pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang keluar dapat sedikit atau
banyak.

b. Inkontinensia urin urgensi (urgency inkontinence)

4
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan
berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi
detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis
sering dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit
Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup
waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk berkemih sehingga
timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini merupakan
penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi
inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang
terganggu. Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat
mengosongkan kandung kemih sama sekali. Mereka memiliki gejala seperti
inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi. Oleh karena itu perlu untuk
mengenali kondisi tersebut karena dapat menyerupai ikontinensia urin tipe lain
sehingga penanganannya tidak tepat.

c. Inkontinensia urin luapan / overflow (overflow incontinence)


Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung kemih
yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis, seperti
pembesaran prostat, faktor neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis
multiple, yang menyebabkan berkurang atau tidak berkontraksinya kandung
kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh keluarnya
sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.

d. Inkontinensia urin fungsional


Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin
akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia
berat, masalah muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan
kesulitan untuk pergi ke kamar mandi, dan faktor psikologis.

Seringkali inkontinensia urin pada lansia muncul dengan berbagai gejala dan
gambaran urodinamik lebih dari satu tipe inkontinensia urin. Penatalaksanaan
yang tepat memerlukan identifikasi semua komponen.

Evaluasi Inkontinensia Urin


Tujuan evaluasi awal adalah untuk memastikan adanya inkontinensia urin dan
mengenali penyebab-penyebab yang bersifat sementara, pasien yang perlu
dievaluasi lebih lanjut, dan pasien yang bisa memulai pengobatan tanpa
memerlukan uji-uji yang canggih.

Riwayat Penyakit

5
Riwayat penyakit harus menekankan pada gejala yang muncul secara rinci agar
dapat ditentukan tipe inkontinensia, patofisiologi dan faktor-faktor pemicu.

a. Lama dan karakteristik inkontinensia urin


 Waktu dan jumlah urin pada saat mengalami inkontinensia urin dan
saat kering (kontinen)
 Asupan cairan, jenis (kopi, cola, teh) dan jumlahnya.
 Gejala lain seperti nokturia, disuria, frekwensi, hematuria dan nyeri.
 Kejadian yang menyertai seperti batuk, operasi, diabetes, obat-obatan.
 Perubahan fungsi usus besar atau kandung kemih.
 Penggunaan Pad atau Modalitas lainnya.

b. Pengobatan inkontinensia urin sebelumnya dan hasilnya


Riwayat medis harus memperhatikan masalah-masalah seperti diabetes, gagal
jantung, insufisiensi vena, kanker, masalah neurologis, stroke dan penyakit
Parkinson. Termasuk di dalamnya riwayat sistem urogenital seperti
pembedahan abdominal dan pelvis, melahirkan, atau infeksi saluran kemih.
Evaluasi obat-obatan baik yang dibeli dengan resep maupun dibeli bebas juga
penting dilakukan. Beragam obat dikaitkan dengan inkontinensia urin seperti
hipnotik sedatif, diuretik, antikolinergik, adrenergik dan calcium channel
blocker. Biasanya ada hubungan dengan waktu antara penggunaan obat-obatan
dengan awitan inkontinensia urin atau memburuknya inkontinensia yang sudah
kronik.

Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin
dan membantu menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan fisik umum
yang selalu harus dilakukan, pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum,
fungsi neurologis, dan pelvis (pada wanita) sangat diperlukan.
 Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang
penuh, rasa nyeri, massa, atau riwayat pembedahan.
 Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi ketika
memeriksa genitalia.
 Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya
obstipasi atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan
refleks bulbokavernosus. Nodul prostat dapat dikenali pada saat
pemeriksaan rectum.
 Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi,
massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau rektokel.
 Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika
pemeriksan sensasi perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus.
6
Pemeriksaan neurologis juga perlu mengevaluasi penyakit-penyakit
yang dapat diobati seperti kompresi medula spinalis dan penyakit
parkinson.

Pemeriksaan fisik seyogyanya juga meliputi pengkajian tehadap status


fungsional dan kognitif, memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan
untuk berkemih dan mengunakan toilet.

Pemeriksaan Pada Inkontinensia Urin


1. Tes diagnostik pada inkontinensia urin
Menurut Ouslander, tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia,
mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.
Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara :
Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur
atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti
pengosongan kandung kemih tidak adekuat.
Urinalisis
Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor
yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri,
bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan
bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah :
 Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen,
creatinin, kalsium glukosa sitologi.
 Tes urodinamik --> untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran
kemih bagian bawah
 Tes tekanan urethra --> mengukur tekanan di dalam urethra saat
istirahat dan saat dianmis.
 Imaging --> tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.

2. Pemeriksaan penunjang
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal.
Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis.
Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi
urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan.
Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada
desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa
dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat.
Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan
berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan
kapasitas kandung kemih.
7
3. Laboratorium
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk
menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.

