Anda di halaman 1dari 47

PENGUKURAN REGANGAN

(STRAIN GAGE)
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem instrumentasi elektronika)

oleh :
Vita Permatasari (0810630102)
Irfan Habiburrahman (0810633054)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

1
KATA PENGANTAR

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Instrumentasi
Elektronika semester genap tahun ajaran 2010/2011. Banyak permasalahan timbul
karena kesalahan dalam pengukuran, pengetahuan mengenai pengukuran penting untuk
upaya antisipasi maupun pemeliharaan. Penulis mengangkat makalah berjudul
“Pengukuran Regangan (Strain Gage)” dengan tujuan memberikan pengetahuan
mengenai pengukuran regangan
Metode kajian yang digunakan dalam pembuatan makalah ini berupa studi
pustaka.

Puji syukur penulis panjatkan terhadap Allah SWT karena dengan rahmat dan
hidayahNya makalah ini dapat selesai dengan baik. Selain itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik
yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

Karena isi makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan
kritik maupun saran sehingga penyempurnaan makalah ini dapat bermanfaat untuk
pembaca. Penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi acuan referensi dalam
berkomunikasi nonverbal dengan baik.

Malang, 13 April 2011

Penulis

2
DAFTAR ISI

Cover i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Daftar Gambar iv
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Sensor 2
2.1.1 Strain Gage 2
2.1.1.1 Strain, Stress dan Poisson’s Ratio 2
2.1.1.2 Pengertian Strain Gage 4
2.1.1.3 Karakteristik Strain Gage 5
2.1.1.4 Jenis-jenis Strain Gage 6
2.1.1.5 Elemen Pengindra Metal 13
2.1.1.6 Konfigurasi Strain Gage 14
2.1.1.7 Kompensasi Strain gage 15
2.1.1.8 Pemasangan Strain gage 17
2.1.1.9 Pemilihan Strain gage yang tepat 18
2.1.1.10 Aplikasi Strain gage 20
2.1.2 Rangkaian Jembatan Wheatstone 22
2.2 Penguat Instrumentasi 24
2,3 ATmega 8 26
2.4 LCD (Liquid Cristal Display) 28
BAB 3 PEMBAHASAN 31
3.1 Spesifikasi rancangan 31
3.2 Diagram Blok 31
3.3 Pemilihan dan Perancangan sistem sensor 31
3.4 Perancangan rangkaian Pengkondisi sinyal 33
3.5 Resolusi 34
3.6 Bagian Penampil (display) 35
3.7 Gambar rancangan keseluruhan 40
BAB 4 PENUTUP 41
4.1 Kesimpulan 41
4.2 Saran 42
Lampiran datasheet v
Daftar Pustaka vi

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Batang yang mengalami gaya tarik dan gaya tekan 2


Gambar 2. Bentuk dari Transduser daya Strain Gage 5
Gambar 3. Bentuk-bentuk dasar dari Metal Wire Strain Gage 7
Gambar 4. Metal Foil Strain Gage 9
Gambar 5. Macam-macam Rosette untuk Gage Foil 10
Gambar 6. Jenis-jenis konfigurasi Strain Gage Semikonduktor 11
Gambar 7. Strain Gage Aplikasi Khusus 13
Gambar 8. Thermal output fungsi dari temperatur 20
Gambar 9. Faktor Gauge (K) fungsi dari temperatur 20
Gambar 10. Aplikasi sensor strain gauge pada pemantauan beban pada lift 20
Gambar 11. aplikasi sensor strain gauge pada pemantauan beban penimbang timbangan 21
Gambar 12.Sensor strain gauge sebagai sensor tekanan udara 21
Gambar 13. Strain gage pada robot bipedal untuk mengetahui berapa besar beban tiap lengan 22
Gambar 14. Digunakan untuk mengukur besar retakan pondasi. 22
Gambar 15.Susunan strain gage dalam jembatan wheatstone 23
Gambar 16. Jembatan Wheatstone 23
Gambar 17. Penguat Instrumentasi 24
Gambar 18. ATmega 8 26
Gambar 19. Konfigurasi pin ATmega 8 26
Gambar 20. Bentuk fisik LCD 30
Gambar 21. Perancangan sensor 32
Gambar 22. Perancangan RPS 34
Gambar 23. Gambar Rancangan keseluruhan 40

4
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Mechanical Properties of Industrial Materials 4
Tabel 2. Nilai factor gage 5
Tabel 3 Konfigurasi pin-pin LCD 29

5
DAFTAR PUSTAKA

“Analog to Digital Conversion in AVR”.winavr.scienceprog.com. 14 April 2011

“How Sensor Work- Strain Gage”.www.sensorland.com. 13 April 2011

“Measuring Strain with Strain Gages”www.zone.ni.com.13 April 2011


“Sensor dan Transducer”.www.hamimnova.files.wordpress.com.13 April 2011
“Strain”.www.soliton.ae.gatech.edu. 13 april 2011

“Strain Gage”.www.en.wikipedia.org. 13 April 2011

Universitas Petra.”Mikrokontroler AVR ATMega8.” www.allaboutcircuits.com. 14


April 2011

“Strain
Gage”.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18552/3/Chapter%20II.pd
f 4 Juli 2011

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengukuran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Banyak


permasalahan timbul akibat adanya kesalahan dalam pengukuran. Salah satunya
adalah pengukuran regangan atau Strain gage Strain gage adalah suatu alat yang
digunakan untuk mengukur besarnya regangan yang terjadi pada suatu objek.
Pengukuran regangan berperan sangat penting dalam bidang teknik, misalnya pada
kasus analisis tegangan. Dengan mengetahui regangan-regangan yang terjadi pada
suatu objek, maka dapat dianalisis tegangan-tegangan yang terjadi.

Penggunaan strain gage dalam jangka waktu pengukuran yang panjang dapat
menyebabkan terjadinya pergeseran (drift) pada hasil pengukuran strain gage itu
sendiri.

6
1.2 Batasan Masalah

1. Strain gage yang digunakan dalam perancangan adalah metal foil, tidak
membahas jenis-jenis lainnya secara mendalam.
2. Strain gage yang digunakan dalam perancangan untuk mengukur keretakan
3. Dalam perancangan srain gage dianggap ideal, tidak berpengaruh pada
lingkungan sekitar
4. Menganggap material bahan yang diukur tidak berpengaruh pada perhitungan.
5. Tidak memperhitungkan dissipasi daya
6. Tidak membahas rossete terlalu mendalam

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah Perancangan Sistem Pengukuran Regangan antara lain:


1. Mengetahui prinsip dari strain gage (sensor regangan).
2. Merancang rangkaian pengkondisi sinyal untuk strain gage.
3. Merancang sistem strain gage.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sensor

Sensor adalah divais (device) yang menerima signal/stimulus non elektrik


(yang me-representasikan sifat-sifat fisis) sebagai masukan dan memberikan
tanggapan (response) berupa sinyal elektrik sebagai keluarannya

