Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Ibu hamil diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan antenatal semasa kehamilannya


demi menghindari meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI). Pemeriksaan antenatal
merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih untuk ibu selama masa
kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan
dalam Standar Pelayanan Kebidanan. Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak,
kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan singkatan dari
kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Selama
melakukan kunjungan untuk asuhan antenatal, para ibu hamil akan mendapatkan
serangkaian pelayanan yang terkait dengan upaya memastikan ada tidaknya kehamilan
dan penelusuran berbagai kemungkinan adanya penyulit atau gangguan kesehatan
selama kehamilan yang mungkin dapat mengganggu kualitas dan luaran kehamilan.

Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu hamil, bersalin dan nifas (sampai
42 hari setelah bersalin), sebagai akibat dari kelainan yang berkaitan dengan
kehamilannya atau penyakit lain yang diperburuk oleh kehamilan, dan bukan karena
kecelakaan. Beberapa ahli menyebut kematian ibu adalah ukuran penting dari kematian
suatu bangsa dan masyarakat serta mengindikasikan kesenjangan dalam kesehatan dan
akses ke pelayanan kesehatan (Daniel, dkk, 2002). Kematian ibu merupakan
permasalahan kesehatan publik global dan penurunan kematian ibu adalah prioritas
agenda kesehatan dan politik di setiap negara (Chichakli, dkk, 2000). WHO
memperkirakan, bahwa 98% penyebab kematian maternal di negara berkembang masuk
katagori “dapat dicegah”. Menurut data WHO, pada periode 1997 s/d 2007, penyebab
kematian maternal berturut-turut adalah Hemorrhagic (35%), Hipertensi (18%),
Indirect Cause (18%), other direct cause (11%), abortion and miscarriage (9%), Sepsis
(8%), embolism (1%).

Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan saat ini tergolong masih cukup tinggi
yaitu mencapai 228 per 100.000 kelahiran berdasarkan hasil Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007. Walaupun sebelumnya Indonesia telah
mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004,
kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia masih tergolong cukup tinggi. Berdasarkan
hasil survei SDKI di atas, ternyata angka tersebut masih tertinggi di Asia. Sementara
target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ada sebesar 226
per 100.000 Kelahiran Hidup. Jika dilihat berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium
atau Millenium Development Goal (MDG), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada
angka 103 per 100.000 kelahiran. Akan tetapi, Angka Kematian Ibu (AKI) di Papua
Barat masih berada di tingkat 573 per 100.000 kelahiran hidup.

Derajat kesehatan ibu di Indonesia memang membaik apabila dilihat dari Angka
Kematian Ibu yang terus menurun, dari 307/100.000 kelahiran hidup pada SDKI 2003
menjadi 228/100.000 kelahiran hidup pada SDKI 2007. Akan tetapi hasil ini adalah
hasil nasional karena apabila dicermati terdapat kesenjangan yang cukup besar antar
daerah di Indonesia, tercermin dari persentase Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Terampil yang merupakan indikator proksi paling sensitif dari kematian ibu, karena
berdasar hasil penelitian di berbagai negara, terdapat korelasi yang erat antara
persalinan oleh tenaga kesehatan dengan angka kematian ibu. Menurut data yang
dihimpun dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi pada tahun 2008, rata-rata nasional
persalinan oleh nakes mencapai 80,73 %, tertinggi ada di Provinsi Bali yang sudah
mencapai 97,61 %, sedangkan paling rendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya
mencapai 29,63 %.

Data lain menunjukkan bahwa rerata cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Indonesia
pada tahun 2013 ialah sebesar 86,52%. Hal itu berarti, belum mencapai target renstra
pada tahun 2013 yang sebesar 93%. Dari 33 Provinsi di Indonesia, hanya 10 provinsi
(30,3%) yang telah mencapai target tersebut. Papua Barat merupakan salah satu
provinsi yang memiliki persentase kunjungan K4 yang rendah yakni 69,18% dengan
rincian: tertinggi yaitu Kab. Sorong 71,30%; Kab. Raja Ampat 69,96%; Kab. Sorong
Selatan 67,92%; Kab. Fakfak 63,17%; Kab. Teluk Bintuni 61,87%; Kota Sorong
53,55%; Kab. Maybrat 49,56%; Kab. Kaimana 45,20%; Kab. Manokwari 44,92%; Kab.
Teluk Wondama 29,91%; dan terendah Kab. Tambrauw sebesar 4,52%.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)?
2. Apa saja penyebab Ibu Hamil malas melakukan pemeriksaan di Puskesmas Papua
Barat?
3. Apa saja penyebab para pekerja Puskesmas di Papua Barat memiliki motivasi
kerja yang rendah?
4. Apa saja program yang dapat dilakukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI)?

1.3. Tujuan
1.3.1 Menjelaskan rencana program untuk menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu)
1.3.2 Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya Angka Kematian Ibu
(AKI)
1.3.3 Menjelaskan penyebab pekerja Puskesmas di Papua Barat memiliki motivasi kerja
yang rendah
1.3.3 Menyusun program yang dapat dilakukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Analisa Secara Epidemiologi
Epidemiologi AKI (Angka Kematian Ibu)

1. Epidemiologi menurut tempat


Sebanyak 536.000 perempuan meninggal dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah
dari jumlah kematian ibu tahun 1990 yang sebanyak 576.000. Menurut data WHO,
sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-
negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang
tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan
dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran.
WHO menetapkan target MDGs penurunan angka kematian ibu sebesar 5,5%. Namun
hanya Asia Timur yang penurunannya telah mendekati target yakni 4,2 persen per tahun
serta Afrika Utara, Asia Tenggara, Amerika Latin dan Karibia mengalami penurunan
yang jauh lebih besar dari Sub-Sahara Afrika.

Di Indonesia sendiri Angka Kematian Ibu mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Provinsi
Papua memiliki angka yang paling tinggi yakni 620 per 100.000 kelahiran, Maluku
Utara 387 per 100.000, Sulawesi Tengah 379 per 100.000. Namun kenyataannya pada
provinsi Papua Barat angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi yaitu 573 kematian per
100.000 kelahiran.

2. Epidemiologi menurut orang


Berdasarkan hasil penelitian di berbagai negara, terdapat korelasi yang erat antara
persalinan oleh tenaga kesehatan dengan angka kematian ibu. Dengan demikian,
fasilitas pelayanan persalinan yang dipilih untuk melahirkan merupakan salah satu
faktor yang berhubungan dengan kematian ibu hamil. Menurut SDKI, latar belakang
pendidikan ibu hamil berpengaruh terhadap pilihan pelayanan persalinannya. Seorang
ibu yang tidak tamat SMA akan cenderung memilih Perawat/Bidan (68,4%), kemudian
disusul Dokter Kandungan (10%), Dukun Bayi (1,6%), dan Dokter Umum (0,9%). Ibu
yang tamat SD akan cenderung memilih Perawat/Bidan (56,3%), kemudian Dokter
Kandungan (5,1%), Dukun Bayi (2,4%), Dokter Umum (0,9%). Ibu yang tidak tamat
SD akan memilih Perawat/Bidan (40,7%), baru kemudian Dukun Bayi (4,7%), Dokter
Kandungan (3,5%), dan Dokter Umum (0,4%). Sedangkan bagi ibu yang berlatar
belakang tidak sekolah akan memilih Perawat/Bidan (28,3%), Dukun Bayi (10,8%),
Dokter Kandungan (3,1%), dan Dokter Umum (0,1%). Dengan masih tingginya
kepercayaan terhadap dukun, maka akan mempengaruhi tingginya Angka Kematian Ibu
(AKI).

