Anda di halaman 1dari 68

2.

6 Jenis Penyakit Akibat Kerja

2.6.1. PENYAKIT AKIBAT RADIASI ELEKTROMAGNETIK

A. Definisi

Radiasi elektromagnetik disini disebut juga sebagai radiasi


pengion, yaitu partikel yang mampu menghasilkan ion-ion sepanjang
lintasan di dalam bahan, sebagai contoh sinar-α, sinar-β, sinar-x, dan
neutron. Alat atau zat radioaktif yang dapat memancarkan bahan
tersebut disebut sebagai sumberr radiasi. Zat radioaktif sendiri
merupakan suatu zat yang menggandung satu atau lebih radionuklida
yang aktivitasnya atau kadarnya tidak dapat diabaikan dari segi
proteksi radiasi.
Penyakit akibat gangguan radiasi elektromagnetik merupakan
gangguan fisiologis dengan tanda dan gejala neurologis maupun
kepekaan, berupa berbagai gejala dan keluhan.Umumnya gangguan-
gangguan tersebut muncul akibat radiasi dari jaringan listrik tegangan
tinggi atau ekstra tinggi, peralatan elektronik di rumah, di kantor
maupun industri, termasuk telephone seluler maupun microwave
oven.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Radiasi merupakan salah satu dampak dari proses radioaktif


dimana di dalamnya terdapat reaksi-reaksi kimi, seperti reaksi fisi dan
fusi. Oleh karena itu, radiasi-radiasi yang ditimbulkan oleh proses
radioaktif tersebut berdampak dalam kehidupan kita sehari-hari.
Penyakit akibat radiasi elektromagnetik dapat terjadi pada pekerja
yang berisiko tinggi yaitu pekerja yang bekerja dengan
menggunakan sumber radiasi atau di area radiasi baik di bidang
perindustrian, pertanian, kedokteran dan kesehatan, dll.
Radiasi pengion di tempat kerja akan semakin meningkatkan
risiko kemungkinan terkena kanker mematikan pada individu pekerja
yang memiliki kegiatan dalam kehidupan seharinya yaitu :
Merokok sebanyak 1.4 batang rokok (kanker paru)
Memakan 40 sendok makan mentega (serangan jantung)
Tinggal dua hari di kota Jakarta (polusi udara)
Mengendarai mobil sejauh 65 km (kecelakaan)
Terbang sejauh 4200 km dengan pesawat jet (kecelakaan)
Menerima dosis radiasi sebesar 10 mrem (kanker)
C. Macam –macam Penyakit Akibat Radiasi Elektomagnetik

1. Penyakit radiasi dengan efek biologik


Penyakit ini muncul akibat efek yang kemunculannya kurang dari
satu tahun sejak terjadinya penyinaran. Penyinaran akut
melibatkan radiasi dosis tinggi.
2. Penyakit radiasi dengan efek tertunda
Penyakit radiasi ini muncul dikarenakan penyinaran oleh
radiasi dosis rendah namun berlangsung terus – menerus ( kronis).
Penyinaran jenis ini biasanya tidak segera menampakkan efeknya.
3. Penyakit radiasi dengan efek stokastik
Efek stokastik berkaitan dengan paparan dosis rendah yang dapat
muncul pada manusia dalam bentuk kanker ( kerusakan somatik )
atau cacat pada keturunan (keruskan genetik). Jadi sekecil
apapun dosis radiasi yang diterima tubuh ada kemungkinan akan
menimbulkan kerusakan sel somatik maupun genetik.
4. Penyakit radiasi dengan efek deterministik
Efek deterministik berkaitan dengan paparan dosis radiasi tinggi
yang kemunculannya dapat langsung dilihat atau dirasakan oleh
individu yang terkena radiasi. Efek muncul seketika hingga
beberapa minggu setelah penyinaran.

D. Prognosis

Jenis penyakit akibat radiasi elektromagnetik adalah


gangguan pada sistem molekuler tubuh pekerja akibat pajanan radiasi.
Prognosis akan baik apabila pajanan radiasi sesuai dengan nilai
batas dosis radiasi dan dilakukan diagnosis sedini mungkin.

E. Patogenesis

Gelombang elektromagnetik dapat menembus bahan,


dengan daya tembus sangat besar dan digunakan dalam radiografi.
Makin tinggi tegangan tabung (besarnya KV) yang digunakan,
makin besar daya tembusnya. Makin rendah berat atom atau
kepadatan suatu benda, makin besar daya tembus sinarnya. Apabila
berkas gelombang elektromagnetik melalui suatu bahan atau zat, maka
berkas tersebut akan bertebaran ke segala jurusan, menimbulkan
radiasi sekunder ( radiasi hambur ) pada bahan/zat yang dilaluinya.
F. Pencegahan

Individu pekerja dapat melakukan berbagai tindakan pencegahan


seperti :

a. Kurangi waktu berada di sekitar sumber radiasi


b. Dosis radiasi yang diterima akan berkurang dengan sesingkat
mungkin berada dekat dengan sumber radiasi. Minimalkan waktu
bekerja maka akan meminimalkan dosis radiasi yang diterima.
c. Posisikan diri sejauh mungkin dari sumber radiasi
d. Menjauhkan sumber radiasi dengan faktor waktu dapat menurunkan
intensitasnya menjadi seperempat dan ketika menjauhkan jarak
sumber radiasi dengan faktor jarak akan menurunkan intensitasnya
menjadi sepersembilannya. Untuk memindahkan atau mengambil
sumber radiasi dapat menggunakan bantuan tongkat penjepit
panjang, rak tabung ataupun baki, apapun yang mampu
mengurangi intensitas paparan radiasi.
e. Menjauhkan sumber radiasi dengan faktor waktu dapat f.
Guanakan perisai yang sesuai
Gunakanlah perisai yang sesuai saat melakukan pekerjaan yang
bersinggungan dengan radiasi. Pilihlah perisai yang dapat
menurunkan secara eksponential paparan radiasi gamma dan
menghalangi hampir semua radiasi beta.

Nilai batas dosis (NBD) pajanan radiasi tahunan di tempat kerja


yaitu
2.6.2 ASMA AKIBAT KERJA

A. Definisi

Asma merupakan penyakit saluran napas kronik yang penting


dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di
berbagai negara di seluruh dunia. Asma dapat bersifat ringan dan
tidak mengganggu aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan
mengganggu aktivitas bahkan kegiatan harian.
Asma akibat kerja adalah asma yang disebabkan atau
diperburuk akibat situasi di tempat kerja dan tidak terjadi akibat
adanya rangsanga dari luar tempat kerja, dan biasanya ditandai dengan
gangguan aliran nafas dan hiperaktiviti bronkus.
Tanda dan gejala asma akibat kerja serupa dengan asma jenis
lainnya, antara lain yaitu adanya desah, batuk, sesak napas, dada sesak,
serta gejala penyerta seperti pilek, iritasi hidung, dan iritasi mata.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Asma akibat kerja dapat menyerang pekerja dengan risiko yang tinggi.
Penderita asma akibat kerja meningkat seiring dengan meningkatnya
bidang industri. Asma akibat kerja bisa terjadi melalui mekanisme
imunologia maupun non imunologis. Pekerja dengan risiko tinggi
terkena asma akibat kerja antara lain :
1. Pekerja kesehatan dan pelayanan sosial yang menggunakan
sarung tangan lateks dan terkena deterjen
2. Tukang pipa yang menangani perekat dan
busa insulasi

3. Pekerca cuci yang melakukan kontak


dengan deterjen

4. Pekerja cat semprot terkena senyawa yang disebut


diisosianat yang terkandung dalam cat
5. Pekerja makanan dan industri tembakau yang terpapar protein
tertentu

