Anda di halaman 1dari 31

CLINIC REPORT SESSION

DEPRESIF SEDANG

Pembimbing : dr.Victor Eliezer, SP.KJ

Oleh :

Romi Wijianto G1A217109

Marisa Hana’ Mardhiyah G1A217111

Intan karnina Putri G1A217112

Ilham Taufan Ikramiawan G1A217104

Khalida Khairunnisa G1A217099

Sundary Florenza G1A217107

Hidayanti Br Siregar G1A217103

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR BAGIAN KEDOKTERAN JIWA

RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2018
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan depresi termasuk kedalam gangguan mood. Pembahasan emosi


mencakup afek, mood, emosi yang lain serta gangguan psikologis yang berhubungan
dengan mood. Sehingga dalam pembahasan gangguan depresi maka akan dibahas emosi
dan mood. Emosi merupakan kompleksitas perasaan yang meliputi psikis, somatik dan
perilaku yang berhubungan dengan afek dan mood. Emosi memiliki sinonim berupa afek
yang merupakan suasana perasaan hati seorang individu. Mood merupakan subjektivitas
peresapan emosi yang dialami dan dapat diutarakan oleh seseorang dan terpantau oleh
orang lain, contohnya depresi, elasi dan marah.1
Pasien dalam keadaan mood depresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat,
merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh
diri. Tanda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan
kognitif, bicara dan fungsi vegetatif (tidur, aktivitas seksual dan ritme biologik lain).
Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, sosial dan fungsi.1,2
Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai dengan perasaan
sedih dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari tetapi
dapat juga berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.3
Berdasarkan usia, depresi sering terjadi pada rata-rata usia sekitar 40 tahun. Hampir
50% awitan terjadi diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada
masa anak atau lanjut usia. 1,2
Perempuan dua kali lipat lebih besar mengalami depresi dibandingkan laki-laki.
Penyebabnya diduga karena adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan
stressor psikososial antara laki-laki dan perempuan, serta model perilaku yang dipelajari
tentang ketidakberdayaan.1
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
 Tanggal MRS : 12 Februari 2018
 Nama : Ny. S
 Umur/Tgl lahir : 36 tahun/Lubuk Ruso, 25 Msret 1981
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Alamat : Desa Lubuk Ruso RT 01, Kec.Pemayung, Kab.Batang Hari
 Suku/Bangsa : Melayu/Indonesia
 Agama : Islam
 Status : Sudah menikah
 Pekerjaan saat ini : PNS (Guru SD)

Identitas Dari Alloanamnesis


 Nama : Syahrial
 Pekerjaan : Guru
 Alamat : Desa Lubuk Ruso RT 01, Kec.Pemayung,
Kab.Batang Hari
 Agama : Islam
 Status : Menikah
 Hubungan dengan pasien : Suami
 Kesan pemeriksa terhadap keterangan yang diberikan : Dapat dipercaya

2.2 ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke poli RSJD provinsi Jambi bersama dengan suami dengan keluhan
cemas dan ketakutan.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Cemas dan ketakutan sejak 40 hari yang lalu. Keluhan awal bermula sejak pasien
kehilangan putra pertamanya akibat kecelakaan lalu lintas. Setiap hari pasien
menangis dan mengatakan bahwa dirinya menyesal karena belum memperlakukan
anaknya dengan baik. Pasien selalu meningat kenangan ia bersama anaknya. Dia
hanya mengingat kenangan buruk yang telah ia lakukan kepada anaknya. Pasien
selalu merasa cemas dan ketakutan padahal pasien tidak sedang mendapat masalah.
Saat melihat kamar anaknya pasien selalu terbayang sosok anaknya dan merasa
takut, jantung berdebar, akral dingin dan jantung serasa ingin meledak, selain itu
ketika pasien melihat foto anaknya di dinding tubuh pasien langsung lemas,
seketika benda yang sedang pasien pegang langsung terjatuh. Saat pasien melihat
anak laki-laki lain yang seumuran dengan anaknya, pasien langsung menangis dan
teringat anaknya. Pasien tetap beraktivitas sehari-hari seperti biasa yaitu mengajar
di Sekolah Dasar namun pasien sulit berkonsentrasi dalam mengajar, selalu teringat
anaknya yang sudah meninggal. Sejak saat itu nafsu makan pasien menurun, pasien
tidak nafsu makan. Satu bulan terakhir berat badan pasien sudah turun hingga 4 kg.
Pasien masih bisa tidur normal malam hari, meskipun sesekali terbangun dan
teringat anaknya. Sebelum keluhan muncul pasien memang seseorang yang mudah
cemas.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak memiliki riwayat mengalami gangguan mental emosional, tidak
pernah mengalami gangguan psikosomatis, tidak memiliki riwayat penyakit lain,
tidak mempunyai riwayat penyalahgunaan zat (NAPZA) dan alkohol, tidak
memilikit trauma fisik sebelumnya.

D. Riwayat Penyakit Keluarga


Dalam keluarga pasien tidak ada yang mengalami gejala serupa

E. Riwayat Pribadi
Pasien merupakan seorang guru SD (Sekoah Dasar), mempunyai 2 orang anak, 1
sudah meninggal, dirumah pasien tinggal dengan suami dan anaknya

F. Riwayat Alergi
Riwayat Alergi tidak ada

G. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum
a. Kesadaran : Compos Mentis
b. Tekanan Darah : 120/80 mmHg
c. Nadi : Teraba kuat, teratur, frekuensi 80 x/menit
d. RR :Teratur, frekuensi 20 x/menit
e. Suhu : 36,5C
f. Tinggi badan : 145 cm
g. Berat badan : 51 kg
h. IMT : 24,2 ( Berat badan normal)

- Pemeriksaan Fisik
a. Kulit : Turgor baik
b. Kepala : Normocephalik
c. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor, refleks cahaya (+/+)
d. Leher : Pembesaran KGB (-)
e. Toraks : Bentuk dan pergerakan simetris
f. Jantung : Bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
g. Pulmo : Sonor, vesikuler (+/+)
h. Abdomen : Datar, soepel
i. Hepar : Tidak teraba
j. Lien : Tidak teraba
k. Ekstremitas : Edema (-)

