Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

GIZI PADA USIA REMAJA

Disusun oleh:

DISUSUN OLEH

IDA BAGUS UDAYANA 1361050021

MARTINA KAROLIN K 1361050162

CUT FADMALA 1361050169

JUSTIN ANGGAHITO 1361050220

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KELUARGA

PERIODE 26 FEBRUARI – 31 MARET 2018

RUMAH SAKIT UMUM UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

. Remaja adalah salah satu fase dalam kehidupan dimana suatu individu

mengalami suatu pertumbuhan dan perkembangan yang besar, baik dalam

aspek biologis, psikis, dan sosial serta kognitif. Oleh sebab itu, para remaja

membutuhkan asupan gizi yang baik dan seimbang, yaitu guna memiliki

perumbuhan dan perkembangan yang baik. Pemilihan gizi yang seimbang

bagi para remaja ini perlu di sokong oleh pengetahuan akan gizi yang

memadai pada keluarga, sehingga gizi tersebut dapat tercukupi oleh para

remaja. Pemenuhan gizi pada remaja tersebut merupakan suatu cerminan

terhadap ketahanan dan kesejahteraan suatu keluarga.

2
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Remaja & Batasan Usia Remaja

Remaja adalah salah satu masa peralihan dari anak – anak menuju dewasa,

terjadi pada dekade kedua dalam kehidupan. Pada masa transisi ini, remaja akang

mengalami banyak pertumbuhan dan perkembangan dari berbagai dimensi, baik itu

fisik, kognitif, emosional dan social yang akan dipengaruhi oleh latar belakang

social, budaya, dan ekonomi. Hal ini secara tidak langsung merupakan kesempatan

dan resiko tersediri terhadap kelangsungan hidup suatu individu yang bertumbuh &

berkembang. [1,2,3]

Masa remaja merupakan konstruksi teoritis yang berkembang secara dinamis

dalam segi fisiologi, psikososial, temporal dan budaya. Masa perkembangan yang

kritis ini dapat dipahami secara konvensional sebagai masa pubertas dan masa

pembentukan kemandirian sosial.[3,4]

Batasan usia untuk remaja adalah sebagai berikut:

1. Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah penduduk dengan

rentang usia 10 – 19 tahun.

2. Menurut Undang – Undang RI no. 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dengan

rentang usia 10 – 18 tahun.

3. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), rentang usia

remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah.

3
4. Menurut American Psychology Association (APA), definisi remaja pada umumnya

adalah setiap individu yang berusia 10-18 tahun, namun bisa digabungkan menjadi

rentang kehidupan dari usia 9 sampai 26 tahun, tergantung dari sumber yang

digunakan.

5. Menurut United Nations Population Fund (UNFPA), definisi remaja adalah

individu dengan rentang usia 10 – 19 tahun.

6. Menurut The World Programme of Action for Youth, World Bank dan International

Labor Organization (ILO), remaja yang mengacu kepada “Pemuda” adalah

individu yang berada diantara usia 15 sampai 24 tahun.

7. Menurut buku ajar Ilmu Kesehatan Anak Nelson, remaja adalah indivisu dengan

rentang usia 10 – 20 tahun.

Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan jumlah kelompok

remaja di dunia berkisar 1,2 milyar atau sekitar 18% dari jumlah penduduk dunia.[2]

the World Programme of Action for Youth’s World Youth Report 2003,

diestimasikan bahwa lebih dari 1 milyar remaja berusia 15 – 24 tahun, dengan 85%

remaja tersebut mendiami Negara – Negara berkembang. 60% dari remaja ini

tinggal di Asia, 15% di Afrika, 10% di Amerika Latin dan Karibian, dan 15% di

negara dan daerah berkembang lainnya.[2]

2.2 Tumbuh Kembang pada Masa Remaja

Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan pada remaja dibagi

menjadi[3,4]:

1. Pertumbuhan & perkembangan Fisik

4
Pada masa remaja ini, pertumbuhan fisik yang dialami oleh remaja meliputi :

a. Pubertas (perubahan menuju kematangan fungsi seksual) dimulai. Proses ini

dimulai paa usia 8 tahun bagi wanita dan 9 tahun bagi pria. Hal ini berkaitan

juga dengan faktor psikologis dari remaja tersebut. Proses pubertas dimulai

ketika terjadi pelepasan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) oleh

hipotalamus yang meningkat. Hal ini akan menyebabkan kelenjar pituitari akan

melepaskan dua jenis hormone, yaitu LH (Luteinizing Hormone) dan FSH

(Follicle Stimulating Hormone). Pada perempuan, peningkatan FSH akan

menyebabkan menstruasi dan pada pria, LH akan menyebabkan pemisahan

hormone testosterone dan androstenedion. Dalam konteks ini, pubertas

ditandai oleh dua tahap, yaitu aktivasi kelenjar adrenal dan kematangan organ

– organ seksual dalam beberapa tahun selanjutnya.

Tahap pertama (aktivasi kelenjar adrenal) ini terjadi pada usia 6 – 8 tahun.

Kelenjar supradrenal yang terletak diatas ginjal mulai mengeluarkan hormon

dehidroepiandrosteron (DHEA) yang meningkat secara bertahap. Pada usia 10

tahun, kadar DHEA meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan usia 1 – 4

tahun. Kadar DHEA yang meningkat ini mempengaruhi pertumbuhan rambut

pubis, rambut ketiak, rambut halus di wajah, mempercepat pertumbuhan badan,

kulit berminyak dan munculnya bau badan.

Tahap tumbuh kembang yang kedua adalah kematangan organ seksual.

Kematangan organ seksual ini memicu produksi DHEA yang kedua sehingga

memunculkan tingkat kedewasaan. Sel telur perempuan akan menghasilkan

estrogen yang merangsang pertumbuhan alat kelamin perempuan, membentuk

5
payudara serta pubis dan ketiak. Pada pria, testis meningkatkan produksi

androgen terutama testosterone yang merangsang pertumbuhan alat kelamin

laki – laki, pertumbuhan otot, dan rambut badan. Anak laki – laki dan

perempuan memiliki kedua jenis hormon tersebut, namun anak perempuan

memiliki hormon estrogen lebih banyak disbanding laki – laki. Pada

perempuan, testosteron mempengaruhi pertumbuhan klitoris, pertumbuhan

tulang, rambut kemaluan dan ketiak. Tanda – tanda pubertas tersebut dapat

dilihat dari karakteristik seksual secara primer (yang berhubungan dengan

organ yang dibutuhkan untuk reproduksi) dan secara sekunder (yang tidak

secara langsung berhubungan dengan organ reproduksi) Kematangan fungsi

seksual sendiri ditandai dengan terjadinya proses menstruasi pertama

(menarche) pada wanita dan ejakulasi sperma pertama (spermarche) pada

pria.[3,4] waktu untuk aktivitas hormon ini tergantung pada jumlah kritis dari

lemak dalam tubuh yang dibutuhkan untuk proses reproduksi yang sukses.