2.1.1 Strain Gage

2.1.1.1 Strain, Stress dan Poisson’s Ratio

Ketika sebuah material menerima gaya tarik (tensile force) P, material akan
mengalami tekanan (stress) yang berhubungan dengan gaya yang dialaminya itu. Secara
proporsional dengan tekanan tersebut, penampang akan berkontraksi dan bertambah panjang
sebesar ΔL dari panjang material mula-mula L

7
Gambar 1. Batang yang mengalami gaya tarik dan gaya tekan

Rasio dari pertambahan panjang dengan panjang mula-mula disebut tensile strain dan
dirumuskan sebagai berikut:

∆𝐿
𝜀=
𝐿

ε : Strain
L : Panjang mula-mula
ΔL : Pertambahan panjang

Apabila material menerima gaya tekan (compressive force), maka material akan
mengalami compressive strain yang dirumuskan sebagai berikut:
−∆𝐿
𝜀=
𝐿

Strain adalah bilangan absolut dan dituliskan dengan nilai numeriknya beserta ×10-6
strain, μ ε atau μm/m. Hubungan dari stress dan strain yang diinisiasikan pada sebuah
material yang menerima gaya dirumuskan oleh hukum Hooke sebagai berikut:

8
𝜎 = 𝐸𝜀
𝜎 : Stress
E : Elastic modulus
ε : Strain

Stress diperoleh dengan mengkalikan strain dengan elastic modulus material. Ketika
material mengalami gaya tarik maka material akan memanjang pada arah axial dan juga akan
berkontraksi pada arah transversal. Perpanjangan pada arah axial dinamakan longitudinal
strain dan kontraksi pada arah transversal dinamakan transverse strain. Nilai absolut dari
perbandingan antara longitudinal strain dan transverse strain dinamakan Poisson’s ratio,
yang dirumuskan sebagai berikut:

𝜀1
𝑣=| |
𝜀2

v : Poisson’s ratio
ε1 : Longitudinal Strain
ε2 : Transverse Strain

Poisson’s ratio berbeda-beda tergantung dari material. Berikut adalah properti-


properti dari material yang sering digunakan pada aplikasi industri, termasuk pada property
tersebut adalah Poisson’s ratio.
Tabel 1. Mechanical Properties of Industrial Materials

2.1.1.2 Pengertian Strain Gage

Dalam sistim pengukuran, transduser merupakan elemen masukan yang fungsi


kritisnya adalah mengubah sebuah besaran fisis menjadi sinyal listrik yang sebanding.

9
Srtain Gage adalah sebuah transduser pasif yang mengubah suatu pergeseran mekanis
menjadi perubahan tahanan. Alat ini ditemukan pertama kali oleh Edward E.Simmons
pada tahun 1938. Strain gage merupakan sebuah alat seperti biskuit tipis (wafer), yang
dapat disatukan (bonded) ke berbagai bagian guna mengukur regangan yang diberikan
padanya. Strain Gage terbuat dari foil atau kawat tahanan berdiameter kecil. Tahanan
dari foil / kawat berubah terhadap panjang jika pada gage yang disatukan mengalami
tarikan atau tekanan. Perubahan tahanan ini sebanding dengan regangan yang di berikan
dan diukur dengan jembatan Wheatstone yang dipakai secara khusus. Sensitivitas sebuah
Strain Gage dijelaskan dengan suatu karakteristik yang disebut dengan faktor gage (gage
factor).

∆𝑅⁄ ∆𝑅⁄
𝐺𝑓 = 𝑅 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑅
∆𝐿⁄ 𝜀
𝐿

10
Nilai faktor gage bahan berbeda beda contohnya

Tabel 2. Nilai factor gage

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Gauge_factor

Idealnya resistansi dari strain gage akan berubah hanya merespon adanya perubahan
strain. Akan tetapi material strain gage, seperti halnya jenis material yang dipilih
sebagai pembentuknya akan dapat merspon perbuhan temperatur. Perusahan pembuat
strain gage berusaha meminimalis sensitivitas terhadap suhu (temperatur).

Gambar 2. Bentuk dari Transduser daya Strain Gage (a) Kawat; (b) Foil; (c) Load
Cell.
Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

2.1.1.3 Karakteristik strain gage:

 Konstanta kalibrasi untuk gage stabil. Tidak bervariasi dengan waktu,


temperature atau factor-faktor lingkungan lainnya.

11
 Gage mampu mengukur stain dengan ketelitian ± 1µm/m. dalam range strain
besar ±10%.
 Ukuran gage kecil sehingga strain diperirakan dengan kesalahan kecil.
 Respon gage, sebagian besar dikontrol oleh inersia, memungkinkan untuk
merekam strain dinamik dengan komponen-komponen melebihi 100 kHz.
 Sistem gage mudah penempatan dan pembacaannya.
 Keluaran gage selama periode pembacaan tidak bergantung kepada temperature
dan parameter lingkungan lainnya.
 Gage dan peralatan pendukungnya rendah biaya dan dapat dipakai secara luas.
 System gage mudah diinstal dan dioperasikan
 Gage menunjukkan respon linier terhadap strain pada range lebar.
 Gage cocok dipakai dalam elemen pengindera di dalam system transduser
lainnya dimana sebuah kuantitas tidak diketahui seperti tekanan diukur dalam
bentuk strain

2.1.1.4 Jenis-jenis Strain Gage


 Metal Wire Strain Gage
Metal Wire Strain Gage adalah gage yang terdapat dalam konfigurasi yang bisa
diikat, permukaan bisa di transfer dan bisa di lebur, dan ini adalah jenis awal dari
Strain Gage yang sudah berkembang. Wayar yang dipakai pada gage tersebut
biasanya berdiameter kurang dari 0,025 mm. Pemasangan gage ini ada dua macam:
1. Bounded metal wire : direkatkan pada benda yang diukur
2. Unbounded metal wire : diikat atau ujung-unjungnya dipaku pada benda yang
diukur
pada sebuah metal bar (basis stabil) dan diletakkan antara dua piringan logam tipis
dan dikelilingi oleh bahan penyekat, kemudian dilakukan encapsulasi dengan
mengetatkan dua piringan bersamaan disekitar ujung gage.
Permukaan yang bisa di transfer di maksudkan untuk dihilangkan secara teliti
dari carriernya dan kemudian ditempatkan pada permukaan yang telah diukur dan ini
cenderung menekan kemungkinan-kemungkinan kebocoran arus dari wayar ke
permukaan. Gambar 3 adalah bentuk-bentuk dasar dari Metal wire Strain gage yang
bisa diikat, dan wayar dirangkai dengan pola zig-zag.