- Pemeriksaan Neurologis : Dalam batas normal


- Pemeriksaan Psikometrik : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Pemeriksaan Laboratorium : Tidak dilakukan pemeriksaan

H. Status Psikiatri
a. Keadaan umum
Penampilan : Pasien datang dalam keadaan tenang, penampilan
sesuai usianya, kondisi fisik terlihat sehat, pakaian
yang cukup rapi, raut wajah sedih dan murung
Kesadaran : Compos Mentis
Orientasi : Waktu :baik
Tempat :baik
Orang :baik
b. Sikap & tingkah laku : Kooperatif
c. Gangguan berpikir
Bentuk pikir : Realistik
Arus pikir : Koheren
Isi pikir : Preokupasi terhadap kematian anaknya
d. Alam perasaan
Mood : Depresi
Afek : Serasi
e. Persepsi
Halusinasi : Tidak ada
Ilusi : Tidak ada
f. Fungsi intelektual
Daya konsentrasi : Baik
Orientasi : Waktu :baik
Tempat :baik
Orang : baik
Daya ingat : Segera (immediate) : Baik
Baru saja (recent) : Baik
Agak lama (recent past) : Baik
Jauh (remote) : Baik
Pikiran abstrak : Baik
g. Pengendalian impuls : Baik
h. Daya nilai : Baik
i. Tilikan/insight :6
j. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

I. Interpretasi Pemeriksaan Tambahan

Penilaian Skor HDRS (Pengukuran derajat depresi)

1. Keadaaan perasaan depresi (sedih, putus asa, tak berdaya, tak berguna).
 0= tidak ada
 1= perasaan ini hanya ada bila ditanya
 2= perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan
 3= perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk
suara dan kecenderungan menangis
 4= pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya ini dalam komunikasi verbal
maupun non verbal secara spontan

2. Perasaan bersalah.
 0= tidak ada
 1= menyalahkan diri sendiri, merasa sebagai penyebab penderitaan orang lain
 2= ide-ide bersalah atau renungan tentang kesalahan-kesalahan masa lalu
 3= sakit ini sebagai hukuman, delusi bersalah
 4= suara-suara kejaran atau tuduhan dengan dan halusinasi penglihatan tentang hal-
hal yang mengancam

3. Bunuh diri.
 0= tidak ada
 1= merasa hidup tidak ada gunanya
 2= mengharapkan kematian atau pikiran-pikiran lain kearah itu
 3= ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah kearah itu
 4= percobaan bunuh diri

4. Insomnia ( initial ).
 0= tidak ada
 1= keluhan kadang-kadang sukar masuk tidur, misalnya lebih dari setengah jam
lalu masuk tidur
 2= keluhan tiap malam sukar masuk tidur\

5. Insomnia ( middle ).
 0= tidak ada
 1= pasien mengeluh gelisah dan terganggu sepanjang malam
 2= terjadi sepanjang malam ( bangun dari tempat tidur, kecuali buang air besar )

6. Insomnia ( initial ).
 0= tidak ada
 1= bangun diwaktu fajar, tetapi tidur lagi
 2= bangun diwaktu fajar tapi tidak dapat tidur lagi

7. Kerja dan kegiatannya.


 0= tidak ada
 1= pikiran/perasaan ketidakmampuan, keletihan/kelemahan yang berhubungan
dengan kegiatan kerja atau hobi
 2= hilangnya minat terhadap pekerjaan/hobi atau kegiatan lainnya, baik langnsung
atau tidak pasien menyatakan kelesuan, keraguan-raguan dan rasa bimbang
 3= berkurangnya waktu untuk aktivitas sehari-hari atau kurang productivitas (
sekurang-kurangnya 3 jam sehari dalam kegiatan sehari-hari )
 4= tidak bekerja karena sakitnya sekarang ( dirumah sakit ) bila pasien tidak
bekerja sama sekali, kecuali tugas-tugas di bangsal atau jiwa pasien gagal
melaksanakan kegiatan-kegiatan di bangsal tanpa bantuan

8. Kelambanan ( dalam berpikir, berbicara, gala berkonsentrasi, aktivitas motorik menurun


).
 0= tidak ada
 1= sedikit lamban dalam wawancara
 2= jelas lamban dalam wawancara
 3= sukar diwawancarai
 4= stupor

9. Kegelisahan/agitasi.
 0= tidak ada
 1= kegelisahan ringan
 2= memainkan tangan, rambut, dll
 3= bergerak terus tidak duduk tenang
 4= meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku, bibir, menarik narik rambut.

10. Ansietas somatik ( mulut kering, diare, palpitasi, sakit kepala, berkeringat, dll ).
 0= tidak ada
 1= ringan
 2= sedang
 3= berat
 4= berat sekali

11. Ansietas psikis.


 0= tidak ada
 1= ketegangan subjektif dan mudah tersinggung
 2= mengkhawatirkan hal-hal kecil
 3= sikap kekhawatiran yang tercermin diwajah atau pembicaraannya
 4= ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya

12. Gejala somatik gastrointestinal.


 0= tidak ada
 1= nafsu makan berkurang tapi dapat makan tanpa dorongan teman, merasa
perutnya penuh
 2= sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar atau obat-obatan
untuk saluran pencernaan

13. Gejala somatik umum.


 0= tidak ada
 1= merasa hidup tidak ada gunanya
 2= mengharapkan kematian atau pikiran-pikiran lain kearah itu
 3= ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah kearah itu
 4= percobaan bunuh diri

14. Genital ( hilangnya libido, gangguang haid ).


 0= tidak ada
 1= ringan
 2= berat

15. Hipokondriasis.
 0= tidak ada
 1= dihayati sendiri
 2= preokupasi mengenai kesehatan diri sendiri
 3= sering mengeluh membutuhkan pertolongan
 4= delusi hipokondriasis

16. Kehilangan berat badan ( A atau B ).


A. Bila hanya dari anamnesa :
 0= tidak ada
 1= berat badan berkurang berhubungan dengan penyakit sekarang
 2= jeals penurunan berat badan
 3= tak terjelaskan lagi penurunan berat badan
B. Dibawah pengawasan dokter bangsal secara mingguan bila jelas berat badan berkurang
menurut ukuran :
 0= tidak ada
 1= lebih dari 0.5 kg seminggu
 2= lebih dari 1 kg seminggu
 3= tidak ternyatakann lagi kehilangan berat badan

17. Insight ( pemahaman diri )


 0= tidak ada
 1= mengetahui sakit tetapi berhubungan dengan penyebab-penyebab iklim
makanan, kerja berlebihan, virus, perlu istirahat dll.

