Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH

KEPEMIMPINAN KEPALA DESA

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Kepemimpinan Pemerintah

Disusun Oleh :
YUDHA DWI NUGRAHA
NIM. 3506140135

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyanyang, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah

Makalah ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapat bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi sususanan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar penulis dapat memperbaikin makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga ini dapat memberikan manfaat


maupun insfirasi terhadap pembaca.

Ciamis, 15 Februari 2018

Penulis

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Desa adalah wilayah yang penduduknya saling mengenal hidup bergotong-
royong, adat istiadat yang sama, tata norma dan mempunyai tata cara sendiri
dalam mengatur kehidupan kemasyarakatan. Di samping itu, umumnya wilayah
desa terdiri atas daerah pertanian, sehingga sebagian besar mata pencariannya
adalah seorang petani. Desa di bawah pemerintahan Kabupaten.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang perubahan atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan
bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat,
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Manusia tidak lagi
dianggap sebagai faktor produksi tetapi lebih dianggap sebagai asset organisasi
yang penting. Keefektifan dan keunggulan organisasi sangat tergantung pada
kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Secara teoritis, kualitas SDM dalam
suatu organisasi yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan pelayanan pada
masyarakat. Hal ini akan dapat tercipta dalam suatu lingkungan kerja yang
kondusif, yang antara lain dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan yang tepat.
Kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan
kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia. Disinilah timbulnya kebutuhan akan
pemimpin dan kepemimpinan.
Pemimpin dapat mempengaruhi moral, kepuasan kerja, keamanan, kualitas
kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Kemampuan dan
keterampilan dalam pengarahan adalah faktor penting efektivitas suatu organisasi.
Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas-kualitas yang berhubungan
dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menyeleksi pemimpin-pemimpin yang
efektif akan meningkat. Dan apabila organisasi dapat mengidentifikasikan
perilaku dan teknik tersebut akan dapat dipelajari.

1
Pada sebuah organsasi pemerintahan, kesuksesan atau kegagalan dalam
pelaksanaan pelayanan masyarakat, dipengaruhi oleh kepemimpinan, melalui
kepemimpinan dan didukung oleh pemerintahan yang memadai, maka
penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (Good Governance) akan terwujud,
sebaliknya kelemahan kepemimpinan merupakan salah satu sebab keruntuhan
kinerja birokrasi di Indonesia. (Istianto, 2009:2)
Kepemimpinan (leadership) dapat dikatakan sebagai cara dari seorang
pemimpin (leader) dalam mengarahkan, mendorong dan mengatur seluruh unsur-
unsur.di dalam kelompok atau organisasinya untuk mencapai suatu tujuan
organisasi yang diinginkan sehingga menghasilkan pelayanan pada masyarakat
dengan maksimal. Dengan meningkatkan mutu pelayanan berarti tercapainya hasil
kerja seseorang atau aparatur desa dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Tugas pokok pemerintahan desa adalah menjalankan sebagian
kewenangan kecamatan serta melaksanakan tugas-tugas lainnya berdasar kepada
peraturan yang berlaku. Dalam kapasitasnya sebagai sebuah organisasi pemerintah
dibawah Kecamatan, tujuan penyelenggaraan pemerintahan desa adalah
terlaksananya berbagai fungsi kelurahan sesuai dengan kewenangannya yang
diberikan oleh kecamatan secara efektif dan efisien, termasuk di dalamnya adalah
fungsi pelayanan administrasi aparat kepada masyarakat.
Efektivitas merupakan unsur pokok aktivitas organisasi dalam mencapai
tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Bila dilihat dari aspek segi
keberhasilan pencapaian tujuan, maka efektivitas adalah memfokuskan pada
tingkat pencapaian terhadap tujuan organisasi. Selanjutnya ditinjau dari aspek
ketepatan waktu, maka efektivitas adalah tercapainya berbagai sasaran yang telah
ditentukan tepat pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu
yang telah dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan.
Untuk mencapai efektivitas pelayanan aparat pada masyarakat yang
diinginkan kepala desa Sobo harus menjalankan fungsi dan tugasnya dengan cara
memotivasi para pegawainya dan juga selalu berkomunikasi, agar para
pegawainya menyadari bahwa mereka memang dibutuhkan dan tidak dibeda-
bedakan, sehingga mereka mengerjakan pekerjaan mereka dengan sebaik-baiknya,

2
demi kepuasan masyarakat. Kepala desa juga dibutuhkan untuk mengontrol
kegiatan para pegawainya apakah berjalan dengan tujuan yang diinginan atau
tidak. Kepala desa dan pegawainya harus saling kerja sama dalam usaha
pencapaian tersebut. Masing-masing dari mereka haruslah menyadari tugas dan
tanggungjawabnya.
Pembangunan nasional yang multi dimensi secara pengelolaannya
melibatkan segenap aparat pemerintahan, baik ditingkat pusat maupun ditingkat
daerah bahkan sampai ditingkat desa. Komponen atau aparat dimaksud hendaknya
memiliki kemampuan yang optimal dalam pelaksanaan tugasnya. Tepatlah
kiranya jika wilayah desa menjadi sasaran penyelenggaraan aktifitas pemerintahan
dan pembangunan, mengingat pemerintahan desa merupakan basis pemerintahan
terendah dalam struktur pemerintahan Indonesia yang sangat menentukan bagi
berhasilnya ikhtiar dalam Pembangunan nasional yang menyeluruh.
Kepemimpinan pemerintahan merupakan suatu kemampuan
pemerintah (government) untuk melakukan komunikasi, interaksi dan pengaruh
terhadap masyarakat terutama dalam penyediaan produk jasa dalam layanan
publik(public service) dan layanan sipil (civil service).
Berangkat dari pemikiran tersebut, dikaitkan dengan fakta yang ada,
menunjukkan bahwa kemampuan kepala Desa dalam pelaksanaan tugas terutama
dalam menyiapkan bahan dan informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan
perencanaan pembangunan, hasilnya masih minim atau belum terlaksana secara
optimal.
Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan desa yang terpenting
adalah bagaimana pemerintahan desa mampu meningkatkan kesejahteraan
rakyatnya, mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat desa, dan mampu
meningkatkan daya saing desanya. Hal tersebut hanya mungkin terwujud apabila
urusan yang menjadi kewenangan desa dapat terlaksana dengan baik.
Manusia adalah mahkluk sosial yang selalu bermasyarakat, hal ini terkait
dengan keterlibatannya dalam suatu organisasi tertentu. Pada masyarakat modren
organisasi yang besar, kompleks , canggih banyak bermunculan, dimana salah
satu organisasi yang penting adalah organisasi pada pemerintahan pada suatu

3
Negara. Didalam negara terdapat susunan organisasi pemerintah yang mana sesuai
trias politika ada legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dalam susunan organisasi
pemerintahan eksekutif yang mana kepemimpinan tertinggi menurut susunan
pemerintahan adalah Presiden dan sampai pada level dibawahnya pada stuktur
pemerintahan adalah kepala desa. Kepala Desa adalah pemimpin yang dipilih
secara demokrasi maupun secara tradisional oleh warga yang mana ia adalah
seorang wakil perpanjang tangan dari masyarakat untuk dapat mengatur, menjaga
dan memotifasi warganya dalam proses pembangunan didesa, Sehingga peran
kepemimpinan Kepala Desa sangatlah berpengaruh terhadap maju-mundurnya dan
berkembang atau tidak berkembangnya suatu pembangunan didesa.
Desa patut di lindungi dan di jaga keasliannya yang mana adalah bagian dari
Negara Kesatuan Republik Indonesai. Dimana dalam berlangsungnya
perkembangan desa tidak terlepas dari peran masyarakat serta kepemipinan kepala
Desa dan perangkat desa yang ada pada desa. Yang mana semua peran dari aparat
pemerintah desa maupun masyarakat amat penting dalam proses pembangunan
desa. Melalui perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, pengakuan terhadap masyarakat adat dipertegas melalui ketentuan
dalam pasal 18B ayat (2) yang berbunyi “Negara mengakui dan menghormati
kesatuan-kesatuan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam dalam undang-undang”.(UU
Desa no.6 tahun 2014)
Untuk itu dalam peraturan perundang-undang juga telah mengatur dan
berlandaskan pada Undang-Undang no.25 tahun 2004 tentang perencanaan
pembangunan nasional, kemudian undang-undang no. 32 tahun 2004 tentang
pemerintahan daerah serta undang-undang no.33 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, selajutnya Provinsi Papua
sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Oleh sebab itu Kabupaten Mappi
adalah salah satu Kabupaten hasil pemekaran dari beberapa Kabupaten di Provinsi
Papua, Yang mana menyatakan bahwa harapan dari hasil pemekaran sesuai UU