Anak perempuan yang memiliki presentase lemak lebih besar dibandingkan

anak laki – laki cenderung mengalami pubertas lebih awal, begitu juga dengan

anak dengan obesitas. Hal ini dikaitkan dengan kadar leptin di dalam tubuh

yang berkaitan dengan kondisi lemak di dalam tubuh.[3,4]

b. Pertumbuhan tulang & komposisi tubuh

Peningkatan yang cepat pada tinggi, berat dan otot – otot serta tulang terjadi

pada selama masa pubertas. Hal ini terjadi pada usia 9,5 – 14,5 tahun pada

perempuan dan 10,5 – 16,5 tahun pada laki – laki. Perubahan ini tidak hanya

dari segi onset munculnya pertumbuhan, namun juga dari kualitas

6
pertumbuhan tersebut, contohnya adalah panggul remaja perempuan menjadi

lebih besar dibandingkan laki – laki namun bahu laki – laki jauh lebih besar

dan bidang dibandingkan perempuan.[3,4]

Selama masa pubertas, terjadi perubahan komposisi tubuh yang signifikan.

Penambahan berat badan mencapai puncak selama pertumbuhan dan

diperkirakan mencapai 40% dari berat badan ideal. Penambahan berat badan

berbeda menurut jenis kelaminnya. Pada pria, terdapat peningkatan massa

tubuh tanpa disertai lemak dari 80% menjadi 90%, sedangkan pada wanita

massa otot menurun dri 80% menjadi 75%. Sementara itu, kondisi lemak pada

perempuan meningkat dari 15,7% menjadi 26,7% sedangkan rerata lemak pria

meningkat meskipun tidak sebanyak perempuan yaitu dari 4,3% menjadi

11,2%. Kondisi ini tetap konstan hingga dewasa. Kadar lemak yang meningkat

pada tubuh perempuan terakumulasikan pada jaringan lemak subkutan di

pelvis, subkutan, punggung atas dan lengan atas.[3,4]

c. Perkembangan hematologik

Pada remaja pria, terjadi peningkatan volume darah, massa eritrosit, dan

hematokrit selama masa pubertas. Sedangkan pada remaja perempuan,

parameter ini tetap sama dan konstan. [3,4]

2. Pertumbuhan & perkembangan kognitif

Kognitif mengacu pada keseluruhan aktivitas, proses dan produk dari fikiran

manusia. Hal ini menyangkut tentang konsep bahasa, berfikir rasional,

perkembangan moral, memori dan pemikiran abstrak. Perkembangan fungsi

kognitif ini berkaitan juga dengan perkembangan otak melalui proses stimulasi.

7
Stimulasi kognitif pada masa remaja melalui aktivitas dan pengalaman individu

terutama pada individu dengan usia lebih muda, akan berhubungan dengan

neuron mana yang akan dipertahankan dan diperkuat pada masa perkembangan

otak tersebut, sehingga ketika otak berkembang maka akan mendukung pula

pertumbuhan kognitif yang baik. Hal ini dapat terlihat pada anak – anak yang

terbiasa melatih otaknya dengan belajar mengatur pikirannya. [3,4]

Menurut teori perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Jean Piaget (1920)

setelah mengamati perekembangan kognitif pada anak, anak – anak

membengun pengetahuan mereka berdasarkan respons dari pengalaman

mereka. Hal ini merupakan interaksi antara nature (tingkat kematangan dan

perkembangan otak dan tubuh, kemampuan untuk menerima dan belajar,

tingkat motivasi) dan nurture (interaksi individu dengan lingkungan yang ada

di sekitarnya). [3,4]

Menurut piaget, remaja berada pada tahapan formal operasional. Tahapan ini

merupakan tingkatan perkembangan kognitif tertinggi yaitu ketika mereka

mengembangkan pemikiran abstrak sehingga mereka bisa menerima dan

memanipulasi informasi baru yang lebih kompleks.[3,4]

8
Gambar 2.1 – tingkat perkembangan kognitif Piaget

3. Perkembangan psikososial

Menurut teori perkembangan psikososial menurut Erik Erikson, masa remaja

adalah masa pencarian identitas diri. Hal ini berkaitan erat dengan konsep diri.

Perkembangan kognitif remaja turut membantu dalam hal menyusun ‘teori tentang

diri mereka sendiri’. Proses ini penting dalam membangun kepercayaan, otonomi,

inisiatif dan industry yang dibutuhkan untuk membentuk dan membangun

hubungan dengan kehidupan sosial dan pekerjaan di masa depan.[3,4]

9
Tabel 2.1 – Tingkat perkembangan psikososial Erik Erikson

Pada masa remaja ini pula individu mulai meningkatkan kebebasan mereka,

sehingga pada usia remaja ini mereka mulai berinteraksi secara sosial dengan

banyak orang, misalnya dengan tetangga, teman – teman di komunitas

tertentu maupun di sekolah. Teman sebaya mulai memainkan peranan yang

penting dalam mendukung emosional remaja dan mulai muncul hubungan

antara lawan jenis dalam konteks kedekatan romantis.[3]

Pertumbuhan dan perkembangan remaja munurut pembagian usianya

dapat dibagi dalam 3 tahapan[3,4]:

1. Tahap Remaja Awal (Early Adolescence)

Tahap ini berkisar pada usia 10 – 13 tahun. Pada tahap ini, remaja masih merasa

heran terhadap setiap perubahan yang terjadi pada dirinya disertai dengan

10
dorongan – dorongan yang menyertai perubahan tersebut. Pada masa ini,

mereka mulai mengembangakan pikiran – pikiran yang baru, cepat tertarik

pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Kepekaan yang

berlangsung secara berlebih ini yang disertai oleh kurangnya kendali diri

terhadap ego menyebabkan remaja merasa sulit untuk mengerti dan dimengerti

oleh orang dewasa.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara fisik dan biologisnya

adalah:

a. Dimulainya fase pubertas yaitu munculnya rambut halus di beberapa bagian

tubuh dan organ genital, meningkatnya perspitasi dan produksi minyak pada

rambut dan kulit. Pada wanita, panggul dan payudara membesar dan

dimulainya siklus haid / menstruasi. Pada pria, penis dan testis akan

bertumbuh & membesar, suara akan memberat, dan munculnya mimpi

basah. Hal ini dapat diukur dengan menggunakan skala Kecepatan Maturitas

Seksual (SMR)

b. Pertumbuhan fisik yang sangat cepat, meliputu penambahan berat dan tinggi

badan

c. Peningkatan keinginan / nafsu seksual.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara kognitif adalah:

a. Pertumbuhan kapasitas dalam berfikir abstrak

b. Pemikiran yang terbatas pada apa yang terjadi saat ini dan minim untuk

memikirkan masa depan.