18. Variasi lain ( adakah perubahan atau keadaan yang memburuk pada waktu malam atau
pagi ).
 0= tidak ada
 1= ringan
 2= sedang
 3= berat
 4= berat sekali

19. Depersonalisasi dan derealisasi.


 0= tidak ada
 1= ringan
 2= sedang
 3= berat
 4= berat sekali

20. Gejala-gejala paranoid ( pikiran dirinya menjadi pusat perhatian atau peristiwa /
kejadian diluar tertuju pada dirinya / ideas of reference ).
 0= tidak ada
 1= ringan
 2= sedang
 3= berat
 4= berat sekali

21. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi.


 0= tidak ada
 1= ringan
 2= sedang
 3= berat
 4= berat sekali

No Aspek-aspek HDRS Nilai


1. Keadaan perasaan depresi 4
2. Perasaan bersalah 2
3. Bunuh diri 0
4. Insomsia (initial) 1
5. Insomnia (middle) 0
6. Insomnia (late) 0
7. Kerja dan kegiatannya 2
8. Kelambanan 0
9. Kegelisahan / agitasi 0
10. Ansietas somatik 1
11. Ansietas psikis 4
12. Gejala somatik gastrointestinal 2
13. Gejala somatik umum 2
14. Genital 0
15. Hipokondriasis 0
16. Kehilangan berat badan ( A+B ) 1
17. Insight ( pemahaman diri ) 1
18. Variasi lain 4
19. Depersonalisasi dan derealisasi 0
20. Gejala-gejala paranoid 3
21. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi 0
TOTAL 27

J. Diagnosis Banding
F32.1 Episode depresif sedang
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresi
F41.1 Gangguan cemas menyeluruh

K. Diagnosis Multiaksial
Aksis I : Depresif Sedang
Aksis II : Kepribadian cemas
Aksis III :-
Aksis IV : -
Aksis V : GAF Scale 50-61 gejala sedang (moderate) disabilitas sedang

L. Tatalaksana
- Farmakoterapi : Fluoxetine 20 mg 1x1
: Clobazam 10 mg 2x1
- Psikoterapi
1. Terapi kognitif
Pasien harus menyadari cara berpikirnya yang salah. Kemudian, ia harus belajar
cara merespon cara pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dari
perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran –
pikiran negatif dan harapan – harapan negatif.
Terapi ini berlangsung lebih kurang 12-16 sesi. Ada tiga fase yaitu.
a. Fase awal (sesi 1-4) : membentuk hubungan terapeutik dengan pasien.
Mengajarkan pasien tentang bentuk kognitif yang salah dan pengaruhnya
terhadap emosi dan fisik. Menentukan tujuan terapi mengajarkan pasien untuk
mengevaluasi pikiran-pikirannya yang otomatis.
b. Fase pertengahan (sesi 5-12) : mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan
yang salah. Membantu pasien mengenal akar kepercayaan diri. Pasien diminta
mempraktikkan keterampilan berespon terhadap hal-hal yang depresogenik dan
memodifikasinya.
c. Fase akhir (sesi 13-16) : menyiapkan pasien untuk terminasi dan memprediksi
situasi berisiko tinggi yang relevan untuk terjadinnya kekambuhan, dan
mengkonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi sendiri.

2. Terapi Perilaku
Intervensi perlaku terutama efektif untuk pasien yang menarik diri dan sosial dan
anhedonia. Terapi ini sering digunakan bersama-sama dengan terapi kognitif.
Tujuan terapi perilaku adalah meningkatkan aktivitas pasien mengikutkan pasien
dalam tugas-tugas yang dapat meningkat kan perasaan yang menyenangkan. fase
awal pasien diminta untuk memantau aktivitas mereka menilai derajat kesulitan
aktivitasnya serta kepuasaan terhadap aktivitasnya. Fase akhir fokus berpindah ke
latihan mengontrol diri dari pemecahan masalah. Diharapkan ilmu yang didapati di
dalam terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam lingkungan pasien
sendiri.

3. Psikoterapi suportif
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,
pengertian, dan optimistik. Bantu pasien mengindentifikasi dan mengekspresikan
emosinya dan bantu untuk ventilasi. Mengidentifikasi faktor-faktor presipitasi dan
membantu mengoreksi. Bantu memecahkan problem eksternal ( misalnya masalah
pekerjaan rumah tangga ). Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi
yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin ( mula-mula 1-3 kali per
minggu ) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau selamanya.
Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan terapis.
( Melalui kemerahan, hostilitas, dan tuntutan yang tak masuk akal, dll )
M. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Pasien dalam keadaan moodterdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat,
merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh
diri. Tanda dan gejala lain termasuk perubahan aktivitas, kemampuan kognitif, bicara dan
fungsi vegetatif (termasuk tidur, aktivitas seksual, dan ritme biologik yang lain). Gangguan
ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan.2
Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai dengan perasaan sedih
dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari tetapi dapat juga
berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.3
Depresi adalah suatu periodeterganggunya fungsi manusia yang dikaitkan dengan
perasaan yang sedih serta gejala penyertanya, dimana mencakup hal-hal seperti perubahan
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, rasa lelah, anhedonia, rasa tak
berdaya dan putus asa dan bunuh diri.4
Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan munculnya
gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan bersalah, gangguan
tidur atau nafsu makan, kehilangan energi atau penurunan konsentrasi. Sedangkan
berdasarkan Maramis, depresif adalah suatu gangguan perasaan dengan ciri-ciri semangat
berkurang, rasa harga diri rendah, menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan makan.5