4
26 Tahun 2002 dan persetujuan Presiden menyatakan bahwa untuk memacu
kemajuan Provinsi Papua pada umunya, serta Kabupaten Jayapura, kabupaten
Fak-Fak, Kabupaten Merauke dan Kabupaten Manokwari pada khususnya, serta
adanya aspirasi yang berkembang di masyarakat di pandang perlu untuk
meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan
pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Kemudian dengan munculnya atau berlakunya Undang-undang Desa No.6 Tahun
2014 maka dengan jelas dan secara hukum desa memiliki kewenangan secara
penuh dalam proses pengelolaan pemerintahan dalam proses pembangunan desa.
Dalam proses pembangunan sesuai dengan Undang-Undang Desa No.6 Tahun
2014 mengacu pada dua pola pendekatan yaitu “Desa Membangun” dan
“Membangun Desa” yang mana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan
melalui penyediaan pemenuhan kebutuahan dasar, pembangunan sarana dan
prasarana, pembangunan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya
alam dan lingkungan secara berkelanjutan.
Pembangunan desa merupakan suatu proses yang berlangsung di desa dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembanguan nasional yang
mencakup segala aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat. Dalam konteks
pembangunan, dalam pemerintahan indonesia di canangkan berbagai program
diantaranya seperti program inpres desa tertinggal, program pembangunan infra
struktrur pedesaan, program alokasi dana desa, program PNPM dan sebagainya.
Semua program khusus ini bertujuan untuk mempercepat upaya pembangunan di
daerah pedesaan.
Kepemimpinan merupakan sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan
sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan
sebagai sarana dalam rangka menyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau
dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela,
penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. Kemampuan
seseorang dalam memimpin juga sangat berpengaruh dalam proses pembangunan,

5
yang mana dalam kepempimpinan Kepala Desa amat sangat berpengaruh terhadap
berlangsungnya proses pembangunan didesa.
Namun setelah berakhirnya masa kepemimpinan Bapak Daniel Kaimeraimu,
terjadi penurunan kualitas kepemimpinan dalam meningkatkan proses
pembangunan Didesa Katan. Mengapa saya dapat katakan demikian. karena
mulai dari terpilihnya kepala desa kedua sampai saat ini belum terlihat adanya
suatu kemajuan dikampung Katan. Mulai dari pembangunan secara fisik maupun
secara non fisik, jadi seolah-olah kampung ini tidak memiliki seorang pemimpin.
Kemudian dilihat dari kehidupan masyarakat taat pada aturan dan saling
menghormati serta gotong-royong (sesuai cerita warga/dan saya sendiri melihat)
tidak diindahkan lagi. Warga sibuk berburu, sadap karet, berkebun berhutan dan
lain, dimana seolah-olah rasa memiliki kampung sudah mulai berkurang serta
tidak lagi menggap kepala desa itu penting dimata mereka. Dan lebih paranya lagi
warga hanya tahu dan mau berurusan dengan kepala Kampung kalau ada dana
RESPEK. Sehingga sosok kepemimipinan kepala desa Didesa Katan seolah-olah
telah hilang dan belum ada penggantinya. Namun patut menjadi perhatian bahwa
desa harus berkembang karena desa merupakan suatu bentuk negara kecil dari
negara republik indonesia.
Untuk itu diharapkan pada era otonomi dan demokrasi sekarang ini, partisipasi
masyarakat sangatlah penting dalam proses pembangunan. Program
pembanguanan dan patisipatif memposisikan masyarakat desa sebagai agen
pembanguan yang otonom, mandiri, mampu bekerja sama dan mempunyai potensi
untuk bangkit dari ketidak berdayaan atau keterpurukan dengan mengandalkan
pada kekuatan yang dimiliki. Secara umum pembangunan masyarakat desa
berdampak pada perubahan tata kehidupan bermasyarakat yang meliputi dua
aspek yaitu perubahan secara fisik dan teknologi serta perubahan sistem nilai dan
sikap. Jadi pembangunan bukan saja masalah penyedian pelayanan sosial, akan
tetapi juga tergantung pada faktor politik, ekonomi, kelembagaan dan budaya
yang bersama-sama semakin penting perannya dalam pemberantasan kemiskinan.
Dalam proses pembangunan masyarakat, desalah yang paling tahu kebutuhan apa

6
yang di perlukan sehingga perencanaan pembangunan di desa haruslah dimulai
dan di rencanakan oleh masyarakat desa bottom up dan tidak top down.
Sehingga kepala desa dan perangkat desa merupakan pelayanan dan
pengayoman masyarakat yang mempunyai tipe kepemimpinan yang mana mampu
mengundang partisipasi warga dalam memecahkan masalah melalui rembug desa.
Kepala desa menjadi rujukan, baik masalah pribadi maupaun kemasyarakatan, dan
pada saat-saat kritis kepala desa dapat memberikan solusi damai bagi warganya.
Keberasilan kepala desa di dalam memberikan pelayanan dan pengayoman
kepada masyarakat pada akhirnya nanti akan memberikan tingkat keberhasilan
pada tingkat pemerintahan dan tingkat pembangunan yang lebih tinggi. Sebagai
tokoh di lingkungannya,maka seorang kepala desa juga mengemban tugas
membangun mental masyarakat desa, baik dalam bentuk menumbuhkan maupun
mengembangkan semangat-semangat pembangunan. Pelayanan yang baik
mengandung unsur pengertian bahwa pelayanan lebih menitik beratkan pada
kualitas yang bermutu bagi masyarakat dan di dalamnya mengandung
keseimbangan antara pelayanan dengan kebutuhan. Artinya bahwa pelayanan
yang di berikan hendaknya bukan merupakan pelayanan yang bersifat administrasi
semata, tetapi juga memberikan pelayanan dalam arti luas, seperti pemberdayaan
kepada masyarakat, membantuk masyarakat di dalam mengelola lingkungan, dan
membangun serta mengembangkan potensi-potensi lokal yang ada di desanya
guna pelaksanaan pembangunan di desa.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan pemerintah desa ?
2. Apa peran kepemimpinan kepala desa dalam pembangunan desa ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami tentang pemerintah desa.
2. Untuk mengetahui dan memahami peran kepemimpinan kepala desa dalam
pembangunan desa.

7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Konsep Kemampuan Kepala desa dan aparat Desa Istilah "kemampuan"


mempunyai banyak makna, Jhonson dalam (Cece Wijaya,1991:3) berpendapat
bahwa "kemampuan adalah perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang
dipersyaratkan sesuai kondisi yang diharapkan".
Sementara itu, menurut Kartono (1993:13) bahwa “kemampuan adalah
segala daya, kesanggupan, kekuatan dan keterampilan teknik maupun sosial yang
dianggap melebihi dari anggota biasa.” Mengacu pada pengertian dan jenis
kemampuan tersebut di atas, maka dalam suatu organisasi pemerintahan Desa
senantiasa perlu memiliki suatu daya kesanggupan, keterampilan, pengetahuan
terhadap pekerjaan dalam pengimplementasian tugas-tugas dan fungsi masing-
masing aparat Desa. Kemampuan yang penulis maksudkan adalah kemampuan
yang dilihat dari hasil kerjanya atau kemampuan kerjanya.
Kemampuan kerja seseorang menurut Tjiptoherianto (1993:36)
mengemukakan bahwa "kemampuan kerja yang rendah adalah akibat dari
rendahnya tingkat pendidikan, dan latihan yang dimiliki serta rendahnya derajat
kesehatan". Sementara itu, menurut Steers dalam (Rasyid,1992:6) bahwa
"kemampuan aparatur pemerintah sebenarnya tidak terlepas dari pembicaraan
tingkat kematangan aparatur yang didalamnya menyangkut keterampilan yang
diperoleh dari pendidikan latihan dan pengalaman”. Berdasarkan pandangan
tersebut jelas bahwa kemampuan seseorang, dalam hal ini aparat desa dapat
dilihat dari tingkat pendidikan aparat, jenis latihan yang pernah diikuti dan
pengalaman yang dimilikinya. Secara konsepsional hal ini diperkuat dari
pandangan Steers tersebut sebelumnya bahwa untuk mengidentifikasi apakah
Kegiatan dalam organisasi dapat mencapai tujuannya salah satunya yang harus
mendapat perhatian adalah orang-orang yang ada dalam urganisasi tersebut.
Konsep Administrasi Pemerintahan Desa Sebelum menjelaskan
konsep/pengertian administrasi pemerintahan terlebih dahulu perlu dijelaskan
konsep "administrasi dan pemerintahan". Menurut Siagian (1991:2) "Administrasi

8
adalah keseluruhan proses pelaksanaan dari keputusan-keputusan yang telah
diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia
atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dewasa ini,
peranan Pemerintah Desa sebagai struktur perantara, yakni sebagai penghubung
antara masyarakat desa dengan pemerintah dan masyarakat di luar desa tetap
dipertahankan, bahkan ditambah dengan peranan lainnya yaitu sebagai agen
pembaharuan. Desa atau dengan nama lainnya yang sejenis menurut konstitusi
memperoleh perhatian istimewa. Berbagai bentuk perubahan sosial yang
terencana dengan nama pembangunan guna meningkatkan harkat dan martabat
masyarakat desa diperkenalkan dan dijalankan melalui Pemerintah Desa.
Tugas dan Fungsi Pemerintah Desa Mengingat unit pemerintahan desa
adalah bagian integral dari pemerintahan nasional, maka pembahasan tentang
tugas dan fungsi pemerintah desa tidak terlepas dari tugas dan fungsi
pemerintahan nasional seperti yang telah diuraikan dalam Undang - Undang
nomor 32 tahun 2004 pada pasal 127 tentang tugas pokok Kepala Desa yaitu :
(a) Pelaksanaan kegiatan pemerintahan desa. (b) Pemberdayaan masyarakat.
(c) Pelayanan masyarakat. (d) Penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban
umum. (e) Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum.
Pentingnya tugas administrasi pemerintahan desa, maka yang menjadi
keharusan bagi Kepala Desa dan aparatnya adalah berusaha untuk
mengembangkan kecakapan dan keterampilan mengelola organisasi pemerintahan
desa termasuk kemampuannya untuk melaksanakan tugas-tugas dibidang
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Selanjutnya menurut Beratha
(1992:37) mengemukakan bahwa tugas pemerintah desa termasuk dalam
menjalankan administrasi adalah : (a) Tugas bidang pemerintahan (b) Tugas
bidang pelayanan Kepala masyarakat. (c) Tugas bidang ketatausahaan.
Pemerintah desa adalah unsur penyelenggaraan pemerintah desa,
pemerintah mempunyai tugas pokok: Pertama, Melaksanakan urusan rumah
tangga desa, urusan pemerintahan umum, membangun dan membina masyarakat.
Kedua, Menjalankan tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten Dari tugas pokok tersebut lahirlah fungsi pemerintah desa

