Anda di halaman 1dari 6

Konsep Intervensi DWH

[ Judul intervensi ]
contoh: Pengembangan DWH di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat /
Pengembangan DWH di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat

Daftar isi
1. Latar Belakang (background)
2. Peluang dan Permasalahan Pengembangan (Opportunities and constraints)
3. Mitra/Partner dan Penerima Manfaat Intervensi (Intervention partner/s and beneficiaries)
4. Ringkasan Intervensi (Brief description of intervention)
5. Hasil-hasil yang Diharapkan (Expected outcomes)
6. Kegiatan dan jadual implementasi (Activities and schedule of implementation)

Untuk panduan penulisan materi tiap-tiap bab, berikut penjelasannya:


(jangan lupa untuk selalu menyebutkan sumber data/informasi penting yang dikutip untuk konsep
dokumen ini, dan cantumkan sebagai footnote).

1. Latar belakang
Gunakan materi dibawah ini untuk semua DWH.
Update data kunjungan bias dilakukan jika data tersedia.
Sektor pariwisata diperkirakan oleh banyak pihak akan menjadi sektor potensial di masa depan. selain
karena prospek pertumbuhannya, juga dampak pengganda yang ditimbulkan dari sektor ini relatif cukup
besar dan luas. Secara global, pariwisata menyumbang 9% terhadap global GDP (sekitar US$ 6 trilyun)
dan menyediakan pekerjaan langsung untuk 120 juta orang dan 125 juta pekerjaan tidak langsung
dalam sektor ini 1 . Kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia akan meningkat 3,3%
sepanjang tahun 2010 hingga 2030, hingga mencapai 1,8 Milyar di tahun 20302. Indonesia merupakan
salah satu negara yang sektor pariwisatanya mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Pada tahun
2014, kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional sebesar 4,01%, devisa yang dihasilkan mencapai
US$ 11,17, dan tenaga kerja pariwisata sebanyak 10,32 juta orang, sedangkan kondisi mikro jumlah
wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 9,44 juta wisman dan wisatawan nusantara (wisnus)
sebanyak 251,20 juta perjalanan. Untuk daya saing, pariwisata Indonesia menurut WEF (World
Economic Forum) berada di ranking 70 dunia.3
Provinsi NTB, khususnya Lombok merupakan salah satu destinasi yang sedang berkembang.
Kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara ke NTB meningkat dari tahun ke
tahun. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat menyebutkan jumlah wisatawan yang
berkunjung ke Lombok dan Sumbawa pada tahun 2014 mencapai 1,6 juta orang. Jika di tahun 2013
kunjungan mencapai 1.357.602, maka di tahun 2014 jumlah kunjungan wisatawan 1.629.122 orang,
dengan perincian 752.306 wisman dan 876.816 orang wisnus. 4 Peningkatan kunjungan wisatawan
mancanegara (wisman) ke Lombok pada tahun 2010 – 2014 tercatat sebesar 304.% per tahun. 5
Perkembangan kunjungan wisatawan telah mendorong pertumbuhan industri perhotelan di pulau ini.

1
WTTC, 2013
2
UNWTO, Tourism Towards 2030
3
Laporan Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2014
4
Dikutip dari pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Muhammad Nasir, di Mataram, Jumat (9/1/2015) yang dimuat di
http://travel.kompas.com, Minggu, 11 Januari 2015. Angka kunjungan diperoleh dari pintu masuk ke daerah itu, seperti laporan hotel, asosiasi,
dan kabupaten/kota. Termasuk, pintu masuk lain seperti Pelabuhan Lembar, Bandara Internasional Lombok (BIL), Kawasan 3 Gili, Pelabuhan
Badas, Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III, Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin, Pelabuhan Bima dan Sape.
5
!Wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Lombok (BIL), Data Kemenpar 2015. Pada tahun 2010 wisman yang
masuk melalui BIL tercatat sebesar 17.288 orang, dan pada tahun 2014 sebanyak 69.881 orang.
Pertumbuhan jumlah hotel ini tidak saja berdampak pada penyerapan tenaga kerja, namun juga
memunculkan permintaan terhadap pasokan kebutuhan hotel (makanan, minuman, perlengkapan dan
lainnya).