6. Penata rambut yang menangani bahan kimia yang


digunakan untuk memutihkan
7. Pekerja kecantikan kuku yang menggunakan lem

C. Macam –macam Asma Kerja

Berdasarkan masa latennya, asma akibat kerja dibedakan menjadi :

1. Asma akibat kerja dengan masa laten

Asma jenis ini terjadi melalui mekanisme imunologis. Pada


kelompok ini terdapat masa laten yaitu masa sejak awal pajanan
sampai timbul gejala. Asma jenis ini biasanya terdapat pada orang
yang sudah tersensitisasi yang bila terkena lagi dengan bahan
tersebut maka akan menimbulkan asma.
2. Asma akibat kerja tanpa masa laten

Asma jenis ini timbul setelah pajanan dengan bahan ditempat


kerja dengan kadar tinggi dan tidak terlalu dihubungkan dengan
mekanisme imunologis atau disebut sebagai Irritant induced
asthma atau Reactive Airways dysfunction Syndrome(RADS).
RADS didefinisikan asma yang timbul dalam
24 jam setelah satu kali pajanan dengan bahan iritan
konsentrasi tinggi seperti gas, asap yang menetap sedikitnya
dalam 3 bulan.

D. Prognosis

Jenis asma yang beragam baik yang berhubungan dengan


warisan sifat- sifat (genetika) atau karena zat-zat di lingkungan kerja
yang terakumulasi dari waktu ke waktu. Prognosis baik apabila
dilakukan dignosis dan pengobatan asma akibat kerja tersebut sedini
mungkin.

E. Patogenesis

Agen sensisitas merangsang produksi immunoglobulin spesifik


pada individu yang rentan (hipersensitivitas tipe I). Alergen seperti
debu padi – padian
produk binatang, protein serangga, dll biasanya mencetuskan reaksi
asmatik segera ( beberapa menit – 30 menit) reaksi lambat ( 4-8 jam
setelah paparan ). Zat dengan berat molekul kecil dapat bekerja
sebagai hapten dan membentuk alergen lengkap yang menyebabkan
gejala serupa asma. Mekanisme non imunologis dapat ikut berperan
misal dengan pelepasan histamin dari sel mast. Reaksi yang mirip
asma juga dapat disebabkan oleh paparan terhadap debu inert dalam
kadar tinggi (individu dengan peningkatan reaktifitas bronkus non
spesifik).

F. Pencegahan

1. Pihak
Perusahaan

Memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan


kemampuan fisik tenaga kerja yang akan diterima maupun
yang akan dipindahkan, sesuai dengan sifat pekerjaan yang
akan diberikan kepada pekerja.
Memeriksakan kesehatan semua tenaga kerja yang berada di
bawah pimpinannya secara berkala (periodik) pada dokter yang
ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan (disahkan) oleh
Direktur.
Substitusi

Yang dimaksud di sini yaitu mengganti bahan yang berbahaya


dengan bahan yang tidak berbahaya atau kurang berbahaya.
Sebagai contoh adalah serat asbes yang dapat menimbulkan
asbestosis, kanker paru dan mesotelioma, digantikan oleh serat
buatan manusia. Contoh lain adalah debu silika yang diganti
dengan alumina.
Modifikasi proses produksi untuk mengurangi pajanan
sampai tingkat yang aman.
Metode basah
Melakukan proses produksi dengan cara membasahi tempat
produksi sehingga tidak menghasilkan debu dengan kadar yang
tinggi.
Mengisolasi proses produksi

Bila bahan yang berbahaya tidak dapat dihilangkan, pajanan


terhadap pekerja dapat dihindari dengan mengisolasi proses
produksi. Teknik ini telah digunakan dalam menangani bahan
radioaktif dan karsinogen, dan juga telah berhasil digunakan
untuk mencegah asma kerja akibat pemakaian isosianat dan
enzim proteolitik.
Ventilasi keluar.

Ketika proses isolasi produksi tidak dapat dilakukan, maka


masih ada kemungkinan untuk mengurangi bahan pajanan
dengan ventilasi keluar. Metode ventilasi keluar telah berhasil
digunakan untuk mengurangi kadar debu di industri batubara
dan asbes.
2. Pihak Individu Pekerja

Menghindari apapun di tempat kerja yang dapat memicu asma

Menggunakan Alat Pelindung Diri

Gunakan respirator pada saat bekerja. Respirator


merupakan suatu masker yang menggunakan filter sehingga
dapat membersihkan udara yang dihisap. Ada 2 macam
respirator, yaitu half-face respirator (berfungsi hanya sebagai
penyaring udara) dan full-face respirator (sekaligus berfungsi
sebagai pelindung mata). Pemakaian respirator merupakan
usaha terakhir. Untuk menggunakan respirator, seseorang harus
melalui evaluasi secara medis. Hal ini penting karena
respirator tidak selalu aman bagi setiap orang.
Pemakaian respirator dapat berakibat jantung dan paru
bekerja lebih keras sehingga pemakaian respirator dapat
menjadi tidak aman bagi penderita asma, gangguan jantung
atau orang yang mempunyai masalah dengan saluran napasnya.
B
A
B

I
V

GANGGUAN PENDENGARAN
AKIBAT BISING

A. Definisi

Gangguan pendengaran akibat bising disebut juga sebagai


Noise Induced Hearing Loss (NIHL) merupakan adanya penurunan
pendengaran atau tuli akibat pajanan bising yang melebihi nilai
ambang batas (NAB) di lingkungan kerja dari individu pekerja. Tuli
akibat bising merupakan jenis sensorineural yang paling sering
dijumpai setelah presbikusis. Secara umum bising adalah bunyi yang
tidak diinginkan.
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat
terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi,
berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan
faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Bising industri sudah
lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa
ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius
bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran yang sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak
industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya
ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan
terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja
secara berkala. Bising yang intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih
dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada telinga
dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi
pada kedua telinga.
B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Tuli akibat bising merupakan tuli sensorineural yang paling


sering dijumpai setelah presbikusis. Lebih dari 28 juta orang Amerika
mengalami ketulian dengan berbagai macam derajat, dimana 10
juta orang diantaranya
mengalami ketulian akibat terpapar bunyi yang keras pada tempat
kerjanya. Sedangkan Sataloff dan Sataloff ( 1987 ) mendapati
sebanyak 35 juta orang Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang
diantaranya merupakan tuli akibat
k
e
r
j
a
.

Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya


ketulian adalah bising, frekuensi, lama pajanan perhari, masa kerja,
kepekaan individu, umur dan faktor lain yang dapat menimbulkan
ketulian. Biasanya bising di dalam dunia industri tidaklah muncul
sebagai faktor pajanan tunggal, tetapi tidak juga dipengaruhi oleh
pajanan lain. Ada 2 faktor yang terkait dengan kebisingan di tempat
kerja yaitu faktor internal (usia, aterosklerosis, hipertensi,
gangguan telinga tengah dan proses penuaan) dan faktor eksternal
(suhu abnormal, getaran, obat atau zat ototoksik).
Jenis pekerjaan yang berisiko terkena gangguan
pendengaran akibat bising antara lain konstruksi (pekerja
bangunan, dll), pertambangan (pekerja pengeboran minyak, pekerja
tambang, dll), transportasi (supir angkutan umum/truk, petugas di
lapangan terbang), industri manufaktur (pekerja industri garmen,
tekstil, sepatu, elektronik, otomotif, dll), laundry, katering, dll.