9
yang berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat
(Nurcholis, 2005:138)
Fungsi pemerintah desa merupakan gejala sosial, karena harus
diwujudkan dalam interaksi antar individu didalam situasi sosial suatu kelompok
masyarakat (Rivai, 2004:53).
Dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2004 yaitu pada pasal 208 “Tugas
dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintah desa
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah”.
Peraturan Pemerintah tersebut terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun
2005 tentang pemerintah desa yaitu pasal 8 yang isinya “Urusan pemerintah yang
menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada
desa sebagaimana dimaksud Universitas Sumatera Utara dalam pasal 7 huruf b
adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan
dan pemberdayaan masyarakat.
Suatu skema baru otonomi daerah yang didalamnya termuat semangat
melibatkan masyarakat, dengan menekankan bahwa kualitas otonomi daerah akan
ditentukan oleh sejauh mana keterlibatan masyarakat, maka dengan sendirinya
harus adanya seluruh aspirasi masyarakat semenjak dini (Abe, 2005).
Pembangunan dalam Agus Suryono memberikan definisi pembangunan
bahwa pembangunan seharusnya merupakan suatu proses yang saling terkait
antara proses pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial, dan demokrasi politik
yang terjadi dalam lingkaran sebab akibat kumulatif (circular cumulative caution).
Pembangunan sudah menjadi kata kunci bagi segala hal. Secara umum, kata
pembangunan diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat
dan warga negaranya (Budiman, 1995:1).
Menurut Suroto, pembangunan adalah usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan seluruh rakyat. Guna penetapan tujuan dan sasaran pembangunan
pada tiap tahap, untuk alokasi sumber-sumber serta untuk mengatasi rintangan
keterbatasan dan pertentangan ini dan untuk melakukan koordinasi kegiatan, di
perlukan kebijaksanaan yang memuat program dan cara-cara yang relevan dan
efektif yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembangunan.

10
Dengan kata lain, kebijaksanaan berisi tujuan keseluruhan dan tujuan tiap
program yang hendak dicapai pada tiap tahap pembangunan, cara yang perlukan
dilakukan untuk mengatasi semua atau berbagai keterbatasan, rintangan-rintangan
dan pertentangan yang ada atau di perkirakan akan terjadi, cara mengalokasikan
sumber-sumber pembangunan yang Universitas Sumatera Utara optimal, serta
cara melakukan koordinasi semua kegiatan yang efektif. (Suroto, 1983:78).
Pembangunan sebagai suatu peningkatan kapasitas untuk mempengaruhi
masa depan mempunyai beberapa implikasi tertentu. Pertama, berarti
memberikan perhatian terhadap kapasitas, terhadap apa yang diperlukan dilakukan
untuk mengembangkan kemampuan dan tenaga guna membuat perubahan. Kedua,
ia mencakup keadilan (equity), perhatian yang berat sebelah kepada kelompok
tertentu akan memecah belah masyarakat dan mengurangi kapasitasnya. Ketiga,
penumbuhan kuasa dan wewenang, dalam pengertian bahwa hanya jika
masyarakat mempunyai kuasa dan wewenang manfaat tertentu maka mereka akan
menerima manfaat pembangunan. Dan pada akhirnya pembangunan berarti
perhatian yang sungguhsungguh terhadap saling ketergantungan di dunia serta
perlunya menjamin bahwa masa depan dapat ditunjang kelangsungannya.
(Ketaren, 2008:37).
Randy dan Riant memberikan definisi pembangunan secara sederhana,
yaitu pembangunan secara sederhana diartikan sebagai suatu perubahan tingkat
kesejahteraan secara terukur dan alami. Dalam menyelenggarakan tindakan
pembangunan, pemerintah memerlukan dana untuk membiayai kegiatanya. Dana
tersebut dihimpun dari warga Negara dalam bentuk: pajak, pungutan, serta yang di
peroleh secara internal dari pendapatan bukan pajak dan laba perusahaan publik.
Kesejahteraan manusia merupakan fokus dari tujuan pembangunan, motivasi
pelaku pembangunan, dan perioritas pembiayaan pembangunan. (Randy dan
Nugroho, 2006:10)
Masyarakat sebagai salah satu subsistem suatu desa seharusnya dilibatkan
dalam proses pembangunan di desa. Keterlibatan itu dimulai dari tahap
perencanaan pembangunan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi hasil
pembangunan. Tanpa adanya keterlibatan masyarakat maka hasil dari

11
pembangunan belum tentu menjawab kebutuhan masyarakat dan belum
tercapainya kesejahteraan masyarakat. Peran serta masyarakat merupakan faktor
penting dalam pembangunan desa. Peran serta masyarakat yang tinggi dapat
mewujudkan tujuan dari pembangunan secara berdaya guna dan berhasil guna
(Suhardiman, 2013).
Pada dasarnya pencapaian kesejahteraan masyarakat dilalui dengan jalan
perubahan-perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, perubahan
tersebut dilakukan melalui pembangunan, tujuan pembangunan masyarakat ialah
perbaikan kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat, sehingga
kemiskinan dan lingkungan hidup masyarakat mengalami perubahan.
Pembangunan biasanya didefinisikan sebagai rangkaian usaha mewujudkan
pertumbuhan secara terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu Negara atau
bangsa menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa, misalnya
pembangunan dibidang ekonomi, apabila pembangunan ekonomi telah berjalan
dengan baik maka pembangunan dibidang lain akan berjalan dengan baik
(Siagian, 2000:4).
Peran merupakan kemampuan seseorang dalam memposisikan diri sesuai
ruang dan waktu serta dapat memahami apa yang menjadi tugas dan tanggung
jawabnya. Oleh sebab itu seorang Kepala Desa haru tahu dan mampu memainkan
perannya sebagai seorang pemimpin didesanya. Seperti kutipan dari defenisi
Peran merupakan perilaku yang di tuntut untuk memenuhi harapan dari apa yang
di perankannya. (Tim penyusun kamus pusat pembina dan pengembangan bahasa,
1985:667/ skripsi, 2010:6). Sehingga seorang kepala desa atau pun seorang
pemimpin dalam memimpin tahu apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya
dalam kepemimpinannya. Sebab seorang pemimpin atau kepala desa harus dapat
membedakan posisi dirinya dimana disatu sisi dia juga adalah bagian dari warga
desa dan disisi lain ia mempunyai tambahan nilai positif yaitu ia adalah seorang
kepala desa selaku pempinan tertinggi di desa dalam roda kepemimpinannya.
Kepemimpinan seorang kepala desa dalam roda pemerintahannya harus
mempunyai impian bukan sekedar mimpi saja, dimana ia harus mempunyai visi
dan misi yang akan berkembang dan terciptanya program-program yang akan

12
dilakukan dalam mencapai tujuan dan harapan dari suatu pembangunan. Untuk
patut kita pahami apa itu kepemimpinan. Berdasarkan kata dasar “pimpin” (lead)
yang berarti bimbing atau tuntun, yang mana didalamnya ada dua pihak yaitu
yang dipimpin (umat) dan yang memimpin (imam) dan kemudian setelah
ditambahkan awalan “pe” menjadi “pemimpin” (leader) berarti orang yang
mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga
oranglain tersebut bertindak sesuai dalam mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya
apabila ditambah akhiran “an” menjadi “pimpinan” artinya orang yang
mengepalai. Antara pemimpin dan pimpinan dapat dibedakan, yaitu pimpinan
(kepala) cendrung lebih otokratis, sedangkan pemimpin (ketua) cendrung lebih
demokratis, dan kemudian setelah dilengkapi dengan awalan “ke” menjadi
“kepemimpinan” (leadership) berarti kemapuan dan kepribadian seseorang dalam
mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan pencapaian
tujuan bersama, sehingga dengan demikian yang bersangkutan menjadi awal
struktur dan pusat proses kelompok, (kepemimpinan pemerintahan indonesia,
2003:1).
Kepemimpinan seperti dikatakan bahwa merupakan kemampuan seseorang
dalam mempengaruhi orang lain dalam mencapai apa yang diinginkannya.
Sehingga proses mempengaruhi itu harus dimiliki oleh seorang figur kepala Desa
dalam menjalankan roda pemerintahannya. Oleh sebab itu Menurut B.H. Raven
(kepemimpinan,2005:4) mendefenisikan pemimpin sebagai “seseorang yang
menduduki suatu posisi di kelompok itu sesuai dengan ekspektasi peran dari
posisi tersebut dan mengkoordianasi serta mengarahkan kelompok untuk
mempertahankan diri serta mencapai tujuan. Sehingga seorang kepala Desa harus
tegas dan berwibawa agar orang yan dipengaruhinya dapat menaruh hormat
sebagai panutan dalam kehidupannya di desa. Seperti yang dikatakan D.O. Sears
(kepemimpinan,2005:4) menyatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang
memulai suatu tindakan, memberi arah, mengambil keputusan, menyelesaikan
perselisihan diantara anggota kelompok, memberi dorongan, menjadi panutan, dan
berada di depan dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Dan disamping itu
kemampuan memimpin pun tidak begitu saja muncul bagaikan mimpin melainkan

