Anda di halaman 1dari 38

PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN MEDIK

Latar Belakang

Berbagai langkah harus diperhatikan dalam melaksanakan perawatan gawatdarurat


obstetri dan neonatal. Penatalaksanaan meliputi pengenalan segera kondisi
gawàtdarurat, stabilisasi penderita, pemberian oksigen, infus dan terapi cairan,
transfusi darah dan pemberian medikamentosa (antibiotika, sedatif, anestesi, analgesik
dan serum anti tetanus) maupun upaya rujukan lanjutan. Semua Iangkah dan
penatalaksanaan tersebut, harus dikuasai oleh petugas kesehatan/staf klinik yang
bertugas di unit gawatdarurat atau ruang tindakan obstetri dan neonatal.

Stabilisasi dan Rujukan

Stabilisasi dan merujuk secara cepat serta dalam kondisi yang memadai akan sangat
membantu pasien untuk ditangani secara memadai atau dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih lengkap dalam kondisi seoptimal mungkin. Dalam sistem
pelayanan gawatdarurat dan rujukan kesehatan pada atau antar fasilitas, seharusnya
sudah tersedia perangkat dan mekanisme yang jelas tentang operasionalisasi setiap
unsur yang terlibat. Unsur-unsur tersebut dapat berasal dari sistem kesehatan itu
sendiri ataupun sistem yang terintegrasi melalui suatu program (misalnya, Gerakan
Sayang Ibu yang melibatkan Menteri UPW, Depkes dan Depdagri). Fasilitas
kesehatan primer, akan merujuk pasiennya ke rumah sakit rujukan. Tetapi pada kota-
kota besar, mungkin saja terjadi rujukan antar Pukesmas, Rumah Sakit ataupun
diantara pusat-pusat rujukan. Apapun mekanisme yang terjadi, semua unsur yang
terlibat, seharusnya mampu untuk membawa pasien mencapai fasilitas rujukan yang
dituju agar mendapatkan pertolongan yang mungkin sangat vital dalam
menyelamatkan jiwanya.

Elemen-elemen penting dalam stabilisasi pasien adalah:


 Menjamin kelancaran jalan nafas, memperbaiki fungsi sistem respirasi dan
sirkulasi
 Menghentikan sumber perdarahan
 Mengganti cairan tubuh yang hilang
 Mengatasi rasa nyeri atau gelisah

Terapi Cairan

Pada kebanyakan kasus gawatdarurat, pasien-pasien memerlukan infus untuk


mengganti cairan yang hilang. Larutan isotonik yang dianjurkan adalah Ringer Laktat
dan NaCI fisiologis atau garam fisiologis (normal saline). Larutan glukosa tidak dapat
rnenggantikan garam atau elektrolit yang dibutuhkan selama penggantian cairan yang
hilang.
Diameter jarum infus, sangat menentukan kecepatan pemberian cairan infus. Untuk
pemberian awal, dianjurkan untuk rnenggunakan ukuran 16-18 (selain untuk
pemberian cairan secara cepat, juga sesuai untuk trarisfusi darah). Apabila ukuran
tersebut tidak tersedia, dapat masih dapat digunakan jarum dengan ukuran 20.

Saat jarum infus dimasukkan, segera ambil spesimen darah untuk pemeriksaan kadar
hemoglobin, golongan darah atau pemeriksaan laboratorium lainnya. Bila pasien
mengalami defisit cairan atau syok, sulit sekali dilakukan pemasangan infus dan
pengambilan spesimen darah sehingga kadang-kadang diperlukan tindakan bedah
untuk mengambil vena. Mengukur konsentrasi Hb dengan pengambilan darah kapiler
(di ujung jari) pada pasien dengan kondisi gawat darurat, akan memberikan hasil yang
kurang memuaskan.

Pada kasus syok hipovolernik yang diakibatkan oleh perdarahan, berikan 500-1000 ml
cairan isotonik dalam 15-20 menit pertama. Stabilisasi umumnya terjadi setelah 1-3
liter cairan infus diberikan. Setelah stabilisasi tercapai maka kecepatan cairan infus
diatur rnenjadi tetesan pemeliharaan (1 liter dalam 6-8 jam).

Untuk pemberian cairan infus, perhatikan:


 jumlah cairan yang akan diberikan
 lamanya pemberian per unit cairan
 ukuran atau diameter tabung dan kecepatan tetesan. Setiap ukuran tabung yang
ada pada pangkal slang infus (yang mempunyai jarum penghubung ke botol infus)
memiliki ukuran tetesan yang berbeda untuk setiap mililiter cairan. Ada tabung
dengan ukuran dua puluh tetes per mililiter sedangkan yang lain 10 tetes per
mililiter.

Tabel 4-1
Kecepatan pemberian cairan infus
Jumlah Cairan Waktu Pemberian Tetes per mililiter Tetes per menit
1 liter 20 menit 10 Tidak dapat dihitung
1 liter 20 menit 20 Tidak dapat dihitung
1 liter 4 jam 10 40
1 liter 4 jam 20 80
1 liter 6 jam 10 28
1 liter 5 jam 20 56
1 liter 8 jam 10 20
1 liter 8 jam 20 40
Rumus kecepatan cairan infus:
Jumlah cairan yang dibutuhkan (miliiter)/waktu pemberian (menit) X jumlah tetes per
mililiter = jumlah tetes per menit

Contoh :
| |

Bila pemulihan pasien telah mencapai kondisi yang memuaskan maka dapat
dilakukan pemberian cairan per oral. Infus dapat dilepaskan kecuali bila dibutuhkan
untuk jalur pemberian obat secara intravena. Untuk kondisi seperti itu, kecepatan
tetesan cairan diperlambat (1 liter selama 10-12 jam). Dalam terapi cairan ini, juga
dipantau tentang keseimbangan cairan. Apabila terjadi pembengkakan atau edema
pada kaki, tangan, muka, mungkin hal ini diakibatkan oleh kelebihan cairan.
Kelebihan tersebut dapat pula dinilai dan terjadinya sesak nafas atau bising nafas
yang abnormal (ronkhi basah difusa).

Kondisi kesehatan pasien, sangat berpengaruh terhadap jumlah perdarahan yang


terjadi. Wanita sehat, akan mampu untuk bertahan terhadap kehilangan 1000 ml
darah. Sebaliknya pada wanita dengan anemia kronis, kehilangan 200 ml darah, akan
menyebahkan hal yang fatal. Bila dengan cairan pengganti plasma atau plasma beku
kering kondisi pasien dapat menunjukkan perbaikan maka transfusi darah sebaiknya
dipertimbangkan kembali. Pada kenyataannya, seorang wanita sehat, masih dapat
bertahan (tanpa penggantian darah melalui transfusi) apabila kehilangan darah hingga
20% atau 1000 mililiter, dari total jumlah darah normal (5000 mililiter). Kehilangan
hingga 30%, dapat diatasi dengan cairan pengganti plasma. Transfusi darah sangat
dibutuhkan apabila darah yang keluar, melebihi 30% dan total jumlah darah didalam
tubuh. Pada perdarahan masif, jumlah darah yang keluar dalam waktu kurang dari 3
jam, dapat mencapai lebih dari 50% jumlah total cairan darah.

Terapi awal cairan pengganti, seharusnya diberikan dalam waktu yang cepat dan ini
hanya dimungkinkan dengan pemberian kristaloid isotonik seperti Ringer Laktat dan
garam fisiologis. Pada tahap awal ini, tidak dianjurkan untuk memberikan cairan infus
larutan isotonik glukosa 5%. Pada tahap awal, jumlah cairan yang diberikan adalah 50
mililiter per kilogram berat badan (50 ml/kg BB) atau 3 kali dari perkiraan jumlah
darah yang hilang. Cairan koloidal sintetik diberikan hingga 50 ml/kg BB tetapi
dengan kecepatan tetesan yang lebih rendah dan larutan kristaloid isotonik. Amilum
hidroksiletil atau dextran 70 diberikan 20 ml/kg BB selama 24 jam pertama. Dapat
pula diberikan albumin atau fraksi protein plasma tetapi harga kedua bahan ini sangat
mahal. Eritrosit tanpa plasma tidak direkomendasikan untuk pengganti cairan yang
hilang sedangkan jika diberikan plasma saja, risiko transmisi penyakit, cukup tinggi.
Cairan darah (eritrosit dan plasma) diberikan untuk mengganti cairan yang hilang,
pembawa oksigen ke jaringan dan faktor faktor penting untuk hemostasis.
Tranfusi Darah

Asuhan Kebidanan sering kali memerlukan adanya penambahan atau transfusi darah
untuk menyelamatkan jiwa pasien. Mengingat tingginya frekuensi permintaan
transfusi darah dari Bagian Kebidanan maka sudah sepatutnya para petugas kesehatan
memahami dan waspada tentang indikasi, kesesuaian golongan, cara penggunaan dan
risiko transfusi darah. Kesesuaian penggunaan cairan dan produk darah didefinisikan
sebagai pemberian darah yang aman (kesesuaian golongan, risiko rendah terhadap
reaksi inkompatibilitas, dan bebas dan potensi transmisi penyakit) dan ditujukan
terhadap kondisi yang dapat menimbulkan morbiditas atau mortalitas dimana darah
merupakan pilihan utama untuk mengatasi kondisi tersebut.

Kondisi yang memerlukan transfusi darah, diantaranya adalah:

 Perdarahan pascapersalinan yang disertai dengan syok


 Kehilangan banyak darah selama prosedur operasi
 Anemia berat (yang disertai gejala dekompensasio kordis) pada akhir masa
kehamilan

Setiap rumah sakit rujukan (terutama sekali di tingkat kabupaten) harus dapat
memenuhi permintaan atau menyediakan darah pada setiap saat dimana transfusi
darah diperlukan. Ketersediaan darah (minimal golongan 0 dan plasma beku segar) di
Bagian Kebidanan telah menjadi suatu kewajiban karena hal ini dapat menjadi
penyelamat bagi para ibu atau pasien yang sangat membutuhkan.

Kewaspadaan dalam menggunakan cairan dan produk darah

Kewaspadaan sangat diperlukan karena apabila cairan dan produk darah digunakan
sesuai dengan indikasinya dan benar cara pemberiannya maka prosedur ini akan
menyelamatkan jiwa dan memperbaiki kondisi kesehatan ibu bersalin. Sebaliknya,
kelalaian dan cara pemberian yang salah, justru dapat membahayakan keselamatan
jiwa ibu hamil/bersalin (kondisinya lebih baik sebelum dilakukan transfusi darah).