2. Peluang dan permasalahan pengembangan


• Uraikan secara singkat peluang yang dimiliki oleh desa pilot project untuk dikembangkan
sebagai DWH. Peluang mencakup didalamnya peluang pasar wisatawan/pembeli/buyer dan
potensi yang dimiliki oleh desa untuk ditawarkan kepada pihak luar.
• Uraikan secara singkat permasalahan mendasar (core problem) yang dihadapi oleh desa,
yang selama ini menghambat terciptanya manfaat ekonomi bagi masyarakat desa, sosial dan
lingkungan desa. Perlu diingat, tuliskan hanya yang merupakan permasalahan mendasar saja
(core problem).

Contoh:
Kota Mataram merupakan salah satu homebase bagi kunjungan wisatawan ke Pulau Lombok. Pada
tahun 2010 jumlah hotel (bintang dan non bintang) di Kota Mataram tercatat sebanyak 72 dengan
jumlah kamar mencapai 1.749 kamar. Pada tahun 2015 jumlahnya sudah mencapai 116 (tumbuh 61%
dari tahun 2010) dengan jumlah kamar tercatat sebanyak 4.000 an kamar (tumbuh 129% dari tahun
2010). Dengan jumlah hotel dan kamar hotel yang cukup besar akan membutuhkan pasokan yang
besar pula, baik berupa bahan baku makanan, minuman, buah-buahan, sayuran, bunga potong,
kerajinan, dan sebagainya. Sampai saat ini keterkaitan antara petani dan para pelaku usaha mikro di
Lombok dengan hotel di Kota Mataram masih sangat kecil.
Sebagian besar kebutuhan hotel di Kota Mataram masih dipenuhi dari para pemasok besar yang
mendatangkan produknya dari daerah-daerah di Lombok maupun luar Lombok. Hal ini disebabkan
karena:
- para petani dan pelaku usaha mikro di Lombok belum memiliki akses kepada hotel-hotel di
Kota Mataram;
- para petani dan pelaku usaha mikro di Lombok belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan
untuk memenuhi kritera yang diajukan oleh hotel, yaitu terkait dengan kontinuitas pasokan,
sistem pembayaran, spesifikasi produk, dan sertifikasi halal/kelayakan produk (khusus untuk
produk makanan dan minuman).

3. Mitra/ Partner dan Penerima Manfaat Intervensi


• Sebutkan mitra/partner yang diajak bekerjasama untuk intervensi pengembangan DWH, dan
uraikan sedikit mengenai profil mitra tersebut.
• Sebutkan penerima manfaat intervensi ini, baik penerima manfaat langsung maupun tak
langsung.

Contoh:
Mitra intervensi adalah Hotel Santika Mataram, salah satu hotel bintang tiga di Kota Mataram. Hotel
ini berdiri tahun 2012 dengan jumlah kamar sebanyak 123 unit, dan mempekerjakan sebanyak 132
karyawan (termasuk tenaga outsource). Occupancy rate hotel ini tergolong tinggi, yaitu rata-rata
mencapai 70-80%. Hotel ini menjadi salah satu pilihan wisatawan yang berkunjung ke Lombok, baik
untuk keperluan wisata maupun bisnis/meeting. Hotel ini juga dilengkapi 7 ruang pertemuan yang
sering digunakan untuk menggelar berbagai event meeting/konvensi.
Penerima manfaat langsung adalah: Koperasi Sugih Enggar, salah satu koperasi yang ada di Desa
Sesaot, Kabupaten Lombok Barat. Koperasi ini merupakan koperasi tani HKm (Hutan Kemasyarakatan)
yang dihajatkan untuk dapat menampung hasil produk HKm dalam rangka meningkatkan posisi tawar
petani HKm dalam menentukan harga jual produk.6
Penerima manfaat tidak langsung adalah: 5000-an orang petani buah7 dan 10 pemilik homestay di
Desa Sesaot.

