Anda di halaman 1dari 21

Tanggal Praktikum

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN 2


PENGARUH SUHU TERMOFIKSASI PADA PENCAPAN POLIESTER
DENGAN ZAT WARNA DISPERSI

DISUSUN OLEH:
Kelompok : 3 (tiga)
Nama Anggota : 1. A. Salsabila. N.T (15020031)
2. M. Arief Hidayat (15020042)
3. Umi Mahmudah (15020059)
4. Wahyuningsih (15020060)
Grup : 3 K2
Dosen : Sukirman, S. ST.,MIL
Asisten : 1. Ikhwanul M,S.ST.,M.T
2. Desiriana

POLITEKNIK STTT
BANDUNG
2018
I. MAKSUD DAN TUJUAN
1.1. Maksud
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana proses pencapan pada kain
poliester dengan zat warna dispersi
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh suhu termofiksasi pada pendapan poliester dengan
zat warna dispersi

II. TEORI DASAR


2.1. Serat Poliester
Serat poliester adalah serat sintetik yang terbentuk dari molekul polimer
poliester linier dengan susunan paling sedikit 85% berat senyawa dari hidroksi
alcohol dan asam terftalat.Poliester atau yang dikenal dengan nama Terylene di
Inggris ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Etilena yang berasal dari
penguraian minyak tanah dioksidasi dengan udara, menjadi etilena oksida yang
kemudian dihidrasi menjadi etilena glikol. Asan tereftalat dibuat dari pra-Xilena
yang harus bebas dari isomer meta dan orto. P-Xilena merupakan bagian dari
destilasi minyak tanah dan tidak dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto
dengan cara destilasi.
Poliester termasuk ke dalam serat sintetik yang sangat pesat sekali
perkembanganya dan banyak digunakan untuk tekstil. Serat poliester cepat sekali
memperoleh perhatian konsumen oleh karena sifat mudah penanganannya (ease
of care), bersifat cuci pakai (wash and wear), tahan kusut dan awet. Sifat-sifat
pakaiannya lebih sempurna apabila dicampur dengan serat wol atau kapas.