Seperti tindakan pengobatan lainnya, transfusi darah juga mungkin menimbulkan


reaksi tubuh (baik segera maupun lambat) sehingga dapat memperberat gangguan
kesehatan yang sedang dialami. Selain itu, uji saring yang tidak memenuhi syarat,
dapat membuat pasien tertular penyakit berbahaya akibat mikroorganisme berbahaya
di dalam darah yang ditransfusikan. Penyediaan dan pengelolaan darah dan
produknya, juga memerlukan sumberdaya yang sangat besar sehingga penggunaan
yang tidak efisien merupakan pemborosan dan sangat merugikan.

 Beberapa contoh keadaan dimana transfusi darah tidak diperlukan:


o Anemia pada trimester kedua kehamilan tidak perlu diatasi dengan
memberikan transfusi darah karena masih ada beberapa alternatif lain yang
dapat memperbaiki kondisi tersebut (misalnya, pemberian hematinik dan
nutrisi yang adekuat apabila anemia disebabkan oleh defisiensi makro dan
mikro nutrien)

o Transfusi untuk mempercepat persiapan tindakan operasi elektif atau untuk


mempercepat pasien agar dapat segera dipulangkan. Defisit cairan dapat
diatasi dengan pemberian infus dan anemia dapat dikoreksi dengan pemberian
hematinik atau asupan yang mempunyai nilai gizi tinggi.

Tindakan transfusi darah berdasarkan indikasi yang kurang tepat dapat


mengakibatkan hal-hal berikut ini:

 Pasien terpapar risiko yang seharusnya dapat dicegah


 Pemborosan stok darah yang mungkin sangat diperlukan oleh pasien lain

Sebelum menentukan perlunya dilakukan transfusi darah, dipertimbangkan secara


matang tentang risiko yang mungkin terjadi apabila transfusi diberikan atau tidak
diberikan.

Transfusi seluruh komponen darah atau hanya sel darah

 Transfiisi darah membawa risiko terhadap reaksi imkompatibilitas atau hemolitik


yang sangat serius
 Produk darah dapat menularkan penyakit, termasuk penyakit berbahaya seperti
HIV, hepatitis B, hepatitis C, syphilis, malaria dsb kepada resipien
 Setiap produk darah dapat terkontaminasi mikoorganisme dan menjadi bahan
yang berbahaya apabila tidak ditangani secara baik atau diberikan kepada resipien

Transfusi plasma

 Plasma dapat menularkan penyakit seperti halnya seluruh komponen darah


 Plasma juga dapat menimbulkan berbagai reaksi transfusi
 Hanya beberapa indikasi tertentu saja yang memerlukan transfusi plasma
(misalnya, koagulopati). Risiko yang dapat terjadi akibat transfusi plasma
biasanya lebih banyak dari pada manfaatnya yang mungkin diperoleh
Pengamanan darah

Risiko yang berhubungan dengan transfusi dapat dikurangi melalui upaya berikut:

 Seleksi akurat terhadap donor dan darah


 Uji tapis dan kajian prevalensi penyakit menular di komunitas donor untuk
menghindarkan infeksi melalui transfusi darah dan uji keamanan darah donor
 Program jaga mutu darah dan produk darah
 Jaminan akurasi golongan darah, uji kompatibilitas, kualitas pemisahan dan
penyimpanan komponen darah dan keamanan transportasi darah
 Kesesuaian indikasi bagi penggunaan darah dan produknya

Penapisan Bahan Yang Berpotensi Menimbulkan Infeksi

Setiap unit yang terkait dengan pemberian atau donasi darah harus dapat melakukan
pencegahan infeksi melalui darah melalui upaya penapisan yang efektif dan
pengelolaan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (mengacu pada standar
nasional atau hasil kajian tentang prevalensi agen penyebab infeksi dalam dalam
donor).

Semua darah yang akan didonasikan, harus lulus uji tapis penyakit-penyakit berikut
ini:
 HIV-l dan HIV-2
 Hepatitis B surface antigen (HbsAg)
 Treponema pallidum (syphilis)

Bila memungkinkan, dilakukan pula pengujian berikut ini:


 Hepatitis C dan Malaria
 Penyakit-penyakit lain yang dapat ditularkan melalui darah (prevalensi setempat)
atau lulus uji keamanan darah menurut standar nasional
 Uji kompatibilitas darah atau produk darah (walaupun dalam keadaan sangat
genting atau gawatdarurat)

Prinsip-Prinsip Transfusi

Prinsip dasar kesesuaian penggunaan darah atau produk darah adalah bahwa transfusi
merupakan salah satu dan banyak upaya atau tindakan untuk menyelamatkan ibu dan
situasi dan kondisi gawatdarurat. Alasan utarna untuk melakukan transfusi sel darah
merah adalah pemulihan fungsi oksigenasi jaringan karena hemoglobin darah
mempunyai kemampuan untuk mengikat dan menghantarkan oksigen. Fungsi inilah
yang tidak dapat dipenuhi oleh cairan kristaloid atau pengganti plasma. Lakukan
berbagai upaya penghematan darah di dalam sirkulasi denganjalan berikut ini:
 Gunakan cairan pengganti untuk resusitasi
 Hindarkan pengambilan spesimen darah (pemeriksaan laboratorium) secara
berulang kali
 Gunakan teknik pembedahan dan anestesi terbaik untuk menghindarkan
kehilangan darah secara berlebihan
 Lakukan autotransfusi apabila teknik dan kondisinya memungkinkan

Hal-hal penting yang harus diperhatikan:


 Transfusi merupakan salah satu elemen dan penatalaksanaan lengkap
gawatdarurat Keputusan untuk menetapkan transfusi darah sebagai tindakan yang
diperlukan harus diacu ke pedoman nasional penggunaan darah dan produknya
serta kebutuhan pasien
 Selama menatalaksana pasien, lakukan segala upaya untuk mencegah perdarahan
lanjutan sehingga transfusi darah dapat dihindarkan
 Pasien dengan perdarahan akut dalam jumlah yang banyak sebaiknya segera
memperoleh tindakan resusitasi (restorasi kehilangan cairan dengan cairan
pengganti, oksigen, bantuan pernafasan, dsb), dipertimbangkan perlu-tidaknya
transfusi darah
 Walau kadar hemoglobin mengindikasikan berat-ringannya perdarahan tetapi
bukan menjadi indikator tunggal untuk transfusi darah. Perhatikan juga perbaikan
yang akan terjadi bila transfusi darah diberikan agar upaya ini berdampak pada
penurunan AKI.
 Petugas keshatan harus waspada terhadap risiko transmisi penyakit berbahaya
melalui transfusi darah
 Transfusi darah hanya diberikan apabila manfaatnya lebih besar dan risikonya
 Pemberian dan pemantauan transfusi darah harus dilaksanakan oleh petugas
terlatih agar komplikasi dikenali secara dini dan pertolongan dapat segera
diberikan
 Alasan untuk transfusi darah harus dicatatkan dan lakukan kajian apabila timbul
reaksi yang tidak diinginkan

Pemantauan Selama Transfusi Darah

Lakukan pemantauan untuk setiap unit darah yang diberikan. Pemantauan dilakukan
pada tahapan berikut ini:
 Sebelum transfusi darah dilakukan
 Pada saat transfusi diberikan
 15 menit setelah transfusi darah berjalan
 Setiap jam selama transfusi darah
 Setiap jam dalam 4 jam pertama setelah transfusi darah
Pantau secara ketat dalam 15 menit pertama transfusi darah, lanjutkan secara reguler
(sesuai jadwal diatas) selama transfusi darah dijalankan agar setiap gejala dan tanda
reaksi transfusi pada pasien dapat segera dikenali dan diatasi.

Selama melakukan pemantauan, perhatikan dan periksa kondisi dibawah ini:


 Keadaan umum
 Temperatur
 Nadi
 Tekanan darah
 Pernapasan
 Keseimbangan cairan (asupan enteral dan intravena serta produksi urin)

Catatkan pula hal-hal berikut ini:


 Waktu mulai transfusi
 Waktu selesai transfusi
 Jumlah dan jenis darah atau produk darah yang ditransfusikan
 Nomor donor dan nomor kantong darah
 Efek samping

Menangani Reaksi Transfusi


Pada reaksi transfusi dapat timbul gejala dan tanda berikut mi:
 Demam diatas 38°C
 Takikardia
 Gawat napas
 Hipotensi
 Rona merah pada wajah
 Iritabilitas
 Mual dam muntah
 Ruam kulit
 Hematuria (+1 atau lebih)
Reaksi transfusi dapat berkisar dan ruam (rash) kulit ringan hingga syok anafilaktik.
Bila terjadi reaksi, lakukan hal berikut ini:
 Segera hentikan transfusi darah, bilas darah yang tersisa dalam slang infus dan
tetap pertahankan jalur infus (gunakan garam fisiologis atau Ringer Laktat).
 Secara bersamaan lakukan penilaian jenis dan derajat reaksi transfusi dan tentukan
upaya atau tindakan pertolongan yang sesuai.
 Periksa dan catat tanda-tanda vital setiap 15 menit hingga kondisi stabil tercapai
 Laporkan ke UTD atau Bank Darah tentang rekasi yang terjadi dan kirimkan
kantong transfusi dan slang ke unit tersebut untuk konfirmasi dan kajian ulang
darah dan produk darah serta hasil uji padanan silang (cross-matching)
sebelumnya
 Lakukan pengambilan spesinlen urin setelah terjadi reaksi transfusi dan kirim ke
laboratorium untuk uji konfirmatif

Tabel 4-2: Komplikasi Lain Transfusi Darah

Komplikasi Penyebab Pencegahan/Penanganan


Sepsis Kontaminasi mikroorganisme Gunakan darah dalam waktu 4 jam
setelah diberikan. Lakukan kultur
mikroorganisme dan berikan antibiotika
yang sesuai

Hipotermial/menggigil Transfusi sejumlah besar darah yang Hangatkan darah sebelum


temperaturnya masih dingin ditransfusikan

Kelebihan beban cairan Pemberian darah secara cepat dalam Jangan memeras darah dalam kantong
jumlah yang banyak disertai dengan (kecuali pada kondisi sangat gawat).
cairan infus lainnya Pertimbangkan pemberian diuretika

Hipokalsmia (disritmia Kelebihan sitrat yang ada di dalam Periksa kadar kalsium darah
dan hipotensi kantong darah Periksa EKG
Berikan Kalsium Glukonas

Beberapa upaya untuk mengatasi reaksi transfusi:


 Bila terjadi ruam kulit ringan dan disertai gejala sistemik lain, berikan
promethazine 10 mg per oral dan perhatikan perubahan yang terjadi.
 Bila terjadi syok, berikan:
o adrenalin 1:1000(0,1 mL dalam 10 mL cairan garam fisiologis/NS) dan
berikan secara lambat melalui jalur intravena.
o Tambahkan prornethazine 10mg IV. Hidrokortison 1 g IV setiap 2jam (bila
perlu)
 Bila terjadi spasme bronkus, berikan aminofihin 250 mg dalam 10 mL NS atau
RL secara lambat melalui jalur IV
 Lakukan tindakan resusitasi lain jika diperlukan dan pantau fungsi ginjal, paru dan
kardiovaskuler. Jika dipandang perlu untuk mendapatkan rawat intensif, segera
rujuk pasien apabila kondisinya telah stabil
Pemberian Medikamentosa

Keamanan, kepentingan dan cara pemberian merupakan hal-hal penting yang harus
diperhatikan untuk memutuskan kapan, apa dan bagaimana menentukan pemberian
medikamentosa bagi pasien. Tanyakan riwayat alergi obat-obatan sebelum
memberikan obat kepada pasien. Bila ada riwayat alergi tersebut, maka harus
dicarikan obat pengganti yang lebih aman tetapi juga cukup efektif.