12
Gambar 3. Bentuk-bentuk dasar dari Metal Wire Strain Gage. (a) Konfigurasi
dasar;(b) Desain pelindung gage;(c) Desain pelindung gage yang dapat di pindah-
pindahkan.
Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

Karakteristik dari filamen adalah Faktor Gage tertinggi, Koefisien suhu


resistansi rendah, Resitivitas tinggi, Kekuatan mekanis tinggi, Potensial termo listrik
minimum disekitar lead

Diantara material-material yang dipakai adalah paduan (alloy) tembaga–nikel


(constantan yang sering dipakai pada gage elongasi tinggi). Paduan nikel-kronium
dan paduan besi kronium–aluminium sering dipakai untuk applikasi pada suhu tinggi
ataupun yang sangat rendah. Seleksi material wayar dengan koefisien suhu
memungkinkan dua material yang akan dipakai dapat bekerja lebih efisien, untuk
satu gage masing–masing material itu memiliki koefisien suhu dengan besaran yang
sama. Gage konpensasi demikian bisa dibuat dengan menggunakan dua grid parohan
yang dihubungkan secara seri dan terbuat dari dua material. Material ini berupa
tembaga dan nikel, akan tetapi yang sering dipakai adalah nikel–cled dan cled-baja
tahan karat. Adapun material lain yang sering dipakai adalah nikel-cled, paduan
nikel–kronium dan berylium.
Penghantar yang digunakan Strain Gage terdiari dari dua jenis dasar yaitu
penghantar permanen yang dipakai untuk gage yang bisa diikat, dan penghantar
temporer atau sementara dipakai untuk gage dengan permukaan yang bisa ditransfer.
Plastik yang bisa dipatahkan seperti Vinyl sering dibuat dalam bentuk rangka

13
digunakan untuk gage wayar, jenis inilah yang paling umum dipakai untuk gage
permukaan yang bisa ditransfer.
Carrier permanen biasanya sangat tipis ketebalannya kurang lebih 0,03mm.
Penggunaan kertas nitrocellulosa biasanya untuk gage yang memiliki batas suhu
moderat, pemakaian kertas phenolik infrekmanated dapat meningkatkan batas suhu
operasi, pemakaian serat kaca (sebagai limenasi) juga akan meningkatkan batas suhu
operasi. Ressin polimida memberikan carrier yang cocok untuk suhu yang sangat
rendah ataupun suhu yang sangat tinggi.

 Strain Gage Metal foil


Penyaringan dalam teknik photo acting memungkinkan perkembangan Strain
Gage Metal foil menjadi suatu alat yang tidak memakan banyak biaya, jenis gage ini
sekarang dipakai secara luas yang pada dasarnya bukan dikarenakan biaya yang
relatif murah, tetapi karena Strain gage Metal foil memberikan keuntungan yang
berarti. Strain gage Metal foil ini bisa dibuat dengan beberapa ukuran yang sangat
kecil, Strain gage Metal foil ini menunjukkan stabilitas yang lebih besar selama
penguatan tetap diberikan, gage ini juga lebih stabil selama eksprosur terhadap suhu,
dan dikarenakan permukaan yang besar menyebabkan gage ini mampu mengikuti
variasi suhu dari permukaan yang diukur.
Gage biasanya dibuat dengan photo ecting tipis, perlakuan panas alloy– metal
menjadikannya memiliki ketebalan sekitar μm, proses ini melibatkan pembuangan
bahan yang tidak diinginkan sehingga bentuk grid yang sesuai dapat diperoleh.
Material foil, carrier dan lead pada dasarnya sama dengan bentuk yang digambarkan
untuk gage wayar. Banyak gage foil tidak dilengkapi dengan lead, melainkan
dilengkapi dengan tab besar integral dengan pola grid yang terkadang dilengkapi
dengan titik lebur, kemudian lead bisa diikat oleh pemakai. Metal Foil Strain Gage
terlihat pada Gambar 4.

14
Gambar 4. Metal Foil Strain Gage
Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

Gambar 4 menunjukkan beberapa contoh yang keseluruhannya memiliki ukuran


yang dan aplikasi yang berbeda. Jenis-jenis dari Metal Foil Strain Gage lain dapat
dilihat pada Gambar 5 di bawah, diantaranya Rosette 90o yang dapat mengukur
aksial dan regangan trasfer sekaligus. Variasi desain ini adalah stress gage dimana
dua elemen meliliki tahanan yang berbeda. Tahanan juga di pilih sehingga hasilnya
memberikan sebuah sensor yang keluarannya sebanding dengan takanan dan
keluaran elemen aksial sebanding dengan regangan.
Rosette 450 memberikan resolusi anguler yang lebih besar dari rosette 600,
namun demikian hal ini dapat diketahui apabila arah regangan utama diketahui.
Persamaan–persamaan serta program komputer telah dikembangkan untuk
penentuan tekanan dan regangan dasar apabila rosette dipakai.

15
Gambar 5. Macam-macam Rosette untuk Gage Foil
(a) Rosette dua elemen foil datar 90o.
(b)Rosette dua elemen foil geser datar 90o.
(c)Rosette dua elemen tumpukan 90o.
(d)Rosette tiga elemen 45o yang persegi empat timpang tindih.
(e)Rosette tiga elemen 45o.
(f) Rosette tiga elemen foil datar 60o.
Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

 Strain gage Semikonduktor


Sejak eksperimen dilakukan pada tahun 1950, telah ditemukan bahwa pengaruh
piezoresistiv jauh lebih besar pada semikonduktor atau konduktor, sejumlah
laboratorium pemerintah maupun komersial melakukan pengembangan terhadap
Strain Gage Semikonduktor. Sejak itulah berbagai jenis Strain Gage serupa dengan
karakteristi performa yang memuaskan dan bisa dikontrol telah tersedia dipasaran
yang menyebabkan pengetahuan mengenai alat ini makin meningkat.

16
Faktor gage dari Strain Gage Semikonduktor adalah antara 50 sampai 200 dan
biasanya adalah 125, sedangkan faktor gage dari Strain Gage logam tidak lebih dari
6 dan biasanya sekitar 2. Namun demikaian Strain Gage Semikonduktor cenderung
lebih sulit dipakai pada permukaan yang akan diukur, karena pada dasarnya terbuat
dari silikon tipis yang mudah pecah. Batas pengukuran regangannya baisanyan
terbatsa sekitar 3000μm, sedangkan batas dari Strain Gage metal mencapai
40.000μm.
Perubahan tahanan Strain Gage Semikonduktor dengan regangan yang dipakai
sifatnya tidak linier, suhu operasi maksimum lebih terbatas dan konpensasi suhu
lebih sulit. Karena kemampuan memberi sinyal keluaran dengan respon pada
regangan kecil, Strain gage Semikonduktor sedikit digunakan terutama dalam
transduser. Keunggulannya hanya pada percepatan, daya, dan tekanan yang membuat
elemen–elemen jauh lebih rendah difleksinya, misalnya diafragma dan tiang
pembengkok daripada gage logam yang memungkinkan pemakaian stifer. Pada
dasarnya elemen pengindera jauh lebih stabil dan memberikan respon dengan
frekuensi yang jauh lebih tinggi. Gambar di bawah menunjukkan jenis–jenis
konfigurasi Strain gage Semikonduktor.