13
melalui proses sesorang dalam perkembangan dilingkunganya maupun dalam
keluarga sehingga tiap-tiap pemimpin memiliki ciri sendiri-sendiri dalam seni
memimpin. Untuk itu seorang Kepala Desa harus memiliki pengalaman yang baik
dalam kehidupan sehari-hari dalam memiliki pengetahuan akan desa yang
dipimpinnya sehingga ia mampu memberikan seni memimpinnya dengan baik
dihati warganya. Kemudian kemampuan seseorang dalam menjalankan
kepemimpinan akan sangat lebih baik dengan pendekatan secara emosional
dibandingkan dengan melalui tindakan dengan sistem atau dengan modal
kekuasaan secara politik tanpa adanya modal hubungan emosianal dengan orang
atau kelompok yang dipimpinnya. Sebab itu seperti yang dikatakan oleh G.U.
Cleeton dan C.w. Mason (kepemimpinan pemerintahan indonesia, 2003:2)
kepemimpinan menunjukan kemampuan mempengaruhi orang-orang dan
mencapai melalui himbauan emosional dan ini lebih baik dibandingkan dengan
melalui penggunaan kekuasaan.
Disamping itu kita perlu memahami dan mengetahui seni-seni dalam
memimpin itu sendiri sehingga kita bisa paham dan mengerti model dalam
kepemimpianan seseorang dalam memimpin orang atau kelompok yang
dipimpinnya. Karena dalam proses kepemimpinan tidak terlepas dari gaya
kepemimpinan seseorang dalam mempengauhi kelompok atau orang yang
mendapat pengaruh tersebut. Jadi kepemimpinan kepala desa juga harus mampu
memiliki ciri kahs memimpin sesuai kondisi ruang dalam pola kehidupan serta
kultur yang berlaku didaerah kepemimpinannya. Ada pun beberapa model atau
gaya kepemimpinan yang dapat dipakai sebagai bahan pandangan dan mengetahi
model,seni atau gaya kepemimpinan seorang kepala Desa. Dalam buku
(kepemimpinan pemerintahan indonesia, 2003:7) yang mengatakan sebagai
berikut :

a. Gaya Demokrasi dalam Kepemimpinan Pemerintahan


Gaya demokrasi dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan irama
seorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya
dengan memakai metode pembagian tugas dengan bawahan, begitu juga antara

14
bwahan dibagi tugas secara merata dan adil, kemudian pemilihan tugas tersebut
dilakukan secara terbuka, antar bawahan di anjurkan berdiskusi tentang
keberadaannya untuk membahas tugasnya, baik bawahan terendah sekali pun
boleh menyampaikan sara serta diakui haknya, dengan demikian dimiliki
persetujuan dan konsesus atas kesepakatan bersama.
b. Gaya Birokrasi dalam Kepemimpinan pemerintahan
Gaya birokrasi dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan irama
seseorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode tanpa pandang bulu, artinya setiap
bawahan harus di perlakukan sama disiplinnya, spesialisasi tugas yang khusus,
kerja yang ketat pada aturan (rule), sehingga kemudian bawahan menjadi kaku
tetapi sederhana (zakelijk).
Dalam kepemimpinan pemerintahan seperti ini segala sesuatunya dilakukan
secara resmi di kantor pada jam dinas tertentu dan dengan tata cara formal,
pengaturan dari atas secara sentralistis, serta harus berdasarkan logika bukan
perasaan (irrasional), taat dan patuh (obedience) kepada aturan (dicipline) serta
terstruktur dalam kerja.
c. Gaya Kebebasan dalam kepemimpinan Pemerintahan
Gaya kebebasan dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan irama
seseorang pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya dengan
memakai metode pemberian keleluasaan pada bawahan seluas-luasnya, metode ini
di kenal juga dengan Laissez Faire atau liberalism.
Dengan begitu dalam gaya ini setiap bawahan bebas bersaing dalam berbagai
strategis ekonomi, politik, hukum, dan administasi. Jadi pimpinan pemerintahan
memberikan peluang besar pada kegiatan organisasi. Hal ini hanya cocok pada
daerah yang sudah modren dengan pola pikir bisa dipertanggungjawabkan, tetapi
bila di daerah tradisioanal akan membuat masyarakat semakin berada di dalam
keterbelakangan.

15
d. Gaya Otokratis dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Gaya otokratis dalam pemimpinan pemerintahan adalah cara dan irama
seseorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode paksaan kekuasaan (coercive power).
Cara ini cocok untuk mempercepat waktu di kalangan militer, karena itu
diterapkan sistem komando dengan one way traffic dalam komunikasi
pemerintahannya sehingga efektif hasilnya. Tetapi sangat berakibat fatal bagi
daerah-daerah yang sudah maju karena ketakutan bawahan hanya ketika
pemimpin pemerintahan sedang memiliki kekuasaan saja.
Dengan melihat dari gaya kepemimpinan ini dapat dijadikan suatu pandangan
seperti telah dikatakan sebelumnya. Dimana seorang pemimpin yaitu kepala desa
selaku pemimpin yang memimpin masyarakat desanya dalam mencapai tujuan
dalam pembangunan maka ia juga harus mampu memainkan peranan serta
memiliki model atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondosi desanya.
Untuk itu selain gaya kepemimpinan kita juga harus tahu tugas dan tanggung
jawab seorang kepala Desa agar dalam kepemimpinannya ia dapat menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya sesuai aturan yang belaku. Dengan meliahat
undang-undang yang baru yaitu undang-undang desa no.6 tahun 2014 yang mana
dengan jelas dijabarkan tugas dan tanggung jawab seorang kepala desa. Kepala
desa adalah sorang pemimpin di desa dimana ia mempunyai hak penuh dan
sebagai tokoh yang sangat berperan penting dalam sendi-sendi kehidupan
warganya dalam proses pertumbuhan pembangunan di desa. Yang mana sesuai
dengan Undang-Undang Desa No.06 Tahun 2014 maka dikatakan pasal 26, 27,
28,29 dan 30 sebagai berikut :

 Pasal 26
1. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan
Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan
masyarakat Desa.
2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa
Berwewenang:

16
a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
b. Mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa;
c. Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan Aset Desa;
d. Menetapkan peraturan Desa;
e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
f. Membina kehidupan masyarakat Desa;
g. Membina ketentraman dan ketertiban masyaraka Desa;
h. Membina dan meningkatan perekonomian Desa serta
mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk
sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa;
i. Mengembangkan sumber pendapatan Desa;
j. Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negar aguna
meningkatkan kesejahteraan masyaakat Desa;
k. Mengenbakan kehidupan social budaya masyarakat Desa;
l. Memanfaatkan teknologi tepat guna;
m. Mengkoordinasi pembangunan desa secara partisipaif;
n. Mewakili desa di dalam dan diluar pengadilan atau menunjuk kuasa
hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan perauran perundang-
undangan
o. Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peranturan
perundang-undangan.
3. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaiman dimaksud pada ayat (1), Kepala
Desa berhak:
a. mengusulkan struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Desa;
b. mengajukan rancangan Peraturan Desa;
c. menerima penghasilan tetap setiap bulan, tunjangan, dan penerimaan
lainnya yang sah, serta mendapat jaminan kesehatan;
d. mendapatkan pelindungan hukum atas kebijakan yang dilaksanakan;
dan
e. memberikan mandat pelaksanaan tugas kewajiban lainnya kepada
perangkat Desa

17
4. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa
berkewajiban:
a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika;
b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa;
c. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa;
d. menaati dan menegakkan peraturan perundangundangan;
e. melaksanakan kehidupan demokrasi dan berkeadilan gender;
f. melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang akuntabel, transparan,
profesional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi, dan
nepotisme;
g. menjalin kerja sama dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan di
Desa;
h. menyelenggarakan administrasi pemerintahan Desa yang baik;
i. mengelola keungan dan Aset Desa;
j. meaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Desa;
k. menyelaesaikan perselisihan masyarakat di Desa;
l. mengembangkan perekonomian masyarakat Desa;
m. membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat Desa;
n. memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan Desa;
o. mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan
hidup; dan
p. memberikan informasi kepada masyaakat Desa.
 Pasal 27
Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam pasal 26, kepala desa wajib :
a. Menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan Desa setiap akhir
tahun anggaran kepad bupati/walikota;

18
b. Menyampaikan laporan pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan
kepada Bupati/Walikota;
c. Memberikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerinah secara
tertulis kepada Ban Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran;
dan
d. Memberikan dan/atau menyebar informasi penyelenggaraan pemerintahan
secara tertulis kepada masyarakat Desa setiap tahun anggaraan.
 Pasal 28
1. Kepala Desa yang tidak melaksanakan kewajiban sebagai yang dimaksud
dalam pasal 26 ayat (4) dan Pasal 27 dikenai sanksi administratif berupa
teguran lisan dan/atau teguran tertulis.
2. Dalam hal sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
dilaksanakan, dilakukan tindakan pemberhentian sementara dan dapat
dilanjutkan dengan pemberhentian.
 Pasal 29
Kepala Desa dilarang:
a. merugikan kepentingan umum;
b. membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga,
pihak lain, dan/atau golongan tertentu;
c. menyalahgunakan wewenang, tugas, hak, dan/atau kewajibannya;
d. melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga dan/atau golongan
masyarakat tertentu;
e. melakukan tindakan meresahkan sekelompok masyarakat Desa;
f. melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme, menerima uang, barang,
dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat memengaruhi keputusan atau
tindakan yang akan dilakukannya;
g. menjadi pengurus partai politik;
h. menjadi anggota dan/atau pengurus organisasa terlarang;
i. merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota Badan
Permusyawaratan Desa, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dewan