3.2 Epidemiologi
Gangguan depresi berat paling sering terjadi dengan prevalensi sekitar 15% pada
semua umur dan pada perempuan dapat mencapai 25% yang sekitar 10% persen
mendapatkan perawatan primer sedangkan sisanya 15% dirawat rumah sakit. Pada anak
sekolah didapatkan prevalensi sekitar 2%, sedangkan pada usia remaja didapatkan
prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif berat.1,2
Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki-laki. Diduga adanya perbedaan
hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor psikososial antara laki-laki dan
perempuan, dan model perilaku yang dipelajari tentang ketidakberdayaan.1
Berdasarkan usia, depresi sering terjadi pada rata-rata usia sekitar 40 tahun-an. Hampir
50% awitan diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa
anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat diusia kurang dari
20 tahun. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol
dan penyalahgunaan zat.1,2
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang
erat atau pada mereka yang bercerai. Wanita yang tidak menikah memiliki kecenderungan
yang lebih rendah untuk menderita depresi dibandingkan dengan yang menikah namun hal
ini berbanding terbalik untuk laki-laki.1
Tidak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresi berat.
Depresi lebih sering terjadi di daerah perdesaan dibandingkan perkotaan.2

3.3 Etiologi dan Patofisiologi


1. Faktor organobiologi.
Dilaporkan terdapat kelainan metabolik amin biogenik seperti asam 5-
hydroxyindoloacetic (5-HIAA), asam homovanilic (HVA), dan 3 methoxy-4-
hydroxyphenyl-glycol (MHPG) di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal (CSF) pasien
dengan gangguan mood.2
a. Amino Biogenik
Norephineprin dan serotonin adalah dua neurotransmitter yang paling terlibat
patofisiologi gangguan mood. 2

b. Norepinefrin
Penurunan regulasi reseptor beta adrenergik dan respons klinis antidepresi
merupakan peran langsung system noradrenergic pada depresi. Bukti lainyang juga
melibatkan reseptor b2 presinaptik pada depresi,yaitu aktifnya reseptor yang
mengakibatkan pengurangan jumlah pelepasan norepinefrin. Reseptor b2-
presinaptik juga terletak pada neuron serotonergik dan mengatur jumlah pelepasan
serotonin.2
c. Dopamin
Aktivitas dopamin mungkin berkurang pada depresi. Penemuan subtipe baru
reseptor dopamin dan meningkatnya pengertian fungsi regulasi presinaptik dan
pascasinaptik dopamin memperkaya hubungan antara dopamin dan ganguuan
mood. Dua teori terbaru tentang dopamin dan depresi adalah jalur dopamin
mesolimbik mungkin mengalami disfungsi pada depresi dan reseptor
dopaminmungkin hipoaktif pada depresi.2
d. Serotonin
Aktivitas serotonin berkurang pada depresi. Serotonin bertanggung jawab untuk
mengontrol regulasi afek, agresi, tidur dan nafsu makan. Pada beberapa penelitian
ditemukan jumlah serotonin yang berkurang di celah sinap dikatakan
bertanggungjawab untuk terjadinya depresi.2
Diagram dibawah menunjukkan mekanisme yang diyakini terlibat dalam patofisiologi
depresi. Jalur utama prodepresi yang terlibat adalah axis hipotalamus-pituitari-adrenal

yang diaktivasi oleh stres dan pada gilirannya menguatkan aksi eksitotoksik glutamat yang
dimediasi oleh reseptor NMDA, dan berhubungan dengan ekspresi gen yang memulai
terjadinya apoptosis neural di hipokampus dan korteks prefrontal. Jalur antidepresif
meliputi monoamin norepinefrin dan 5-hydroxytryptamine (5-HT), yang bekerja pada
reseptor G-protein-coupled, dan brain-derived neurotrophic factors (BDNF), yang bekerja
pada kinase-linked receptor(TrkB), berhubungan dengan gen yang melindungi neuron
melawan apoptosis dan mempromosikan terjadinya neurogenesis. 2
Gambar 3.1 Patofisiologi Depresi

2. Faktor genetik
Faktor genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan mood dengan
jalur penurunan yang kompleks. Penelitian sebelumnya yang dilakukan dalam keluarga
menunjukkan bahwa generasi pertama lebih sering 2 sampai 10 kali mengalami depresi
berat.1
Dua dari tiga studi menemukan gangguan depresi berat diturunkan secara genetik.
Studi menunjukkan, anak biologis dari orang tua yang terkena gangguan mood beresiko
untuk mengalami gangguan mood walaupun anak tersebut dibesarkan oleh keluarga
angkat.2

3. Faktor psikososial
Kembar monozigot sebesar 50% dan kembar dizigot sebesar 10-25%. Pada anak
kembar dizigot gangguan depresi berat terdapat sebanyak 13-28% sedangkan pada kembar
monozigot 53-69%.2
Peristiwa kehidupan dengan stressfull sering mendahului episode pertama
dibandingkan episode berikutnya. Teori yang ada terkait dengan hal tersebut adalah
adanya perubahan biologi otak yang bertahan lama. Sehingga perubahan ini menyebabkan
perubahan berbagai neurotransmitter dan system sinyal intraneuron, termasuk hilangnya
beberapa neuron dan penurunan kontak sinap dan berdampak pada sinap dan hal tersebut
dapat berdampak pada seorang individu berisiko tinggi mengalami episode berulang,
gangguan mood, sekalipun tanpa stressor.1
Semua orang dengan dengan pola kepribadiannya dapat mengalami depresi sesuai
dengan situasinya. Orang dengan gangguan kepribadian obsesi-kompulsi, histrionik dan
ambang berisiko tinggi untuk mengalami depresi dibandingnya dengan gangguan
kepribadian paranoid dan antisocial. Pasien dengan gangguan distimik dan siklotimik
berisikko menjadi gangguan depresi berat. Peristiwa stressful merupaka predictor terkuat
untuk kejadian episode depresi.1,2
Faktor psikodinamik pada depresi dikenal sebagai pandang klasik dari depresi dan
dituangkan kedalam teori yang ditemukan oleh Sigmund Freud dan dilanjutkan oleh Karl
Abraham. (1) gangguan hubungan ibu dan anak selama fase oral (10-18 bulan) merupakan
faktor predisposisi terhadap episode depresi berulang; (2) depresi dapat dihubungkan
dengan kenyataan atau bayangan kehilangan objek; (3) introjeksi merupakan bangkitan
mekanisme pertahanan untuk mengatasi penderitaan yang berkaitan dengan kehilangan
objek.; (4) akibat kehilangan objek cinta, diperlihatkan dalam bentuk campuran antara
benci dan cinta, perasaan marah yang diarahkan pada diri sendiri Menurut Melanie Klein
depresi termasuk agresi kearah mencintai. Sedangkan Edward Bibring menyatakan bahwa
depresi adalah suatu fenomena yang terjadi ketika seseorang menyadari terdapat perbedaan
antara ideal yang tinggi dengan ketidakmampuan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.2