4. Ringkasan Intervensi
Uraikan secara ringkas apa yang akan dilakukan oleh SREGIP bersama dengan mitra untuk mengatasi
masalah mendasar (core problem) yang dihadapi oleh desa pilot project, dan bagaimana peran masing-
masing pihak.
Jika ada, sertakan skema bisnis model yang disepakati bersama mitra/partner, dan uraikan secara
ringkas skema bisnis model tersebut.

Contoh:
Intervensi ini akan mendukung mitra swasta, yaitu Hotel Santika Mataram untuk menyediakan akses
kepada petani dan pelaku usaha kecil di Lombok dan memberikan jasa berupa pengetahuan dan
ketrampilan tentang manajemen pemasokan, standar kualitas, pembukuan sederhana, kontrak bisnis,
dan manajemen pengelolaan homestay kepada koperasi/kelompok usaha/champion yang ada di desa-
desa di Lombok, agar kedepan para petani/pelaku usaha mikro dan kecil di desa mampu memasok
kebutuhan hotel secara berkelanjutan. Program SREGIP akan membantu Hotel Santika Mataram dalam
penyediaan data desa-desa potensial, sharing pendanaan untuk kegiatan penguatan kapasitas
koperasi/kelompok usaha dan diseminasi kegiatan.

Diagram Model Bisnis “Menciptakan keterkaitan bisnis antara petani/perusahaan mikro dengan industri
perhotelan di Kota Mataram, NTB”

Mayoritas penduduk di Desa Sesaot adalah petani, yang mengandalkan hidupnya dari berjualan hasil
panen buah-buahan yang melimpah di desanya. Buah-buahan dari desa ini dipanen secara musiman,
yang dipanen dari tanaman buah di lahan pekarangan meraka maupun dari hutan, seperti durian,
rambutan, pisang, duku, mangga dan lengkeng. Selama ini hasil panen dijual ke tengkulak (penebas)
yang datang dari daerah-daerah disekitarnya. Buah-buahan tersebut selanjutnya dijual oleh para
tengkulak (penebas) ke pedagang ritel di desa sekitar, bahkan sampai ke Kota Mataram. Nilai tambah
yang diperoleh para petani tidak begitu besar karena para tengkulak (penebas) yang menentukan
harga.
Manajemen Hotel Santika memiliki kepedulian kuat untuk ikut memberdayakan produk-produk lokal,
yang diwujudkan melalui keterbukaannya untuk menerima pasokan dari para pelaku usaha/petani kecil
di Lombok. Disamping itu, melalui program kepedulian sosialnya, Hotel Santika Mataram juga merintis
kerjasama pengembangan homestay dengan Pemerintah Desa Sesaot. Kepedulian ini bukan semata-
mata bersifat charity, namun juga untuk mendapatkan pasokan yang berkelanjutan bagi kebutuhan
hotel dari para produsen/pelaku usaha local.
6
Laporan Penelitian Pengembangan Wadah Belajar Pengelolaan Hutan Masyarakat (WB-PHBM), Kemitraan – Partnership, 2013
7!Penduduk Desa Sesaot pada tahun 2015 sebanyak 6.421 orang (BPS Kab. Lombok Barat), 80% dari penduduk berprofesi sebagai petani.
Dengan asumsi bahwa penduduk yang berprofesi sebagai petani adalah petani buah atau mendapatkan hasil dari produksi tanaman buah-
buahan, maka jumlah petani buah adalah 5,136 orang.
Model bisnis ini akan menghubungkan antara Hotel Santika Mataram dengan para petani/pelaku usaha
mikro di Desa Sesaot dalam bentuk pemenuhan pasokan kebutuhan hotel (khususnya produk buah-
buahan dan pengelolaan homestay), melalui Koperasi Sugih Enggar sebagai perantara (intermediary
service provider). Hotel Santika Mataram akan memberikan pelatihan kepada pengurus dan staf
koperasi (pelatihan manajemen pemasokan, standar kualitas, pembukuan sederhana, kontrak bisnis,
dan manajemen pengelolaan homestay). Selanjutnya, koperasi akan mengelola pengumpulan buah
dari para petani sesuai persyaratan yang dibutuhkan oleh hotel, memantau standar kelayakan
homestay, dan menjamin kualitas buah dan layanan homestay sesuai dengan standar yang diberikan
oleh hotel. Terkait dengan homestay, guna menjamin keberlanjutan dan perluasan penerima
manfaatnya, Hotel Santika Mataram akan membantu koperasi untuk memberikan pendampingan teknis
kepada pemilik homestay.
Melalui pilot model bisnis ini diharapkan bisa menciptakan model keterkaitan antara desa (rural) dan
kota (urban) dalam sektor kepariwisataan di Lombok. Model ini diharapkan dapat direplikasi oleh hotel-
hotel lainnya di Lombok (maupun NTB secara lebih luas), sehingga kedepan pemenuhan kebutuhan
hotel di daerah ini dapat dipasok dari para petani/pelaku usaha mikro dan kecil di daerah-daerah di
NTB.

