Anda di halaman 1dari 24

PROSEDUR PENATALAKSANAAN

PULPEKTOMI NON VITAL GIGI 21

Oleh :
ANNA PRATIWI, S.KG
04074881618017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
I. INFORMASI KASUS
Data Pribadi Pasien
Nama Pasien : Riska Malasari
Umur : 25 tahun
Suku : Melayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Alamat Tetap : Jl. Kawah Kebun Bunga No. 14 Sukarami
Telepon/Hp : 085769332244
Pendidikan Terakhir : SLTA
Pekerjaan : Buruh
Peserta Asuransi : -
Riwayat Penyakit/ Kelainan Sistemik
Penyakit/ kelainan Penyakit/
Ada Disangkal Ada Disangkal
sistemik kelainan sistemik
Alergi dingin  HIV + AIDS 
Penyakit
Penyakit jantung  
pernafasan/ paru
Penyakit tekanan darah Kelainan
 
tinggi pencernaan
Penyakit kencing manis/
 Penyakit ginjal 
DM
Penyakit/ kelainan
Penyakit kelainan darah  
kelenjar ludah
Penyakit hepatitis  Epilepsi 
Kelainan hati lainnya 
STATUS UMUM PASIEN
Rujukan : Datang sendiri
Keadaan umum : Sehat, Compos mentis
Berat badan : 48 kg
Tinggi badan : 152 cm
Indeks Massa Tubuh (IMT) : 15,15 kg/m2 (Kurang)
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 denyut/ menit
Pernafasan : 20 kali/ menit
Pupil mata : Normal

ANAMNESIS
Keluhan utama :
Pasien mengeluhkan gigi depan atas berlubang besar dan berwarna hitam
sejak 5 tahun yang lalu, pernah ditambal ditukang gigi dengan tambalan sewarna gigi
sekitar 4 tahun yang lalu, pernah bengkak dan sakit semalaman sekitar 3 tahun yang
lalu, namun sekarang tidak sakit lagi dengan kondisi gusi bengkak dan kemerahan.

Riwayat perawatan gigi : Pernah dilakukan penambalan sekitar 4 tahun


yang lalu di tukang gigi.
Kebiasaan buruk : Mengunyah satu sisi.
Riwayat sosial : Pasien adalah pekerja buruh.

PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL


Wajah :  Simetri  Asimetri
Bibir :  Sehat  Ada kelainan
Kelenjar getah bening submandibula :
Kanan :  Tidak teraba  Teraba (lunak/kenyal/keras)
 Sakit  Tidak sakit
Kiri :  Tidak teraba  Teraba (lunak/kenyal/keras)
 Sakit  Tidak sakit
Kelenjar lainnya : -
KEADAAN UMUM INTRA ORAL
Debris :  Tidak ada Ada, regio: a,c,d,e,f
Kalkulus :  Tidak ada Ada, regio: a,b,c,d,e,f
Plak :  Tidak ada Ada, regio: a,c,d,e,f
Perdarahan papilla interdental :  Tidak ada Ada, regio: b
Gingiva :  Sehat
 Ada kelainan:
Edema dan eritema margin gingiva anterior atas
disertai perdarahan ringan saat probing pada
sektan b.
Mukosa :  Sehat
 Ada kelainan:
Garis bergelombang putih sejajar garis kunyah
pada mukosa bukal kiri dan kanan, tidak sakit saat
palpasi.
Palatum :  Sehat
 Kelainan/ anomali
Lidah : Sehat/ normal
 Kelainan/ anomali:
Dasar mulut :  Sehat  Ada kelainan
Hubungan rahang :  Ortognati  Retrognati  Prognati
Kelainan gigi-geligi :  Tidak ada  Ada
OHI-S
DI CI OHI-S = DI + CI Ket : baik
1 0 1 1 0 2 =5/6 + 9/6 sedang
1 1 1 2 2 2 = 2,3  buruk
Temuan Masalah :
Gigi 21 :
 Terdapat lesi D6 pada gigi 21.
 Keluhan : (-)
 Perkusi : (-)
 Palpasi : (-)
 Pemeriksaan radiografi periapikal terlihat adanya radiolusen yang telah
mencapai ½ mahkota bagian mesial dan distal, terdapat radiolusen yang
hampir mencapai kamar pulpa, terdapat 1 saluran akar yang lurus, terdapat 1
akar tunggal disertai resorpsi akar, pelebaran ligamen periodontal pada 1/3
akar bagian mesial dan distal, terputusnya lamina dura pada 1/3 akar bagian
mesial disertai gambaran radiolusen berbatas jelas, dan terdapat resorpsi
tulang alveolar pada mesial dan distal (resorpsi tulang horizontal)