Gambar 6. Jenis-jenis konfigurasi Strain Gage Semikonduktor


Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

Permukaan gage yang bisa ditransfer ataupun enkapsulasi pada carrier Rosette
dual element ataupun jembatan penuh bisa dibuat sehingga bisa mengkompensasi

17
sendiri untuk regangan. Dimensinya berkisar antara 1 sampai 5 mm, material untuk
lead biasanya terbuat dari emas, perak wayar ataupun pita nikel. Kompensasi untuk
potensial termolistrik yang dibangkitkan disekitar gage (silikon) cukup penting
karena silikon mengembangkan potensial termolistrik yang sangat tinggi.
Dengan menghamburkan doping secara langsung kedalam beberapa bagian
wafer silikon ataupun diafragma memungkinkan untuk mengolah elemen–elemen
pengindera tranduksi yang komplit. Karena densitasnya yang rendah dan kekuatan
silikon yang tinggi, maka elemen–elemen demikian dikenal dengan frekuensi
natural. Penyesuaian dan kompensasi gage bisa dipengaruhi oleh kontrol doping
yang tepat.

 Strain Gage Aplikasi Khusus


Salah satu jenis dari Strain Gage aplikasi khusus adalah Gage Fatigue-life
yang terbuat dari konstantan kuat dengan carrier elongasi tinggi digunakan apabila
regangan hasil akhir yang akan diukur yaitu yang terjadi setelah spesimen tes
dimuati diluar titik hasil. Gage tersebut memiliki range pengukuran regangan antara
10 dan 20 % (anatara 100.000 dan 200.000 μe). Gage ini akan menunjukkan
perubahan nol pada regangan siklus besar.
Gage Fatigue-life memiliki bentuk seperti Srain gage foil dan dipasang dengan
cara yang sama, Material foil dipilih dan diuji untuk memberikan karakteristik
masing–masing transduser. Pemuatan siklus akan mengakibatkan perubahan tahanan
yang tidak beraturan. Nilai ohm perubahan resistansi tergantung pada besaran
regangan yang dipakai selama siklus pemuatan. Jika regangan dipertahankan pada
besaran konstan untuk pengujian komplit dimana spesimen difokuskan pada
pemuatan siklus, perubahan tahanan akan berakumulasi dan perubahan komulatif
tahana gage adalah sebuah fungsi dari sejumlah siklus pemuatan. Karakteristik gage
harus dipilih untuk menyesuaikan karakteristik material spesimen pada range
(daerah) regangan yang akan dipakai.
Pada beberapa aplikasi lainnya, seperti pada pengujian struktur besar, adalah
penting untuk mendapatkan gage Fatigue-life yang lebih besar daripada yang
dialami oleh permukaan yang diukur. Multiplier mekanis (Strain multiplier)
kemudian bisa dipakai. Multipiler ini mengandung gage Fatigue-life pada bagian
pusat desain khusus, kemudian diikatkan pada permukaan yang diukur. Multipikasi

18
regangan antara 2 kali dan 20 kali, tergantung pada pilihan multiplier, umumnya
telah tersedia Strain Gage reguler biasa yang dimasukkan kedalam multiplier.
Data induktif untuk mengetahui kerusakan Fatigue-life berikutnya bisa
didasarkan pada hasil pengukuran sebelumnya, dimana sensor dipasang pada
spesimen replika yang didapat dari permukaan yang telah diukur, kemudian
disikluskan pada sebuah mesin penguji, sehingga kerekatan yang terjadi tidak ada
perubahan tahanan komulatif pada gage Fatigue-life pada saat kerekatan dimulai.
Gage dipasang pada sebagian permukaan yang diukur, dimana keretakan
diharapkan terjadi dengan konduktor yang menghubungkan keretakan yang
diharapkan itu. Jika keretakan merambat dibawah gage, maka setiap konduktor
dihubungkan secara paralel, tahanan yang diukur pada tab bus menigkat bila setiap
bagian sirkuit pecah. Bentuk dari Strain Gage aplikasi khusus dapat dilihat pada
gambar 7.

Gambar 7. Strain Gage Aplikasi Khusus


Sumber: http://repository.usu.ac.id/.../Chapter%20II.pdf

2.1.1.5 Elemen Pengindra Metalik


Strain Gage metalik dibentuk dari kawat tahanan tipis atau dietsa dari lembaran
kawat logam tipis. Umumnya, ukuran kawat gage adalah kecil, mengalami kebocoran
paling kecil, dan dapat digunakan pada temperatur tinggi. Elemen-elemen foil sedikit
lebih besar dalam ukuran dan lebih stabil dari pada gage kawat. Kedua elemen tersebut

19
dapat digunakan pada kondisi temperatur yang ekstrim dan dalam pembebanan yang
lama, dan juga bisa mendisipasikan panas yang diinduksi sendiri dengan mudah.

Berbagai jenis bahan tahanan telah dikembangkan untuk pemakaian dalam gage-
gage kawat dan foil, seperti:
a. Constantan adalah paduan (alloy) tembaga-nikel dengan koefisien temperatur
rendah. Biasanya Constantan ditemukan dalam Gage yang digunakan untuk strain
dinamik, dimana perubahan level strain tidak melebihi ± 1500 μcm/cm. Batas
temperatur kerja adalah dari 10oC sampai 200oC.
b. Nichrome V adalah paduan nikel-chrome yang digunakan untuk pengukuran strain
statik sampai 375oC. dengan kompensasi temperatur, paduan ini dapat digunakan
untuk pengukuran static sampai 650oC dan pengukuran dinamik sampai 1000oC.
c. Dynaloy adalah paduan nikel-besi dengan Faktor Gage yang rendah dan ketahanan
yang tinggi terhadap kelelahan. Bahan ini digunakan untuk pengukuran strain
dinamik bila sensitivitas temperatur yang tinggi dapat di tolerir.
d. Stabiloy adalah paduan nikel-chrome yang dimodifikasi dengan rangkuman
kompensasi temperatur yang lebar. gage ini memikiki stabilitas yang sangat baik dan
temperatur cryogenic sampai sekitar 350oC dan ketahanan yang baik tehadap
kelelahan.
e. Paduan-paduan platina tungsten memberikan stabillitas yang sangat baik dan
ketahanan yang tinggi terhadap kelelahan pada temperatur tinggi. Gages ini
disarankan untuk pengukuran uji static sampai 700oC dan pengukuran dinamik
850°C.