3. Epidemiologi menurut waktu


Menurut data yang dikeluarkan oleh UNFPA, WHO, UNICEF dan Bank Dunia
menunjukkan bahwa satu wanita meninggal dunia tiap menitnya akibat masalah
kehamilan. Rasio kematian ibu (jumlah kematian tiap 100.000 kelahiran hidup) telah
menurun secara global pada laju kurang dari 1%. Jumlah kematian wanita hamil atau
akibat persalinan secara keseluruhan juga menunjukkan penurunan yang cukup berarti
antara tahun 1990-2005. pada tahun 2005, 536.000 wanita hamil meninggal dunia
dibandingkan dengan tahun 1990 yang sebanyak 576.000. Berdasarkan Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, angka kematian ibu (AKI) di
Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam
terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia karena berbagai sebab. Sedangkan pada
tahun 2007 menurun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup.

2.2 Gizi dan Nutrisi Ibu Hamil


Gizi dan Nutrisi ibu hamil merupakan hal penting yang harus dipenuhi selama kehamilan
berlangsung. Resiko akan kesehatan janin yang sedang dikandung dan ibu yang
mengandung akan berkurang jika ibu hamil mendapatkan gizi dan nutrisi yang
seimbang. Oleh karena itu, keluarga dan ibu hamil haruslah memperhatikan mengenai
hal ini. Gizi atau nutrisi ibu hamil kondisinya sama saja dengan pengaturan gizi
mengenai pola makan yang sehat. Hanya saja, ibu hamil harus lebih hati-hati dalam
memilih makanan karena mengingat juga kesehatan janin yang sedang dikandungnya.
Bersama dengan usia kehamilan yang terus bertambah, maka bertambah pula kebutuhan
gizi dan nutrisi ibu hamil, khususnya ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua.
Pada saat trimester kedua, janin tumbuh dengan sangat pesat, khususnya mengenai
pertumbuhan otak berikut susunan syarafnya.
Nutrisi dan gizi yang baik ketika kehamilan berlangsung sangat membantu ibu hamil dan
janin dalam menjalani hari-hari kehamilannya. Tentunya ibu hamil dan janin akan tetap
sehat. Selama kehamilan, kebutuhan nutrisi akan meningkat sepeti kebutuhan akan
kalsium, zat besi serta asam folat. Ibu hamil haruslah diberi dorongan agar
mengkonsumsi makanan yang baik dan bergizi, dan rutin untuk mengontrol kenaikan
berat badannya selama kehamilan berlangsung. Kenaikan berat badan yang ideal
berkisar antar 12-15 kilogram.
Agar perkembangan janin berjalan dengan baik, dan ibu hamil dapat menjalani hari-hari
kehamilannya dengan sehat, maka konsumsi ibu hamil harus mengandung gizi sebagai
berikut:
a. Kalori
Selama kehamilan konsumsi kalori haruslah bertambah dikisaran 300-400
kkal perharinya. Kalori yang di dapat haruslah berasal dari sumber makanan
yang bervariasi, dimana pola makan 4 sehat 5 sempurna harus sebagai
acuannya. Baiknya, 55% kalori di peroleh dari umbi-umbian serta nasi sebagi
sumber karbohidrat, lemak baik nabati maupun hewani sebanyak 35%, 10%
dari protein dan sayuran serta buahan bisa melengkapi.
b. Asam Folat
Janin sangat membutuhkan asam folat dalam jumlah banyak guna
pembentukan sel dan sistem syaraf. Selama trimester pertama janin akan
membutuhkan tambahan asam folat sebanyak 400 mikrogram per harinya.
Jika janin mengalami kekurangan akan asam folat, maka hal ini akan
membuat perkembangan janin menjadi tidak sempurna dan dapat membuat
janin terlahir dengan kelainan seperti mengalami anenchephaly (tanpa batok
kepala), mengalami bibir sumbing dan menderita spina bifda (kondisi dimana
tulang belakang tidak tersambung). Asam folat yang bisa di dapat pada buah-
buahan, beras merah dan sayuran hijau.

c. Protein
Selain menjadi sumber bagi kalori dan zat pembangun, pembentukan darah
dan sel merupakan salah satu fungsi protein. Protein dibutuhkan oleh ibu
hamil dengan jumlah sekitar 60 gram setiap harinya atau 10 gram lebih
banyak dari biasanya. Protein bisa didapatkan dari kacang-kacangan, tempe,
putih telur, daging dan tahu.
d. Kalsium
Berfungsi dalam pertumbuhan dan pembentukan gigi dan tulang janin.
Dengan ada kalsium yang cukup selama kehamilan, ibu hamil dapat terhindar
dari penyakit osteoporosis. Kenapa hal ini bisa terjadi? karena jika ibu hamil
tidak memiliki kalsium yang cukup, maka kebutuhan janin akan kalsium akan
diambil dari tulang ibunya. Susu dan produk olahan lainnya merupakan
sumber kalsium yang baik, selain kalsium, susu memiliki kandungan vitamin
lain yang dibutuhkan ibu hamil, seerti vitamin A, Vitamin D, Vitamin B2
vitamin B3 dan vitamin C. Selain dari susu, kacang-kacangan dan sayuran
hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga.
e. Vitamin A
Sangat bermanfaat bagi pemeliharaan fungsi mata, pertumbuhan tulang dan
kulit. Selain itu vitamin A juga berfungsi sebagai imunitas dan pertumbuhan
janin. Namun meskiun vitamin A sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, namun
jangan samapi berlebih dalam mengkonsumsinya, karena jika ibu hamil
mengalami kelebihan vitamin A hal ini dapat membuat janin terganggu
pertumbuhannya.
f. Zat Besi
Berfungsi di dalam pembentukan darah terutama membentuk sel darah merah
hemoglobin dan mengurangi resiko ibu hamil terkena anemia. Zat besi akan
diperlukan pada saat kehamilan memasuki usia 20 minggu. Kebutuhan akan
zat besi sebanyak 30 mg per harinya. Zat besi dapat diperoleh pada hati,
daging atau ikan.

g. Vitamin C
Tubuh ibu hamil memerlukan vitamin C guna menyerap zat besi. Selain itu
vitamin C sangat baik guna kesehatan gusi dan gigi. Fungsi lain dari vitamin
C adalah melindungi jaringan dari organ tubuh dari bberbagai macam
kerusakan serta memberikan otak berupa sinyal kimia, hal terjadi karena
vitamin C banyak mengandung antioksidan.
h. Vitamin D
Dapat menyerap kalsium sehingga sangat bermanfaat dalam pembentukan dan
pertumbuhan tulang bayi. Vitamin D didapat dari sumber makanan, susu,
kuning telur atau hati ikan.
Jika ibu hamil tidak mengalami berbagai macam gejala seperti anemia, gusi berdarah
dan gejala lainnya, maka ibu hamil tersebut dapat dikatakan telah mencukupi kebutuhan
akan gizi dan nutrisinya. Hal yang lebih penting untuk mengecek kecukupan nutrisi
selama kehamilan adalah tentunya melalui perkembangan berat badan selama kehamilan.