Gambar 1. Foto klinis dan periapikal dari gigi 21

Diagnosa : Nekrosis pulpa disertai lesi periapikal


Rencana Perawatan : Pulpektomi non vital dengan restorasi akhir pasak dengan
jaket crown.
II. PULPEKTOMI DAN PERAWATAN SALURAN AKAR
1. Zona Penyembuhan pada Infeksi Saluran Akar

a. Zona infeksi
Ciri zona ini adalah terdapat leukosit polimorfonuklear, mikroorganisme, dan
neutrofil
b. Zona kontaminasi (zona eksudatif primer)
Cirinya terdapat infiltrasi round-cell. Pada zona ini sel tulang telah mati dan
mengalami autolisis, sehingga lakuna terlihat kosong. Kerusakan sel tidak
langsung dari bakteri tetapi dari toksin-toksin yang dikeluarkan dari zona
pusat.
c. Zona iritasi (zona granulomatosa)
Cirinya terdapat makrofag dan osteoklas. Pada zona ini toksisitas telah
menurun. Fungsi untuk pertahanan, penyembuhan dan persiapan untuk
perbaikan.
d. Zona stimulasi (zona enkapsulasi)
Zona yang paling luar, terdiri dari aktivitas fibroblast untuk membentuk
kolagen serta aktivitas osteoblast untuk membentuk tulang. Serabut kolagen
dan aposisi tulang baru bertindak baik sebagai dinding pertahanan di
sekeliling zona iritasi.

Abses terjadi bila virulensi rendah dan dalam jumlah sedikit  leukosit
polimorfonuklear menghancurkan mikroorganisme setelah memperoleh jalan
masuk ke jaringan periradikular  abses kronis (zona iritasi melebihi zona
stimulasi).
Bila toksin bakteri masih terus berlanjut dapat menjadi stimulan  terbentuk
granuloma (zona stimulasi lebih besar dari zona iritasi). Batas tepi granuloma
berupa tulang kanselus terdiri dari jaringan granulasi dan tidak dapat
bertambah besar seperti kista karena granuloma adalah bentuk pertahanan
lokal. Produk toksik dari saluran akar disebarkan dari foramen apikal dan
menghancurkan tulang dekat daerah apeks akar sehingga daerah tersebut
digantikan oleh jaringan granulomatous. Fibroblast membangun jaringan
fibrous dan osteoblast membatasi daerah dengan suatu dinding tulang
(kanselus).
Jika sisa sel epitel Malassez dirangsang  terbentuk suatu kista. Batas tepi
kista berupa sel epitel dan kista dapat bertambah besar karena
perkembangannya dari tengah lesi.

2. Indikasi
a. Karies yang luas.
b. Email yang tidak didukung oleh dentin.
c. Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi vital,
nekrosis sebagian maupun gigi sudah nonvital.
d. Saluran akar yang dapat dimasukkan instrumen.
e. Kelainan jaringan periapeks pada gambaran radiografi kurang dari sepertiga
apeks.
f. Mahkota gigi masih bisa direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik
(untuk pilar restorasi jembatan).
g. Gigi tidak goyang dan periodonsium normal.
h. Foto rontgen menunjukan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apikal, tidak
ada granuloma pada gigi sulung.
i. Kondisi pasien baik
j. Pasien ingin giginya di pertahankan dan bersedia untuk memelihara kesehatan
gigi dan mulutnya.
k. Keadaan ekonomi pasien memungkinkan.