11
c. Ketertarikan terhadap kecerdasan dan pengetahuan meningkat dan menjadi

penting

d. Munculnya pemikiran moral yang lebih dalam.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara social dan emosional adalah:

a. Berjuang untuk menemukan identitas

b. Mulai merasa canggung terhadap kepribadian dan tubuh, baik milik sendiri

maupun orang lain sehingga mulai banyak memperhatikan dan

mengeksplorasi kondisi tubuhnya.

c. Kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi dirinya mulai timbul

d. Mulai menyadari bahwa orang tua tidaklah sempurna, sehingga mulai

muncul konflik dengan keluarga terutama orang tua.

e. Meningkatkan peran dalam lingkungan pergaulan seumur dan merasa lebih

dekat dengn teman sebaya.

f. Memiliki keinginan untuk bebas

g. Memiliki kecenderungan untuk kembali ke perilaku anak-anak, terutama

ketika stress

h. Berubah – ubah sesuai mood

i. Memiliki ketertarikan yang besar pada privasi.

j. Mulai muncul etika tertentu, dan munculnya aturan – aturan (rule and limit

testing)

2. Tahap Remaja Tengah / Madya (Middle Adolescence)

Tahap ini dimuai pada kisaran usia 14-18 tahun. Pada tahap ini, remaja sangat

membutuhkan teman – teman sepermainannya. Mereka akan bahagia jika

12
makin banyak teman yang mengakui keberadaannya. Saat ini pula mulai

muncul kecenderungan untuk narsistik, yaitu mencintai diri sendiri secara

berlebihan. Hal ini muncul dengan cara para remaja mulai menyukai teman –

teman yang sama dengan dirinya. Selain itu mereka sering berada dalam

kondisi bingung ketika dihadapkan pada suatu pilihan – pilihan. Pada masa ini

pula, penditng bagi remaja pria untuk membebaskan diri dari Oedipus complex

(perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak - anak), yang dapat dilakukan

dengan mempererat relasi dengan teman – teman sebayanya.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara fisik dan biologisnya

adalah:

a. Tahap pubertas sudah selesai.

b. Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan mulai melambat, sedangkan

masih berlanjut pada remaja pria.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara kognitif adalah:

a. Pertumbuhan dalam kapasitas berfikir abstrak terus berlanjut

b. Kapasitas untuk menentukan tujuan membaik

c. Tertarik pada alasan – alasan yang bersifat moral

d. Mulai berfikir terhadap arti kehidupan.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara sosial dan emosional

adalah:

a. Peningkatan keterlibatan diri, perubahan antara eksektasi yang tinggi

dengan konsep diri yang rendah.

13
b. Penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi dalam diri secara berlanjut,

cemas mengenai hidup secara normal

c. Kecenderungan untuk menjaga jarak dengan orang tua, kecenderungan

untuk merasa bebas berlanjut.

d. Terdorong untuk mencari teman dan membangun kepercayaan yang besar

pada mereka. Popularitas mulai menjadi penting.

e. Merasakan cinta dan gairah, mulai bersikap agresif

f. Perkembangan terhadap pemilihan teladan yang sesuai dan ideal

g. Tampak dan ingin mencari identitas diri

h. Ada ketertarikan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis

3. Tahap Remaja Akhir (Late Adolescence)

Tahap ini berada pada kisaran usia 19 – 21 tahun. Tahap ini adalah masa

konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai dengan pencapaian lima hal

yaitu:

 Minat yang semakin mantap terhadap fungsi – fungsi intelek

 Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang – orang lain dan

pengalaman – pengalaman baru.

 Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

 Sikap egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) digantikan

dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.

 Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan

masyarakat umum

14
Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara fisik dan biologisnya

adalah:

a. Wanita muda pada umumnya sudah mencapai pertumbuhan maksimal

b. Pria muda masih melanjutkan pertumbuhan tinggi dan berat badan, rambut

pada tubuh serta massa otot.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara kognitif adalah:

a. Kemampuan untuk memikirkan suatu ide secara menyeluruh

b. Kemampuan untuk menunda kepuasan

c. Memeriksa pengalaman internal

d. Peningkatan perhatian pada masa depan

e. Ketertarikan pada alasan yang bersifat rasional berlanjut

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara sosial dan emosional adalah:

a. Semakin kuatnya perasaan akan identitas diri

b. Peningkatan stabilitas emosi

c. Peningkatan perhatian terhadap orang lain

d. Peningkatan kebebasan dan kepercayaan diri

e. Hubungan dengan teman sebaya menjadi penting

f. Perkembangan menuju hubungan yang lebih serius

g. Social dan kultur mulai memainkan peran penting

h. Perkembangan dalam humor, lebih aktif mengekspresikan ide melalui kata

– kata

i. Selektif dalam mencari teman sebaya

j. Meniliki citra diri (gambaran, keadaan, peranan)

15
k. Dapat mewujudkan perasaan cinta

2.3 GIZI PADA REMAJA

Energi dan protein yang dibutuhkan remaja lebih banyak dari pada orang

dewasa, begitu juga vitamin dan mineral. Seorang remaja laki-laki yang aktif

membutuhkan 3.000 kalori atau lebih perhari untuk mempertahankan berat

badan normal. Seorang remaja putri membutuhkan 2.000 kalori perhari untuk

mempertahankan badan agar tidak gemuk. Vitamin B1, B2 dan B3 penting untuk

metabolism karbohidrat menjadi energi, asam folat dan vitamin B12 untuk

pembentukan sel darah merah, dan vitamin A untuk pertumbuhan jaringan.

Sebagai tambahan, untuk pertumbuhan tulang dibutuhkan kalsium dan vitamin

D yang cukup. Vitamin A, C dan E penting untuk menjaga jaringan-jaringan

baru supaya berfungsi optimal. Dan yang amat penting adalah zat besi terutama

untuk perempuan dibutuhkan dalam metabolism pembentukan sel-sel darah

merah.[5,6,7]

Remaja membutuhkan energi dan nutrisi untuk melakukan deposisi

jaringan. Peristiwa ini merupakan suatu fenomena pertumbuhan tercepat yang

terjadi kedua kali setelah yang pertama dialami pada tahun pertama

kehidupannya. Nutrisi dan pertumbuhan mempunyai hubungan yang sangat erat.