2.3 Kunjungan Antenatal K4


Kunjungan antenatal memiliki tujuan untuk:
1. Menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas
serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat.
2. Memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan
merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan
risiko tinggi.
3. Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.
Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode
angka K yang merupakan singkatan dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang
lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini berarti, minimal dilakukan sekali
kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal
selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada
usia kehamilan diatas 36 minggu.
Selama melakukan kunjungan untuk asuhan antenatal, para ibu hamil akan
mendapatkan serangkaian pelayanan yang terkait dengan upaya memastikan ada
tidaknya kehamilan dan penelusuran berbagai kemungkinan adanya penyulit atau
gangguan kesehatan selama kehamilan yang mungkin dapat mengganggu kualitas
dan luaran kehamilan. Identifikasi kehamilan diperoleh melalui pengenalan
perubahan anatomi dan fisiologi kehamilan seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Bila diperlukan, dapat dilakukan uji hormonal kehamilan dengan menggunakan
berbagai metoda yang tersedia.
Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu:
1. Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas kesehatan
2. Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang
dikandungnya
3. Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya
4. Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan risiko tinggi
5. Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga
kualitas kehamilan
6. Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan
membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
- Sampai 28 minggu : 4 minggu sekali
- 28 – 36 minggu : 2 minggu sekali
- Di atas 36 minggu : 1 minggu sekali
Kecuali jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan
medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
Menurut Muchtar (2005), jadwal pemeriksaan antenatal yang dianjurkan adalah :
1. Pemeriksaan pertama kali yang ideal yaitu sedini mungkin ketika haid
terlambat satu bulan
2. Periksa ulang 1 kali sebulan sampai kehamilan 7 bulan
3. Periksa ulang 2 kali sebulan sampai kehamilan 9 bulan
4. Pemeriksaan ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
5. Periksa khusus bila ada keluhan atau masalah

Kunjungan/pemeriksaan antenatal pertama memiliki tujuan sebagai berikut:


1. Menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
2. Menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
3. Menentukan status kesehatan ibu dan janin
4. Menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya
faktor risiko kehamilan
5. Menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya

K1 Kehamilan adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan
untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan seorang ibu hamil sesuai standar pada
trimester pertama kehamilan, dimana usia kehamilan 1 sampai 12 minggu dengan
jumlah kunjungan minimal satu kali. Hal yang akan diperiksa meliputi :
1 Identitas/biodata
2 Riwayat kehamilan
3 Riwayat kebidanan
4 Riwayat kesehatan
5 Pemeriksaan kehamilan
6 Pelayanan kesehatan
7 Penyuluhan dan konsultasi
Disamping itu ibu hamil juga akan mendapatkan pelayanan 7T yaitu :
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2. Ukur Tekanan Darah
3. Skrinning status imunisasi Tetanus dan berikan Imunisasi Tetanus
Toxoid (TT) bila diperlukan
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Pemberian Tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan
6. Test Laboratorium (rutin dan Khusus)
7. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.
Atau yang terbaru 10T yaitu dengan menambahkan 7T tadi dengan:
8. Nilai status Gizi (ukur lingkar lengan atas)
9. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
10. Tata laksana kasus.
Cakupan K1 yang rendah berdampak pada rendahnya deteksi dini kehamilan
berisiko, yang kemudian mempengaruhi tingginya AKB dan AKI.
Tujuan K1 adalah:
1. Menjalin hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan klien
2. mendeteksi komplikasi-komplikasi/masalah yang dapat diobati sebelum
mengancam jiwa ibu
3. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia
karena (-) Fe atau penggunaan praktek tradisional yang merugikan
4. Memulai mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan.
Asuhan itu penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kalahiran
berjalan normal dan tetap demikian seterusnya.
5. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat
dan sebagainya) bertujuan untuk mendeteksi dan mewaspadai.
6. Memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya
dengan jalan menegakkan hubungan kepercayaan dengan ibu
7. Mengidentifikasi faktor risiko dengan mendapatkan riwayat detail
kebidanan masa lalu dan sekarang, riwayat obstetrik, medis, dan pribadi
serta keluarga.
8. Memberi kesempatan pada ibu dan keluarganya mengekspresikan dan
mendiskusikan adanya kekhawatiran tentang kehamilan saat ini dan
kehilangan kehamilan yang lalu, persalinan, kelahiran atau puerperium.
K1 mempunyai peranan penting dalam program kesehatan ibu dan anak yaitu sebagai
indikator pemantauan yang dipergunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan
antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat (Depkes RI,
2001).
Sedangkan K2 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester II (usia kehamilan 12 – 28 minggu) dan mendapatkan pelayanan 7T atau
10T setelah melewati K1.

Tujuan K2 adalah:
1. Menjalin hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan klien
2. mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa
3. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia
karena defisiensi Fe atau penggunaan praktek tradisional yang
merugikan
4. Memulai mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan.
Asuhan itu penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kalahiran
berjalan normal dan tetap demikian seterusnya
5. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat
dan sebagainya) bertujuan untuk mendeteksi dan mewaspadai.
6. Kewaspadaan khusus mengenai PIH (Hipertensi dalam kehamilan),
tanyakan gejala, pantau TD (tekanan darah), kaji adanya edema dan
protein uria.
7. Pengenalan koplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
8. Penapisan pre-eklamsia, gameli, infeksi, alat rerproduksi dan saluran
perkemihan.
9. Mengulang perencanaan persalinan.
K3 dan K4 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester III (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan dan
mendapatkan pelayanan 7T setelah melewati K1 dan K2.
Tujuan K4 adalah:
1. Sama dengan kunjungan I dan II
2. Palpasi abdomen
3. Mengenali adanya kelainan letak dan persentase yang memerlukan kehahiran RS.
4. Memantapkan persalinan Mengenali tanda-tanda persalinan.

2.4 Teori Motivasi


Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau
mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan
untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi
adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai
motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam
kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik
adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang
tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena
rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan
hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar
pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat
seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.
Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk
memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat
menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori
motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori
harapan,teori penetapan sasaran.
1. Teori Motivasi Maslow
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua
manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang
berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima
tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai
dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang
hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu
peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada
peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.

Aktualisasi diri
penghargaan
sosial
keamanan

Faali

• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)


• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari
bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan
orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan
mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui,
memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian,
keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri:
mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan
kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan
motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan.
Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni
minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat
dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan
tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus
bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.
2. Teori Motivasi Hezberg
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk
berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor
itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor
intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan,
termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi
lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator
memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk
didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb
(faktor intrinsik).
2.5.1. 2.5 Pengertian Diagram Fishbone

Diagram Fishbone sering juga disebut dengan istilah Diagram Ishikawa. Penyebutan
diagram ini sebagai Diagram Ishikawa karena yang mengembangkan model diagram
ini adalah Dr. Kaoru Ishikawa pada sekitar Tahun 1960-an. Mengapa diagram ini
dinamai diagram fishbone? Penyebutan diagram ini sebagai diagram fishbone karena
diagram ini bentuknya menyerupai kerangka tulang ikan yang bagian-bagiannya
meliputi kepala, sirip, dan duri.
Diagram fishbone merupakan suatu alat visual untuk mengidentifikasi,
mengeksplorasi, dan secara grafik menggambarkan secara detail semua penyebab
yang berhubungan dengan suatu permasalahan. Menurut Scarvada (2004), konsep
dasar dari diagram fishbone adalah permasalahan mendasar diletakkan pada bagian
kanan dari diagram atau pada bagian kepala dari kerangka tulang ikannya. Penyebab
permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya. Kategori penyebab permasalahan
yang sering digunakan sebagai start awal meliputi materials (bahan baku), machines
and equipment (mesin dan peralatan), manpower (sumber daya manusia), methods
(metode), Mother Nature/environment (lingkungan), dan measurement (pengukuran).
Keenam penyebab munculnya masalah ini sering disingkat dengan 6M. Penyebab
lain dari masalah selain 6M tersebut dapat dipilih jika diperlukan. Untuk mencari
penyebab dari permasalahan, baik yang berasal dari 6M seperti dijelaskan di atas
maupun penyebab yang mungkin lainnya dapat digunakan teknik brainstorming
(Pande &Holpp, 2001 dalam Scarvada, 2004).