C. Macam-macam Gangguan Pendengaran Akibat Bising

1. Trauma Akustik

Trauma akustik berhubungan dengan efek pemaparan


tunggal atau pemaparan yang jarang, biasanya pada
peledakan-peladakan alamiah. Selama terjadinya pemaparan
jenis ini intensitas suara yang ekstrim mencapai telinga
bagian dalam dan dapat menyebabkan struktur pada telinga bagian
dalam melampaui batas fisiologis dengan rusaknya gendang
telinga dan sel-sel bulu rambut. Akibat ini pada akhirnya
secara keseluruhan merusak organ Corti yang mungkin
membutuhkan waktu beberapa bulan untuk kembali
menstabilkannya.
2. Tuli Sementara

Selama waktu pemaparan pendek dan dalam interval waktu yang


lama maka tidak akan menyebabkan efek permanen. Sebaliknya
jika terpapar kebisingan yang menyebabkan tuli sementara secara
berulang-ulang dalam waktu yang cepat, akan menyebabkan
kerusakan pendengaran yang permanen. Pada umumnya hal ini
terjadi pada tingkat pemaparan kebisingan di atas 90 dB.
3. Tuli Permanen

Tuli permanen adalah terjadinya kerusakan pendengaran yang


sudah tidak dapat pulih atau disembuhkan kembali. Selain
terjadi secara alami yang disebabkan oleh faktor usia,
penurunan pendengaran juga akan terjadi apabila terus-menerus
terpapar pada intensitas kebisingan yang tinggi. Tuli sementara
setelah terpapar bising, dan kemungkinan terjadinya Tinitus,
biasanya merupakan tanda-tanda terjadinya kerusakan
pendengaran.

D. Diagnosis gangguan Pendengaran Akibat Bising di Tempat Kerja

Diagnosis dapat ditegakkan dengan langkah-langkah berikut :

1. Diagnosis klinis tuli sensorineurinal.

2. Menentukan adanya pajanan di tempat kerja yaitu bising dan


pajanan lain yang dapat mempengaruhi.
3. Menentukan adanya hubungan pajanan dengan diagnosis klinis;
bising dapat menyebabkan tuli sensorineurinal.
4. Menentukan besaran pajanan bising > 85 dB, 8 jam sehari, 40 jam
seminggu

(di
atas
NA
B)
5. Peranan faktor individu: riwayat genetik pada telinga, riwayat
minum obat

(ototoksik), penyakit kronik


lainnya, dll.

6. Faktor risiko di luar pekerjaan: hobi mendengarkan musik keras,


menembak, dll.
7. Diagnosis penyakit akibat kerja: penurunan pendengaran akibat
bising di tempat kerja (Noise Induced Hearing Loss).
E. Gejala Gangguan Akibat Bising

1. Tinitus (telinga berdenging)

2. Sukar menangkap percakapan

3. Penurunan pendengaran

F. Prognosis

Prognosis dari gangguan pendengaran akibat bising adalah


buruk. Hal tersebut dikarenakan jenis gangguan pendengaran atau
ketulian akibat bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya
menetap dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan.

G. Patogenesis

Gangguan pendengaran yang disebabkan bising timbul setelah


bertahun – tahun paparan. Kecepatan kemunduran tergantung
pada tingkat bising, komponen impulsive dan lamanya paparan serta
pada kepekaan individual yang sifatnya tetap tidak diketahui. Selama
terjadinya pemaparan jenis ini intensitas suara yang ekstrim mencapai
telinga bagian dalam dan dapat menyebabkan struktur pada telinga
bagian dalam melampaui batas fisiologis dengan rusaknya gendang
telinga dan sel-sel bulu rambut. Akibat ini pada akhirnya secara
keseluruhan merusak organ Corti.

H. Pencegahan

1. Rekayasa enginering

Yaitu dengan mengusahakan agar di lingkungan kerja kebisingan


di bawah
85 dB, bisa dengan cara meredam sumber bunyi yang berasal dari
generator diesel, mesin tenun, mesin pengecoran baja, kilang
minyak atau bising yang ditimbulkan oleh aktivitas pekerja seperti
penempaan logam.
2. Administrasi

Dilakukan dengan menghindarkan pekerja dari sumber bising


dengan melakukan rotasi jam kerja. OSHA (Occupational safety
and Health Administration) membuat peraturan yang dikenal
sebgai hukum 5dB. Apabila intensitas bising meningkat 5 dB,
maka waktu pajanan yang diperkenankan harus dikurangi
separuhnya.

Intensitas dan waktu pajanan bising yang diperkenankan/


Nilai Ambang

Batas
(NAB)
yaitu :

3. Individu Pekerja

Individu pekerja dapat melakukan tindakan pencegahan dengan


turut serta aktif dalam berbagai program yang diadakan oleh
perusahaan seperti Program Konservasi Pendengaran (PKP),
sebagai berikut:
a. Identifikasi
sumber bising

b. Pengukuran dan analisis kebisingan (SLM, Octave Band


Analyzer)

c. Pengendalian bising dalam bentuk kontol engineering


dan kontrol administrasi
d. Melakukan tes audiometri
secara berkala e. Mengikuti
pelatihan KIE
f. Menggunakan APD berupa sumbat telinga (ear plug), tutup
telinga (ear muff) dan pelindung kepala (helmet).
g. Melakukan pencatatan rutin
B
A
B

PENYAKIT AKIBAT DEBU


LOGAM KERAS

A. Definisi

Penyakit akibat debu logam keras merupakan penyakit akibat


kerja yang disebabkan oleh pencemaran debu logam seperti Hg, Pb,
Mn, Cd, Be, Arsen, dll yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan
kemudian mengendap sehingga menimbulkan gangguan kesehatan.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Debu dalam industri ukurannya sangat bervariasi, dengan


ukuran halus mendominasi yang lain, dan dapat memasuki tubuh lewat
inhalasi, ingesti, dan kulit. Luasnya permukaan paru yang dapat
menyerap debu (luas paru-paru orang de-wasa = 55-75 m2, dan kulit
2 m2) sedangkan luas permukaan debu semakin
besar dengan semakin halusnya ukuran debu. Misal 1 cm3 quartz
murni bila

ditumbuk halus, menjadi ukuran 1 mikron, maka terbentuk debu


sebanyak 1012, dengan luas permukaan 6 m2 dibanding dengan
asalnya 6 cm2. Volume benda padat yang dihaluskan (akibat proses
industry) akan ber-tambah, karena, adanya celah di antara partikel di
dalam massa. Misalnya, konsentrasi debu di udara sebesar 50 mppcf
berasal dari 1 cm3, zat yang dihaluskan men-jadi ukuran 1 mikron, di
udara akan, memenuhi volume 20.000 ft 3. Efek debu terhadap
kesehatan perkerja di industri bervariasi tergantung jenis, sifat kimia-
fisika debu di lingkungan tempat kerja.
Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh logam-
logam keras adalah kawasan industri, sebagai contoh kawasan industri
tambang, industri pabrik asbes, pabrik tempat penyulingan, industri
kimia, dll.
C. Macam –macam Penyakit Akibat Debu Logam Keras

1. Bronkopulmonar

Pada bronkitis industri atau bronkitis kronik foto toraks dapat


normal, atau menunjukkan peningkatan corakan
bronkopulmonar terutama di lobus bawah. Pada awal penyakit
pemeriksaan faal paru tidak menunjukkan kelainan. Karena
meningkatnya resistensi pemapasan, pada stadium lanjut terjadi
obsiruksi saluran napas yang tepat menjadi ireversibel.
2. Kanker Paru

Ada 2 stadium terjadinya kanker karena bahan karsinogen.


