Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan
kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang
harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir
strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif
dan efisien. Berbagai kegiatan belajar dirancang dengan sistem belajar yang
fleksibel sesuai dengan kehidupan, gaya belajar dan tujuan pembelajaran,
dimana guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing, pengarah sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai tanpa mengenyampingkan potensi siswa.
Kegiatan Belajar Mengajar yang berhasil adalah kegiatan belajar yang
dapat meningkatkan berbagai kemampuan siswa. Oleh karena itu,
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan strategi
yang optimal dalam pembelajaran. Karena dalam PAKEM peserta didik harus
lebih berani bertanya, mengungkapkan pendapat dan tidak takut salah maupun
malu ditertawakan.
Dengan PAKEM, siswa akan terlatih mencari informasi, menyaring
informasi, menggunakan informasi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan,
melakukan pengamatan, penelitian, percobaan , membuat laporan dan
sebagainya. Menurut Kemp dalam Sanjaya (2008), strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Maka Dalam proses pembelajaran mengajar, sangat diperlukan model,
metode, strategi, ataupun pendekatan yang terkonsep pada satu konsep
pembelajaran yang baik dan cocok dengan situasi dan kondisi siswa. Konsep
yang sangat cocok dan menarik peserta didik dalam pembelajaran sekarang ini
lebih dikenal dengan nama PAKEM (pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian PAKEM ?
2. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pelaksanaan
PAKEM ?
3. Bagaimana lingkungan belajar dalam PAKEM?
4. Bagaimana prinsip dalam PAKEM ?
5. Bagaimana peran guru dalam PAKEM?
6. Bagaimana implementasi PAKEM dalam pembelajaran Matematika ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami pengertian PAKEM
2. Mengetahui dan memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses
pelaksanaan PAKEM
3. Mengetahui dan memahami lingkungan belajar dalam PAKEM
4. Mengetahui dan memahami prinsip dalam PAKEM
5. Mengetahui dan memahami peran guru dalam PAKEM
6. Mengetahui dan memahami implementasi PAKEM dalam pembelajaran
Matematika

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian PAKEM


PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Partisiatif, Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM merupakan strategi pembelajaran dan
menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan
berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan.
Guru harus menyadari bahwa pembelajaran mimiliki sifat yang sangat
kompleks. Artinya, pembelajaran tersebut harus menunjukan kenyataan bahwa
pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan dan guru pun
harus mengerti bahwa siswa-siswa pada umumnya memiliki taraf
perkembangan yang berbeda-beda. Cara memahami materi yang diajarkan
berbeda-beda, ada yang biasa menguasai materi lebih cepat dengan
keterampilan motorik (kinestetik), ada yang menguasai materi lebih cepat
dengan mendengar (auditif), dan ada juga yang mengusai materi lebih cepat
dengan melihat atau membaca (visual).
Untuk itu, guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-
jenis belajar (multimetode dan multimedia) dan suasana belajar yang kondusif,
baik eksternal maupun internal. Dalam model PAKEM ini, guru dituntut untuk
dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa melalui
partisipasi, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang pada akhirnya
membuat siswa dapat menciptakan membuat karya, gagasan, pendapat, ide atas
hasil penemuannya dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.
PAKEM merupakan strategi pembelajaran untuk mengembangkan
keterampilan dan pemahaman siswa, dengan penekanan pada belajar sambil
bekerja (learning by doing), dimana guru menggunakan berbagai sumber
belajar guna mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Serangkaian kegiatan

3
pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering
disebut dengan pendekatan pembelajaran. PAKEM adalah salah satu
pendekatan yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan beragam
untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan pemahamannya dengan
penekanan belajar sambil bekerja. Sementara, guru menggunakan berbagai
sumber dan alat bantu belajar, termasuk pemanfaatan lingkungan supaya
pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
1. Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa
dalam kegiatan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran ini
menitikberatkan pada keterlibatan siswa pada kegiatan pembelajaran (child
center/student center). Jadi pembelajaran akan lebih bermakna bila siswa
diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas
kegiatan pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator dan
mediator sehingga siswa mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam
mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.
2. Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih
banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas,
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat
meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu,
pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan
berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta
melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran aktif memiliki persamaan
dengan model pembelajaran self discovery learning, yakni pembelajaran
yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga
dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak memosisika dirinya
sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to

4
facilitate of learning) kepada siswa. Siswa terlibat secara aktif dan berperan
dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan
arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses
pembelajaran.
3. Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang
mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas
siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa
metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain
peran, dan pemecahan masalah.
Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang kreativitas
siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berfikir maupun dalam
melakukan suatu tindakan. Berfikir kreatif selalu dimulai dengan berfikir
kritis, yakni mengemukakan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak
ada atau memperbaiki sesuatu. Berfikir kritis harus dikembangkan dalam
proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya.
Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang
menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berfikir kreatif
dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru. Kreatif
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan proses
kreatif tersebut tentunya tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya
pengetahuan yang didapat melalui membaca, berbahasa, dan aspek-aspek
lain.
4. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan
pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta
mengantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini
dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus
dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga
suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan
pembentukan kompetensi siswa.

