Anda di halaman 1dari 31

BAB II

LANDASAN TEORI

Analisis Fundamental
“Fundamental analysis is the process of identifying securities that are under or over
valued at a point in time. In the quest for extraordinary returns, the fundamental analysis
attemps to uncover these special situations by applying a variety of appraisal techniques”
(Stevenson, Richard.A, Edward Jennings dan David Loy,Fundamental Investment,1988:122).
Analisis fundamental adalah proses untuk mengidentifikasi apakah sekuritas berada dibawah
atau diatas harga yang seharusnya (harga normal) pada suatu waktu tertentu. Dalam upaya
untuk mendapatkan return yang tinggi, lebih dari yang biasanya, analisis fundamental
mengungkapkan situasi khusus dengan menggunakan berbagai tehnik penilaian. Analisis
fundamental menyatakan bahwa saham memiliki nilai intrinsik tertentu. Analisis ini
membandingkan antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga pasarnya guna mementukan
apakah harga saham tersebut sudah mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum
(Halim,2005:21). Analisis fundamental digunakan untuk memilih saham yang terbaik,
sedangkan analisis teknikal digunakan untuk menentukan saat yang tepat untuk membeli atau
menjual saham (Sinaga,2011:14).
Menurut Fakhruddin dan Sopian (2001:55), analisis fundamental adalah teknik yang mencoba
memperkirakan harga saham di masa yanga akan datang dengan cara :
1. Mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa
mendatang.
2. Menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut hingga diperoleh taksiran harga saham.
Analisis fundamental adalah studi tentang eko-nomi, industri, dan kondisi perusahaan untuk
mem-perhitungkan nilai dari saham perusahaan. Analisis fundamental menitik beratkan pada
data-data kunci dalam laporan keuangan perusahaan untuk memper-hitungkan apakah harga
saham sudah diapresiasikan secara akurat. Analisis fundamental merupakan metode analisis
saham dengan menganalisa data-data atau informasi yang berhubungan dengan kinerja pe-
rusahaan, umumnya laporan keuangan menjadi sum-ber utama dalam analisis ini termasuk
penggunaan rasio-rasio saham seperti laba per lembar saham atau Earning Per Share (EPS),
Price Earning Ratio (PER), dan lain-lain (Fakhruddin & Hendy, 2008)
Perubahan harga saham setiap waktu tidak dapat diprediksi apabila pelaku investasi,
khususnya per-usahaan, tidak melakukan suatu analisis. Analisis yang paling sesuai dengan

2
harga saham adalah ana-lisis fundamental, karena dengan analisis fundamental perusahaan,
akan memperhitungkan risiko dan harga saham yang terjadi maupun yang sedang terjadi. Ana-
lisis fundamental diperlukan untuk memperhi-tungkan risiko dan keuntungan yang bisa
diterima berupa dividen atau capital gain.

Faktor fundamental makro dalam istilah analisis pasar modal disebut dengan faktor
fundamental negara, faktor ini bersifat uncontrollable sehingga tidak dapat dikendalikan
perusahaan. Faktor fundamental makro meliputi faktor-faktor: (1) ekonomi, (2) sosial, budaya,
demografi dan lingkungan, (3) kekuasaan politik, pemerintahan, dan hukum, (4) teknologi, dan
(5) persaingan (David, 2003)
Faktor fundamental mikro dalam analisis pasar modal sering disebut dengan faktor
fundamental perusahaan, faktor ini bersifat controllable sehingga dapat dikendalikan
perusahaan. Faktor fundamental mikro dapat dikelompokkan dalam faktor kebijakan
perusahaan dan faktor kinerja perusahaan. Faktor kebijakan perusahaan dalam penelitian ini
ditekankan pada kebijakan manajemen keuangan, yang meliputi kebijakan pendanaan,
kebijakan investasi dan kebijakan dividen (Weston dan Copeland, 1992). Kebijakan pendanaan
diproksi dengan leverage keuangan, kebijakan investasi diproksi dengan capital expenditure
dan kebijakan dividen diproksi dengan insentif manajer. Sedangkan faktor kinerja perusahaan
ditekankan pada aspek financial performance yang diproksi dengan ROA.

analisis fundamental menurut Siti Biqis (2008 : ) adalah salah satu jenis analisa investasi yang
dilakukan investor dengan memperhatikan laporan keuangan dan fundamental perusahaan.
Faktor fundamental perusahaan yaitu hal hak yag berkaitan dengan operasional suatu
perusahaan dan kemampuannya mendatagkan keuntungan

Sedangkan analisis fundamental menurut Andriani (2013 : 2) dalam jurnalnya adalah analisis
sekurtas yang menggunakan data internal (fundamnetal) dan faktor faktor eksternal yang
berhubungan dengan perusahaan atau badan usaha tersebut. Data fundamental yang dimaksud
adalah data keuangan, data pangsa pasar, siklus bisnis dan sejenisnya. Sementara data faktor
eksternal yang berhubungan dengan badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku
bunga, inflasi, dan sejenisnya. Melalui pertimbangan data data diatas, analisis fundamental
menghasikan analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan bahwa perusahaan yang
dianalisis sahamnya layak dibeli atau tidak.

3
David Sukardi (2010 : 203) dalam bukunya menyebutkan bahwa analisa fundamental adalah
studi tentang ekonomi, industri dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari
saham perusahaan

Rasio Keuangan

Jenis-jenis Rasio Keuangan

Rasio adalah angka yang menunjukan hubungan secara matematis antara suatu jumlah dan
jumlah yang lain, (Handoko 2004). Rasio Keuangan dapat digolongkan menjadi 5 (lima)
kelompok, yaitu:

1. Rasio Likuiditas

Kelancaran kegiatan perusahaan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ketersediannya aktiva


lancar yang dapat mendanai usaha perusahaan. Namun, tidak semua aktiva lancar dapat
digunakan untuk mendanai usaha pokok perusahaan, karena diperlukan juga untuk membayar
hutang jangka pendek. Rasio likuiditas pada prinsipnya membandingkan aktiva lancar dengan
hutang lancar. Semakin besar jumlah aktiva lancar dari pada hutang lancar, maka semakin
lancar pula usaha dan pembayaran hutang perusahaan, namun jika jumlah aktiva lancar lebih
kecil dari hutang lancar maka akan mengganggu usaha dan pembayaran hutang perusahaan,
Handoko (2004). Oleh karena itu, rasio likuiditas adalah rasio yang berguna untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek.

