Anda di halaman 1dari 4

Prinsip umum penatalaksanaan perotinitis adalah

1. Kontrol sumber infeksi


2. Hilangkan bakteri dan toksin
3. Pertahankan fungsi sistem organ
4. Kontrol proses inflamasi
Pada peritonitis sekunder dan tertier terapi antibiotik empiris yang dianjurkan adalah Sefalosporin generasi ke-2 atau
ke-3 atau quinolone dikombinasikan dengan metronidazol. Bila tidak tersedia atau kontraindikasi, antibiotik alternatif
yang dapat diberikan adalah Ampisilin/sulbaktam. Untuk peritonitis derajat ringan sedang, cukup terapi 1 macam
antibiotika dan terapi kombinasi hanya direkomendasikan untuk derajat berat.
Pada kasus SBP, antibiotik yang direkomendasikan sebagai terapi empirik adalah sefalosprin generasi ke-3 (Ceftriaxone,
Cefotaxime dsb). Selanjutnya setelah hasil kultur keluar, berikan antibiotk sesuai hasil kultur/uji resistensi. Sebisa
mungkin hindari pemberian antibiotik aminoglikosida karena bersifat nefrotoksik. Lama terapi antibiotik yang
dianjurkan adalah minimal 5 hari (dengan adanya bukti penurun lekosit < <250 cells/µL).
Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan akut abdomen dapat dibagi menjadi 6 bagian besar kategori,
yaitu:
1. Inflamasi
Kategori inflamasi ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang disebabkan bakteri dan kimiawi.
Inflamasi akibat bakterial seperti appendisitis akut divertikulitis, dan beberapa kasus Pelvic Inflammatory
Disease. Inflamasi akibat kimiawi antara lain perforasi dan ulkus peptikum.
2. Mekanik
Penyebab mekanis misalnya keadaan obstruksi, seperti hernia inkarserata, perlengkapan, intussusepsi,
malrotasi usus dengan volvulus, atresia kongenital atau stenosis usus. Penyebab tersering obstruksi mekanik
usus besar adalah Ca kolon.
3. Neoplasma
4. Vaskular
Kelainan vaskular seperti trombosis atau embolisme a. mesenterika yang menyebabkan aliran darah
terhenti sehingga timbul nekrosis jaringan, dengan ganggren usus.
5. Defek Kongenital
Defek congenital yang dapat menyebabkan akut abdomen seperti atresia duondenum, omphalocele atau
hernia diaphragmatica.