Pertama adalah induksi DNA sel target oleh bahan karsinogen
sehingga menimbulkan mutasi sel, kemudian terjadi pening-katan
multiplikasi sel yang merupakan manifestasi penyakit. Zat yang
bersifat karsinogen dan dapat menimbulkan kanker paru antara
lain adalah asbes, uranium, gas mustard, arsen, nikel, khrom,
khlor metil eter, pembakaran arang, kalsium kiorida dan zat
radioaktif serta tar batubara. Pekerja yang berhubungan
dengan zat -zat tersebut dapat menderita kanker paru setelah
paparan yang lama, yaitu antara
15
-
25
ta
hu
n.

D. Prognosis

Apabila telah timbul obstruksi yang ireversibel, penyakit akan


berjalan secara lambat dan progresif maka prognosis buruk karena
bersifat kronik dan ireversibel. Apabila obstruksi bersifat reversibel
dan mendapat diagnosis dini, prognosisnya baik.
E. Patogenesis

Debu logam yang berukuran antara 5-10 mikron bila


terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas;
yang berukuran antara 3-5 mikron terta-han dan tertimbun pada
saluran napas tengah. Partikel debu dengan
ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling
berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bionkiolus
terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron
tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya an-tara
0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli;
bila mem-bentur alveoli ia dapat tertimbun di situ.

F. Nilai Ambang Batas

Batas debu respirabel adalah 5 mikron, tetapi debu dengan


ukuran 5-10 mikron dengan kadar berbeda dapat masuk ke dalam
alveoli. Debu yang berukuran lebih dari 5 mikron akan dikeluarkan
semuanya bila jumlahnya kurang dari 10 partikel per miimeter kubik
udara. Bila jumlahnya 1.000 partikel per milimeter kubik udara, maka
10% dari jumlah itu akan ditimbun dalam paru.

G. Pencegahan

1.
Su
bti
tus
i

Pengantian/perubahan proses, yaitu mengganti abrasive blasting


kering dengan blasting basah
2
.

I
s
o
l
a
s
i

Isolasi yang dimaksud disini adalah mengisolir tempat atau


ruangan-ruangan yang mengandung kosentrasi debu dari para
pekerja atau tidak kontak langsung kosentrasi debu tersebut,
cukup dilakukan dengan mengontrol dari luar atau tempat lain.
3. Jaga Jarak atau menggunakan pelindung (antara pekerja
dg bahan kosentrasi de-bu)
– Pemagaran
seluruh mesin

– Menutup titik- titik daerah penyebar debu dari ban


berjalan/conveyors

– Memasang tirai pelindung proses operasi


abrasive blasting
4. Ventilasi Industri

Penerapan sistem ventilasi industri berkaitan dengan ; sistem


pabrik, perbedaan pemakaian bahan baku, perbedaan proses,
perbedaaan senyawa kimia karena penggunaan bahan kimia.
Karena banyaknya variasi pencemar antara satu pabrik dengan
pabrik lain maka banyak pula, berbagai macam ventilasi yang
digunakan di industri antara lain, seperti ; ventilasi sistem
pengenceran, ventilasi pengeluaran setempat, ventilasi sistem
tertutup, ventilasi kenyamanan dan lain- lain sebagainya
B
A
B

V
I

PENYAKIT INFEKSI DAN


PARASIT

A. Definisi

Penyakit infeksi dan parasit adalah suatu penyakit atau


gangguan kesehatan yang disebkan oleh paparan terhadap
miktroorganisme dan parasit infektif hidup serta produk toksiknya
terjadi pada berbagai pekerjaan. Agen penyebab infektif dan parasit
contohnya seperti virus (hepatitis virus, rabies, virus newcastle),
riketsia dan klamidia (ornitosis, demam Q, riketsiosis), bakteri (
antraks leptuspirosis, tetanus, tuberkulosis, tularemia). Jamur
(kandidiasis, histoplasmosis, kokidiomikosis), protozoa
(liesmaniasis, malaria, tripanosomiasis), cacing (cacing tambang,
cacing pita, skitosomiasis).

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Pekerjaan yang berisiko bagi pekerjanya untuk terserang


penyakit infeksi dan parasit adalah pekerja pertanian, tempat kerja
tertentu di negara beriklim panas dan belum maju, rumah sakit,
laboratorium, klinik, ruang otopsi, pekerja yang berhubungan
dengan penangananbinatang dan produk- prouknya, pekerja
lapangan yang kemungkinan berkontak dengan tinja binatang.

C. Macam –macam Penyakit Infeksi dan Parasit


1. Virus

Penyakit yang disebabkan virus antara lain adalah


hepatitis virus, penyakit virus Newcastle dan rabies.
2. Klamidia dan riketsia

Contohnya adalah ornitosis, demam Q, dan riketsiosis.


3. Bakteri

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri misalnya antraks


bruselosis, erisipeloid, leptospirosis, tetanus, tuberkulosis,
tularemia dan sepsis luka.
4. Jamur

Penyakit penyakit seperti kandidiasis, dermatofitosis kulit dan


membran mukosa, kokidiomikosis dan histoplamosis.
5. Protozoa

Penyakit yang disebebkan protozoa antara lain adalah


leismaniasis, malaria dan tripanosomiasis.
6. Cacing

Salah satu penyakit yang disebabkan oleh cacing adalah


skitosomiasis.

D. Prognosis

Agen penyakit tadi menginfeksi orang orng yang tidak kebal


atau tidak resisten berkontak dengan suatu agen infektif. Ada
beberapa agen penyakit yang dapat menembus kulit utuh seperti
antraks, bruselosis, leptospirosis, sskitstosomiasis dan tularemia.
Penyakit seperti erisipeloid, rabies, sepsis, tetanus dan hepatitis
virus B hanya dapat menembus kulit yang rusak. Ada juga
patogen protozoa yang masuk dalam tubuh dengan bantuan
serangga, inhalasi percikan (droplet), spora atau debu tercemar
bahkan makanan dan minuman tercemar.

E. Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari


penyakit akibat infeksi dan parasit antara lain :
1. Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan ada 2 macam yaitu
pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan dan pemeriksaan
berkala. Pemeriksaan sebelum penempatan antara lain adalah
pemeriksaan riwayat medis dan
pemeriksaan fisik. Sedangkan pemeriksaan berkala yaitu
pemeriksaan sama dengan pemeriksaan sebelum penempatan
hanya saja dilakukan rutin setiap setahun sekali. Namun pada
pekerja kesehatan dan laboratorium diperiksa 6 bulan sekali
karena risiko terpapar dengan agen lebih sering.
2. Pengendalian Lingkungan

Cara pencegahan melalui pengendalian lingkungan antara lain :


penyemprotan insektisida, ikan pemangsa, imunisasi hewan
(imunisasi pada sapi dan hewan domestik untuk mengurangi
risiko bruselosis dan rabies), penekanan debu untuk
mencegah antraks dan ornitosis dengan cara dibuatkan
ventilasi pengeluaran udara karena enyakit penyakit tadi
ditulrkan lewat udara.
3. Pendidikan kesehatan

Pemberian penidikan kesehatan pada semua pekerja yang


terpapar tentang sifat-sifat penyakit infeksi dan parasit di
tempat kerja dan daerah mereka.
4. Vaksin

Pemberian vaksin tetanus pada pekerjaan sektor pertanian,


vaksin BCG, vaksin rabies, vaksin vaksin tifus, demam Q, dll.
5. Penggunaan APD

Penggunaan APD yang wajib oleh pekerja harus diterapkan


seperti pemakaian sarung tangan, krem pelindungdan pakaian
pelindung khusus yang digunakan pelayanan kesehatan dan
petugas laboratorium.