2.1.1.6 Konfigurasi Strain Gage


Bentuk elemen pengindera dipilih menurut regangan yang akan diukur, satu sumbu
(uniaksial), dua sumbu (biaksial), atau arah ganda (banyak). Pemakaian satu sumbu
paling sering menggunakan elemen-elemen pengindera yang panjang dan kecil untuk
memaksimalkan bahan pengidera regangan dalam arah yang diselidiki. Sampel-sampel
ujung dibuat sedikit dan pendek, sehingga sensitivitas terhadap regangan adalah rendah.
Panjang gage dipilih menurut bidang regangan yang akan deselidiki. Pada kebanyakan
pengukuran regangan, gage yang panjangnya 6 mm memberikan prestasi yang baik dan
pemasangan yang mudah. Pengukuran regangan secara simultan dalam arah lebih dari
satu dapat dilakuakan dengan menempatkan gage elemen tunggal pada lokasi yang

20
sesuai. Namun untuk menyederhanakan pekerjaan ini dan untuk menghasilkan ketelitian
yang lebih besar, tersedia gage elemen ganda atau rosette.
Rosette dua elemen yang diperlihatkan pada Gambar 5. a,b, dan c, sering
digunakan dalam transduser gaya. Gage dirangkai dalam sebuah rangakian jembatan
Wheatstone guna memberikan keluaran yang paling besar. Untuk analisis tegangan
geser, elemen-elemen aksial dan melintang bisa memiliki tahanan yang berbada dan
dapat dipilih sehingga gabungan keluaran sebanding tegangan geser, sedangkan keluaran
dari elemen aksial sendiri sebanding dengan regangan. Rosette tiga elemen sering
digunakan untuk menentukan arah dan besarnya regangan utama yang dihasilkan dari
pembebanan utama yang dihasilkan dari pembebanan structural yang kompleks. Jenis
yang paling terkenal memiliki simpang sudut sebesar 45° atau 60° antara elemen-elemen
pengindera seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4.d,e, dan f. Rosette 60° digunakan bila
arah regangan utama tidak diketahui. Rosette 45° memberikan resolusi sudut yang lebih
besar dan biasanya digunakan bila arah regangan utama diketahui.

2.1.1.7 Konpensasi Strain gage

1 Nol Offset - Jika impedansi dari empat lengan pengukur tidak persis sama
setelah ikatan ukur ke kolektor kekuatan, akan ada offset nol yang dapat
dikompensasikan dengan memperkenalkan sebuah resistor paralel dengan satu
atau lebih dari lengan ukur.
2 Suhu Koefisien Faktor Gage (TCGF) - Ini adalah perubahan sensitivitas
perangkat untuk strain dengan perubahan suhu. Ini umumnya
dikompensasikan dengan pengenalan resistensi tetap di kaki masukan, dimana
tegangan yang diberikan yang efektif akan meningkat dengan suhu,
kompensasi untuk penurunan sensitivitas dengan suhu.
3 Pergeseran nol dengan suhu - Jika TCGF dari ukur masing-masing tidak sama,
akan ada pergeseran nol dengan suhu. Hal ini juga disebabkan oleh anomali
dalam kolektor berlaku. Hal ini biasanya dikompensasi dengan satu atau lebih
resistor strategis ditempatkan dalam jaringan kompensasi.
4 Linearitas - Ini adalah kesalahan dimana perubahan sensitivitas di berbagai
tekanan. Ini umumnya fungsi dari pilihan gaya koleksi ketebalan untuk
tekanan yang dimaksudkan dan / atau kualitas ikatan.

21
5 Histeresis - Ini adalah kesalahan kembali ke nol setelah kunjungan tekanan.
6 Pengulangan - Kesalahan ini seringkali berkaitan-dengan histeresis tetapi di
kisaran tekanan.
7 EMI disebabkan kesalahan - Sebagai alat pengukur regangan tegangan output
dalam kisaran mV, bahkan jika nv jembatan Wheatstone hard tegangan tetap
rendah untuk menghindari pemanasan diri dari elemen, perawatan khusus
harus diambil dalam amplifikasi output sinyal untuk menghindari amplifing
juga suara ditumpangkan . Sebuah solusi yang sering diadopsi adalah dengan
menggunakan "frekuensi pembawa" amplifier yang mengubah variasi
tegangan menjadi variasi frekuensi (seperti pada VCOs) dan memiliki
bandwidth yang sempit sehingga mengurangi keluar dari band EMI.
8 Overloading - Jika strain gauge dimuat melampaui batas desain (diukur dalam
microstrains) kinerja degradasi dan tidak dapat dipulihkan. Biasanya praktek
rekayasa yang baik menyarankan untuk tidak stres pengukur regangan luar + /
-3000 microstrains.
9 Kelembaban - Jika kabel yang menghubungkan strain gauge untuk
pengkondisi sinyal tidak dilindungi terhadap kelembaban (kawat telanjang)
resistensi parasit menciptakan antara kabel dan substrat dimana strain gauge
adalah terpaku, atau antara dua kabel sendiri. Resistensi ini memperkenalkan
kesalahan yang sebanding dengan perlawanan dari strain gauge. Untuk alasan
ini pengukur regangan resistansi rendah (120 Ohm) kurang rentan terhadap
jenis kesalahan. Untuk menghindari kesalahan ini adalah cukup untuk
melindungi pengukur regangan kabel dengan isolasi enamel (misalnya epoksi
atau polyurethanic jenis). Saring pengukur dengan kabel yang tidak dilindungi
dapat digunakan hanya dalam lingkungan laboratorium kering tetapi tidak
dalam satu industri.

22
2.1.1.8 Pemasangan Strain Gage
 Pembersihan Permukaan.
Tidak peduli apa jenis strain gauge digunakan, permukaan benda uji harus
disiapkan sebelum instalasi. Fungsi utama dari proses persiapan adalah untuk
menciptakan permukaan bersih dan bebas dari partikulat lemak, debu dan lainnya
yang dapat mengganggu kualitas obligasi. Metode persiapan permukaan dapat
sedikit berbeda tergantung pada material dari benda uji. Logam seperti baja dan
aluminium disusun dengan membersihkan permukaan dengan pelarut, seperti
aseton, kemudian melakukan cahaya etch dengan asam ringan dan amplas halus.
Plastik dapat dipengaruhi oleh beberapa pelarut, sehingga mereka harus
dibersihkan dengan air dan surfaktan ringan, kemudian dikeringkan dengan kain
bersih.

 Instalasi Bonded Strain Gauge

Pengukur regangan Berikat yang diinstal ke bagian pengujian menggunakan


perekat cyanoacrylate. Perekat ini cepat kering dan membentuk ikatan kaku yang
transfer regangan dengan kehilangan minimal dari potongan uji dengan strain
gauge. Untuk memudahkan proses instalasi, menggunakan sepotong tape yang
jelas untuk mengambil strain gauge. Hindari menyentuh mengukur dengan
tangan kosong, karena hal ini dapat mentransfer minyak kulit untuk mengukur
dan mengganggu ikatan. Posisi pita berisi mengukur ke potongan uji, kemudian
kupas salah satu ujung dari pita kembali untuk mengekspos sisi belakang
mengukur. Terapkan setetes perekat cyanoacrylate ke belakang mengukur, lalu
cepat-cepat mendorong pita kembali ke potongan uji. Terapkan tekanan lembut
seluruh permukaan mengukur keseluruhan selama sekitar satu menit. Tinggalkan
pita pada mengukur selama setidaknya 10 sampai 15 menit, atau sampai siap
untuk memimpin solder ke bantalan mengukur.