6. Trauma
Penyebab traumatik dari akut abdomen bervariasi dari luka tusuk dan tembak sampai luka tumpul
abdominal yang menyebabkan keadaan rusaknya organ visera seperti ruptur lien.
Penyebab nyeri perut terkadang dapat diprediksi berdasarkan lokasi dan jenis rasa sakit sehingga membantu dalam
menegakkan diagnosis. Perkiraan penyebab berdasarkan fakta bahwa patologi struktur yang mendasari di setiap regio
cenderung memberikan nyeri perut maksimal di regio tersebut.
. Penegakkan Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis penderita akut abdomen, perlu ditanyakan dahulu permulaan nyerinya, lokasi, karakter,
durasi, faktor yang mempengaruhinya serta gejala yang menyertai. Lokasi nyeri penting untuk
mempertimbangkan berbagai kondisi patologis yang terjadi di daerah spesifik atau kuadran abdomen.
Karakteristik nyeri dapat digambarkan sebagai "rasa terbakar" yang mungkin terjadi karena perforasi ulkus
peptikum, sementara "rasa terobek-robek" biasanya mewakili rasa sakit akibat diseksi aorta. Nyeri yang
intermiten atau kolik harus dibedakan dari rasa sakit yang terus menerus. Nyeri kolik biasanya terkait dengan
proses obstruktif dari usus, hepatobilier, atau saluran genitourinari, sementara rasa sakit yang terus menerus
biasanya merupakan hasil dari mendasari iskemia atau peritoneal peradangan.6
Berdasarkan letak atau penyebarannya nyeri dapat bersifat nyeri alih, dan nyeri yang diproyeksikan. Nyeri
bilier khas menjalar ke pinggang dan ke arah belikat, nyeri pankreatitis dirasakan menembus ke bagian pinggang.
Nyeri pada bahu kemungkinan terdapat rangsangan pada diafragma. Bagaimana bermulanya nyeri pada akut
abdomen dapat menggambarkan sumber nyeri. Nyeri dapat tiba-tiba hebat atau secara cepat berubah menjadi
hebat, tetapi dapat pula bertahap menjadi semakin nyeri. Misalnya pada perforasi organ berongga, rangsangan
peritoneum akibat zat kimia akan dirasakan lebih cepat dibandingkan proses inflamasi. Demikian juga intensitas
nyerinya. Seseorang yang sehat dapat pula tiba-tiba langsung merasakan nyeri perut hebat yang disebabkan oleh
adanya sumbatan, perforasi atau pluntiran. Nyeri yang bertahap biasanya disebabkan oleh proses radang, misalnya
pada kolesistitis atau pankreatitis.
Posisi pasien dalam mengurangi nyeri dapat menjadi petunjuk. Pada pankreatitis akut pasien akan berbaring
ke sebelah kiri dengan fleksi pada tulang belakang, panggul dan lutut. Kadang penderita akan duduk bungkuk
dengan fleksi sendi panggul dan lutut. Appendisitis akut yang letaknya retrosaekum mendorong penderitanya
untuk berbaring dengan fleksi pada sendi panggul sehingga melemaskan otot psoas yang teriritasi. Akut abdomen
yang menyebabkan diafragma teritasi akan menyebabkan pasien lebih nyaman pada posisi setengah duduk yang
memudahkan bernafas. Penderita pada peritonitis lokal maupun umum tidak dapat bergerak karena nyeri,
sedangkan pasien dengan kolik terpaksa bergerak karena nyerinya.6
Riwayat gejala sistemik penting dalam evaluasi akut abdomen. Nyeri abdomen biasanya disertai oleh
demam tinggi dan kedinginan yang dapat menunjukkan penyakit peradangan pelvis dan infeksi traktus urinarius.
Gejala sistemik lain seperti anoreksia, mual, muntah merupakan merupakan gejala penyerta yang sering pada akut
abdomen terutama apendisitis akut dan kolesistitis akut. Konstipasi didapatkan pada obstruksi usus besar dan
pada peritonitis umum. Pertanyaan mengenai defekasi, miksi daur haid, dan gejala lain seperti keadaan sebelum
serangan akut abdomen harus dimasukkan dalam anamnesis.6