Gambar 4 Reaksi Pembentukan Poliester

Pencelupannya dapat dilakukan pada suhu 100°C dengan dibantu zat


penggelembung serat. Zat tersebut akan memudahkan zat warna masuk kedalam
serat.
2.1.2. Sifat-sifat poliester:
2.1.2.1. Sifat fisika
Poliester memiliki sifat yang khas, yakni dalam pengerjaan dengan larutan
kaudtik soda bagian kulitnya akan larut, sehingga diperoleh kain, benang atau
serat yang lebih tipis dengan tidak mengubah serat secara hebat. Pengerjaanini
membuat poliester mempunyai sifat pegangan seperti sutera. Pada umumnya
kehilangan berat sebesar 5% dianggap cukup baik.
1. Kekuatan dan mulur
Terylene mempunyai kekuatan 4.5 gram/denier sampai 7.5 gram/denier
dan mulur 25% sampai 7.5% tergantung pada jenisnya. Kekuatan dan mulur dalam
keadaan basahnya hampir sama dengan dalam keadaan kering. Kekuatan
poliester dapat tinggi disebabkan karena proses peregangan dingin pada waktu
pemintalannya akan menyebabkan terjadinya pengkristalan molekul dengan baik,
demikian pula berat molekulnya dapat tinggi.
2. Modulus dan elastisitas
Poliester mempunyai modulus yang tinggi. Pada pembeban 0.9
gram/denier poliester hanya mulur 1% dan pada pembeban 1.75 gram/denier
hanya mulur 2%. Modulus yang tinggi menyebabkan poliester pada tegangan kecil
di dalam penggulungan tidak akan mulur. Poliester mempunyai elastisitas yang
baik sehingga kain poliester tahan kusut. Jika benang poliester ditarik dan
kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi dlam 1 menit adalah sebagai berikut:
Penarikan 2%.................... pulih 97%
Penarikan 4%.................... pulih 90%
Penarikan 8%.................... pulih 80%
3. Moisture Regain dan Berat jenis
Dalam kondisi standard moisture regain poliester hanya 0.4%. Dalam RH
100% moisture regainnya hanya 0.6-0.8%. Berat jenis poliester 1.38
2.1.2.2. Sifat kimia
Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu didih dan tahan asam kuat
dingin. Poliester tahan basa lemah tetapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan
zat oksidasi,alcohol,keton,sabun dan zat-zat untuk pencucian kering. Demikian
pula tahan terhadap serangga, jamur dan bakteri, sedangkan terhadap sinar
matahari ketahanannya cukup baik. Poliester larut dalam meta-kresol panas,
trifluoroasetat-orto-khlorofenol, campuran 7 bagian berat trikhlorofenol dan 10
bagian fenol dan campuran 2 bagian berat tetrakhloroetena dan 3 bagian fenol.
Poliester akan menggelembungkan dalam larutan 2% asam benzoate asam
salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air, disperse ½% monokhlorobenzena, p-
dikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metilbenzoat dan metal salisilat dalam air,
disperse 0.3% orto-fenil-fenol dan para-fenifenol dalam air. Poliester meleleh
diudara pada suhu 250°C dan tidak menguning pada suhu tinggi. Poliester tahan
serangga, jamur dan bakteri. Seperti serat tekstil lainnya, poliester juga berkurang
kekuatannya dalam penyinaran yang lama tetapi tahan sinarnya masih cukup baik
dibanding dengan serat lain. Dibalik kaca tahan sinar poliester lebih baik dari
kebanyakan serat. Benang terylena apabila direndam dalam air mendidih akan
mengkeret sampai 7% atau lebih. Dimensi kain poliester dapat distabilkan dengan
cara heat-set. Heat-set dilikukan dengan cara mengerjakan kain dalam dimensi
yang telah diatur (biasanya dalam bentuk lebih) pada suhu 30-40°C lebih tinggi
dari suhu penggunaan kain sehari-hari. Untuk pakaian biasanya pada suhu 220-
230°C.
2.2. Pencapan
Pencapan pada kain tekstil mungkin lebih sesuai jika digambarkan sebagai
suatu teknologi seni pemindahan desain-desain pada kain tekstil.Pencapan
adalah suatu proses untuk mewarnai bahan tekstil dengan melekatkan zat warna
pada kain secara tidak merata sesuai dengan motif yang diinginkan. Motif yang
akan diperoleh pada kain cap nantinya harusnya dibuat dulu gambar pada kertas.
Kemudian dari gambar ini masing-masing warna dalam komponen gambar yang
akan dijadikan motif dipisahkan dalam kertas film.
Dari kertas film inilah motif dipindahkan ke screen, dimana dalam screen
ini bagian-bagian yang tidak ada gambarnya akan tertutup oleh zat peka cahaya
sedangkan untuk bagian-bagian yang merupakan gambar akan berlubang dan
dapat meneruskan pasta cap ke bahan yang akan dicap.Pada pencapan pelekatan
zat warna pada kain lebih banyak secara mekanis. Pada pencapan bermacam-
macam golongan zat warna dapat dipakai bersama-sama dalam satu kain dengan
tidak saling mempengaruhi warna aslinya.
2.3. Zat Warna Dispersi
Zat warna dispersi adalah zat warna yang kelarutannya dalam air hanya
sedikit, akan tetapi mudah didispersikan atau disuspensikan dalam air, serta
mempunyai daya substantivitas terhadap serat-serat yang bersifat hidrofob. Zat
warna dispersi merupakan zat warna non iionik yang tidak atau sedikit larut dalam
air dan mempunyai molekul yang relatif kecil, sederhana dan tidak mempunyai
gugus pelarut. Oleh karena itu zat warna dispersi sedikit larut dalam air dan sering
digunakan untuk mencap serat-serat hidrofob seperti poliester. Beberapa jenis zat
warna dispersi yaitu antrakuinon, azo dan difenilamina