Antibiotika

Pada kasus-kasus infeksi atau trauma intraabdomen, mutlak diperlukan antibiotika.


Pada keadaan tersebut diatas, beri antibiotika secepat mungkin. Pemberian secara
intravena akan cepat menghantarkan bahan ini ke jaringan yang mengalami infeksi.
Berikan antibiotika secara intramuskuler (per oral bila pasien tidak syok) bila tidak
tersedia antibiotika intravena. Karena identifikasi agen penyebab infeksi sangat sulit
diperoleh dalam waktu yang singkat dan keadaan yang gawat maka dianjurkan untuk
memberikan antibiotika (sebaiknya kombinasi) spektrum luas yang aktif terhadap
mikro organisme gram negatif, gram positif, anerob dan kiamidia.

Tabel 4-3: Antibiotika kasus infeksi penyerta kasus gawat darurat


Antibiotika Dosis Keterangan
Ampisilin 1 g IV tiap 4 jam atau 500 mg (oral) tiap Spektrum luas, murah
6 jam

Benzilpenisilin 10 juta unit IV tiap 4 jam Ada efek samping serius


efektif untuk kokus Gram (+) dan Go

Kloramfenikol 1 g IV tiap 6jam Balk untuk sepsis, penekanan sum-sum


tulang, pantau gambaran darah

Gentamisin 1,5 kg/kg BB/dosis IV/IM tiap 8jam Efektif untuk Gram (-) dan flora usus
Doksisi kim 100 mg tiap 12 jam Aktif untuk kuman Gram (+), Gram (-)
Tetrasiktin 500 mg tiap 6 jam (jangan termasuk Kiamidia. Dapat menggantikan
diberikan bersamaan dengan susu atau kombinasi dengan Ampisilin. Balk
atau antasida) dikombinasikan dengan Metronodazol

Baik untuk Gram (-) dan Anerob. Dapat


dikombinasikan dengan Ampisilin dan
Metronidazol 1 g IV atau per rektal tiap 12 jam atau Doksisiklin. Alternatif dan klindamIsin.
500 mg oral hap 6 jam Relatif murah dan mudah didapat.
Serapan oral mencapai kadar serum yang
sama dengan Intravena

Catatan
 Golongan penisilin, gentamisin dan metronidazol sering dikombinasikan dan
mempunyai cakupan berbagai mikroorganisme
 Kloramfenikol mempunyal efektitas yang cukup luas walaupun digunakan secara
tunggal dan sangat efektif jika dikombinasikan dengan penisilin/ampisilin
 Sekali diberikan, antibiotika diteruskan hingga bebas demam 24-48 Jam. Bila
setelah 48 jam pemberian ternyata tidak rnengelami perubahan, ganti dengan
antibiotika lain.
 Bila terjadi perbaikan, ganti cara pemberian parenteral dengan per oral. Sesuaikan
dosis per oral dengan parenteral

Cara pemberian obat (harus ditetapkan sebelum obat diberikan):

Intravena

Cara pemberian ini terpilih untuk pasien syok atau kondisi gawat darurat (syok septik
atau hipovolemik, sepsis, reaksi alergi atau anafilaktik, resusitasi).

Intramuskuler
Cara ini dipilih apabila tidak tersedia bahan untuk pemberian intravena atau tidak ada
sediaan untuk pemberian intravena atau apabila onset kerja obat bukan merupakan
kebutuhan utama.

Per oral
Tidak dianjurkan untuk pasien-pasien dengan syok atau sedang dipersiapkan untuk
laparotomi. Hanya diberikan pada pasien dalam keadaan sadar atau proses
realimentasi berlangsung normal.

Cara ini hanya memungkinkan untuk:


 Pasien akan dirujuk dan masih membutuhkan waktu cukup larna sebelum sampai
ditempat rujukan. Tidak tersedia obat-obatan yang diberikan secara intravena atau
intra muskuler. Pada saat diberikan obat, pasien tidak dalam keadaan syok.
 Pasien stabil dan masih dapat makan dan minum

Tabel 4-4: Kombinasi antibiotika untuk infeksi ganda


Seftriakson atau Siprofloksasin atau Spektinomisin
dengan
Gentamisin atau Metronidazol
Doksisiklin dengan Metronidazol
Penisilin dengan Kloramfenikol
Tabel 4-5: Antibiotika untuk pasien Rawat Jalan
Antibiotika Dosis Catatan
Seftriakson 250 mg dosis tunggal oral atau Efektif untuk hampir semua
Siprofloksasinn 500 mg dosis tunggal oral atau mikroorganisme
Spektinomisin 2 g dosis tunggal oral Cakupan kokus Gram (-) dan Go

Dikombinasikan dengan salah satu antibiotika di bawah ini


Doksisiklin 100 mg oral 2 X sehari 10-14 hari atau Murah dan mencakup klamidia
Tetrasiklin 500 mg oral 4 X sehari 10-14 hari atau Murah dan mencakup klamidia
Kotrimoksasol 2 tablet dewasa/1 kaplet forte 10 hari Spektrum luas dan murah

Penatalaksanaan Nyeri

Kebanyakan pasien dengan infeksi berat, trauma intraabdomen atau mengalami


demam tinggi dan komplikasi berat lainnya, akan mengeluhkan adanya nyeri dan
membutuhkan obat untuk segera menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut.
Pemilihan obat nyeri tersebut, tergantung dan kondisi pasien, jenis obat, rawatan yang
diberikan, waktu dan cara pemberian analgetika.

Pemberian obat sebelum pemeriksaan selesai, akan menghilangkan sebagian dan


gejala-gejala penyakit, yang apabila tidak dicermati, akan menyulitkan pembuatan
diagnosis. Hindarkan pemberian sedatif berlebihan karena pasien akan kehilangan
kemampuan untuk menjawab secara benar. Bahan narkotika, harus diberikan secara
selektif dan dengan pemantauan ketat karena dapat menyebabkan depresi pernafasan.
Siapkan antidotum dan peralatan resusitasi kardiopulmoner sebelum pemberian obat
jenis ini.

Pemberian anti nyeri non-steroid, mungkin dapat menyebabkan gangguan pembekuan


darah. Oleh sebab itu, apabila prosedur AVM memerlukan penggunaan analgesik,
gunakan yang aman dan tidak mengganggu sistem pembekuan darah. Beberapa
analgesik, juga mempunyai efek antipiretika sehingga sebaiknya tidak diberikan
sebelum selesainya pengukuran temperatur tubuh. Penggabungan analgesik dengan
sedatif, kadang-kadang menyebabkan depresi pernafasan.

Tetanus
Pada umumnya, kuman tetanus berada pada benda-henda yang kotor atau tercemar.
Apabila infeksi yang terjadi, merupakan akibat dan manipulasi organ tubuh secara
berlebihan atau upaya pertolongan yang menggunakan instrumen atau berbagai
peralatan yang tidak terjamin kebersihan atau sterilitasnya maka risiko infeksi ganda
akan menjadi sangat tinggi. Kenyataan menunjukkan bahwa angka pemberian
Toksoid Tetanus di negara-negara berkembang pada tahun 1989 hanya mencakup
16% dan ibu-ibu hamil. Oleh sebab itu, pasien-pasien dengan riwayat induksi abortus
secara ilegal, mempunyai risiko yang sangat tinggi untuk dikenai tetanus.
Langkah pertama untuk mengurangi risiko tetanus ialah dengan melakukan perawatan
luka-luka infeksi sebaik mungkin, dibersihkan dan memberi peluang untuk oksigenasi
secara maksimal. Buang jaringan-jaringan nekrotik dan alirkan pus atau abses yang
terjadi. Kemudian beri antibiotika kombinasi, misalnya penisilin dan metronidazol.
Tanyakan riwayat imunisasi pada kehamilan yang lalu atau kehamilan ini dan lakukan
penilaian kondisi luka atau trauma.

Perhatikan kondisi berikut ini:


 Bila pasien pernah mendapat imunisasi secara lengkap dalam 5 tahun terakhir dan
luka yang terjadi masih tergolong bersih, tidak perlu diberikan serum anti tetanus.
Bila luka terkontaminasi dengan bahan infeksius (risiko tinggi terjadi tetanus)
maka berikan 0,5 ml TT dan Imunogiobulin Tetanus (TIG/ATS).
 Bila riwayat imunisasi tidak jelas atau diragukan dan luka cenderung mengarah
pada kemungkinan terjadi tetanus maka berikan TT dan TIG/ATS. Perhatikan
untuk tidak menyuntikkan kedua bahan tersebut dengan jarum/tabung suntik dan
pada lokasi atau tempat suntikan yang sama.

Diuretika

Lakukan pemantauan dan penghitungan keseimbangan cairan dengan teliti. Kesalahan


dalam mengkalkulasikan cairan masuk dan keluar, akan menyebabkan cairan yang
diberikan kurang dan yang ditentukan atau malahan terjadi kelebihan pemberian
cairan yang dapat menimbulkan beban pada jantung atau edema paru. Konfirmasi
kelebihan cairan, dapat dilihat melalui foto Ro paru atau melihat gejala fisik dan
klinik (edema pada kaki, tangan, muka, palpebra atau sesak nafas, ronkhi basah).
Untuk mengurangi beban jantung dan menghilangkan edema akut paru, berikan
diuretika dan perhatikan perbaikan gejala atau edema yang terjadi.