Diagram Fishbone ini umumnya digunakan pada tahap mengidentifikasi


permasalahan dan menentukan penyebab dari munculnya permasalahan tersebut.
Selain digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan penyebabnya,
diagram fishbone ini juga dapat digunakan pada proses perubahan.

Scarvada (2004) menyatakan Diagram fishbone ini dapat diperluas menjadi diagram
sebab dan akibat (cause and effect diagram). Perluasan (extension) terhadap Diagram
Fishbone dapat dilakukan dengan teknik menanyakan “Mengapa sampai lima kali
(five whys)” (Pande & Holpp, 2001 dalam Scarvada, 2004).

2.5.2. Manfaat Diagram Fishbone

Diagram Fishbone dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan baik pada


level individu, tim, maupun organisasi. Terdapat banyak kegunaan atau manfaat dari
pemakaian Diagram Fishbone ini dalam analisis masalah. Manfaat penggunaan
diagram fishbone tersebut antara lain:

1. Memfokuskan individu, tim, atau organisasi pada permasalahan utama.


Penggunaan Diagram Fishbone dalam tim/organisasi untuk menganalisis
permasalahan akan membantu anggota tim dalam menfokuskan permasalahan
pada masalah prioritas.
2. Memudahkan dalam mengilustrasikan gambaran singkat permasalahan
tim/organisasi. Diagram Fishbone dapat mengilustrasikan permasalahan utama
secara ringkas sehingga tim akan mudah menangkap permasalahan utama.
3. Menentukan kesepakatan mengenai penyebab suatu masalah. Dengan
menggunakan teknik brainstorming para anggota tim akan memberikan sumbang
saran mengenai penyebab munculnya masalah. Berbagai sumbang saran ini akan
didiskusikan untuk menentukan mana dari penyebab tersebut yang berhubungan
dengan masalah utama termasuk menentukan penyebab yang dominan.
4. Membangun dukungan anggota tim untuk menghasilkan solusi. Setelah
ditentukan penyebab dari masalah, langkah untuk menghasilkan solusi akan lebih
mudah mendapat dukungan dari anggota tim.
5. Memfokuskan tim pada penyebab masalah. Diagram Fishbone akan memudahkan
anggota tim pada penyebab masalah. Juga dapat dikembangkan lebih lanjut dari
setiap penyebab yang telah ditentukan.
6. Memudahkan visualisasi hubungan antara penyebab dengan masalah. Hubungan
ini akan terlihat dengan mudah pada Diagram Fishbone yang telah dibuat.
7. Memudahkan tim beserta anggota tim untuk melakukan diskusi dan menjadikan
diskusi lebih terarah pada masalah dan penyebabnya.
2.5.3. Langkah-langkah dalam Penyusunan Diagram Fishbone

Langkah-langkah dalam penyusunan Diagram Fishbone dapat dijelaskan sebagai


berikut:

1. Membuat kerangka Diagram Fishbone. Kerangka Diagram Fishbone meliputi


kepala ikan yang diletakkan pada bagian kanan diagram. Kepala ikan ini nantinya
akan digunakan untuk menyatakan masalah utama. Bagian kedua merupakan
sirip, yang akan digunakan untuk menuliskan kelompok penyebab permasalahan.
Bagian ketiga merupakan duri yang akan digunakan untuk menyatakan penyebab
masalah. Bentuk kerangka Diagram Fishbone tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:
2. Merumuskan masalah utama. Masalah merupakan perbedaan antara kondisi yang
ada dengan kondisi yang diinginkan (W. Pounds, 1969 dalam Robbins dan
Coulter, 2012). Masalah juga dapat didefinisikan sebagai adanya kesenjangan
atau gap antara kinerja sekarang dengan kinerja yang ditargetkan. Masalah utama
ini akan ditempatkan pada bagian kanan dari Diagram Fishbone atau ditempatkan
pada kepala ikan. Berikut contoh rumusan masalah utama.
a. Masalah pada lembaga diklat

Rendahnya kualitas lulusan diklat.

Rendahnya kualitas pelayanan kepada peserta diklat, dan lain-lain.

b. Masalah pada Bank

Panjangnya antrian di kasir atau customer service.

Tingginya tingkat kredit macet, dan lain-lain.

c. Kantor Pajak

Tidak tercapainya target penerimaan pajak.

Rendahnya kualitas layanan, dan lain-lain

3. Langkah berikutnya adalah mencari faktor-faktor utama yang berpengaruh atau


berakibat pada permasalahan. Langkah ini dapat dilakukan dengan teknik
brainstorming. Menurut Scarvada (2004), penyebab permasalahan dapat
dikelompokkan dalam enam kelompok yaitu materials (bahan baku), machines
and equipment (mesin dan peralatan), manpower (sumber daya manusia),
methods (metode), Mother Nature/environment (lingkungan), dan measurement
(pengukuran). Gaspersz dan Fontana (2011) mengelompokkan penyebab masalah
menjadi tujuh yaitu manpower (SDM), machines (mesin dan peralatan), methods
(metode), materials (bahan baku), media, motivation (motivasi), dan money
(keuangan). Kelompok penyebab masalah ini kita tempatkan di Diagram
Fishbone pada sirip ikan.
4. Menemukan penyebab untuk masing-masing kelompok penyebab masalah.
Penyebab ini ditempatkan pada duri ikan. Berikut disajikan contoh penyebab
masalah rendahnya kualitas lulusan diklat.
a. Kelompok SDM.

Misalnya masalah SDM terkait dengan tenaga pengajar. Penyebab dari


unsur tenaga pengajar ini adalah rendahnya kompetensi tenaga pengajar.
Terdapat beberapa pengajar yang tidak sesuai dengan bidangnya.

b. Kelompok Material.

Terkait dengan diklat, penyebab bahan baku yang kurang baik adalah
pertama kualitas kurikulum yang kurang baik. Kedua, bahan ajar banyak
yang kurang update dengan perkembangan organisasi. Ketiga, tidak ada
rencana pembelajaran dalam bentuk program pengajaran dan Satuan Acara
Pembelajaran.

c. Kelompok mesin dan peralatan.

