Anda di halaman 1dari 88

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi hidup manusia. Menurut

WHO, sehat diartikan sebagai suatu keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial

serta bukan saja keadaan terhindar dari sakit maupun kecacatan (Sujono dan Teguh

2009 : 1). Sedangkan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 9 tahun 1960 definisi

kesehatan merupakan keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial, cacat

dan kelemahan (Suliswati, 2005)

Berdasarkan Undang-Undang No 3 tahun 1966, kesehatan jiwa adalah suatu

kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang

optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain.

Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat harmonis dan memperhatikan segi kehidupan

manusia dan cara berhubungan dengan orang lain (Sujono dan Teguh 2009 : 1).

Menurut Rasmun (2001: 11) sehat mental adalah kemampuan individu untuk

menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Sedangkan definisi

gangguan jiwa menurut Undang-Undang No 3 tahun 1966 tentang kesehatan jiwa.

Gangguan jiwa adalah adanya gangguan pada fungsi kejiwaan. Fungsi kejiwaan adalah

proses, emosi, kemauan dan perilaku psikomotorik termasuk bicara (Suliswati, 2005)

Kehidupan manusia dewasa ini yang semakin sulit dan kompleks serta semakin

bertambahnya stressor psikososial akibat budaya masyarakat modern yang cenderung

lebih sekuler, menyebabkan manusia tidak dapat menghindari tekanan-tekanan hidup

yang mereka alami. Kondisi kritis ini membawa dampak terhadap peningkatan kualitas

maupun kuantitas penyakit mental-emosional manusia. Kondisi diatas dapat

menyebabkan timbulnya gangguan jiwa khususnya pada gangguan isolasi sosial :

menarik diri dalam tingkat ringan ataupun berat yang memerlukan penanganan di

rumah sakit baik di rumah sakit jiwa atau di unit perawatan jiwa dirumah sakit umum

(Nurjannah, 2005: 1).


1
Setiap tahun jumlah penderita gangguan jiwa semakin meningkat. Menurut data

Departemen dan kolinergik lainnya. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering,

penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitas, konstipasi, takikardia

dilatasi ginjal retensi urine. Kontra indikasinya meliputi hypersensitive terhadap

Trihexiphenidyl, glaucoma sudut sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hypertropi

prostat dan obstruksi saluran cerna.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah-

masalah ini menjadi masalah keperawatan utama dalam pembuatan karya tulis ilmiah

dengan judul : “Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Nn. N dengan Isolasi Sosial : Menarik

Diri di Ruangan Anggrek Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar”.

B. TUJUAN PENULISAN

Untuk lebih konkritnya apa yang ingin dicapai dalam karya tulis ini, penulis

mengemukakan pokok tujuan penulisan sebagai berikut:

1. Tujuan umum

Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan

keperawatan pada klien Nn. N dengan isolasi sosial : menarik diri selama satu hari pada

tanggal 20 Mei 2012 di ruang anggrek RSJD Makassar. Melalui pendekatan proses

keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan laporan ini adalah untuk :

a. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pengkajian pada klien

dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri.

b. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam membuat diagnosa keperawatan dan

penetapan rencana asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi

sosial : menarik diri.

c. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan tindakan keperawatan

pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri.


2
d. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mengevaluasi hasil tindakan

keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial: menarik diri.

e. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam pendokumentasian asuhan

keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri.

f. Dapat membandingkan kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang penulis

dapatkan.

C. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan dalam laporan pengelolaan ini terdiri dari 5 BAB. BAB I

Pendahuluan, meliputi : Latar belakang masalah, tujuan penulisan dan sistematika

penulisan. BAB II Tinjauan

Pustaka, meliputi : konsep dasar medis dan konsep dasar keperawatan. BAB III Tinjauan

Kasus, meliputi : pengkajian, analisa data, pohon masalah, diagnosa, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi BAB IV Pembahasan, pembahasan berisi pengkajian, diagnose

keperawatan yang muncul, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hambatan. BAB V

Penutup, meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3
Dalam bab ini diuraikan tentang konsep dasar mengenai isolasi sosial : menarik diri

yang ditinjau dari dua segi yaitu medis dan keperawatan.

A. Konsep Dasar Medis

1. Pengertian Menarik Diri

Banyak sekali pendapat mengenai menarik diri diantaranya menurut Sujono & Teguh

dalam bukunya halaman 151. Gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan

hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel

yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam

berhubungan sosial. Tiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan

sosial pada berbagai tingkat hubungan, yaitu hubungan intim biasa sampai hubungan

saling ketergantungan. Keintiman saling ketergantungan dalam menghadapi dan

mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari, individu tidak mampu memenuhi

kebutuhannya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu

individu perlu membina hubungan interpersonal.

Sedangkan menurut referensi yang lain mengatakan bahwa isolasi sosial adalah

pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan

sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (Nanda, 2005 : 208). Ada juga

pendapat yang mengemukakan bahwa Isolasi sosial merupakan kondisi ketika individu

atau kelompok mengalami, atau merasakan kebutuhan, atau keinginan untuk lebih

terlibat dalam aktivitas bersama orang lain, tetapi tidak mampu mewujudkannya

(Carpenito, 2009: 1045)

Jadi isolasi sosial : menarik diri adalah gangguan berhubungan yang ditandai dengan

isolasi sosial dan usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Individu

merasa dia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk

membagi rasa, pikiran, prestasi, kegagalan. Kondisi tersebut menjadikannya mengalami

kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain.

2. Rentang respon

Menurut Gail W. Stuart (2006 : 275) Gangguan kepribadian biasanya dapat dikenali
4
pada masa remaja atau lebih awal dan berlanjut sepanjang masa dewasa. Gangguan

tersebut merupakan pola respon maladaptif, tidak fleksibel, dan menetap yang cukup

berat menyebabkan disfungsi perilaku atau distress yang nyata.

Respon adaptif Respon maladaptif

Solitude Kesepian Manipulasi

Autonomi Penarikan diri Impulsif

Mutuality Tergantung Narcissisme

Interdependen

Gambar 2.1 : Rentang respon sosial (Gail W. Stuart, 2006 : 275).

Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan dengan cara yang dapat

diterima oleh norma-norma masyarakat. Menurut Sujono & Teguh (2009 : 155) respon

ini meliputi :

a. Solitude atau menyendiri

Merupakan respon yang dilakukan individu untuk merenungkan apa yang telah terjadi

atau dilakukan dan suatu cara mengevaluasi diri dalam menentukan rencana-rencana.

b. Autonomy atau otonomi

Merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,

perasaan dalam hubungan sosial. Individu mampu menetapkan untuk interdependen

dan pengaturan diri.

c. Mutuality atau kebersamaan

Merupakan kemampuan individu untuk saling pengertian, saling memberi, dan

menerima dalam hubungan interpersonal.

d. Interdependen atau saling ketergantungan

Merupakan suatu hubungan saling ketergantungan saling tergantung antar individu

dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah dengan cara-

cara yang bertentangan dengan norma-norma agama dan masyarakat. Menurut Sujono
5
& Teguh (2009 : 155) respon maladaptif tersebut adalah :

a. Manipulasi

Merupakan gangguan sosial dimana individu memperlakukan orang lain sebagai

obyek, hubungan terpusat pada masalah mengendalikan orang lain dan individu

cenderung berorientasi pada diri sendiri. Tingkah laku mengontrol digunakan sebagai

pertahanan terhadap kegagalan atau frustasi dan dapat menjadi alat untuk berkuasa

pada orang lain.

b. Impulsif

Merupakan respon sosial yang ditandai dengan individu sebagai subyek yang tidak

dapat diduga, tidak dapat dipercaya, tidak mampu merencanakan, tidak mampu untuk

belajar dari pengalaman dan miskin penilaian.

c. Narkisisme

Respon sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah laku egosentris, harga diri

yang rapuh, terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan mudah marah

jika tidak mendapat dukungan dari orang lain.

d. Isolasi sosial

Adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama

sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin

merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang

berarti dengan orang lain.

3. Penyebab

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya menarik diri, adapun faktor

tersebut adalah, antara lain :

a. Faktor predisposisi

Menurut Sujono & Teguh (2009 : 156-157) faktor predisposisi pada gangguan isolasi

sosial : menarik diri yaitu :


6
1) Faktor perkembangan

Pada setiap tahap tumbuh kembang terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus

terpenuhi. Apabila tugas tersebut tidak terpenuhi maka akan mempengaruhi hubungan

sosial. Misalnya anak yang kurang kasih sayang, dukungan, perhatian, dan kehangatan

dari orang tua akan memberikan rasa tidak aman dan menghambat rasa percaya.

2) Faktor biologis

Organ tubuh dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial. Misalnya

kelainan struktur otak dan struktur limbik diduga menyebabkan skizofrenia. Pada klien

skizofrenia terdapat gambaran struktur otak yang abnormal otak atropi, perubahan

ukuran dan bentuk sel limbik dan daerah kortikal.

3) Faktor sosial budaya

Norma-norma yang salah di dalam keluarga atau lingkungan dapat menyebabkan

gangguan hubungan sosial. Misalkan pada pasien lansia, cacat, dan penyakit kronis

yang diasingkan dari lingkungan.

4) Faktor komunikasi dalam keluarga

Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya

gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam

berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu

keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan

dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang

menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

b. Faktor presipitasi

Menurut Sujono & Teguh (2009 : 157) faktor presipitasi pada klien dengan

gangguan isolasi sosial : menarik diri yaitu :

1) Stresor sosial budaya

Adalah stres yang ditimbulkan oleh sosial dan budaya masyarakat. Kejadian atau

perubahan dalam kehidupan sosial budaya memicu kesulitan berhubungan dengan

orang lain dan cara berperilaku.


7
2) Stresor psikologi

Adalah stres yang disebabkan karena kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya

individu untuk tidak mempunyai kemampuan mengatasinya.

4. Manifestasi Klinik

Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2005-2006:208-209) isolasi

sosial memiliki batasan karakteristik meliputi:

Data Obyektif :

1) Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman, kelompok)

2) Perilaku permusuhan

3) Menarik diri

4) Tidak komunikatif

5) Menunjukan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominant

6) Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam sub kultur

7) Senang dengan pikirannya sendiri

8) Aktivitas berulang atau aktivitas yang kurang berarti

9) Kontak mata tidak ada

10) Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan

11) Keterbatasan mental/fisik/perubahan keadaan sejahtera

12) Sedih, afek tumpul

Data Subyektif:

1) Mengekpresikan perasaan kesendirian

2) Mengekpresikan perasaan penolakan

3) Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan

4) Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat

5) Tidak mampu memenuhi harapan orang lain

8
6) Ekspresi nilai sesuai dengan sub kultur tetapi tidak sesuai dengan kelompok kultur

dominant

7) Ekspresi peminatan tidak sesuai dengan umur perkembangan

8) Mengekpresikan perasaan berbeda dari orang lain

9) Tidak merasa aman di masyarakat

5. Patopsikologi

Individu yang mengalami Isolasi Sosial sering kali beranggapan

sumber / penyebab Isolasi Sosial itu berasal dari lingkungannya. Padahal rangsangan

primer adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian

traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, marah, sepi dan takut ditinggal orang

yang dicintai, tidak dapat dikatakan segala sesuatu yang dapat mengancam harga diri

(self esteem) dan kebutuhan keluarga dapat meningkatkan kecemasan. Untuk dapat

mengatasi masalah-masalah yang bekaitan dengan ansietas diperlukan suatu

mekanisme koping yang adekuat. Sumber-sumber koping meliputi ekonomi,

kemampuan menyelesaikan masalah, tekhnik pertahanan, dukungan sosial dan

motivasi. Sumber koping sebagai model ekonomi dapat membantu seseorang

mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi

koping yang berhasil. Semua orang betapapun terganggu perilakunya tetap mempunyai

beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi : aktivitas keluarga, hobi, seni

kesehatan dan perawatan diri, pekerjaan kecerdasaan dan hubungan interpersonal.

Dukungan sosial dari peningkatan respon psikofisiologis yang adaptif, motivasi berasal

dari dukungan keluarga ataupun individu sendiri sangat penting untuk meningkatkan

kepercayaan diri pada individu (Stuart dan Sundeen, 1998).