2. Rasio Solvabilitas (Leverage Keuangan)

Rasio Solvabilitas adalah rasio yang membandingkan seluruh hutang perusahaan dengan
kekayaan yang dimiliki perusahaan, untuk mengukur seberapa tinggi aktiva perusahaan yang
disediakan pemilik, dan berapa yang didanai dari pinjaman. Semakin rendah angka rasionya,
risiko untuk mengembalikan pokok pinjaman dan bunganya dalam jangka panjang semakin
kecil. Sebaliknya, jika angka rasio semakin tinggi, risiko untuk mengembalikan pokok
pinjaman dan bunganya dalam jangka panjang semakin besar. Begitu juga sebaliknya, Husnan
(2001) menyatakan bahwa semakin besar proporsi hutang yang digunakan oleh perusahaan,
maka pemilik modal akan menanggung resiko yang lebih besar. Dalam penelitian ini leverage
rasio yang digunakan adalalah Debt to Equity Ratio yang menunjukan perbandingan antara
jumlah seluruh kewajiban terhadap jumlah seluruh modal, (Subramanyam 2010). Rasio ini
dapat dihitung dengan rumus :

4
leverage Ratio = Total Hutang / Modal

3. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan


laba dari modal-modal yang digunakan untuk operasi perusahaan, semakin tinggi angka rasio
ini semakin baik karena hal itu menunjuka bahwa perusahaan mampu mengelola modalnya
dengan baik sehingga menghasilkan laba yang optimal. Dalam penelitian ini rasio profitabilitas
yang digunakan adalah Return on Asset dimana Return on Asset merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang
ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam upaya menghasilkan
keuntungan, rumus dalam menghitung Return on Asset, (Munawir, 2004) adalah :

ROA = Laba Bersih Setelah Pajak / Total Aktiva

4. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas menunjukan kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan harta-
harta yang dimilikinya atau perputaran dari aktiva-aktiva tersebut. Beberapa contoh dari rasio
aktivitas adalah rasio perputaran piutang dan rasio perputaran aktiva

5. Rasio Pasar

Rasio ini menujukan informasi perusahaan yang diungkapkan dalam basisi per saham. Dalam
penelitian ini rasio pasar yang digunakan adalah Price earning Ratio. Price earning Ratio adalah
rasio yang digunakan untuk memperkirakan nilai saham dengan cara membagi harga saham
saat ini dengan Earning Per Share. Menurut Subramanyam (2010) rumus yang digunakan
dalam menghitung Price earning Ratio adalah:

PER = Harga Pasar per Lembar Saham / Laba per Lembar Saham

5
BAB III

PEMBAHASAN

Profil Perusahaan

PT Holcim Indonesia Tbk (sebelumnya bernama PT Semen Cibinong Tbk; IDX: SMCB)
adalah sebuah perusahaan produsen semen di Indonesia. Presiden direkturnya saat ini adalah
Gerhard Wolfgang Schutz.

Holcim mengakuisisi saham mayoritas PT Semen Cibinong Tbk pada 13 Desember 2001.
Holcim Indonesia memiliki tiga pabrik semen masing-masing di Narogong, Jawa Barat,
Cilacap, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa Timur dengan total kapasitas maksimum 12.5 juta ton
semen per tahun. Kepemilikan saham Holcim Indonesia adalah LafargeHolcim Group sebesar
80.65% dan sisanya dimiliki publik.

Pergantian nama perusahaan dari PT Semen Cibinong Tbk menjadi PT Holcim Indonesia Tbk
dilakukan pada 1 Januari 2006

6
Analisis Fundamental Perusahaan

Analisis Rasio

1.Rasio likuiditas
Rasio Lancar
Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 140.5 63.9 69.9 65.2 46 77.10

RASIO LANCAR
160
140.5
140

120

100

80 69.9
63.9 65.2
60 46

40

20

0
1 2 3 4 5

Rasio Cepat

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 120.6 78.89 100.1 76.24 45 84.17

7
RASIO CEPAT
140
120.6
120
100.1
100
78.89 76.24
80

60 45

40

20

0
1 2 3 4 5

2.Rasio Manajemen
Utang/Solvabilitas
Rasio Total Utang Terhadap Total
Aktiva

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 0.308 0.411 0.491 0.512 0.42 0.43

RASIO MANAJEMEN UTANG


0.6
0.512
0.491
0.5
0.411 0.42
0.4
0.308
0.3

0.2

0.1

0
1 2 3 4 5

8
Time Interest Earned

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 20.2 17.9 27.9 26.8 26.7 23.90

TIME INTEREST EARNED


30 27.9
26.8 26.7

25
20.2
20 17.9

15

10

0
1 2 3 4 5

3.Rasio Profitabilitas
Marjin Laba Atas Penjualan

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 14.78 11.53 12.72 9.84 22 14.17

9
MARJIN LABA ATAS PENJUALAN
25
22

20

14.78
15 12.72
11.53
9.84
10

0
1 2 3 4 5

Return On Assets

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 11.6 7.8 10.1 14 10 10.70

RETURN ON ASSETS
16
14
14
11.6
12
10.1 10
10
7.8
8

0
1 2 3 4 5

10
Return On Equity

Tahun Rata-
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016 Rata
Holcim Indonesia 16.4 11.3 7.40 8.90 11 11.00

RETURN ON EQUITY
18.0 16.4
16.0
14.0
11.3 11
12.0
10.0 8.90
7.40
8.0
6.0
4.0
2.0
0.0
1 2 3 4 5

4.Rasio Aktivitas
Perputaran Persediaan

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
Holcim Indonesia 10 kali 7 kali 5 kali 13 kali 11 kali

11
PERPUTARAN PERSEDIAAN
14 13

12 11
10
10

8 7

6 5

0
1 2 3 4 5

Periode Penagihan Rata-Rata

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
Holcim Indonesia 56 hari 44 hari 45 hari 45 hari 52 hari

PERIODE PENAGIHAN RATA -RATA


60 56
52
50 44 45 45

40

30

20

10

0
1 2 3 4 5

12
Perputaran Aktiva Tetap

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
0,90 0,74 0,70 0,62 0,77
Holcim Indonesia kali kali kali kali kali

PERPUTARAN AKTIVA TETAP


100 90
90
77
80 74
70
70 62
60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5

Perputaran Total Aktiva

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
0,74 0,65 0,61 0,53 0,61
Holcim Indonesia kali kali kali kali kali

13
PERPUTARAN TOTAL AKTIVA
80 74

70 65
61 61
60 53

50

40

30

20

10

0
1 2 3 4 5

5.Rasio Pasar
Price Earning Ratio (PER)

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
Holcim Indonesia 16.477 18.347 25.115 43.261 43.91