2.3.1. Sifat Zat Warna Dispesi


Sifat-sifat umum zat warna disperse, baik sifat kimia maupun sifat fisika
merupakan faktor penting dan erat hubungannya dengan penggunaannya dalama
proses pencelupan. Sifat – sifat umum zat warna disperse untuk pencelupan
polyester (tipe B,C, dan D) adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai titik leleh sekitar 1500C dan kekritalinan yang tinggi.
2. Apabila digerus sampai halis dan didispersikan dengan zat pendispersi
dapat menghasilkan disperse yang yang stabil dalam larutan pencelupan
dengan ukuran partikel 0,5 – 0,2 mikron.
3. Mempunyai berat molekul yang relative rendah.
4. Mempunyai tingkat kejenuhan 30 – 200 mg/g dalam serat.
5. Relative tidak mengalami perubahan kimia selama proses pencelupan
berlangsung.
6. Pada dasarnya bersifat nonionic walaupun mengandung gugus NH2, NHR
dan -OH yang bersifat agak polar.
7. Kelarutan dalam air kecil sekali (kurang dari 30 mg/kg zat warna)
8. Ketahanan luntur warna hasil pencelupan terhadap keringat dan pencucian
sangat baik tetapi ketahanan sinarnya jelek.
2.3.2. Golongan Zat warna dispersi
Berdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi dapat digolongkan
menjadi:
Bentuk Sumitomo Suhu Suhu Metoda Celup
Kelompok
molekul BASF sublimasi Termosol HT/HP Carrier
Thermosol
A 1700C 1800C 1300C 1000C

B E 1900C 2000C X x V

C SE 2000C 2100C V V V

D S 2100C 2200C V V x

1. Zat warna dispersi golongan A


Zat warna ini mempunyai berat molekul yang terkecil, tingkat ketahanan
sublimasinya rendah, tersublimasi penuh ( 90 - 100 % ) pada suhu sekitar 1300 C
dan mempunyai sifat kerataannya yang baik sekali. Zat warna golongan ini
umumnya digunakan pada pencpan trasfer.
2. Zat warna dispersi golongan B
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang sedang, tersublimasi
penuh pada suhu sekitar 1500 C - 1700 C, dan mempunyai sifat kerataan yang
baik. Zat warna ini dapat digunakan untuk mencap serat poliester dengan
menggunakan bantuan zat pengembang dan pada pencelupan suhu tinggi dan
tekanan tinggi/normal.
3. Zat warna dispersi golongan C
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang tinggi, tersublimasi
penuh pada suhu sekitar 1900C. zat warna ini biasanya digunakan untuk mencap
poliester dengan menggunakan metode suhu tinggi dan pemberian tekanan dan
metode udara kering.
4. Zat warna dispersi golongan D
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang tinggi, tersublimasi
penuh pada suhu 2200 C. zat warna ini biasanya digunakan untuk pencapan
poliester dengan menggunakan metode udara kering dengan penyerapan 60%.
Untuk membedakan sifat pencelupan zat warna dispersi terhadap serat
poliester, maka zat warna dispersi digolongkan berdasarkan ukuran berat
molekulnya. Besar kecilnya berat molekul zat warna dispersi sangat erat kaitanya
dengan ketahanan sublimasi zat warna. Semakin besar berat molekul yang dimiliki
zat warna dispersi, maka ketahanan sublimasinya semakin besar, begitu pula
sebaliknya.
Berdasarkan sturuktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi 3
golongan yaitu:

