Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi

A. Pengertian
Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa
rangsang eksternal yang nyata. ( Barbara, 2007 : 575 ).
Halusinasi adalah persepsi panca indra tanpa ada rangsangan dari
luaryang dapat mempengaruhi semua sistem penginderaan dimana terjadi
pada saat kesadaran individu itu baik. (Carpenito, 2006).

B. Tanda dan gejala


a. Bicara, senyum / tertawa sendiri.
b. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghidu.
c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan.
d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata.
e. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi.
f. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal.
g. Sikap curiga dan bermusuhan.
h. Ketakutan.
i. Sulit membuat keputusan.
j. Menarik diri, menghindari dari orang lain.
k. Menyalahkan diri sendiri/ orang lain.
l. Muka merah kadang pucat.
m. Ekspresi wajah bingung.
n. Tekanan darah naik.
o. Nafas terengah- engah.
p. Nadi cepat.
q. Banyak keringat
C. Macam- macam halusinasi
a. Halusinasi pendengaran
b. Halusinasi penglihatan.
c. Halusinasi penciuman.
d. Halusinasi pengecapan.
e. Halusinasi perabaan.
f. Halusinasi kinestik.
g. Halusinasi hipnogogik.
h. Halusinasi hipnopompik.
i. Halusinasi histerik.
j. Halusinasi autoskopi.

D. Manifestasi Klinis
a. Bicara, senyum / tertawa sendiri.
b. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghidu.
c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan.
d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata.
e. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi.
f. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal.
g. Sikap curiga dan bermusuhan.
h. Menarik diri, menghindari dari orang lain.

E. Mekanisme sebab- akibat.


o Penyebab
Isolasi sosial : menarik diri
 Pengertian : Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari
interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan
hubungan akrabdan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan
secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan
sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup
membagi pengalaman dengan orang lain (Budi Anna Keliat, 1998).

 Tanda dan Gejala


1. Apatis
2. Afek tumpul
3. Menghindar dari orang lain
4. Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain
5. Komunikasi kurang
6. Kontak mata kurang
7. Berdiam diri
8. Kurang mobilitas

o Akibat
Risiko mencederai diri sendiri dan orang lain
- Pengertian
Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan
yang dapt membahayakan bagi keselamatan jiwanya maupun orang
lain disekitarnya (Townsend, 2004)
- Tanda dan gejala
a. Adanya peningkatan aktifitas motorik
b. Perilaku aktif ataupun destruktif
c. Agresif
F. Pohon masalah
Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Akibat

Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Core problem

Isolasi diri : manarik diri. Penyebab

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko menciderai diri dan orang lain : halusinasi dengar.

H. Intervensi Keperawatan
Strategi pelaksanaan Tindakan Keperawatan:
Pasien
SP1pasien
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
2. Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3. Mengidentifikasi ferkuensi halusinasi pasien
4. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi pasien
5. Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
6. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
7. Menganjurkan pasien menghardik cara halusinasi dalam jadwal kegiatan
harian

SPII pasien
1. Mengevaluasi kegiatan jadwal harian pasien
2. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan
orang lain
3. Menganjurkan pasien memasukkan jadwal dalam kegiatan harian

SP III Pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan
( kegiatan yang biasa dilakukan pasien)
3. Menganjurkan pasien memasukkan jadwal dalam kegiatan harian

Keluarga
SP I Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusiansi, dan jenis halusinasi yang
dialami pasien beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi

SP II Keluarga
1. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan halusinasi
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi

SP III keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

a. Tindakan Psikoterapeutik
Pasien:
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi jenis, isi, waktu, frekuensi halusinasi, respons terhadap
halusinasidan tindakan yang dilakaukan
3. Mengajarkan pasien cara mengontrol halusinasi (menghardik, bercakap-
cakap, melakukan aktivitas dengan minum obat)
4. Menganjurkan pasien untuk mendemonstrasikan cara kontrol yang sudah
diajarkan
5. Menganjurkan pasien untuk memilih salah satu cara kontrol yang sesuai
6. Menganjurkan pasien untuk memasukkan dalam jadwal kegiatan harian di
rumah sakit
7. Menganjurkan pasien untuk melanjutkan pelaksanaan cara kontrol halusiansi
di runah jika halusinasi muncul
8. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat scara teratur
( jenis, dosis, waktu, manfaat, efek samping)
9. Menganjurkan pasien memasukkan jadwal minum obat dalam jadwal kegiatan
di rumah

Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, jenis halusinasi yang dialami pasien
beserta proises terjadinya
3. Menjelaskan dan melatih keluarga cara-cara merawat pasien isolasi sosial
4. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas pasien di rumah termasuk
minum obat ( discharge planning)
5. Menjelaskan follow up setelah pasien setelah pulang

b. Tindakan Psikofarmaka
1. Memberikan obat-obatan penenang sesuai program pengobatan pasien
2. Memantau keefektifan dan efek samping obat yang diminum
3. Mengukur vital sign secara periodik ( tekanan darah, nadi, dan pernafasan)

c. Tindakan Manipulasi lingkungan


1. Hindari menyuruh pasien sebelum anda mengisyaratkan kepada pasien
2. Menciptakan lingkungan terapeutik ( menggunakan dekorasi ruangan yang
sederhana, mengurangi kebisingan, mengurangi sinar yang terlalu terang)
3. Melibatkan pasien dalam kegiatan di ruangan
4. Melibatkan pasien dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi dan
orientasi realita
(Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2006). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.

Johnson, Barbara Schoen, (2007), Adaptation and Growth Psychiatric-Mental


Health Nursing, 4th Edition, Lippincot-Raven Publishers, Philadelphia.

Keliat, Budi Anna dll. (2008). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC:
Jakarta.

Stuart dan Sundeen. (2005). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.

Townsend, Mary C, (2008), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada


Keperawatan Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa Rumah Sakit Jiwa
Prof. Dr. Soeryono Magelang