PRICE EARNING RATIO (PER)


50.000
43.261 43.91
45.000
40.000
35.000
30.000 25.115
25.000
18.347
20.000 16.477
15.000
10.000
5.000
0.000
1 2 3 4 5

14
Dividen Payout Ratio(DPR)

Tahun
Nama Perusahaan
2012 2013 2014 2015 2016
Holcim Indonesia 0.455 0.726 0.747 0.652 0.699

DIVIDEN PAYOUT RATIO(DPR)


800 726 747
699
700 652

600

500 455

400

300

200

100

0
1 2 3 4 5

Informasi Terkait Dengan Analisis Rasio

Holcim 2012

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2012 lebih tinggi dibanding negara lain di
Asia Tenggara, dan imbas positifnya turut dirasakan perusahaan kita (Holcim) kinerja
penjualan yang baik dan pendapatan yang meningkat. Holcim kembali membukukan kenaikan
hasil penjualan dan pendapatan. Penjualan meningkat 20 persen menjadi Rp 9 triliun. Volume
domestik naik dari 8,2 juta ton menjadi 9,4 juta ton dengan harga rata-rata 11,6 persen lebih
tinggi dibanding tahun sebelumnya. Biaya operasional yang terkendali dan beban keuangan
yang lebih rendah dibanding tahun lalu membuat pendapatan bersih perusahaan meningkat 27
persen menjadi Rp 1,35 triliun atau Rp 176 perlembar saham. Sepanjang tahun 2012 harga
saham perusahaan melonjak dari Rp 2.100 pada awal tahun menjadi Rp 3.900 pada bulan
November seiring peningkatan volume saham yang diperdagangkan.

15
Rencana penambahan kapasitas

Holcim akan menambah kapasitas produksi menjadi 3,4 juta ton pada awal tahun 2015 -
kenaikan kapasitas produksi semen hingga 40 persen ini diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan konsumen sekaligus memperkuat posisi perusahaan. Sesuai desainnya, kapasitas
pabrik Tuban dapat ditingkatkan jika dibutuhkan, dan pembangunan Tuban 2 akan membuat
volume produksi perusahaan bertambah lagi 1,7 juta ton dalam waktu tidak terlalu lama.
Dengan berjalannya proyek yang baru nanti, wilayah operasional perusahaan akan mencakup

seluruh Pulau Jawa, ditambah dengan fasilitas pelabuhan yang akan mempermudah pengiriman
ke luar Jawa dan pengadaan batubara dari pemasok besar.

Penerimaan dan kinerja usaha

Hasil penjualan Holcim pada tahun 2012 naik 20 persen menjadi Rp 9 triliun seiring
peningkatan volume penjualan di dalam negeri sebesar 14 persen.

Laba kotor

Laba kotor perusahaan naik 16,9 persen, dan marjin 37,1 persen dibandingkan 38,1 persen di
2011. Biaya bahan baku dan biaya produksi meningkat 27,1 persen (2011: 25,5 persen)

Aktiva

Penurunan aktiva lancar, khususnya kas dan setara kas, terjadi karena perusahaan melakukan
pembayaran hutang, dan ini menyebabkan biaya pinjaman berkurang. Total aktiva tidak lancar
meningkat Rp 1,5 triliun menjadi Rp 9,98 triliun untuk pengadaan lahan dan peralatan serta
pembangunan gedung sejalan dengan rencana ekspansi.

kewajiban

Pinjaman jangka panjang pada pihak berelasi berkurang dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 823
miliar. Pada tahun 2012 perusahaan melakukan pembayaran kredit pihak berelasi atau Junior
note yang jatuh tempo November 2014, sehingga jumlah hutang berkurang menjadi US$ 60
juta per 31 Desember 2012 dari US$ 100 juta per akhir 2011. Pada tahun yang sama disepakati
pengambilan kredit jangka panjang senilai 35 juta Ringgit Malaysia (atau setara Rp 111 miliar)
yang akan jatuh tempo pada bulan Desember 2017. Pinjaman ini diambil untuk mendanai
akuisisi tambang batu di Kuari Kota Tinggi untuk anak perusahaan di Malaysia. Selain itu
perusahaan juga meminjam dana sebesar Rp 631 miliar, sesudah dikurangi biaya transaksi
keuangan, dengan fasilitas kredit berjangka dari KfW IPEX-Bank

16
GmbH dan BNP Paribas Bank N.V. yang ditandatangani tahun 2011 untuk pembelian peralatan
yang diproduksi di Jerman yang akan dipasang di pabrik semen baru Tuban.

Holcim 2013

Pada tahun 2013 perusahaan membukukan 29 persen penurunan pendapatan bersih menjadi Rp
952 miliar atau Rp 124 per saham dan kenaikan hasil penjualan bersih 7,5 persen menjadi Rp
9.686 miliar. Kinerja yang kurangmenggembirakan tersebut disebabkan sempat melesunya
perekonomian dan naiknya beban utang luar negeri untuk membiayai proyek ekspansi akibat
selisih kurs. Perusahaan sedang dalam masa transisi, dan dalam dua tahun mendatang langkah
pengembangan usaha berupa pembangunan pabrik baru maupun pelaksanaan program
Leadership Journey dan Commercial Excellence akan dinikmati hasilnya.

Pendapatan dan kinerja usaha

Hasil penjualan Holcim tahun 2013 naik 7,5 persen menjadi Rp 9.686 miliar dengan volume
penjualan 9,5 juta ton. Angka penjualan semen di pasar ritel tetap memuaskan sementara
penjualan ke proyek skala besarterus meningkat, khususnya untuk produk beton yang
volumenya melonjak hingga 20 persen menjadi 2,3 juta meter kubik, tertinggi selama lima
tahun terakhir. Posisi Holcim sebagai merek premium mampu kami pertahankan, dan volume
penjualan meningkat tajam pada bulan-bulan terakhir 2013. Permintaan terbesar datang dari
pasar ‘setempat’, yaitu Jawa, dengan volume penjualan 72,9 persen. Ongkos angkut ke luar
Jawa naik akibat penguatan dolar AS dan kenaikan harga bahan bakar, namun produk Holcim
semakin dikenal di luar Jawa sebagaimana terlihat dari fakta bahwa pusat distribusi
mencatatkan kenaikan volume penjualan jauh di atas ratarata yang sebesar 2,8 persen untuk
wilayah tersebut pada tahun 2013 (data ASI).