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu dilakukan secara keseluruhan mulai dari keadaan umum, tanda-tanda vital,
dan sikap berbaring. Adanya abnormalitas pada tanda vital dapat menunjukkan keadaaan kegawatan pada pasien.
Keparahan penyakit sistemik dapat dinilai dari adanya takipnea, takikardia, demam atau respon hipotermia, dan
hipotensi relatif. Gejala dan tanda dehidrasi, perdarahan, syok dan infeksi atau sepsis juga perlu diperhatikan.
Posisi berbaring pasien juga dapat menunjukkan suatu penyakit. Pasien dengan iritasi peritoneal, nyeri
semakin bertambah dengan aktivitas apapun yang menggerakkan peritoneum. Pasien biasanya berbaring diam
dan mempertahankan fleksi lutut dan pinggul mereka untuk mengurangi ketegangan pada dinding abdomen
anterior. Kondisi penyakit yang menyebabkan rasa sakit tanpa iritasi peritoneal, seperti iskemik usus dan ureter,
dan kolik bilier, biasanya menyebabkan pasien untuk terus bergeser dan gelisah di tempat tidur.
Pemeriksaan yang difokuskan pada pemeriksaan abdomen yang terdiri dari :
a. Inspeksi
Pada inspeksi abdomen, perhatikan kontur abdomen, termasuk apakah tampak buncit atau apakah tampak
terdapat massa yang memberikan kecurigaan adanya hernia inserserata atau tumor. Perhatian pula adanya bekas
luka operasi sebelumnya, distensi abdomen dan gerakan peristaltik usus yang terlihat Darm-steifung. Adanya
eritema atau edema kulit mungkin memperlihatkan selulitis dari dinding abdomen, sedangkan ecchymosis
kadang-kadang dapat terlihat pada infeksi necrotizing yang dalam pada fasia atau struktur abdomen seperti
pancreas. Adanya caput medusa dapat menunjukan penyakit hati.
b. Auskultasi
Suara usus biasanya dievaluasi kuantitas dan kualitasnya. Perhatikan ada atau menghilangnya suara bising
usus, serta karakteristik dari bising usus. Pada ileus paralitisik bisisng usus menghilang sedangkan pada ileus
obstruksi bising usus dapat menigkat.
c. Perkusi
Perkusi digunakan untuk menilai distensi usus yang berisi gas, udara bebas intra-abdominal, tingkat asites,
atau adanya peradangan peritoneum, serta adanya setiap massa yang tumpul. Padaobstruksi ileus, timpani
terdengar di seluruh lapang kecuali pada kuadran kanan atas, di mana terdapat hati yang terletak di bawah dinding
abdomen. Jika ditemukan adanya timpani hingga kuadran kanan atas, dicurigai adanya kemungkinan udara
intraperitoneal bebas. Pekak hati yang menghilang merupakan tanda khas terjadinya perforasi (tanda
pneumoperitoneum, udara menutupi pekak hati). Perkusi dapat digunakan untuk mendeteksi ascites dengan
pemeriksaan shifting dullness atau gelombang cairan.
d. Palpasi
Palpasi menunjukkan 2 gejala yaitu nyeri dan defense musculaire. Akut abdomen memberikan rangsangan
pada peritoneum melalui peradangan atau iritasi peritoneum secara lokal atau umum tergantung dari luas daerah
yang terkena iritasi. Perasaan nyeri dapat berupa nyeri tekan dan nyeri lepas. Defense musculaire timbul karena
rasa nyeri pada peritonitis diffusa yang karena rangsangan palpasi nyeri bertambah sehingga secara refleks otot-
otot abdomen akan berkontraksi terhadap rangsangan mekanik sebagai proteksi terhadap abdomen.
Ada beberapa teknik palpasi khusus seperti, murphy sign (palpasi dalam di perut bagian kanan atas yang
menyebabkan nyeri hebat dan berhentinya nafas sesaat) untuk kolesistitis, rovsing sign (nyeri di perut kanan
bawah saat palpasi di daerah kiri bawah/samping kiri) pada appendicitis. Nyeri lepas di perut kanan bawah pada
appendicitis dan nyeri lepas di hampir seluruh bagian perut pada kasus peritonitis.
e. Rectal Toucher
Penilaian rectal toucher atau colok dubur memberikan informasi yang terbatas pada kasus akut abdomen.
Namun, pemeriksaan colok dubur dapat membedakan antara obstruksi usus dengan paralisis usus karena pada
paralisis dijumpai ampula rekti yang melebar, sedangkan pada obstruksi usus ampulanya kolaps.

Data yang diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat ditunjang dengan pemeriksaan lainnya
seperti laboratorium dan pemeriksaan radiologi yang juga penting dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis
banding dan menegakkan diagnosis kerja.
a. Pemeriksaan laboratorium
Anemia dan hematokonsentrasi dapat menunjukkan kemungkinan terjadinya perdarahan terus menerus.
Lekositosis tanpa terdapatnya infeksi dapat menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak, terutama pada
kemungkinan ruptura lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas
atau perforasi usus halus. Kenaikan enzim transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pada hepar.
Pemeriksaan urine rutin dapat menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri.
b. Pemeriksaan Radiologi
Foto rontgen thoraks dapat menyingkirkan adanya kelainan pada thoraks atau trauma pada thoraks. Harus
juga diperhatikan adanya udara bebas di bawah diafragma atau adanya gambaran usus dalam rongga thoraks pada
hernia diafragmatika. Plain abdomen foto tegak akan memperlihatkan adanya udara bebas dalam rongga
peritoneum, udara bebas retroperitoneal dekat duodenum, corpus alienum, serta perubahan gambaran usus.
Pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan berguna sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum
dioperasi dan dicurigai adanya trauma pada hepar dan retroperitoneum.