Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ENERGI DAN LINGKUNGAN

“BATUBARA”

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 3
1. Jihan Triani Annisya (0616 4041 1903)
2. Muhammad Syafiq Anshori (0616 4041 1909)

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Aida Syarif,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PRODI DIV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
Tambang Batubara.
Makalah ini disusun sesuai dengan tugas Energi dan Lingkungan
dengan judul Batubara
Pembahasan dalam makalah ini ialah tentang penambangan Batu
Bara, Metode-metode yang digunakan,serta faktor-faktor yang
mempengaruhi proses penambangan.
Diharapkan makalah ini dapat membantu mahasiswa agar dapat lebih
mudah memahami Energi dan Lingkungan pada judul Batubara.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih perlu ditingkatkan lagi,
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, saran dan
kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Palembang, Maret 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya
adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-
unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan
kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur
memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan
C240H90O4NS untuk antrasit.

1.2. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud utama dari makalah ini adalah untuk mengetahui proses
terjadinya pembentukan batu bara.

Sedangkan tujuannya adalah untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah


Energi dan Lingkungan
BAB II

PEMBAHASAN

1. PROSES PEMBENTUKAN BATU BARA

1.1. Prinsip Sedimentasi

Pada dasarnya batubara termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan


sedimen terbentuk dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu
cekungan dalam kondisi tertentu, dan mengalami kompaksi serta transformasi
balk secara fisik, kimia maupun biokimia. Pada saat pengendapannya material ini
selalu membentuk perlapisan yang horizontal.

1.2. Skala Waktu Geologi

Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh


material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan se
lama jutaan tahun.

Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan


batubara vang mencakup proses :

1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap


pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob.
Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan
menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa,
protoplasma, dan pati.
2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil
pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan
gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair,
misalnya rawa-rawa.
3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas
akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang
berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang
dalam bentuk karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan
metana (CH4).
4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi
oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan
mengalami perlipatan dan patahan. _Selain itu gaya tektonik aktif
dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan
mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya
tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang terbentuk dapat
berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik
berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan
batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya.
Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

1.3. Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batu Bara

Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah :


1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta
tahun yang lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan
dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari
flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang
terbentuk. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat
proses sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen.
2. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa
aspek sebagai berikut :
 Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar
diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat
berpengaruh pada kondisi dan posisi geotektonik.
 Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari
tempat cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan
morfologi cekungan pada saat pengendapan sangat penting karena
menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara terbentuk.
Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses
geotektonik.
 Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses
pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan
flora atau tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya
dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.
3. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material
dasar pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa
tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara
fisika maupun kimia.
4. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang
menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami
transformasi. Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu
geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah
fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon
yang tinggi.
5. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan
suatu lapisan batubara dari :
 Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan
lapisan batubara yang terbentuk.
 Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan
stabil, lipatan, atau patahan.
 Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade
dari lapisan batubara yang dihasilkan.

Keseluruhan faktor tersebut di atas sangat berpengaruh terhadap kualitas


dari lapisan batubara.
Material Dasar
Geotektonik Lingkungan Pengendapan:
- Tekanan – Cekungan
- Struktur Coal – Topografi
- Intrusi – Iklim
1.4. Komposisi Kimia Batu Bara

Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam


dengan komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis
material yang membentuk batubara, yaitu :
1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat
dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri
dari :
• karbon padat (fixed carbon)
• senyawa hidrokarbon
• senyawa sulfur
• senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah
kecil.
2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat
dibakar/dioksidasi
oleh oksigen.

Material tersebut umumnya terediri dari aenvawa anorganik (Si02, A1203,


Fe203, Ti02, Mn304, CaO, MgO, Na20, K20, dan senyawa logam lainnya dalam
jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan
non combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai
bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan
kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan
menjadi lignit, subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini
dapat digambarkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut
5(C6Hlo05) C20H2204 + 3CH4 + 8H,0 + 6C02 + CO
Selulosa lignit gas metan
6(C6H1005) C22H2003 + 5CH4 + 1OH20 + 8C02 + CO
Cellulose bituminous gas metan
Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau
dengan bantuan pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk
akan bertambah sehingga grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini
hidrogen yang terikat pada air yang terbentuk akan menjadi semakin sedikit.

1.5. Lingkungan Pengendapan Batubara

1.5.1. Interpretasi Lingkungan Pengendapan dari Litotipe dan Viikrolitotipe


Tosch (1960) dalam Bustin dkk.

(1983), Teichmuller and Teichmuller (1968) dalam Murchissen (1968)


berpendapat bahwa litotipe dan mikrolitotipe batubara berhubungan erat dengan
lingkungan pengendapannya. Lingkungan pengendapan dari masing-masing
litotipe adalah sebagi berikut :

1. Vitrain dan Clarain, diendapkan di daerah pasang surut dimana terjadi


perubahan muka air laut.
2. Fusain, diendapkan pada lingkungan dengan kecepatan pengendapan
rendah, yaitu lingkungan air dangkal yang dekat dengan daratan.
3. Durain, diendapkan dalam lingkungan yang lebih dalam lagi, diperkirakan
lingkungan laut dangkal.