4. Catatan berkemih (voiding record)


Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan ini
digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia
urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala berkaitan dengan inkontinensia
urin. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan
tersebut dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan juga dapat dipakai
sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor-faktor
yang memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.

Penatalaksanaan

Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan
tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif.
Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain
itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.

Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi faktor


resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin,
modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.

Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Pemanfaatan kartu catatan berkemih
Yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang
keluar, baik yang keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan,
selain itu dicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang diminum.

2. Terapi non farmakologi


Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya
inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik,
gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah :
 Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu
berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi
berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan
untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk
berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam,
selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih
setiap 2-3 jam.
8
 Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan
sesuai dengan kebiasaan lansia.
 Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal
kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau
pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia
dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir).
 Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot
dasar panggul secara berulang-ulang. Adapun cara-cara
mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan cara :
 Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka,
kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri ± 10 kali, ke depan
ke belakang ± 10 kali, dan berputar searah dan berlawanan dengan
jarum jam ± 10 kali.
 Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar
dilakukan ± 10 kali.
Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat
tertutup dengan baik.

3. Terapi farmakologi
 Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah
antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate,
Imipramine.
 Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu
pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
 Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau
alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan
terapi diberikan secara singkat.

4. Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila
terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe
overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan
retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia
prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita).
5.Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan
inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang
mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat
bantu toilet seperti urinal, komod dan bedpan.

9
Pampers
Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi dimana pengobatan
sudah tidak berhasil mengatasi inkontinensia urin. Namun pemasangan
pampers juga dapat menimbulkan masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni
melebihi daya tampung pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit
menjadi lembab, selain itu dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan
alergi.
Kateter
Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karena dapat
menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukan batu. Selain
kateter menetap, terdapat kateter sementara yang merupakan alat yang secara
rutin digunakan untuk mengosongkan kandung kemih. Teknik ini digunakan
pada pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini
juga beresiko menimbulkan infeksi pada saluran kemih.
Alat bantu toilet
Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjut yang
tidak mampu bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebut akan
menolong lansia terhindar dari jatuh serta membantu memberikan kemandirian
pada lansia dalam menggunakan toilet.

Diferensial Diagnosa BPH


Oleh karena sebenarnya proses miksi tergantung pada beberapa faktor
diantaranya, yaitu :

1. Kekuatan otot detrusor berkontraksi

Kelemahan detrusor , dapat disebabkan oleh karena kelainan syaraf (neurogenik


bladder), misalnya pada lesi medulla spinalis, neuopathy diabeticum, sehabis
operasi radikal yang mengorbankan persyarafan didaerah pelvis, alkoholisme,
penggunanan obat penenang, ganglion blocking agent, dan obat
parasimpatolitik.

1. Elastisitas leher vesika

Kekakuan leher vesika dapat disebabkan oleh proses fibrosis (bladder neck
contyracture)

1. Resistensi uretra

Resistensi uretra dapat disebabkan oleh karena pembesaran prostat jinak atau
ganas, tumor dileher vesika, batu di uretra atau striktura uretra. Kelainan –
kelainan tersebut dapat dilihat bila dilakukan sistokopi. Disamping itu meskipun

10
di Indonesia jarang obstruksi infravesikal dapat disebabkan oleh gangguan fungsi
misalnya dissynergia destrusor sfingter.

Maka setiap kesulitan miksi yang dialami penderita dapat disebabkan oleh ketiga
faktor tersebut.

Diagnosis banding obstuksi saluran kemih karena Hiperplasia prostat :

1. Kelemahan detrusor kandung kemih :

– gangguan neurologik

* kelainan medulla spinalis


* neuopathia diabetes mellitus
* pasca bedah radikal di pelvis
* farmakologik (obat penenang, penghambat alfa, parasimpatolitik)

2. Kekakuan leher kandung kemih

– fibrosis

3. Resistensi uretra

– Hiperplasia prostat ganas atau jinak

– Kelainan yang menyumbat uretra

– Uretalitiasis

– Uretitis akut atau kronik

Adapun penyakit – penyakit yang gejala – gejalanya menyerupai hipertofi


prostat jinak diantaranya adalah sebagai berikut berserta klinis dan pemeiksaan
yang memebedakan dengan BPH :

1. Ca Prostat

Keluhan sesuai gejala saluran kemih bagian bawah (Lower urinary tract
symptoms = LUTS), yaitu gejala obstuktif dan iritatif. Kecurigaan umumnya
berawal dari ditemukan nodul yang secara tidak segaja pada pemeriksaan rektal.
Nodul yang irreguler dan keras harus dibiopsi untuk menyingkirkan hal ini. Atau
didapatkan jaringan yang ganas pada pemeriksaan patologi dari jaringan prostat
yang diambil akibat gejala BPH. Kanker ini jarang memberikan gejala kecuali bila
telah lanjut. Dapat terjadi hematuria, gejala – gejala obstruksi, gangguan saraf
akibat penekanan atau fraktur patologis pada tulang belakang. Atau secara
singkat kita anamnesa dan kita akan dapatkan sebagai berikut :
11
– Terjadi pada usia > 60 tahun