23
 Instalasi Welded Strain Gauge

Pengukur regangan dilas dipasang ke benda uji baja menggunakan tempat tukang
las portabel yang dirancang khusus untuk pengukur regangan. Pengukur dilas
sering digunakan di mana kondisi tidak kondusif untuk menggunakan perekat,
atau kondisi cuaca dapat membahayakan instalasi terikat dari waktu ke waktu.
Alat ukur regangan adalah pra-terikat pada shim logam tipis yang ditempelkan
pada potongan uji dengan menggunakan las. Ketika menginstal mengukur,
gunakan tukang las untuk membuat garis tipis las pada shim tersebut. Jauhkan
tempat lasan sebagai dekat dengan mengukur mungkin tanpa menyentuh
permukaan Polimida mengukur

2.1.1.9 Pemilihan Strain Gage yang tepat


Beberapa perameter teknis perlu diperhatikan pada saat memilih dan menentukan
strain gauge mana yang sesuai untuk pengukuran yang akan dilakukan, diantaranya:

1. Panjang Gage
Pemilihan panjang gauge bergantung pada objek / specimen. Gauge yang
pendek, dapat digunakan untuk lokalisasi pengukuran regangan, sedangkan
gauge yang panjang lebih banyak dipilih dan digunakan untuk mengukur
regangan rata-rata yang mewakili seluruh permukaan. Sebagai contoh pada
pengukuran regangan rata-rata pada beton pondasi (concrete), dibutuhkan
panjang gauge yang lebih panjang karena strukturnya yang terdiri atas semen
dan campuran pasir dan krikil.

Berikut adalah acuan panjang gauge merk Showa Instruments dan aplikasi-
aplikasinya:
• ≤ 1 mm Untuk pengukuran terpusat
• 2 ~ 6 mm Untuk logam dan penggunaan umum
• 10 ~ 20 mm Untuk mortar (semen campuran), kayu, FRP, dll
• ≥ 30 mm Untuk beton pondasi (concrete) dan material campuran kasar
2. Resistansi Gage

24
Menunjukkan nilai resistansi dalam besaran “Ω” [ohm], yang diukur pada
keadaan tanpa beban dan pada temperatur suhu ruang oleh pabrikan.
3. Mampu Ukur Regangan (Measurable Strain)
Menunjukkan besarnya regangan yang mampu diukur. Umumnya berkisar 2
sampai 4% maksimum. Namun dengan strain gauge foil-yielding dapat
mencapai 10%.
4. Rentang Suhu (Temperature Range)
Menunjukkan batasan suhu lingkungan yang disanggupi oleh strain gauge,
dengan kata lain strain gauge masih dapat menghasilkan nilai pengukuran
yang akurat. Umumnya berkisar antara -30ºC ~ +80ºC. Untuk jenis high-
temperature strain gauge, dapat mencapai +180ºC
5. Faktor Gage (K)
Nilai keluaran dari strain gauge adalah dalam besaran elektrik – resistansi.
Sedangkan besarnya yang menjadi tujuan pengukuran adalah nilai regangan.
Dengan demikian diperlukan suatu nilai konversi yang disebut factor gauge
(K).
6. Sensitifitas Transfers (Kt)
Pada kenyataanya nilai resisitansi strain gauge dapat juga berubah akibat
pengaruh adanya regangan yang arahnya tegak lurus terhadap aksis gauge –
regangan transfersal (εt). karena keduanya memiliki relasi kesebandingan,
maka ditetapkanlah suatu konstanta yang disebut dengan sensitifitas transfers
(Kt). Nilai ini biasanya ditulis dalam persen (%)
7. Termal Output
Didefinisikan sebagai adanya pergeseran / penyimpangan nilai regangan
akibat perbedaan temperatur suhu. Umumnya bernilai pada kisaran ±2µε/ºC.
Pada jenis strain gauge temperature tinggi diatas suhu 160 ºC, nilainya
mencapai ±5µε/ºC. Untuk lebih jelasnya hubungan antara nilai thermal output
terhadap suhu dapat dilihat pada contoh kurva dibawah ini.

25
Gambar 8. Thermal output fungsi dari temperatur
Selain regangan, suhu temperature juga mempengaruhi nilai faktor gauge.
Berikut adalah sampel kurva hubungan antara perubahan faktor gauge
terhadap perbedaan temperatur.

Gambar 9. Faktor Gauge (K) fungsi dari temperatur

2.1.1.10 Aplikasi Strain Gage

Gambar 10. Aplikasi sensor strain gauge pada pemantauan beban pada lift

26
Gambar 11. aplikasi sensor strain gauge pada pemantauan beban penimbang
timbangan

Gambar 12.Sensor strain gauge sebagai sensor tekanan udara

27
Gambar 13. Strain gage pada robot bipedal untuk mengetahui berapa besar
beban tiap lengan

Gambar 14. Digunakan untuk mengukur besar retakan pondasi.

2.1.2 Rangkaian Jembatan Wheatstone

Strain menginisiasikan perubahan hambatan dengan sangat kecil. Oleh karena


itu, untuk pengukuran strain sebuah jembatan Wheatsone

Rangkaian jembatan ini digunakan untuk mengkonversi perubahan impedansi


menjadi perubahan tegangan, terutama untuk fraksi perubahan yang kecil

Keluarannya dapat dibuat berubah di sekitar nol, sehingga penguatan dapat


digunakan untuk memperbesar level sinyal (guna meningkatkan sensitivitas terhadap
perubahan impedansi).

28
Gambar 15.Susunan strain gage dalam jembatan wheatstone

Pada perancangan menggunakan strain gage case 1

Gambar 16. Jembatan Wheatstone

V  Va  Vb dengan Va = potensial titik a terhadap titik c


Vb = potensial titik b terhadap titik c

29
VR3
Va 
R1  R3

VR4
Vb 
R2  R4

VR3 VR4 R3 R2  R1 R4
V   V
R1  R3 R2  R4 ( R1  R3 )( R2  R4 )

∆V akan sama dengan nol (setimbang) bila: R3 R2  R1 R4 .

2.2 Penguat Instrumentasi

Penguat instrumentasi adalah penguat yang paling bermanfaat, cermat dan


serbaguna yang ada pada saat ini. Penguat ini dibuat dari tiga penguat operasional
dan tujuh resistor seperti terlihat dalam Gambar 3. Untuk menyederhanakan analisis
rangkaian, perlu diketahui bahwa penguat instrumentasi sesungguhnya dibuat dengan
menghubungkan dua buah penguat penyangga dengan sebuah penguat deferensial
dasar.

V1
+

- R1
R2 R3

RG -
Vout

R2

R1
+
-

R3
+
V2

Gambar 17. Penguat Instrumentasi

30
Op Amp A3 dan dua resistor R2 dan dua resistor R3 membentuk sebuah
penguat deferensial dasar dengan gain sebesar R3/R2. Seperti yang terlihat dalam
Gambar 3, ada satu buah resistor lagi yang digunakan untuk menyetel penguatan,
yaitu RG. Persamaan tegangan adalah sebagai berikut:

 2 R  R 
Vout  1  1  3 V2  V1 
 RG  R2 

Ciri-ciri penguat instrumentasi dapat diringkas sebagai berikut:

1. Penguatan tegangannya, dari masukkan diferensial (E1 - E2) ke keluaran


berujung tunggal, disetel oleh satu resistor.
2. Resistansi masukkan dari kedua masukkannya sangat tinggi dan tidak
berubah jika penguatannya berubah.
3. Vo tidak tergantung pada tegangan bersama E1 maupun E2, melainkan
hanya pada perbedaan antara keduanya.