Sedangkan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan mikrolitotipe


adalah sebagai berikut :

1. Vitrit, berasal dari kayu-kayuan seperti batang, dahan, akar, yang


menunjukkan lingkungan rawa berhutan.
2. Clarit, berasal dari tumbuhan yang mengandung serat kayu dan
diperkirakan terbentuk pada lingkungan rawa.
3. Durit, kaya akan jejak jejak akar dan spora, hal ini diperkirakan
terbentuk pada lingkungan laut dangkal.
4. Trimaserit, yang kaya akan vitrinit terbentuk di lingkungan rawa,
sedangkan yang kaya akan liptinit terbentuk di lingkungan laut
dangkal clan yang kaya akan inertinit terbentuk dekat daratan.
1.5.2. Lingkungan Pengendapan Batubara

Pembentukan batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa


lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah
seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil. Di dataran
pantai, pengendapan batubara terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang pasir
pantai yang berasosiasi dengan sistem laguna ke arah darat. Di daerah ini tidak
berhubungan dengan laut terbuka sehingga efek oksidasi au laut tidak ada
sehingga menunjang pada pembentukan batubara di daerah rawa-rawa pantai.
Pada lingkungan delta, batubara terbentuk di backswamp clan delta plain. Se-
dangkan di delta front dan prodelta tidak terbentuk batubara disebabkan oleh
adanya pengaruh air laut yang besar clan berada di bawah permulcaan air laut.
Pada lingkungan fluviatil terjadi pada rawa-rawa dataran banjir atau ,th.-alplain
dan belakang tanggul alam atau natural levee dari sistem sungai yang are-ander.
Umumnya batubara di lingkungan ini berbentuk lensa-lensa karena membaii ke
segala arah mengikuti bentuk cekungan limpahnya.

1. Endapan Batubara Paralik


Lingkungan paralik terbagi ke dalam 3 sub lingkungan, yakni endapan
lmuhara belakang pematang (back barrier), endapan batubara delta,
endapan Dwubara antar delta dan dataran pantai (Bustin, Cameron,
Grieve, dan Kalkreuth,
Ketiganya mempunyai bentuk lapisan tersendiri, akan tetapi pada ,
wnumnya tipis-tipis, tidak menerus secara lateral, mengandung kadar
sulfur, abu dar. nitrogen yang tinggi.
2. Endapan Batubara Belakang Pematang (back barrier)
Batubara belakang pematang terakumulasi ke arah darat dari pulau-pulau
pcmatang (barrier island) yang telah ada sebelumnya dan terbentuk
sebagai ai.:hat dari pengisian laguna. Kemudian terjadi proses
pendangkalan cekungan antar pulau-pulau bar sehingga material yang
diendapkan pada umumnya tergolong ke dalam klastika halus seperti
batulempung sisipan batupasir dan batugamping. Selanjutnya terbentuk
rawa-rawa air asin dan pada keadaan ini cn.iapan sedimen dipengaruhi
oleh pasang surut air laut sehingga moluska dapat berkembang dengan
baik sebab terjadi pelemparan oleh ombak dari laut terbuka le laguna yang
membawa materi organik sebagai makanan yang baik bagi penghuni
laguna. Sedangkan endapan sedimen yang berkembang pada umumnya
tcrdiri dari perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara
dan batugamping. Struktur sedimen yang berkembang ialah lapisan
bersusun, silang siur dan laminasi halus. Endapan batubara terbentuk
akibat dari meluasnya Nrmukaan rawa dari pulau-pulau gambut (marsh)
yang ditumbuhi oleh tumbuhan air tawar.

3. Endapan Batubara Delta


Berdasarkan bentuk dataran deltanya, batubara daerah ini terbentuk pada
beberapa sub lingkungan yakni delta yang dipengaruhi sungai, gelombang
pasang surut. dataran delta bawah dan atas, dan dataran aluvium.
Kecepatan pengendapan sangat berpengaruh pada penyebaran dan
ketebalan endapan batubara. Batubara daerah ini tidak menerus secara
lateral akibat dari perubahan fasies yang relatif pendek dan cepat yang
disebabkan oleh kemiringan yang tajam sehingga ketebalan dan
kualitasnya bervariasi. Pada umumnya batubara tersebut berasal dari
alang-alang dan tumbuhan paku.