4. Formulasi lain dari depresi


Depresi merupakan hasil penyimpangan kognitif spesifik yang menghasilkan
kecenderungan seseorang menjadi depresi. Postulat Aaron Beck menyatakan trias kognitif
dari depresi mencakup (1) pandangan terhadap diri sendiri berupa persepsi negatif
terhadap dirinya (2) tentang lingkungan yakni kecenderungan menganggap dunia
bermusuhan terhadapnya (3) tentang masa depan yakni bayangan penderitaan dan
kegagalan.2

3.4 Perjalanan Penyakit


Sebelum episode pertama teridentifikasi, sekitar 50% gangguan depresi berat
memperlihatkan gejala depresi yang bermakna. Gejala depresi yang teridentifikasi dini dan
dapat teratasi lebih awal dapat mencegah berkembangnya gejala tersebut menjadi episode
depresi penuh. Pada pasien dengan gangguan depresi berat, meskipun gejala mungkin telah
ada, umumnya belum menunjukkan suatu premorbid gangguan kepribadian. Sekitar 50%
pasien dengan episode depresi pertama terjadi sebelum usia 40 tahun biasanya
dihubungkan dengan tidak adanya riwayat gangguan mood dalam keluarga, gangguan
kepribadian antisocial dan penyalahgunaan alkohol.1,2
Episode depresi yang tidak ditangani akan berlangsung 6 – 13 bulan. Kebanyakan
penanganan episode depresi sekitar 3 bulan. Namun karena merujuk kepada prosedur baku
penatalaksaan gangguan depresi maka penatalksaan setidanya dilakukan selama 6 bulan
agar tidak mudah kambuh.1

3.5 Gejala Klinis


Tanda dan gejala:2
- Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya energi adalah gejala utama
dari depresi. Pasien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak mempunyai
harapan, dicampakkan, atau tidak berharga.
- Pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak
mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga,
teman dan aktivitas sebelumnya.
- Hampir semua pasien depresi mengeluh tentang penurunan energi.
- Pasien dengan depresi mengalami kesulitan menyelesaikan tugas, mengalami
hendaya disekolah dan pekerjaan, dan menurunnya motivasi untuk terlibat dalam
kegiatan baru.
- Pasien mengeluh masalah tidur, khususnya terjaga dini hari (Terminalinsomnia)
dan sering terbangun pada malam hari karena memikirkan masalah yang dihadapi.
- Kebanyakan pasien juga menunjukan peningkatan atau penurunan nafsu makan
demikian pula dengan bertambah dan menurun berat badannya serta mengalami
tidur lebih lama dari yang biasanya.
- Kecemasan
- Perubahan asupan makanan dan istirahat dapat menyebabkan timbulnya penyakit
lain secara bersamaan, seperti diabetes, hipertensi, penyakit paru obstruksi kronik,
dan penyakit jantung. Gejala lain termasuk haid yang tidak teratur dan menurunnya
minat serta aktivitas seksual.
Berdasarkan PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) gejala
utama depresi: 6
- afek depresif
- kehilangan minat dan kegembiraan, dan
- berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
Gejala lainnya: 6
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih
pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