F. Nilai Ambang
Batas (NAB)

Untuk bakteri, penyakit infeksi tidak akan muncul apabila


bateri < 700 koloni/m3 udara dan bebas dari kuman patogen.
B
A
B

V
I
I

PENYAKIT KULIT
AKIBAT KERJA

A. Definisi

Penyakit kulit akibat kerja merupakan kelainan kulit yang ditimbulkan


akibat kontak dengan bahan-bahan yang berhubungan dengan
pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Presentasi dermatosis akibat kerja dari seluruh penyakit-


penyakit akibat kerja sekitar 50%-60%, maka dari itu penyakit tersebut
perlu mendapatkan penyakit yang cukup. Ciri dari dermatosis itu
sendiri adalah kulit mengelupas, berwarna kemerahan disertai rasa
gatal.
Pekerjaan yang berisiko terkena dermatosis akibat kerja adalah
seluruh jenis kawasan industri dapat berisiko terkena dermatosis
tergantung pada kenbersihan individu pekerja, seperti; pekerja
pertanian, pekerja produksi bahan bangunan, penyepuh elektrik,
pekerja produksi plastik yang diisi gelas, tukang cat, pekerja pada
industri rekayasa, petugas kesehatan, pedagang binatang, tukang
daging, dll.

C. Macam –macam Penyakit Kulit Akibat Kerja


1. Dermatitis Kontak
Iritan Primer

Jenis ini paling sering ditemukan. Seperti kebanyakan


dermatosis lainnya, penyebabnya tidak mudah dikenali.
2. Dermatitis
Kontak alergi

Dermatitis kontak alergi baik akut maupun kronis mempunyai


ciri-ciri klinis yang sama dengan ekzema bukan akibat kerja.
3. Jerawat Akibat Kerja (Acne)

Hampir mirip dengan jenis jerawat pada umumnya, akan


tetapi jerawat akibat kerja dapat ditemukan pada bagian yang
kontak dengan agen.
4. Dermatitis Solaris Akut

Sering ditemukan akibat zat-zat fotodinamik yang


ditemukan dalam pekerjaan tersebut.

D. Prognosis

Penyakit kulit akibat kerja untuk jenis-jenis di atas dapat


ditangani dengan terapi farmakologis jika diagnosis ditegakkan secara
cepat dan dini.

E. Patogenesis

Pekerja yang terpapar agen fisik, kimia maupun biologik dan


berkontak langsung akan berisiko terken dermatitis kontak iritan,
akne, dan diinduksi radiasi bervariasi sesuai derajat paparannya
dan dapat menyembuh jika agen penyebab dijauhkan. Orang–orang
dengan atopi (ekzema dan penyakit kulit alergi lain dan penyakit
alergi pada orang lain), penyakit kronik lain termasuk hiperhidrosis,
akan lebih rentan daripada yang lain.

F. Pencegahan

Pencegahan dermatosis akibat kerja dapat dilakukan antara lain


sebagai berikut :
1. Penilaian bahan-bahan yang akan digunakan di perusahaan

2. Mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya

3. Pendidikan
4. Hygine personal dan perusahaan

- Kontak kulit dengan agen penyebab hendaknya


dibatasi dengan pengendalian teknologi
- Eliminasi kontak kulit dengan bahan penyebab
- Penyediaan fasilitas dasar seperti APD

5. Alat Pelindung Diri (APD)

Penggunaan diharuskan selama jam kerja. APD berupa pakaian


pelindung seperti apron, sarung tangan, topeng wajah.
6. Pemeriksaan pra kerja
BAB VIII

PENYAKIT AKIBAT UDARA MAMPAT

A. Definisi

Penyakit udara mampat adalah penyakit yang disebabkan


adanya udara pada tekanan yang lebih tinggi daripada tekanan
permukaan laut di tempat kerja.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Beberapa pekerja yang kemungkinan besar terpapar udara


mampat antara lain pekerja dalam terowongan udara mampat dan
operasi caisson, dan yang berisiko paling besar adalah para penyelam.

C. Macam –macam Penyakit Akibat Udara Mampat

1. Barotrauma telinga tengah dan sinus

Merupakan masalah kesehatan dimana tuba eustakius tersumbat


karena berbagai alasan sehingga tekanan udara dalam telinga tengah
tidak dapat seimbang dengan tekanan udara di sekitar tubuh,
akibatnya gendag telinga dapat rusak atau ruptur.
2. Paru-paru meletus dengan embolisme udara otak

Terjadi jika ada sumbatan trakea atau suatu segmen


bronkiopolmonardan bila tekanan alveolus meninggi sampai 10,8
kPa (80 mmHg) diatas tekanan intrapleura, paru-paru dapat meletus.
3. Sakit dekompresi

Ada dua jenis sakit


dekompresi, yaitu :

a
.
BAB VIII

T
i
p
e

Gejala hanya nyeri biasa pada otot dan tandon esemik (dekat
persendian)
b
.
T
i
p
e

I
I

Terjadi trauma pada medula spinalis dan otal, gangguan


telinga tengah, gangguan paru dan syok sakit dekompresi.
4.
Osteonekrosis
disbarik

Tanda radiografik paling dini pada penyakit ini tampak setelah


3-4 bulan setelah suatu dekompresi yang kurang baik, suatu
episode dekompresi yang tidak tepat dapat mencetuskan kerusakan
satu atau lebih sendi.

D. Prognosis

Ada dua efek yang disebabkan oleh adanya udara yang mampat yaitu
efek mekanis dan efek fisiologis. Penyebab utamanya adalah
adanya perbedaan tekanan antara kedua sisi membran timpani dan
adanya pembentukan gelembung–gelembung nitrogen dalam darah.
Pada tekanan atmosfer normal, 12 ml nitrogen larut dalam 1 liter
darah. Pada tekanan 196 kPa, kadar nitrogen dalam darah adalah
sekitar 22 m/liter, dan pada 390 kPa sekitar 39 ml/liter. Jika tekanan
atmosfer terlalu cepat, nitrogen yang terlalrut dalam darah akan
membentuk gelembung dalam darah dan jaringan, hal itu
menyebabkan terganggunya sirkulasi dan jaringan setempat.

E. Pencegahan
Satu satunya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan
mematuhi praktek kerja dekompresi yang dianjurkan. Penyakit
akibat udara mampat di tempat kerja pada pekerja dibatasi tekanan
maksimum 330 kPa di tempat kerja.
BAB IX

PENYAKIT AKIBAT GETARAN

A. Definisi

Getaran merupakan efek suatu sumber yang memakai satuan


ukuran hertz (Depkes, 2003:21). Getaran (vibrasi adalah suatu faktor
fisik yang menjalar ke tubuh manusia, mulai dari tangan sampai
keseluruh tubuh turut bergetar (oscilation) akibat getaran peralatan
mekanis yang dipergunakan dalam tempat kerja (Emil Salim,
2002:253).
Penyakit akibat getaran merupakan berbagai penyakit yang
muncul dikarenakan gejala-gejala yang muncul sebagai akibat dari
lamanya getaran yang diterima di lingkungan kerja.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Ada 2 jenis getaran, yaitu getaran seluruh tubuh (Whole Body


Vibration) adalah suatu getaran yangterjadi karena adanya kontak
antara tubuh (seluruh tubuh) dengan permukaan yang bergetar.
Biasanya frekuensi getaran antara 5-20
Hz, contohnya : pengemudi traktor (kontak tubuh dengan tempat
duduk traktor), bus, helikopter, atu bahkan kapal.
Kedua, getaran pada bagian tubuh tertentu (Partial Body
Vibration) adalah getaran yang terjadi pada bagian-bagian tubuh
tertentu seperti tangan/ kaki yang kontak dengan permukaan
yang sedang bergetar. Biasanya frekuensinya antara 20-500 Hz
dan frekuensi paling bahaya adalah 128 Hz, contohnya : pekerja
memakai gergaji listrik, supir bajaj, operator gergaki rantai, tukang
potong rumput, gerinda, penempa palu.
C. Alat Pengukur
Getaran