Kebutuhan nutrisi remaja dapat dikenal dari perubahan tubuhnya. Perbedaan

jenis kelamin akan membedakan komposisi tubuhnya, dan selanjutnya

mempengaruhi kebutuhan nutrisinya[5,6,7]

16
Kecukupan energi diperlukan untuk kegiatan sehari-hari dan proses

metablisme tubuh. Cara sederhana untuk mengetahui kecukupan energi dapat

dilihat dari BB-nya. Pada remaja perempuan usia 10-12 tahun, kebutuhan

energinya sebesar 50-60 kkal/kg BB/hari, sedangkan usia 13-18 tahun sebesar

40 - 50 kkal/kg BB/hari. Pada remaja laki-laki usia 10-12 tahun, kebutuhan

energinya sebesar 55-60 kkal/kg BB/hari, sedangkan usia 13-18 tahun sebesar

45-55 kkal/kg BB/hari. [5,6,7]

Energi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan,

aktifitas otot, fungsi metabolik lainnya (menjaga suhu tubuh, menyimpan lemak

tubuh), dan untuk memperbaiki kerusakan jaringan dan tulang disebabkan oleh

karena sakit dan cedera. Sumber energi makanan berasal dari karbohidrat,

protein, lemak, menghasilkan kalori masing-masing, sebagai berikut :

karbohidrat 4 kkal/g dan lemak 9 kkal/g didalam nutrisi ini ada yang

memasukkan alkohol sebagai salah satu diantara sumber energi yang

menghasilkan kalori 7 kkal/g. energi yang diperlukan seseorang remaja

tergantung dari BMR individu masing-masing tingkat pertumbuhan dan aktifitas

fisik remaja yang kurang aktif dapat menjadi kelebihan BB atau mungkin

obesitas. Asupan energi yang rendah menyebabkanretardasi pertumbuhan.

Energi merupakan kebutuhan yang terutama ; apabila tidak tercapai, diet protein,

vitamin, dan mineral tidak dapat digunakan secara efektif dalam berbagai fungsi

metabolik[5,6,7]

WHO menganjurkan rata-rata konsumsi energi makanan sehari adalah 10 - 15%

berasal dari protein, 15-30% dari lemak, dan 55-75% dari karbohidrat [17]

17
a. Karbohidrat

Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber “bahan bakar” (energi)

utama bagi tubuh. Sumber karbohidrat utama dalam pola makanan

Indonesia adalah beras. Di beberapa daerah, selain beras digunakan juga

jagung, ubi, sagu, sukun dan lain-lain. sebagian masyarakat, terutama

dikota, juga menggunakan mie dan roti yang dibuat dari tepung terigu.

Karena sebagian besar energi berasal dari karbohidrat, maka makanan

sumber karbohidrat digolongkan sebagai makanan pokok. Dalam TGS,

makanan sumber karbohidrat diletakkan sebagai dasar tumpeng. Sumber

karbohidrat yang baik pada diet adalah : karbohidrat simple (buah - buahan,

sayur-sayuran, susu, gula, pemanis berkalori lainnya), dan karbohidrat

komplek (produk padi-padian dan sayur-sayuran). Asupan yang tidak

menyebabkan ketosis ; sebaiknya asupan yang berlebih-lebihan mengarah

pada kelebihan kalori. [5,6,7]

b. Protein

Protein diperlukan untuk sebagian besar proses metabolik, terutama

pertumbuhan, perkembangan, dan mainteen/merawat jaringan tubuh. Asam

amino merupakan elemen struktur otot, jaringan ikat, tulang, enzim,

hormon, antibodi, protein juga mensuplai sekitar 12%-14% asupan energi

selama masa anak-anak dan remaja. Makanan yang tinggi protein biasanya

tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Kelebihan protein

memberatkan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan

kelebihan nitrogen. Batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein adalah

18
dua kali Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk protein. Widyakarya

Nasional Pangan dan Gizi VI (WKNPG VI) tahun 1998 menganjurkan

angka kecukupan gizi (AKG) protein untuk remaja 1,5 - 2,0 gr/kg BB/hari.

AKG protein remaja dan dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk

perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki. Kelebihan asupan protein

dapat mengakibatkan kelebihan berat badan atau sampai obesitas. Bila

asupan energi terbatas diet protein lebih banyak dimanfaatkan untuk

memenuhi kebutuhan energi, dan tidak bisa dipakai untuk mensintesis

jaringan baru. Pertumbuhan mengalami kegagalan atau terjadi, kurang

energi protein (KEP). Sumber diet protein yang baik adalah : daging,

unggas, ikan, telur, susu, dan keju. Dalam TGS, makanan sumber protein

hewani dan nabati diletakkan berdekatan pada level yang sama dibawah

puncak tumpeng. Konsumsi kedua jenis protein ini juga dianjurkan dengan

porsi yang sama. [5,6,7]

c. Lemak

Kebutuhan lemak belum direkomendasikan sebelumnya. Hanya saja pesan

dalam pedoman gizi seimbang menganjurkan bahwa kebutuhan lemak

sebaiknya seperempat dari kebutuhan energi. Saat ini kebutuhan lemak

ditentukan sebesar 20% dari kebutuhan energi. Lemak juga sebagai sumber

asam lemak esensial yang diperlukan oleh pertumbuhan, sebagai sumber

suplay energi yang berkadar tinggi, dan sebagai pengangkut vitamin yang

larut dalam lemak. Cara yang digunakan untuk mengurangi diet berlemak

adalah dengan memanfaatkan aneka buah dan sayur dan produk padi-padian

19
dan serelia : juga dengan memilih makanan rendah lemak dan daging tanpa

emak. Asupan lemak yang kurang, akan terjadi gambaran klinis defesiensi

asam lemak esensial dan nutrisi yang larut dalam lemak, serta pertumbuhan

yang buruk. Sebaliknya kelebihan asupan beresiko kelebihan BB, obesitas,

mungkin meningkatnya resiko penyakit kardiovaskuler dikemudian hari.

Sumber berbagai lemak tertentu misalnya : lemak jenuh (mentega, lemak

babi), asam lemak tak jenuh tunggal (minyak olive), asam lemak jenuh

ganda (minyak kacang kedelai), kolestrol (hati, ginjal, otak, kuning telur,

daging, unggas, ikan dan keju) Kebutuhan lemak tidak dinyatakan secara

mutlak. WHO menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 15-30% dari

kebutuhan energi total dianggap baik untuk kesehatan. Jumlah ini

memenuhi kebutuhan akan asam lemak essensial dan untuk membantu

penyerapan vitamin larut lemak. Dalam TGS makanan sumber lemak,

seperti diuraikan diatas, diletakkan pada puncak TGS karena

penggunaannya dianjurkan seperlunya. [5,6,7]

d. Serat

Serat pada diet jumlahnya berlimpah, fungsinya pada tubuh adalah untuk

melancarkan proses pengeluaran tubuh. Sumber yang baik dari diet,

misalnya ; seluruh produk padi-padian, beberapa jenis buah dan sayur,

kacang-kacangan kering, dan biji-bijian. Bila kekurangan asupan mungkin

menimbulkan absorpsi mineral berkurang. Meskipun serat bukan zat gizi

tetapi keberadaan serat diperlukan sekali. Serat tidak dapat dicerna oleh

20
manusia tetapi dapat dicerna oleh bakteri dan organism lain. serat diperlukan

untuk membentuk ‘bulk’ (volume) dalam usus. [5,6,7]