Laba kotor

Meskipun semua fasilitas produksi berhasil menaikkan produksi lebih tinggi dibanding
sebelumnya, gangguan listrik yang terjadi beberapa kali sepanjang tahun dan berkurangnya
volume penjualan membuat produksi semen turun pada 2013. Inilah faktor penyebab marjin

berkurang; kenaikan biaya bahan baku lebih besar dibanding kenaikan penjualan. Marjin dapat
ditingkatkan kembali setelah kapasitas naik pada tahun 2014 dan jaringan logistik diperluas.
Laba kotor tahun 2013 naik sedikit menjadi Rp 3.355 miliar. Kenaikan tersebut ditunjang
beberapa faktor seperti syarat yang lebih menguntungkan untuk pembelian batubara kalori
rendah, penghematan energi dan efisiensi proses.

17
Laba usaha

Biaya operasional naik 9,6 persen pada tahun 2013 menjadi Rp 1.323 miliar. Kenaikan biaya
distribusi hingga 19 persen disebabkan peningkatan biaya angkut sebagaimana disebutkan di
atas, dan perluasan jaringan pasokan. Laba usaha turun 9 persen menjadi Rp 1.848 miliar.

Beban keuangan

Pada tahun 2013 kami mengambil tambahan pinjaman dengan persyaratan yang kompetitif
untuk mendanai pengadaan peralatan dalam proyek perluasan pabrik Tuban 2 yang akan selesai
2015. Tambahan ini menambah beban bunga, namun kenaikan beban keuangan terbanyak
(hingga Rp 182 miliar menjadi Rp 521 miliar) disebabkan selisih kurs atas pinjaman dana mata
uang asing yang prosentasenya dari utang keseluruhan mencapai sekitar 64 persen. Mata uang
negara-negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami penyesuaian pada tahun 2013
menyusul keputusan pemerintah AS untuk berangsur-angsur menghentikan kebijakan
quantitative easing. Menurut ketentuan akuntansi di Indonesia, kami dapat mengalihkan selisih
kurs untuk kredit dalam mata uang asing, dan pada tahun 2013 jumlah yang dialihkan mencapai
US$ 5,5 juta.

Total Pendapatan Komprehensif

Total pendapatan komprehensif untuk tahun 2013 dibukukan sebesar Rp 1.006 miliar dengan
laba untuk tahun yang sama sebesar Rp 952 miliar atau Rp 124 per lembar saham.

Dividen

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2013 perusahaan mengumumkan pembagian
dividen final untuk tahun 2012 sebesar Rp 48 per lembar saham sesuai persetujuan pemegang
saham, dan juga mengumumkan pembagian dividen interim untuk tahun 2013 sebesar Rp 37
per lembar saham yang diambil dari laba perusahaan semester pertama dan dibayarkan pada

tahun 2013.

Aktiva

Ketika laporan ini disusun, total aktiva lancar tercatat sebesar Rp 2.085 miliar, tidak banyak
berubah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kas dan setara kas mengalami
penurunan dari Rp 556 miliar menjadi Rp 375 miliar, karena digunakan untuk pembayaran

18
utang dan bunga. Piutang dagang dan piutang lain naik seiring meningkatnya kegiatan usaha
pada bulan-bulan terakhir tahun 2013. Pengelolaan modal kerja bersih dilakukan dengan sangat
ketat agar perusahaan dapat beroperasi dengan efisien. Aktiva tidak lancar naik karena proyek
ekspansi di Tuban telah 80 persen rampung dan proyek Tuban 2 telah berjalan sekitar 30
persen. Selain itu, kami berinvestasi pada program peningkatan kualitas dan efisiensi di

pabrik yang ada, serta akuisisi satu unit tambang baru untuk unit agregat, investasi untuk
logistik juga dilakukan. Total aktiva tidak lancar naik Rp 2,8 triliun menjadi Rp 12,8 triliun.

Kewajiban

Total kewajiban tidak lancar per tanggal laporan mencapai Rp 2,9 triliun. Sebagian besar di
antaranya merupakan pinjaman jangka panjang yang nilainya sebesar Rp 2.174 miliar, naik
dari Rp 720 miliar pada 2012. Dengan diambilnya keputusan memajukan rencana
pembangunan tanur kedua di pabrik Tuban, kembali dilakukan penarikan fasilitas kredit ekspor
pada tahun 2013 untuk mendanai pengadaan peralatan sesuai kontrak pembangunan pabrik.
Diupayakan fasilitas kredit jangka panjang dalam rupiah, dan jumlah yang ditarik per tanggal
laporan adalah sebesar Rp 925 miliar untuk keperluan proyek. Seluruh pinjaman akan jatuh
tempo pada tahun 2017. Pinjaman sebesar Rp 1.156 miliar dari fasilitas secured

notes Tranche B senilai US$ 195,7 juta yang disediakan Holcim Ltd. sebagai pemegang saham
mayoritas akan jatuh tempo pada bulan November 2014 dan karenanya dialihkan menjadi
kewajiban lancar. Seluruh kewajiban lancar membesar dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya dari Rp 1.557 miliar menjadi Rp 3.262 miliar. Kenaikan tersebut berasal dari porsi
utang jangka panjang yang diambil dan tambahan fasilitas kredit untuk anak perusahaan kami
di Malaysia serta kewajiban yang jumlahnya bertambah untuk memenuhi kebutuhan usaha.

Ekuitas

Ekuitas per tanggal pelaporan mencakup akumulasi laba ditahan sebesar Rp 2.376 miliar
setelah dipotong pembayaran dividen, yang dibagi menjadi laba ditahan yang ditentukan
penggunaannya sebagai cadangan wajib sebagai Rp 460 miliar dan laba ditahan yang tidak
ditentukan penggunaannya sebesar Rp 1.916 miliar.

19
Holcim 2014

Pendapatan dan laba bruto

Pada tahun 2014, penjualan naik 8,7% menjadi Rp 10,5 triliun. Sebanyak 17% hasil penjualan
berasal dari penjualan produk beton siap-pakai dan agregat, yang mengalami peningkatan 5%
menjadi Rp 1,77 triliun. Harga jual rata-rata untuk semen naik 6% sementara untuk beton siap-
pakai naik 8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Volume penjualan semen
meningkat dari 9,5 juta ton menjadi 9,8 juta ton, namun tidak diiringi peningkatan volume
pengiriman beton. Unit kerja di Malaysia menemui kesulitan dalam mempertahankan volume
penjualan karena mereka harus memindahkan dan mengoperasikan beberapa aset, namun
turunnya volume berhasil mereka antisipasi dengan menetapkan harga lebih tinggi dibanding
tahun sebelumnya. Beban pokok penjualan naik 18,5% akibat peningkatan biaya produksi
sebesar 22% yang disebabkan membengkaknya beban listrik, karyawan dan beberapa beban
pengadaan energi lain. Depresiasi juga tercatat meningkat karena kami memperbesar fasilitas
produksi dan logistik pabrik. Laba kotor turun 10% menjadi Rp 3,0 triliun. Marjin juga tertekan
karena beberapa faktor, khususnya turunnya angka permintaan seiring melemahnya
perekonomian, meningkatnya persaingan, tertundanya penyelesaian proyek Tuban 1 dan
munculnya kondisi yang memicu lonjakan biaya.