5
Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena
mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan
kompetensi. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang
disajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat.
Dalam pelaksanaannya, hal ini memerlukan proses pertukaran pikiran,
diskusi, dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama
terhadap materi standar yang harus dikuasai siswa.
Menurut Wotruba dan Wright dalam Hamzah Uno, indikator yang
dapat menunjukkan pembelajaran yang efektif, yaitu: Pengorganisasian
yang baik, komunikasi yang efektif, penguasaan dan antusiasme terhadap
materi pelajaran, sikap positif terhadap siswa, pemberian nilai yang adil,
keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
5. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu
proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat
antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under
pressure) (Mulyasa, 2006: 194). Dengan kata lain, pembelajaran
menyenangakan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru
dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai
mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan
guru belajar dari siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang
demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan
proses pembelajaran.
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru
harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang
tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang melibatkan siswa
secara optimal. Rose and Nocholl mengatakan bahwa pembelajaran yang
menyenangkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a) Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks), lingkungan yang aman
untuk melakukan kesalahan, namum harapan untuk sukses tetap tinggi.
b) Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. Anda ingin belajar ketika Anda
melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar.

6
c) Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif, yang pada
umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain,
ketika ada humor dan dorongan semangat,waktu rehat dan jeda teratur
serta dukungan antusias.
d) Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak
kanan.
e) Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan
mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin
kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.

2.2 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Proses Pelaksanaan PAKEM


Dalam Asmani, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pelaksanaan PAKEM, yaitu:
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi.
Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia,
atau anak bukan Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua
sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya
sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah
satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua
sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji
anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang,
dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya,
merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan
memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif,
Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan
harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas
tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai
dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih
dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).

7
Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila
mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau
membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok.
Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila
mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk
berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga
menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini
memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk
menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternative pemecahan
masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa
ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh
karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan
sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka.
Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika…” lebih
baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang
umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan
dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk
memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang
dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan
menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa
hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa
gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya.
Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata

8
dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat
dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang
sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai
media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar).
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak
merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan
tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke
ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan
dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan
seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis,
mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar.
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu
bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih
mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara
memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan
agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar
selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan
memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan
pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada
hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisikal dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa
kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur
berkelompok siswa duduk duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut
bukanlah cirri dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan dari pada aktif
fisikal. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan
mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental.

9
2.3 Lingkungan Belajar Dalam PAKEM
Menciptakan lingkungan belajar bukan persoalan mudah, karena menarik
minat belajar seseorang adalah pekerjaan yang sulit. Dibutuhkan sentuhan
kreativitas, progresivitas dan seni yang tinggi. PAKEM membutuhkan
lingkungan belajar yang kondusif bagi pembelajaran. Menurut Muhammad
Saroni dalam Asmani, lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini
mencakup dua hal utama, yaitu:
1. Lingkungan fisik
Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa
“lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan
segala aspek yang berhubunga dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa
setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan.
Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang di miliki
sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai
untuk siswa, dan lain sebagainya.” Hal yang senada Suprayekti (2003:18),
juga menegaskan bahwa: “lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di
sekitar siswa baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di
optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan
efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau
tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk
lingkungan fisik tersebut diantanya adalah kelas, laboratorium, tata ruang,
situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.
Dari uraian di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan fisik
adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik
yang ada dilingkup sekolah maupun yang dilingkungan sekolah termasuk
dimasyarakat siswa berada. Dalam uraian ini lingkungan fisik lebih
ditekankan pada lingkungan fisik dalam ruang kelas belajar di sekolah,
alat/media belajar yang ada, dan alat/media belajar yang dapat dibuat
sendiri/diambil lingkungan.

