Anda di halaman 1dari 4

Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Budha

1. Akulturasi dalam Bidang Sistem Kepercayaan

Ciri utama kepercayaan asli Indonesia adalah pemujaan terhadap arwah roh nenek
moyang (manisme dari kata menes, artinya arwah nenek moyang) disamping
animisme, dinamisme dan totemisme. Masyarakat Indonesia pada zaman prasejarah
percaya bahwa orang yang meninggal rohnya akan menuju kesuatu tempat yang jauh
dan tidak diketahui. Setlah pengaruh Hindu-Budda masuk, terjadilah sistem akulturasi
kepercayaan, misalnya fungsi candi di India sebagai tempat pemujaan terhadap dewa,
Tetapi di Indonesia fungsi candi selain tempat pemujaan terhadap dewa juga sebagai
tempat untuk menyimpan abu Jenazah (terutama raja dan keluarganya). Dalam candi
hindu sering dijumpai arca dewa yang dianggap sebagai perwujudan dari Raja yang
telah meninggal.

2. Akulturasi dalam Bidang seni Bangunan

Sebelum pengaruh hindu-buddha masuk ke Indonesia, bangsa indonesia telah


mempunyai karya bangunan untuk memuja roh nenek moyang. Misalnya Pundek
Berundak, Dolmen dan Menhir. Candi Borobudur merupakan salah satu wujud
akulturasi antara bangunan punden berundak pada zaman prasejarah, yang kemudian
diberi warna agama buddha. Menhir pada zaman praseharah digunakan untuk memuat
tulisan mengenai peristiwa sakral, Misalnya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan
Timur.

3. Akulturasi dalam Bidang Seni Rupa dan Seni Ukir

Sebelum pengaruh Hindu-buddha masuk, bangsa Indonesia telah memiliki


kemampuan dalam bidang seni rupa yang cukup tinggi, Misalnya seni batik, seni ukir
yang tertuang pada kapak perunggu(candrasa), nekara, moko dan benda-benda
perhiasan. Semua goresan seni rupa dan seni ukir dari zaman prasejarah Indonesia
selalu bermakna relegus, mempunyai kekuatan batin dan dasar-dasar kerohanian yang
mendalam. Hal inilah yang kemudian terpadu dengan seni ukir atau seni rupa dari
India(pengaruh Hindu-Buddha) yang juga bernapaskan Relegius. Misalnya ragam
Hias di dinding candi dan Motif batik yang berkembang di zaman Hindu Indonesia
sampai sekarang, Misalnya motif Jlamprang.

4. Akulturasi Dalam Bidang Aksara Dan Seni Sastra

Bangsa Indoensia memperoleh kepandaian membaca dan menulisa dari pengaruh


budaya Hindu-Buddha, yaitu huruf pallawa dan bahasa Sansekerta. Di Indonesia
huruf pallawa di kembangankan kebeberapa daerah sehingga lahir huruf batak di
sumatra, huruf kawi,huruf Jawa, Huruf Bali. Kepandaian menulis berdampak
berkembangnya seni sastra Indonesia kuno, misalnya cerita Mahaberata dan
Ramayana, Di Indonesia menjadi suatu cerita dalam pertunjukan wayang
purwa(wayang merupakan budaya asli indonesia). Para pujangga indonesa
mengembangkan cerita-cerita yang digubah sendiri, misalnya tokoh-tokoh punakawan
(Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang di Inda sendiri tidak pernah ada. Ragam
hias pada wayang merupakan akulturasi seni india dan Indonesia.
5. Akulturasi Bidang Pemerintahan

Sebelum mengenal Hindu masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal


sistem pemerintahan, yang di pilih secara demokratis. Seorang yang dianggap
mempunyai kelebihan (Primus Interperes) diangkat menjadi kepala suku, klan atau
raja yang memimpin suatu wilayah. Dengan masuknya pengaruh India, terjadilah
akulturasi dalam bidang pemerintahan. Pengangkatan pemerintahan tetap dengan
nama-nama asli Indoensia, tetapi sistem pemerintahanya meniru model India.

6. Akulturasi dalam Sistem Kaleder

Pada zaman prasejarah, masyarakat Indonesia telah mengenal astronomi untuk


kepentingan-kepentingan praktis, misalnya untuk enentukan letak bintang sehingga
akan tahu arah angin pada waktu belayar dan tahu akapan akan memulai kegiatan
pertanian. Dengan melihat letak suatu bintang dapat di ketahui (1) Musim kemarau
(musim tidak ada hujan) (2) Musim labuh (sudah mendekati musim hujan) (3) Musim
hujan (4) Musim wareng curah (hujan sudah maulai jarang). Musim-musim tersebut
dilihat dari banyak-sedikitnya curah hujan. Hujan menjadi faktor penentu dalam
masyarakat agraris, kapan mulai membajak, menabur benih, saat panen dan cara
menolak hama. Situasi ini berlangsung secara terus-meneurus dan menjadi suatu
siklus yang tetap, dengan demikian terbentuk suatu sistem kalender senderhana.