31
2.3 ATmegs 8

Merupakan salah satu jenis mikrokontroler yang di dalamnya terdapat erbagai


macam fungsi. Perbedaannya dengan mikro pada umumnya seperti MCS 51 adalah
pada AVR tidak perlu menggunakan oscillator eksternal karena di dalamnya sudah
terdapat oscillator internal. Selain itu kelebihan dari AVR adalah mempunyai Power-
On-Reset, tidak perlu adanya tombol reset dari luar karena cukup hanya dengan
mematikan supply maka otomatis akan melakukan reset.Pada ATMega8 mempunyai
funngsi khusus, salah satunya adalah ADC. Sehingga kita tidak memerlukan
rangkaian ADC khusus, melainkan hanya memprogram ATMega8 itu sendiri.

Gambar 18. ATmega 8

Gambar 19. Konfigurasi pin ATmega 8

Kegunaan kaki-kaki pada aATMega8:

32
33
2.4 LCD (Liquid Cristal Display)

LCD adalah suatu jenis media tampilan yang menggunakan kristal cair
sebagai penampil utama. Pada LCD berwarna semacam monitor terdapat banyak
sekali titik cahaya (pixel) yang terdiri dari satu buah kristal cair sebagai sebuah titik
cahaya. Walau disebut sebagai titik cahaya, namun kristal cair ini tidak
memancarkan cahaya sendiri. Sumber cahaya di dalam sebuah perangkat LCD
adalah lampu neon berwarna putih di bagian belakang susunan kristal cair tadi.
Titik cahaya yang jumlahnya puluhan ribu bahkan jutaan inilah yang
membentuk tampilan citra. Kutub kristal cair yang dilewati arus listrik akan berubah
karena pengaruh polarisasi medan magnetik yang timbul dan oleh karenanya akan
hanya membiarkan beberapa warna diteruskan sedangkan warna lainnya tersaring.
LCD (Liquid Crystal Display) yang dipakai 16 character x 2 baris (type
LMB1632A). LCD module ini bisa dipakai untuk interface dengan mikrokontroler /
mikroprosesor dengan lebar data 8 bit atau 4 bit. Setiap baris dan kolom character di
LCD mempunyai alamatnya sendiri-sendiri.
Pengiriman data ke LCD ada dua macam yaitu data sebagai instruksi dan data
sebagai character yang kita tampilkan di layer. Keduanya dibedakan oleh sebuah
kaki yang diberi nama RS (Register Select) dimana bila logika = ‘1’ (high) maka data
yang diterima LCD adalah data character sedangkan bila RS = ‘0’ (low) maka data

34
yang diterima LCD adalah data instruksi bagi LCD. Tabel 1 menunjukkan
konfigurasi pin-pin LCD.
Tabel 3. Konfigurasi Pin-Pin LCD

No.
Simbol Level Fungsi
Kaki
1 VSS - Ground
2 VDD - Power supply for
logic (+5Volt)
3 VO - Power Supply for
LCD
4 RS H/L Register Selection
H : Display data L :
Instruksi code
5 R/W H/L Read/Write Selection
H : Read operation L :
Write operation
6 E H, Enable Signal
L
7 DB0 H/L In 8-bit mode, used as
8 DB1 H/L low order
9 DB2 H/L bidirectional data bus.
10 DB3 H/L In 4-bit mode, open
these terminals.
11 DB4 H/L In 8-bit mode, used as
12 DB5 H/L high order
13 DB6 H/L bidirectional data bus.
14 DB7 H/L In 4-bit mode, used as
both high and low
order data bus.
15 LED A - LED Power Supply
(+5 Volt)
16 LED K - LED Power Supply (0
Volt)

35
LCD yang dipergunakan mempunyai spesifikasi sebagai berikut
1) Terdiri atas 32 karakter yang tersusun dalam dua baris (masing-masing 16
karakter) dengan display dot matrik 5 x 7
2) Karakter generator ROM denagan 192 tipe karakter
3) Karakter generator RAM dengan 8 tipe karakter
4) Display data RAM ukuran 80 x 8 bit
5) Catu daya + 5 volt
6) Reset pada saat power on
Bentuk fisik sebuah LCD (Liquid Cristal Display) ditunjukkan

Gambar 20. Bentuk fisik LCD

36
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Spesifikasi Rancangan


Pada perancangan kali ini menggunakan sensor pengukur regangan. Sinyal
dari sensor tersebut akan dikuatkan dan noise nya akan dikurangi dengan
menggunakan rangkaian pengkondisi sinyal. Setelah itu, hasil dari rangkaian
pengkondisi sinyal akan dikonversikan ke dalam bentuk digital dan ditampilkan pada
display.

3.2 Diagram Blok

SENSOR
(STRAIN RPS ATMega8 DISPLAY
GAGE)

Gambar 21. Diagram Blok


3.3 Pemilihan dan Perancangan Sistem Sensor

1. Sensor untuk mengukur keretakan tembok


2. Jenis yang digunakan adalah metal foil strain gage karena tahan temperatur
tinggi
3. Rossete 60° karena arah reganga utama diketahui.
4. GF = 2 untuk metal foil
5. Lebar gage = 0.3 mm (datasheet)
6. Toleransi regangan 10 % = 10*20mm = 0.2 mm
7. Pemasangan pada jembatan wheatstone menggunakan case 1.
8. Resistansi 120 Ω

37
Va

Vb

Gambar 21. Perancangan sensor

VR3 VR4 R3 R2  R1 R4
V   V
R1  R3 R2  R4 ( R1  R3 )( R2  R4 )

R.R  R.( R  R)  R


V V
( R  R)( R  R  R) 4 R  2R

∆𝑅
Dengan menganggap R kecil maka 𝑉𝑎 − 𝑉𝑏 = 𝑉 4𝑅

R = 120 ohm, dan V = 10 volt, maka nilai V menjadi V = 10 ∆𝑅 = R


480 48
R
Misalkan ΔR=2.28 Ω, maka = 0.06 𝑣
48

Semakin besar V maka nilai V akan semakin besar pula.

38
3.4 Perancangan rangkaian pengkondisi sinyal
Rangkaian pengkondisi sinyal ini diperlukan untuk memperkuat V . Penguat ini
mampu meredam frekuensi noise, memiliki impedansi masukan besar dan memiliki
variable yang dapat diubah-ubah. RPS yang sesuai adalah rangkaian penguat
instrumentasi.