3. Kontraindikasi
a. Bila dijumpai kerusakan luas jaringan periapikal yang melibatkan lebih dari
sepertiga panjang akar
b. Bila saluran akar gigi tanpa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang oleh
akar berkurva/bengkok, akar berliku-liku, dentin sekunder, kanal yang
mengapur atau sebagian mengapur, gigi malposisi, atau suatu instrument yang
patah.
c. Bila apeks akar mengalami fraktur.
III. PROSEDUR PENATALAKSANAAN PULPEKTOMI DAN PERAWATAN
SALURAN AKAR
a. Informed consent
Informed consent merupakan persetujuan atau penolakan oleh pasien
terhadap segala tindakan dan pengobatan yang akan diberikan kepadanya setelah
mendapat informasi yang lengkap dan jelas dari dokter tentang rencana
pengobatan tersebut.

b. Pemeriksaan Subjektif dan Objektif


Pemeriksaan subjektif berkaitan dengan keluhan pasien tentang giginya.
Pemeriksaan objektif berkaitan dengan pemeriksaan vitalitas gigi dan apakah
terdapat kelainan periapikal atau tidak (tes sondasi, CE, palpasi, dan perkusi).

c. Pemeriksaan Vital Sign


Pemeriksaan vital sign meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernafasan,
dan pupil mata pada pasien.

d. Foto Rontgen Periapikal


Terdapat 3 fungsi utama foto rontgen periapikal dalam perawatan
endodontik:
 Diagnosis
 Treatment
Menentukan panjang kerja, master cone, dan obturasi.
 Recall
Mengevaluasi perawatan yang telah dilakukan.
e. Penentuan Panjang Kerja (PK)
Panjang kerja harus ditentukan untuk menghindari:
 Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran akar di apikal).
 Perforasi ke apikal.
Panjang kerja dapat ditentukan dengan menggunakan metode:

- Metode radiografi (menurut Bregmann)


* Pj. gigi sebenarnya = Pj.Mahkota sebenarnya x Pj.Gigi Rontgen
Pj.Mahkota Rontgen
* Pj. kerja = Pj.Gigi Sebenarnya – (1-2 mm)
Penentuan panjang kerja pada kasus :
 Pj.gigi sebenarnya = 8,3 mm x 25,1 mm
10,7 mm
= 19,4 mm
 Panjang Kerja = 19,4 mm – 2 mm
= 16,4 mm
≈ 16 mm
Jarak panjang kerja dari apeks ditentukan oleh keadaan pada radiografi, yaitu:
A. Tidak ada resorpsi tulang/akar : 1 mm dari apeks.
B. Resorpsi tulang tetapi tidak ada resorpsi akar : 1,5 mm dari apeks.
C. Resorpsi tulang dan akar : 2 mm dari apeks.

Gambar 2. Jarak panjang kerja berdasarkan keadaan radiografi


- Metode Non Radiografi
 Metode taktil
Biasanya untuk yang telah terlatih. Masukkan file hingga terasa telah
mencapai kontriksi apeks.
 Metode elektronik mengunakan Electronic Apex Locator
Saluran akar diirigasi dengan NaOCl dan dikeringkan dengan
paperpoint. File dimasukkan ke saluran akar sampai layar pengukuran
elektronik terbaca 0,0 mm dari apeks dan terdengar nada yang
mengindikasikan apeks sudah tercapai. File dikunci posisinya dan
ditentukan panjang kerjanya dengan mengurangi 1 - 2 mm dari ukuran
panjang saluran akar yang telah didapatkan.

f. Preparasi Akses
Tahapan penting dalam perawatan saluran akar gigi yang terinfeksi adalah
preparasi biomekanis yang terdiri dari cleaning and shaping, sterilisasi dan
pengisian saluran akar. Preparasi biomekanis yang baik akan menunjang proses
sterilisasi dan menghasilkan pengisian yang baik sehingga didapatkan hasil yang
maksimal.