3.6 Diagnosis6
Berdasarkan PPDGJ III, Pedoman Diagnostik Episode Depresif terdiri dari:
F32.0 Episode Depresif Ringan
– Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
– Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
– Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
– Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
– Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya
F32.1 Episode Depresif Sedang
– Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode
depresif ringan
– Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
– Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu
– Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
– Semua 3 gejala utama depresi harus ada
– Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya
harus berintensitas berat.
– Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkibn tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian penilaian secara menyeluruh
terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.
– Episode depresif biasanya haarus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan
untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu
– Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga kecuali paada taraf yang sangat terbatas.
F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
– Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F.32 tersebut
– Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab atas hal itu.
F 32.8 Episode Depresif Lainnya
F 32.9 Episode Depresif YTT
Pemeriksaan status mental
a. Deskripsi umum
Kemunduran psikomotor secara umum merupakan gejala yang paling sering, meskipun
agitasi psikomotor juga terlihat terutama pada pasien usia lanjut. Meremas tangan dan
menarik rambut merupakan gejala dari agitasi. Secara sederhana, pasien depresi memiliki
postur tubuh yang dibungkukkan tidak ada gerakan spontan, sedih dan memalingkan
wajah. Pada pemeriksaan klinis, pasien depresi memperlihatkan keseluruhan gejala dari
kemunduran psikomotor yang tampak serupa dengan pasien skizofrenia katatonik.1
b. Mood, afek, dan perasaan
Gejala kunci adalah depresi, walaupun sekitar 50% pasien menyangkal perasaan
depresi dan tidak tampak depresi.1
c. Suara
Pengurangan jumlah dan volume bicara; mereka merespon pertanyaan dengan satu-
satu kata dan memperlihatkan perlambatan menjawab pertanyaan. Pemeriksa dapat
menunggu 2 atau 3 menit untuk pasien menjawab pertanyaan.1
d. Gangguan persepsi
Gangguan depresi berat dengan ciri psikotik mempunyai waham atau halusinasi.
Bahkan tanpa waham dan halusinasi, beberapa dokter menyebut psychotic depression
untuk kemunduran secara keseluruhan seperti membisu, tidak mandi dan kotor. Mood
congruent adalah suatu kondisi yang pada saat bersamaan pada pasien depresi ditemukan
adanya waham dan halusinasi yang menetap, selain itu juga ditemukan perasaan bersalah,
tidak berharga, kegagalan, penderitaan dan keadaan terminal penyakit somatik (kanker
atau kerusakan otak). Gambarannya adalah ketidakesesuaian isi waham dan halusinasi
dengan mood depresi. Ketidaksesuaian antara isi waham dengan mood pada pasien
meliputi tema grandiose tentang kemampuan yang berlebihan, pengetahuan, dan sesuatu
yang berharga sebagai contoh, pasien percaya bahwa seseorang tersiksa karena dia adalah
Messiah.1
e. Fikiran
Pandangan negatif terhadap dunia dan dirinya sendiri. Isi pikir mereka sering meliputi
rasa kehilangan, rasa bersalah, pikiran bunuh diri, dan kematian. Sekitar 10% dari semua
pasien depresi menunjukkan gejala gangguan pikiran, biasanya dalam isi pikirnya adalah
hambatan dan kemiskinan.1
f. Sensorium dan kognitif
Kebanyakan pasien depresi tidak terganggu orientasinya baik orang, tempat dan waktu
meskipun beberapa dari mereka tidak mempunyai minat untuk menjawab pertanyaaan
tentang subjek tersebut selama wawancara. Sedangkan sekitar 50 – 75% dari pasien
depresi mempunyai hendaya kognitif, kadang-kadang ditunjukkan sebagai pseudodementia
depresi. Umumnya pasien mengeluhkan tidak mampu konsentrasi dan gampang lupa.1
g. Pengendalian impuls
Sekitar 10 sampai 15% melakukan bunuh diri dan dua pertiganya mempunyai ide
untuk bunuh diri. Pasien dengan cirri psikotik biasanya mempertimbangkan untuk
membunuh orang sebagai manifestasi waham, walaupun banyak pasien depresi kurang
tenaga atau motivasi untuk mengikuti suara hati untuk melakukan kejahatan. Pasien
dengan depresi berisiko tinggi untuk bunuh diri ketika energi mereka mulai meningkat.1
h. Pertimbangan dan tilikan
Penilaian sikap dan perilaku pasien terkini, selama wawancara. Tilikan pasien depresi
terhadap gangguannya sering berlebihan: mereka selalu menekankan gejalanya,
gangguannya, dan masalah hidup mereka. Ini menyulitkan untuk meyakinkan pasien
bahwa perbaikan dapat terjadi.1
i. Reabilitas
Kekeliruan yang sering adalah mempercayai tanpa ditawar-tawar lagi seorang pasien
terdepresi yang menyatakan bahwa percobaan medikasi antidepresan yang sebelumnya
tidak berhasil. Dokter psikiatrik tidak boleh memandang kekeliruan informasi pasien
sebagai yang disengaja, karena pemberian informasi yang memberikan harapan tidak
dimungkinkan bagi seseorang yang berada dalam keadaan pikiran terdepresi. 1

j. Hal dapat dipercaya


Pada wawancara dan perbincangan, pasien depresi terlalu melebihkan hal buruk dan
meminimalkan hal baik.1