Laba usaha

Seluruh biaya operasional naik 15,1% menjadi Rp 1,73 triliun. Pengoperasian jalur produksi
baru di Tuban beberapa kali tertunda, dan hal ini membuat biaya distribusi meningkat 22,6%
pada tahun 2015 agar dapat memenuhi pesanan pelanggan kami terpaksa mengimpor klinker
dan mengambil pasokan dari pabrik kami lainnya yang berjarak lebih jauh. Beban administrasi
dan beban umum mengalami kenaikan 50% menjadi Rp 596 miliar yang disebabkan kenaikan
38,7% beban tenaga kerja dan beban lain terkait tenaga kerja maupun beban untuk beberapa
proyek regional. Beban penjualan meningkat 14% menjadi Rp 296 miliar. Hal ini disebabkan
kenaikan angka penjualan dalam rangka persiapan beroperasinya Tuban maupun beban umum
yang terkait tenaga kerja tersebut di atas. Laba usaha mengalami penurunan 30% menjadi Rp
1,29 triliun.

Beban keuangan

Beban keuangan menurun drastis dari Rp 521 miliar menjadi Rp 291 miliar pada tahun 2014.
Penurunan ini terutama disebabkan lebih rendahnya kerugian selisih kurs untuk utang dalam

20
mata uang asing. Pada tahun 2014 nilai tukar Rupiah menguat dibanding tahun 2013. Sebagian
besar kewajiban dalam mata uang asing dilunasi, termasuk kewajiban Junior Note kepada
Holcim Group. Perusahaan mengambil fasilitas kredit tambahan dengan jangka menengah
dalam mata uang Rupiah pada tahun 2014 sehingga risiko kerugian akibat selisih kurs
berkurang jauh.

Total Pendapatan Komprehensif

Total pendapatan komprehensif untuk tahun 2014 dibukukan sebesar Rp 652 miliar dengan
laba untuk tahun yang sama sebesar Rp 669 miliar atau Rp 87 per lembar saham.

Dividen

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tahun 2014 menyetujui pembayaran dividen final
senilai Rp 406 miliar atau Rp 53 per lembar saham yang diambil dari pendapatan tahun 2013.
Pembagiannya sendiri dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Dividen interim sejumlah Rp 260,5
miliar atau Rp 34 per lembar saham yang diambil dari pendapatan semester pertama 2014 juga
telah disetujui pada bulan Agustus 2014, dan dibagikan kepada pemegang saham pada bulan
Oktober 2014.

Aktiva

Naiknya nilai seluruh aktiva selama setahun dari Rp 14,9 triliun menjadi Rp 17,2 triliun
diakibatkan peningkatan aktiva tidak lancar, dalam hal ini tanah, pabrik dan peralatan untuk
proyek Tuban, termasuk di dalamnya jalur produksi pertama yang mulai dioperasikan pada
tahun 2014 dan jalur produksi kedua yang akan berjalan pada semester kedua 2015. Aktiva
lancar per akhir 2014 tercatat meningkat: modal kerja naik 10%, yang berasal dari kenaikan
piutang hingga Rp 1,17 triliun karena pasokan dari pabrik baru mendongkrak penjualan
menjelang akhir tahun dan dari kenaikan stok sebesar 25% menjadi Rp 737 miliar dari

tahun sebelumnya, sedangkan saldo kas dibukukan Rp 214 miliar (2013: Rp 376 miliar). Selain
pada proyek baru Tuban, dana diinvestasikan pula untuk pengadaan peralatan tambahan dalam
rangka optimalisasi penggilingan semen di pabrik Narogong dan Cilacap, pengadaan peralatan
tambang dan untuk pembangunan fasilitas baru pengolahan limbah di Narogong yang selesai
tahun 2014. Pada tahun yang sama, pembangunan terminal semen baru di Lampung mulai
berjalan.

Kewajiban

21
Seluruh kewajiban meningkat sebesar Rp 2,3 triliun dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan
ini terutama disebabkan naiknya besaran utang jangka menengah yang diambil untuk
penambahan aset tersebut di atas. Pinjaman dalam mata uang asing mengalami penurunan
setelah perusahaan melunasi fasilitas Junior Note kepada Holcim Group, termasuk pokok
pinjaman dan bunga tambahan. Kredit tambahan dalam Rupiah yang diambil pada tahun 2014
menyebabkan kewajiban tidak lancar naik sebesar Rp 1,77 triliun. Neraca tetap kuat dan rasio
utang-modal masih dalam taraf yang layak, sementara termin pembayaran utang diperpanjang.
Kenaikan arus kas dari pengoperasian Tuban 1 selama 12 bulan penuh dan sebagian besar dari
Tuban 2 setelah proyeknya rampung, akan dimanfaatkan untuk pelunasan utang selanjutnya.

Ekuitas

Total ekuitas pada saat laporan ini disusun mencapai Rp 8,76 triliun, yang terdiri atas laba
ditahan tahun 2014 setelah dikurangi pembayaran dividen, dan laba ditahan yang tidak
ditentukan penggunaannya sebesar Rp 1,76 triliun.

Arus kas

Kas bersih yang dibukukan dari kegiatan usaha selama tahun 2014 adalah sebesar Rp 1,71
triliun. Arus kas digunakan untuk kegiatan investasi mencapai Rp 2,84 triliun. Kas bersih dari
fasilitas pinjaman tercatat sebesar Rp 965 miliar, sedangkan saldo kas akhir tahun Rp 214
miliar.

Holcim 2015

Kondisi pasar

Indonesia selama enam tahun terakhir berturut-turut membukukan angka pertumbuhan


ekonomi yang rendah.Pada tahun 2015 pertumbuhan PDB hanya 4,8%, dibanding 5,0% pada
tahun 2014. Penjualan semen untuk seluruh Indonesia menurun 1,7% menjadi 60,9 juta ton,
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni 3,3% pada 2014 dan 5,5% pada 2013. Pangsa
pasar Holcim masih tetap bertahan di angka 14,2%, nyaris tidak berubah dibanding tahun
sebelumnya meski persaingan berlangsung ketat akibat terus bertambahnya produksi pada
tahun itu. Perusahaan selesai membangun jalur produksi kedua di Tuban yang berkapasitas 1,7
juta ton pada pertengahan 2015.