Tujuan preparasi akses adalah:


1. Memperoleh akses yang lurus, bertujuan untuk :
- Pengendalian instrumen yang lebih baik.
- Kerapatan obturasi yang lebih baik
- Pembuangan struktur gigi secara efisien
- Mengurangi kesalahan prosedur (terbentuknya ledge, transportation,
perforasi apeks, dan perforasi furkasi)
2. Mempertahankan struktur gigi, bertujuan untuk :
- Pelemahan gigi yang minimal
- Mencegah perforasi
3. Pembuangan atap pulpa dan tanduk pulpa, bertujuan untuk :
- Mencapai visibilitas yang maksimal
- Memperoleh lokasi saluran akar
- Memperoleh akses lurus yang baik
- Membuka tanduk pulpa

Preparasi akses meliputi pembukaan akses agar instrumen dapat masuk ke


orifice dengan mudah serta mendapatkan lapang pandang yang baik. Preparasi
akses dilakukan pada permukaan palatal/lingual gigi dengan bentuk triangular.
Periksa preparasi dengan sonde, masih ada sangkutan atau tidak. Setelah akses
dibuka, saluran akar ditelusuri (eksplorasi) dengan menggunakan smooth broach
atau jarum Miller sesuai dengan panjang kerja yang telah ditentukan sebelumnya.

Prinsip :
a. Outline form
b. Convenience form
c. Removal of remaining carry out dentin and defective restoration
d. Toilet of the cavity
Prosedur :
a. Menentukan titik pengeburan.
Titik pengeburan adalah pada bagian foramen caecum yang terletak antara
singulum dan fossa.

b. Bagian palatinal gigi dibuka dengan round-bur arah tegak lurus dengan aksis
gigi sampai perforasi ke kamar pulpa.

c. Setelah itu posisi bur diubah. Pangkal bur didekatkan ke insisal agar tidak
mengurangi gigi labial sekaligus menghindari terjadinya perforasi ke arah
labial.
d. Buang atap dan tanduk pulpa

e. Buat convenience form dengan menggunakan bur fisur. Gerakan dari dalam ke
luar agar tidak mengurangi dinding labial.

f. Lakukan tes convenience form dengan menggunakan sonde lurus


g. Didapatkan preparasi saluran akar yang lurus.

g. Ekstirpasi Pulpa
Pembuangan jaringan pulpa pada saluran akar menggunakan barber broach
atau jarum ekstirpasi, dengan syarat: 1) ukuran jarum ekstirpasi sesuai dengan
dimensi saluran akar, 2) tidak boleh terlalu pas dalam saluran akar, 3) makin
besar instrumen, makin baik daya ambilnya.

h. Debridement
Lakukan irigasi pada saluran akar menggunakan bahan irigasi dengan urutan
sebagai berikut: normal saline 0,9% - NaOCl 2,5% - normal saline 0,9% – dan
chlorhexidine 2%. Tujuan pembilasan NaOCl 2,5% oleh saline sebelum
pemberian chlorhexidine adalah untuk menghindari reaksi perubahan warna yang
terjadi jika NaOCl bercampur dengan chlorhexidine. Bahan irigasi digunakan
untuk menghilangkan debris dan darah, melarutkan smear layer, dan sebagai
efek antibakteri. Kemudian dikeringkan dengan paper point.
Tabel 1. Ringkasan bahan irigasi yang digunakan pada perawatan endodontik.