Adapun rentang respon biopsikososial menurut Rasmun (2001 : 13) adalah :

Faktor predisposisi

(Perkembangan biologi, sosiobudaya)

Faktor presipitasi
9
(Sosial, budaya, psikologi )

Penilaian terhadap stresor

Sumber koping

Mekanisme koping

Idealisme Devaluasi Harga diri Peranan Perpecahan Identifikasi


diri
Kontruktif Destruktif

RENTANG RESPON SOSIAL

Adaptif Respon Maladaptif

- Menyendiri - Kesepian - Manipulasi

- Otonomi - Menarik Diri - Impulsif

- Kebersamaan

- Saling ketergantungan - Ketergantungan - Narkisme

Gambar 2.2 : Patways patopsikologi Isolasi sosial (Gail W. Stuart, 2006 : 275).

6. Sumber Koping

Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman terhadap pengaruh

gangguan otak pada perilaku. Kekuatan dapat meliputi seperti model intelegensia atau

kreatifitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak dan dewasa muda

tentang ketrampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari

pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial

yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan

dukungan secara berkesinambungan (Stuart & Sundeen, 1998).

Ada 5 sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor

yaitu ketrampilan dan kemampuan, ekonomi, tekhnik pertahanan, dukungan sosial dan

motivasi (Rasmun, 2001 : 16).

Menurut Stuart & Sundeen (1998 : 349) Contoh sumber koping yang berhubungan
10
dengan respon sosial maladaptif termasuk :

a. Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman.

b. Hubungan dengan hewan peliharaan.

c. Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian,

musik atau tulisan.

7. Mekanisme Koping

Individu yang mempunyai respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme

dalam upayanya mengatasi ansietas. Menurut Stuart & Sundeen (1998 : 349-350)

mekanisme koping yang berkaitan dengan jenis spesifik dari masalah yaitu:

a. Koping yang berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial.

1) Proyeksi.

2) Pemisahan.

3) Merendahkan orang lain.

b. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian “Borederline”.

1) Pemisahan.

2) Reaksi formasi.

3) Proyeksi.

4) Isolasi.

5) Idealisasi orang lain.

6) Merendahkan orang lain.

7) Identifikasi proyektif.

Jika individu berada pada kondisi stress, ia akan menggunakan berbagai cara untuk

mengatasinya, individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang

tersedia (Rasmun, 2001 : 16).

8. Penatalaksaan medis

Penatalaksanaan medis pada pasien dengan Isolasi sosial

Terapi medis

Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau
11
menghilangkan gejala gangguan jiwa. Menurut Depkes (2000), menurut Rasmun

(2003,89-91) jenis obat psikofarmaka adalah

a. Clorpromazine (CPZ, Largactile)

Indikasi untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai

realitas, kesadaran diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental. Waham,

halusinasi gangguan perasaan dan perilkau yang aneh atau tidak terkendali, berdaya

berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan

melakukan kegiatan rutin. Mekanisme kerja dopamine pada pasca sinap di otak

khususnya system pyramidal. Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi

(hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan

defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan

irama jantung), gangguan ekstra pyramidal (dystonia akut, akatsia, sindroma

parkinsontremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin (amenorhoe,

ginekomasti), metabolic (jaundice). Kontra indikasinya yaitu klien dengan penyakit

hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit

SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS depresan.

b. Haloperidol (Haldol, Serenace)

Indikasinya yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral

serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Mekanisme kerja dari obat ini adalah obat

anti psikosis dalam memblock dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak

khususnya system limbic dan system ekstra pyramidal. Efeksampingnya meliputi sedasi

dan inhibisi psikomotor, Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi (hipotensi,

antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung

tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung).

Kontra indikasnya adalah bagi pasien yang mempunyai penyakit hati, penyakit darah,

epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan

kesadaran.

c. Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)


12
Indikasinya untuk segala jenis penyakit Parkinson, termasuk paska ensepalitis dan

idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat misalnya resenpira dan fenotiazine.

Mekanisme kerja sinergis dengan linidine, obat anti depresan trisklik dan kolinergik

lainnya. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering, penglihatan kabur, pusing,

mual, muntah, bingung, agitas, konstipasi, takikardia dilatasi ginjal retensi urine.

Kontra indikasinya meliputi hypersensitive terhadap Trihexiphenidyl, glaucoma sudut

sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hypertropi prostat dan obstruksi saluran cerna.

B. Konsep Dasar Keperawatan

Dalam melakukan asuhan keperawatan ada enam fase atau langkah dari proses

keperawatan yaitu pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, pengidentifikasian

outcome, perencanaan, implementasi dan evaluasi ( Stuart & Sundeen, 1995).

1. Pengkajian

Menurut Nurjannah (2005 : 30) pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama

dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan

perumusan kebutuhan atau atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data

biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor

predisposisi, factor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan

kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart & Sundeen, 1998). Cara pengkajian lain

berfokus pada 5 dimensi yaitu: fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk

memperoleh data yang dibutuhkan umumnya dikembangkan formulir pengkajian dan

petunjuk tekhnis pengkajian agar mempermudah dalam pengkajian, isinya meliputi:

a. Identitas

Dalam pengkajian kita mencantumkan identitas klien (nama klien, umur, jenis

kelamin, alamat, pekerjaan, pendidikan) dan identitas penanggung jawab (nama,

umur, alamat, pekerjaan).

b. Keluhan utama dan alasan masuk.


13
Pengkajian alasan masuk kita kaji apa yang menyebabkan klien dibawa oleh keluarga

ke rumah sakit untuk saat ini, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi

masalah klien dan bagaimana hasilnya.

c. Faktor predisposisi

1) Faktor perkembangan

Secara teori, kurangnya stimulasi, kasih sayang dan kehangatan dari ibu (pengasuh)

pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya

rasa percaya.

2) Faktor biologis

Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.

3) Faktor sosiokultural

Isolasi sosial dapat terjadi, salah satunya pada tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi.

d. Faktor presipitasi

1) Merupakan faktor yang dianggap menyebabkan pasien sakit jiwa atau yang

menyebabkan pasien mengalami kekambuhan.

2) Pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami pasien selama fase

perkembangan (kegagalan, kehilangan, perpisahan, kematian, trauma selama

tumbang) yang pernah dialami klien.

3) Bila tidak ditemukan adanya kejadian atau pengalaman tersebut, tetapi ada riwayat

putus obat atau berhenti minum obat, maka dapat dianggap bahwa faktor presipitasi

pasien mengalami kekambuhan adalah putus obat.

e. Aspek fisik atau biologis.

Pada klien menarik diri didapatkan masalah nutrisi, kebersihan diri, dan tidak mampu

berpartisipasi dalam kegiatan.

f. Aspek psikososial.

Meliputi genogram yang dibuat 3 generasi, gambarkan adanya riwayat perceraian,

adanya anggota keluarga yang meninggal & penyebab meninggal, pasien tinggal

dengan siapa. Kita kaji juga mengenai konsep diri, hubungan sosial dan spiritual
14
pasien. Pengkajian konsep diri, hubungan sosial dan spiritual tidak dapat dilakukan

pada pasien yang masih agitasi/gaduh gelisah, bicaranya kacau, ada gangguan

memori, pasien yang autistik dan mutisme.

g. Status mental

Beberapa hal yang perlu dikaji dari status mental yaitu

1) Penampilan fisik : kondisi rambut, kuku, kulit, gigi dan cara berpakaian

2) Pembicaraan : pembicaraan pasien apakah cepat, keras, gagap, membisu, apatis

atau lambat

3) Aktivitas motorik : lesu, pasif (hipomotorik), segala aktivitas sehari-hari dengan

bantuan perawat atau orang lain, tegang, gelisah, tidak bias tenang (hipermotorik)

4) Alam perasaan : dalam hal ini didapatkan melalui hasil wawancara dengan pasien

meliputi adanya perasaan sedih, putus asa, gembira, khawatiran takut (hasil

wawancara divalidasi dengan hasil observasi, apakah disforia, eforia)

5) Afek : appropriate (tepat), in appropriate (tidak tepat: datar, tumpul, labil, tidak

sesuai)

6) Interaksi selama wawancara : interaksi selama wawancara apakah bermusuhan,

tidak kooperatif atau mudah tersinggung, kontak mata selama wawancara.

7) Persepsi : kaji adanya pengalaman halusinasi atau ilusi

8) Proses pikir : sirkumtansial, tangensial, kehilangan asosiasi, flight of ideas, blocking,

reeming

9) Isi pikir : kaji adanya waham

10) Tingkat kesadaran dan orientasi : bungung, sedasi, stupor

11) Memori : data diperoleh melalui wawancara adakah gangguan daya ingat jangka

panjang, gangguan daya ingat jangka pendek dan saat ini

12) Tingkat konsentrasi dan berhitung

13) Kemampuan penilaian

14) Daya tilik diri

15
h. Kebutuhan persiapan pulang

Kita kaji apakah dari hasil observasi klien sudah mampu melakukan activity daily live

secara mandiri atau masih dengan bantuan selama di rumah sakit dan di rumah

i. Mekanisme koping

Data dari hasil wawancara meliputi koping adaptif sampai dengan koping maladaptif

j. Masalah psikososial dan lingkungan.

Adanya penolakan di lingkungan tempat tinggal atau masyarakat, adanya penolakan di

tempat kerja atau sekolah, adanya penolakan dari keluarga terhadap pasien

k. Pengetahuan

Berisi tentang pemahaman pasien mengenai penyakit, tentang kekambuhan,

pemahaman tentang manajemen hidup sehat.

l. Aspek medik

Diagnosa medis dan program therapy atau pengobatan yang sedang dijalani oleh

pasien.

(Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. Dr. Soeroyo

Magelang, 2007

2. Pohon Masalah

Pohon masalah pada klien dengan Isolasi sosial : menarik diri, yaitu:

Risiko perilaku

Akibat kekerasan terhadap

diri sendiri

Ketidakefektifan Gangguan Gangguan


Penyebab
penatalaksanaan sensori/persepsi: pemeliharaan

program terapeutik halusinasi pendengaran kesehatan

Isolasi sosial:16
menarik diri Defisit perawatan

Masalah utama diri: Mandi dan

berhias
Ketidakefektifan Gangguan konsep diri:
Penyebab
koping keluarga: Harga diri rendah kronis

ketidakmampuan

keluarga merawat klien


Gambar 2.2 : Pohon masalah isolasi sosial : menarik diri (Keliat, B. A., 2005:20)
di rumah

3. Diagnosa Keperawatan

Keliat, B. A. (2005 : 20) merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan

gangguan isolasi sosial : menarik diri, sebagai berikut :

a. Isolasi sosial

b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

c. Perubahan persepsi sensori : halusinasi

d. Koping individu tidak efektif

e. Defisit perawatan diri

f. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

4. Intervensi Keperawatan

Menurut (Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. Dr.