1. Vibration meter

Vibration meter biasanya bentuknya kecil dan ringan


sehingga mudah dibawa dan dioperasikan dengan battery
serta dapat mengambil data getaran pada suatu mesin dengan
cepat. Pada umumnya terdiri dari sebuah probe, kabel dan meter
untuk menampilkan harga getaran. Alat ini juga
dilengkapidengan switch selector untuk memilih parameter
getaran yang akan diukur.
2. Vibration analyzer

Alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur amplitude dan


frekuensi getaran yang akan dianalisa. Karena biasanya sebuah
mesin mempunyai lebih dari satu frekuensi getaran yang
ditimbulkan, frekuensi getaran yang timbul tersebut akan sesuai
dengan kerusakan yang terjadi pada mesin tersebut. Alat ini juga
memberikan informasi mengenai data spektrum dari getaran
yang terjadi, yaitu data amplitudo terhadap frekuensinya, data ini
sangat berguna untuk analisa kerusakan suatu mesin. Dalam
pengoperasiannya vibrationanalyzer ini membutuhkan seorang
operator yang sedikit mengerti mengenaianalisa vibrasi.
3. Shock Pulse Meter

Shock pulse meter adalah alat yang khusus untuk


memonitoringkondisi antifriction bearing yang biasanya sulit
dideteksi dengan metode analisa getaran yang konvensional.
Prinsip kerja dari shock pulse meter iniadalah mengukur
gelombang kejut akibat terjadi gaya impact pada
suatu benda, intensitas gelombang kejut itulah yang
mengindikasikan besarn yakerusakan dari bearing tersebut. Pada
sistem SPM ini biasanya memakaitranduser piezo-electric yang
telah dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai frekwensi
resonansi sekitar 32 KHz. Dengan menggunakan probetersebut
maka SPM ini dapat mengurangi pengaruh getaran terhadap
pengukuran besarnya impact yang terjadi.
4. Osciloskop

Osciloskop adalah salah satu peralatan yang berguna untuk


melengkapi data getaran yang akan dianalisa. Sebuah osciloskop
dapat memberikan sebuah informasi mengenai bentuk gelombang
dari getaran suatu mesin.

D. Macam –macam Penyakit Akibat Tekanan Udara

1. Angioneurosis jari-jari tangan

Gejala nonspesifik pertama adalah akroparestesia pada tangan dan


perasaan kebal di jari-jari tangan pada waktu kerja atau sebentar
sesudahnya. Pada stadium ini, selain gangguan kepekaan terhadap
getaran, tidak ditemukan perubahan objektif lainnya. Pada fase
berikutnya, terdapat kepucatan kepucatan paroksimal pada ujung-
ujung jari.
2. Gangguan tulang, sendi, dan otot

Patologi osteoartikular sering kali terbatas pada tulang-tulang


karpal (khususnya lunata dan navikularis), sendi radioulnaris dan
sendi siku. Biasanya berupa atrosis sendi karpal,
radioulnaris dan siku, serta pseudokista.
3. Neuropati

Kerusakan saraf yang disebabkan getaran yang meliputi


persyaratan otonom perifer (pada angioneurosis). Beberapa ahli
mengemukakan efek-efek pada syaraf umumnya sekunder dari
iskemik berulang (pada angioneurosis), atau suatu faktor tambahan
seringkali neuropati kompresif, misalnya perubahan osteoartikuler
di sekitar batang saraf tersebut (Darmanto Djojodibroto,
1
9
9
5
:
1
3
9
)
.

E. Prognosis

Prognosis dari penyakit akibat getaran akibat getaran adalah


buruk. Hal tersebut dikarenakan jenis gangguan akibat getaran adalah
neuropati yang terjadi akibat kerusakan saraf terutama persyarafan
perifer (ulnaris, medianus, radialis)
atau trauma saraf yang sulit untuk kembali seperti sedia kala. Untuk
jenis angioneurosis dan gangguang tulang-sendi-otot memiliki
prognosis yang baik apabila segera dilakukan tindakan pengendalian
secepatnya.

F. Patogenesis

Gangguan yang disebabkan oleh getaran dapat muncul


setelah lama waktu yang berbeda-beda sejak awal diperolehnya
paparan. Angioneurosis biasanya muncul setelah beberapa tahun
paparan berat. Perubahan angka yang timbul tidak lebih awal dari 10
tahun atau lebih paparan. Untuk neuropati, kerusakan saraf disebabkan
getaran yang meliputi persyaratan otonom perifer (pada
angioneurosis). Beberapa ahli mengemukakan efek-efek pada syaraf
umumnya sekunder dari iskemik berulang (pada angioneurosis), atau
suatu faktor tambahan seringkali neuropati kompresif, misalnya
perubahan osteoartikuler di sekitar batang saraf tersebut

G. Pencegahan

1. Pengendalian
Administratif a.
Merotasi jam
kerja
Apabila terdapat 3 orang pekeja, maka dengan mengacu pada
NAB yang

ada, paparan getaran tidak sepenuhnya mengenai salah


seorang, akan tetapi bergantian dari A, B, dan kemudian C.
ABC ABC ABC
b. Mengurangi jam kerja, sehingga sesuai dengan NAB yang
berlaku

Nilai ambang batas getaran untuk pemajanan lengan dan tangan


:

Jumlah waktu per hari Nilai percepatan pada frekuensi dominan


kerja m/det2 gram
4 jam dan kurang dari 8
jam 4 0,4
2 jam dan kurang dari 4
jam 6 0,61
1 jam dan kurang dari 2
jam 8 0,81
kurang dari 1 jam 12 1,22

Tabel 9.1. NAB Getaran untuk pajanan


lengan dan tangan

2. Pengendalian medis

a. Pemijitan

b. Perendaman di arir panas

c. Meniup udara panas ke tangan

d. Menggerakkan tangan secara berputar

3. Pengendalian dari Individu Pekerja

Pemakaian APD seperti sarung tangan yang telah dilengkapi


peredam getar
(busa).
B
A
B

PENYAKIT AKIBAT DEBU


MINERAL

A. Definisi

Penyakit akibat debu logam keras merupakan penyakit


akibat kerja yang disebabkan oleh pencemaran debu mineral
seperti SiO2, SiO3, Arang batu, dll yang terhisap masuk ke dalam
paru-paru dan kemudian mengendap sehingga menimbulkan
gangguan kesehatan.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Ketika bernafas udara yang mengandung debu masuk


kedalam paru- paru, tidak semua debu dapat menimbun didalam
jaringan paru-paru, karena tergantung dari besar ukuran tersebut.
Debu-debu yang berukuran 5–10 mikron akan ditahan oleh jalan
nafas bagian atas, sedangkan yang berukuran
3–5 mikron ditahan dibagian tengah jalan nafas. Partikel-partikel
yang berukuran 1–3 mikron akan ditempatkan langsung di
permukaan jaringan dalam paru-paru. Pneumokoniosis adalah
sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu-
debu di dalam jaringan paru-paru. Biasanya berupa debu
mineral, tergantung dari jenis debu mineral yang ditimbun, nama
penyakitnya pun berbeda-beda, tergantung dari derajat dan
banyaknya debu yang ditimbum didalam paru-paru.
Factor yang mempermudah penyebaran penyakit infeksi ini
antara lain lingkungan kerja yang padat dengan tenaga kerja, gizi
buruk, serta tingginya angka kesakitan penyebab tuberkolusis di
masyarakat. Paparan terhadap 1–2 mg kuarsa/ m3 dapat
menyebabkan penyakit baru terdeteksi dalam 5–15 tahun.
Pekerja yang sering terkena penyakit ini umumnya yang bekerja
di perusahaan yang menghasilkan batu-batu untuk bangunan
seperti granit,
keramik, tambang timah putih, tambang besi, tambang batu bara,
dan lain lain.
C. Macam –macam Penyakit Akibat Debu Mineral