19
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten/Kota, dan jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan
perundangan-undangan;
j. ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan/atau
pemilihan kepala daerah;
k. melanggar sumpah/janji jabatan; dan
l. meninggalkan tugas selama 30 (tiga puluh) hari kerja berturut-turut tanpa
alasan yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
 Pasal 30
1. Kepala Desa yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
dikenai sanksi administratif berupa teguran lisan dan/atau teguran tertulis.
2. Dalam hal sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
dilaksanakan, dilakukan tindakan pemberhentian sementara dan dapat dilanjutkan
dengan pemberhentian.
II.Pembangunan Desa
Pembangunan merupakan proses perubahan dari suatu kondisi tertentu
kepada kondisi yang lebih baik, oleh karena itu setiap tempat yang dihuni
mahkluk hidup dan terkhususnya manusia menginginkan suatu perubahan dari
yang kurang menuju yang lebih baik atau yang tidak ada menjadi ada.
Pembangunan yang bermakna adalah saat seseorang atau sebuah kelompok dapat
merencanakan dan melaksanakan perbaikan dan pemecahan masalahnya sendiri.
Persis perumpamaan kuno : seseorang yang disedekahi sekeranjang ikan bakal
kenyang selama satu dua hari; jika ia mendapat kail maka kenyanglah dia seumur
hidupnya – malah bisa juga menjadi pengekspor cakalang. (pembebasan dan
pembangunan, 1997 : hal 04).
Dalam era sekarang ini kata pembangunan bukan merupakan sesuatu yang
asing lagi untuk di dengar, namun kata pembangunan itu terkadang hanya
dijadikan money politik saja atau sebuah janji-janji manis yang hanya dilontarkan
oleh seorang yang hanya menjari kesempatan dalam menggapai masa. Sehingga
pembangunan yang kita harapkan adalah suatu perubahan yang akan dilakukan
oleh seorang pemimpin yang mana merupakan hasil representasi dari rakyat tapi

20
kenyataannya rakyat lagi-lagi harus dikecawakan. Untuk itu dalam
perkembangannya perlu dilakukan sesutu bentuk susunan perencanaan yang
dibuat oleh masyarakat bersama wakilnya dalam mencapai apa yang menjadi
tujuan mereka bersama.
Oleh sebab itu dalam proses pembangunan didesa perlu diperhatiakan tiga
aspek pembangunan yang merupakan dimensi dari pembangunan diamana adanya
Pembangunan ekonomi, Pembangunan politik, dan Pembangunan sosial. Oleh
sebah itu di desa pun harus memperhatikan tiga dimensi pembangunan ini, agar
dalam perkembangannya selalu stabil dan menjadi tolak ukur dari pembangunan
itu sendiri.
Sangtlah jelas bahwa dari ketiga dimensi pembangunan yang harus
dilakukan didesa, maka harus menjadi perhatian khusus bagi masyarakat maupun
pemerintah desa dan yang terlebih khusunya kepala desa sebagai pimpinan yang
sangat kuat dalam mengontrol dan mengawasi pembangunan di desa.
Tidak terlepas dari itu yang harus diperhatikan adalah peran serta aktifnya
masyarakat dalam berpartisipasi dalam proses maupun awal perencanaan itu
dibuat. Sehingga dalam perkembangannya akan menjadi baik sesuai yang
diinginkan, seperti perumpamaan kuno tadi bahwa masyarakat harus memiliki kail
sendiri sehingga ia mampu bertahan hidup dan mampu memecahkan masalahnya
sendiri serta bisa menghasilkan lebih bagi Desanya. Tak lepas dari itu adapun
defenisin, menurut Cambridge, England pada Tahun 1948, P.M.D (pembangunan
masyarakat Desa, 1983: hal 17) suatu gerakan untuk menciptakan kehidupan yang
lebih baik bagi seluruh masyarakat, dengan partisipasi aktif dan apabila mungkin
didasarkan atas inisiatif masyarakat, tetapi apabila inisiatif ini tidak datang maka
dipergunakan teknik-teknik untuk untuk menimbulkan dan mendorongnya keluar
supaya kegiatan dan response yang antusias terjamin.
Dengan kata lain secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa
pembangunan akan berjalan dimana adanya kerja sama antara masyarakat dalam
pemerintah desa dalam merumuskan, menetapkan dalam melakukan proses dari
pembangunan itu serta adanya kontrol dan pengawasan yang aktif dari keduanya.

21
Karena Desa adalah bentuk dari suatu negara yang kecil maka perlu
menjadi perhatian khusus akan desa itu sendiri. Apalagi dengan keluarnya
Undang-Undang Desa No 06 Tahun 2014 maka disini sangat jelas desa sangat di
perhatikan baik secara asal-usulnya, anggaran maupun proses berkembangannya
desa itu kearah yang lebih baik, yangmana desa makmur maka Negara pun akan
mendapat dampaknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kunci keberhasilan
kepemimpinan kepala desa jika terjadi suatu pembangunan didesa yang
berdampak pada masyarakat serta lingkungannya desa dan dapat mensejahterakan
masyarakat desa.

22
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pemerintah Desa
Kepala desa adalah sebutan pemimpin desa di Indonesia. Kepala desa merupakan
pimpinan tertinggi dari pemerintah desa. Masa jabatan kepala desa adalah 6
(enam) tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk 3 (tiga) kali masa jabatan
berikutnya berturut-turut atau tidak.[1] Kepala desa tidak bertanggung jawab
kepada Camat, namun hanya dikoordinasikan saja oleh Camat. Kepala desa
bertanggung jawab kepada Pembantu pimpinan wilayah daerah tingkat II (dikenal
dengan istilah wedana). Jabatan kepala desa dapat disebut dengan nama lain,
misalnya wali nagari (Sumatera Barat), pambakal (Kalimantan Selatan), hukum
tua (Sulawesi Utara), perbekel (Bali), kuwu (Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang
dan Indramayu).
Perbedaan dengan Lurah
Istilah lurah seringkali rancu dengan jabatan kepala desa. Di Jawa pada
umumnya, dahulu pemimpin dari sebuah desa dikenal dengan istilah lurah.
Namun dalam konteks Pemerintahan Indonesia, sebuah kelurahan dipimpin oleh
lurah, sedang desa dipimpin oleh kepala desa. Perbedaan yang jelas di antara
keduanya adalah lurah juga seorang pegawai negeri sipil yang bertanggung jawab
kepada camat; sementara kepala desa bisa dijabat siapa saja yang memenuhi
syarat (bisa berbeda-beda antar desa) yang dipilih langsung oleh rakyat melalui
Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).
Wewenang
Wewenang kepala desa antara lain:
 Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan
yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
 Mengajukan rancangan peraturan desa
 Menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama
BPD

23
 Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) untuk dibahas dan ditetapkan
bersama BPD
Kepala desa dilarang menjadi pengurus partai politik (namun boleh menjadi
anggota partai politik), merangkap jabatan sebagai Ketua atau Anggota BPD, dan
lembaga kemasyarakatan, merangkap jabatan sebagai anggota DPRD, terlibat
dalam kampanye Pemilihan Umum, Pemilihan Presiden, dan Pemilihan Kepala
Daerah.
Kepala desa dapat diberhentikan atas usul pimpinan BPD kepada bupati/Wali
kota melalui camat, berdasarkan keputusan musyawarah BPD.
Pemilihan kepala desa
Kepala desa dipilih langsung melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)
oleh penduduk desa setempat. Usia minimal Kepala Desa adalah 25 tahun, dan ia
harus berpendidikan paling rendah SLTP, dan termasuk penduduk desa setempat.
Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Desa dilakukan oleh Panitia Pemilihan, yang
dibentuk oleh BPD,[2] dan anggotanya terdiri dari unsur perangkat desa, pengurus
lembaga kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat.
Cara pemilihan kepala desa dapat bervariasi antara desa satu dengan lainnya.
Pemilihan kepala desa dan masa jabatan kepala desa dalam kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui
keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat.