Soeroyo Magelang, 2007) strategi pelaksanaan tindakan keperawatan menggunakan

SP, yaitu :

a. Diagnosa 1. Isolasi Sosial


Tujuan umum:
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi:

17
1.1. Bina hubungan saling percaya dengan

1.1.1. Beri salam setiap berinteraksi

1.1.2. Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan

1.1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien

1.1.4. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi

1.1.5. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

1.1.6. Buat kontrak interaksi yang jelas

1.1.7. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

2. Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri


Intervensi:
2.1. Tanyakan pada klien tentang
2.1.1. Orang yang tinggal serumah / teman sekamar klien
2.1.2. Orang yang paling dekat dengan klien di rumah/di ruang perawatan
2.1.3. Apa yang membuat klien dengan orang tersebut
2.1.4. Orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/ di ruang perawatan
2.1.5. Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut
2.1.6. Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain
2.2. Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang
lain

2.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

3. klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri

intevensi :

3.1. tanyakan pada klien tentang :

3.1.1. manfaat hubungan sosial

3.1.2. kerugian menarik diri

3.2. diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik
diri

3.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya

18
4. klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap

intervensi :

4.1. observasi perilaku klien saat berhubungan sosial

4.2. beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan/ berkomunikasi dengan

4.2.1. perawat lain

4.2.2. klien lain

4.2.3. kelompok

4.3. libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
klien bersosialisasi

4.5. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat

4.6. Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktifitas
yang dilaksanakan

5. klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial

intervensi :

5.1. Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan sosial dengan

5.1.1. Orang lain

5.1.2. Kelompok

5.2. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

6. klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial

intervensi:

6.1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi
perilaku menarik diri

6.2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri

6.3. Jelaskan pada keluarga tentang:

19
6.3.1. Pengertian menarik diri

6.3.2. Tanda dan gejala menarik diri

6.3.3. Penyebab dan akibat menarik diri

6.3.4. Cara merawat klien menarik diri

6.4. Latih keluarga cara merawat klien menarik diri

6.5. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan

6.6. Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi

6.7. Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit

7. klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

intevensi :

7.1. diskusikan denga klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan obat

7.2. Pantau klien saat penggunaan obat

7.3. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar

7.4. Diskusian akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

7.5. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

b. Diagnosa 2. Perubahan konsep diri : harga diri rendah


Tujuan umum:
Klien mempunyai konsep diri yang positif
Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Intervensi :

1.1. Bina hubugan salin percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik:

1.1.1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

1.1.2. Perkenalkan diri dengan sopan

20
1.1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien

1.1.4. Jelaskan tujuan pertemuan

1.1.5. Jujur dan menepati janji

1.1.6. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya

1.1.7. Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien

2. Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimilki

Intervensi:

2.1. Diskusikan dengan klien tentang:

2.1.1. Aspek positif yang dimiliki klien, keluarga, lingkungan

2.1.2. Kemampuan yang dimiliki klien

2.2. Bersama klien buat daftar tentang

2.2.1. Aspek positif klien, keluarga, lingkungan

2.2.2. Kemampuan yang dimilki klien

2.3. Beri pujian yang realitas, hindarkan memberi penilaian negatif

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dimilki untuk dilaksanakan

Intervensi :

3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan

3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya

4. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimilki

Intervensi :

4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan klien :

4.1.1. Kegiatan mandiri

4.1.2. Kegiatan dengan bantuan

21
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien

4.3. Beri contoh cara pelaksanaankegiatan yang dapat klien lakukan

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai rencana yang dibuat

Intervensi :

5.1. Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan

5.2. Pantau kegiatan yang dilaksanakn klien

5.3. Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien

5.4. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Intervensi :

6.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah

6.2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat

6.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah

c. Diagnosa 3. Perubahan persepsi sensori : halusinasi


Tujuan umum:
Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya
Tujuan khusus:
2. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Intervensi :

2.1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik:

2.1.1. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

2.1.2. Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan

2.1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien

2.1.4. Buat kontrak yang jelas

2.1.5. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi

2.1.6. Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya

22
2.1.7. Beri perhatian kepada kien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

2.1.8. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien

2.1.9. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

3. Klien dapat mengenal halusinasinya

Intervensi:

3.1. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

3.2. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya

3.3. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya

3.4. Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut

3.5. Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya

4. Klien dapat mengontrol halusinasinya

Intervensi:

4.1. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
(tidur, marah, menyibukkan diri, dll)

4.2. Diskusikan cara yang digunakan klien

4.3. Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi

4.4. Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan da latih untuk mencobanya

4.5. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih

4.6. Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian

4.7. Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, oreintasi realita, stimulasi persepsi

5. Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya

Intervensi:

5.1. Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu, tempat, dan topik)

5.2. Diskusikan dengan keluarga

23
5.2.1. Pengertian halusinasi

5.2.2. Tanda dan gejala halusinasi

5.2.3. Proses terjadinya halusinasi

5.2.4. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi

5.2.5. Obat-obatan halusinasi

5.2.6. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah

5.2.7. Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan
jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

Intervensi :

6.1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, warna,
dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat

6.2. Pantau klien saat penggunaan obat

6.3. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar

6.4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

6.5. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

d. Diagnosa 4. Defisit perawatan diri


Tujuan umum:
Klien dapat mandiri dalam perawatan diri
Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Intervensi:

1.1. Bina hubungan saling percaya

1.1.1. Beri salam setiap berinteraksi

1.1.2. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan

1.1.3. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien


24
1.1.4. Tunjukkkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi

1.1.5. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien

1.1.6. Buat kontrak interaksi yang jelas

1.1.7. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati

1.1.8. Penuhi kebutuhan dasar klien

2. Klien mengetahui pentingnya perawatan diri

Intervensi:

2.1. Diskusikan dengan klien

2.1.1. Penyebab klien tidak merawat diri

2.1.2. Manfaat menjaga perawatan diri untuk keadaan fisik, mental dan sosial

2.1.3. Tanda-tanda perawatan diri yang baik

2.1.4. Penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh klien bila perawatan diri
tidak adekuat

3. Klien mengetahui cara-cara melakukan perawatan diri

Intervensi:

3.1. Diskusikan frekuensi menjaga perawtan diri selama ini

3.2. Diskusikan cara perawatan diri yang baik dan benar

3.3. Beri pujian untuk setiap respon klien yang positif

4. Klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat

Intervensi:

4.1. Bantu kloen saat perawatan diri

4.2. Beri pujian setelah klien selesai melaksanakan perawatan diri

5. Klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri

Intervensi:

25
5.1. Pantau klien dalam melaksanakan perawatan diri

5.2. Beri pujian saat klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri

6. Klien mendapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri

Intervensi:

6.1. Diskusikan dengan keluarga :

6.1.1. Penyebab klien tidak melaksanakan perawatan diri

6.1.2. Tindakan yang telah dilakukan klien selama di rumah sakit dalam menjaga
perawatan diri dan kemajuan yang telah dialami oleh klien

6.1.3. Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk meningktkan kemampuan
klien dalam perawatan diri

6.2. Diskusikan dengan keluarga tentang

6.2.1. Sarana yan diperlukan untuk menjaga perawatan diri klien

6.2.2. Anjurkan kepada keluarga menyiapkan sarana tersebut

6.3. Diskusikan dengan keluarga hal-hal yan perlu dilakukan keluarga dalam perawatan
diri:

6.3.1. Anjurkan keluarga unntuk mempraktekkan perawatan diri

6.3.2. Ingatkan klien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias, dan gunting
kuku.

6.3.3. Bantu jika klien mengalami hambatan dalam perawatan diri

6.3.4. Berikan pujian atas keberhasilan klien

26
BAB III
TINJAUAN KASUS

Pengkajian
BIODATA
Tgl masuk RS : 19 Mei 2012
Tgl Pengkajian : 20 Mei 2012
No. Register : 210092
Ruangan /RS :Anggrek/Pelamonia

Identitas Klien

Nama : Nn. N
Umur : 19 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Suku banga : Makassar
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan : SMA
Alamat : Jln. Sultan Alauddin Lr. 6b, Makassar

Penanggung jawab
Nama : Tn. B
Umur : 40 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Kawin
Suku banga : Makassar
Pekerjaan : Wiraswasra
Pendidikan : SMA
Alamat : Jln Sultan Alauddin Lr. 6b, Makassar
Hub. Dengan klien : Anak Klien

27
Riwayat Keperawatan
A. Riwayat Kesehatan Sekarang

1. Masalah utama : Menarik diri

2. Riwayat masalah utama :

Klien masuk RSJD Makassar pada tanggal 19 Mei 2012, diantar oleh keluarga dengan alasan

klien sering berdiam diri, tidak mau bicara dan tidak mau beraktifitas, Dari hasil pengkajian,

klien telah mengalami gangguan jiwa sejak 2 tahun yang lalu setelah klien tidak lulus

mengikuti tes ujian masuk Universitas terbaik di kota Makassar. Kemudian klien mulai

mengalami perubahan perilaku.

.
B. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Klien sebelumnya belum pernah menderita gangguan jiwa.

C. Genogram

68 60

41 43

19 16 11

Ket:

: laki-laki : perempuan

: garis hubungan keluarga : garis keturunan

: garis serumah : klien

: meninggal

28
PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Baik

2. Tingkat kesadaran

3. Tanda-tanda vital
TD : 110/80 mmHg

N : 72 x/mnt

P : 20 x/mnt

S : 37o C

4. Kepala
Inspeksi

 Bentuk muka dan tengkorak kepala simetris


 Distribusi rambut merata
 Tidak ada luka pada kulit kepala
 Kebersihan rambut jelek ()

Palpasi

 Tidak terdapat benjolan


 Tidak terdapat nyeri tekan

5. Wajah
Inspeksi

 Simertis
 Bentuk wajah oval
 Tidak ada gerakan abnormal

Palpasi

 Tidak terdapat nyeri tekan

6. Mata
Inspeksi

29
 Struktur mata simetris kiri dan kanan
 Konjutiva tidak anemis
 Sclera tidak icterik
 Tidak ada kelainan pada mata
 Pupil isokor
 Gerakan bola mata kesegala arah

Palpasi

 Tidak terdapat nyeri tekan


 Tidak terdapat intra okuler

7. Hidung
Inspeksi

 Struktur hidung simetris


 Tidak terdapat massa (polip)
 Tidak ada peradangan dan pendarahan pada hidung

Palpasi

 Tidak terdapat nyeri tekan

8. Telinga
Inspeksi

 Struktur telinga nampak simetris antara kiri dan kanan


 Telinga nampak kotor ()
 Fungsi pendengaran baik

Palpasi

 Tidak ada nyeri tekan pada telinga kanan

9. Mulut
Inspeksi

 Gigi
 Gigi kotor ()

30
 Tidak memakai gigi palsu
 Terdapat karies gigi ()
 Bibir
 Bibir nampak lembab
 Mulut berbau
10. Leher
Inspeksi

 Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid


 Tidak ada pembengkakan
 Tidak ada distensi vena jugularis

Palpasi

 Kelenjar thyroid tidak teraba


 Tidak terdapat benjolan
 Kelenjar limfe tidak membesar

11. Thorax dan pernafasan


Inspeksi

 Bentuk dada pigeon chest


 Pergerakan dada simetris kiri dan kanan
 Tidak ada batuk

Palpasi

 Tidak terdapat nyeri tekan


 Tidak terdapat massa

Perkusi

 Suara perkusi paru sonor

Auskultasi

 Suara napas vesikuler


 Tidak terdengar bunyi napas tambahan
 RR 20 x/mnt

12. Jantung

31
Inspeksi

 Ictus cordis tidak nampak

Palpasi

 Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

 Tidak ada pembesaran pada jantung

Auskultasi

 BJ I : lup dup pada ICS 3-4


 BJ II : dup dup pada ICS 4-5
 BJ III : lup dup dup
 BJ tambahan tidak ada

13. Abdomen
Inspeksi

 Abdomen nampak normal


 Warna kulit kuning langsat

Auskultasi

 Suara peristaltic usus normal

Perkusi

 Bunyi tympani

Palpasi

 Tidak ada nyeri tekan


 Tidak ada massa
 Turgor kulit baik

14. Kulit
Inspeksi

 Kebersihan kulit buruk ()


 Tidak ada kelainan pada kulit

32
Palpasi

 Kelembaban kulit baik


 Tekstur kulit kasar ()
 Turgor kulit normal

15. Genitalia dan Anus


Tidak dikaji untuk menjaga privasi klien

16. Ekstremitas
a. Ekstremitas atas kiri dan kanan
Inspeksi

 Tidak ada pergerakan abnormal


 Kekuatan otot 5
 Pergerakan kanan/kiri normal

Palpasi

 Tidak ada oedema

Perkusi

 Refleks gerak normal

b. Ekstremitas bawah kiri dan kanan


Inspeksi

 Ekstremitas nampak normal


 Klien berjalan normal

Palpasi

 Tidak ada oedema.