4. Endapan Batubara Antar Delta dan Dataran Pantai


Batubara daerah ini terbentuk pada daerah rawa yang berkembang di :jerah
pantai yang tenang dengan water table tinggi dan pengaruh endapan liaaik
sangat kecil. Daerah rawa pantai biasanya banyak ditumbuhi oleh
:umbuhan air tawar dan air payau. Batubara ini pada umumnya tipis-tipis
dan secara lateral tidak lebih dari 1 km.
Batubara lingkungan ini kaya akan abu, sulfur, nitrogen, dan mengandung
fosil laut. Di daerah tropis biasanya terbentuk dari bakau dan kaya sulfur.
Kandungan sulfur tinggi akibat oleh naiknya ion sulfat dari air laut dan
oleh salinitas bakteri anaerobik.
2.BATU BARA SECARA UMUM

2.1. Umur Batu Bara

Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya


terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira
340 juta tahun yang lalu, adalah masa pembentukan batu bara yang paling
produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di
belahan bumi bagian utara terbentuk.

Pada Zaman Permian, kira-kira 270 juta tahun yang lalu, juga terbentuk
endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti
Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 juta tahun yang
lalu) di berbagai belahan bumi lain.

2.2. Materi Pembentuk Batu Bara

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis


tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah
sebagai berikut:

Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat
sedikit endapan batu bara dari perioda ini.

Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.

Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu
bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan
biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.

Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung
kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan
glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India
dan Afrika.

Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern,
buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah
dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

2.3. Kelas dan Jenis Batu Bara

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan,


panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit,
bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.

Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air
kurang dari 8%.

Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari
beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.

Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung
air 35-75% dari beratnya.

Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.

2.4. Proses Pembatubaraan

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa
tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses
fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara
termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah
tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification).
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi
dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi
pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi
serta perubahan geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan
terbentuknya batubara yang jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu,
karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lapangan batubara (coal field)
dan lapisannya (coal seam).

Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon


(Carboniferous Period) -- dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap
endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu
pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya, endapan
tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang selanjutnya berubah menjadi batu
bara muda (lignite) atau disebut pula batu bara coklat (brown coal). Batubara
muda adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Setelah mendapat
pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, maka batu
bara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-
bituminous). Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara
menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus
(bituminous) atau antrasit (anthracite). Dalam kondisi yang tepat, peningkatan
maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk
antrasit. Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya
menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk
batubara. Batubara yang berkualitas tinggi umumnya akan semakin keras dan
kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu,
kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat,
sehingga kandungan energinya juga semakin besar. Secara ringkas ada 2 tahap
proses yang terjadi, yakni:
 Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman
terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam
proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan
biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan
kompaksi material organik serta membentuk gambut.
 Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit
menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

3. MEMBUAT BATU BARA BERSIH

3.1. Cara Pembersihan Batu Bara

Ada beberapa cara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia kekuningan
yang ada sedikit di batu bara, pada beberapa batu bara yang ditemukan di Ohio,
Pennsylvania, West Virginia dan eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai
10 % dari berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming,
Montana dan negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar
1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batu bara. Penting bahwa sebagian besar
sulfur ini dibuang sbelum mencapai cerobong asap.

Satu cara untuk membersihkan batu bara adalah dengan cara mudah
memecah batu bara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa
sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur "
karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu
dikenal sebagai "fool's gold” dapat dipisahkan dari batu bara. Secara khusus pada
proses satu kali, bongkahan batu bara dimasukkan ke dalam tangki besar yang
terisi air , batu bara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam.
Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan
batu bara dari pengotor-pengotornya.

Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur
pada batu bara adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul
karbonnya, tipe sulfur ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan
menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batu bara
dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batu bara,
tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih bekerja
untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini.

Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang


dibangun setelah 1978 telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang
dipasang untuk membuang sulfur dari gas hasil pembakaran batu bara sebelum
gas ini naik menuju cerobong asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas
desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" karena
mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh
tungku pembakar batu bara.

3.2. Membuang NOx dari Batu Bara

Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang
dihirup, pada kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-
atom nitrogen mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia,
tetapi ketika udara dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C),
atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen
oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx juga dapat dibentuk dari
atom nitrogen yang terjebak didalam batu bara.

Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang
kabur yang kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang
membentuk “acid rain” (hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu
yang disebut “ground level ozone”, tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat
kotornya udara.

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari
bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar barubara di
pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang
pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen
terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran
pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat
proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar.
Konsep ini disebut "staged combustion" karena batu bara dibakar secara bertahap.
Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan
sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di uadara lebih dari
separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti "scubbers" yang
membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa dari
alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai
bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari
"low-NOx burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox.

4. BATU BARA DI INDONESIA

4.1. Batu Bara di Indonesia

Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di


cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau
Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut
dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier
Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas,
kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.

Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar
khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong
kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah
sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi
dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem
dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan
menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen.
Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan
sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan
lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut
yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.
4.1.1. Endapan Batu Bara Eosen

Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai


sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di
Sumatera dan Kalimantan.

Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari
sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera.
Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan
berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang
terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang
disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia.
Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama
fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.

Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar


Eosen Tengah - Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas
hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi
pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (non-marin). Berbeda
dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial
kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang terjadi pada dataran pantai yang
kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur
Eosen Atas.

Endapan batu bara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan
berikut: Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito
(Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan
Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera
Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).

Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batu bara Eosen di
Indonesia.
Kadar Kadar
Kadar Zat
air air Belerang Nilai energi
Tambang Cekungan Perusahaan abu terbang
total inheren (%ad) (kkal/kg)(ad)
(%ad) (%ad)
(%ar) (%ad)

Asam- PT Arutmin
Satui 10.00 7.00 8.00 41.50 0.80 6800
asam Indonesia

PT Arutmin
Senakin Pasir 9.00 4.00 15.00 39.50 0.70 6400
Indonesia

PT BHP
Petangis Pasir 11.00 4.40 12.00 40.50 0.80 6700
Kendilo Coal

PT Bukit 0.50 -
Ombilin Ombilin 12.00 6.50 <8.00 36.50 6900
Asam 0.60

PT Allied 10.00 37.30


Parambahan Ombilin 4.00 - 0.50 (ar) 6900 (ar)
Indo Coal (ar) (ar)

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association,
1998

4.1.2. Endapan Batu Bara Miosen

Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada


Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi
transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin
klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan
kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan
maupun Sumatera. Endapan batu bara Miosen yang ekonomis terutama terdapat di
Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito
(Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batu bara Miosen
juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.

Batu bara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan
dataran pantai yang mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di
Sumatera bagian timur. Ciri utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang
rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batu bara Miosen ini tergolong sub-
bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika sangat tebal (PT
Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batu bara Miosen di
beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan
Prima (PT KPC), endapan batu bara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan
Timur dan beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian
selatan.

Tabel dibawah ini menunjukan kualitas rata-rata dari beberapa endapan


batu bara Miosen di Indonesia.

Kada Kadar
Kada Zat Nilai
r air air Belera
Tamba Cekung Perusaha r abu terba energi
total inhere ng
ng an an (%a ng (kkal/kg)(a
(%ar n (%ad)
d) (%ad) d)
) (%ad)

PT Kaltim
Prima Kutai Prima 9.00 - 4.00 39.00 0.50 6800 (ar)
Coal
PT Kaltim
Pinang Kutai Prima 13.00 - 7.00 37.50 0.40 6200 (ar)
Coal

PT
Roto Kideco
Pasir 24.00 - 3.00 40.00 0.20 5200 (ar)
South Jaya
Agung

Binunga PT Berau
Tarakan 18.00 14.00 4.20 40.10 0.50 6100 (ad)
n Coal

PT Berau
Lati Tarakan 24.60 16.00 4.30 37.80 0.90 5800 (ad)
Coal

Sumater
Air PT Bukit
a bagian 24.00 - 5.30 34.60 0.49 5300 (ad)
Laya Asam
selatan

Paringin Barito PT Adaro 24.00 18.00 4.00 40.00 0.10 5950 (ad)

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association,
1998

4.2. Sumber Daya Batu Bara

Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia sangat melimpah, terutama di


Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat
dijumpai batu bara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan
keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.

Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel
fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu
bara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut:
Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori,
(berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).

Dari segi kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting
bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton.
Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga
ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis
batu bara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain
mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai
kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.

Batu bara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan
efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang
bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah
likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batu bara.

Membakar batu bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan


teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi
pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate,
chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai
kelebihan dan kelemahannya.

4.3. Gasifikasi Batu Bara

Coal gasification adalah sebuah proses untuk merubah batu bara padat
menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses
pemurnian gas-gas ini karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen
(H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) – dapat digunakan sebagai bahan bakar.
hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas kemudian
menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat
emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.

Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat


didalamnya adalah sulfur dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran
ini akan dilepaskan ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat
menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke
tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan asam" “acid
rain”. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur
dengan batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang
tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran
combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong
beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.
BAB III

PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Ada 2 macam teori yang menyatakan tempat terbentuknya batubara, yaitu :
A. Teori Insitu
Teori ini menyatakan bahwa bahan-bahan pembenrtuk lapisan batubara
terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan
demikian setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi,
segera tertimbun oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis
batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata,
kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relatif kecil.

B. Teori Drift

Teori ini menyatakan bahwa bahan-bahan pembenrtuk lapisan batubara


terbentuknya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuh-tumbuhan asal itu
berada. Dengan demikian setelah tumbuhan tersebut mati, diangkut oleh media air
dan berakumulasi disuatu tempat, segera tertimbun oleh lapisan sedimen dan
mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini
mempunyai penyebaran tidak luas tetapi dijumpai dibeberapa tempat, kualitasnya
kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut
bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat
sedimentasi.