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam-Basa


Pasien obstetric memerlukan pertimbangan khusus mengingat perubahan dalam
kehamilan dan postpartum. Perubahan kardiovaskuler dan fungsi respirasi
memerlukan pertimbangan mengingat bahaya komplikasi pada anestesi dan operasi,
misalnya pada pasien preeklampsia, diabetes dan penyakit jantung.

Manajemen Cairan
Hipervolemia dan poliuria pascapersalinan sering kali terjadi pada pasien Pre-
eklampsia/ eklampsia sebagai akibat dan masuknya cairan ekstra ke intra vaskuler)
sehingga perlu pertimbangan untuk pembatasan (retriksi) cairan sampai 1500 ml/jam
(penyeimbangan negatif). Bila hal tersebut dilakukan maka perlu penyesuaian
pembatasan cairan setiap 6 jam, disesuaikan kondisi pasien (tekanan darah, nadi,
produksi urin dsb). Pasien-pasien yang mengalami syok (renjatan) atau pasien rawat
intensif, seringkali diberi cairan secara berlebihan atau terbebani akibat salah
penghitungan jumlah kebutuhan dasar cairan.
Kebutuhan cairan orang dewasa dengan fungsi ginjal normal adalah 1 liter/hari.
Untuk pasien dengan tindakan pembedahan, kebutuhan cairan adalah 30-40
cc/kgBB/hari; dan kebutuhan elektrolit seperti Na dan K masing masing adalah I
mEq/kg/hari. Produksi urin perlu dipantau karena dapat menggambarkan secara tidak
langsung tentang kondisi perfusi jaringan. Bila produksi < 17 mi/jam, kondisi ini
disebut sebagai oliguria (normal: 30 mi/jam). Untuk menentukan penyebab oliguria
(renal, prerenal, postrenal), periksalah berat jenis urin, hernatokrit, elektrolit, ureum,
kreatinin, volume kardiovaskuler; dan bila perlu ukur kondisi Tekanan Vena Sentral
(CVP) Untuk pengujian secara tidak langsung hipovolemia, diberikan 300-500 cc NS
dalam 30 menit (jangan lebih !) dan apabila tidak diikuti dengan pengeluaran unin
maka diduga ada hipovelomia dan segera pasang CVP. Untuk menentukan gangguan
pre atau postrenal, lakukan USG ginjal/ureter untuk melihat kemungkinan ada-
tidaknya obstruksi ureter (hidronefrosis dan di latasi ureter).

Yang paling sering terjadi pada pasien obstetri ialah nekrosis tubular akibat hipoksia
pada preeklampsia. Untuk mendorong diuresis dapat diberikan furosemid intravena
secara bertingkat (maksimum 600mg/hari) sampai produksi urin adekuat. Bila
hasilnya tidak memuaskan maka lakukan dialisis.

Bila pasien disiapkan untuk tindakan operatif maka cairan perioperatif yang diberikan
adalah NaCI atau RL, sedangkan untuk pascabedah (terutama apabila lebih dari 24
jam) sebaiknya diberikan KaEN yang mengandung kalori. Kebutuhan kalori pada
pasien wanita (rumus Harris Benedict) bagi kebutuhan dasar adalah:

Basal Energy Expenditure-kcal/hari


BEE 66+13.7 berat badan (kg) + 1.8 tinggi badan (cm) -4.7x usia.

Keseimbangan Asam Basa


Pasien normal akan mempunyai pH 7.3 5-7.45. Pertimbangkan kondisi sebagai
berikut,
pada parameter:
Kelainan pH pCO2 HCO3
Akalosis respiratorik >7.40 <40
Asidosis respiratorik <7.40 >40
Alkalosis metabolik >7.40 >24
Metaboljk asidosis <7.40 <24

Bila kesenjangan anion serum (Na-Cl- HCO3) lebih dari 20 (normal ialah 12), maka
telah terjadi asidosis sekalipun pH dalam batas normal. Kompensasi akan terjadi pada
awal kelainan, misalnya pada asidosis metabolik akan terjadi penurunan pCO2
apabila terjadi penurunan HCO3 (base deficit); pada asidosis respiratorik akut HCO3
meningkat 0.1 per kenaikan pCO2, dan pada yang kronik HCO3 meningkat 0.35 per
kenaikan pCO2. Para penolong harus mengetahui patologi dasar yang mengakibatkan
gangguan keseimbangan asam basa. Sebaiknya dilakukan pengukuran elektrolit urin
untuk menentukan kondisi ginjal melalui pengukuran kesenjangan anion (UNa + UK
— Uc1), yang menunjukkan hasil negatif (lebih banyak Cl), maka ginjal sedang
berkompensasi untuk mengeluarkan amonia (NH4) akibat asidosis metabolik.

Yang perlu diperhatikan pada asidosis metabolik akibat kelainan ginjal adalah:
Kekurangan cairan Diabetes
pH urin tinggi rendah
kadar K+ N/rendah tinggi
plasma HCO3 rendah >15

Kelainan ginjal kronik akan menimbulkan penumpukan anion (fosfat, urat, sulfat)
sedangkan pada yang akut terjadi pemngkatan amonia, karena berkurangnya jumlah
nefron. Pada kondisi HELLP akibat deposti fibrin dan kelainan endothel, pemberian
heparin dan cairan (dextran) akan membantu perbaikan sirkulasi dan ginjal pada
kondisi hipovolemik, sebaliknya apabila telah terjadi hipervolemia maka restriksi
cairan harus dilakukan (1500 ml/hari). Bila tak memberikan perbaikan dalam 2 hari,
maka perlu dilakukan dialisis.

Pada kondisi asidosis metabolik yang parah maka koreksi dengan bikarbonas natrikus
dapat dipertimbangkan (kecuali pada diabetes ketoasidosis). Hanya pada keadaan
yang memburuk dengan pH kurang dan 7.20 maka perhitungan kebutuhan bikarbonat
sbb: 0.6 x BB -kg x kadar HCO3 ; dimana separuh dan kebutuhan total tersebut
diberikan dalam 1 jam pertama. Lakukan periksa ulang gas darah untuk menilai ada-
tidaknya perbaikan.

Kelainan Elektrolit

Kelainan elektrolit jarang dijumpai pada kasus Obstetrik, tapi perlu dipertimbangkan
pada kondisi sebagai berikut:

Hiponatremia - kelainan akibat kelebihan cairan sehingga kadar Na kurang dan 130
mEq/L. Pasien dapat jatuh dalam korna dan kejang. Perlu pemeriksaan keseimbangan
cairan, osmolalitas darah, osmolalitas urin dan kadar Na urin. Koreksi kekurangan Na
dengan infus NaCI 3% sampai kadar menjadi normal.

Hipernatremia. Kondisi ini terjadi bila ditemukan kadar Na > 145 mEq/L, biasanya
akibat kehilangan cairan (kelainan ginjal, kelebihan diuresis, diare, luka bakar, dsb).
Periksalah keseimbangan cairan, jurnlah urin, osmolalitas dan kadar Na urin.

Hipokalemia. Umumnya terjadi akibat kehilangan kalium (muntah, diare, laksansia,


kelainan ginjal, hiperglikemia, terapi insulin dsb) sehingga kadarnya rendah (akan
timbul gejala bila < 3 mEq). Pada kondisi ringan dapat terjadi Lemah, kram otot dan
ileus. Pada kondisi berat dapat terjadi paralisis, hiporefleksi, tetani dan pada ECG
ditemukan T mendatar, gelombang U dan aritmia. Perlu pemeriksaan kreatinin untuk
menentukan kelainan ginjal. Target terapi hipokalernia mencapai kadar 4 mEq/L
dengan cara: KCL/iv 10 mEq/jam melalui infus, kemudian dosis rumatan per oral (40
mEq/hari)

Hiperkalemia. Pada keadaan dimana pasien lemah dan ileus perlu diperiksa kadar K.
Pada ECG mungkin ditemukan T rneningkat, pemanjangan PR, pelebaran QRS.
Terapi
hiperkalemia dengan kelainan ECG ialah kalsium glukonas. Nilai kebutuhan Natrium
Bikarbonas bila terjadi asidosis dan furosemid bila diperlukan tambahan diuresis.
Pelayanan Perioperatif
Semua hasil pemeriksaan dan rencana terapi harus dituliskan pada rekam medik.
Pihak keluarga diberitahukan hasil terapi dan prognosis. Rencana terapi cairan dan
kalori pasien pascabedah dan rawat intensif harus dibuat secara rinci. Persiapan
prabedah meliputi pemeriksaan:
a. fisik: keadaan umum, kesadaran, tanda vital (tekanan darah, nadi , pernafasan,
suhu dan TB-BB); kelainan pada kepala, mata, hidung, telinga dan tenggorok.
Pemeriksaan paru (auskultasi : bising napas, ronkhi), jantung (suara jantung,
gallop, murmur dsb) dan status nerologik.
b. Laboratorium: Hb-Ht, hitung lekosit, trombosit, gula darah, elektrolit, ureum -
kreatinin, fungsi hati, urin mtin, tes kehamilan (bila perlu).
Catat semua obat yang dipakai. Pemeriksaan ECG hanya atas indikasi dan pasien > 35
tahun

Klasifikasi Risiko
Pasien yang akan mengalami pembiusan dapat dibagi:
Status I Pasien dengan kondisi vital cukup sehat
Status II Pasien yang mempunyai penyakit sistemik ringan-sedang (anemia,
gemuk)
Status III Pasien dengan penyakit sistemik berat yang membatasi kegiatannya
sehari-hari (diabetes dengan kelainan vaskuler, pemah sakit jantung
koroner)
Status IV Pasien dengan penyakit sistemik yang mengancam keselamatan jiwa
pasien (insufiensi liver, gagal ginjal)
Status V Pasien dalam kondisi sakit parah, prognosis buruk (kontusio serebri,
emboli pam luas)

Antibiotik
Umumnya pasien obstetri rnempunyai risiko ringan, sehingga pada seksio hanya
dibutuhkan antibiotik dosis tunggal. Namun pada dugaan infeksi maka dianjurkan
untuk mendapat antibiotika yang sesuai dengan uji sensitivitas.

Penurunan Resistensi Vaskuler


Pasien dengan sepsis, demam, lekositosis, hipotensi normovolemik, mungkin
mengalami resistensi vaskuler yang rendah. Ia memerlukan bantuan vasopresor,
berupa : Dopamin yang dimulai dosis 2 ug/kg/menit yang diberikan dengan titrasi
sehingga tercapai MAP> 60 mmllg.