1. Golongan Azo (-N=N-)

C2H5

O2N N N N

C2H4OH

2. Golongan Antrakuinon
NO2 O OH

OH O NH

3. Golongan Difenil amin

N SO2NH

NH

2.3.3. Sifat-sifat
1. Sifat dasar mempunyai berat molekul yang rendah dengan inti kromofor,
diantaranya : azo, antrakuinon, dan dipenilamina.
2. Meleleh pada temperatur tinggi (lebih besar dari pada 150 0C), kemudian
dapat mengkristal lagi.
3. Sifat dasar adalah non ionic meskipun mempunyai gugus –OH, -NH2, dan
gugus –NHR, dansebagainya yang bertindak sebagai gugus pemberi (donor)
hydrogen untuk mengadakan ikatan dengan serat (gugus karbonil).
4. Gugus –OH, -NH2, dan gugus fungsional yang sejenis menyebabkan zat
warna dispersi sedikit larut dalam air (± 0,1 miligram/l), tapi mempunyai
kejenuhan yang tinggi pada serat pada kondisi pencelupan.
5. Penambahan zat pendispersi ke dalam larutan celupnya akan menyebabkan
zat warna dispersi stabil dalam air.
6. Secara relatif kerataan penyerapan zat warna dalam serat adalah tinggi (10 –
50 mg/g serat).
Ikatan yang utama antara zat warna disperse dengan poliester adalah
ikatan hidrofobik, namun untuk beberapa kasus dapat pula terjadi ikatan hydrogen
atau ikatan dwi kutub.
Dalam perdagangan umumnya zat warna disperse mengandung gugus
aromatic dan alifatik yang mengakibatkatkan gugus fungsional seperti : -OH, -
NH2,-NHR. Gugus fungsional tersebut merupakan pengikat dipol atau dwi kutub
juga membentuk ikatan hydrogen dengan gugus karboknil atau gugus asetil.
Berikut adalah reaksi terjadinya ikatan hydrogen pada proses pencelupan serat
poliester dengan zat warna dispersi.