7. Arsitektur

Dalam segi arsitektur yang ada semacam penyempurnaan bangunan setelah masuknya
budaya Hindu-Budha. Pada awalnya masyarakat Indonesia sebelum masuknya budaya
Hindu-Budha sudah mengenal tentang sistem arsitektur atau bangunan. Ini dapat
dilihat dari adanya punden berundak yang sering dikaitkan dengan budaya Animisme
dan Dinamisme atau pemujaan terhadap leluhur mereka. Namun seiring dengan
adanya budaya Hindu-Budha yang masuk ke wilayah Nusantara, budaya nenek
moyang itu mengalami perkembangan yang signifikan.
Perkembangan itu dapat dilihat dari Candi Borobudur ataupun juga bangunan di akhir
masa Majapahit (abad 14 candi-candi di lereng Penanggungan, Arjuna, Lawu)
dibangun dengan mengambil bentuk pundek berundak meskipun Majapahit
merupakan kerajaan bercorak Budha.
Ini dapat membuktikan adanya suatu bentuk akulturasi antara budaya asli nenek
moyang dengan pengaruh Hindu-Budha.

8. Bidang Pendidikan

Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam


bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan.
Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai
mengenal budaya baca dan tulis.

Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :

ü Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan


sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan
pendeta dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa
Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.

ü Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolah-
sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut
kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak
diterapkan di berbagai kerajaan di Indonesia.

ü Bukti lain tampak dengan lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang
merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha. Contoh :

· Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha

· Empu Kanwa dengan karyanya Arjuna Wiwaha

· Empu Dharmaja dengan karyanya Smaradhana

· Empu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama

· Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.

ü Pengaruh Hindu Budha nampak pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti
berlandaskan ajaran agama Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan kasih
sayang, kedamaian dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan
diamalkan oleh sebagian masyarakat Indonesia saat ini.

Para pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan


pengajaran mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang karena
berawal dari hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-
tempat pendidikan yang dikenal dengan pasraman. Di tempat inilah rakyat mendapat
pengajaran. Karena pendidikan tersebut maka muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu
yang memiliki pengetahuan lebih dan menghasilkan berbagai karya sastra.

Rakyat Indonesia yang telah memperoleh pendidikan tersebut kemudian menyebarkan


pada yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang pergi ke tempat asal agama
tersebut. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya
dari sana mereka menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat
dengan mudah diterima oleh masyarakat asal.

Agama Budha tampak bahwa pada masa dulu telah terdapat guru besar agama Budha,
seperti di Sriwijaya ada Dharmakirti, Sakyakirti, Dharmapala. Bahkan raja Balaputra
dewa mendirikan asrama khusus untuk pendidikan para pelajar sebelum menuntut
ilmu di Benggala (India)

9. Bidang Sosial

Setelah masuknya agama Hindu terjadi perubahan dalam tatanan sosial masyarakat
Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagian masyarakat atas kasta.
Penafsiran tentang susunan Manu, ialah bahwa kemasyarakatan harus merupakan kesatuan
yang terdiri dari empat warna/lapisan, yaitu:

 Kasta Brahmana sebagai perlambang mulut ialah golongan para ahli agama dan ilmu
pengetahuan. Golongan ini paling dihormati dan biasanya menjadi penasehat raja.
 Kasta Ksatria sebagai perlambang lengan ialah golongan ningrat dan para prajurit.
Golongan inilah yang memegang kekuasaan dan menjalankan pemerintahan.
 Kasta Waisya sebagai perlambang paha ialah golongan pengusaha, pedagang, dan
petani. Mereka merupakan golongan yang berusaha, mengeluarkan keringat untuk
menghasilkan perbekalan yang diperlukan oleh semua golongan.
 Kasta Sudra sebagai perlambang kaki terdiri atas orang-orang dravida yang masuk
kedalam masyarakat aria dan berkedudukan sebagai hamba sahaya.

10. Akulturasi Hindu Buddha di Bidang Seni Pertunjukan

Menurut JLA Brandes, gamelan merupakan satu diantara seni pertunjukan asli yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sebelum masuknya unsur-unsur budaya India (hindu
buddha). Selama waktu berabadabad gamelan juga mengalami perkembangan dengan
masuknya unsur-unsur budaya baru baik dalam bentuk maupun kualitasnya.
Gambaran mengenai bentuk gamelan Jawa kuno masa Majapahit dapat dilihat pada
beberapa sumber, antara lain prasasti dan kitab kesusastraan. Macam-macam gamelan
dapat dikelompokkan dalam chordaphones, aerophones, membranophones,
tidophones, dan xylophones.