e. Zat besi

Remaja adalah salah satu kelompok yang rawan terhadap defesiensi zat besi,

dapat mengacu semua kelompok status sosial ekonomi, terutama yang

berstatus ekonomi rendah. Penyebab sebagian besar oleh karena

ketidakcukupan asimilasi zat besi yang berasal dari diet, zat besi dari

cadangan dalam tubuh dengan cepatnya pertumbuhan dan kehilangan zat

besi. Prevalansi zat besi pada gadis umur 11-14 tahun sekitar 2,8% dan pada

anak laki-laki 4,1 % seangka umur 15-19 tahun defesiensi zat besi pada

gadis ditemukan sekitar 7,2 % dan laki-laki 0,6%. Kebutuhan zat besi

meningkat pada remaja oleh karena terjadi pertumbuhan yang meningkat

ekspansi volume darah dan masa otot. Peran zat besi penting untuk

mengangkut oksigen dalam tubuh dan peran lainnya dalam pembentukan sel

darah merah gadis yang menstruasi membutuhkan tambahan zat besi yang

lebih tinggi. Kebutuhan zat besi rata-rata pada saat anak prapubertas adalah

10 mg/haridiet remaja hanya mengandung 6 mg/1000 kkal, sehingga pada

gadis yang umumnya membutuhkan kalori yang lebih rendah akan kesulitan

untuk mencukupi kebutuhan zat besinya. Kekurangan zat besi akan

menyebabkan defesiensi besi, atau anemia besi, sebaliknya kelebihan

asupan pada pasien dengan predisposisi genetic tertentu menyebabkan

overioad zat besi, sumber zat besi yang baik dalam diet, hati, daginng sapi,

kacang kering, bayam, dan padi-padian dan serelia yang diperkaya

21
Kebutuhan mineral seluruhnya meningkatnya pada masa kejar tumbuh

remaja. Mineral berperan penting pada kesehatan, kalsium, zat besi dan

seng, penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Fungsi mineral dalam

tubuh sebagai berikut: memelihara keseimbangan asam tubuh dengan jalan

penggunaan mineral pembentuk asam (klorin, fosfor, belerang) dan mineral

pembentukan basa (kapur, besi, magnesium, kalium dan natrium),

mengkatalisasi reaksi yang bertalian dengan pemecahan karbohidrat, lemak,

dan protein serta pembentukan lemak dan protein tubuh, sebagai bagian dari

cairan usus. Mineral berperan pada pertumbuhan tulang dan gigi. Bersama

dengan kalsium[5,6,7]

f. Kalsium

Pertumbuhan tinggi pada masa remaja mencapai 20 % pertumbuhan

tingginya dewasa dan 40 % masa dewasa. Kebutuhan kalsium pararel

dengan pertumbuhan, dan meningkat dari 800 mg/hari menjadi 1200

mg/hari pada kedua jenis kelamin pada umur 11-19tahun. Retensi kalsium

pada remaja mencapai 200 mg/hari dan pada laki-laki antara 300-400

mg/hari. Kebutuhan kalsium sangat tergantung pada jenis kelamin, umur

fisiologis, dan ukuran tubuh. Kalsium yang penting pada remaja untuk

pembentukan dan pertumbuhan tulang sehingga tulang dapat terpenuhi.

Pada remaja putri asupan kalsium lebih rendah dari kebutuhan sehari-hari

yang dianjurkan sekitar lebih dari 50% remaja putri diet dengan kalsium

kurang dari 70% kebutuhan kalsium sehari. Faktor utama yang

22
mempengaruhi kalsium adalah kecukupan asupan vitamin baik dari diet

maupun sinar matahari.[5,6,7]

g. Seng

Seng merupakan mineral mikro esensial. Seng diperlukan untuk sistem

reproduksi, pertumbuhan janin, system pusat syaraf, dan fungsi kekebalan

tubuh. Seng didapatkan sebagai komponen sekitar 40 metaloenzim terlibat

dalam proses metabolism, seperti sistesis protein, penyembuhan luka,

pembentukan sel darah, fungsi imun, untuk pertumbuhan, dan pematangan

seksual, terutama saat pubertas. Defesiensi ada hubungan dengan diet sudah

diketahui sejak tahun 1960 pada remaja laki-laki di Mesir dan iran. Gejala

klinis dan defesiensi seng antaralain : gagal tumbuh, nafsu makan

berkurang, perubahan kulit, dan pematangan seksual yang terlambat, tetapi

seng dapat meningkatkan pertumbuhan dan pematangan seksual, sedangkan

gejala kelebihan asupan seng adalah emesis/intiksikasi akut. Sumber seng

yang baik dalam ; kerang laut, daging merah, unggas, keju, seluruh padi-

padian sereal, kacang kering dan telur. [5,6,7]

h. Vitamin

1) Vitamin A

Vitamin A merupakan nutrisi yang larut dalam lemak, esensial untuk mata,

tulang, pertumbuhan, pertumbuhan gigi, sel reproduksi dan intregitas sistem

imun. Vitamin A masih merupakan masalah nutrisi utama yang berakibat

kebutaan di Negara berkembang termasuk di Indonesia. Kelebihan asupan

23
vitamin A menimbulkan teraogenitas, gejala toksisitas termasuk efek pada

kulit dan tulang. [5,6,7]

2) Vitamin C

Fungsi vitamin C dalam pembentukan kolagen, tulang dan gigi, promasi

absorpsi zat besi ; melindungi vitamin lain dan mineral dari oksidasi

(antioksidan). Rata-rata asupan vitamin C remaja laki-laki 121 mg/hari, dan

pada gadis 80 mg/hari. Asupan ini termasuk lebih tinggi dari RDA, yakni

50 mg/hari untuk usia remaja 11-14 tahun, dan 60 mg/hari untuk usia 15-18

tahun. Buah-buahan segar seperti jeruk, tomat, kentang, sayur hijau tua, dan

strawberi yang dijus merupakan asupan vitamin C yang sangat baik. Asupan

vitamin C menimbulkan gejala defesiensi vitamin C, berupa pendarahan

kulit dan gusi, lemah, efek perkembangan tulang. Sebaliknya kelebihan

asupan menimbulkan keluhan gastrointestinal. [5,6,7]

3) Vitamin E

Fungsinya sebagai antioksidan sumber vitamin E yang baik dalam diet,

minyak dan lemak sayur-sayuran, beberapa produk sereal, kacang –

kacangan dan beberapa ikan laut. Asupan yang tidak menimbulkan

frogilitas sel darah merah. Perannya folat dalam pembentukan hemoglotin

dan mineral genetic. Kebutuhan folat untuk remaja diperkirakan 3 g/kg BB,

terhadap 400 remaja laki-laki dan gadis untuk melihat status folat

mendapatkan 40% remaja memiliki kadar total sel darah merah rendah

(<140 mg/ml). Folat terjadi sebagian besar oleh karena asupan folat yang

tidak cukup. Sumber folat ditemukan pada sayur berwarna hijau tua, kacang

24
kering, benih gandum, dan hati. Beberapa makanan sumber asam folat ini ,

kebetulan tidak disukai remaja, sehingga beresiko timbulnya defesiensi.