10
2. Lingkungan social
Muhammad Saroni (2006:83), menjelaskan bahwa: “dalam
lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antarpersonil yang
ada di lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang baik
memungkinkan para siswa untuk berinteraksi secara baik, siswa dengan
siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan,
dan siswa dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil.
Dan kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi
sosial ini berlangsung secara baik. Lingkungan sosial yang kondusif dalam
hal ini, misalnya adanya keakraban yang proporsional antara guru dan siswa
dalam proses pembelajaran.”
Oleh karena itu dalam lingkungan sosial kelas hendaknya juga
diciptakan sekondusif mungkin, agar suasana kelas dapat digunakan sebagai
ajang dialog mendalam dan berpikir kritis yang menjunjung tinggi prinsip-
prinsip manusiawi, empati, dan lain-lain, demokratis serta religius.
Selanjutnya lingkungan non fisik/lingkungan sosial dapat dikembangkan
fungsinya yaitu untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan
kondusif seperti adanya musik yang digunakan sebagai latar pada saat
interaksi belajar mengajar berlangsung. Musik tersebut digunakan
menjadika suasana belajar terasa santai, siswa dapat belajar dan siap
terkonsentrasi.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat dipertegas bahwa lingkungan
sosial kelas adalah upaya penciptaan suasana belajar atau suasana kelas
belajar sehingga interaksi di dalam kelas kondusif. Di mana suasana kelas
belajar berlangsung santai bermakna, demokratis, adil, religius, dan siswa
dapat belajar dan siap untuk berkonsentrasi. Di samping itu ketika siswa
sedang bekerja /mengerjakan suatu masalah dapat diputarkan musik belajar.

Dalam hal ini tugas guru menurut Mulyasa (2006:210&218), adalah


“memberikan kemudahan belajar kepada siswa, dengan menyediakan berbagai
sarana dan sumber belajar yang memadai, juga selain menyampaikan materi
pembelajaran yang berupa hapalan tetapi juga menciptakan dan mengatur
lingkungan belajar terutama di kelas, dan strategi pembelajaran yang

11
memungkinkan siswa belajar.” Oleh karena itu peran guru harus bisa
membiasakan pengaturan peran serta/ tanggung jawab tiap siswa terhadap
terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan
sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran bagi tiap siswa menjadi
bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara siswa dan guru
maka kebersaman akan terbentuk sehingga hal (lingkungan belajar) untuk
menjadikan pembelajaran berenergi menjadi tuntutan tiap siswa.

2.4 Prinsip – Prinsip PAKEM


Prinsip belajar yang perlu dilakukan adalah jangan mengondisikan siswa
hanya untuk mendengarkan, karena mereka akan mudah lupa. Jangan pula
membuat siswa memperhatikan saja, karena mereka hanya bisa mengingat.
Yang sebaiknya dilakukan oleh seorang guru adalah meyakinkan siswa untuk
melakukan, karena mereka pasti akan mengerti dan mengingatnya.
Dalam pelaksanaan PAKEM, sekurang-kurangnya ada empat prinsip
yang dapat diidentifikasi, yaitu:
1. Pengalaman/mengalami
Di aspek pengalaman ini siswa diajarkan untuk dapat belajar mandiri.
Di dalamnya terdapat banyak cara untuk penerapannya, antara lain seperti
eksperimen, pengamatan, percobaan, penyelidikan, dan wawancara. Karena
di aspek pengalaman, anak belajar banyak melalui berbuat dan dengan
melalui pengalaman langsung, dapat mengaktifkan banyak indera yang
dimiliki anak tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam
kerucut pengalamannya (cone experience) bahwa dalam pengalaman
langsung sekitar 90% materi yang didapatkan oleh anak akan cepat terserap
dan bertahan lebih lama. Beberapa contoh dari prinsip
mengalami/pengalaman ini adalah melakukan pengamatan, percobaan,
penyelidikan, wawancara, dan penggunaan alat peraga.
2. Interaksi
Dalam aspek ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, tanya jawab,
dan saling melempar pertanyaan sehingga pembelajaran akan terasa
menjadi lebih hidup dan menarik. Dengan hal-hal seperti inilah kesalahan

12
makna yang diperbuat oleh anak-anak berpeluang untuk terkoreksi dan
makan yang terbangun semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil
belajar meningkat. Prinsip ini berpeluang pada siswa untuk berekspresi dan
berartikulasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
3. Komunikasi
Aspek komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, antara
lain mengemukakan pendapat, presentasi laporan, dan memajangkan hasil
kerja. Di aspek ini ada hal-hal yang ingin didapatkan, misalnya anak dapat
mengungkapkan gagasan, dapat mengonsolisasi pikirannya, mengeluarkan
gagasannya, memancing gagasan orang lain, dan membuat bangunan makna
mereka dapat diketahui oleh guru.
4. Refleksi
Dalam aspek ini yang dilakukan adalah memikirkan kembali apa yang
telah diperbuat/dipikirkan oleh anak selam mereka belajar. Hal ini
dilakukan agar terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang telah
dikeluarjan oleh anak dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan. Disini
anak diharapkan juga dapat menciptakan gagasan-gagasan baru. Melalui
refleksi kita dapat mengetahui efektivitas pembelajaran yang sudah
berlangsung, akan ada ide-ide baru, pemikiran baru, dan gagasan baru yang
lebih segar, kaya, dan penuh makna dari proses refleksi ini.