3.7 Tatalaksana
Pada Terapi pasien dengan gangguan mood harus ditujukan pada beberapa tujuan.
Pertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua, evaluasi diagnostik lengkap pada pasien
harus dilakukan. Ketiga, rencana terapi yang ditujukan tidak hanya pada gejala saat itu
tetapi kesejahteraan pasien dimasa mendatang juga harus dimulai. Walaupun terapi saat ini
yang menekankan pada farmakoterapi dan psikoterapi ditujukan pada pasien secara
individual, peristiwa hidup yang penuh tekanan juga dikaitakn dengan meningkatnya
angka kekambuhan pada pasien dengan gangguan mood. Dengan demikian, terapi harus
menurunkan jumlah dan keparahan stressor didalam kehidupan pasien.1
a. Rawat inap
Indikasi yang jelas untuk rawat inap adalah kebutuhan prosedur diagnosis, risiko
bunuh diri atau membunuh dan kemampuan pasien yang menurun drastis untuk
mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Riwayat gejala yang berkembang cepat serta
rusaknya sistem dukungan pasien yang biasa juga merupakan indikasi rawat inap.1
b. Terapi psikososial
Sebagian besar studi menunjukkan kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi adalah
terapi yang paling efektif untuk gangguan depresi berat. Tiga jenis psikoterapi jangka
pendek yaitu:1
a) Terapi kognitif
Sejumlah studi menunjukkan bahwa terapi kognitif efektif dalam penatalaksanaan
gangguan depresi berat dan sebagian besar studi menunjukkan bahwa terapi ini
setara efektivitasnya dengan farmakoterapi. Terapi kognitif dikembangkan dengan
Aaron Beck dan memfokuskan pada distorsi kognitif yang diperkirakan ada pada
gangguan depresi berat. Distorsi tersebut mencakup perhatian selektif terhadap
aspek negatif keadaan dan kesimpulan patologis yang tidak realistis mengenai
konsekuensi. Contohnya apati dan kurang tenaga adalah pengharapan pasien
mengenai kegagalan disemua area. Tujuan terapi ini adalah untuk meringankan
episode depresif dan mencegah kekambuhan dengan membantu pasien
mengidentifikasi dan menguji kognisi begatif; mengembangkan cara berpikir
alternative, fleksibel dan positif serta melatih respons perilaku dan kognitif baru.
b) Terapi interpersonal
Terapi ini dikembangkan oleh Gerald Klerman yang memfokuskan pada satu atau
dua masalah interpersonal pasien saat ini. Terapi ini didasarkan pada dua asumsi.
Pertama, masalah interpersonal saat ini cenderung memiliki akar pada hubungan
yang mengalami disfungsi sejak awal. Kedua, masalah interpersonal saat ini
cenderung terlibat didalam mencetuskan atau melanjutkan gejala depresif saat ini.
Program terapi ini biasanya terdiri dari atas 12 sampai 16 sesi dan ditandai dengan
pendekatan terapeutik yang aktif. Fenomena intrapsikik seperti mekanisme defense
dan konflik internal, tidak diselesaikan. Perilaku khas seperti tidak asertif,
keterampilan sosial terganggu dan pikiran terdistorsi dapat diselesaikan tetapi
hanya dalam konteks pengertiannya terhadap hubungan interpersonal
c) Terapi perilaku
Terapi perilaku didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptif
mengakibatkan seseorang menerima sedikit umpan balik positif dan mungkin
sekaligus penolakan dari masyarakat. Pemusatan perhatian pada perilaku
maladaptif didalam terapi diharapkan pasien dapat belajar berfungsi di dalam dunia
sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh dorongan positif.
c. Farmakoterapi
Antidepresan merupakan terapi gangguan depresif berat yang efektif dan spesifik.
Penggunaan farmakoterapi spesifik diperkirakan dapat melipat-gandakan kemungkinan
bahwa pasien dengan gangguan depresi berat akan pulih. Meskipun demikian masalah
tetap ada dalam terapi gangguan depresi berat seperti: sejumlah pasien tidak memberikan
respon terhadap terapi pertama; semua antidepresan yang saat ini tersedia membutuhkan 3
sampai 4 minggu hingga memberikan pengaruh terapeutik yang bermakna, walaupun obat
tersebut dapat mulai menunjukkan pengaruhnya lebih dini dan relatif sampai saat ini
semua antidepresan yang tersedia bersifat toksik bila overdosis serta memiliki efek
samping.1,2
SSRI seperti fluoxetine, paroksetin (Paxil), dan sertralin (Zoloft), juga bupropion,
venlafaksin (Efexxor), nefazodon, dan mirtazapin (Remeron). Efek samping dari
antidepresan adalah dapat mengakibatkan kematian jika dikonsumsu overdosis. Trisiklik
dan tetrasiklik adalah antidepresan yang paling mematikan. Efek samping lainnya adalah
dapat menyebabkan hipotensi.5
Kesalahan klinis yang sering terjadi adalah penggunaan dosis yang terlalu rendah
dalam jangka waktu singkat. Kecuali terjadi efek samping, dosis antidepresan harus
dinaikkan sampai kadar maksimum yang direkomendasi atau dipertahankan kadar tersebut
setidaknya selama 4 atau 5 minggu sebelum percobaan obat dapat dinggap tidak berhasil.
Terapi antidepresan harus dipertahankan setidaknya 6 bulan atau selama episode
sebelumnya, bergantung mana yang lebih lama. Terapi profilaksis perlu dipertimbangkan
jika melibatkan gagasan bunuh diri yang bermakna atau gangguan fungsi psikosial.1,6
Alternatif terapi obat lainnya adalah elektrokonvulsif dan fototerapi. Terapi
elektokonvulsif biasa digunakan ketika pasien tidak memberikan respons terhadap
farmakoterapi atau tidak dapat mentoleransi farmakoterapi.1
3.8 Prognosis
Hasil episode depresif berbeda-beda tetapi pada umumnya semakin lama follow-up
semakin baik. Resiko kekambuhan berkurang jika obat antidepresan diteruskan selama 6
bulan setelah akhir episode depresif, secara keseluruhan.8
Indikator prognosis baik dan buruk pada depresi yaitu :5
Prognosa baik apabila:
- Episodenya ringan,
- tidak ada gejala psikotik
- Waktu rawat inap singkat
- Indikator psikososial meliputi mempunyai teman akrab selama masa remaja,
- Fungsi keluarga stabil
- Lima tahun sebelumnya sakit secara umum fungsi sosial baik.
- Tidak ada kemorbiditasdan gangguan psikiatri lain.
- Tidak lebih dari sekali rawat inap dengan depresi berat,
- Onset awal pada usia lanjut.
Prognosa buruk apabila:
- Depresi berat bersamaan dengan distimik
- Penyalahgunaan Alkohol dan zat lain
- Ditemukan gejala gangguan cemas
- Ada riwayat lebih dari satu episode depresi sebelumnya
BAB IV
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini episode depresif sedang ditegakkan berdasarkan anamnesa dan
status psikiatri.Pada kasus ini dilaporkan Ny.S (36 tahun) datang ke poli jiwa RSJD
Provinsi Jambi bersama dengn suaminya dengan keluhan Cemas dan ketakutan
sejak 40 hari yang lalu. Keluhan awal bermula sejak pasien kehilangan putra
pertamanya akibat kecelakaan lalu lintas. Setiap hari pasien menangis dan
mengatakan bahwa dirinya menyesal karena belum memperlakukan anaknya
dengan baik. Pasien selalu meningat kenangan ia bersama anaknya. Dia hanya
mengingat kenangan buruk yang telah ia lakuan kepada anaknya Pasien selalu
merasa cemas dan ketakutan padahal pasien tidak sedang mendapat masalah. Saat
melihat kamar anaknya pasien selalu terbayang sosok anaknya dan merasa takut,
jantung berdebar, akral dingin dan jantung serasa ingin meledak, selain itu ketika
pasien melihat foto anaknya di dinding tubuh pasien langsung lemas, seketika
benda yang sedang pasien pegang langsung terjatuh. Saat pasien melihat anak laki-
laki lain yang seumuran dengan anaknya, pasien langsung menangis dan teringat
anaknya. Pasien tetap beraktivitas sehari-hari seperti biasa yaitu mengajar di
Sekolah Dasar namun pasien sulit berkonsentrasi dalam mengajar, selalu teringat
anaknya yang sudah meninggal. Sejak saat itu nafsu makan pasien menurun, pasien
tidak nafsu makan. Satu bulan terakhir berat badan pasien sudah turun hingga 4 kg.
Pasien masih bisa tidur normal malam hari, meskipun sesekali terbangun dan
teringat anaknya. Sebelum keluhan muncul pasien memang seseorang yang mudah
cemas.