Pendapatan dan Laba Bruto

22
Penjualan turun 2,6% pada tahun 2015 menjadi Rp 9,2 triliun. Sebanyak 84% total pendapatan
berasal dari penjualan semen yang mencapai Rp 7,8 triliun, sedangkan penjualan beton siap-
pakai dan agregat turun 11% menjadi 1,3 triliun. Volume penjualan semen dan klinker naik
6,6% menjadi 9,56 juta ton, namun pendapatan yang dihasilkan tergerus penurunan tajam
harga. Pengiriman beton siap-pakai berkurang 14% dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya dengan kenaikan harga penjualan rata-rata sebesar 2%. Volume penjualan agregat
lebih tinggi 0,3% dengan peningkatan harga pada tahun yang sama sebesar 16%. Beban pokok
penjualan meningkat 5,8% menjadi Rp 7,09 triliun. Faktor utama yang menyebabkan
peningkatan ini adalah naiknya tarif listrik sebesar 14% dan semakin besarnya penyusutan nilai
pabrik dan peralatan, setelah rampungnya pembangunan pabrik baru di Tuban. Bahan baku,
yang biaya pengadaannya mencapai 8% dari biaya keseluruhan, hanya sedikit berubah. Laba
kotor turun 23% menjadi Rp 2,1 triliun. Marjin menyusut terutama akibat berkurangnya
permintaan, meningkatnya biaya secara umum, dan juga biaya khusus yang dicatatkan satu kali
terkait reorganisasi perusahaan sebelum akuisisi.

Pendapatan usaha

Pendapatan usaha seluruhnya untuk tahun 2015 tercatat sebesar Rp 909 miliar, lebih rendah
25% dibanding tahun sebelumnya. Biaya distribusi naik 18% menjadi Rp 890 miliar yang
berasal dari beban angkutan dalam negeri, sementara dampak penurunan harga bahan bakar
minyak baru dirasakan pada triwulan keempat. Saat ini tengahdisusun rencana untuk
merampingkan proses logistik. Beban penjualan naik 21% menjadi Rp 323 miliar karena
belanja iklan dan pemasaran diperbesar dalam upaya terus memperkenalkan merek kepada
konsumen. Biaya umum dan administrasi meningkat 15% menjadi Rp 603 miliar terkait beban
karyawan dan proyek regional. Keuntungan sebesar Rp 583 miliar dibukukan sebagai hasil
divestasi Holcim Malaysia.

Beban keuangan

Naiknya beban keuangan dari Rp 283 miliar menjadi Rp 564 miliar pada tahun 2015 terutama
disebabkan peningkatan beban bunga dan kenaikan rugi selisih kurs. Beban bunga meningkat
36% menjadi Rp 428 miliar atas utang perusahaan dan fasilitas pinjaman rupiah jangka panjang
senilai Rp 1,1 triliun yang ditarik tahun itu. Rugi selisih kurs tercatat Rp 136 miliar sedangkan
pada tahun 2014 perusahaan membukukan laba selisih kurs Rp 31 miliar atas pinjaman dalam
mata uang asing. Nilai tukar rupiah turun dibanding dolar AS pada tahun 2015, yakni dari Rp
12.440 terhitung 31 Desember 2014 menjadi Rp 13.795 setahun kemudian. Nilai tukar terhadap

23
euro dalam kurun waktu tercatat Rp 15.133 menjadi Rp 15.070 yang menandakan penguatan
rupiah. Rasio hutang terhadap ekuitas naik dari 0,63:1 menjadi 0,71:1 pada tahun 2015;
manajemen perusahaan yakin jumlah utang dan bunga yang harus dibayar

Aset

Naiknya jumlah aset dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dari Rp 17,1 triliun
menjadi Rp 17,3 triliun terjadi karena aset lancar meningkat 14% atau Rp 316 miliar menjadi
Rp 2,58 triliun dan aset tidak lancar sedikit menurun sebesar Rp 194 miliar menjadi Rp 14,74
triliun. Kenaikan aset lancar menjadi Rp 2,58 triliun itu terkait peningkatan posisi kas akhir
tahun sehubungan dengan keuntungan dari divestasi Holcim Malaysia. Faktor pemicu turunnya
aset tidak lancar antara lain penghentian kegiatan operasional Holcim Malaysia yang
didivestasi pada tahun 2015.

Liabilitas

Total liabilitas naik 3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 8,9 triliun
akibat kenaikan utang dalam rupiah sedangkan pembayaran sebesar US$ 20,3 juta dan EUR
11,5 juta dilakukan pada tahun 2015 untuk fasilitas kredit ekspor yang diambil untuk pabrik di
Tuban yang baru saja rampung.

Ekuitas

Total ekuitas pada saat laporan ini disusun mencapai Rp 8,4 triliun, yang terdiri atas saldo laba
setelah dikurangi pembayaran dividen, dan saldo laba yang tidak ditentukan penggunaannya,
komponen ekuitas lain, modal saham dan tambahan modal disetor.

Arus kas

Kas bersih yang diperoleh dari kegiatan usaha selama tahun 2015 adalah sebesar Rp 534 miliar.
Arus kas untuk aktivitas investasi mencapai Rp 506 miliar. Kas bersih dari aktivitas pendanaan
tercatat Rp 423 miliar, sedangkan saldo kas akhir tahun Rp 638 miliar.kan saat ini masih dalam
taraf yang wajar.

Holcim 2016

Aset

Berdasarkan laporan posisi keuangan konsolidasian pada tahun 2016, komposisi total aset
Perseroan terdiri dari 12,35% aset lancar dan 87,65% aset tidak lancar. Total aset Perseroan

24
naik 13,77%, dari 17,37 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp19,76 triliun pada Desember
2016. Kenaikan jumlah aset terutama disebabkan oleh kenaikan aset tidak lancar. Aset lancar
turun sebesar -7,26% menjadi Rp2,43 triliun per 31 Desember 2016, dari Rp2,63 triliun pada
bulan Desember 2015. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan kas dan setara kas sebesar -
49.27% menjadi Rp323,83 miliar. Namun, sebagian diimbangi oleh piutang lain-lain dibayar
di muka sebesar 49.18% menjadi Rp216.7 miliar, aset lancar lainnya sebesar 53,60% menjadi
Rp181,61 miliar, dan aset derivatif sebesar Rp49,88 miliar. Aset tidak lancar naik 17,53%, dari
Rp14,74 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp17,32 triliun pada Desember 2016. Hal ini
terutama disebabkan oleh kenaikan aset properti, pabrik dan peralatan sebesar 15,12% menjadi
Rp16,61 triliun, Goodwill sebesar 1.619,63% menjadi Rp401,81 miliar, dan aset tidak lancar
lainnya sebesar 60,29% menjadi Rp160,95 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh
pembelian anak perusahaan, LCI, pada bulan Februari 2016.