Secara umum di Indonesia, desa (atau yang disebut dengan nama lain
sesuai bahasa daerah setempat) dapat dikatakan sebagai suatu wilayah terkecil
yang dikelola secara formal dan mandiri oleh kelompok masyarakat yang berdiam
di dalamnya dengan aturanaturan yang disepakati bersama, dengan tujuan
menciptakan keteraturan, kebahagiaan dan kesejahteraan bersama yang dianggap
menjadi hak dan tanggungjawab bersama kelompok masyarakat tersebut. Wilayah
yang ada pemerintahannya Desa/Kelurahan langsung berada di bawah
Camat. Dalam sistem administrasi negara yang berlaku sekarang di Indonesia,
wilayah desa merupakan bagian dari wilayah kecamatan, sehingga kecamatan

24
menjadi instrumen koordinator dari penguasa supra desa (Negara melalui
Pemerintah dan pemerintah daerah).
Pada awalnya, sebelum terbentukya sistem pemerintahan yang menguasai
seluruh bumi nusantara sebagai suatu kesatuan negara, urusan-urusan yang
dikelola oleh desa adalah urusan-urusan yang memang telah dijalankan secara
turun temurun sebagai norma-norma atau bahkan sebagian dari norma-norma itu
telah melembaga menjadi suatu bentuk hukum yang mengikat dan harus dipatuhi
bersama oleh masyarakat desa, yang dikenal sebagai hukum adat. Urusan yang
dijalankan secara turun temurun ini meliputi baik urusan yang hanya murni
tentang adat istiadat, maupun urusan pelayanan masyarakat dan pembangunan
(dalam administrasi pemerintahan dikenal sebagai urusan pemerintahan), bahkan
sampai pada masalah penerapan sanksi, baik secara perdata maupun pidana.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat,
berdasarkan asal- usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengertian desa dari
sudut pandang sosial budaya dapat diartikan sebagai komunitas dalam kesatuan
geografis tertentu dan antar mereka saling mengenal dengan baik dengan corak
kehidupan yang relatif homogen dan banyak bergantung secara langsung dengan
alam. Oleh karena itu, desa diasosiasikan sebagai masyarakat yang hidup secara
sederhana pada sektor agraris maupun pesisir, mempunyai ikatan sosial, adat dan
tradisi yang kuat, bersahaja, serta tingkat pendidikan yang rendah (Juliantara,
2005: 18).
Dalam pasal 2 ayat (1) dikatakan bahwa desa dibentuk atas prakarsa
masyarakat dengan memperhatikan asal-usul desa dan kondisi sosial budaya
masyarakat setempat. Pada ayat (2) tertulis bahwa pembentukan desa harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Jumlah Penduduk.
b. Luas Wilayah.

25
c. Bagian Wilayah Kerja.
d. Perangkat, dan.
e. Sarana dan Prasarana Pemerintahan.
3.2 Peran Kepemimpinan Kepala Desa dalam Pembangunan Desa
Kepemimpinan Kepala Desa merupakan faktor penting untuk menentukan
kemajuan desa yang menjadi tanggung jawabnya, tetapi seorang Kepala Desa juga
tidak mungkin melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk menjadikan
desa semakin maju tanpa adanya dukungan dan partisipasi dari masyarakat, untuk
itu kepemimpinan dan juga partisipasi dari masyarakat harus berjalan secara
seiring dan sejalan agar tercipta suasana yang kondusif dan harmonis sehingga
tujuan dan cita-cita untuk menjadikan desa semakin baik akan bisa terwujud.
Penyelenggaraan pemerintahan desa bertugas dan berkewajiban terhadap
seluruh kegiatan pemerintahan desa adalah Kepala Desa. Adapun tugas dan
kewajiban Kepala Desa adalah salah satunya memimpin penyelenggaraan
pemerintahan desa. Oleh karena itu Kepala Desa dalam menyelenggarakan
pemerintahan tidak mungkin dilakukan sendiri, Kepala Desa juga perlu partisipasi
dari semua lapisan masyarakat untuk ikut mensukseskan program pembangunan
yang ada di desa. Peran Kepala Desa sangat diperlukan dalam hal peningkatan
kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program-program desa. Dan
upaya Kepala Desa dalam meningkatkan partisipasi masyarakat desa salah
satunya ditunjukkan dengan cara pendekatan terhadap warga.
Figur seorang pemimpin juga harus bisa memberikan kesan yang positif
kepada warganya dan bukan hanya pencitraan ketika menjelang pemilihan umum
saja, tetapi memang benar-benar loyalitas dan juga mampu memimpin dengan
baik, karena faktor subyektifitas masih sangat mungkin terjadi. Dengan adanya
kesan yang positif dari masyarakat maka akan lebih mudah proses interaksi dan
juga komunikasi antar semua lapisan masyarakat semakin bisa berjalan dengan
baik sehingga terciptanya suatu kondisi yang harmonis dan dengan sendirinya
kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap program desa bisa
terwujud (Miftahus Surur, 2013).

26
Hermansyah dalam eJournal Pemerintahan Integratif, Peran Kepala Desa
Dalam Pelaksanaan Pembangunan menjelaskan Peran Kepala Desa dalam
pelaksanaan pembangunan Desa yaitu:
a. Peran Kepala Desa sebagai motivator, pendorong, penggerak atau seseorang
yang memberikan motivasi untuk mencapai suatu tujuan agar pelaksanaan
pembangunan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kepala Desa selalu
memberikan motivasi serta masukan-masukan dan dukungan dengan memberi
semangat kepada aparatur pemerintah di Kantor Desa, selain dari pada itu
Kepala Desa adalah seorang pemimpin yang mempunyai rasa tanggung jawab
yang tinggi kepada masyarakat Desa. Dalam pelaksanaan pembangunan yang
sedang berjalan peran dari seorang kepala desa harus bisa memberikan
kepuasan serta pelayanan yang baik bagi masyarakat desa, dengan adanya
kewenangan yang dimiliki sebagai pimpinan pemerintahan di desa. Kepala
desa tidak sekedar memfasilitasi masyarakat dengan pembangunan fisik tetapi
juga melalui pembinaan mental dan spiritual.
b. Peran Kepala Desa sebagai fasilitator, bahwa Kepala Desa menjalankan
perannya sebagai fasilitator dalam hal memfasilitasi atau melengkapi
kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembangunan.
c. Peran Kepala Desa sebagai mediator, yaitu yang menentukan keberhasilan
setiap program dan rancangan pembangunan yang telah di rencanakan oleh
karena itu peran kepala desa sebagai mediator harus dapat dilaksanakan
dengan baik (Hermansyah, 2015).
Adanya peran aktif atau partisipasi dari masyarakat merupakan bentuk
konsep pembanguan daerah dengan cara pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah konsep pembangunan menuju
kesejahteraan masyarakat yang melibatkan nilai-nilai sosial. Konsep ini
mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni bersifat people centred,
participatory, empowering, and sustainable (Chambers dalam Huraerah,
2008:81).
Disinilah letak Lurah berperan dengan penggunaan kewenangannya
sebagai pemimpin. Melalui kesan formal yang melekat sebagai seorang

27
pemimpin. Selain bertugas secara adminitratif dan memberikan pelayanan umum
beserta kelengkapan infrastukturnya, Lurah sebagai pemimpin dalam menjalankan
amanat UU. 32 tahun 2004, mempunyai tugas dalam pemberdayaan masyarakat
(pasal 127 ayat 3).
Dalam melaksanakan program pembangunan pemberdayaan masyarakat
secara partisipatif, Kelurahan tidak bekerja sendirian, melainkan bersama
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan. Dalam perannya terhadap
partisipasi pemberdayaan masyarakat, lurah berinisiatif melalui langkah persuasi
dalam menyampaikan informasi seputar Kelurahan dengan melakukan
komunikasi publik melalui sarana pertemuan warga. Sarana yang sering
digunakan oleh Lurah seperti Masjid dimana lurah sering diminta menjadi
penceramah pada kegiatan shalat Jum’at. Selain Masjid saran yang perkumpulan
warga seperti tahlilan juga menjadi sarana penyampaian informasi kepada
masyarakat. Lurah mencoba membangun kepercayaan kepada masyarakat dengan
cara selalu mendatangi setiap undangan dari masyarakat. Dan adapun faktor
penghambat yang dimiliki lurah dalam peran membangun pembangunan daerah di
Kelurahan meliputi kurangnya intensitas pertemuan pada tingkat RW, tidak
sepenuhnya pengurus LPMK aktif, dan primordial Kepemimpinan Lurah (Aji
Budiono, 2013).
Fungsi pemerintah desa merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan
dalam interaksi antar individu didalam situasi sosial suatu kelompok masyarakat
(Rivai, 2004:53).
Adapun fungsi pemerintah desa secara operasional dapat dibedakan dalam
fungsi pokok, yaitu sebagai berikut: (1) Fungsi Instruktif Fungsi ini bersifat
komunikasi satu arah. Pemerintah sebagai komunikator merupakan pihak yang
menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana pemerintah itu dikerjakan
agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. (2) Fungsi Konsultatif Fungsi
ini digunakan sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan sebagai usaha
untuk menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan mungkin
perlu konsultasi dengan masayarakat-masyarakat yang di pimpinnya. (3) Fungsi
Partisipasi Dalam menjalankan fungsi ini pemerintah desa berusaha mengaktifkan

28
masyarakatnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi
dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama dengan tidak
mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. (3) Fungsi Delegasi Fungsi
ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau
menetapkan baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan pemerintah.
Fungsi delegasi ini pada dasarnya berarti kepercayaan. (4) Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu
mengantar aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam. Koordinasi yang
efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.
Dalam melaksankan fungsi pengendalian pemimpin dapat mewujudkannya
melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan pengawasan.
Berdasarkan pasal 14 dan 15 Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 bahwa
pemerintah desa mempunyai tugas penyelenggaraan urusan pemerintahan,
pembangunan, dan kemasyarakatan.
Pertama, urusan pemerintahan yang dimaksud adalah pengaturan
kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan
peraturan desa, pembentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan
Usaha Milik Desa, kerjasama antar desa.
Kedua, urusan pembangunan yang dimaksud adalah pemberdayaan
masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas umum desa seperti jalan
desa, jembatan desa, irigasi desa, pasar desa.
Ketiga, urusan kemasyarakatan ialah pemberdayaan masyarakat melalui
pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan,
pendidikan, adat istiadat.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana diatas kepala desa mempunyai
wewenang:
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan kebijakan yang
ditetapkan bersama BPD.
b. Mengajukan rancangan pengaturan desa.
c. Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD.