Penyebab masalah dari sisi mesin dan peralatan ada tiga yaitu kurang
nyamannya ruangan kelas, tidak adanya ruangan untuk praktik, dan banyak
komputer dan proyektor yang rusak.
d. Kelompok method.
Penyebab masalah dari sisi metode adalah kurangnya inovasi dalam model
pembelajaran.
Penyebab masalah ini dapat dirinci lebih lanjut dengan mencari penyebab
dari penyebab masalah tersebut. Pendalaman lebih lanjut dari penyebab
masalah ini dapat dilakukan sampai dengan lima level. Dapat digunakan
metode Five Whys untuk pendalaman penyebab masalah ini.
5. Langkah selanjutnya setelah masalah dan penyebab masalah diketahui, kita dapat
menggambarkannya dalam Diagram Fishbone. Contoh Diagram Fishbone berikut
terkait dengan permasalahan rendahnya kualitas lulusan diklat seperti yang telah
dijelaskan di atas.
BAB III
ANALISA KASUS

3.1 Kausa dan Alternatif Kausa

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang terjadi disebabkan oleh berbagai macam
faktor. Secara sistematis dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Faktor yang berkaitan langsung dengan ibu hamil (ekstrernal)
2. Faktor pelayanan kesehatan (internal)
A. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang disebabkan oleh ibu hamil itu sendiri sehingga
terjadi kematian terhadap dirinya.
1. Kunjungan K4 yang rendah
K4 yaitu Kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan untuk mendapatkan
pelayanan antenatal, yang terdiri atas minimal 1 kali kontak pada trimester pertama,
satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan K4 di
bawah 60% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun)
menunjukkan kualitas pelayanan antenatal yang belum memadai. Rendahnya K4
menunjukkan rendahnya kesempatan untuk menjaring dan menangani risiko tinggi
obstetric. Dengan tingginya cakupan K4 di Puskesmas diharapkan dapat
menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Dalam upaya pencapaian cakupan K4
tersebut diperlukan petugas atau bidan, sarana, dan pelayanan antenatal yang
berkualitas.
Efektifitas pelayanan antenatal tidak hanya diukur berdasarkan dari keberhasilan
cakupan K4 saja tetapi perlu keteraturan dalam melakukan kunjungan, agar
informasi yang penting bagi ibu hamil dapat tersampaikan.
Semakin rendahnya kunjungan K4 seorang ibu hamil terhadap kehamilannya akan
meningkatkan resiko terjadi kematian.

2. Penjagaan kesehatan yang kurang baik

Seorang ibu hamil harus menjaga kesehatan diri dan kandungannya. Gizi dan
nutrisi ibu hamil merupakan hal penting yang harus dipenuhi selama kehamilan
berlangsung. Resiko akan kesehatan janin yang sedang dikandung dan ibu yang
mengandung akan berkurang jika ibu hamil mendapatkan gizi dan nutrisi yang
seimbang. Oleh karena itu, keluarga dan ibu hamil haruslah memperhatikan
mengenai hal ini. Gizi atau nutrisi ibu hamil kondisinya sama saja dengan
pengaturan gizi mengenai pola makan yang sehat. Hanya saja, ibu hamil harus lebih
hati-hati dalam memilih makanan karena mengingat juga kesehatan janin yang
sedang dikandungnya.

3. Pendidikan yang rendah


Pendidikan dan pengetahuan yang baik akan menghasilkan kualitas hidup yang baik
pula. Pengetahuan bisa didapatkan dari berbagai sumber dan bersifat aktif dan pasif.
Aktif jika subjek atau host itu sendiri yang berusaha mencari tahu berbagai
informasi pengetahuan untuk kesejahteraan hidupnya. Sedangkan dikatakan pasif
jika subjek atau host tersebut menerima informasi pengetahuan tersebut dari orang
lain melalui berbagi media penyampaian, baik itu melalui penyyuluhan atau
seminar atau pendekatan terpadu lainnya.
Dari pengetahuan yang didapat, subyek atau host tersebut akan menerapkan
pengetahuan atau informasi tersebut kedalam kehidupannya.
Pendidikan berperan penting dalam penurunan AKI karena berkaitan dengan
pengetahuan kesehatan ibu. Hasil Audit Maternal Perinatal (AMP) menunjukkan
bahwa kematian ibu lebih banyak terjadi pada ibu dengan karakteristik pendidikan
di bawah sekolah lanjutan pertama (SLP).
Faktor pendidikan terutama pendidikan ibu, berpengaruh sangat kuat terhadap
kelangsungan hidupnya. Dengan pendidikan tinggi, membuat ibu mampu
memanfaatkan dunia modern yaitu pengetahuan tentang fasilitas dan perawatan
kesehatan modern, serta mampu berkomunikasi dengan aparat para medis. Di
samping itu pendidikan wanita dapat mengubah keseimbangan kekuasaan
tradisional di keluarga, karena budaya paternalistik yang membenarkan dominasi
laki-laki dalam pengambilan keputusan sering mengakibatkan ibu hamil terlambat
dibawa ke rumah sakit.
Tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan masyarakat menyebabkan
keterlambatan-keterlambatan sebagai berikut:
1. Terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan untuk
segera mencari pertolongan
2. Terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu
memberikan pertolongan persalinan
3. Terlambat memperoleh pertolongan yang memadai di fasilitas pelayanan
kesehatan.

4. Ekonomi yang rendah


Masalah kemiskinan masih merupakan tantangan utama di dalam upaya
melaksanakan pembangunan di banyak negara berkembang termasuk Indonesia.
Kemiskinan biasanya disertai dengan pengangguran, kekurangan gizi, kebodohan,
status wanita yang rendah, rendahnya akses ke pelayanan sosial dan kesehatan,
termasuk pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Faktor-faktor
ini memberikan kontribusi terhadap tingginya fertilitas, morbiditas dan mortalitas,
serta rendahnya produktivitas. Kemiskinan juga mempunyai hubungan yang
sangat erat dengan distribusi penduduk yang tidak merata dan ketidakberlanjutan
sumber-sumber alam yang tersedia, seperti tanah dan air, dan terhadap kerusakan
lingkungan yang serius.
Kemiskinan mengakibatkan rendahnya akses masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang besar pada penggunaan
tenaga kesehatan terlatih sebagai penolong persalinan menurut kelompok
ekonomi. Sebanyak 89,2% ibu dari kelompok ekonomi tinggi melahirkan dengan
pertolongan tenaga kesehatan, dibandingkan dengan 21,3% dari kelompok
ekonomi rendah Hal ini menggambarkan adanya ketimpangan dalam akses
finansial untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan dalam distribusi
tenaga yang bermutu.
Hasil Audit Maternal Perinatal (AMP) menunjukkan bahwa salah satu penyebab
kematian ibu lebih banyak terjadi pada ibu dengan karakteristik kemampuan
membayar biaya pelayanan persalinan rendah dan melakukan persalinan di
rumah.
Oleh karenanya penting untuk melakukan upaya relokasi dana yang
menguntungkan kelompok ekonomi rendah, mengingat bahwa kematian ibu
menurun dengan penggunaan tenaga kesehatan terlatih pada persalinan.

5. Budaya
Pengaruh budaya setempat masih sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan
ibu dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ibu. Contoh: budaya
Indonesia mengutamakan kepala keluarga untuk mendapat makanan bergizi, dan
ibu hamil hanya sisanya.
Pada kasus kematian ibu akibat perdarahan, faktor budaya yang berpengaruh
terhadap tingginya angka kematian ibu adalah kecenderungan bagi ibu di
perdesaan dan keluarga miskin untuk melahirkan dengan bantuan dukun beranak,
bukan dengan bantuan petugas medis yang telah disediakan. Ada pula tradisi suku
tertentu yang mengharuskan ibu nifas ditempatkan dalam suatu tempat yang dapat
dikatakan kurang higienis. Sehingga memicu terjadinya peningkatan Angka
Kematian Ibu.