Hidrogen
No Bahan irigasi Normal saline Sodium hipoklorit EDTA Chlorhexidine
peroksida
1 Konsentrasi 0,9% 0,5%,1%,2,5%,5,2% 3% 15%, 17% 0,12%, 0,2%,2%
2 pH 7,3 10,8-12 6 7,3-8 5,5-7
3 Mekanisme Pembilasan Bakterisidal Bakterisidal Lubrikasi, Bakteriostatik
aksi fisik emulsifikasi, pada konsentrasi
dan rendah.
membawa Bakterisidal
debris dalam pada konsentrasi
suspense tinggi
4 Keuntungan Tidak ada efek -Memiliki sifat Memiliki sifat Melarutkan Lebih efektif
samping Membuang unsur desinfectant debris pada bakteri
organik (kolagen) dari dan antibakteri anorganik gram positif
dentin untuk (mineral) khususnya pada
memperdalam penetrasi dari dentin, bakteri
medikamen sebagai Enterococcus
-Membuang/ pelumas, faecalis
menghilangkan biofilm membuat
-Melarutkan jaringan manipulasi
pulpa dan nekrotik canal
-Memiliki efek menjadi
antibakterial lebih mudah
-Menghasilkan
pelumasan saluran
-Ekonomis
-Mudah didapat
5 Kerugian Desinfectant -Karena tegangan Tidak dapat
yang terlalu permukaan tinggi, melarutkan sisa
ringan kemampuan untuk jaringan nekrotik
membasahi dentin
rendah
-Iritan terhadap jaringan
dan dapat menyebabkan
kerusakan sel yang parah
-Jika berkontak dengan
gingiva, dapat
menyebabkan inflamasi
karena sifatnya yang
tajam (dapat membakar
kulit)
-Dapat membuat putih
pakaian, jika tumpah
-Bau dan rasa tidak enak
-Uap dari NaOCl dapat
mengiritasi mata
-Dapat membuat korosi
instrument
-Tidak dapat
menghilangkan smear
layer
-Kontak yang lama
dengan dentin dapat
mempengaruhi kekuatan
fleksural dentin

Pengenceran larutan NaOCl 5,25% menjadi 2,5%.


*ket : NaOCl yang dilarutkan adalah Bayclin© kemasan 100 ml.

V1.M1=V2.M2
V1 = Volume awal larutan
M1 = konsentrasi awal larutan
V2 = Volume akhir larutan
M2 = Konsentrasi akhir larutan

𝑉1.𝑀1
V2 = 𝑀2
100 𝑚𝑙.5,25%
V2= 2,5%

V2 = 210 ml

Volume akhir larutan yang didapatkan adalah 210 ml sehingga untuk melakukan
pengenceran menjadi 2,5% maka harus ditambahkan 110 ml aquadest.

Teknik irigasi saluran akar :


 Bahan irigasi dimasukkan secara perlahan dalam saluran akar.
 Jarum tidak boleh terjepit dalam saluran akar dan harus memungkinkan aliran
yang adekuat.
 Pilih jarum tumpul, ukuran 27 atau 28.
 Pada kasus saluran akar kecil, dimasukkan larutan pada kamar pulpa, file akan
membawa larutan sampai ke saluran akar.
 Untuk membuang kelebihan cairan, sebaiknya ditampung dengan kasa yang
diletakkan dekat kamar pulpa, selanjutnya untuk mengeringkan saluran akar,
gunakan paper point.
 Pada kasus saluran akar yang besar, masukkan jarum sampai tidak ada
hambatan, lalu tarik 2-3 mm dan diirigasi, gunakan kasa untuk menampung
kelebihan, selanjutnya untuk mengeringkan saluran akar gunakan paper point.
 Agar pembersihan/debridement efektif pada saluran akar gigi anterior dan
posterior, jarum dibengkokkan di bagian tengahnya untuk mencapai panjang
optimum saluran akar.