Dari hasil observasi didapatkan kesadaran pasien kompos mentis, pasien datang
dengan pakaian rapi dan sesuai usianya, sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Raut wajah
pasien sedih dan murung. Mood pasien duka cita dengan afek sesuai. Tidak terdapat
gangguan dalam bentuk pikir dan arus pikir. Terdapat gangguan dalam isi pikir, yaitu
preokupasi terhadap kematian anaknya. Pasien tidak mengalami gangguan persepsi baik
berupa halusinasi ataupun ilusi. Orientasi waktu, tempat dan orang baik, konsentrasi baik,
daya ingat baik. Pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi
untuk mencapai perbaikan
Diagnosis banding episode depresif sedang pada kasus ini yaitu gangguan cemas
menyeluruh serta gangguan campuran ansietas dan depresi. Pada gangguan cemas
diagnosis dibuat apabila penderita menunjukkan ansietas sebagai gejala primer yang
berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai bulan, yang tidak terbatas
atau hanya menonjol pada keadaaan situasi tertentu, gejala-gejala yang timbul berupa
kecemasan, ketegangan motorik (sakit kepala, gemetaran), dan overaktivitas otonomik
(jantung berdebar-debar, keluhan lambung).Pada kasus ini Ny.S tidak memenuhi kriteria
gangguan cemas karena gejala depresif lebih dominan daripada cemas, dan onsetnya
belum mencapai 6 bulan. Kriteria diagnostik gangguan campuran ansietas dan depresi,
yaitu terdapat gejala-gejala ansietas maupun depresi, dimana masing-masing tidak
menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri,
sedangkan pada kasus Ny.S gejala depresi (perasaan sedih, kehilangan minat, menurunnya
aktivitas, konsentrasi berkurang, adanya rasa bersalah dan nafsu makan berkurang) lebih
menonjol daripada gangguan cemas yang dialami.
Gambaran klinis pasien memenuhi kriteria diagnosis episode depresif sedang
menurut PPDGJ III yaitu adanya 3 gejala utama depresi yaitu afek depresif, kehilangan
minat dan kegembiraan dan berkurangnya energi (menurunnya aktivitas), serta 3 dari
gejala lainnya yaitu konsentrasi berkurang, adanya rasa bersalah dan nafsu makan
berkurang. Pasien menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sehari-hari
dalam pekerjaannya
Terapi yang diberikan pada pasien yaitu:
- Fluoxetin 20mg 1x1
Obat ini merupakan golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) yang
bekerja menghambat pengambilan serotonin yang telah disekresikan dalam sinap
(gap antar neuron), sehingga kadar serotonin dalam otak meningkat. Peningkatan
kadar serotonin dalam sinap diyakini bermanfaat sebagai antidepresan.
- Clobazam 10 mg 2 x1
Clobazam merupakan Golongan Benzodiazepine sebagai obat anti-anxietas
mempunyai ratio terapeutik lebih tinggi dan lebih kurang menimbulkan adiksi
dengan toksisitas yang rendah, dibandingkan dengan meprobamate atau
phenobarbital. clobazam memiliki dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan
(dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas

- Psikoterapi
4. Terapi kognitif
Pasien harus menyadari cara berpikirnya yang salah. Kemudian, ia harus belajar
cara merespon cara pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dari
perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran –
pikiran negatif dan harapan – harapan negatif.
Terapi ini berlangsung lebih kurang 12-16 sesi. Ada tiga fase yaitu.
d. Fase awal (sesi 1-4) : membentuk hubungan terapeutik dengan pasien.
Mengajarkan pasien tentang bentuk kognitif yang salah dan pengaruhnya
terhadap emosi dan fisik. Menentukan tujuan terapi mengajarkan pasien untuk
mengevaluasi pikiran-pikirannya yang otomatis.
e. Fase pertengahan (sesi 5-12) : mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan
yang salah. Membantu pasien mengenal akar kepercayaan diri. Pasien diminta
mempraktikkan keterampilan berespon terhadap hal-hal yang depresogenik dan
memodifikasinya.
f. Fase akhir (sesi 13-16) : menyiapkan pasien untuk terminasi dan memprediksi
situasi berisiko tinggi yang relevan untuk terjadinnya kekambuhan, dan
mengkonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi sendiri.

5. Terapi Perilaku
Intervensi perlaku terutama efektif untuk pasien yang menarik diri dan sosial dan
anhedonia. Terapi ini sering digunakan bersama-sama dengan terapi kognitif.
Tujuan terapi perilaku adalah meningkatkan aktivitas pasien mengikutkan pasien
dalam tugas-tugas yang dapat meningkat kan perasaan yang menyenangkan. fase
awal pasien diminta untuk memantau aktivitas mereka menilai derajat kesulitan
aktivitasnya serta kepuasaan terhadap aktivitasnya. Fase akhir fokus berpindah ke
latihan mengontrol diri dari pemecahan masalah. Diharapkan ilmu yang didapati di
dalam terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam lingkungan pasien
sendiri.

6. Psikoterapi suportif
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,
pengertian, dan optimistik. Bantu pasien mengindentifikasi dan mengekspresikan
emosinya dan bantu untuk ventilasi. Mengidentifikasi faktor-faktor presipitasi dan
membantu mengoreksi. Bantu memecahkan problem eksternal ( misalnya masalah
pekerjaan rumah tangga ). Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi
yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin ( mula-mula 1-3 kali per
minggu ) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau selamanya.
Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan terapis.
( Melalui kemerahan, hostilitas, dan tuntutan yang tak masuk akal, dll )
DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Concise Textbook of Clinical Psychiatry.
3rd Edition. 2008. USA Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, Wolters Kluwer
Business. P 200-18.
2. Ismail RI, Siste K. Gangguan Depresi. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar
Psikiatri. 2010. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. p 209-22.
3. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi Kedua. 2009.
Surabaya: Airlangga University Press.
4. Kaplan Harold I, Benjamin J Sadock, Jack A Grebb. 2010. Sinopsis Psikiatri. Jakarta:
Binarupa Aksara.
5. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.
2007. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Unika Atmajaya.
6. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
7. Setiabudy, Rianto. Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. 2007. Jakarta: Gaya Baru.
8. Puri B.K, laking P.J dkk, Buku Ajar Psikiatri edisi keII, Jakarta .EGC 2012.hal: 33,
164-187