Gejala defesiensi folat berupa; lemah, pucat, perubahan neurologis, dan

anemia. [5,6,7]

Tabel 2.2 – Kecukupan gizi rata – rata pada remaja (10-19 tahun) per

orang per hari

2.4 MASALAH GIZI PADA REMAJA

Berbagai masalah gizi pada usia remaja sering terjadi. Selain kekurangan energi
dan protein anemia gizi dan defisiensi berbagai vitamin juga sering terjadi.
Sebaliknya juga masalah gizi lebih (overnutrition) yang ditandai oleh tingginya
jangka obesitas pada remaja terutama di kota-kota besar.
Berbagai faktor yang memicu terjadinya masalah gizi pada usia remaja antara
lain.
1. Kebiasaan makan yang buruk
Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makan
keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada
usia remaja. Mereka makan seadanya tanpa mengetahui kebutuhan akan

25
berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut
terhadap kesehatan mereka.

2. Pemahaman gizi yang keliru


Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja terutama
wanita remaja. Hal itu sering menjadi penyebab masalah, karena untuk
memelihara kelangsingan tubuh mereka menerapkan pengaturan pembatasan
makanan secara keliru. Sehingga kebutuhan gizi mereka tak terpenuhi. Hanya
makan sekali sehari atau makan makanan seadanya, tidak makan nasi merupakan
penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan mendorong terjadinya
gangguan gizi
Penelitian yang dilakukan oleh Ruka Sakamaki, dkk (2004) menemukan
bahwa pelajar wanita di China memiliki keinginan yang besar untuk menjadi
langsing (62,0%) dibandingkan dengan pelajar lelaki (47,4%). Demikian pula
dengan studi sebelumnya yang dilakukan di Jepang, perubahan gaya hidup telah
menyebabkan sebagian besar pelajar wanita memiliki keinginan untuk menjadi
langsing, meskipun jumlah responden yang mengalami obesitas sangat sedikit
pada studi tersebut. Di tahun 2005, mereka menemukan bahwa sebagian besar
responden yang memiliki IMT normal, ternyata menginginkan ukuran tubuh
dengan IMT yang tergolong kurus (BMI : 18,4+ 3,4)

3. Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu


Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu saja menyebabkan
kebutuhan gizi tak terpenuhi. Keadaan seperti itu biasanya terkait dengan
“mode” yang tengah marak dikalangan remaja. Ditahun 1960 an misalnya
remaja-remaja di Amerika Serikat sangat menggandrungi makanan berupa hot
dog dan minuman coca cola. Kebiasaan ini kemudian menjalar ke remaja-remaja
diberbagai negara lain termasuk di Indonesia.

4. Promosi yang berlebihan melalui media massa

26
Usia remaja merupakan usia dimana mereka sangat tertarik pada hal-hal
baru. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh pengusaha makanan untuk
mempromosikan produk mereka dengan cara yang sangat mempengaruhi
remaja. Padahal, produk makanan tersebut bukanlah makanan yang sehat bila
dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan

5. Masuknya produk-produk makanan baru yang berasal dari negara lain secara
bebas mempengaruhi kebiasaan makan para remaja.
Jenis-jenis makanan siap santap (fast food) yang berasal dari negara barat
seperti hot dog, pizza, hamburger, fried chicken dan french fries, berbagai jenis
makanan berupa kripik (junk food) sering dianggap sebagai lambang kehidupan
modern oleh para remaja. Padahal berbagai jenis fast food itu mengandung kadar
lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi disamping kadar garam. Zat-zat gizi itu
memicu terjadinya berbagai penyakit kardiovaskuler pada usia muda.
Penelitian yang dilakukan oleh Kerry N. Boutelle, dkk (2005) menemukan

bahwa konsumsi fast food berhubungan dengan berat badan orang dewasa

namun tidak pada remaja. Hal tersebut disebabkan karena remaja membutuhkan

banyak kalori untuk aktivitasnya, sehingga fast food tidak mempengaruhi status

gizi mereka untuk menjadi obesitas. Namun, konsumsi fast food bisa

meningkatkan risiko bagi para remaja untuk menjadi obes pada saat dewasa

kelak

2.5 MASALAH GIZI PADA REMAJA

1. Obesitas

Obesitas adalah kegemukan atau kelebihan berat badan. Di kalangan


remaja, obesitas merupakan permasalahan yang merisaukan, karena dapat
menurunkan rasa percaya diri seseorang dan menyebabkan gangguan psikologis

27
yang serius. Belum lagi kemungkinan diskriminasi dari lingkungan sekitar.
Dapat di bayangkan jika obesitas terjadi pada remaja, maka remaja tersebut akan
tumbuh menjadi remaja yang kurang percaya diri. Berdasarkan data dari
Riskesdas 2007, prevalensi obesitas sentral pada usia 15-24 tahun adalah 8,09%
Penelitian yang dilakukan oleh Rollan Cahcera (2000) terhadap remaja pada
beberapa wilayah di Eropa Barat menemukan bahwa terjadi peningkatan
prevalensi obesitas pada remaja. Rata-rata asupan energi para remaja tersebut
terlihat adekuat, namun konsumsi lemak jenuh menunjukkan peningkatan dan
konsumsi serat justru menurun. Rata-rata asupan mikronutrient menunjukkan
angka yang sesuai dengan standar. Namun pada remaja putri asupan zat besi dan
kalsium masih rendah. Selain itu, ditemukan juga masalah-masalah seperti
merokok, mengkonsumsi makanan dengan kualitas gizi yang rendah dan diet
yang salah. Al sendi juga menemukan hal serupa di Bahrain. Terlihat terjadi
peningkatan prevalensi obesitas pada remaja. Lazeery di Italia justru
menemukan trend yang berbeda. Dimana dari tahun ke tahun, prevalensi obesitas
pada remaja di Tuscany Italia justru mengalami penurunan. Dan penurunan
tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kelompok umur pada remaja.
2. Kurang Energi Kronis (KEK)
Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis (KEK) pada
umumnya disebabkan karena makan terlalu sedikit. Penurunan berat badan
secara drastis pada remaja perempuan memiliki hubungan erat dengan faktor
emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang kurang seksi oleh
lawan jenis. Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan
protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan
makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan
atau susu perlu dikonsumsi oleh para remaja tersebut sekurang-kurangnya sehari
sekali.