2.5 Peran Guru dalam PAKEM


1. Careviger (Pembimbing)
Guru disebut sebagai pembimbing karana dia mampu memperlakukan
siswanya dengan respek dan sayang (atau juga cinta). Dalam PAKEM,
baiknya guru menghindari hal: Meremehkan/merendahkan siswa, berlaku
kurang adil terhadap sebagian siswa, membenci sebagian siswa
2. Model (contoh)
Karakter guru salalu diteropong sekaligus dijadikan cermin oleh
siswa-siswanya, baik itu kebiasaan buruk dan kebiasaan yang bagus.
Kedisiplinan, kejujuran, keadilan, lebersihan, kesopanan, ketulusan,

13
ketekunan, dan kehati-hatian akan selalu direkam oleh siswa-siswanya.
Biasanya kejelekan akan cepat dan mudah diikuti oleh siswa-siswanya.
3. Mentor
Lebih dari sebagai yang bertanggung jawab menjadikan siswa pandai
dalam materi pelajaran dan dalam menjaga mortalitas bangsa, guru harus
sanggup menjadi penasehat bagi siswa-siswanya. Erat kaitannya dengan
pembimbing, guru harus sanggup memberi nasihat ketika siswa
membutuhkan.

2.6 Implementasi PAKEM dalam Pembelajaran Matematika


Berdasar poin-poin keterangan prinsip utama pada PAKEM dapat di
kontruksi definisi sebagai berikut: pembelajaran matematika yang aktif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan (PAKEM) adalah suatu strategi pembelajaran
terpadu yang menggunakan strategi, metode, pendekatan, dan teknik pengajaran
terpadu sedemikian rupa sehingga baik prosedur maupun tujuan
pembelajarannya dapat terlaksana dan tercapai dengan baik.
Salah satu implementasi prinsip-prinsip PAKEM bisa kita terapkan pada
pembelajaran Opetasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat
1. Penggunaan peraga tangga, lantai keramik dan garis bilangan.
Pada saat mempraktekkan soal menggunakan peraga ini, semua
mahasiswa melakukannya secara bergantian. Jika tidak praktek maka
melakukan aktifitas mencatat hasil, memperhatikan rekannya, jadi semua
melakukan aktifitas. Berdasar proses ini terlihat bahwa mahasiswa
mengimplementasikan prinsip aktif dari prinsip PAKEM. Sedangkan
implementasi prinsip kreatif muncul pada saat mahasiswa melakukan
berbagai variasi cara mempraktekkan soal yang berbentuk a-b.
Implementasi prinsip efektif pada pembelajaran operasi penjumlahan dan
pengurangan bilangan buIat ini adalah pada saat mahasiswa dapat
menemukan cara mekngkah dan membaUkkan badan sesuai soal, berarti
mahasiswa telah mencapai tujuan pembelajaran yaitu dapat mencari
penyelesaian permasalahan penjumlahadan pengurangan bilangan bulat
walaupun pada tahap bilangan-bilangan yang sederhana.