B. Faktor Internal
Faktor internal ialah faktor yang disebabkan oleh pelayanan kesehatan, sehingga Angka
Kematian Ibu (AKI) masih tinggi.
1. Kelangkaan tenaga medis
Salah satu kendala utama dalam penurunan AKI dan AKB adalah terbatasnya
ketersediaan dokter spesialis obstetric-ginekologi, dokter spesialis kesehatan anak,
dan tenaga paramedis pendukung dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak,
khususnya dalam penanganan kasus gawat darurat kebidanan. Banyak kasus
kegawatdaruratan kebidanan akhirnya tidak tertangani sehingga menyebabkan
kematian baik ibu dan atau anak karena kelangkaan tenaga kesehatan tersebut.

2. Motivasi kerja tenaga medis yang rendah


Motivasi kerja tenaga medis yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan keengganan seorang ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya.
Pegawai kesehatan yang memiliki motivasi kerja yang rendah akan melakukan
tugasnya dengan setengah hati, sehingga aspek kepuasan pasien, dalam hal ini ibu
hamil, tidak terpenuhi. Dengan demikian, akan semakin jarang pula seorang ibu
bersedia untuk memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas, dan akan berdampak
secara tidak langsung terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) yang semakin
meningkat.
3. Fasilitas kesehatan yang belum memadai
Fasilitas kesehatan pada Puskesmas di daerah-daerah yang masih tergolong
daerah tertinggal, akan menjadi salah satu penyebab Angka Kematian ibu (AKI)
yang tinggi. Dalam situasi gawat darurat, jika ada seorang ibu yang membutuhkan
penanganan sesegera mungkin, maka akan dibutuhkan fasilitas yang memadai
untuk penanganannya.
BAB IV
PEMBAHASAN
Dengan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih tinggi terjadi, beberapa pendekatan yang dapat
dilakukan untuk menanggulanginya adalah sebagai berikut:

5.1 Pendekatan Melalui Konsep Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh tenaga medis untuk
mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui usaha-
usaha pengorganisasian masyarakat (Notoatmodjo ,2003) untuk:

1. Perbaikan sanitasi lingkungan


2. Pemberantasan penyakit – penyakit menular

3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan

4. Pengorganisasian layanan – layanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini


dan perawatan
5. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan
hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.

Adapun upaya – upaya yang termasuk kedalam ranah garapan seorang ahli kesehatan
masyarakat antara lain :

1. Pemberantasan penyakit menular dan tidak menular.


2. Pemberantasan vektor.

3. Perbaikan sanitasi lingkungan

4. Perbaikan gizi masyarakat.

5. Pendidikan kesehatan masyarakat.

6. Pelayanan kesehatan ibu dan anak.

7. Pengawasan sanitasi tempat umum.

8. Mengelola program dan pelayanan kesehatan.

9. Pengawasan makanan, minuman, dan obat.

10. Membina kesehatan pekerja dan tempat kerja.

11. Mengadvokasi kebijakan berwawasan kesehatan.

12. Megelola data – data kesehatan.

13. Melakukan surveilans epidemiologi.

14. Mengorganisasikan dan memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu


melakukan hidup sehat.
A. Pembinaan gizi pada ibu hamil
1. Memberikan pendidikan gizi kepada ibu hamil.
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan ibu hamil :
a. Pemeriksaan kesehatan umum
b. Pemeriksaan kehamilan dan nifas
c. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan tablet besi
d. Imunitas TT (tetanus toksoid) untuk ibu hamil
e. Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare

B. Perawatan lingkungan
1. Memperhatikan Nutrisi Gizi Ibu Hamil
Nutrisi yang sehat dan bergizi bagi seorang ibu hamil adalah hal yang pertama
menjadi perhatian. Karena pasokan gizi yang baik dan sehat akan sangat
berpengaruh kepada ibu hamil sendiri dan kesehatan sang janin. Kita harus bisa
mengupayakan konsumsi ibu selalu bisa memenuhi kriteria empat sehat lima
sempurna serta juga gizi yang seimbang. Karena hal itu juga bisa menjadi cara
yang efektif untuk mencegah kematian ibu hamil yang disebabkan karena
adanya anemia, ataupun pendarahan pasca melahirkan.
2. Menjaga Kebersihan Lingkungan tempat tinggal Ibu Hamil
Kebersihan lingkungan sangat berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya
tingkat kesehatan termasuk juga dalam masa kehamilan. Lingkungan yang
kurang sehat akan bisa menjadi sarang berbagai macam bakteri serta virus yang
bisa menjadi salah satu penyebab infeksi komplikasi. Untuk itu memilih tempat
pelayanan kesehatan pada saat melahirkan juga perlu menjadi perhatian bagi
sang ayah ketika akan menentukan tempat bersalin bagi istri.
3. Mengenali Tanda Bahaya Kehamilan dan Persalinan.
Pentingnya mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan bagi seluruh
warga sehingga dapat mengambil tindakan dengan efektif.
4. Melakukan Vaksinasi Dalam Masa Kehamilan.
Manfaat imunisasi khususnya imunisasi ibu hamil ini adalah melindungi dari
terinfeksi penyakit yang mematikan dan juga infeksi yang bisa memberikan
pengaruh buruk kepada ibu dan janin.
5. Pemeriksaan Kesehatan Kehamilan Secara Rutin
Tujuan pemeriksaan ibu hamil adalah untuk bisa mengawasi pada saat-saat
proses kehamilan berlangsung sampai dengan masa persalinannya nanti. Dan
juga mendeteksi secara lebih awal kemungkinan buruk yang bisa terjadi selama
proses tersebut berjalan sehingga dengan adanya deteksi awal ini akan bisa
dilakukan pengobatan dan perawatan yang tepat dari tim kesehatan yang ada.
C. Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam
memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan
kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diaharapkan sebagian besar masalah kesehatan
masyarakat dapat teratasi. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan antara lain:

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan
perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh
pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi
dan anaknya.

a. Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan
perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program
pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif
dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4.

Cakupan K1 merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan


kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan
pelayanan antenatal.

Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang mendapatkan pelayanan


ibu hamil sesuai dengan stndar serta paling sedikit empat kali kunjungan,
dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan
dua kali pada trimester ketiga. Berdasarkan hasil Susenas 2004 secara nasional
90% ibu hamil telah memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Bila
ditinjau menurut daerah perkotaan dan pedesaan maka cakupan pemeriksaan ibu
hamil oleh tenaga kesehatan di perkotaan sebesar 95% dan di pedesaan 86%
(Badan Litbang Depkes,2005)

b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan


Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi
pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

c. Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk


Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa dan Puskesmas,
tidak semua kondisi kehamilan ibu baik-baik saja. Ada beberapa ibu hamil yang
tergolong dalam risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan
rujukan.

d. Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling
rentan atau memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan
yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kepada neonatus
(0-28 hari). Dalam pelayanan kesehatan neonatus, petugas selain melakukan
pemeriksaan kesehatan bayi juga memberikan konseling perawatan bayi kepada
ibu.

D. Peran Serta Tokoh Masyarakat


1. Membuat pertemuan dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan kader
mengenai pengetahuan tanda-tanda bahaya pada ibu hamil, ibu melahirkan, ibu
nifas, dan bayi komplikasi, agar tokoh masyarakat dapat membawa ibu ke bidan jika
ada komplikasi.
2. Membuat forum DTPS (District Team Problem Solving) di Kabupaten,serta
timpenurunan AKI/AKB di kecamatan (dengan Camat sebagai ketua serta Tokoh
Adat, Tokoh Agam, Tokoh Masyarakat, dan Dukun Bayi sebagai anggota).