 Tidak terdapat nyeri tekan

Perkusi

 Refleks gerak normal

POLA KEGIATAN SEHARI-HARI

33
JENIS KEGIATAN SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

1. Pola nutrisi
a. Frekuensi makan 3 x/ hari 3 x/hari
b. Nafsu makan Baik Baik
c. Jenis makanan Nasi Nasi
d. Porsi makan Dihabiskan Dihabiskan
e. Kebiasaan makan Makan sendiri Makan sendiri
f. Waktu makan Pagi,siang,malam Pagi, siang, malam
g. Jenis minuman Air putih Air putih
h. Frekuensi minum 8 gelas/ hari 8 gelas/hari

2. Pola tidur
a. Tidur siang
14.00-15.00 13.00-14.00
Lama tidur
1 jam 1 jam
b. Tidur malam 22.00-05.00 21.00-05.00
Lama tidur 7 jam 7 jam

3. Personal hygiene
a. Mandi
frekuensi
2 x/hari 1 x/ hari
cara Sendiri dibantu
b. Oral Hygiene
Frekuensi 2 x/hari 1 x/hari
c. Mencuci rambut
3 x/minggu
Frekuensi 1x /hari

4. Pola eliminasi
a. BAK :
frekuensi 5 x/hari 1x/ minggu
Tidak tentu
waktu Tidak tentu

b. BAB :

34
Frekuensi 2 x/hari
Tidak tentu 2 x/hari
Waktu
Tidak tentu

Aspek Psikososial
a. Konsep Diri Klien
Dari hasil wawancara dengan klien gambaran diri, identitas diri, peran diri, ideal diri dan
harga diri klien tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama komunikasi. Klien mengalami
autistik dan mutisme. Klien tampak kurang antusias dalam kegiatan ruangan dan kelompok.
Aktifitas / ADL klien masih dibantu perawat. Dandanan tidak rapi. Makan berantakan .

b. Status Mental
Ketika dilakukan waawancara, Klien tampak menundukan kepala, klien tidak mampu
memulai pembicaraan, wajah klien tampak murung, klien kurang kooperatif, klien
berbicara lambat dan tidak bisa memulai pembicaraan. Selama di rumah sakit, klien
sering menyendiri dan melamun, jarang berinteraksi dengan klien lain, aktifitas masih
dibimbing oleh perawat.

Klien mempunyai afek datar yaitu saat wawancara klien tidak menunjukan roman
muka atau ekspresi wajah, juga saat diberikan stimulus yang menyenangkan atau
menyedihkan. Saat dilakukan wawancara klien tampak tidak ada kontak mata, mudah
beralih atau mengalihkan pandangannya bila diajak bicara. Klien mengalami
disorientasi waktu dan gangguan daya ingat jangka panjang, yaitu klien tidak bisa
mengingat kejadian yang lebih dari satu bulan. Selama wawancara, klien tidak dapat
berhitung.
c. Mekanisme koping
Selama klien dirawat di RS, klien mengatakan jika mengalami masalah, klien lebih banyak
diam. Klien tampak sering duduk menyendiri. Klien tampak asing dengan klien lain

Data Penunjang
Diagnosa medis klien yaitu F 20. 2.
Adapun terapi per oral yang diperoleh tanggal 12 Maret 2012 yaitu
1. Trifluoperazine 2 x 5 mg,

35
2. Amitriptilin 2 x 25 mg,

3. Triheksipenidil 2 x 2 mg,

4. Chlorpromazine 1 x 50 mg.

36
1). KLASIFIKASI DATA
Nama Klien : Nn. “ RJ ”
No. Reg : 21 53 87
DATA SUBJEKTIF DATA OBYEKTIF

 Klien mengatakan  Klien tampak sering duduk menyendiri,

sering bersedih  Tidak ada kontak mata saat berkomunikasi.

 klien mengatakan jika  klien tampak pendiam


mengalami masalah,  Klien tampak menundukan kepala,
klien lebih banyak
diam  klien tidak mampu memulai pembicaraan

 Wajah klien tampak murung,

 klien juga memiliki afek datar,

 Klien tampak asing dengan klien lain

 Klien tampak kurang antusias dalam kegiatan ruangan dan


kelompok

 Aktifitas / ADL klien masih dibantu perawat

 Kebersihan rambut jelek

 Telinga nampak kotor

 Kebersihan kulit buruk

 Tekstur kulit kasar

 Dandanan tidak rapi

 Makan berantakan

 Gigi kotor

 Terdapat karies gigi

37
ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
1. DS : Gangguan Konsep diri : harga
Klien mengatakan sering diri rendah.
bersedih
DO :
 Klien tampak sering
duduk menyendiri,

 Tidak ada kontak mata


saat berkomunikasi.

2. isolasi sosial : menarik diri.


DS :
klien mengatakan jika
mengalami masalah, klien
lebih banyak diam
DO :
 Klien sering duduk
menyendiri,

 klien tampak pendiam,

 Klien tampak
menundukan kepala,

 klien tidak mampu


memulai pembicaraan

 Tidak ada kontak mata


saat berkomunikasi,

 Wajah klien tampak


murung, klien juga
memiliki afek datar,

 Klien tampak asing


dengan klien lain

 Klien tampak kurang


antusias dalam
kegiatan ruangan dan

38
kelompok.
3. Defisit perawatan diri

DS :
Tidak terkaji karena klien tidak
kooperatif selama diajak
komunikasi
DO :
 Aktifitas / ADL klien
masih dibantu perawat

 Kebersihan rambut
jelek

 Telinga nampak kotor

 Kebersihan kulit buruk

 Tekstur kulit kasar

 Dandanan tidak rapi

 Makan berantakan

 Gigi kotor

 Terdapat karies gigi

39
POHON MASALAH

Defisit Perawatan Diri Akibat

Isolasi sosial : Menarik diri Masalah utama

Gangguan konsep diri : harga diri rendah Penyebab

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pohon masalah tersebut di atas dapat dirumuskan dalam diagnosa keperawatan di
bawah ini :
1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan isolasi sosial: menarik diri
2. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri: harga
diri rendah

40
FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN

NO PERENCANAAN
DIAGNOSA RASIONAL
DX TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
1. Defisit perawatan diri TUM : Klien dapat
berhubungan dengan mandiri dalam
isolasi sosial: menarik perawatan diri
diri
ditandai dengan: TUK : 1. Klien mampu 1.1. Bina hubungan saling percaya dengan 1.1. Dengan rasa saling
DS (Defisit perawatan 1. Klien dapat menunjukkan tanda- 1.1.1. Beri salam setiap berinteraksi percaya, klien
diri ) : membina tanda percaya 1.1.2. Perkenalkan nama, nama dapat
 Tidak terkaji hubungan kepada perawat: panggilan dan tujuan perawat mengungkapkan
karena klien saling percaya 1.1. Wajah cerah, berkenalan perasaannya
tidak dengan tersenyum 1.1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama sehingga akan
kooperatif perawat 1.2. Mau berkenalan panggilan yang disukai klien mempermudah
selama diajak 1.3. Ada kontak mata 1.1.4. Tunjukkan sikap jujur dan melakukan
komunikasi 1.4. Menerima menepati janji setiap kali interaksi tindakan
kehadiran 1.1.5. Tanyakan perasaan klien dan keperawatan.
DO (Defisit masalah yang dihadapi klien
perawat
perawatan diri) : 1.1.6. Buat kontrak interaksi yang jelas
1.5. Bersedia
 Aktifitas / ADL menceritakan 1.1.7. Dengarkan dengan penuh
klien masih perasaannya perhatian ekspresi perasaan klien
dibantu
perawat

 Kebersihan
2. Klien mampu 2. Klien dapat 2.1. Dengan

41
rambut jelek menyebutkan menyebutkan 2.1. Tanyakan pada klien tentang mengetahui penyebab,
penyebab minimal satu 2.1.1. Orang yang tinggal serumah / maka akan
 Telinga menarik diri penyebab menarik teman sekamar klien mempermudah dalam
nampak kotor diri dari : 2.1.2. Orang yang paling dekat dengan melakukan tindakan
2.1. Diri sendiri klien di rumah/di ruang perawatan keperawatan.
 Kebersihan
2.2. Orang lain 2.1.3. Apa yang membuat klien dengan
kulit buruk
2.3. Lingkungan orang tersebut
 Tekstur kulit 2.1.4. Orang yang tidak dekat dengan
kasar klien di rumah/ di ruang
perawatan
 Dandanan 2.1.5. Apa yang membuat klien tidak
tidak rapi dekat dengan orang tersebut
2.1.6. Upaya yang sudah dilakukan agar
 Makan
dekat dengan orang lain
berantakan

DS ( Menarik diri ) :
2.2. Diskusikan dengan penyebab 2.2. mengetahui
klien
 klien menga
menarik diri atau tidak mau bergaul alasan klien menarik
takan jika me diri.
dengan orang lain
ngalami
masalah, klien
lebih banyak
2.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien 2.3. pujian akan
diam mendorong klien
mengungkapkan perasaannya
mengungkapkan
3. Klien mampu 3. klien dapat perasaannya.
DO : menyebutkan menyebutkan
keuntungan

42
 Klien sering keuntungan berhubungan sosial, 3.1. Tanyakan pada klien tentang : 3.1. meningkatkan
duduk berhubungan misalnya 3.1.1. manfaat hubungan sosial pemahaman klien
menyendiri, sosial dan 3.1. banyak teman 3.1.2. kerugian menarik diri tentang berhubungan
kerugian 3.2. tidak kesepian dengan orang lain.
 klien tampak menarik diri 3.3. bisa diskusi
pendiam, 3.4. saling menolong 3.2. Diskusikan bersama klien tentang manfaat 3.2. mengkaji
dan kerugian berhubungan sosial dan kerugian menarik pengetahuan
 Klien tampak
menarik diri, diri kliententang manfaat
menundukan
misalnya: berhubungan dengan
kepala,
3.5. sendiri orang lain.
 klien tidak 3.6. kesepian
mampu 3.7. tidak bisa diskusi 3.3. pujian akan
memulai 3.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien mendorong klien
pembicaraan mengungkapkan perasaanya mengungkapkan
4. klien dapat perasaannya.
 Tidak ada 4. Klien dapat melaksanakan
kontak mata melaksanakan hubungan sosial
saat berkomu hubungan secara bertahap 4.1. meningkatkan
nikasi, sosial secara dengan : 4.1. Observasi perilaku klien saat berhubungan interaksi klien dengan
bertahap 4.1. perawat social lingkungan.
 Wajah klien
4.2. perawat lain
tampak
4.3. klien lain 4.2. meningkatkan
murung,
4.4. kelompok 4.2. Beri motivasi dan bantu klien untuk interaksi klien dengan
 klien juga berkenalan/ berkomunikasi dengan lingkungan.
memiliki afek 4.2.1. Perawat lain
4.2.2. Klien lain

43
datar, 4.2.3. Kelompok
4.3. meningkatkan
 Klien tampak 4.3. Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas interaksi klien dengan
asing dengan Kelompok Sosialisasi lingkungan.
klien lain

4.4. mengkaji
 Klien tampak
4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat pengetahuan
kurang
dilakukan untuk meningkatkan kliententang kegiatan
antusias dalam
kemampuan klien bersosialisasi yang dapat
kegiatan
dilakukannya
ruangan dan
kelompok.
4.5. meningkatkan
4.5. Beri motivasi klien untuk melakukan minat klien dalam
kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah berinteraksi
dibuat
4.6. pujian akan
mendorong klien
4.6. Beri pujian terhadap kemampuan klien untuk melakukan
memperluas pergaulannya melalui aktifitas kegiatannya.
5. klien mampu 5. klien dapat yang dilaksanakan
menjelaskan menjelaskan
perasaannya perasaanya setelah
setelah berhubungan sosial 5.1. mengkaji
berhubungan dengan : pengetahuan klien
sosial 5.1. orang lain 5.1. Diskusikan dengan klien tentang tentang perasaannya
5.2. Kelompok perasaannya setelah berhubungan sosial setelah berhubungan