3. Anemia

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita anemia.
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dan eritrosit lebih

28
rendah dari normal. Pada laki-laki hemoglobin normal adalah 14 – 18 gr % dan
eritrosit 4,5 -5,5 jt/mm3. Sedangkan pada perempuan hemoglobin normal adalah
12 – 16 gr % dengan eritrosit 3,5 – 4,5 jt/mm3. Remaja putri lebih mudah
terserang anemia karena:

a. Pada umumnya lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati yang


kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani,
sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi.
b. Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan
makanan.
c. Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khususnya
melalui feses.

Remaja putri mengalami haid setiap bulan, di mana kehilangan zat besi ± 1,3 mg

perhari, sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak dari pada pria.

2.6 MASALAH GIZI PADA REMAJA

Berikut adalah saran yang diberikan kepada remaja agar dapat menjaga

kebutuhan gizinya dengan baik.6

a. Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) bersama keluarga
Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi selama sehari dianjurkan agar
anak makan secara teratur 3 kali sehari dimulai dengan sarapan atau makan
pagi, makan siang dan makan malam. Untuk menghindarkan/mengurangi
anak-anak mengonsumsi makanan yang tidak sehat dan tidak bergizi
dianjurkan agar selalu makan bersama keluarga. Sarapan setiap hari penting
terutama bagi anak-anak oleh karena mereka sedang tumbuh dan mengalami
perkembangan otak yang sangat tergantung pada asupan makanan secara
teratur.6
Dalam satu hari kebutuhan tubuh untuk energi, protein, vitamin,
mineral dan juga serat disediakan dari makanan yang dikonsumsi. Dalam

29
sistem pencernaan tubuh, makanan yang dibutuhkan tidak bisa sekaligus
disediakan tetapi dibagi dalam 3 tahap yaitu tahap makan pagi, tahap makan
siang dan tahap makan malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar
40% anak sekolah tidak makan pagi. Akibatnya jumlah energi yang
diperlukan untuk belajar menjadi berkurang dan hasil belajar kurang bagus.6
Pada tubuh seseorang yang normal, setelah tidur 8-10 jam dan tidak
melakukan kegiatan makan dan minum (puasa) kadar gula darah berada
pada kisaran yang normal yaitu 80 g/dl. Apabila tidak melakukan kegiatan
makan terutama makanan yang mengandung karbohidrat kadar gula darah
akan menurun karena gula dipakai sebagai sumber energi. Oleh karena itu
makan pagi sangat penting untuk menambah gula darah sebagai sumber
energi. Pada anak sekolah makan pagi sangat dianjurkan sehingga pada saat
menerima pelajaran (1-2 jam setelah makan) gula darah naik dan dapat
dipakai sebagai sumber energi otak. Otak mendapat energi terutama dari
glukosa. Pada proses belajar otak merupakan organ yang sangat penting
untuk menerima informasi, mengolah informasi, menyimpan informasi dan
mengeluarkan informasi. Dalam melakukan makan pagi sebaiknya dipenuhi
kebutuhan zat gizi bukan hanya karbohidrat saja tetapi juga protein, vitamin
dan mineral. Porsi kecil disediakan untuk makan pagi karena jumlah yang
disediaakan cukup 20-25 % dari kebutuhan sehari. Dengan membiasakan
diri melakukan makan pagi, dapat dihindari makan yang tidak terkontrol
yang akan meningkatkan berat badan. Makan pagi dengan cukup serat akan
membantu menurunkan kandungan kholesterol darah sehingga dapat
terhindar dari penyakit jantung akibat timbunan lemak yang teroksidasi
dalam pembuluh darah.6
Makan pagi pada anak sekolah sebaiknya dilakukan pada jam 06.00
atau sebelum jam 07.00 yaitu sebelum terjadi hipoglikemia atau kadar gula
darah sangat rendah. Menu yang disediakan sangat bervariasi selain sumber
karbohidrat yang berupa nasi, mie, roti, umbi juga sumber protein seperti
telur, tempe, olahan daging atau ikan, sayuran dan buah. Susu dan hasil
olahannya (yoghurt, keju, dll) merupakan minuman atau makanan dengan

30
kandungan zat gizi yang cukup lengkap yang setara dengan telur. Konsumsi
ikan, telur dan susu bagi kelompok usia 6-19 tahun sangat membantu
pertumbuhan dan perkembangan. Persiapan makanan untuk makan pagi
yang waktunya sangat singkat perlu dipikirkan dan dipertimbangkan menu
yang cocok, dan cukup efektif dipergunakan sebagai menu makan pagi dan
telah memenuhi kebutuhan zat gizi.6

b. Biasakan mengonsumsi ikan dan sumber protein lainnya


Ikan merupakan sumber protein hewani, sedangkan tempe dan tahu
merupakan sumber protein nabati. Protein merupakan zat gizi yang
berfungsi untuk pertumbuhan, mempertahankan sel atau jaringan yang
sudah terbentuk, dan untuk mengganti sel yang sudah rusak, oleh karena itu
protein sangat diperlukan dalam masa pertumbuhan. Selain itu juga protein
berperan sebagai sumber energi. Konsumsi protein yang baik adalah yang
dapat memenuhi kebutuhan asam amino esensial yaitu asam amino yang
tidak dapat disintesa didalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan.
Protein hewani memiliki kualitas yang lebih baik dibanding protein nabati
karena komposisi asam amino lebih komplit dan asam amino esensial juga
lebih banyak. Berbagai sumber protein hewani dan nabati mempunyai
kandungan protein yang berbeda jumlahnya dan komposisi asam amino
yang berbeda pula. Oleh karena itu mengonsumsi protein juga dilakukan
bervariasi. Dianjurkan konsumsi protein hewani sekitar 30% dan nabati
70%. Ikan selain sebagai sumber protein juga sumber asam lemak tidak
jenuh dan sumber mikronutrien. Konsumsi ikan dianjurkan lebih banyak
daripada konsumsi daging. Sumber protein nabati dari kacang-kacangan
ataupun hasil olahnya seperti tahu dan tempe banyak dikonsumsi
masyarakat. Kandungan protein pada tempe tidak kalah dengan daging.
Tempe selain sebagai sumber protein juga sebagai sumber vitamin asam
folat dan B12 serta sebagai sumber antioksidan. Tempe, kacang-kacangan
dan tahu tidak mengandung kolesterol. Konsumsi tempe sekitar 100g (4
potong sedang) per hari cukup untuk mempertahankan tubuh tetap sehat dan