Pemasangan Kanulasi Vena Sentral


Untuk pencegahan infeksi, pemasangan kanulasi vena perifer harus diganti tiap 3 hari,
demikian juga keteter urethra. Indikasi pemasangan kanula vena sentral (CVP)
adalah:
a. vena perifer tak adekuat
b. Pemantauan tekanan vena pusat-CVP
c. Pemberian obat (flebitik): kemoterapi, Kalium
d. Pemberian cairan cepat
e. Resusitasi kardiopulmoner
f. Terapi jangka panjang (antibiotik, kemoterapi)
g. Hemodialisis
h. Hiperalimentasi
i. Pemberian obat vasoaktif.

Kontraindikasi kanulasi vena sentral ialah DIC.

Tromboemboli
Pasien bedah mayor, waktu bedah lama, dan sangat gemuk adalah risiko tinggi untuk
terjadi tromboemboli. Untuk mencegah hal itu, pasien diminta menggerakkan tangan
dan tungkai segera setelah mampu-sadar. Demikian pula mobilisasi dini, 8 jam
pascabedah pasien duduk dan berlatih jalan (seksio, dan anestesi spinal) akan
mengurangi risiko tersebut. Gejala tromboemboli dapat berupa nyeri di area lesi
hingga emboli paw (sesak, penurunan kesadaran, DIC).
Terapi Deep Venous Thrombosis ialah heparin 5000-10.000 IU intravena diikuti infus
18 lU/kg/jam, dengan target PIT 2 kali normal. Bila ditemukan emboli masif, maka
tindakannya ialah torakotomi untuk embolektomi.

Keto Asidosis Diabetik

Diabetes dalam kehamilan diperkirakan sebanyak 3-5% daei seluruh kehamilan,


sebagian kecil akan berakhir dengan ketoasidosis bila tak terkontrol. Sebaiknya semua
kehamilan diperiksa/tapis untuk kemungkinan pengendalian yang baik. Dari awal
kehamilan perlu diberikan terapi agar: gula darah puasa <105 dan postprandial 120
mg/dL. Bila gula darah < 200 mg, masih dapat diberikan metformin dan atau insulin.
Bila gula darah > 300 mg/dL maka akan terjadi dislipidemia yang berbahaya untuk
terjadi asidosis. Penyakit ketoasidosis rnerupakan kondisi gawat darurat yang
menyebabkan sekitar 50% kemalian bayi.

Patologi

Akibat rasio insulin/glukagon menurun timbul hiperglikemia dan ketosis.


Metabolisme keton menghasi ikan B-hydroxybutyrat dan asetoasetat yang
mengakibatkan asidosis, meningkatkan respirasi kompensasi. Meningkatnya tekanan
osmotik akan menimbulkan ketidak seimbangan cairan dengan kehilangan cairan dan
elektrolit. Asidosis mengakibatkan keluarnya kalium dari sel dan cadangan yang
rendah, meskipun kadarnya relatif normal. Akibat lanjut dan dehidrasi ialah hipotensi,
renjatan dan kematian. Pada pemeriksaan elektrolit terdapat kesenjangan anion Na —
(Cl +HCO3) > 12. Ini menunjukkan HCO3 (buffer) menurun.
Gejala KIinik
Lemah, mengantuk, sakit kepala, nausea, mulut kering, dehidrasi, penurunan
kesadaran, takipnea, poliuria. Kadar gula darah> 300 mg/dL dan ketonuria (+++).

Diagnosis Banding:
Dehidrasi ketosis (gula normal); koma hipoglikemia; ketoasidosis alkoholik.

Manajemen
Tujuan manajemen ialah: rehidrasi, perbaikan elektrolit, asidosis teratasi, normalisasi
kadar gula, pencegahan kematian. Pasien harus ditangani khusus — multidisiplin —
dengan pemeriksaan: tekanan darah, nadi, pernapasan, kateter urin, pemeriksaan
darah berkala.
1. Infus cairan RAJRL sebanyak 1 liter dalam 1 jam pertama, selanjutnya 500 ml
dalam 3 jam dan sesuaikan dengan kebutuhan 24 jam; kontrol asupan dan luaran
cairan tiap 6 jam
2. Insulin (RI) 0.4 lU/kg BB- bolus intravena dilanjutkan dengan drip 5 lU/jam
dalam infus. Insulin drip dikurangi menjadi 1 lU/jam bila gula mencapai 150 mg.
Setelah partus dosis insulin diberikan hanya separuh atau kurang sesuai kadar gula
darah.
3. Kontrol gula darah tiap 2-3 jam, catat. Bila gula darah tidak nienurun dalam 2 jam
maka dosis dinaikkan 25%. Bila sudah stabil setelah 24 jam, dosis insulin (RI)
dapat diberikan subkutan 3-4 kali /hari, sesuaikan dengan kebutuhan, apabila telah
menurun, benkan dosis yang lebih rendah. Bila gula darah telah mencapai K 250
mg/dl, berikan juga infus RD5.
4. Kalium diberikan bila kadar normal atau rendah, yaitu 10 mEq/ jam dan periksa
ulang tiap 4 jam. Bila terjadi oligouria, hentikan pemberian kalium.
5. Berikan antibiotik spektrum lebar.
6. Periksa laboratorium: Hb/Ht, elektrolit, gula darah, kolesterol, keton darah/urin,
kultur urin, gas darah.
7. Bila kesadaran menurun, peitirnbangkan perawatan jalan nafas. Adakalanya
terdapat komplikasi preeklampsia (lihat manajemen PEE)
8. Jangan diberikan bikarbonat pada asidosis, kecuali pH <7.10Terminasi kehamulan
hanya dilakukan bila gula darah terkendali <140 mg/dL dan atas indikasi gawat
janin.
9. Pemeriksaan khusus : ECG, USG janin.
10. Persiapkan manajemen bayi: hindari hipoglikernia, hipoterrnia, gawat nafas.
Pemeriksaan gula darah dilakukan berkala tiap 2-3 jam, dan lakukan terapi
dextrosa (2 cc/kg) bila kadar K 30 mg/dL.

Tindakan seksio hanya dilakukan atas indikasi obstetrik, pada keadaan preterm
pastikan paru janin sudah matur —setelah induksi maturitas. Pemberian tokolisis
betamimetik dan kortikosteroid dilarang pada saat manajemen ketoasidosis.
Komplikasi Berat Yang Sulit Ditanggulangi

Dalam lampiran ini diuraikan berbagai langkah untuk mengenali dan menangani
berbagai komplikasi yang mungkin terjadi. Uraian tersebut dibuat dalam bentuk yang
sederhana namun lengkap sehingga akan mudah dimengerti oleh petugas kesehatan.
Karena beberapa kondisi dapat timbul bersamaan, maka pemilihan prioritas dalam
penanganan berbagai komplikasi tersebut, akan sangat menentukan pemulihan pasien

Syok
Syok adalah suatu kondisi gawatdarurat yang memerlukan penanganan segera dan
intensif untuk menyelamatkan jiwa pasien. Syok mengakibatkan gangguan aliran
darah dan perfusi jaringan akibat kegagalan sistem sirkulasi. Terdapat berbagai
penyebab syok dan khusus pada abortus inkomplit, umumnya disebabkan oleh
perdarahan, infeksi/sepsis atau trauma.

Pasien-pasien dengan syok, harus ditangani dengan segera dan diobservasi secara
ketat karena kondisi mereka dapat memburuk secara mendadak. Tujuan utama dalam
mengatasi syok adalah stabilisasi pasien yaitu mengembalikan cairan tubuh yang
hilang dan memperbaiki sistem sirkulasi, yang terlihat dan naiknya tekanan darah dan
turunnya frekuensi nadi dan pernapasan.

Tanda-tanda Syok:
 nadi cepat dan halus (> 100 X per menit)
 menurunnya tekanan darah (diastolik < 60 mmHg)
 pernafasan cepat (respirasi > 32 X per menit)
 pucat (terutama pada konjungtiva palpebra, telapak tangan, bibir)
 berkeringat, gelisah, apatis/bingung atau pingsan/tidak sadar

Penanganan Awal
Penanganan awal sangat penting untuk menyelamatkan jiwa pasien.

Periksa tanda vital


Selimuti tubuh pasien agar hangat karena hipotermia akan memperburuk kondisi
pasien. Jangan berikan sumber panas dan luar. Miringkan kepala/tubuh pasien untuk
mencegah aspirasi muntahan. Jangan berikan sesuatu melalui mulut (dapat terjadi
aspirasi atau untuk persiapan tindakan operatif)
Bebaskan jalan nafas
Pastikan jalan nafas bebas, Bila tersedia, berikan oksigen melalui slang atau masker
dengan kecepatan 6-8 liter per menit

Tinggikan tungkai
Posisi demikian akan membantu beban kerja jantung. Bila setelah posisi tersebut
temyata pasien menjadi sesak, mungkin terjadi kegagalan jantung dan edema paru.
Pada keadaan seperti itu, turunkan lagi tungkai pada posisi datar/semula dan tinggikan
tubuh atas untuk mengurangi tekanan hidrostatik di paru-paru.

Catatan : Bila hingga langkah akhir tersebut diatas, ternyata tak tampak secara jelas perbaikan kondisi
pasien atau minimnya ketersedian pasokan cairan dan medikamentosa atau adanya gangguan fungsi
peralatan yang dibutuhkan bagi upaya pertolongan lanjutan, sebaiknya pasien dipindah ke ruang
perawatan intensif atau disiapkan untuk dirujuk ke fasilitas

Bila ternyata harus dirujuk, pastikan:


 pasien dan keluarganya mendapat penjelasan tentang apa yang terjadi
 telah dibuatkan surat rujukan
 ada petugas yang menemani dan keluarga sebagai pendonor darah

Perbaiki cairan tubuh

Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam fisiologis) 1 liter dalam 15-
20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3
jam. Pada umumnya syok hipovolernik memerlukan tiga liter cairan untuk stabilisasi
atau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jangan berikan cairan per oral.

Transfusi darah
Bila konsentrasi Rb < 6 g% atau hematokrit <20 keadaan ini menunjukkan kondisi
yang kritis (kehilangan sangat banyak butir-butir darah merah) sehingga mutlak diberi
transfusi darah agar perfusi (J)asokan oksigen) ke jaringan, pulih kembali.