δ- δ+ δ- δ+

O2N N N N H C
O
Ikatan hidrogen
H
OH
2.3.4. Teknik pencapan
Secara umum pencapan zat warna dispersi terdiri dari beberapa cara yaitu
sebagai berikut;
1. Pencapan dengan fiksasi steam tekanan normal
Pasta cap pada metoda ini mengandung zat warna, pengental dan zat
pembantu lainnya, kemudian dicapkan pada bahan. Setelah kering kemudian
dilakukan fiksasi pada uap jenuh dengan suhu 100-102OC selama 20-30’.
Jenis zat warna yang dapat digunakan adalah zat warna tipe B, untuk
mendapatkan kerataan warna digunakan zat warna dalam bentuk pasta dan
atau ditambahkan sedikit carrier.
2. Pencapan dengan fiksasi steam tekanan tinggi
Pasta cap pada metoda ini mengandung zat warna, pengental dan zat
pembantu lainnya, kemudian dicapkan pada bahan. Setelah kering kemudian
dilakukan fiksasi pada uap jenuh dengan suhu 128-130OC (2,5-3atm) selama
20-30’. Jenis zat warna yang dapat digunakan adalah zat warna tipe B dan C,
untuk mendapatkan kerataan warna digunakan zat warna dalam bentuk pasta
dan atau ditambahkan sedikit carrier.
3. Pencapan dengan fiksasi suhu tinggi
Pasta cap pada metoda ini mengandung zat warna, pengental dan zat
pembantu lainnya, kemudian dicapkan pada bahan. Setelah kering kemudian
dilakukan fiksasi pada uap lewat jenuh (termik) dengan suhu 160-185OC
selama 8-1’. Jenis zat warna yang dapat digunakan adalah zat warna tipe C.
Untuk mendapatkan kerataan warna dan ketuaan warna yang baik digunakan
zat higroskopik (urea) minimum 50g/kg pasta cap (10% pasta cap) dan
digunakan pengental dengan kandungan high solid conten <12%.
4. Pencapan dengan fiksasi udara panas
Pasta cap pada metoda ini mengandung zat warna, pengental dan zat
pembantu lainnya, kemudian dicapkan pada bahan. Setelah kering kemudian
dilakukan fiksasi pada uap lewat jenuh (termik) dengan suhu 180-210OC
selama 8-1’. Jenis zat warna yang dapat digunakan adalah zat warna tipe C.
Untuk mendapatkan kerataan warna dan ketuaan warna yang baik digunakan
zat higroskopik (urea) minimum 50g/kg pasta dan digunakan pengental
emulsi/semi emulsi.
2.4. Pasta cap
Penggunaan komposisi pasta cap dialuakun dengan memilih kesesuaian
zat warna terhadap jenis serat yang akan dicap. Selanjutnya adalah seleksi
terhadap kesesuaian jenis pengental, zat-zat pembantu, metoda pencapan yang
digunakan dan kondisi-kondisi pengeringan, fiksasi zat warna serta kondisi setelah
pencapan, misalnya pencucian.Pasta cap dibuat dengan disesuaikan selain
terhadap jenis serat/kain juga terhadap jenis mesin yang akan digunakan, sifat
ketahanan warna yang diminta dan beberapa sifat hasil pencapan lainnya yang
digunakan. Resep pasta cap secara garis besar yaitu zat warna, zat pembantu
pelarutan (misalnya urea), air, pengental (misalnya tapioka), zat kimia untuk fiksasi
zat warna, zat anti reduksi, zat anti busa.
Tingkat kekentalan/viskositas pasta cap tergantung beberapa faktor,
antara lain metoda proses pencapan, jenis dan struktur kain yang akan dicap,
kehalusan motif cap dan lain-lain.Dalam pencapan pengental berfungsi unutk
mendapatkan kekentalan pasta cap, memindahkan atau melekatkan zat warna
kedalam bahan, memperoleh warna yang rata, penetrasi yang baik, dan batas
warna motif yang tajam.
2.4.1. Syarat pengental:
- Daya lekat baik (basah maupun kering)
- Stabil selama proses pencapan
- Tidak berwarna dan berbusa
- Mudah kering dan rata
- Dapat menahan resapan larutan / uap sehingga diperoleh motif yang
tajam
- Dapat memindahkan zat warna sebanyak mungkin kedalam bahan
- Dapat dicampur dengan zat pembantu dan tidak bereaksi
- Mudah hilang dalam pencucian.
2.4.2. Pada pasta cap terdapat:
- Zat warna
- Pengental
- Zat pembantu tekstil
- Air
2.5. Pengental CMC
Karboksi metil selulosa (CMC) merupakan turunan dari selulosa yang
dikarboksimetilasi, adalah eter polimer linier dengan gugus karboksimetil
(CH2OCH2COONa) yang terikat pada beberapa gugus OH dari monomer
glukopiranosa. Struktur CMC didasarkan pada β-(1 4)-D-glucopyranose polymer
dari selulosa. CMC berupa senyawa anion yang bersifat biodegradable, tidak
berwarna, tidak berbau, tidak beracun, memiliki rentang pH sebesar 6,5 sampai
8,0 dan stabil pada rentang pH 2 – 10, serta larut dalam air.3 Derajat polimerisasi
(DP) CMC menunjukkan daya pengentalnya, semakin panjang rantai molekulnya,
maka larutannya semakin kental.Carboxy Methyl Cellulose (CMC) adalah turunan
dari selulosa dan ini sering dipakai dalam industri untuk mendapatkan tekstur yang
baik. Fungsi CMC ada beberapa terpenting, yaitu sebagai pengental, stabilisator,
pembentuk gel dan sebagai semi-pengemulsi. Struktur molekul CMC disajikan
pada gambar berikut;

Gambar 2. Struktur Kimia CMC


III. PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat 3.1.2. Bahan
 Kain Poliester  Zat warna Dispersi
 Gelas ukur 100 mL  Pengental CMC 7%
 Gelas piala  Asam asetat 60%
 Mixer  Urea
 Rakel  Zat pendispersi
 Kasa
 Timbangan
3.2. Diagram Alir