44
dengan sosial
5.1.1. Orang lain
5.1.2. Kelompok
5.2. pujian akan
mendorong klien
untuk
5.2. Beri pujian terhadap kemampuan klien
6. klien 6.1. Keluarga dapat mengungkapkan
mengungkapkan perasaannya
mendapat menjelaskan tentang perasaannya
dukungan :
keluarga 6.1.1. Pengertian
dalam menarik diri 6.1. mengeahui
memperluas 6.1.2. Tanda dan kondisi umum
hubungan gejala menarik 6.1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga klien dalam
sosial diri sebagai pendukung untuk mengatasi berhubungan
6.1.3. Penyebab dan perilaku menarik diri dengan keluarga
akibat atau orang lain.
menarik diri
6.1.4. Cara merawat 6.2. mengkaji
klien menarik 6.2. Diskusikan potensi keluarga untuk pengetahuan
diri membantu klien mengatasi perilaku keluarga dalam
6.2. Keluarga dapat menarik diri membantu klien
mempraktekkan cara
merawat klien 6.3. memberi
menarik diri informasi
6.3. Jelaskan pada keluarga tentang: mengenai
6.3.1. Pengertian menarik diri pengertian, tanda

45
6.3.2. Tanda dan gejala menarik diri dan gejala,
6.3.3. Penyebab dan akibat menarik diri penyebab, dan
6.3.4. Cara merawat klien menarik diri cara merawat
klien menarik diri

6.4. Mendorong
6.4. Latih keluarga cara merawat klien menarik keluarga dalam
diri mempercepat
proses
penyembuhan
klien

6.5. Mengetahui
perasaan klien
6.5. Tanyakan perasaan keluarga setelah dalam merawat
mencoba cara yang dilatihkan klien

6.6. Membantu klien


meningktkan
6.6. Beri motivasi keluarga agar membantu minat dalam

klien untuk bersosialisasi membantu klien

6.7. pujian akan


mendorong
6.7. Beri pujian kepada keluarga atas kleluarga untuk

46
7. Klien dapat 7.1. Klien dapat keterlibatannya merawat klien di rumah mengungkapkan
memanfaatkan menyebutkan : sakit perasaannya
obat dengan baik 7.1.1. Manfaat
minum obat 7.1 mengkaji
7.1.2. Kerugian pengetahuan klien
tidak minum tentang konsumsi
obat obatnya.
7.1.3. Nama, 7.1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat
warna, dosis, dan kerugian tidak minum obat, nama, 7.2 mengetahui
efek terapi warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek apakah klien
dan efek samping penggunaan obat meminum obatnya
samping obat
7.2. Klien 7.2. Pantau klien saat penggunaan obat 7.3. pujian akan
mendemonstrasikan meningkatkan
penggunaan obat keinginan klien
dengan benar untuk meminum
7.3. Klien menyebutkan 7.3. Beri pujian jika klien menggunakan obat obatnya
akibat berhenti dengan benar
minum obat tanpa
7.4 mengkaji
konsultasi dokter
pengetahuan klien
tentang akibat tidak
meminum obatnya
7.4. Diskusikan akibat berhenti minum obat
tanpa konsultasi dengan dokter 7.5. membantu klien
dalam mempercepat

47
2. TUM : proses penyembuhan
Klien dapat
1. Klien menunjukkan 7.5. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada
berinteraksi
ekspresi wajah dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang 1.1. Hubungan saling
dengan orang lain
bersahabat, tidak diinginkan percaya
Isolasi sosial: menarik
menunjukkan rasa merupakan dasar
diri berhubungan TUK :
senang, ada kontak untuk hubungan
dengan gangguan 1. Klien dapat
mata, mau berjabat interaksi
konsep diri: harga membina
tangan, mau 1.1. Bina hubugan salin percaya dengan selanjutnya.
ditandai dengan : hubungan
menyebutkan nama, menggunakan prinsip komunikasi
DS ( Menarik diri ) : saling percaya
maumenjawab terapeutik:
 klien menga dengan
salam, klien mau 1.1.1. Sapa klien dengan ramah baik
takan jika me perawat
duduk verbal maupun non verbal
ngalami
berdampingan 1.1.2. Perkenalkan diri dengan sopan
masalah, klien
dengan pearwat, 1.1.3. Tanyakan nama lengkap dan nama
lebih banyak
mau mengutarakan panggilan yang disukai klien
diam
masalah yang 1.1.4. Jelaskan tujuan pertemuan
dihadapi 1.1.5. Jujur dan menepati janji
1.1.6. Tunjukkan sikap empati dan
DO :
menerima klien apa adanya
 Klien sering 2. klien dapat 2. Klien menyebutkan : 1.1.7. Beri perhatian dan perhatikan
duduk mengidentifikasi 2.1. Aspek positif kebutuhan dasar klien
menyendiri, aspek positif dan dan kemampuan 2.1. Diskusikan
kemampuan yang yang dimilki tingkat kemampuan
 klien tampak dimilki klien seperti menilai
klien
pendiam, realitas, kontrol diri
2.2. Aspek positif

48
 Klien tampak keluarga atau integritas ego
menundukan 2.3. Aspek positif 2.1. Diskusikan dengan klien tentang: diperlukan sebagai
kepala, lingkungan 2.1.1. Aspek positif yang dimiliki klien, dasar asuhan
klien keluarga, lingkungan keperawatannya.
 klien tidak 2.1.2. Kemampuan yang dimiliki klien
mampu
memulai 2.2. mempermudah
pembicaraan menyeleksi kegiatan
yang mudah untuk
 Tidak ada dilakukan
kontak mata
saat berkomu 2.2. Bersama klien buat daftar tentang
nikasi, 2.2.1. Aspek positif klien, keluarga, 2.3. Pujian yang
lingkungan realistik tidak
 Wajah klien
2.2.2. Kemampuan yang dimilki klien menyebabkan klien
tampak
melakukan kegiatan
murung,
hanya karena ingin

 klien juga mendapatkan pujian.

memiliki afek
2.3. Beri pujian yang realitas, hindarkan
datar, 3. klien dapat
memberi penilaian negatif
menilai
 Klien tampak kemampuan yang 3.1. Diskusikan pada
3. Klien mampu
asing dengan dimilki untuk klien tentang
menyebutkan
klien lain dilaksanakan kemampuan yang
kemampuan yang
dimiliki adalah
 Klien tampak dapat dilaksankan
prasyarat untuk

49
kurang berubah
antusias dalam
kegiatan 3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang 3.2. Pengertian
ruangan dan dapat dilaksanakan tentang kemampuan
kelompok. yang dimiliki diri
memotivasi untuk
DS (Harga diri
tetap mempertahankan
rendah):
kemampuannya.
 Klien
mengatakan 4. klien dapat
3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat
sering merencanakan 4.1. Klien perlu
dilanjutkan pelaksanaannya
bersedih kegiatan sesuai bertindak secara
dengan 4. Klien mampu realistis dalam
kemampuan yang membuat kehidupannya.
DO : rencana kegiatan
dimilki
 Klien tampak harian
sering duduk
menyendiri, 4.2. Sebagai motivasi
tindakan yang akan
 Tidak ada
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dilakukan oleh klien
kontak mata
dapat dilakukan setiap hari sesuai selanjutnya
saat
kemampuan klien :
berkomunikasi 4.3. Contoh peran
4.1.1. Kegiatan mandiri
. yang dilihat klien akan
4.1.2. Kegiatan dengan bantuan
memotovasi klien
untuk melaksanakan
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien kegiatan.

50
5. klien dapat
melakukan 5.1. Memberikan
kegiatan sesuai kesempatan kepada
rencana yang klien untuk tetap
dibuat 5. Klien dapat 4.3. Beri contoh cara pelaksanaankegiatan yang melakukan kegiatan
melakukan dapat klien lakukan yang biasa dilakukan
kegiatan sesuai
jadwal yang 5.2. menegtahui
dibuat sejauh mana
kemampuan klien
5.1. Anjurkan klien untuk melaksanakan
kegiatan yang telah direncanakan
5.3. Reinforcement
positif dapat
meningkatkan
harga diri klien

5.2. Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien


5.4. Dapat mengetahui
perkembangan
dan keaktifan klien
dengan keluarga

6. Klien dapat 5.3. Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien
memanfaatka
6.1. Mendorong
n sistem
keluarga akan
pendukung

51
yang ada 6. Klien mampu sangat
memanfaatkan berpengaruh
5.4. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan
sistem dalam
kegiatan setelah pulang
pendukung yang mempercepat
ada di keluarga proses
penyembuhan
klien

6.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga


tentang cara merawat klien dengan harga 6.2. Mempercepat
diri rendah proses
penyembuhan

6.3. Membantu klien


lebih cepat pulih

6.2. Bantu keluarga memberikan dukungan


selama klien di rawat

6.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan


rumah

52
53
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama Klien : Nn “N”
No. Reg : 21 00 92
NDx. HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
1 Selasa / TUK 1:
1. Membina hubungan saling percaya dengan
20 -05-2012 memberi salam setiap berinteraksi, S : -klien belum mampu berkomunikasi
memperkenalkan nama, nama panggilan dan dengan perawat
tujuan perawat berkenalan, menanyakan nama
O:
lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
 Klien mau berjabat tangan tetapi
kontak mata tidak ada

 klien nampak autistik dan mutisme

A : Masalah belum teratasi


P : Lanjutkan Intervensi TUK 1

TUK 2:

2.1. Menanyakan pada klien tentang orang yang S:klien belum bisa mengutarakan tentang
tinggal serumah / teman sekamar klien, orang orang orang yang ada disekitarnya
yang paling dekat dengan klien di rumah/di ruang O:
perawatan, apa yang membuat klien dengan orang
tersebut, orang yang tidak dekat dengan klien di  Tidak mau berkomunikasi dengan
rumah/ di ruang perawatan, apa yang membuat perawat
klien tidak dekat dengan orang tersebut, upaya
yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang  Klien belum bisa bercerita mengenai
lain
penyebab menarik diri

54
2.2. Mendiskusikan dengan klien penyebab menarik A : Masalah belum teratasi
diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain P : Lanjutkan Intervensi TUK 2

2.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien


mengungkapkan perasaannya

TUK 3:
S : klien belum mengerti bagaimana
3.1. Menanyakan pada klien tentang manfaat
hubungan social dan kerugian menarik diri mamfaat ber hubungan sosial
O:
3.2. Mendiskusikan bersama klien tentang manfaat  Klien belum mampu menyebutkan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri keuntungan berinteraksi dengan orang
lain

3.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien  belum mampu menyebutkan kerugian
mengungkapkan perasaanya tidak berinteraksi dengan orang lain,

A : Masalah belum teratasi


P : Lanjutkan Intervensi TUK 3
TUK 4 :

4.1. Mengobservasi perilaku klien saat berhubungan


S : klien belum bisa berhubungan dengan
social
orang lain
O:
4.2. Memberi motivasi dan bantu klien untuk
berkenalan/ berkomunikasi dengan Perawat lain,  Klien mau berjabat tangan dengan
Klien lain dan Kelompok penulis namun belum ada kontak
mata

55
4.3. Melibatkan klien dalam Terapi Aktivitas  Klien masih belum mau
Kelompok Sosialisasi berkomunikasi dengan orang lain

4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan A : Masalah belum teratasi
untuk meningkatkan kemampuan klien P : Lanjutkan Intervensi TUK 4
bersosialisasi

4.5. Memberi motivasi klien untuk melakukan


kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat

4.6. Memberi pujian terhadap kemampuan klien


memperluas pergaulannya melalui aktifitas yang
dilaksanakan

TUK 5 :

5.1. Mendiskusikan dengan klien tentang perasaannya S :klien belum bisa berdiskusi dengan baik
setelah berhubungan sosial dengan Orang lain dan o : klien mau memberitahu perasaannya
Kelompok A : Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi TUK 5
5.2. Memberi pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya

TUK 6 :
S: klien belum mampu berdiskusi dengan

56
6.1 Mendiskusikan pentingnya peran serta keluarga baik
sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku o: klien mau mendengar penjelasan
menarik diri perawat
A: Masalah belum teratasi
6.2 Mendiskusikan potensi keluarga untuk membantu
P: Lanjutkan intervensi TUK 6
klien mengatasi perilaku menarik diri

6.3. Menjelaskan pada keluarga tentang pengertian


menarik diri, tanda dan gejala menarik diri,
penyebab dan akibat menarik diri serta cara
merawat klien menarik diri

6.4. Melatih keluarga cara merawat klien menarik diri

6.5. Menanyakan perasaan keluarga setelah mencoba


cara yang dilatihkan

6.6. Memberi motivasi keluarga agar membantu klien


untuk bersosialisasi

6.7. Memberi pujian kepada keluarga atas


keterlibatannya merawat klien di rumah sakit

TUK 7 :