– Nyeri pada lumbosakral menjalar ke tungkai

– Prostatismus dan hematuri

– Rektal toucher : permukaannya berbenjol, keras, fixed

2. Prostatitis

Gejala dan tanda prostatitis akut terdiri dari demam dengan suhu yang tinggi,
kadang dengan gigilan, neri peineal atau pinggang rendah, sakit sedang atau
berat, mialgia, antralgia. Karena pembengkan prostat biasanya ada disuria,
kadang sampai retensi urin. Kadang didapatkan pengeluaran nanah pada colok
dubur setelah masase prostat. Sedangkan pada prostatitis kronis gejala dan
tanda tidak khas. Gambaran klinik sangat variabel, kadang dengan keluhan miksi,
kadang nyeri perineum atau pinggang. Dan diagnosa dapat ditegakan dengan
diketemukan adanya leukosit dan bakteria dalam sekret prostat. Jadi hal – hal
yang perlu sekali kita perhatikan agar dapat membedakan dengan BPH yaitu :

– Adanya nyeri perineal

– Demam

– Disuri, polaksiuri

– Retensi urin akut

– Rektal toucher : jika ada abses didapatkan fluktuasi (+)

3. Neurogenik Bladder

Adapun gejala dan tanda yamg kita peroleh dari anamnesa adalah :

– Lesi sakral 2 – 4

– Rest urin (+)

– inkontinensia urin

4. Striktura Uretrha

Sumbatan pada uretrha dan tekanan kandung kemih yang tinggi dapat
menyebabkan imbibisi urin kelua kandung kemih atau uretra proksimal dari
striktura. Gejala khas adalah pancaran urin yang kecil dan bercabang. Gejala lain
adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi, urgensi, disuri, kadang – kadand
dengan infiltat, abses, fistel. Gejala lanjut adalah retensi urin.
12
Komplikasi BPH
1. Lokal

Hiperplasi prostat dapat menyebabkan penyempitan lumen ureta posteio yang


menghambat aliran urin dan meningkatkan tekanan intravesikal. Buli – buli
kontaksi lebih kuat untuk melawan tahanan tersebut maka timbul peubahan
anatomis yang dinamakan fase kompensata akan terjadi hipetrofi otot detusor,
trabekulasi, sakulasi, diverkulasi.

Apabila Buli – buli menjadi dekompensasi, akan tejadi retensi urin. Karena
produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli – buli tidak mampu lagi
menampung urin sehingga tekanan intravesika meningkat, dapat timbul
hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal. Karena selalu terdapat sisa urin,
dapat terbentuk batu endapan pada buli – buli. Batu ini dapat menambah
keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula
menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis. Ini
dinamakan komplikasi lokal dari BPH.

1. General

– Peritonitis,bila vesica urinaria pecah dan meyebar ke rongga peritonium

– Anemia *

– Sindroma Uremia *

– Asidosis Metabolik *

* bila terjadi gagal ginjal

http://sanirachman.blogspot.co.id/2009/11/benigna-prostat-hiperplasia.html

DIAGNOSA BANDING
Sindroma prostatisme tidak hanya disebabkan oleh BPH, tetapi dapat pula
disebabkan beberapa penyakit lain. Beberapa penyakit lain serta pedoman
membedakannya seperti dibawah ini :
1. striktur uretra
2. Stenosis leher buli-buli
3. Batu buli-buli atau batu yang menyumbat uretra posterior

13
4 .Karsinoma prostat
5. prostatitis/prostatodinia
6. Buli-buli neuropati.
7. Pengaruh obat-obatan (Simpatolitik, Psikotropik, Alfa Adrenergik)
Cara menentukan pembesaran postat ada beberapa cara yang dapat dilakukan
mulai dari hal sederhana, diantaranya:
1. Pemeriksaan bimanual (Digital Rektal Examination), dengan melakukan
rektal toucer pada suprrapubik jika teraba pembesaran prostat maka
dapat diperkirakan besar prostat > 30gr.
2. Rektal grading, dengan rektal toucher :
 Stage 0 : prostat teraba < 1cm, berat < 10 gram
 Stage 1 : prostat teraba 1 – 2 cm, berat 10 -25 gram
 Stage 2 : prostat teraba 2 -3 cm, berat 25- 60 gram
 Stage 3 : prostat teraba 3- 4 cm, berat 60 – 100 gram
 Stage 4 : prostat teraba >4 cm, berat >100 gram

14