i. Preparasi Saluran Akar


Teknik preparasi yang digunakan adalah teknik preparasi stepback (Telescopic
canal preparation atau Serial Root Canal Preparation).
 Penentuan IAF (Initial Apical File)
IAF merupakan file terbesar pertama yang pas masuk saluran akar dan sesuai
dengan panjang kerja yang telah ditentukan sebelumnya.
Preparasi saluran akar diawali dengan menggunakan IAF dengan putaran ¼ -
½ putaran searah jarum jam.
 Rontgen IAF
Foto rontgen dilakukan kembali untuk memastikan bahwa IAF telah benar.
 Penentuan MAF (Master Apical File)
Lakukan preparasi sampai 2 nomor di atas IAF untuk menentukan MAF,
tanpa mengurangi panjang kerja.
 Preparasi step back dan rekapitulasi file
1. Preparasi selanjutnya adalah stepback menggunakan K-File sampai 3
nomor di atas MAF dengan memperpendek panjang kerja sepanjang 1
mm.
2. Setiap pergantian alat dari nomor kecil ke nomor berikutnya selalu
dilakukan irigasi dan rekapitulasi (memasukkan kembali file terakhir
[MAF] yang digunakan pada preparasi apikal untuk mengeluarkan
debris tetapi tidak memperlebar saluran akar).
*Irigasi harus dilakukan sebelum, setiap dan sesudah pergantian alat
 Rontgen MAC (Master Apical Cone): Ukurannya sama dengan MAF.
Dilakukan foto rontgen kembali untuk memastikan bahwa MAC (Master
Apical Cone) telah sesuai panjang kerja. Pada saat dilakukan foto rontgen
tersebut pastikan bahwa kavitas di tumpat dengan tambalan sementara.

Instrumentasi  Rekapitulasi  Irigasi

 
Irigasi  Rekapitulasi  Instrumentasi

Gambar 5. Urutan selama preparasi saluran akar

Contoh :
IAF = #20/ 26 mm
#25/ 26 mm
MAF = #30/ 26 mm
Step Back = #35/ 25 mm Rekapitulasi = #30/ 26 mm
#40/ 24 mm Rekapitulasi = #30/ 26 mm
#45/ 23 mm Rekapitulasi = #30/ 26 mm

j. Medikamen
Setelah dilakukan ekstirpasi jaringan pulpa, maka dapat diberikan Chresophen
sebagai medikamen. Bulatan kapas kecil yang telah dibasahi dengan Chresophen
diperas dengan kapas kering, diletakkan pada dasar kamar pulpa, lalu ditumpat
sementara. Desinfeksi didapatkan dari penguapan chresophen di dalam kamar
pulpa. Masa aktif chresophen yaitu 3-5 hari.
Jika telah dilakukan preparasi saluran akar, maka dapat diberikan Kalsium
hidroksida sebagai medikamen. Kalsium hidroksida dapat dicampur dengan
aquadest, saline, gliserin, chlorhexidine, atau anestesi lokal. Kalsium hidroksida
diaplikasikan pada saluran akar dengan menggunakan paper point, spreader, atau
lentulo spiral. Masa aktif kalsium hidroksida yaitu 7-14 hari.

Tabel 2. Ringkasan bahan medikamen yang digunakan pada perawatan


endodontik.
Durasi
Bahan Medikamen Keuntungan Kerugian
Aktivitas
Golongan Fenol
 Eugenol 3 hari Mengendalikan nyeri Bau dan rasa tidak enak
 ChKM 1 hari Antibakteri sprektrum luas, Tidak bermanfaat sebagai
 sifat iritasi rendah medikamen antar-kunjungan
 Chresophen 3 - 5 hari Antiphlogistikum (mengurangi -
inflamasi)
Aldehid
 Formokresol 2-3 bulan Antibakteri Toksisitas, tidak mengendalikan
nyeri, efek nekrosis terhadap
jaringan, merangsang resopsi
internal
 Glutaraldehid 14-30 Desinfektan kuat Reaksi bersifat asam, mengiritasi
hari jaringan
Steroid Belum Menurunkan nyeri, tidak Menurunkan regenerasi sel dan
diketahui toksis,mengurangi peradangan jaringan, menghambat
pembentukan fibroblas dan antibodi
Kalsium Hidroksida 7-14 hari Antimikroba, menurunkan Tidak mengendalikan nyeri
inflamasi pada apeks, tidak
toksis