7.1. Mendiskusikan dengan klien tentang manfaat dan S :klien belum bisa berdiskusi dengan baik

57
kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, 0: klien mau berdiskusi dengan perawat
cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan
obat. A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi TUK 7

7.2. Memantau klien saat penggunaan obat

7.3. Memberi pujian jika klien menggunakan obat


dengan benar

7.4. Mendiskusikan akibat berhenti minum obat tanpa


konsultasi dengan dokter

7.5. Menganjurkan klien untuk konsultasi kepada


dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

TUK 1:
2. Selasa /
1.1. Bina hubugan saling percaya dengan
20 Mei 2012
menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
S : -klien maseh merasa asing dengan
dengan menyapa klien dengan ramah baik
memperkenalkan diri dengan sopan, menanyakan perawat
nama lengkap dan nama panggilan yang disukai O :
klien, menjelaskan tujuan pertemuan.  Klien mau berjabat tangan tetapi
kontak mata tidak ada

58
 klien nampak autistik dan mutisme

A : Masalah belum teratasi


TUK 2 : P : Lanjutkan Intervensi TUK 1
2.1.Mendiskusikan dengan klien tentang aspek positif
yang dimiliki klien, keluarga, lingkunga serta
kemampuan yang dimiliki klien S: klien belum dapat berdiskusi dengan baik
O:
1.2. Bersama klien membuat daftar tentang aspek
 Tidak mau berkomunikasi dengan
positif klien, keluarga, lingkungan serta
perawat
kemampuan yang dimilki klien
 Klien belum bisa bercerita mengenai
1.3. Memberi pujian yang realitas, hindarkan memberi penyebab menarik diri
penilaian negative
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi TUK 2

TUK 3:

3.1. Mendiskusikan dengan klien kemampuan yang S : klien belum dapat berdiskusi dengan
dapat dilaksanakan baik
O:
3.2. Mendiskusikan kemampuan yang dapat  Klien belum mampu menyebutkan
dilanjutkan pelaksanaannya keuntungan berinteraksi dengan orang
lain

 belum mampu menyebutkan kerugian

59
tidak berinteraksi dengan orang lain,

A : Masalah belum teratasi


TUK 4 :
P : Lanjutkan Intervensi TUK 3
4.1. Merencanakan bersama klien aktivitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien S : klien belum dapat berkomunikasi
kegiatan mandiri dan kegiatan dengan bantuan dengan baik
O:
4.2. Meningkatkan kegiatan sesuai kondisi klien  Klien mau berjabat tangan dengan
penulis namun belum ada kontak
4.3. Memberi contoh cara pelaksanaankegiatan yang mata
dapat klien lakukan
 Klien masih belum mau
berkomunikasi dengan orang lain
TUK 5 : A : Masalah belum teratasi
5.1. Menganjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan
P : Lanjutkan Intervensi TUK 4
yang telah direncanakan

5.2. Memantau kegiatan yang dilaksanakan klien S :klien belum bisa melaksanakan kegiatan
yang telah dijadwalkan
5.3. Memberi pujian atas usaha yang dilakukan klien o : klien mau memberitahu perasaannya
A : Masalah belum teratasi
5.4. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan P: Lanjutkan intervensi TUK 5
setelah pulang

60
TUK 6:
6.1. Memberi pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah

6.2. Membantu keluarga memberikan dukungan selama S: keluarga klien masih belum dapat
klien di rawat menerima keadaan klien saat ini

6.3. Membantu keluarga menyiapkan lingkungan o: klien mau mendengar penjelasan


rumah perawat
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi TUK 6

61
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama Klien : Nn “N”
No. Reg : 21 00 92
NDx. HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

62
1 Rabu / TUK 1:
1.1. Membina hubungan saling percaya dengan
21 -05-2012 memberi salam setiap berinteraksi, S : - klien belum dapat berkomunikasi
memperkenalkan nama nama panggilan dan dengan perawat
tujuan perawat berkenalan, menanyakan nama
O:
lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
 Klien mau berjabat tangan tetapi
TUK 2:
kontak mata tidak ada
2.1. Menanyakan pada klien tentang orang yang tinggal
serumah / teman sekamar klien, orang yang paling  klien nampak autistik dan mutisme
dekat dengan klien di rumah/di ruang perawatan,
apa yang membuat klien dengan orang tersebut, A : Masalah belum teratasi
orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/ di P : Lanjutkan Intervensi TUK 1
ruang perawatan, apa yang membuat klien tidak
dekat dengan orang tersebut, upaya yang sudah
dilakukan agar dekat dengan orang lain S : klien belum mampu untuk
mengutarakan tentang apa yang dia
2.2. Mendiskusikan dengan klien penyebab menarik
diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain rasakan
O:
2.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien  Klien mau berjabat tangan dengan
mengungkapkan perasaannya
penulis namun belum ada kontak
mata
TUK 3:

3.1. Menanyakan pada klien tentang manfaat  Klien masih belum mau
hubungan social dan kerugian menarik diri berkomunikasi dengan orang lain

3.2. Mendiskusikan bersama klien tentang manfaat A : Masalah belum teratasi


berhubungan sosial dan kerugian menarik diri P : Lanjutkan Intervensi TUK 4

63
3.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien
mengungkap kan perasaanya

TUK 4 :

4.1. Mengobservasi perilaku klien saat berhubungan


social

4.2. Memberi motivasi dan bantu klien untuk


berkenalan/ berkomunikasi dengan Perawat lain,
Klien lain dan Kelompok

4.3. Melibatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok


Sosialisasi

4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan


untuk meningkatkan kemampuan klien
bersosialisasi

4.5. Memberi motivasi klien untuk melakukan kegiatan


sesuai dengan jadwal yang telah dibuat

4.6. Memberi pujian terhadap kemampuan klien


memperluas pergaulannya melalui aktifitas yang

64
dilaksanakan

TUK 5 :

5.1. Mendiskusikan dengan klien tentang perasaannya


setelah berhubungan sosial dengan Orang lain dan
Kelompok
S :klien belum dapat mendiskusika apa
yang dia rasakan
5.2. Memberi pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya o : klien mau memberitahu perasaannya
A : Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi TUK 5
TUK 6 :

6.1. Mendiskusikan pentingnya peran serta keluarga


sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku
menarik diri

S :klien belum dapat berkomunikasi


6.2. Mendiskusikan potensi keluarga untuk membantu
klien mengatasi perilaku menarik diri dengan baik
o : klien mau memberitahu perasaannya
A : Masalah belum teratasi
6.3. Menjelaskan pada keluarga tentang pengertian
P: Lanjutkan intervensi TUK 5
menarik diri, tanda dan gejala menarik diri,
penyebab dan akibat menarik diri serta cara
merawat klien menarik diri

6.4. Melatih keluarga cara merawat klien menarik diri

65
6.5. Menanyakan perasaan keluarga setelah mencoba
cara yang dilatihkan

6.6. Memberi motivasi keluarga agar membantu klien


untuk bersosialisasi

6.7. Memberi pujian kepada keluarga atas


keterlibatannya merawat klien di rumah sakit

TUK 7 :

7.1. Mendiskusikan dengan klien tentang manfaat dan


kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis,
cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan
obat.
b
S : klien belum bisa mengerti tentang apa
7.2. Memantau klien saat penggunaan obat
yang ingin didiskusikan
0: klien mau berdiskusi dengan perawat
7.3. Memberi pujian jika klien menggunakan obat
dengan benar
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi TUK 7
7.4. Mendiskusikan akibat berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter

66
7.5. Menganjurkan klien untuk konsultasi kepada
dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

TUK 1:
2. Rabu /
1.1. Bina hubugan salin percaya dengan menggunakan
21 Mei 2012
prinsip komunikasi terapeutik dengan menyapa
S : -klien belum bisa berkomunikasi
klien dengan ramah baik memperkenalkan diri
dengan baik
dengan sopan, menanyakan nama lengkap dan
nama panggilan yang disukai klien, menjelaskan O :
tujuan pertemuan.  Klien mau berjabat tangan tetapi
kontak mata tidak ada
TUK 2 :
2.1.Mendiskusikan dengan klien tentang aspek positif  klien nampak autistik dan mutisme
yang dimiliki klien, keluarga, lingkunga serta
A : Masalah belum teratasi
kemampuan yang dimiliki klien
P : Lanjutkan Intervensi TUK 1

2.2. Bersama klien membuat daftar tentang aspek


positif klien, keluarga, lingkungan serta
kemampuan yang dimilki klien S:klien belum bisa berkomunikasi dengan baik
O:

67
 Tidak mau berkomunikasi dengan
2.3. Memberi pujian yang realitas, hindarkan memberi perawat
penilaian negative
 Klien belum bisa bercerita mengenai
TUK 3: penyebab menarik diri

3.1. Mendiskusikan dengan klien kemampuan yang A : Masalah belum teratasi


dapat dilaksanakan P : Lanjutkan Intervensi TUK 2

3.2. Mendiskusikan kemampuan yang dapat


dilanjutkan pelaksanaannya
S :klien belum dapat berkomunikasi
dengan baik
TUK 4 : O:
 Klien belum mampu menyebutkan
4.1. Merencanakan bersama klien aktivitas yang dapat keuntungan berinteraksi dengan orang
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien lain
kegiatan mandiri dan kegiatan dengan bantuan
 belum mampu menyebutkan kerugian
4.2. Meningkatkan kegiatan sesuai kondisi klien tidak berinteraksi dengan orang lain,

A : Masalah belum teratasi


4.3. Memberi contoh cara pelaksanaankegiatan yang
dapat klien lakukan P : Lanjutkan Intervensi TUK 3

S : klien belum bisa bekerja sama dengan


TUK 5 : perawat

68
5.5. Menganjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan O :
yang telah direncanakan  Klien mau berjabat tangan dengan
penulis namun belum ada kontak
5.6. Memantau kegiatan yang dilaksanakan klien mata

 Klien masih belum mau


5.7. Memberi pujian atas usaha yang dilakukan klien berkomunikasi dengan orang lain

5.8. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan A : Masalah belum teratasi


setelah pulang P : Lanjutkan Intervensi TUK 4

TUK 6:
6.1. Memberi pendidikan kesehatan pada keluarga S :klien dibantu dalam mengerjakan
tentang cara merawat klien dengan harga diri aktivitasnya
rendah o : klien mau memberitahu perasaannya
A : Masalah belum teratasi
6.2. Membantu keluarga memberikan dukungan selama P: Lanjutkan intervensi TUK 5
klien di rawat

6.3. Membantu keluarga menyiapkan lingkungan


rumah

69
S: klien menerima dukungsn dari
keluarganya
o: klien mau mendengar penjelasan
perawat
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi TUK 6

70
71
72
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama Klien : Nn “RJ”
No. Reg : 23 51 82
NDx. HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
1 Kamis / TUK 1:
1.1. Membina hubungan saling percaya dengan
22 -05-2012 memberi salam setiap berinteraksi, S : -klien belum mampu berkomunikasi
memperkenalkan nama nama panggilan dan dengan perawat
tujuan perawat berkenalan, menanyakan nama
O:
lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
 Klien mau berjabat tangan tetapi
TUK 2:
kontak mata tidak ada
2.1. Menanyakan pada klien tentang rang yang tinggal
serumah / teman sekamar klien, orang yang paling  klien nampak autistik dan mutisme
dekat dengan klien di rumah/di ruang perawatan,
apa yang membuat klien dengan orang tersebut, A : Masalah belum teratasi
orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/ di P : Lanjutkan Intervensi TUK 1
ruang perawatan, apa yang membuat klien tidak
dekat dengan orang tersebut, upaya yang sudah
dilakukan agar dekat dengan orang lain
S:klien belum bisa mengutarakan tentang
2.2. Mendiskusikan dengan klien penyebab menarik orang orang yang ada disekitarnya
diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain O:
 Tidak mau berkomunikasi dengan
2.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien
perawat
mengungkapkan perasaannya

 Klien belum bisa bercerita mengenai


TUK 3:

73
3.1. Menanyakan pada klien tentang manfaat penyebab menarik diri
hubungan social dan kerugian menarik diri
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi TUK 2
3.2. Mendiskusikan bersama klien tentang manfaat
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri

3.3. Memberi pujian terhadap kemampuan klien


mengungkap kan perasaanya
S : klien belum mengerti bagaimana
mamfaat ber hubungan sosial
TUK 4 :
O:
4.1. Mengobservasi perilaku klien saat berhubungan
 Klien belum mampu menyebutkan
social
keuntungan berinteraksi dengan orang
lain
4.2. Memberi motivasi dan bantu klien untuk
berkenalan/ berkomunikasi dengan Perawat lain,  belum mampu menyebutkan kerugian
Klien lain dan Kelompok tidak berinteraksi dengan orang lain,

A : Masalah belum teratasi


4.3. Melibatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok P : Lanjutkan Intervensi TUK 3
Sosialisasi

S : klien belum bisa berhubungan dengan


4.4. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan
orang lain
untuk meningkatkan kemampuan klien
O:
bersosialisasi
 Klien mau berjabat tangan dengan

74
4.5. Memberi motivasi klien untuk melakukan kegiatan penulis namun belum ada kontak
sesuai dengan jadwal yang telah dibuat mata

4.6. Memberi pujian terhadap kemampuan klien  Klien masih belum mau
memperluas pergaulannya melalui aktifitas yang berkomunikasi dengan orang lain
dilaksanakan
A : Masalah belum teratasi
TUK 5 : P : Lanjutkan Intervensi TUK 4
5.1. Mendiskusikan dengan klien tentang perasaannya
setelah berhubungan sosial dengan Orang lain dan S :klien belum bisa untuk menerima
Kelompok tentang keadaan dirinya
o : klien mau memberitahu perasaannya
5.2. Memberi pujian terhadap kemampuan klien A : Masalah belum teratasi
mengungkapkan perasaannya P: Lanjutkan intervensi TUK 5

TUK 6 :

6.1. Mendiskusikan pentingnya peran serta keluarga


sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku S:keluarga klien belum dapat menerima
menarik diri tentang keadaan diri klien
o: klien mau mendengar penjelasan
6.2. Mendiskusikan potensi keluarga untuk membantu
perawat
klien mengatasi perilaku menarik diri
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi TUK 6
6.3. Menjelaskan pada keluarga tentang pengertian

75
menarik diri, tanda dan gejala menarik diri,
penyebab dan akibat menarik diri serta cara
merawat klien menarik diri

6.4. Melatih keluarga cara merawat klien menarik diri

6.5. Menanyakan perasaan keluarga setelah mencoba


cara yang dilatihkan

6.6. Memberi motivasi keluarga agar membantu klien


untuk bersosialisasi

6.7. Memberi pujian kepada keluarga atas


keterlibatannya merawat klien di rumah sakit

TUK 7 :

7.1. Mendiskusikan dengan klien tentang manfaat dan


kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, S : klien belum dapat menerima masukan
cara, efek terapi, dan efek samping penggunaan
oleh perawat
obat.
0: klien mau berdiskusi dengan perawat
A: masalah belum teratasi
7.2. Memantau klien saat penggunaan obat
P: lanjutkan intervensi TUK 7

76
7.3. Memberi pujian jika klien menggunakan obat
dengan benar

7.4. Mendiskusikan akibat berhenti minum obat tanpa


konsultasi dengan dokter

7.5. Menganjurkan klien untuk konsultasi kepada


dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan

2. Kamis/ S : -klien belum mau melakukan


22 mei 2012 TUK 1: komunikasi dengan orang lain
1.1. Bina hubugan salin percaya dengan menggunakan O :
prinsip komunikasi terapeutik dengan menyapa  Klien mau berjabat tangan tetapi
klien dengan ramah baik memperkenalkan diri kontak mata tidak ada
dengan sopan, menanyakan nama lengkap dan
 klien nampak autistik dan mutisme
nama panggilan yang disukai klien, menjelaskan
tujuan pertemuan. A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi TUK 1

77
TUK 2 :
2.1.Mendiskusikan dengan klien tentang aspek positif
yang dimiliki klien, keluarga, lingkunga serta S: klien belum mau menerima tentang keadaan
kemampuan yang dimiliki klien dirinya saat ini
O:
2.2. Bersama klien membuat daftar tentang aspek  ang kaTidak mau berkomunikasi
positif klien, keluarga, lingkungan serta dengan perawat
kemampuan yang dimilki klien
 Klien belum bisa bercerita mengenai
2.3. Memberi pujian yang realitas, hindarkan memberi penyebab menarik diri
penilaian negative
A : Masalah belum teratasi
TUK 3: P : Lanjutkan Intervensi TUK 2
3.1. Mendiskusikan dengan klien kemampuan yang
dapat dilaksanakan
S :klien masih belum mengerti tentang

3.2. Mendiskusikan kemampuan yang dapat


masukan yang di berikan kepada perawat
dilanjutkan pelaksanaannya O:
 Klien belum mampu menyebutkan
TUK 4 : keuntungan berinteraksi dengan orang
lain
4.1. Merencanakan bersama klien aktivitas yang dapat
 belum mampu menyebutkan kerugian
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien tidak berinteraksi dengan orang lain,
kegiatan mandiri dan kegiatan dengan bantuan
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi TUK 3
4.2. Meningkatkan kegiatan sesuai kondisi klien

78
4.3. Memberi contoh cara pelaksanaankegiatan yang S : klien masih ragu tentang keadaan
dapat klien lakukan sekitar lingkungannya
O:
 Klien mau berjabat tangan dengan
TUK 5 :
penulis namun belum ada kontak
5.1. Menganjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan
mata
yang telah direncanakan

 Klien masih belum mau


5.2. Memantau kegiatan yang dilaksanakan klien berkomunikasi dengan orang lain

A : Masalah belum teratasi


5.3. Memberi pujian atas usaha yang dilakukan klien P : Lanjutkan Intervensi TUK 4

5.4. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan


setelah pulang
S :klien masih belm mengerti tentang
arahan yang diberikan oleh perawat
TUK 6:
o : klien mau memberitahu perasaannya
6.1. Memberi pendidikan kesehatan pada keluarga
A : Masalah belum teratasi
tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah P: Lanjutkan intervensi TUK 5
S: keluarga klien masih belum
dapat menerima keadaan klien saat
6.2. Membantu keluarga memberikan dukungan selama
ini
klien di rawat
O: keluarga nanmpak membantu

79
klien
6.3. Membantu keluarga menyiapkan lingkungan A: masalah belum teratasi
rumah P: lanjutkan intervensi TUK 6

80
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang hasil pendokumentasian asuhan keperawatan jiwa
yang telah dilakukan selama satu hari pada Nn. RJ dengan masalah utama isolasi sosial :
menarik diri di Ruang Seruni RS Tk. II Pelamonia, Makassar. Pembahasan ini mencakup
seluruh proses asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Pengkajian diperoleh melalui
wawancara dengan klien, laporan teman sejawat, catatan keperawatan atau tenaga
kesehatan lainnya dan melalui pengkajian fisik. Pembahasan yang diuraikan dimulai dari
tahap pengkajian sampai dengan evaluasi serta ditinjau dari teori keperawatan jiwa.
Kesenjangan antara teori dan kondisi nyata dilahan praktek diuraikan juga pada bab ini.
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 Maret 2012 pukul 08.30 WITA, di
ruang Seruni RS Tk. II Pelamonia, Makassar. Dari hasil pengkajian yang dilakukan,
dengan cara autoanamnesa maupun alloanamnesa. Autoanamnesa yaitu interaksi
antara perawat-klien secara langsung dimana interaksi tersebut merupakan suatu
kegiatan untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik antara perawat-klien.
Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan klien, membantunya dalam
pengalaman kehidupan sehari-hari agar dapat melakukan kegiatan sebagaimana
mestinya dan mencari tahu latar belakangnya dirawat di rumah sakit jiwa.
Pengkajian dengan cara alloanamnesa dengan melihat catatan medik klien.
Menurut Nurjannah (2005) bahwa pengkajian merupakan tahap awal dan
dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan
data dan perumusan kebutuhan masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi
data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Hal-hal yang perlu dikaji pada klien
menarik diri adalah biodata klien, alasan masuk, keluhan utama, faktor
predisposisi, status mental, faktor-faktor psikososial, kebutuhan persiapan pulang
serta mekanisme koping yang sering digunakan. Sedangkan menurut Stuart dan
Sundeen (1998) pengkajian pada pasien dengan gangguan jiwa isolasi sosial :
menarik diri meliputi faktor predisposisi, faktor presipitasi, perilaku, fisik, status
emosi, intelektual, status sosial dan spiritual.
Berdasarkan data pengkajian pada Nn. RJ dan data dokumentasi
keperawatan yang ada didapatkan faktor predisposisi yang mendukung munculnya
masalah pada klien yaitu klien telah mengalami gangguan jiwa sejak 1 tahun yang
lalu, klien diantar oleh keluarga tanggal 9 Maret 2012 ke Rumah Sakit Tk. II
Pelamonia dengan alasan klien sering berdiam diri, tidak mau bicara dan tidak mau
beraktifitas. Faktor presipitasinya klien mengalami perubahan perilaku semenjak
81
dijauhi oleh teman-temannya. Klien dikucilkan hingga klien mulai mengalami
perubahan perilaku.
Dari hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan dari pengkajian pasien adalah
tidak ada kelainan pada pemeriksaan tanda-tanda vital. Dari hasil pemeriksan
antropometri didapat tinggi badan klien 156 cm dan berat badan klien 42 kg.
Sedangkan dari pemeriksaan head to toe kebersihan rambut jelek , telinga nampak
kotor kebersihan kulit buruk , tekstur kulit kasar , gigi kotor dan terdapat karies gigi

Pada genogram dalam pengkajian psikososial, didapatkan bahwa Dari


pengkajian status psikososial klien sudah dijauhi oleh teman-temannya sejak 1
tahun lalu. Dalam keluarganya tidak ada yang menderita gangguan jiwa.
Pengkajian konsep diri menurut Stuart dan Sundeen (1998:227), Dari hasil
wawancara dengan klien gambaran diri, identitas diri, peran diri dan ideal diri
klien tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama komunikasi. Klien
mengalami autistik dan mutisme. Sedangkan harga diri klien, Nn. RJ
menganggukan kepala bahwa dirinya serba tidak mampu, dan sering menyesali
keadaan dirinya.
Menurut Sunaryo (2004 : 34) Harga diri rendah timbul jika individu
merasakan kehilangan kasih sayang, cinta kasih dan penghargaan dari orang lain
dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal
yang ada dalam dirinya, sehingga individu akan mengalami kesulitan dalam
berinteraksi dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain di lingkungan
sosial.
Pengkajian persepsi sensori klien bahwa dirinya tidak pernah mendengar
suara-suara apapun. Kebutuhan persiapan pulang klien masih membutuhkan
sedikit bantuan perawat dalam kegiatan harian di ruangan.
Pada mekanisme koping ditemukan bahwa mekanisme koping klien tidak
efektif karena klien lebih suka menyendiri, klien mengatakan jika ada masalah yang
menimpanya, klien lebih suka memendamnya sendiri, enggan bercerita, klien selalu
menyalahkan dirinya sendiri jika ada masalah yang menimpanya. Menurut Stuart
and Sunden (1998: 230) Mengkritik diri sendiri atau orang lain, gangguan dalam
berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, perasaan negatif tentang
tubuhnya sendiri, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang
pesimis, menarik diri secara sosial, khawatir, merupakan manifestasi dari harga diri
rendah.
Pengkajian tanda dan dan gejala pada klien gangguan isolasi sosial: menarik
diri adalah malas berinteraksi, menganggap orang lain tidak mau menerima