Diinginkan tanpa regangan keluarannya adalah 0 volt dan jika regangannya


maksimum maka keluarannya adalah 5 volt. Karena hubungan antara keluaran dan
masukan rangkaian tersebut linier, maka hubungan tersebut dapat dinyatakan dalam
bentuk persamaan garis lurus :
Vout = mVi + Vo
dengan: m = kemiringan garis, yang menyatakan penguatan
Vo = tegangan ofset keluaran
Untuk nilai keluaran 0 dan 5 volt diperoleh persamaan :
0 = m (0) + Vo
5 = m (0.06) + Vo
Dari kedua persamaan ini, kalau diselesaikan secara serentak maka akan diperoleh
nilai m = 83.33 dan Vo = 0 V sehingga persamaannya menjadi :
Vout = 83.33Vin
yang merupakan persamaan penguat diferensial. Karena disyaratkan impedansi
masukannya harus tinggi, maka digunakan penguat instrumentasi.

Dari rumus tegangan keluaran rangkaian penguat instrumentasi:

 2 R  R 
Vout  1  1  3 V2  V1 
 RG  R2 

Misalkan dipilih penguatan sebesar 10 kali sehingga R2 = 10 kΩ dan R3 = 100 kΩ


83.33
Penguatan yang tersisa adalah = 8.33
10

 2 R1 
Dengan mengatur 1   dan menetapkakan R1=100 kΩ
 RG 

Maka RG = 27,27 kΩ.

39
Vout

V1

V2

Gambar 22. Perancangan RPS

3.5 Resolusi
Pada perancangan, saat pertambahan regangan 0 %, tegangan yang dihasilkan 0 V,
saat pertambahan regangan maksimum 10 % tegangan 0.06 V. ADC 10 bit dengan
tegangan acuan (VR)5 V. Jadi sensitifitas =
Regangan maksimum terukur= 11111111111111
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
𝑉𝑥 = 5 ( + + + + + + + + + )
2 4 8 16 32 64 128 256 512 1024
𝑉𝑥 = 4.995 𝑣
4.995
Gain yang diperlukan = = 83.25
0.06

Perubahan tegangan masukan tegangan yang menghasilkan perubahan 1 bit LSB:


∆𝑉 = 𝑉𝑅 ∗ 2−𝑛 = 5 ∗ 2−10 = 4.883 ∗ 10−3 𝑉
Perubahan tegangan tersebut bersesuaian dengan perubahan tegangan keluaran
sensor sebesar:
4.883 ∗ 10−3
∆𝑉𝑇 = = 5.865 ∗ 10−5 𝑉
83.25
Resolusi pembacaan pertambahan regangan:
5.865∗10−5 𝑉
∆% = 0.006 𝑉⁄%
= 9.775 ∗ 10−3

40
3.6 Bagian penampil (display)
Untuk menggunakan ADC dan LCD maka kita perlu menulis sebuah program
menggunakan CVAVR seperti berikut ini:

/*****************************************************
This program was produced by the
CodeWizardAVR V1.24.8d Professional
Automatic Program Generator
© Copyright 1998-2006 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.
http://www.hpinfotech.com

Project :
Version :
Date : 4/13/2011
Author : F4CG
Company : F4CG
Comments:

Chip type : ATmega8


Program type : Application
Clock frequency : 8.000000 MHz
Memory model : Small
External SRAM size : 0
Data Stack size : 256
*****************************************************/

#include <mega8.h>
#include <delay.h>
#include <stdio.h>

// Alphanumeric LCD Module functions


#asm
.equ __lcd_port=0x18 ;PORTB
#endasm

41
#include <lcd.h>

#define ADC_VREF_TYPE 0x40

// Read the AD conversion result


unsigned int read_adc(unsigned char adc_input)
{
ADMUX=adc_input|ADC_VREF_TYPE;
// Start the AD conversion
ADCSRA|=0x40;
// Wait for the AD conversion to complete
while ((ADCSRA & 0x10)==0);
ADCSRA|=0x10;
return ADCW;
}

// Declare your global variables here

unsigned int x;
float y;
char data_adc[33];

void main(void)
{
// Declare your local variables here

// Input/Output Ports initialization


// Port B initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTB=0x00;
DDRB=0x00;

42
// Port C initialization
// Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTC=0x00;
DDRC=0x00;

// Port D initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTD=0x00;
DDRD=0x00;

// Timer/Counter 0 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 0 Stopped
TCCR0=0x00;
TCNT0=0x00;

// Timer/Counter 1 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 1 Stopped
// Mode: Normal top=FFFFh
// OC1A output: Discon.
// OC1B output: Discon.
// Noise Canceler: Off
// Input Capture on Falling Edge
// Timer 1 Overflow Interrupt: Off
// Input Capture Interrupt: Off
// Compare A Match Interrupt: Off
// Compare B Match Interrupt: Off
TCCR1A=0x00;
TCCR1B=0x00;
TCNT1H=0x00;
TCNT1L=0x00;
ICR1H=0x00;

43
ICR1L=0x00;
OCR1AH=0x00;
OCR1AL=0x00;
OCR1BH=0x00;
OCR1BL=0x00;

// Timer/Counter 2 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 2 Stopped
// Mode: Normal top=FFh
// OC2 output: Disconnected
ASSR=0x00;
TCCR2=0x00;
TCNT2=0x00;
OCR2=0x00;

// External Interrupt(s) initialization


// INT0: Off
// INT1: Off
MCUCR=0x00;

// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization


TIMSK=0x00;

// Analog Comparator initialization


// Analog Comparator: Off
// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off
ACSR=0x80;
SFIOR=0x00;

// ADC initialization
// ADC Clock frequency: 125.000 kHz
// ADC Voltage Reference: AVCC pin
ADMUX=ADC_VREF_TYPE;
ADCSRA=0x86;

44
// LCD module initialization
lcd_init(16);

while (1)
{
x=read_adc(0);
y=(float)x/102.3;

delay_ms(300);
lcd_gotoxy(0,1);
sprintf(data_adc," regangan: %f ",y);
lcd_puts(data_adc);
lcd_gotoxy(9,1);
sprintf(data_adc,"%");

};
}

45
3.7 Gambar Perancangan Kesel

Gambar 23. Gambar Rancangan keseluruhan

46
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sistem pengukuran regangan menggunakan sensor regangan sebagai pengubah
besaran gaya menjadi besaran elektrik berupa resistansi, Jembatan wheatstone
sebagai pengubah besaran resistansi menjadi besaran tegangan, Pengkondisi sinyal
sebagai penyelaras tegangan menggunakan penguat instrumentasi yang kemudian
akan diproses oleh ATMega8 dan ditampilkan dalam LCD

.Sistem pengukuran regangan penerpannya sangat luas, misalnya pada robot


bipedal digunakan sebagai sensor berat beban yang terdapat pada tiap lengan,
digunakan untuk mengetahui friksi gripper pada tangan, digunakan untuk
mengetahui besar retakan pada pondasi bangunan.

4.2 Saran

Makalah sistem pengukuran regangan ini dapat dijadikan referansi dalam


pembuatan alat yang membutuhkan sensor regangan.

47