3.3. Cara kerja


3.3.1. Permbuatan pegental induk
a. Pengental CMC bubuk ditimbang sesuai kebutuhan,sementara air
hangat untuk pembuat pembuat pengental disiapkan sesuai
kebutuhan
b. Pengental CMC yang sudah ditimbang,dimasukkan kedalam ember
lalu di ditambahkan air hangat dikit demi sedikit dikocok dengan mixer
sampai terbentuk larutan yang kental.
3.3.2. Pembuatan pasta zat warna
a. Persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu
b. Zat yang digunakan ditimbang sesuai kebutuhan
c. Pilih 2 jenis Zat warna Dispersi yang berbeda warna lalu timbang sesuai
kebutuhan
d. Tambahkan Urea aduk sampai larut ,setelah larut tambahkan Na Asetat
e. Timbang pengental sesuai kebutuhan,lalu aduk sampai tercampur,lalu
tambahkah asam asetat
f. Setelah teraduk rata maka pasta cap siap digunakan
2.
3.3.3. Pencapan
a) Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka
sempurna dan konstan pada meja cap.
b) Screen diletakkan tepat berada pada bahan yang akan dicap
c) Dengan bantuan rakel, pasta cap dituangkan pada screen pada bagian
pinggir kasa (tidak mengenai motif) secara merata pada seluruh
permukaan.
d) Frame ditahan agar mengepres pada bahan, kemudian dilakukan proses
pencapan dengan cara memoles screen dengan pasta cap menggunakan
rakel.
e) Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke
bawah agar dapat mendorong zat warna masuk ke motif.
f) screen dilepaskan ke atas.
g) Untuk screen ke dua (warna berbeda), screen dipasangkan dengan
mempaskan posisi motif agar kedua motif dapat berimpit dengan tepat.
h) Dilakukan proses pencapan seperti point di atas.
i) Setelah selesai, biarkan pasta pada kain sedikit mengering
j) Setelah kain yang telah di cap kering lalu di termofiksasi pada suhu antara
170-190 ∘C
k) Setelah kain dilakukan proses termofiksasi selanjutnya kain di cuci dingin,
cuci panas, cuci sabun.
l) Setelah dicuci sabun maka bahan dibilas dan dikeringkan seta dievaluasi.

3.4. Resep
3.4.1. Resep Pengental Induk
CMC : 10 %
Air : x gram
1000 gram
3.4.2. Resep Pencapan
Variasi
Resep
1 2 3 4
Zat warna (g/L) 30
Zat Pendispersi (g/L) 20
Asam asetat (g/L) 10
Pengental(g/L) 700
Urea (g/L) 175
Waktu Dry (menit) 2
Suhu Dry (0C) 100
Suhu fixasi (0C) 170 180 190 200
Waktu fixasi (menit) 2
3.5. Fungsi Zat
1. Zat warna dispersi : Sebagai zat yang memberikan warna pada kain

2. Urea : Zat higroskopis untuk menjaga kelembaban zat warna.

3. Zat pendispersi : Untuk mendispersikan zat warna dispersi supaya


terdispersi di dalam pasta cap.

4. CMC : Pengental yang berfungsi untuk memindahkan zat


warna ke kain.

5. Asam asetat 30% : Sebagai pemberi suasana asam untuk memebentuk


tempat-tempat positif .

6. Balance : Membentuk viskositas pasta cap yang sesuai.

3.6. Perhitungan Resep


30
 Zat Warna Dispersi =100 × 75 = 2,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
20
 Zat Pendispersi =100 × 75 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
175
 Urea (Zat Higroskopik) = × 75 = 13,125 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
10
 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻 60% =1000 × 75 = 0,75 𝑔𝑟𝑎𝑚
700
 𝐶𝑀𝐶 10% = × 75 = 52.5 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
 Balance = 4.875 𝑚𝑙
IV. HASIL PRAKTIKUM
Suhu termofiksasi 1700C
Suhu termofiksasi 1800C
Suhu termofiksasi 1900C
Suhu termofiksasi 2000C
V. Hasil dan Diskusi
Zat warna dispersi adalah zat warna yang bersifat hidrofob sehingga
kelarutannya dalam air kecil sekali. Dalam pemakaiannya zat warna ini harus
didispersikan di dalam larutan dan membutuhkkan bantuan pengemban atau
adanya suhu tinggi.
Pada praktikum kali ini dilakukan variasi suhu fiksasi. Kemudian dilakukan
pengujian evaluasi ketuaan dan kerataan warna secara grading dengan metoda
visual dan evaluasi ketajaman motif. Hasil dari evaluasi tersebut dapat dilihat pada
Tabel-1.