k. Obturasi
Tujuan dari obturasi adalah:
 Memasukkan suatu bahan pengisi ke ruang pulpa yang sebelumnya diisi
oleh jaringan pulpa untuk mencegah infeksi berulang.
 Menciptakan kerapatan yang sempurna sepanjang sistem saluran akar (dari
korona sampai ujung apeks).
Syarat boleh dilakukannya obturasi adalah saat tidak adanya keluhan pasien dari
gigi yang dirawat (rasa sakit, palpasi dan perkusi negatif), saluran akar telah
kering, tidak berbau (cotton pellet), steril, tumpatan sementara tidak terbuka, lesi
periapikal tidak berkembang, pada RO MAC sudah sesuai dengan panjang kerja.
Untuk melihat saluran akar sudah kering atau belum, dapat dilihat dengan cara
mengambil kalsium hidroksida dengan menggunakan file dari saluran akar dan
diletakkan di atas glass slab. Jika kalsium hidroksida telah kering saat diletakkan
di atas glass slab, maka selanjutnya dapat dilakukan obturasi.
Material yang digunakan adalah gutta percha dengan semen saluran akar
(sealer). Pengaplikasian semen saluran akar (sealer) menggunakan lentulo.
Fungsi semen saluran akar adalah sebagai antimikroba, mengisi celah antara
bahan pengisi dengan dinding dentin, sebagai pelumas dan memberikan efek
radiopak. Jenis semen saluran akar yang digunakan adalah kalsium hidroksida.

Tabel. 3 Ringkasan material obturasi yang digunakan pada perawatan


endodontik.
Material
Keuntungan Kekurangan
Obturasi
SOLID
Gutta percha Plastis, bersifat opak, kerapatannya Tidak beradhesi ke dentin (diperlukan sealer),
adekuat, mudah dikeluarkan dari mengkerut jika dingin, tidak bisa digunakan
saluran akar, antimikrobial. pada saluran akar yang sangat bengkok.
Kon Perak Kerapatan yang adekuat untuk Tidak mampu beradapatsi, korosi, toksisitas,
jangka waktu pendek. susah dikeluarkan kembali.
Kirgi Sebagai material inti Tidak pernah mencapai kerapatan sempurna,
sukar dikeluarkan kembali,
SEMISOLID
ZOE Bersifat opak, antimikrobial, mudah Pengkerutan saat mengeras, toksis, sukar
dimanipulasi mengendalikan panjang kerja, kerapatan tidak
konsisten.
Berbasis resin Material obturasi tunggal, mudah Toksis, sukar menentukan panjang kerja,
dimanipulasi mudah larut
Tabel. 4 Ringkasan jenis sealer yang digunakan pada perawatan endodontik.
Jenis sealer Keuntungan Kerugian
Berbasis OSE
Endofill Kombinasi baik dengan gutta percha, Mewarnai dentin, wakti pengerasan
radiopak, tidak mengkerut, antiinflamasi- sangat lambat (2-5 jam), tidak adhesif,
antiseptik mudah larut, toksisitas
Endometason Radiopak, antiinflamasi Kelarutan tinggi, menimbulkan alergi

Berbasis Resin
2-seal Sifat sealing jangka panjang, adhesif, Toksisitas, sulit dibersihkan, adhesif
radiopak yang sangat tinggi. kurang baik dengan gutta percha.
AH26 Antimikroba, adhesif, waktu kerja lama, Mewarnai dentin, tidak larut dalam
kerapatan sangat baik. pelarut, sedikit toksis saat belum
mengeras.
Glass ionomer Adhesi baik ke dentin Sulit larut jika dilakukan perawatan
cement ulang (pembuatan pasak).
Kalsium Merangsang terbentuknya barrier kalsium Toksisitas.
Hidroksida di apeks, antimikroba, kerapatan jangka
pendek yang adekuat.
Silicone
Gutta flow Bersifat radiopak, toksisitas rendah, Tidak adhesif dengan dentin.
adaptasi baik.