4.2 Pendekatan Melalui Pengembangan organisasi

4.2.1 Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota (UPTD).
Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas
kesehatan kabupaten atau kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung
tombak pembangunan kesehatan di Indonesia (Sulastomo, 2007).
Puskesmas hanya bertanggung jawab untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan
yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota sesuai dengan
kemampuannya. Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan.
Tetapi apabila disatu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab
wilayah keja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah
(desa, kelurahan, RW), dan masing-masing puskesmas tersebut secara operasional
bertanggung jawab langsung kepada dinas kesehatan kabupaten/ kota (Sulastomo, 2007).
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya
kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Kecamatan sehat adalah gambaran
masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan,
yakni masyarakat yang hidup didalam lingkungan dengan perilaku sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata
serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi- tingginya (Sulastomo, 2007).
Puskesmas memiliki program – program yang ditujukan kepada ibu hamil yaitu:

PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar)


Merupakan pelayanan untuk menggulangi kasus-kasus kegawatdaruratan obstetric neonatal
yang meliputi segi:
1. Pelayanan obstetric : pemberian oksitosin parenteral, antibiotika perenteral dan
sedative perenteral, pengeluaran plasenta manual/kuret serta pertolongan
persalinan menggunakan vakum ekstraksi/forcep ekstraksi.
2. Pelayanan neonatal : resusitasi untuk bayi asfiksia, pemberian antibiotika
parenteral, pemberian antikonvulsan parenteral, pemberian bic-nat
intraumbilical/Phenobarbital untuk mengatasi ikterus, pelaksanaan thermal
control untuk mencegah hipotermia dan penganggulangan gangguan
pemberian nutrisi
Dalam pengembangan PONED harus melibatkan secara aktif pihak-pihak terkait, seperti :
1. Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
2. Rumah Sakit Kabupaten/ Kota
3. Organisasi Profesi : IBI. IDAI, POGI, IDI
4. Lembaga swadaya masyarakat (LSM)

PPGDON (Pertolongan Pertama pada kegawatdaruratan obstetric dan neonatal).


Kegiatannya adalah menyelamatkan kasus kegawatdaruratan kebidanan dan neonatal
dengan memberikan pertolongan pertama serta mempersiapkan rujukan. PPGDON
dilaksanakan oleh tenaga atau fasilitas kesehatan di tingkat desa dan sesuia dengan
kebutuhan dapat merujuk ke puskesmas mampu PONED atau rumah sakit.

PONEK (Pelayanan obstetric dan neonatal emergensi komprehensif)


Kegiatannya disamping mampu melaksanakan seluruh pelayanan PONED, di RS
kabupaten/kota untuk aspek obstetric , ditambah dengan melakukan transfusi dan bedah
sesar. Sedangkan untuk aspek neonatus ditambah dengan kegiatan PONEK (Pelayanan
obstetric dan neonatal emergensi komprehensif)
Kegiatannya disamping mampu melaksanakan seluruh pelayanan PONED, di RS
kabupaten/kota untuk aspek obstetric , ditambah dengan melakukan transfusi dan bedah
sesar. Sedangkan untuk aspek neonatus ditambah dengan kegiatan (tidak berarti perlu
NICU) setiap saat. PONEK dilaksanakan di RS kabupaten/kota dan menerima rujukan dari
oleh tenaga atau fasilitas kesehatan di tingkat desa dan masyarakat atau rumah sakit.

4.2.2 Posyandu ( Pos Pelayanan Terpadu)


Posyandu dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan dengan tujuan untuk mendekatkan
pelayanan kesehatan dasar, terutama KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare
kepada masyarakat setempat. Pendirian Posyandu ditetapkan dengan keputusan Kepala
Desa/Lurah. Pembentukan Posyandu bersifat fleksibel, dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan, permasalahan dan kemampuan sumber daya.

Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan. Secara
rinci kegiatan Posyandu adalah sebagai berikut:

A. Kegiatan Utama
1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
a. Ibu Hamil
Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup:
1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pengukuran
tekanan darah, pemantauan nilai status gizi (pengukuran lingkar lengan
atas), pemberian tablet besi, pemberian imunisasi Tetanus Toksoid,
pemeriksaan tinggi fundus uteri, temu wicara (konseling) termasuk
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB
pasca pesalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dibantu oleh kader.
Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas.
2) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselenggarakan
Kelas Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain sesuai
dengan kesepakatan. Kegiatan Kelas Ibu Hamil antara lain sebagai
berikut:
a) Penyuluhan: tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan,
persiapan menyusui, KB dan gizi
b) Perawatan payudara dan pemberian ASI
c) Peragaan pola makan ibu hamil
d) Peragaan perawatan bayi baru lahir
e) Senam ibu hamil

b. Ibu Nifas dan Menyusui


Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup:
1) Penyuluhan/konseling kesehatan, KB pasca persalinan, Inisiasi Menyusui
Dini (IMD) dan ASI eksklusif dan gizi.
2) Pemberian 2 kapsul vitamin A warna merah 200.000 SI (1 kapsul segera
setelah melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam setelah pemberian kapsul
pertama).
3) Perawatan payudara.
4) Dilakukan pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara,
pemeriksaan tinggi fundus uteri (rahim) dan pemeriksaan lochia oleh
petugas kesehatan. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke
Puskesmas.
c. Bayi dan Anak balita
Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilaksanakan secara
menyenangkan dan memacu kreativitas tumbuh kembangnya. Jika ruang
pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita
sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan
pengawasan orangtua di bawah bimbingan kader. Untuk itu perlu disediakan
sarana permainan yang sesuai dengan umur balita. Adapun jenis pelayanan yang
diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup:
1) Penimbangan berat badan
2) Penentuan status pertumbuhan
3) Penyuluhan dan konseling
4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,
imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan,
segera dirujuk ke Puskesmas.
2. Keluarga Berencana (KB)
Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diberikan oleh kader adalah pemberian
kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dapat
dilakukan pelayanan suntikan KB dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan
peralatan yang menunjang serta tenaga yang terlatih dapat dilakukan pemasangan
IUD dan implant.
3. Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan oleh petugas Puskesmas. Jenis
imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program terhadap bayi dan ibu hamil.
4. Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Jenis pelayanan yang diberikan
meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan
dan konseling gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) lokal, suplementasi vitamin
A dan tablet Fe. Apabila ditemukan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), balita
yang berat badannya tidak naik 2 kali berturut-turut atau berada di bawah garis merah
(BGM), kader wajib segera melakukan rujukan ke Puskesmas atau Poskesdes.
5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare
Pencegahan diare di Posyandu dilakukan dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu dilakukan melalui pemberian
oralit. Apabila diperlukan penanganan lebih

B. Kegiatan Pengembangan/Tambahan
Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu dengan kegiatan
baru, di samping 5 (lima) kegiatan utama yang telah ditetapkan. Kegiatan baru tersebut
misalnya: perbaikan kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit menular, dan berbagai
program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu yang seperti ini disebut
dengan nama Posyandu Terintegrasi.
Penambahan kegiatan baru sebaiknya dilakukan apabila 5 kegiatan utama telah
dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya di atas 50%, serta tersedia sumber daya
yang mendukung. Penetapan kegiatan baru harus mendapat dukungan dari seluruh
masyarakat yang tercermin dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) dan disepakati bersama
melalui forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).
Pada saat ini telah dikenal beberapa kegiatan tambahan Posyandu yang telah
diselenggarakan antara lain:
1) Bina Keluarga Balita (BKB).
2) Kelas Ibu Hamil dan Balita.
3) Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB),
misalnya: Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Demam Berdarah Dengue
(DBD), gizi buruk, Polio, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum.
4) Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
5) Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).
6) Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB – PLP).
7) Program diversifikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan,
melalui Taman Obat Keluarga (TOGA).
8) Kegiatan ekonomi produktif, seperti: Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga
(UP2K), usaha simpan pinjam.
9) Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas).
10) Kesehatan lanjut usia melalui Bina Keluarga Lansia (BKL).
11) Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).
12) Pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial.