Kewajiban

Total kewajiban Perseroan meningkat sebesar 31,18%, dari Rp8,92 triliun pada Desember 2015
menjadi Rp11,70 triliun pada Desember 2016. Hal ini didorong oleh kenaikan kewajiban lancar
Perseroan sebesar 32,56% - meningkat dari Rp4.01 triliun pada tahun sebelumnya menjadi
Rp5,31 triliun pada 2016 - dan juga kenaikan kewajiban tidak lancar sebesar 30,05% dari
Rp4,91 triliun menjadi Rp6,39 triliun. Kenaikan kewajiban lancar pada tahun 2016 terutama
dipengaruhi oleh kenaikan pinjaman bank jangka pendek dengan pihak ketiga 420,18%
menjadi Rp1,16 triliun, dan beban yang masih harus dibayar meningkat sebesar 38,73%
menjadi Rp664,41 miliar. Sementara itu, kenaikan kewajiban tidak lancar dipengaruhi oleh
pinjaman jangka panjang baru dengan pihak berelasi sebesar Rp1,42 triliun dan kenaikan
kewajiban pajak tangguhan sebesar 175,76% menjadi Rp660,51 miliar

Ekuitas

Ekuitas bersih yang berasal dari pemegang saham Perseroan pada tanggal 31 Desember 2016
mengalami penurunan sebesar 4,6% dari tahun sebelumnya sebesar Rp8,44 triliun. Hal ini
disebabkan adanya kerugian komprehensif sebesar Rp274,32 miliar dan pembagian dividen
sebesar Rp114,94 miliar.

25
Penjualan

Per 31 Desember 2016, Perseroan berhasil meraih penjualan bersih sebesar Rp9,46 triliun,
meningkat tipis 2,37% dari Rp9,24 triliun pada tahun 2015. Kenaikan ini terutama didorong
oleh kenaikan penjualan semen dan klinker termasuk ekspor.

Laba Kotor

Per 31 Desember 2016, laba kotor turun sebesar -9,75% menjadi Rp1,93 triliun meskipun
terjadi kenaikan penjualan dari Rp2,14 triliun pada akhir Desember 2015. Penurunan ini
disebabkan oleh turunnya harga di pasar, yang dipengaruhi oleh semakin banyaknya
kompetitor, serta kenaikan biaya barang sebesar 6,03%, naik menjadi Rp7,53 triliun dari
Rp7,09 triliun pada akhir Desember 2015.

Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan

Sepanjang 2016, Perseroan mendorong lebih banyak optimalisasi biaya yang mengakibatkan
penurunan biaya operasional (turun sebesar -8,81% menjadi Rp1,65 triliun) dan biaya
keuangan (turun sebesar -31,52% menjadi Rp386 miliar) secara signifikan. Hal ini
memungkinkan Perseroan mengurangi kerugiannya sebelum pajak penghasilan, yang turun
dari laba sebesar Rp350, 42 miliar menjadi kerugian sebesar Rp(172,03) miliar. Di tahun 2015,
laba Perseroan juga termasuk laba dari hasil penjualan Holcim Malaysia senilai Rp583,30
miliar.

Laba (Rugi) Bersih

Hasil laba kotor Perseroan menyebabkan penurunan beban pajak sebesar -25,43% menjadi
Rp112,55 miliar. Hal ini mempengaruhi rugi bersih Holcim sebesar Rp284,58 miliar pada
tanggal 31 Desember 2016, turun -262,50% dari Rp175,13 miliar pada tahun sebelumnya.

Rasio Lancar

Per tanggal 31 Desember 2016, Rasio Lancar turun menjadi 0,46 dibandingkan dengan rasio
tahun lalu sebesar 0,65, terutama karena tambahan pinjaman bank jangka pendek.

Rasio Leverage

Tahun ini, rasio Hutang terhadap Total Ekuitas meningkat dari 0,7 pada Desember 2015
menjadi 1,0 pada Desember 2016, sebagai hasil akuisisi Lafarge Cement Indonesia. Selain itu,

26
rasio Hutang terhadap Total Aset tercatat sebesar 0,42 tahun ini, meningkat dari tahun lalu
0,34.

Rasio Profitabilitas

Per tanggal 31 Desember 2016, Perseroan membukukan ROA negatif 1,44% dan ROE negatif
3,53%, yang terutama disebabkan oleh rugi bersih tahun berjalan. Pada tahun sebelumnya,
rasio masing-masing sebesar 1,01% dan 2,07%. Selanjutnya, Net Income Margin turun dari
0,02 tahun lalu menjadi negatif 0,03 di tahun 2016.

27
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Hasil dari grafik hampir keseluruhan rasio mengalami fluktuasi, akan tetapi lebih
cenderung mengalami penuruan disebabkan faktor baik internal maupun eksternal. Faktor
internal antara lain kebutuhan dana terfokus untuk ekspansi pembangunan pabrik yag berada
di daerah Tuban. Selain itu kebutuhan pemasok juga menejadi kendala utama karena harga
bahan baku yang terus melonjak tinggi. Hal ini membuat pihak pabrik unuk meneka biaya
produksi.

Berikut catatan aktiva semen holcim dari tahun 2012 hingga 2016

Aktiva 2012

Penurunan aktiva lancar, khususnya kas dan setara kas, terjadi karena perusahaan melakukan
pembayaran hutang, dan ini menyebabkan biaya pinjaman berkurang. Total aktiva tidak
lancar meningkat Rp 1,5 triliun menjadi Rp 9,98 triliun untuk pengadaan lahan dan peralatan
serta pembangunan gedung sejalan dengan rencana ekspansi

Aktiva 2013

Ketika laporan ini disusun, total aktiva lancar tercatat sebesar Rp 2.085 miliar, tidak banyak
berubah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kas dan setara kas mengalami
penurunan dari Rp 556 miliar menjadi Rp 375 miliar, karena digunakan untuk pembayaran

utang dan bunga. Piutang dagang dan piutang lain naik seiring meningkatnya kegiatan usaha
pada bulan-bulan terakhir tahun 2013. Pengelolaan modal kerja bersih dilakukan dengan sangat
ketat agar perusahaan dapat beroperasi dengan efisien. Aktiva tidak lancar naik karena proyek
ekspansi di Tuban telah 80 persen rampung dan proyek Tuban 2 telah berjalan sekitar 30
persen. Selain itu, kami berinvestasi pada program peningkatan kualitas dan efisiensi di

pabrik yang ada, serta akuisisi satu unit tambang baru untuk unit agregat, investasi untuk
logistik juga dilakukan. Total aktiva tidak lancar naik Rp 2,8 triliun menjadi Rp 12,8 triliun.