Mekanisme antimikroba Ca(OH)2 terjadi dengan pemisahan ion kalsium dan


hydroxyl ke dalam reaksi enzimatik pada bakteri dan jaringan, menginhibisi replikasi
DNA serta bertindak sebagai barrier dalam mencegah masuknya bakteri dalam sistem
saluran akar. Ion hydroxyl akan mempengaruhi kelangsungan hidup bakteri anaerob.
Difus ion hydroxyl (OH-) menyebabkan lingkungan alkaline sehingga tidak kondusif
bagi pertahanan bakteri dalam saluran akar.
Mekanisme CaOH dalam membentuk barrier kalsium terjadi karena lon Ca'
dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan peran enzim pyrofos-fatase.
mengaktifasi adenosln trifosfatase (A T P) sehingga dapat mendorong terjadinya
mekanisme pertahanan. dengan terjadinya perbaikan atau mineralisasi dentin.
Teknik obturasi yang digunakan adalah teknik kondensasi lateral menggunakan
spreader dan kondensasi vertikal menggunakan plugger. Langkah-langkah obturasi
dengan menggunakan teknik ini adalah:
1. Master cone dipaskan pada saluran akar sesuai dengan panjang kerja yang
telah ditetapkan.
2. Jika letak master cone sudah tepat dalam saluran akar, cone tersebut
dikeluarkan dan saluran akar dikeringkan kembali.
3. Campur semen saluran akar dan masukkan ke saluran akar dengan
menggunakan lentulo.
4. Master cone dilapisi dengan semen saluran akar dan dengan hati-hati
ditempatkan kembali ke dalam saluran akar.
5. Spreader dimasukkan sepanjang master cone dan ditekan ke arah apeks.
6. Untuk membebaskan spreader saat akan dikeluarkan, putar spreader bolak
balik sepanjang sumbunya.
7. Setelah dikeluarkan, masukkan segera cone aksesori ke saluran akar.
Masukkan kembali spreader untuk menekan cone aksesori.
8. Ulangi tahap ini sampai spreader tidak dapat masuk orifis.
9. Potong kelebihan guttaperca dengan alat (stoper semen) panas. Pemotongan
dilakukan sampai 1 mm dibawah tepi gingiva gigi anterior. Tujuan
pemotongan ini adalah agar tidak terjadi perubahan warna di mahkota akibat
bahan sealer dan bahan obturasi.
10. Lakukan kondensasi vertikal menggunakan plugger yang bertujuan untuk
memadatkan bahan pengisi.

l. Tumpatan Sementara
Penumpatan sementara menggunakan teknik double seal, yaitu diatas
guttapercha diaplikasikan cotton pellet kemudian bahan tumpatan sementara
diletakkan diatasnya, lalu ditumpat dengan GIC. Setelah itu lakukan rontgen
terhadap hasil obturasi.
m. Kontrol
Kontrol dilakukan 1 minggu setelah perawatan saluran akar. Pada saat kontrol
dilakukan pemeriksaan subjektif, objektif, dan radiografis.
 Pemeriksaan subjektif: untuk melihat ada atau tidaknya keluhan pasien
setelah dilakukan obturasi
 Pemeriksaan objektif: dilakukan pemeriksaan visual untuk melihat adanya
perubahan warna pada gigi atau tidak, pemeriksaan palpasi, perkusi serta tes
mobilitas gigi
 Pemeriksaan radiografis: untuk melihat keadaan periapikal pada gigi yang
dirawat saluran akar

n. Restorasi Akhir
Restorasi yang dilakukan pada kasus ini adalah pasak dengan mahkota jaket
crown.

Palembang, Maret 2017


Disetujui oleh
Dokter Pembimbing Konservasi

drg. Listia Eka M, Sp.KG.