1. Pneumokoniosis

Penyakit terjadi akibat penumpukan debu batubara di paru


dan men- imbulkan reaksi jaringan terhadap debu tersebut.
Penyakit ini terjadi bila paparan cukup lama, biasanya
setelah pekerja terpapar lebih daii 10 tahun. Berdasarkan
gambaran foto toraks dibedakan atas bentuk simple dan com-
plicated. Simple Coal Workers Pneumoconiosis (Simple CWP)
terjadi kare-na inhalasi debu batubara saja. Gejalanya hampir
tidak ada; bila paparan tidak berlanjut maka penyakti ini
tidak akan memburuk. Penyakit ini dapat berkembang menjadi
bentuk complicated.
2. Silikosis

a.
Silikosi
s Akut

Penyakit dapat timbul dalam beberapa minggu, bila


seseorang terpapar silika dengan konsentrasi sangat tinggi.
Perjalanan penyakit sangat khas, yaitu gejala sesaic napas
yang progesif, demam, batuk dan penurunan be-rat badan
setelah paparan silika konsentrasi tingi dalam waktu relatif
singkat. Lama paparan berkisar antara beberapa minggu
sampai 4 atau 5 tahun. Kelainan faal paru yang timbul
adalah restriksi berat dan hipoksemi disertai penurunan
kapasitas di fusi. Pada foto toraks tampak fibrosis
interstisial difus, fibrosis kemuclian berlanjut dan terdapat
pada lobus tengah dan bawah membentuk djffuse ground
glass appearance mirip edema paru.
b.
Silikosis
Kronik

Kelainan pada penyakit ini mirip dengan


pneumokoniosis pekerja tambang batubara, yaitu terdapat
nodul yang biasanya dominan di lobus atas. Bentuk
silikosis kronik paling sering ditemukan, terjadi setelah
paparan 20 sampai 45 tahun oleh kadar debu yang
relatif rendah
c. Silikosis
Terakselerasi

Bentuk kelainan ini serupa dengan silikosis kronik, hanya


perjalanan pen-yakit lebih cepat dari biasanya, menjadi
fibrosis masif, sering terjadi infeksi mikobakterium tipikal
atau atipik. Setelah paparan 10 tahun sering terjadi
hipoksemi yang berakhir dengan gagal napas.
7. Asbestosis

Penyakit ini terjadi akibat inhalasi debu asbes, menimbulkan


penumokoniosis yang ditandai oleh fibrosis paru. Paparan
dapat terjadi di daerah industri dan tambang, juga bisa timbul
pada daerah sekitar pabrik atau tambang yang udaranya
terpolusi oleh debu asbes. Pekerja yang dapat terkena
asbestosis adalah yang bekerja di tambang, penggilingan,
transportasi, pedagang, pekerja kapal dan pekerja penghancur
asbes.
8. Anthrakosilikosis

Merupakan pneumokominosis yang disebabkan oleh silika


bebas bersama debu arang batu. Penyakit ini mungkin
ditemukan pada tambang batu bara atau karyawan industri
yang menggunakan bahan batu bara jenis lain. Gejala
penyakit ini berupa sesak nafas, bronchitis chronis batuk
dengan dahak hitam (Melanophtys).

D. Prognosis

Prognosis buruk karena meskipun perjalanan penyakit


cenderung melambat setelah berhentinya paparan, akan tetapi
gejala-gejala meningkat saat terjadi koalesensi bayangan.
E. Patogenesis

Debu mineral yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun


dalam paru paru biasanya didapat dengan masa inkubasi 2-4
tahun. Gejala penyakit ini
dapat dibedakan pada tingkat ringan sedang dan berat. Pada tingkat
Ringan ditandai dengan batuk kering, pengembangan paru-paru.
Pada lansia didapat hyper resonansi karena emphysema. Pada
tingkat sedang terjadi sesak nafas tidak jarang bronchial, ronchi
terdapat basis paru paru. Pada tingkat berat terjadi sesak napas
mengakibatkan cacat total, hypertofi jantung kanan, kegagalan
jantung kanan.

F. Pencegahan

1.
Sub
situ
asi

Baik sekali jika dapat dilaksanakan misalnya dalam proses


sandblasting yaitu proses meratakan permukaan logam dengan
debu pasir yang disemprotkan dengan tekanan tinggi diganti
dengan bubuk alumina.
2. Mengurangi kadar silika bebas
didalam mangan

Caranya adalah dengan ventilasi umum dan lokal. Ventilasi


umum antara lain dengan mengalirkan udara keruang kerja
dengan membuka pintu dan jendela, cara ventilasi lokal atau
pompa keluar setempat dimaksudkan untuk menghisap debu
dari ruang kerja keluar.
3. Dianjurkan cara – cara kerja ynag memungkinkan
berkurangnya debu udara, misalnya dengan pengeboran basah/
wet drilling.
4. Cara terakhir adalah perlindungan diri para pekerja
dengan masker standar.

G. Nilai Ambang Batas


Menurut WHO 1996 ukuran debu partikel yang
membahayakn adalah berukuran 0,1 – 5 atau 10 mikron. Depkes
mengisaratkan bahwa ukuran debu yang membahayakan berkisar
0,1 sampai 10 mikron.
5-10 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan
bagian atas

3-5 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan


bagian tengah

1-3 mikron sampai


dipermukaan alveoli
0,5-0,1 mikron hinggap dipermukaan alveoli/selaput lendir
sehingga menyebabkan vibrosis paru
0,1-0,5 mikron melayang dipermukaan alveoli.
B
A
B

X
I

PENYAKIT AKIBAT RADIASI


IONISASI

A. Definisi

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang


dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya
(foton) dari sumber radiasi. Radiasi ionisasi adalah radiasi yang
mampu menimbulkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan
ion negatif) apabila berinteraksi dengan
materi.

Penyakit akibat radiasi ionisasi merupakan penyakit yang


terjadi akibat paparan dari radiasi ionisasi yang berlangsung singkat
dengan dosis tinggi ataupu pajanan dalam waktu lama dengan dosis
pajanan yang sedikit yang menimbulkan berbagai macam kumpulan
gangguan kesehatan.

B. Ruang Lingkup Faktor Risiko dan Jenis Pekerjaan

Menurut sifatnya radiasi pengion dibagi menjadi radiasi


ionisasi langsung dan ionisasi tidak langsung. Radiasi pengion
yang dimaksud disini adalah partikel alpha, partikel beta, sinar
gamma, sinar-X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki
karakteristik khusus. Yang termasuk radiasi pengion adalah partikel
alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron.
Radiasi ionisasi akibat kerja dapat terjadi karena adanya
hubungan manusia dengan radiasi di tempat kerja, seperti
penyinaran di bidang medis, jatuhan radioaktif, radiasi yang
diperoleh pekerja radiasi di fasilitas nuklir, radiasi yang berasal dari
kegiatan di bidang industri ( radiografi, logging, pabrik lampu, dsb).
Bahan Kimia Interaksi
Senyawa Nitroso (MNU, DEN, 4NQO) Supraaditif
Promotor tumor (TPA) Supraaditif
Rokok/Tembakau Supraaditif
Vitamin Subaditif
Makanan/Lemak Subaditif dan Supraaditif
Arsenik Supraaditif