14
2. Penggunaan peraga manik-manik
Pada saat menggunakan peraga ini, jelas prinsip aktif dapat
diimplementasikan karena semua melakukan aktifitas baik itu memilh
manik- manik hitam atau putih, menghitung jumlah hasilnya, mencatat
maupun niemperhatikan rekannya yang sedang praktek. Namun prinsip
kreatif kurang dapat dieksplor dengan peraga ini karena pilihan cara hanya
ada dua yaitu manik-manik hitam atau putih. Adapun prinsip efektif dapat
diimplementasikan dengan memandang bahwa penggunaan peraga ini
sangat membantu mahasiswa untuk dapat mengimplementasikannya ketika
mengajar di MI/SD sehingga tujuan pembelajaran bahwa mahasiswa dapat
mengajarkan materi bilangan bulat dengan metode pembelajaran aktif telah
tercapai. Implementasi prinsip menyenangkan dapat diwujudkan baik
menggunakan peraga pada poin 1 maupun poin 2. Pembelajaran dilakukan
di luar kelas sehingga memberikan suasana yang lebih bebas, relaks dan
tidak membosankan. Semua mahasiswa melakukan aktifitas sehingga
pembelajaran menjadi menyenangkan da mengasyikkan.
3. Penyusunan pola matematika untuk operasi penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat
Pada saat mahasiswa menyusun dan mencoba memahami pola
matematika pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, prinsip
PAKEM yang dapat diimplementasikan adalah prinsip aktif dan kreatif saja.
Hal ini disebabkankarena pada proses ini yang dilakukan mahasiswa
adalaproses berpikir analitis atau melakukan proses berpikir pada tingkat
tinggi. Menurut Bloom (1956), urutan domain kognisinya ada 6 yaitu:
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluas. Adapun
Anderson and Rrathwohl (2001) menyusun modifikasinya dengan
mengubah kata benda menjadi kata kerja dengan 6 tingkat sebagai berikut:
mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan
menciptakan.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
PAKEM adalah salah satu pendekatan yang memungkinkan peserta didik
mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan
pemahamannya dengan penekanan belajar sambil bekerja. Sementara, guru
menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar, termasuk pemanfaatan
lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
Dalam strategi pembelajaran terjadi proses pentransferan ilmu yang
nantinya berpengaruh pada hasil belajar. Ciri-ciri pembelajaran ini adalah: multi
metode dan multi media, praktik dan bekerja dalam satu tim, memanfaatkan
lingkungan sekitar, dilakukan didalam dan luar kelas, serta, multi aspek (logika,
praktik dan etika), pembelajaran Aktif : pembelajaran yang memosisikan guru
sebagai orang yang menciptakan susana belajar yang kondusif atau sebagai
fasilitator dalam belajar, sementara siswa sebagai peserta belajar yang harus
aktif.
Pembelajaran Kreatif: dimana guru menciptakan kegiatan belajar yang
beragam, sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
Pembelajaran Efektif: pembelajaran dimana proses pembelajaran tersebut
bermakna bagi siswa. Tidak hanya aktif dan kreatif, tetapi mereka juga harus
efektif. Pembelajaran Menyenangkan: tentang membuat suasana belajar
mengajar yang menyenangkan, sehingga siswa memusatkan perhatiannya
secara penuh pada belajar dan waktu curah anak pada pelajaran menjadi tinggi.
Untuk memilih kegiatan pembelajaran yagn paling efektif dan efisien
untuk mendapatkan pengalaman kerja yang baik, yaitu yang dapat memberikan
fasilitas kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajarannya.

3.2 Saran
Dengan adanya PAKEM ini, maka diharapkan guru dapat
menigimplementasikannya agar suatu tujuan pembelajaran dapat tercapai dan
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal, M. (2011). 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,


Efektif dan Menyenangkan). Jogjakarta, Indonesia: DIVA Press.

Sanjaya, Wina. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik


Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafinda Persada.

Uno, Hamzah. B & Mohamad, Nurdin. (2011). Belajar dengan Pendekatan


Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik
(PAILKEM). Jakarta: Bumi Aksara.

Maulana, Luluk. (2013). “Implementasi Pendekatan PAKEM Pada Pembelajaran


Operasi Bilangan Bulat DiPGMT”. [Online]. Tersedia:
(http://digilib.uin-
suka.ac.id/8030/1/LULUK%20MAULUAH%20IMPLEMENTASI%20
PENDEKATAN%20KONSTRUKTIVISME%20PADA%20PEMBEL
AJARAN%20OPERASI%20BILANGAN%20BULAT%20DI%20PG
MI.pdf). Yang direkam pada 20 April 2013. (Diakses pada tanggal 15
Oktober 2017)

Ide Guru. (2014). “Pengertian Dan Ciri Pembelajaran Pakem (Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Afektif, dan Menyenangkan”. [Online]. Tersedia:
(https://ideguru.wordpress.com/2010/04/19/pengertian-dan-ciri-
pembelajaran-pakem-pembelajaran-aktif-kreatif-afektif-dan-
menyenangkan/). Yang direkam pada 19 April 2014. (Diakses pada tanggal
15 Oktober 2017)

Ibel Tambunan. (2011). “PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan


Menyenangkan)”. [Online]. Tersedia:
(https://www.academia.edu/9865206/PAKEM_Pembelajaran_Aktif_Kreat
if_Efektif_dan_Menyenangkan_). Yang direkam pada 21 November 2011.
(Diakses pada tanggal 15 Oktober 2017)

IndahPGMI. (2012). “Lingkungan PAKEM”. [Online]. Tersedia:


(https://danbelajarlagi.wordpress.com/2012/06/08/lingkungan-pakem/).
Yang direkam pada 8 Juni 2012. (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2017)

17