Pemeriksaan laboratorium
Periksa hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit dan lekosit, trombosit, golongan
darah, uji padanan silang (crossniatch) dan bila tersedia, periksa gas dan nitrogen-urea
darah. Ukur jumlah dan produksi urine, produksi dibawah 50 ml/jam menunjukkan
hipovolemia.
Antibiotika
Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur sekret berbau,
hasil periksa apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas.
Terapi Definitif
Setelah stabilisasi pasien tercapai, sambil tetap melanjutkan penanganan tersebut
diatas dan memantau tanda vital, can penyebab syok. Karena syok hipovolemik akibat
perdarahan hebat yang disebabkan oleh kegagalan kontraksi uterus, sisa plasenta,
robekan dinding uterus atau jalan lahir maka menghentikan sumber perdarahan dan
organ-organ tersebut merupakan terapi kausatif yang defenitif.

Syok yang disebabkan oleh perdarahan hebat


Tindakan yang segera untuk mengatasi perdarahan, akan sangat menentukan kondisi
pasien. Ketenlambatan dalam menghentikan perdarahan dan mengganti cairan tubuh
(darah) yang hilang, akan menimbulkan akibat yang fatal. Bila ditemukan adanya
trauma atau penggunaan berbagai bahan yang diduga merupakan sumber infeksi
(misalnya tanah, daun-daunan, ramuan tradisional) pada perlukaan di organ genitalia
atau jalan lahir maka hal ini menunjukkan adanya usaha untuk mengakhiri kehamilan
atau persalinan secara paksa. Untuk kondisi seperti itu, mutlak diberikan antibiotika
karena upaya-upaya tersebut, umumnya tidak aman dan menggunakan instrumen atau
alat yang tidak steril. Pertimbangkan pula pemberian anti tetanus serum (ATS).

Tanda-tanda Perdarahan Hebat Pervaginam:


 perdarahan berwarna merah segar, banyak, tanpa atau dengan bekuan darah
 membasahi pakaian, pembalut atau kain/handuk
 pucat (terutama pada konjungtiva palpebra, telapak tangan atau bibir)
 pusing, gangguan kesadaran

Penanganan Awal
Periksa tanda vital
Ukur tekanan darah, nadi, pernafasan dan temperatur. Tinggikan tungkai.

Bebaskan jalan nafas


Pastikan jalan nafas dalam keadaan behas. Bila tersedia, benikan oksigen dengan
kecepatan 6-8 liter/menit

Perbaiki volume cairan tubuh


Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam fisiologis) 1 liter dalam 15-
20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3
jam. Lakukan upaya stabilisasi atau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jangan
berikan sesuatu melalui mulut.
Transfusi darah
Bila konsentrasi Hb <6 g% atau hematokrjt < 20 keadaan mi menunjukkan kondisi
yang kritis (kehilangan sangat banyak butir-butir darah merah) sehingga mutlak diberi
transfusi darah agar perfusi (pasokan oksigen) ke jaringan, pulih kembali.

Antibiotika dan serum anti tetanus


Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur sekret berbau,
hasil periksa apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila
terdapat tanda-tanda trauma alat genitalialabortus buatan, tanyakan saat terakhir
mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan
terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus.

Pemeriksaan laboratorium
Periksa hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit dan lekosit, trombosit, golongan
darah, uji padanan silang (crossmatch) dan bila tersedia, periksa gas dan nitrogen-urea
darah. Ukur jumlah dan produksi urine, produksi dibawah 50 ml/jam menunjukkan
hipovolemia.

Terapi Definitif
Apabila setelah penanganan awal, kondisi pasien stabil, cari penyebab perdarahan.
Langkah-langkah tersebut juga meliputi:
 bila tedapat tanda-tanda trauma penetrans intra-abdomen, adanya cairan bebas
di dalam rongga abdomen atau terjadi ruptura uteri (perut kembung, bising
usus melemah, nyeri ulang-lepas, muallmuntah, nyeri perut atau bahu,
demarn, teraba bagian-bagian bayi di bawah dinding perut), untuk itu
diperlukan tindakan bedah akut
 bila pada pemeriksaan inspekulo, diternukan robekan pada vagina atau
serviks, harus dilakukan penjahitan pada bagian-bagian yang robek tersebut
 lakukan penanganan untuk menghentikan perdarahan dengan mengenali
secara cepat dan tepat sumber perdarahan yang ada dan lakukan prosedur
klinik yang sesuai dengan hasil temuan atau diagnosis kerja

Penanganan Lanjutan
Setelah sumber perdarahan ditemukan, hentikan perdarahan, upayakan kondisi pasien
tetap stabil. Lakukan pemantauan lanjut tanda vital dan kemajuan pengobatan.
Perhatikan produksi urine, keseimbangan cairan dan sesuaikan pengobatan dengan
perubahan kondisi pasien.
Infeksi/Sepsis
Infeksi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus-kasus dengan
perdarahan pada kehamilan muda atau persalinan traumatik. Sisa konsepsi atau debris
merupakan media yang baik bagi pertumbuhan rnikroorganisme. Infeksi tersebut
umumnya terjadi akibat prosedur pencegahan infeksi tidak dilakukan secara benar.
Infeksi lokal perivik akan cepat berkembang menjadi infeksi sistemik (sepsis) bila
tidak ditangani dengan segera dan memadai. Stabilisasi dan pengobatan sumber
infeksi, sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.

Berikut ini tanda-tanda atau gejala infeksi lokal atau sistemik:

Tanda-tanda
 demam (temperatur> 3 8°C), menggigil atau berkeringat
 sekret perváginam yang berbau/keluar cairan mukopurulen melalui ostium
serviks
 tegang/kaku dinding perut bawah (dengan atau tanpa nyeri ulang-lepas)
 nyeri goyang serviks (pada pemeriksaan bimanual)

Gejala
 riwayat pengakhiran kehamilan secara paksa atau persalinan traumatik
 nyeri perut bawah
 perdarahan pervaginam yang lama (> 8 hari)
 kelemahan umum (gejala seperti flu)

Pada kasus infeksi, nilai keinungkinan sepsis/syok septik dengan melihat:


 usia kehamilan
 penyebab perdarahan
 adanya trauma atau manipulasi yang berlebihan
 demam tinggi (>40°C) atau dibawah normal (<36,5°C)
 adanya trauma intraabdomen ataü syok

Infeksi lokal
Infeksi lokal umumnya dapat diatasi dengan pemberian antibiotika (IV atau IM) yang
efektif terhadap kuman gram positif, gram negatif, anerobik dan kiamidia. Bila terjadi
infeksi sistemik atau bila berisiko tinggi untuk terjadi syok septik, berikan pengobatan
yang tepat dan sesegera mungkin.
Penanganan Awal
Periksa tanda vital
Ukur tekanan darah, nadi, pernafasan dan temperatur. Tinggikan tungkai.

Bebaskan jalan nafas


Pastikan jalan nafas dalam keadaan bebas. Bila tersedia, berikan oksigen dengan
kecepatan 6-8 liter/menit

Perbaiki volume cairan tubuh


Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam fisiologis) I liter dalam 1 5-
20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3
jam. Pada umumnya syok hipovolemik memerlukan tiga liter cairan untuk stabilisasi
alau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jangan berikan cairan per oral.

Antibiotika dan serum anti tetanus


Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur sekret berbau,
hasil periksa apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila
terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia/abortus buatan, tanyakan saat terakhir
mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan
terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus.

Pemeriksaan laboratorium
Periksa hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit dan lekosit, trombosit, golongan
darah, uji padanan silang (crossrnatch) dan bila tersedia, periksa gas dan nitrogen-urea
darah. Ukurjurnlah dan produksi urine, produksi dibawab 50 ml/jam menunjukkan
hipovolemia.

Pemeriksaan Rontgent (foto radiologi abdomen)


Foto radiologi Anteroposterior (AP) abdomen dapat menunjukkan adanya udara atau
bayangan cairan dalam usus. Pada infeksi klostridium, dapat terlihat gambaran gas
didalam jaringan. Pada pemeriksaan mi, dapat terlihat kerangka bayi (kasus ruptura
uteri). Pada posisi duduk, dapat terlihat udara dibawah diafragma apabila terjadi
perforasi uterus atau usus.

Terapi Definitif
Pengobatan segera pada sepsis akan menyelamatkan pasien dan kondisi yang lebih
buruk lagi. Sisa konsepsi merupakan sumber infeksi. sehingga setelah kondisi pasien
stabil, harus dilakukan evakuasi. Trauma intraabdomen, abses pelvik dan peritonitis,
merupakan indikasi untuk melakukan tindakan laparotomi (operatif). Perhatian
khusus sangat diperlukan dalam menangani kasus-kasus infeksi dengan gas gangren
dan/atau tetanus. Bila ada sumber infeksi lain, lakukan tindakan pengobatan yang
sesuai.
Penanganan Lanjutan
Setelah penyebab infeksi ditangani dan antibiotika diberikan, lanjutkan pengamatan
tanda vital dan keseluruhan kondisi pasien. Perhatikan keseimbangan cairan dan
produksi urine. Sesuaikan pengobatan yang diberikan dengan perubahan kondisi
pasien (oksigen, obat vasoaktif, antibiotika, cairan dan sebagainya).

Syok Septik
Riwayat
 perdarahan yang lama ( lebih dan 7 han)
 upaya pengakhiran kehamilan atau persalinan secara paksa
 riwayat trauma atau rnanipulasi berlebihan pada organ genitalia atau jalan
lahir
 demam atau gejala seperti influenza
 nyeri perut bawah, spasme

Periksa tanda vital


 pucat (konjungtiva palpebra, telapak tangan, bibir)
 sianosis (ekstremitas, muka, dada)
 tekanan darah turun (<90/60 mmHg, <60 mmHg atau tidak terdeteksi)
 nadi cepat dan halus (> 120 x/mnt) atau filiformis
 pernafasan cepat (> 40 x/mnt), dalam atau dangkal, tidak teratur)
 demam tinggi atau dingin sekali
 gelisah, setengah atau tidak sadar
 produksi urine (kurang dan 30 ml/jam)

Tanda-tanda fisik
 sekret atau lokhia berbau
 nyeri perut bawah
 mukopus dan serviks atau kavum uteri
 nyeri goyang porsio atau nyeri tekan abdomen
 nyeri adneksa atau adanya fluktuasi cairan

Trauma abdominal
 perut kembung
 bising usus melemah
 nyeri epigastrik atau bahu
 perut tegang atau tanda peritonitis
 nyeri lepas ulang
Karena riwayat trauma, manipulasi atau upaya pemaksaan sangat membantu dalam
menegakkan diagnosis infeksi dan sepsis, gunakanlah pendekatan empati dalam
menggali atau menanyakan ada-tidaknya berbagai upaya tersebut diatas. Syok septik
umumnya diakibatkan oleh endotoksin atau bahan toksik mikroorganisme.