31
kolesterol terkontrol dengan baik. Daging dan unggas (misalnya ayam,
bebek, burung puyuh, burung dara) merupakan sumber protein hewani.
Daging dan unggas selain sebagai sumber protein juga sumber zat besi yang
berkualitas sehingga sangat bagus bagi anak dalam masa pertumbuhan.
Namun ada halyang harus diperhatikan bahwa daging juga mengandung
kolesterol dalam jumlah yang relatif tinggi, yang bisa memberikan efek
tidak baik bagi kesehatan.6

c. Perbanyak mengonsumsi sayuran dan cukup buah-buahan


Masyarakat Indonesia masih sangat kekurangan mengonsumsi
sayuran dan buah-buahan,63,3% anak > 10 tahun tidak mengonsumsi
sayuran dan 62,1% tidak mengonsumsi buah-buahan. Padahal sayuran di
Indonesia banyak sekali macam dan jumlahnya. Sayuran hijau maupun
berwarna selain sebagai sumber vitamin, mineral juga sebagai sumber serat
dan senyawa bioaktif yang tergolong sebagai antioksidan. Buah selain
sebagai sumber vitamin, mineral, serat juga antioksidan terutama buah yang
berwarna hitam, ungu, merah. Anjuran konsumsi sayuran lebih banyak
daripada buah karena buah juga mengandung gula, ada yang sangat tinggi
sehingga rasa buah sangat manis dan juga ada yang jumlahnya cukup.
Konsumsi buah yang sangat manis dan rendah serat agar dibatasi. Hal ini
karena buah yang sangat manis mengandung fruktosa dan glukosa yang
tinggi. Asupan fruktosa dan glukosa yang sangat tinggi berisiko
meningkatkan kadar gula darah. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
konsumsi vitamin C dan vitamin E yang banyak terdapat dalam sayuran dan
buah-buahan sangat bagus untuk melindungi jantung agar terhindar dari
penyakit jantung koroner. Banyak keuntungan apabila konsusmsi sayuran
dan buah-buahan bagi kesehatan tubuh.6
Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan sebaiknya bervariasi
sehingga diperoleh beragam sumber vitamin ataupun mineral serta serat.
Kalau ingin hidup lebih sehat lipat gandakan konsumsi sayur dan buah.
Konsumsi sayur dan buah bisa dalam bentuk segar ataupun yang sudah

32
diolah. Konsumsi sayuran hijau tidak hanya direbus ataupun dimasak tetapi
bisa juga dalam bentuk lalapan (mentah) dan dalam bentuk minuman yaitu
dengan ekstraksi sayuran dan ditambah dengan air tanpa gula dan tanpa
garam. Khlorofil atau zat hijau daun yang terekstrak merupakan sumber
antioksi dan yang cukup bagus. Sayuran berwarna seperti bayam merah,
kobis ungu, terong ungu, wortel, tomat juga merupakan sumber antioksidan
yang sangat potensial dalam melawan oksidasi yang menurunkan kondisi
kesehatan tubuh.6

d. Biasakan membawa bekal makanan dan air putih dari rumah


Apabila jam sekolah sampai sore atau setelah sekolah ada kegiatan
yang berlangsung sampai sore, maka makan siang tidak dapat dilakukan di
rumah. Makan siang disekolah harus memenuhi syarat dari segi jumlah dan
keragaman makanan. Oleh karena itu bekal untuk makan siang sangat
diperlukan. Dengan membawa bekal dari rumah, anak tidak perlu makan
jajanan yang kadang kualitasnya tidak bisa dijamin. Disamping itu perlu
membawa air putih karena minum air putih dalam jumlah yang cukup sangat
diperlukan untuk menjaga kesehatan.6
Bekal yang dibawa anak sekolah tidak hanya penting untuk
pemenuhan zat gizi tetapi juga diperlukan sebagai alat pendidikan gizi
terutama bagi orang tua anak-anak tersebut. Guru secara berkala melakukan
penilaian terhadap unsur gizi seimbang yang disiapkan orangtua untuk bekal
anak sekolah dan ditindaklanjuti dengan komunikasi terhadap orangtua.6

e. Batasi mengonsumsi makanan cepat saji, jajanan dan makanan selingan


yang manis, asin dan berlemak.
Mengonsumsi makanan cepat saji dan jajanan saat ini sudah menjadi
kebiasaan terutama oleh masyarakat perkotaan. Sebagian besar makanan
cepat saji adalah makanan yang tinggi gula, garam dan lemak yang tidak
baik bagi kesehatan. Oleh karena itu mengonsumsi makanan cepat saji dan
makanan jajanan harus sangat dibatasi.6

33
Pangan manis, asin dan berlemak banyak berhubungan dengan
penyakit kronis tidak menular seperti diabetes mellitus, tekanan darah tinggi
dan penyakit jantung.6

f. Biasakan menyikat gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari setelah makan


pagi dan sebelum tidur
Setelah makan ada sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi.
Sisa makanan tersebutakan dimetabolisme oleh bakteri dan menghasilkan
metabolit berupa asam, yang dapat menyebabkan terjadinya pengeroposan
gigi. Membiasakan untuk membersihkan gigi setelah makan adalah upaya
yang baik untuk menghindari pengeroposan atau kerusakan gigi. Demikian
juga sebelum tidur, gigi juga harus dibersihkan dari sisa makanan yang
menempel di sela-sela gigi. Saat tidur, bakteri akan tumbuh dengan pesat
apabila disela-sela gigi ada sisa makanan dan ini dapat mengakibatkan
kerusakan gigi.6

g. Hindari merokok
Merokok sebenarnya merupakan kebiasaan dan bukan merupakan
kebutuhan, seperti halnya makan atau minum. Oleh karena itu kebiasaan
merokok dapat dihindari kalau ada upaya sejak dini. Merokok juga bisa
membahayakan orang lain (perokok pasif). Banyak penelitian menunjukkan
bahwa merokok berakibat tidak baik bagi kesehatan misalnya kesehatan
paru-paru dan kesehatan reproduksi. Pada saat merokok sebenarnya paru-
paru terpapar dengan hasil pembakaran tembakau yang bersifat racun.
Racun hasil pembakaran rokok akan dibawa oleh darah dan akan
menyebabkan gangguan fungsi pada alat reproduksi.6

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Department of Child and Adolescent Health and Development, World Health

Organization. Strengthening the health sector response to adolescent health and

development. Switzerland. 2009

2. United Nations Children’s Fund (UNICEF). Adolescent Development:

Perspectives and Frameworks- A Discussion Paper. New York: 2005

3. Curtis, Alexa C. Defining Adolescence. Journal of Adolescent and Family Health:

Vol. 7: Iss. 2, Article 2. San Fransisco: 2015

4. Batubara Jose. Adolescent Development [Perkembangan Remaja]. Sari Pediatri

12(1):21-9. Jakarta: 2010

5. California Department of Public Health. Adolescent Nutrition. California. 2013

6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: 2014.

7. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Asuhan Nutrisi Pediatrik. Jakarta: 2011

8. Setiawati Vilda, Setyowati Maryani. Karakter Gizi Remaja Putri Urban dan Rural

di Provinsi Jawa Tengah. KEMAS 11(1):43-52. Semarang: 2015

35