Aktiva 2014

Naiknya nilai seluruh aktiva selama setahun dari Rp 14,9 triliun menjadi Rp 17,2 triliun
diakibatkan peningkatan aktiva tidak lancar, dalam hal ini tanah, pabrik dan peralatan untuk

28
proyek Tuban, termasuk di dalamnya jalur produksi pertama yang mulai dioperasikan pada
tahun 2014 dan jalur produksi kedua yang akan berjalan pada semester kedua 2015. Aktiva
lancar per akhir 2014 tercatat meningkat: modal kerja naik 10%, yang berasal dari kenaikan
piutang hingga Rp 1,17 triliun karena pasokan dari pabrik baru mendongkrak penjualan
menjelang akhir tahun dan dari kenaikan stok sebesar 25% menjadi Rp 737 miliar dari

tahun sebelumnya, sedangkan saldo kas dibukukan Rp 214 miliar (2013: Rp 376 miliar). Selain
pada proyek baru Tuban, dana diinvestasikan pula untuk pengadaan peralatan tambahan dalam
rangka optimalisasi penggilingan semen di pabrik Narogong dan Cilacap, pengadaan peralatan
tambang dan untuk pembangunan fasilitas baru pengolahan limbah di Narogong yang selesai
tahun 2014. Pada tahun yang sama, pembangunan terminal semen baru di Lampung mulai
berjalan.

Aset 2015

Naiknya jumlah aset dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dari Rp 17,1 triliun
menjadi Rp 17,3 triliun terjadi karena aset lancar meningkat 14% atau Rp 316 miliar menjadi
Rp 2,58 triliun dan aset tidak lancar sedikit menurun sebesar Rp 194 miliar menjadi Rp 14,74
triliun. Kenaikan aset lancar menjadi Rp 2,58 triliun itu terkait peningkatan posisi kas akhir
tahun sehubungan dengan keuntungan dari divestasi Holcim Malaysia. Faktor pemicu turunnya
aset tidak lancar antara lain penghentian kegiatan operasional Holcim Malaysia yang
didivestasi pada tahun 2015.

Aset 2016

Berdasarkan laporan posisi keuangan konsolidasian pada tahun 2016, komposisi total aset
Perseroan terdiri dari 12,35% aset lancar dan 87,65% aset tidak lancar. Total aset Perseroan
naik 13,77%, dari 17,37 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp19,76 triliun pada Desember
2016. Kenaikan jumlah aset terutama disebabkan oleh kenaikan aset tidak lancar. Aset lancar
turun sebesar -7,26% menjadi Rp2,43 triliun per 31 Desember 2016, dari Rp2,63 triliun pada
bulan Desember 2015. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan kas dan setara kas sebesar -
49.27% menjadi Rp323,83 miliar. Namun, sebagian diimbangi oleh piutang lain-lain dibayar
di muka sebesar 49.18% menjadi Rp216.7 miliar, aset lancar lainnya sebesar 53,60% menjadi
Rp181,61 miliar, dan aset derivatif sebesar Rp49,88 miliar. Aset tidak lancar naik 17,53%, dari
Rp14,74 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp17,32 triliun pada Desember 2016. Hal ini
terutama disebabkan oleh kenaikan aset properti, pabrik dan peralatan sebesar 15,12% menjadi
Rp16,61 triliun, Goodwill sebesar 1.619,63% menjadi Rp401,81 miliar, dan aset tidak lancar

29
lainnya sebesar 60,29% menjadi Rp160,95 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh
pembelian anak perusahaan, LCI, pada bulan Februari 2016.

30
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim. 2005. Analisis Investasi. Jakarta. Salemba Empat.

Andriani, friska dkk. 2013. Pengambilan Keputusan Investasi Saham Dengan Menggunakan
Analisis Fundamental Internal Melalui Pendekatan Price Earning Ratio (Studi Pada
Perusahaan Otomotif Dan Komponennya Yag Listing Di Bursa Efek Indonesia Periode
2010 – 2012 ). Jurnal Universitas Brawijaya.

Eiteman, David K dkk. 2003. Manajemen Keuangan Multinasional. Edisi Kesembilan,


Bahasa Indonesia. Indeks Kelompok Gramedia Jakarta.

Fakhruddin, M dan M. Sopian Hadianto. 2001. Perangkat dan Model Analisis Investasi di
Pasar Modal. Buku Satu. Jakarta: PT. Elekmedia Komputindo Kelompok Gramedia.

Handoko, T.Hani. 1995. Manajemen. Edisi 2. BPFE: Yogyakarta

Hendy M Fakhruddin. 2008. Istilah Pasar Modal A-Z. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Husnan, Suad. 2001. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas. AMP YPKN:
Yogyakarta

Kodrat, David Sukardi. Indojaya, Kurniawan. 2010. Manajemen Investasi Pendekatan


Teknikal dan Fundamental untuk Analisis Saham. Edisi Pertama. Graha Ilmu. Jakarta.

K.R. Subramanyam dan John J. Wild. 2010. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Sepuluh,
Jakarta, Salemba Empat.

Sabrini, Siti Bilqis. 2008. Analisis Harga Saham Industri Rokok Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2004 – 2007 Dengan Analisis Fundamental Dan Tekikal (Skripsi S1 Fakultas
Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor).

Sinaga S. 2011. Pengaruh Substitusi Tepung Terigu Dan Jenis Penstabil Dalam Pembuatan
Cookies Labu Kuning. (Skripsi). Medan. Universitas Sumatera Utara.

S. Munawir. 2004. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ke-4, Liberty, Yogyakarta. Ikatan
Akuntansi Indonesia (IAI). 2004. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK ).
Jakarta: Salemba Empat.

Stevenson, Richard.A, Edward Jennings dan David Loy. 1988. Fundamental Investment.

31
Weston J. Fred dan Eugene F. Brigham. 1986. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Jilid
I dan II. Terjemahan A.Q. Khalid. Penerbit Erlangga. Jakarta.

32