Syok Septik atau Syok Endotoksin

Penanganan Awal
 bebaskan jalan nafas
 beri oksigen dengan kecepatan 6-8 liter/menit
 beri cairan NaCI isotonik atau Ringer Laktat melalui infus 1000 ml dalam 20
menit pertama, kemudjan 500 ml dalam 20 menit kedua. Pemberian lanjutan
dapat diberikan dengan kecepatan 40 tetes/menit (tergantung derajat syok dan
hasil restorasi awal). Umumnya diperlukan cairan 1 500-3000 ml untuk
stabilisasi.
 jangan berikan sesuatu melalui mulut (per oral)
 Hb dibawah 8 g% atau hematokrit dibawah 20%, memerlukan transfusi darah
 bila, setelah restorasi cairan dalam jumlah yang memadai, masih belum terjadi
perbaikan tanda vital, tambahkan obat vasoaktif(dopamin) dengan dosis awal
2,5 mikrogram (u gram) per kg/BB (dalam larutan garam isotonik). Naikkan
perlahan-lahan dosis tersebut hingga mendapatkan efek yang optimal (dosis
maksimal 15-20 ugram/menit). Pertahankan pada dosis yang rnenunjukkan
adanya perbaikan tanda vital. Hentikan dopamin apabila tanda vital mencapai
nilai normal dan produksi urine dalam batas normal.
 Antibiotika
Kombinasi 3 golongan (Triple drugs)
…Ampisilin 1 gram/8 jam, Gentamisin 80 mg/8 jam dan Klindamisin 600 mg
setiap 8 jam.
Atau:
…Sefalosporin 1 gram, Gentamisin 80 mg dan Metronidazol 1 gram setiap 8
jam
 Alternatif
….Prokain penisilin 4,8 juta unit dan Kloramfenikol 500 mg setiap 6 jam
Atau:
….PP 4,8 juta unit, Gentamisin 80 mg, Metronidazol 500 mg setiap 6 jam
Trauma Intraabdomen

Trauma intraabdomen merupakan komplikasi yang sangat serius dan fatal. Perforasi
atau ruptura uteri merupakan penyebab utama dan komplikasi tersebut. Lanjutan
trauma dapat juga mengenai parametrium, ovarium, tuba falopii, omentum, usus,
kandung kemih dan rektum. Hal mi menunjukkan adanya upaya pengakhiran
kehamilan dengan kekerasan dan risiko infeksi, termasuk tetanus dan peritonitis,
sangat tinggi.

Trauma ini kadang-kadang sulit untuk segera dikenali dan menyebabkan komplikasi
serius seperti perdarahan, infeksi atau bahkan kematian. Perdarahan hebat dapat
masuk ke dalam kavum abdomen dan tidak timbul perdarahan pervaginam. Keadaan-
keadaan seperti mi, perlu diwaspai pada pasien-pasien abortus inkomplit. Pantau ketat
tanda vital karena syok dapat terjadi setiap saat. Kehamilan ektopik yang terganggu
atau ruptura kista ovarii, dapat juga menyebabkan perdarahan intraabdomen yang
gejalanya mirip dengan trauma intraabdomen. Adanya hamil ektopik, dapat dinilai
dan riwayat:
 hamil ektopik sebelumnya
 infeksi panggul
 penggunaan alat kontrasepsi tertentu sepeti AKDR atau kontrasepsi hormon
tunggal-progestin (angka kej adian 20-30%)

Bila memang suatu kehamilan ektopik, segera lakukan laparotomi untuk


menghentikan perdarahan dan lakukan transfusi untuk mengganti darah yang hilang.

Tanda-tanda dan gejala trauma intraabdomen


Tanda-tanda
 perut kembung
 bising usus melemah
 dinding perut kaku dan tegang
 nyeri lepas-ulang (rebound tenderness)

Gejala
 mual atau muntah
 nyeri bahu
 demam (temperatur> 3 8°C)
 nyeri abdomen, spasme atau kram perut bawah

Bila tanda-tanda dan gejala tersebut diatas disertal dengan syok, pikirkan adanya
kemungkinan perdarahan intraabdomen yang hebat.
Penanganan Awal
Karena trauma intraabdomen merupakan komplikasi yang sangat fatal, pengenalan
dan penanganan segera dan tepat, akan menyelamatkan pasien dan kematian. Karena
sebagian besar kasus ini harus diselesaikan dengan tindakan operatif maka setelah
melakukan upaya stabilisasi, rujuk pasien ke rumah sakit rujukan.

Periksa tanda vital


Ukur tekanan darah, nadi, pernafasan dan temperatur. Tinggikan tungkai.

Bebaskan jalan nafas


Pastikan jalan nafas dalam keadaan bebas. BiLa terse-dia, berikan oksigen dengan
kecepatan 6-8 liter/menit

Perbaiki volume cairan tubuh


Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam fisiologis) 1 liter dalam 15-
20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3
jam. Pada umumnya syok hipovolemik memerlukan tiga liter cairan untuk stabilisasi
atau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jangan berikan cairan per oral.

Antibiotika dan serum anti tetanus


Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur sekret berbau,
hasil periksa apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila
terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia/abortus buatan, tanyakan saat terakhir
mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan
terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus.

Pemeriksaan laboratorium
Periksa hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit dan lekosit, trombosit, golongan
darah, uji padanan silang (crossmatch) dan bila tersedia, periksa gas dan nitrogen-urea
darah. Ukurjumlah dan produksi urine, produksi dibawah 50 mI/jam menunjukkan
hipovolemia.

Terapi Definitif
Beberapa kondisi dibawah ini, merupakan kegawat-daruratan bedah yang
memerlukan tindakan laparo-tomi:
 dinding abdomen tegang
 nyeri abdomen akut dan tekanan darah tetap rendah walaupun telah dilakukan
upaya stabilisasi pasien (setelah pemberian 3 liter cairan infus)
 adanya udara atau gas didalam kavum peritoneum
Laparotomi memungkinkan dokter untuk mengetahui sumber trauma atau
perdarahan dan melakukan perbaikan langsung dengan segera. Komplikasi tersebut
dapat berupa peritonitis, perforasi uterus, trauma usus, trauma organ intraabdomen,
ruptura organ tempat terjadinya kehamilan ektopik. Pada beberapa kasus, mungkin
akan dilakukan pengangkatan organ yang mengalami trauma (uterus, usus dan
sebagainya).

Bila trauma intraabdomen sudah teratasi atau bila ada dugaan trauma intraabdomen
tetapi kondisi pasien tetap stabil, tidak ditemukan gambaran gas atau udara dan hasil
pemeriksaan radiologi, dinding abdomen lemas dan tidak ada tanda-tanda kehamilan
ektopik maka lakukari evakuasi sisa konsepsi, eradikasi debris, drainase abses,
embriotomi atau mengeluarkan bayi dan roigga abdomen.

Penanganan Lanjutan
Setelah trauma abdomen diatasi, antibiotika diberikan dan pengosongan sisa konsepsi,
lanjutkan pengamatan tanda vital dan keseluruhan kondisi pasien, nilai keseimbangan
cairan dan produksi urine dan berikan terapi suportif seperti oksigen, obat vasoaktif,
antibiotika, terapi cairan dan sebagainya (sesuaikan dengan perubahan kondisi
pasien).

Resusitasi
Tindakan resusitasi merupakan upaya untuk memulihkan kesadaran pada penderita
yang secara klinis, mendadak atau barn mengalami kehilangan tanda-tanda kehidupan
atau restorasi fase awal kegagalan fungsi vital, baik siatem pengaturan fungsi vital
tunggal niaupun majernuk. Upaya mi meliputi perangsangan sistem=sistem vital agar
dapat berfiingsi kembali atau penggunaan sistem artifisial untuk mempertahankan
kehidupan.

Resusitasi Kardio-Pulmoner
Resusitasi Kardio-Pulmoner (Cardio-Pulmonaiy Resuscitation-CTR) merupakan
tindakan substitusi atau artifisial terhadap sistem pernafasan dan pompa jantung pada
penderita-penderita yang mengalami henti jantung atau penghentian sistem vital
secara mendadak (suden death) sebagai akibat dan depresi vaso-vagal, syok berat,
sengatan listrik, kegagalan respirasi ataupun oleh berbagai sebab lainiiya. Dua
komponen penting dalam upaya resusitasi kardio-pilmoner adalah melalcukan
ventilasi artifisial atau pernafasan buatan dan pijatjantung secara ekstemal

Menangani Klien yang mengalami Gangguan Kesadaran


Gangguan kesadaran dapat terjadi pada 2 kondisi, yaitu:
1. Gangguan kesadaran dengan fungsi vital yang masih baik
2. Gangguan kesadaran yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi
vital
Kondisi pertama, dapat disebabkan oleh pengaruh supresif dan obat-obatan atau
substansi aktif yang mempunyai efek terhadap sistem kesadaran (misalnya: sedatifa
dan hipnotika, narkose atau narkotika). Kondisi kedua, umumnya disebabkan oleh
komplikasi berbagai penyakit, pengaruh langsung suatu penyulit atau
kegawatdaruratan medik. Kedua kondisi ini harus segera dikenali oleh petugas
kesehatan pada saat melakukan penilaian awal terhadap keadaan umurn klien atau
survey primer kesadaran penderita karena masing-masing kondisi rnempunyai
berbagai risiko terhadap keselamatan penderita dan memerlukan penanganan yang
tepat, dalam waktu yang sangat singkat.

Prosedur umum dalam menangani klien yang tidak sadar, dimulai dengan melakukan
evaluasi singkat tentang stat us kesadaran, kemampuan berkomunikasi, orientasi
lingkungan, reaksi balik terhadap rangsangan dan riwayat (auto atau allo-anamnesis)
gangguan kesadaran. Kemudian, lanjutkan dengan pemeriksaan pernafasan, denyut
nadi, tekanan darah, temperatur dan tanda-tanda vital lainnya. Para petugas kesehatan
harus memahami batasan terminasi kehidupan atau kematian karena apabila telah
terjadi kematian, maka upaya resusitasi akan menjadi sia-sia jika terus dilakukan.
Sebaliknya, kesalahan dalam determinasi kematian, dapat mengakibatkan klien
kehilangan kesempatan untuk hidup karena upaya resusitasi tidak dilakukan.