5. Hasil yang diharapkan


Tuliskan apa hasil yang diharapkan dari intervensi SREGIP di DWH pilot.
Usahakan untuk menuliskan hasil yang kuantitatif agar dapat diukur saat evaluasi nantinya.

Contoh:
Intervensi ini berupaya untuk:
! Memberikan manfaat bagi 50 petani pada tahun 2016/2017
! Meningkatan tambahan pendapatan bagi petani (penerima manfaat) dan pemilik homestay di
Desa Sesaot sebesar kurang lebih 20% !
8. Kegiatan dan Jadual implementasi
Buatlah matrik kegiatan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah mendasar dan mencapai indicator yang telah ditetapkan. Lengkapi dengan waktu pelaksanaannya.

Contoh:
WAKTU (TAHUN 2016)
NO. BOX KEGIATAN
APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOV
SREGIP dan Hotel Santika Mataram (Santika) memfinalisasi dan
A1
menandatangani kesepakatan kerjasama di Lombok
SREGIP mengidentifikasi desa wisata yang potensial sebagai pemasok
A2
bagi Santika
SREGIP mengidentifikasi BDS/Service Provider/Champion yang
A3
potensial sebagai intermediari dengan pelaku usaha di desa
A4 SREGIP bersama Santika mengidentifikasi pelatih
SREGIP bersama Santika melakukan pemilihan desa yang akan
A5
dijadikan sebagai pemasok
SREGIP melakukan assessment terhadap BDS /Service
A6
Provider/Champion yang telah teridentifikasi
SREGIP memfasilitasi Santika menyusun modul pelatihan bersama
A7
dengan pelatih
A8 SREGIP melakukan koordinasi dengan tokoh kunci/pengelola desa

SREGIP bersama Santika melakukan pemilihan terhadap terhadap BDS


A9
/Service Provider/Champion yang akan diajak kerjasama
SREGIP memfasilitasi temu usaha antara Santika dengan pelaku usaha
A10
di desa dan BDS/Service Provider/Champion
SREGIP memfasilitasi Santika menyiapkan kontrak bisnis dan dealing
A11
dengan pelaku usaha/BDS/Service Provider /Champion
Santika menyelenggarakan pelatihan kepada BDS/Service
B2
Provider/Champion terseleksi
BDS/Service Provider/Champion memberikan pelatihan (tentang standar
C3 produk, pembukuan, housekeeping, hospitality) kepada para pelaku di
desa

Anda mungkin juga menyukai