Tabel 11.1. Sejumlah agen penting yang berinteraksi dengan


radiasi pengion dalam radiasi

C. Macam –macam Penyakit Akibat


Radiasi Ionisasi

1. Sindrom sumsum tulang (hematopoietik)

Sindrom sumsum tulang (hematopoietik) jika terpapar


18..........‐........rad (2.5‐5 Gy) di dalam tubuh. Apabila pasien
tidak diterapi dapat terjadi kematian selama 15‐30 hari.
Kegagalan fungsi sumsum tulang dapat menyebabkan infeksi,
defisiensi imun dan diathesis hemoragika. Fungsi sel pada
saluran gastrointestinal juga mengalami kerusakan. Muntah,
diare, hilangnya cairan dan gangguan barier mukosa sampai
terjadinya infeksi merupakan kontribut kematian.
2. Sindrom gastrointestinal

Sindrom gastrointestinal jika terpapar 19..........‐.......... rad


(5‐12 Gy) di dalam tubuh. Apabila pasien tidak diterapi dapat
terjadi kematian selama 3‐10 hari. Gejalanya dapat berupa mual
hebat, muntah dan diare, yang menyebabkan dehidrasi berat.
3. Sindrom cerebrovaskular
Sindroma otak terjadi jika dosis total radiasi sangat tinggi
(20...............Gy) dan selalu berakibat fatal. Gejala awal berupa
mual dan muntah, lalu diikuti oleh lelah,
ngantuk dan kadang koma. Gejala ini kemungkinan besar
disebabkan oleh adanya peradangan otak.
4. Gangguan ginjal

Fungsi ginjal bisa menurun dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun


setelah penderita menerima dosis radiasi yang sangat tinggi; juga
bisa terjadi anemia dan tekanan darah tinggi.
5. Tumor ganas

6. Amenore

7. Gangguan gairah seksual

8. Katarak

9. Berkurangnya jumlah sel darah

10. Kelumpuhan

11. Atrofi (pengecilan otot)

12. Mutasi gen

13. Gangguan jantung

D. Prognosis

Prognosis dari penyakit akibat radiasi ionisasi untuk jenis


efek genetik atau non-somatik seperti atrofi, dan mutasi gen adalah
buruk karena proses medis yang dilakukan belum tentu mampu
menyembuhkan penyakit. Tapi ada juga yang memiliki prognosis
baik untuk jenis penyakit akibat radiasi ionisasi yaitu yang memiliki
efek segera-somatik berupa sindrom-sindrom tertentu seperti sindrom
gastrointestinal dan juga epilasi serta penurunan sel darah
memiliki prognosis baik karen efek segera-somatik ini dapat
dirasakan oleh individu pekerja dan dapat diamati dalam waktu
singfkat sehingga akan lebih cepat dalam melakukan tindakan medis
yang diperlukan.
E. Patogenesis

1. Sindroma neurovaskular

Terjadi setelah pemberian radiasi dengan dosis > 20 Gy dan


biasanya mengakibatkan kematian yang cepat dalam beberapa jam
hingga hari akibat disfungsi sistem kardiovaskular dan sistem
syaraf tubuh.
2. Sindroma gastrointestinal

Terjadi setelah pemberian radiasi dengan dosis antara 8 - 12 Gy


dan pada tikus dengan dosis di atas rentang tersebut dapat
mengakibatkan kematian setelah 1 minggu pemberian radiasi. Hal
ini terjadi akibat terjadi kerusakan mukosa traktus
gastrointestinalis yang disebabkan oleh hilangnya barrier dan
ketidakseimbangan elektrolit dan cairan.
3. Sindroma hematopoetik

Terjadi setelah pemberian dosis antara 2 - 8 Gy pada manusia


(3 - 10 Gy pada tikus) sehingga mengakibatkan kematian sel-sel
prekusor di sumsum tulang. Sindroma ini dapat menyebabkan
kematian pada tikus (pada dosis yang lebih tinggi) setelah 12 - 30
hari pemberian radiasi.

F. Pencegahan

1. Individu pekerja yang memiliki pekerjaan yang berisiko terkena


pajanan dari radiasi ionisasi seharusnya selalu mengguanakan alat
pelindung diri ketika menggunakan alat-alat yang memiliki risiko
terjadi proses ionisasi dan selalu meningkatkan kesadaran dalam
bekerja.
2. Proteksi radiasi bertujuan untuk meminimalkan risiko dari
radiografi yang digunakan untuk pemeriksaan diagnostik. Teknik
pengawasan keselamatan radiasi dalam masyarakat umumnya
selalu berdasarkan pada konsep dosis ambang. Setiap dosis
seberapa kecilnya akan menyebabkan terjadinya proses kelainan,
tanpa memperhatikan panjangnya waktu pemberian dosis. Karena
tidak adanya dosis ambang ini, maka masalah utama dalam
pengawasan keselamatan radiasi adalah dalam batas dosis
tertentu sehingga efek yang
akan ditimbulkannya masih dapat diterima baik olehmasyarakat.
Oleh karena itu, setiap kemungkinan penerimaan dosis oleh
pekerja radiasi maupun anggota masyarakat bukan pekerja radiasi
harus diusahakan serendah mungkin.
3. Melakukan prosedur kerja dengan zat radioaktif atau sumber
radiasi lainnya, karena sebagian besar radiografer adalah
petugas proteksi radiasi (PPR) maka bertugas untuk
melakukan upaya-upaya tindakan proteksi radiasi dalam
rangka meningkatkan kesehatan dan keselamatankerja bagi
pekerja radiasi, pasien dan lingkungan. Evaluasi tindakan
proteksi radiasi yang telah dilakukan merupakan salah satu
kemampuan dari petugas proteksi radiasi termasuk pengujian
terhadap efektifitas dan efisiensi tindakan proteksi sehingga
radiografer mampu membuat suatu sistem tindakan proteksi
radiasi
yang
lebi
h
baik
.

Kelainan Kejadian terakhir/106 Kasus tambahan/106

Berat 2.500 kelahiran 5-20 perkelahiran


Ringan 7.500 1-15
X-linked 400 <1
Resesif 2.500 <1
Kelainan Kongenital 20.000-30.000 10

Tabel 11.2. Perkiraan Efek Genetik dengan dosis 10 mSv per


generasi
DAFTAR PUSTAKA

Badan Tenaga Nuklir Nasional. 2007. Modul Ringkas Keselamatan Kerja


Terhadap Radiasi. Bandung: Pusat Teknologi uklir Bahan dan
Radiometri Bidang Keselamatan dan Kesehatan.
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Tatalaksana Penyakit akibat
Kerja Bagi

Petugas Kesehatan. Jakarta: Direktur Bina Kesehatan Kerja dan


Olahraga. Kementrian Sumber Daya dan Energi Australia. 2009.
Pencemaran Udara,
Kebisingan, dan Getaran−Praktik Kerja Unggulan Program
pembangunan Berkelanjutan untuk Industri Pertambangan.
Australia: Departemen Sumber daya, Energi, dan Pariwisata
Pemerintah Australia.
Koesyanto, Herry. 2014. Penyakit Akibat Kerja. Semarang: Jurusan Ilmu
Kesehatan

Masyarakat Universitas Negeri


Semarang.

Oktaviani A. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis


Kontak Iritan pada Karyawan Pabrik Pengolahan Aki Bekas di
Lingkungan Industri Kecil (LIK) Semarang. Semarang: Skripsi
Universitas Diponegoro.
Swamardika, I.B. Alit. 2009. Pengaruh Radiasi Gelombang
Elektromagnetik terhadap Kesehatan Manusia (Suatu Kajian
Pustaka). Teknologi Elektro Vol.
8 No.1 Januari - Juni 2009. Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas

U
d
a
y
a
n
a
.