Tabel-1. Hasil Evaluasi Pencapan Zat Warna dispersi


SAMPLE KETUAAN WARNA KERATAAN WARNA
Suhu 170OC 1 3
Suhu 180OC 2 3
Suhu 190OC 3 3
Suhu 200OC 4 3

Dari hasil evaluasi visual diperoleh data bahwa pada semua variasi suhu
fiksasi memberikan nilai kerataan warna yang sama yaitu 3. Hal ini menujukan
bahwa variasi suhu fixasi tidak mempengaruhi kerataan warna hasil pencapan,
tetapi pada hasil pencapannya memiliki tingkat kerataan warna yang kurang rata.
Hal ini terjadi karena kerataaan hasil pencapan dipengaruhi oleh penekanan rakel,
kerataan meja printing, pada zat warna dispersi memiliki tingkat suhu sublimasi
yang berbeda pada tiap zat warnannya (merah dan biru) kemudian dapat juga
disebabkan karenakan adanya motif pada screen yang mampat/tidak berlubang
serta kurang tepat saat meletakan motif kedua diatas motif pertama.
Sedangkan pada evaluasi ketuaan warnanya sample dengan suhu steam
170 C memiliki hasil paling muda, sedangkan untuk sample 180OC ,190OC, 200OC
O

ketuaannya berurutan lebih tua. Sample dengan dengan variasi suhu steam 200OC
memiliki tingkat ketuaan warna paling tua jika dibandingkan dengan variasi suhu
yang lain. Hal ini menunjukan bahwa fiksasi zat warna dispersi dipengaruhi oleh
suhu steam yang digunakan. Semakin besar suhu steam yang digunakan maka
warna yang dihasilkan pun semakin tua karena suhu yang tinggi dapat
menyebabkan zat warna dipersi berdifusi kedalam serat semakin bayak pada suhu
tinggi sehingga ketuaan warnanyapun semakin baik. Pada suhu tinggi serat
poliester akan meleleh sehingga zat warna akan mudah masuk kedalam serat.
Selain menaikan suhu steam, ketuaan warna hasil pencapan juga dapat
dipengaruhi oleh penambahan urea pada pasta capnya. Urea dapat membantu
mendorong zat warna masuk kedalam serat sehingga penambahan urea ini
berpengaruh terhadap ketuaan warna hasil pencapan. Dari hasil praktikum yang
dilakukan kelompok kami yang mengunakan urea sebanyak 175 g/L dibandingkan
ketuaan warna kain hasil pencapannya dengan kelompok lain yang suhu
steamnya 180OC, kemudian diperoleh hasil ketuaan warna paling baik yaitu
dengan konsentrasi 200 g/L, ini dikarenakan urea bekerja secara optimum pada
konsentrasi 200 g/L sehingga ketuaan warnanya paling tua.
Selain itu pula dilakukan evaluasi ketajaman motif untuk masing masing
pasta warna yang digunakan. Kemudian diperoleh hasil untuk pasta warna merah
maupun biru memiliki nilai ketajaman motif yang sama yaitu 98,5%, nilai tersebut
memiliki tingkat ketajam motif yang baik sehingga hasil motif pada pencapan akan
didapat motif yang tajam. Nilai ketajaman motif menentukan tingkat kejelasan dan
keruncingan motif yang dihasilkan, serta ketajaman motif dipengauhi oleh nilai
viskositas dari pasta cap.

VI. KESIMPULAN
Dari data dan pembahasan yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa
sampel memiliki nilai ketajaman motif dan nilai kerataan warna yang baik dan nilai
ketuaan warna yang optimum yang baik menggunakkan suhu fiksasi 200℃ dengan
menggunakkan konsentrasi urea 200 g/L.
DAFTAR PUSTAKA

Bernard, P. C. "Textiles Fiber to Fabric" . New York: Bronx Community


College City Univercity of New York. 1983

Lubis, Arifin ,dkk., “Teknologi Pencapan Tekstil”. Bandung : Institut


Teknologi Tekstil, 1998

Djufri, Rashid, Ir., dkk, “Teknologi Pengelantangan, Pencelupan,


danPencapan”. Bandung : Institut Teknologi Tekstil, 1976

Purwanti, dkk, “Pedoman Praktikum Pencapan dan


Penyempurnaan”. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil,
1978