82
dirinya,curiga dengan orang lain,mendengar suara-suara/melihat bayangan,
merasa malu untuk berbicara dengan orang lain, menyendiri dalam ruangan, tidak
bias memulai pembicaraan, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain
(autistik/mutisme), tidak melakukan kontak mata, sikap mematung, mondar-
mandir tanpa arah, tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain, banyak
menunduk saat diajak bicara, afek dapat tumpul atau datar, posisi tidur tampak
meringkuk di tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu. (Workshop
Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang,
2007). Pada perilaku klien dengan gangguan isolasi sosial: menarik diri yaitu
kurang sopan, apatis, sedih, afek tumpul, kurang perawatan diri, komunikasi verbal
turun, menyendiri, kurang peka terhadap lingkungan, kurang energy, harga diri
rendah dan posisi tidur seperti janin (Sujono & Teguh, 2009).
Setelah dilakukan pengkajian pada Nn. RJ didapatkan data subyektif klien
yaitu klien merasa sedang sedih. Dan data obyektifnya adalah klien tampak
menyendiri, klien tampak diam, klien tampak menundukan kepala, tidak ada
kontak mata, klien tampak sedih, wajah klien tampak murung, tidak mau
berkomunikasi dengan orang lain (autistik/mutisme), afek datar, kurang perawatan
diri. Berdasarkan data pengkajian yang muncul ada kesenjangan teori dengan
keadaan yang dialami oleh klien.
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian dan analisa data yang didapatkan dari klien,
penulis merumuskan diagnosa keperawatan untuk membantu proses keperawatan
klien selama dirawat di ruang Seruni RS Tk. II Pelamonia, Makassar.
Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan penulis yaitu defisit
perawatan diri berhubungan dengan gangguan isolasi sosial : menarik diri dan
gangguan isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri :
harga diri rendah.
1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan Isolasi sosial : menarik diri
Penulis menetapkan diagnosa keperawatan gangguan isolasi sosial :
menarik diri sebagai prioritas masalah keperawatan. Isolasi sosial adalah
pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang
lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (NANDA, 2005:208).
Data yang mendasari pengangkatan diagnosa keperawatan gangguan
isolasi sosial : menarik diri berupa data obyektifnya adalah klien tampak
menyendiri, klien tampak diam, klien tampak menundukan kepala, tidak ada
kontak mata, klien tampak sedih, wajah klien tampak murung, tidak mau

83
berkomunikasi dengan orang lain (autistik/mutisme), afek datar, kurang
perawatan diri.
Alasan kenapa diagnosa “gangguan isolasi sosial : menarik diri” menjadi
prioritas pertama karena apabila masalah isolasi sosial : menarik diri tidak
ditangani / tidak dilakukan intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkan
perubahan persepi sensori : halusinasi dan resiko tinggi mencederai diri sendiri,
orang lain bahkan lingkungan. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga
bisa menyebabkan intoleransi aktifitas yang akhirnya bisa berpengaruh
terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri
(Sujono dan Teguh, 2009).
2. Gangguan isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep
diri : Harga diri rendah
Data yang ditemukan saat pengkajian yaitu data subjektif : klien
mengatakan sering bersedih. Data objektif : klien tampak sering duduk
menyendiri, tidak ada kontak mata saat berkomunikasi.
Menurut Keliat ( 1998 : 23 ) harga diri rendah merupakan suatu
keadaan dimana evaluasi diri atau dapat di gambarkan sebagai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri, harga diri,
merasa gagal mencapai keinginan, tidak berdaya, tidak ada harapan dan putus
asa. Ada sepuluh cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri
rendah yaitu mengejek dan mengkritik diri sendiri, merendahkan atau
mengurangi martabat diri sendiri, rasa bersalah atau khawatir, manisfestasi
fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik, dan penyalahgunaan zat, menunda
dan ragu dalam mengambil keputusan, gangguan berhubungan, menarik diri
dari kehidupan sosial, menarik diri dari realitas, merusak diri, merusak atau
melukai orang lain (Stuart and Sundeen, 1998:230).
Menurut Sunaryo (2004:34) Harga diri rendah timbul jika individu
merasakan kehilangan kasih sayang, cinta kasih dan penghargaan dari orang
lain dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita
ideal yang ada dalam dirinya, sehingga individu akan mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain di
lingkungan sosial.
Diagnosa ini dijadikan diagnosa kedua karena muncul Berdasarkan
stressor di atas penulis menegakkan diagnosa kedua dengan adanya gangguan
konsep diri karena klien merasa gagal mencapai keinginanya menikah dengan
wanita yang di cintainya. Jika tidak ditegakan klien akan tetap pendiam dan
lebih suka menyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
84
C. Implementasi
Pada 12 Maret 2012 penulis melakukan implementasi SP yaitu
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien, berdiskusi dengan pasien tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain, berdiskusi dengan pasien tentang
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, mengajarkan pasien cara
berkenalan dengan satu orang, menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan
berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. Implementasi
tersebut dapat dilakukan cukup mudah, karena penulis menggunakan komunikasi
terapeutik.
Menurut As Hornby (1974) dikutip oleh Teguh Purwanto (2009)
komunikasi terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari
penyembuhan. Sedangkan menurut Wahyu Purwaningsih (2009:11) dapat
diartikan pula komunikasi yang direncanakan secara sadar, berlangsung secara
verbal dan non verbal, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan
klien. Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi terapeutik
secara efektif adalah pengenalan kesadaran diri sendiri dan mengenal orang lain
yang akan diajak untuk berhubungan, sehingga individu dapat menggunakan
dirinya secara efektif dan tujuan komunikasi dapat tercapai (Nurjannah, 2005:92).
Menurut Stuart dan Sundeen (1998:22), Teknik komunikasi yang
diterapkan adalah Silence atau (diam) yang bertujuan untuk memberi kesempatan
berpikir dan memotivasi klien untuk bicara dengan cara memberikan waktu
kepada klien untuk berpikir dan menghayati, memperlambat tempo interaksi dan
dorong klien untuk mengawali percakapan sementara itu perawat menyampaikan
dukungan, pengertian dan penerimaannya. Hal ini akan memberikan kesan bahwa
perawat / komunikator mau mendengarkan, mau menerima dan mengerti.
Dengan tekhnik komunikasi terapeutik yang dilakukan maka diharapkan
hubungan saling percaya dapat tercapai. Hubungan saling percaya adalah dasar
yang diperlukan dalam pengelolaan klien dan kemampuan klien dalam mengikuti
anjuran dan saran perawat didasarkan atas kualitas hubungan ini (Stuart &
Sundeen, 1998). Dilakukannya identifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri
agar dapat mengurangi beban dan tekanan yang dirasakan oleh klien. Tekhnik
komunikasi yang dilakukan oleh penulis ketika melakukan implementasi
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial adalah mendengar dengan empati.
Menurut Smith (1992) dalam Intansari (2005) empati adalah kemampuan
menempatkan diri kita pada diri orang lain dan bahwa kita telah memahami
bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka
85
tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain, karena dengan empati dapat
meningkatkan perasaan berhubungan dengan orang lain, perasaan ini akan
menurunkan perasaan negative, kesendirian dan isolasi. Dengan adanya tekhnik
komunikasi tersebut mempermudah penulis dalam membina hubungan saling
percaya dan mengidentifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri.
Terapi psikofarmaka yang diperoleh klien yaitu Trifluoperazine 2 x 5 mg,
Amitriptilin 2 x 25 mg, Triheksipenidil 2 x 2 mg, Chlorpromazine 1 x 50 mg.
Menurut Depkes (2000) Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan
tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa.
D. Evaluasi
Implementasi SP yang telah dilakukan belum dapat dilakukan dengan baik
karena klien tidak kooperatif selama diajak komunikasi, klien tampak autistik dan
mutisme. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi dengan data Obyektif “Klien mau
berjabat tangan, tetapi kontak mata tidak ada, klien nampak autistik dan mutisme,
tidak mau berkomunikasi dengan perawat, klien belum bisa bercerita mengenai
penyebab menarik diri” sehingga SP membina hubungan saling percaya dan
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri belum tercapai.
Pada pukul 12.00 WITA penulis melanjutkan implementasi SP yaitu
mendiskusikan dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan mendiskusikan dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang
lain, mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang dan menganjurkan
klien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain. Dari
implementasi SP yang telah dilakukan oleh penulis, implementasi tersebut belum
dapat dilakukan secara optimal. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi dengan data
Obyektif “Klien belum mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan
orang lain dan belum mampu menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain, Klien mau berjabat tangan dengan penulis namun belum ada kontak
mata, klien masih belum mau berkomunikasi dengan orang lain”. Dapat
disimpulkan SP belum tercapai.

86
BAB V
PENUTUP

Setelah dilakukan pembahasan mengenai asuhan keperawatan pada klien Nn. RJ di


Ruang Seruni RS Tk. II Pelamonia, Makassar ditemukan masalah keperawatan yaitu Isolasi
sosial : menarik diri didapatkan hasil bahwa menarik diri adalah suatu gangguan
hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan
sosial (Sujono & Teguh, 2009:151). Dari hasil asuhan keperawatan tersebut dapat diambil
kesimpulan dan saran sebagai berikut:

A. KESIMPULAN
1. Perawat kesulitan dalam berkomunikasi dengan klien karena klien masih
kurang fokus dalam diskusi yang dilakukan. Hal ini mempersulit dalam perawat
melakukan asuhan keperawatan yang disesuaikan dengan teori yang ada.
2. Saat melakukan pengkajian status kesehatan klien dengan gangguan hubungan
social : menarik diri. Pengkajian juga dilakukan dengan melihat status klien
(dokumen rekam medis), sehingga dapat diperoleh data yang tepat sesuai
dengan kondisi klien dan sesuai masalah yang timbul.
3. Perencanaan asuhan keperawatan terutama dalam perencanaan asuhan
keperawatan pada klien menarik diri, dibuat berdasarkan yang diperoleh dari
pengkajian, disesuaikan juga dengan kondisi klien, dengan demikian dapat
membantu proses penyembuhan secara optimal.
4. Menyesuaikan konsep teori yang ada dimana perawat lebih mengenal dan
mengetahui kondisi kliennya, maka perlu membina hubungan saling percaya,
supaya perawat dapat mengetahui penyebab, tanda, gejala, faktor presipitasi
dan jangan lupa peran aktif keluarga. Diharapkan mempercepat proses
penyembuhan klien dan peran perawat dapat mengimplementasikan tindakan
keperawatan dengan mudah.
5. Dokumentasi yang lengkap dalam asuhan keperawatan akan mempermudah
perawat dalam intervensi dan implementasi tindakan keperawatan yang sesuai
kondisi klien.

B. SARAN
1. Dalam memberikan asuhan keperawatan harus dibutuhkan ketelitian serta
ketajaman dalam pengkajian dan analisa masalah, sangat diperlukan oleh

87
seorang perawat, sehingga perawat mampu mengenal dan mengetahui
gangguan hubungan social : menarik diri.
2. Saat melakukan pengkajian hendaknya dilakukan secara terperinci dan secara
sistematis sehingga dapat memperoleh data yang sesuai dengan kondisi klien
agar memudahkan perawat dalam melakukan analisa data, intervensi,
implementasi dan pendokumentasian.
3. Penerapan teori keperawatan, terutama dalam memberikan asuhan
keperawatan jika hendaknya perawat menguasai konsep teori yang ada,
sehingga memudahkan perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan pada
klien dengan halusinasi penglihatan.
4. Pada saat melakukan komunikasi perlu adanya reinforcement positif yang
diberikan kepada klien. Dengan adanya reinforcement tersebut maka akan
dapat meningkatkan harga diri klien sehingga klien akan dapat merubah
perilaku menarik dirinya.
5. Pada saat berkomunikasi diusahakan pada tempat yang tenang. Dengan tempat
yang tenang maka klien akan dapat lebih fokus dan kontak mata tidak akan
teralihkan pada hal yang terjadi di sekitar.
6. Dalam membina hubungan saling percaya dengan klien diri perlu adanya
kontak sering dan singkat secara bertahap serta ciptakan lingkungan yang
menyenangkan.
7. Dalam melaksanakan komunikasi dengan klien menarik diri perlu adanya
teknik komunikasi broad opening (pertanyaan terbuka). Dimana dengan teknik
ini perawat dapat memberi kesempatan pada klien untuk memilih topik
pembicaraan yang diinginkan sehingga klien dapat mengeksplorasikan
perasaannya dan pikirannya.

88