Anda di halaman 1dari 3

Tanah Bakar

Bila studi ini dapat dibuktikan lebih jauh lagi, situs-situs di Kalimantan ini akan
menjadi bukti ilmiah tercatat pertama akan adanya Bumi Hitam Antropogenik
(ADEs) di bagian tropis Asia. Fenomena ini sudah dikenal di Amerika Latin sejak
awal abad duapuluh. Meski terpisah jarak hampir 20.000 kilometer, baik ADE
Amazonia dan Indonesia diperkirakan berasal dari budi daya pertanian yang sama:
“Tebang arang,” dan bukan pola yang lebih umum terjadi yaitu tebang bakar.

“Apa yang kami lihat (di lokasi penelitian kami) di Malinau (Kalimantan Timur)
adalah bukti bahwa ADE yang disebabkan oleh penggunaan teknik “tebang arang”
membawa peningkatan kualitas tanah dan tidak selalu merupakan pengetahuan suku
Amazon yang telah lama hilang, seperti yang dipercayai sebagian orang,” kata
Douglas Sheil, penulis utama makalah tersebut dan peneliti program Hutan dan
Lingkungan Hidup di CIFOR.

“Perbaikan-perbaikan tanah ini dapat menyerap sejumlah besar karbon, melindungi


keanekaragaman hutan dan membantu meningkatkan pertanian lestari di daerah-
daerah yang sudah gundul dan hasil lahannya buruk.

“Tanah-tanah ini dapat dikembangkan dengan cara-cara dan teknologi yang sederhana
dan murah yang dapat mengurangi tekanan pada tanah serta meningkatkan
keberlanjutan ketahanan pangan di daerah-daerah di mana lahan langka,” ujarnya lagi.

Sheil memperingatkan bahwa asal muasal ADE belum sepenuhnya dapat dipahami.
Namun, 15 persen karbon dalam kandungan tanah diperkirakan ada karena “arang”.

Perladangan berpindah – termasuk metode “tebang bakar” dan “tebang arang” —


dipraktekkan banyak suku.

Dalam metode “tebang dan bakar”, pohon dan tanaman berbatang kayu ditebang dan
dibakar sebagai persiapan lahan untuk ditanami – cara ini menghasilkan nutrisi tanah
yang meningkatkan produktivitas untuk sementara.
Ketika pembakaran dilakukan secara menyeluruh dan yang tersisa hanya abu,
pengayaan tanah bertahan tidak lama dan lahan harus lebih lama dibiarkan tidak
terpakai sebelum siap untuk digunakan kembali.

Namun, metode yang hanya membakar sebagian, atau “tebang dan arang”, dapat
memperbaiki struktur tanah dan menyediakan penyimpanan nutrisi yang lebih tahan
lama yang berasal dari berbagai sumber, tetapi tampaknya mencerminkan pengolahan
makanan dan limbah yang terkait dengan keberadaan manusia. Dengan berjalannya
waktu, jika siklus pembersihan nutrisi arang berulang kali terjadi, hasilnya akan
terjadi pembentukan ADE.

Peningkatan kesuburan tanah memungkinkan penduduk asli mempertahankan


penghidupan mereka sendiri tanpa menggunakan pupuk kimia yang mahal. Hal ini
juga membantu pelestarian keanekaragaman hutan serta penyerapan karbon
sebesar lima sampai tujuh kali lipat, yang dapat berlangsung selama berabad-abad,
bahkan ribuan tahun, dibandingkan dengan hutan hujan di sekitarnya.

Dari wawancara di lapangan, para peneliti mengetahui bahwa petani yang tinggal di
hulu sungai Malinau di Kalimantan membersihkan lahan dengan cara yang lebih mirip
dengan “tebang dan bakar”. Teknik “tebang dan arang” pada umumnya terjadi
dengan tidak disengaja, ketika seringnya guyuran hujan menghentikan pembakaran
lebih awal dari yang direncanakan.

Hal ini mungkin menjawab pertanyaan mengapa hanya dua plot di antara 202 plot
yang disurvei memiliki tingkat karbon 15 persen seperti di sampel Terra Preta dari
Amazon, ungkap Imam Basuki, salah satu penulis makalah tersebut dan rekan peneliti
di CIFOR.

Basuki menambahkan bahwa penelitian baru tersebut menyajikan argumen yang


menyakinkan mengapa teknik tebang arang sebaiknya digunakan masyarakat lokal
untuk peningkatan kesuburan tanah. “Hasil ini merupakan bukti kuat yang
menunjukkan kepada petani dan pembuat kebijakan lokal bahwa sistem ini dapat
meningkatkan produktivitas beras mereka,” tambahnya.
Meskipun terpencil, kabupaten Malinau sangat penting sebagai penyimpan air untuk
untuk Kalimantan Timur, termasuk ibukota provinsi. Daerah ini juga termasuk
“lokasi terpenting” untuk keanekaragaman hayati, seperti yang diakui oleh World
Wildlife Fund dalam kampanye konservasi “Jantung Borneo” yang dijalankannya.

Ini menjadi salah satu alasan lagi untuk mempromosikan tebang arang di Kalimantan,
kata Basuki. Jika upaya pengayaan tanah melalui “tebang arang” dapat terjadi tanpa
disengaja, seberapa banyak lagi yang bisa dicapai melalui upaya yang terarah?