Fase-Fase Resusitasi Kardio-Pulmoner


Fase dalam resusitasi adalah:
1. Dukungan Awal terhadap Airway (Bebaskan jalan nafas)
Fungsi Vital (Basic Life Breathing (Pulihkan pernafasan / ventilasi
Support) buatan)
Circulation (Perbaiki sirkulasi)

2. Dukungan Lanjut terhadap Drugs and Fluid (Medikamentosa dan cairan)


Fungsi Vital (Advanced Life- Electrocardiography (Pemeriksaan Jantung)
support) Fibrilation (Atasi gangguan alur impuls jantung)

3. Mempertahankan Fungsi Vital Gauging (Penilaian dan terapi larjutan)


(Prolonged Life-support) Human Men tation (Pemeliharaan fungsi normal)
Intensive Care (Perawatan Intensif)

Fase pertama disebut basic life-support karena berbagai upaya dalam langkah-langkah
tersebut diatas bertujuan untuk mempertahankan atau memulihkan pernafasan dan
sirkulasi yang diperlukan dalam kelangsungan suatu kehidupan. Kegagalan dalam
fase ini dapat dengan segera menyebabkan tejadinya kematian.
Bebaskan jalan nafas
Dalam kondisi asfiksia, jaminan terhadap bebasnya jalan nafas, akan sangat
menentukan pertukaran udara melalui inspirasi dan ekspirasi. Dengan kata lain,
pasokan oksigen (yang diperlukan dalam metabolisme sel) menjadi lancar dan
penimbunan karbon dioksida dapat dihilangkan. Terhambatnya aliran udara melalui
jalan nafas, dapat disebabkan oleh adanya material penyumbat (mukus, darah, sekiet)
atau jatuhnya lidah ke orofaring sebagai akibat lanjut dan menurunnya tonus otot-otot
lidah. Pengeluaran material penyumbat tidak dapat dilakukan secara spontan karena
refleks ekspulsif normal (batuk) menjadi terganggu. Apabila tidak dilakukan upaya
pembersihan maka akan terjadi blokade aliran udara melalui jalan nafas.

Bila lidah terjatuh ke orofaring, maka lakukan serangkaian perasat mi:


1. Posisikan kepala dalam keadaan hiperekstensi
2. Sambil mempertahankan posisi tensebut diatas, angkat dagu penderita
3. Bukakan mulut yang sedang terkatup

Bila perasat tersebut berhasil, maka suara mengorok (akibat jatuhnya lidah dan
adanya lendir) akan hilang dan terasa adanya aliran udara melalui jalan nafas atau
mulut. Apabila memang terdapat material penyurnhat, maka bersihkan jalan nafas dan
miningkan posisi kepala ke arah lateral sehingga eksudat lanjutan atau sisa sekret,
dapat mengalir keluar dengan gaya gravitasi. Untuk mempertahankan terbukanya
jalan nafas, gunakan pipa endotrakeal atau Goedel.

Jangan lakukan tindakan heperekstensi kepala pada pasien yang mengalami trauma atau memiliki
kelainan (misalnya: hernia nuclesus pulposus) pada leher karena dapat memperburuk atau
membahayakan keselamatan jiwa mereka

Memulihkan pernafasan
Pada kebanyakan kasus dimana pasien kehilangan kesadaran, fungsi pernafasan juga
akan mengalami gangguan, bahkan dapat terhenti sama sekali. Makin lama terjadinya
asfiksia, akan semakin meinperberat hipoksia. Untuk memulihkan kembali terjadinya
pertukaran udara, maka segera lakukan pernafasan buatan.

Jenis-jenis pernafasan buatan


 Pernafasan mulu ke mulut (secara tak langsung, gunakan peralatan
penghantar)
 Pernafasan mulut ke sungkup hidung-mulut
 Pernafasan dengan balon resusitasi (manual)
 Pernafasan dengan mesin pernafasan (otomatik)
Frekuensi nafas buatan:
 2 pernafasan diantara 16 kali kompresi jantung (penolong tunggal)
 1 pernafasan dianatar 5 kali kompresi jantung (dua tenaga penolong)

Upayakan pernafasan menjadi 10-14 kali per menit dan frekuensi kompresi 60-100
kali per menit karena frekuensi mi merupakan frekuensi fisiologis sistem kardio-
pulmoner.

Memperbaiki sirkulasi
Gangguan sirkulasi akan menyebabkan gangguan hantaran oksigen ke pusat-pusat
pengaturan berbagai sistem organ vital di susunan syaraf pusat. Bila keadaan mi terus
berlanjut maka kesadaran akan semakin turun dan depresi. sentral sistem vital akan
semakin berat. Kegagalan hantaran pasokan oksigen ke susunan syaraf pusat akan
dikenali melalui auskultasi (penurunan atau terhentinya denyut jantung) dan palpasi
(melemahnya atau hilangnya pulsasi nadi).

Untuk membuat pasokari buatan melalui sistern sirkulasi, lakukan kompresi jantung
pada area sepertiga bawah sternum (secara tegak lurus, vertikal terhadap dinding
dada, menggunakan telapak tangan penolong yang saling ditindihkan) dengan
frekuensi 60- 100 kali per menit.

Pantau hasil kompresi jantung dengan:


 Gerakan naik-turun dinding dada pada pemberian nafas buatan (tidak
terdengar kebocoran udara yang masuk)
 Teraba denyut pembuluh karotis bersamaan dengan kompresi jantung
 Adanya gelombang QRS (bila EKG terpasang)

Jangan khawatir akan terjadi fraktura sternum pada saat melakukan kompresi jantung.
Yang paling penting adalah memantau pulsasi karotis pada saat melakukan kompresi
karena keragu-raguan dalam melakukan kompresi dapat menggagalkan pasokan
oksigen ke susunan syaraf pusat sehingga pasien tidak tertolong. Sebaliknya, pasokan
oksigen akan dapat diterukan melalui kompresi jantung, walaupun terjadi fraktur
sternum atau tulang iga. Komplikasi berat akibat fraktur tulang iga adalah
pneumotoraks tetapi hal mi dapat dikoreksi setelah pasien diselamatkan (pasien tetap
dapat hidup, dibandingkan dengan kompresi yang tidak adekuat dan menyebabkan
kematian pasien).

Penilaian Awal Resusitasi Kardio-Pulmoner


Penilaian sebaiknya dilakukan setiap menit. Penilaian awal dilakukan setelah upaya
fase pertama (basic life-support) dilakukan secara lengkap. Kemungkinan hasil
resusitasi awal (ABC) ini adalah:
 Ekstrim positif, yaitu pasien sadar dan dapat mempertahankan fungsi vital atau
ekstrim negatif, yaitu pasien dinyatakan meninggal
 Hasil antara, yaitu pasien belum sadar tetapi belum dinyatakan meninggal.
Bila belum sadar dan ada reaksi spontan (kardiopulmoner) maka lanjutkan
dengan upaya fase ketiga (GHI). Apabila belum sadar dan belum ada reaksi
spontan, maka lanjutkan dengan upaya fase kedua (DEF)

Medikamentosa dan cairan


Pastikan alur untuk pemberian medikamentosa dan cairan melalui pembuluh darah
(intravena) telah terpasang. Medikamentosa yang diberikan terdiri dan:
 Adrenalin 0,5-1,0 mg (untuk dewasa) atau 10 pg/kgBB (untuk neonatus)
secara intravena. Setelah pemberian, lakukan bilasan pada alur intravena untuk
mencegah akurnulasi obat pada perivena.
 Adrenalin dapat pula diberikan intratrakeal (konsentrasi 1% diencerkan hingga
10 kali) dan kemudian disemprotkan secara intratrakeal.
 Ulangi pemberian adrenalin setaip 3-5 menu hingga terjadi denyut jantung
spontan atau sebaliknya, apabila tidak terpantau adanya denyutjantung setelab
30 menu, yang dihitung sejak inisiasi pemberian adrenalin

Melihat kondisi dan reaksi pasien, direkomendasikan untuk membenkan adrenalin dengan dosis
sebagai berikut
 dosis umum 1 mg intravena setiap 3-5 menit
 dosis menengah 2-6 mg rntravena setiap 3-5 menit
 dosis eskalatif 1 mg-3 mg- 5 mg intravena setiap 3 menit
 dosis tinggi: 0,1mg/kgBB intravena setiap 3-6 menit

 Berikan natrium bikarbonat 1 mEq/kgBB (intravena), yang diulang setiap 10


menit (tiap 2 menit apabila terjadi henti jantung) dengan dosis 0,5 mEq/kgBB
untuk koreksi asidosis metabolik. Bila dapat dilakukan analisis gas darah,
lakukan koreksi asidosis dengan formula 1/6 X defisit basa X berat badan.

Elektro kardiografi
Gambaran EKG (ECG) yang memerlukan intervensi:
 Asistole
 takikardia ventrikel
 fibrilasi ventrikel
 disosiasi elektrornekanik
Asistole
 ulangi langkah medikamentosa (D)
 tambahkan kalsium glukonas 10% 1000 mg dan kalsium kiorida (CaCI2) 10%
500 mg untuk pasien dengan berat badan rata-rata 60-70 k
 ulangi tiap 1 menit
 pertimbangkan vasopresor

Sulfas Atropin:
 dosis 1 mg intravena untuk asistole
 dosis 0,5 mg untuk sinus bradikardia
 ulangi setiap 5 menit (dosis maksimal adalah 2 mg)

Takikardia/fibrilasi ventrikel
 gunakan defibrilator
 elektrode pertarna di puting susu kin dan elektrode kedua di kanan sternum
atas
 arus listrik scarab (DC)
 muatan 200-360 J (dewasa), 100-200 J (anak), 50-100 J (bayi)
 ulangi bila perlu dan lanjutkan dengan kompresi janti.ing
 lignoc.aine 1-2 mg/kgBB intravena (bolus), lanjutkan 1-4 mg/rnenit melalui
infus (drip)

Penghentian Tindakan Resusitasi Kardio-Pulmoner


Tindakan resusitasi dihentikan apabila:
 Terjadi pernafasan dan denyutjantung secara spontan
 Setalah mencapai tempat rujukan (bila ditujuk)
 Setelah 30-60 menit tindakan resusitasi dilakukan dan respons tubuh penderita
tidak menunjukkan adanya perbaikan (refleks pupil negatif)
 Penolong sudah letih dan berbagai iipaya tidak rnernbuahkan hasil
 Pasien dinyatakan meninggal

Rujukan
Hall JB, Schmidt GA, Wood LDA. Principles of Critical Care. Singapore: McGraw
Hill, 1993.
Shaw HA, Shaw JA. Perioperative management of the female patient. eMedicine.
2006.