29
d. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mangenai APB Desa untuk
dibahas dan ditetapkan bersama BPD.
e. Membina kehidupan masyarakat desa.
f. Membina preekonomian desa.
g. Mengkoordinasi pembangunan desa secara partisipatif.
h. Mewakili desanya didalam dan diluar pengendalian dan dapat menunjukan kuasa
hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
i. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Seluruh fungsi pemerintah desa tersebut dilaksanakan atau diselenggarakan dalam
aktivitas pemerintah desa secara integral.
Pelaksanaan berlangsung sebagai berikut:
1. Pemerintah desa berkewajiban manjabarkan program kerja.
2. Pemerintah desa harus berusaha mengembangkan kebebasan berfikir dan
mengeluarkan pendapat.
3. Pemerintah desa harus berusaha memberikan petunjuk yang jelas.
4. Pemerintah desa harus mampu memecahkan masalah dan mengambil
keputusan masalah sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing.
5. Pemerintah desa harus mampu mengembangkan kerjasama yang harmonis.
6. Pemerintah desa harus mampu menumbuh dan mengembangkan kemampuan
memiliki tanggung jawab.
7. Pemerintah desa harus mampu mendayagunakan pengawasan sebagai alat
pengendali.
Dari ketentuan diatas telah dijelaskan fungsi dan tugas pemerintah desa
akan tetapi perlu diketahui bahwa pentingnya kerjasama dengan orang lain dalam
rangka pencapaian tujuan, apakah itu tujuan individu atau kelompok. Berangkat
dari kenyataan bahwa secara interen dalam diri setiap manusia terdapat
keterbatasan-keterbatasan, baik dalam arti fisik maupun intelektual.
Dalam berbagai keterbatasan tersebut tidak memungkinkan seseorang
manusia memuaskan segala keinginan, harapan, cita-cita dan kebutuhannya
apabila bekerja sendirian tanpa bantuan oleh orang lain. Dalam suatu masyarakat
yang sederhana sekalipun, dalam keadaan mana tujuan yang hendak dicapai masih

30
sederhana dan kebutuhan yang hendak dicapai tidak rumit, kerjasama dengan
orang lain sudah dirasakan pentingnya.
Dalam hubungan ini perlu ditekankan bahwa masyarakat terdiri dari
individu-individu yang mempunyai jati diri yang khas dengan cita-cita, harapan,
keinginan dan kebutuhan yang berbeda, perbedaan tersebut harus diterima dan
diakui sebagai kenyataan. Mengakui dan menerima kenyataan secara implisit juga
berarti bahwa manusia merupakan makhluk yang dinamis. Salah satu implikasi
dinamika itu ialah bahwa makin maju seseorang dan suatu masyarakat maka
kebutuhannya pada giliranya menjadikan upaya pencapaiannya semakin sulit
(Siagian, 2000:132).
Dua manisfestasi yang menonjol dari dinamika tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Semakin maju suatu masyarakat, mereka semakin sadar bahwa pemuasan
kebutuhan yang bersifat fisik saja seperti sandang, pangan dan papan tidak lagi
memadahi seperti kebutuhan akan keamanan, kebutuhan akan sosial, pengakuan
akan harkat dan martabat, serta jaminan perolehan haknya terutama yang bersifat
azasi.
2. Berkat keberhasilan suatu Negara menyelenggarakan pembangunan dibidang
sosial budaya khususnya pendidikan, para warga Negara dan masyarakat semakin
cerdas sehingga membuat mereka semakin sadar akan hak dan kewajiban,
meskipun harus diakui bahwa tidak sedikit diantara mereka yang cenderung lebih
mengutamakan perolehan haknya dibandingkan dari kewajiban.
Dari dua hal diatas terlihat bahwa dinamika masyarakat baik secara
individu sebagai masyarakat dan akhirnya sebagai bangsa menuntut peningkatan
peranan pemerintah desa dengan seluruh jajarannya untuk memainkan peranan
secara proaktif dan menyelenggarakan fungsinya secara efisiensi dan efektif.
Untuk mewujudkan peranan pemerintah desa tersebut maka perlu dan harus
melakukan komunikasi dengan masyarakat supaya mereka mengerti tentang ide
pembangunan sehingga dapat dan mau berpartisipasi dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan yang akan dan sedang
dilakukan.

31
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang tugas-tugas
administrasi pemerintahan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
a. Tugas bidang pemerintahan, meliputi : 1. Registrasi Registrasi dilakukan dalam
berbagai buku register mengenai berbagai hal dan peristiwa yang menyangkut
kehidupan tindakan masyarakat berdasarkan laporan yang diperoleh melalui sub
pelayanan umum dari masyarakat yang berkepentingan. 2. Tugas-tugas umum
meliputi : menerima dan melaksanakan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk
dari pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten mengenai pemerintahan,
tugas-tugas teknis, ; ketertiban, kesejahteraan dan keamanan, 3. Membuat laporan
periodik mengenai keadaan dan perubahan penduduk, keamanan serta sosial
ekonomi. 4. Melaksanakan hal-hal yang sudah menjadi keputusan ditingkat desa.
5. Melaksanakan kerjasama dengan instansi ditingkat Desa dan menyelesaikan
permasalahan yang berhubungan dengan tanah.
b. Tugas bidang pelayanan umum, meliputi 1. Pemberian bermacam-macam izin,
seperti izin tempat tinggal, izin meninggalkan desa, izin usaha dan izin pendirian
bangunan. 2. Memberikan macam-macam keterangan seperti : bukti diri,
keterangan catatan kepolisian dan sebagainya.Peranan berasal dari kata peran.
Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat diharapkan yang dimiliki oleh
yang berkedudukan di masyarakat. Sedangkan peranan adalah bagian dari tugas
utama yang harus dilaksanakan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989).
3.3 Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan
Partisipasi masyarakat adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh
perorangan maupun secara berkelompok maupun masyarakat untuk menyatukan
kepentingan atau keterkaitan mereka terhadap organisasi atau masyarakat dalam
rangka mencapai tujuan masyarakat tersebut. Partisipasi dapat di definisikan
sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang didalam situasi
kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok
dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang
bersangkutan.
Partisipasi dapat dipahami dalam dua hal yaitu: pertama, partisipasi
merupakan sebuah alat, dimana partisipasi dilihat sebagai sebuah teknik untuk

32
mambantu memajukan program desa atau disebut pembangunan partisipasi.
Kedua, partisipasi sebagai sebuah tujuan itu sendiri yang dapat dinyatakan sebagai
pemberdayaan rakyat yang dipandang dari segi perolehan keahlian, pengetahuan
dan pengalaman masyarakat untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar
untuk membangun.
Partisipasi dalam kamus besar Bahasa Indonesia yaitu tindakan ikut
mengambil bagian, keikutsertaan atau ikut serta. Menurut Juliantara (2004:84)
partisipasi diartikan sebagai keterlibatan setiap warga Negara yang mempunyai
hak dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui
intermediasi institusi yang mewakili kepentingannya, partisipasi masyarakat
merupakan kebebasan berbicara dan berpartisipasi secara konstruktif.
Di dalam suatu masyarakat yang sudah berkembang, maka tingkat
partisipasi masyarakat tersebutpun boleh dikatakan cukup baik, tingkat ini
tergantung dari kesadaran masyarakat adalah tanggung jawabnya terhadap
pembangunan, rasa tanggung jawab dan kesadaran ini harus muncul apabila
mereka dapat menyetujui suatu hal atau dapat menyerap suatu nilai. Untuk itulah
diperlukan adanya perubahan sikap mental kearah yang lebih baik yang dapat
mendukung pembangunan.
Partisipasi masyarakat dapat di definisikan sebagai keterlibatan dan
pelibatan anggota masyarakat dalam pembangunan, meliputi kegiatan dalam
perencanaan dan pelaksanaan (implementasi) program pembangunan. Peningkatan
partisipasi masyarakat tersebut merupakan salah satu bentuk pemberdayaan
masyarakat (social empowerment) secara aktif yang berorientasi pada pencapaian
hasil pembangunan yang dilakukan dalam masyarakat (pedesaan). (Adisasmita,
2006:38)
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya pemanfaatan dan
pengelolaan sumber daya masyarakat pedesaan secara lebih aktif dan efisien, yaitu
dalam hal sebagai berikut: a. Aspek masukan atau input (SDM, dana,
peralatan/sarana, data, rencana, dan teknologi) b. Aspek proses (pelaksanaan,
monitoring, dan pengawasan) c. Aspek keluar atau output (pencapaian sasaran,

33
efektivitas dan efesiensi) Partisipasi masyarakat telah sekian lama
diperbincangkan dan didengarkan dalam berbagai forum dan kesempatan.
Intinya adalah agar masyarakat umum atau sebanyaknya orang ikut serta
dengan pemerintah memberikan bantuan guna meningkatkan, memperlancar,
mempercepat, dan menjamin berhasilnya usaha pembangunan. Maka secara
umum partisipasi dapat diartikan sebagian “pengikutsertaan” atau pengambilan
bagian dalam kegiatan bersama.
Menurut Dwipayana (2003:81), partisipasi menyangkut dua dimensi yakni
keluar dan kedalam. Yang pertama, menyangkut partisipasi yang melibatkan
pemerintahan itu sendiri dan kedua, menyangkut partisipasi warga desa terhadap
jalannya pemerintahan.
Partisipasi yang melibatkan pemerintahan itu sendiri adalah menyangkut
seberapa besar keikutsertaan aparatur desa dalam pembangunan desa, hal ini dapat
tercermin dari penegakkan demokrasi, manjalin hubungan yang harmonis dengan
lembaga adat ataupun agama yang ada, pengelolaan konflik dan menciptakan
masyarakat yang mandiri serta menjalankan pemerintahan yang baik dan benar
sesuai dengan koridor hukum dan peraturan yang berlaku.
Di dalam suatu masyarakat yang sudah berkembang, maka tingkat
partisipasi masyarakat tersebutpun boleh dikatakan cukup baik, tingkat ini
tergantung dari kesadaran masyarakat adalah tanggung jawabnya terhadap
pembangunan, rasa tanggung jawab dan kesadaran ini harus muncul apabila
mereka dapat mensetujui suatu hal atau dapat menyerap suatu nilai. Muncul
apabila mereka dapat mensetujui suatu hal atau dapat menyerap suatu nilai. Untuk
itulah diperlukan adanya perubahan sikap mental kearah yang lebih baik yang
dapat mendukung pembangunan. Tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi akan
memunculkan kemandirian masyarakat baik dalam bidang ekonomi, sosial, agama
dan budaya, yang secara bertahap akan menimbulkan jati diri, harkat dan martabat
masyarakat tersebut secara maksimal.
Menurut Tjokromidjojo (dalam Safi’i, 2007:104) partisipasi masyarakat
dalam pembangunan dibagi atas tiga tahapan, yaitu: a. Partisipasi atau keterlibatan
dalam proses penentuan arah, strategi dan kebijakan pembangunan yang

34
dilakukan pemerintah. b. Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab
dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. c. Keterlibatan dalam memetik dan
memanfaatkan pembangunan secara berkeadilan. Partisipasi masyarakat dalam
pembangunan merupakan bagian integral yang harus ditumbuhkembangkan, yang
pada akhirnya akan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging), rasa
tanggung jawab (sense of responbility) dari masyarakat secara sadar, bergairah
dan tanggung jawab (Tjokromidjojo, 2002).
Selanjutnya partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan yang sering
di abaikan dan hampir tidak kelihatan adalah partisipasi dalam hal pengambilan
keputusan. Hal ini disebabkan bahwa selama ini kebijakan-kebijakan yang ada
adalah kebijakan yang diambil secara sepihak yaitu pemerintahan itu sendiri baik
dari level yang paling atas (pemerintah pusat) sampai pada akhirnya jatuh kepada
kepala desa.
Pengambilan keputusan ini seringkali tidak melibatkan masyarakat desa
sehingga pada tiap-tiap desa untuk wilayah tertentu akan sulit menterjemahkan
kebijakan yang ada karena tidak sesuai dengan kondisi maupun keinginan
masyarakat setempat.
Kebijakan-kebijakan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan
kepentingan masyarakat akan sangat tergantung kepada siapa yang
menentukannya, bagaimana proses penentuannya serta bagaimana
diimplementasikanya agar masyarakat dapat membangun opini dan menentukan
berpihakan publik, maka diperlukan suatu mekanisme yang memberikan ruang
kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses
pengambilan keputusan.
Untuk itu harus ada rumusan ataupun strategi yang di ciptakan guna
melibatkan masyarakat dalam pengambilaan keputusan mengenai kebijakan yang
bersifat langsung melibatkan kepentingan desa dan masyarakat desa itu sendiri.
Membuat strategi perencanaan bersama masyarakat yaitu melalui
serangkaian aktivitas perencanaan bersama masyarakat berusaha menguatkan
kapasitas masyarakat sekaligus mengupayakan kerjasama/kemitraan yang lebih
erat antar berbagai pelaku pembangunan (Pemerintah Daerah, DPRD dan

35
Masyarakat) dalam menghasilkan kebijakan yang benar-benar dibutuhkan daerah
(Hidayat, 2004:74).
Strategi perencanaan masyarakat yang dilakukan adalah untuk menjadikan
partisipasi masyarakat bukan sebagai kesempatan yang diberikan oleh pemerintah
daerah dengan alasan kebaikan hati melainkan dimaksudkan sebagai suatu
pelayanan dasar yang tersedia dan bagian yang menyatu dalam pengelolaan
pembangunan daerah di era ini.
Adapun tujuan dari serangkaian aktivitas perencanaan bersama masyarakat
meliputi antara lain mengurangi berbagai hambatan yang memisahkan antara
masyarakat dengan pemerintahannya, mendorong masyarakat dan aparat
pemerintah secara bersama-sama untuk mencapai jalan keluar dari berbagai
masalah umum yang mereka hadapi, sekaligus berkontribusi dalam pembangunan
demokratisasi, membangun kapasitas lokal untuk mendorong pengelolaan
pembangunan daerah secara partisipatif, sebagai hasil dari pendekatan yang
diupayakan. Untuk itu keterlibatan antara kedua belah pihak ini (Aparat
pemerintah dan masyarakat) dalam pembangunan sangatlah di butuhkan guna
kemajuan bersama sebagai bentuk orientasi dari pembangunan.

36
BAB IV
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Berdasarkan paparan pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan yakni sebagai berikut :
1. Dalam pemerintah daerah Kabupaten/Kota di bentuk pemerintahan desa yang
terdiri dari kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan perangkat
desa sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah desa. Perangkat desa terdiri
dari Sekretaris Desa (SEKDES) dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa
diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. pembentukan,
penghapusan, dan penggabungan desa dengan memperhatikan asal usul dan
prakarsa masyarakat.
2. Peran Kepala Desa sangat diperlukan dalam hal peningkatan kesadaran
masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program-program desa. Dan upaya
Kepala Desa dalam meningkatkan partisipasi masyarakat desa salah satunya
ditunjukkan dengan cara pendekatan terhadap warga. Kepala Desa dalam
menyelenggarakan pemerintahan tidak mungkin dilakukan sendiri, Kepala
Desa juga perlu partisipasi dari semua lapisan masyarakat untuk ikut
mensukseskan program pembangunan yang ada di desa.
3. Dalam pembangunan, partisipasi masyarakat merupakan salah satu elemen
proses pembangunan desa, oleh karena itu partisipasi masyarakat dalam
pembangunan perlu dibangkitkan terlebih dahulu oleh pihak lain seperti
pemerintah desa, sehingga dengan adanya keterlibatan pemerintah desa besar
kemungkinan masyarakat akan merasa diberi peluang atau kesempatan ikut
serta dalam pembangunan, karena pada dasarnya menggerakkan partisipasi
masyarakat desa merupakan salah satu sasaran pembangunan desa itu sendiri.

37
3.2 Saran
Makalah ini akan menjadi bahan masukan serta merupakan bahan
tambahan ilmu pengaetahuan dan wawasan para pembaca dalam mengkaji peran
pemerintah dalam pembangunan, maka dari itu penulis menyarankan jika terdapat
persoalan-persoalan yang agak rumpang kami berharap semoga pembaca dapat
berfikir tepat dan benar sehingga terhindar dari kesimpulan yang salah dan keliru.
Dalam makalah ini tentunya akan ditemukan kelemahan-kelemahan atau bahkan
kekeliruan. Dengan itu, kami sangat berharap adanya masukan dari pembaca dan
kritik konstruktif sebagai upaya pembangunan mental guna penyempurnaan isi
makalah ini.

38
DAFTAR PUSTAKA

Beratha, I Nyoman. 1992. Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan. Jakarta :


Ghalia Indonesia.
Coleridge, Peter.1997. Pembebasan dan Pembangunan.Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Kartono, Kartini. 1993. Pemerintahan dan Kepemimpinan. Rajawali Press.
Rasyid, M. 1992. Pembangunan Kualitas dan Usaha-Usaha Peningkatan
Aparatur Pemerintah. Palu : Universitas Tadulako.
Saparin, Sumber. 1996. Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa.
Jakarta : Ghalia Indonesia.
Sawe, Jamaluddin. 1996. Konsep Dasar Pembangunan Pedesaan. Jakarta : APDN
Press.
Siagian, SP. 1991. Administrasi Pembangunan. Jakarta : Haji Masagung.
Surjadi, A. 1983. Pembangunan Masyarakat Desa. Bandung : Alumni.
Syafiie, Kencana Inu. 2003. Kepemimpinan pemerintahan Indonesia. Jakarta :
PT.Refika Susandi.
Tjiptoherianto, Prijono. 1993. Pembangunan Sumber Daya Manusia. Jakarta :
Prisma.
Widjaya, AW. 1992. Pemerintahan Desa dan Administrasi Desa. Jakarta :
Rajawali Press.

sumber lain

Undang-Undang Desa No.6 Tahun 2014


Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2014 tentang sistem
perencanaan dan pembangunan Nasional
Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
DaerahUndang-Undang Republuk Indonesia No. 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah.
Undang-Undang Republik Indonesianomor 21 Tahun 2001 Tentangotonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2002 Tentang
Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan,

39
Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo,
Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten
Boven Digoel,Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk
Bintuni,Dan Kabupaten Teluk Wondama Di Provinsi Papua

40