Beberapa program baik yang disusun pemerintah maupun non-pemerintah juga dapat menjadi
solusi, beberapa diantaranya adalah:

4.2.3 Empat pilar Safe Motherhood


WHO mengembangkan konsep Four Pillars of Safe Motherhood untuk menggambarkan
ruang lingkup upaya penyelamatan ibu dan bayi (WHO, 1994). Empat pilar upaya Safe
Motherhood tersebut adalah keluarga berencana, asuhan antenatal persalinan bersih dan
aman, dan pelayanan obstetri esensial.
1. Keluarga berencana.
Konseling dan pelayanan keluarga berencana harus tersedia untuk semua pasangan
dan individu. Dengan demikian, pelayanan keluarga berencana harus menyediakan
informasi dan konseling yang lengkap dan juga pilihan metode kontrasepsi yang
memadai, termasuk kontrasepsi darurat. Pelayanan ini harus merupakan bagian dari
program komprehensif pelayanan kesehatan reproduksi. Program keluarga
berencana memiliki peranan dalam menurunkan risiko kematian ibu melalui
pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan, dan menjarangkan kehamilan.

2. Asuhan antenatal.
Dalam masa kehamilan:

 Petugas kesehatan harus memberi pendidikan pada ibu hamil tentang cara
menjaga diri agar tetap sehat dalam masa tersebut.
 Membantu wanita hamil serta keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran
bayi.
 Meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya risiko tinggi
atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan/ persalinan dan cara mengenali
komplikasi tersebut secara dini. Petugas kesehatan diharapkan mampu
mengindentifikasi dan melakukan penanganan risiko tinggi/komplikasi
secara dini serta meningkatkan status kesehatan wanita hamil.
3. Persalinan bersih dan aman. Dalam persalinan:
 Wanita harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara
menolong persalinan secara bersih dan aman.
 Tenaga kesehatan juga harus mampu mengenali secara dini gejala dan tanda
komplikasi persalinan serta mampu melakukan penatalaksanaan dasar terhadap
gejala dan tanda tersebut.
 Tenaga kesehatan harus siap untuk melakukan rujukan kom
plikasi persalinan yang tidak dapat diatasi ke tingkat pelayanan
yang lebih mampu.

4. Pelayanan obstetri esensial.


Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau
komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. Pelayanan
obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan ‘untuk
melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi
kehamilan/persalinan.

Secara keseluruhan, keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan


kesehatan primer. Dua di antaranya, yaitu asuhan ante-natal dan persalinan bersih
dan aman, merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. Sebagai
dasar/fondasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah
pemberdayaan wanita.

4.3 Pendekatan Melalui Konsep Pencegahan

Pencegahan terjadinya Angka Kematian Ibu yang lebih tinggi adalah dengan cara
meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk rutin melakukan Antenatal Care. Untuk dapat
mencapai standar perawatan antenatal yang harus dilakukan seorang ibu dapat dilakukan
upaya-upaya berikut:
1. Meningkatkan pelayanan kesehatan bertujuan agar masyarakat memiliki kedekatan dan
kenyamanan dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
Kegiatan yang dilakukan antara lain:
a. Pelayanan yang ramah kepada pengunjung fasilitas kesehatan sehingga
memunculkan kenyamanan bagi pengunjung.
b. Pengutamaan kesehatan tanpa mengesampingkan biaya kesehatan maksudnya
fasilitas kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan segera pada
kondisi darurat tanpa mempermasalahkan biaya karena sampai saat ini masih
banyak ditemukan kasus hilangnya nyawa karena terlambat mendapatkan
penanganan medis.
c. Biaya pelayanan kesehatan yang murah sehingga dapat dijangkau oleh berbagai
lapisan masyarakat.

2. Meningkatkan Jumlah Tenaga Kesehatan


Jumlah tenaga kesehatan sangat berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan
ibu dan anak, dalam hal ini ketersediaan tenaga bidan berpengaruh pada tingginya angka
kematian ibu dan bayi, terlebih masih banyak daerah-daerah terpencil yang belum
terjangkau oleh tenaga kesehatan sehingga masyarakat masih menggunakan tenaga dukun
yang tidak terlatih dalam persalinan. Dari data yang diperoleh desa-desa di Indonesia saat
ini membutuhkan 54 ribu bidan, sementara yang tersedia hanya 25,2 ribu atau 53 persen
dari yang dibutuhkan dan tidak tersebar merata diseluruh Indonesia karena masih banyak
bidan yang tidak mau di tempatkan pada daerah-daerah terpencil.

3. Meningkatkan jumlah tenaga kesehatan bertujuan agar rasio antara jumlah tenaga
kesehatan dan jumlah penduduk dapat seimbang sehingga dengan tercukupinya jumlah
tenaga kesehatan ini diharapkan tenaga kesehatan dapat menjangkau daerah-daerah yang
terpencil atau terisolasi.
Kegiatan yang dilakukan antara lain:
a. Peningkatan jumlah bidan dengan menyekolahkan atau meningkatkan mutu
pendidikan kebidanan
b. Pelatihan untuk dukun dan kader kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk
memperkecil biaya operasional dari pengadaan tenaga bidan. Dengan adanya
dukun dan keder terlatih maka kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil
atau terisolasi dapat dipenuhi karena biasanya dukun atau kader ini merupakan
penduduk daerah setempat.

4. Meningkatkan Jumlah Fasilitas Kesehatan


Meningkatkan jumlah dan fasilitas kesehatan dimaksudkan untuk kemudahan akses
masyarakat menuju tempat pelayanan kesehatan.

Kegiatan yang dilakukan antara lain:


a. Peningkatan jumlah puskesmas yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah yang
bersangkutan
b. Pembangunan atau pembentukan poskesdes di tiap desa yang tidak mempunyai
puskesmas
c. Peningkatan jumlah posyandu yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah yang
bersangkutan.
d. Peningkatan jumlah tempat praktek bidan sehingga jika terdapat kondisi darurat
seperti akan melahirkan di tengah malam, masyarakat dapat dengan mudah
menjangkau tempat persalinan.

4.4 Pendekatan melalui konsep penyuluhan


Untuk menekan Angka Kematian Ibu yang tinggi, harus rutin dilakukan penyuluhan
kepada masyarakat umum, khususnya bagi ibu hamil. Hal ini dilakukan agar masyarakat
paham dan siaga terhadap suatu kehamilan.
Berikut merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penyuluhan:
4.4.1 Media cetak
1. Booklet adalah suatu media menyampaikan pesan kesehatan dan bentuk buku,
baik tulisan maupun gambar
2. Leaflet, suatu media menyampaikan pesan kesehatan melalui lembaran yang
dilipat, dapat berupa kalimat atau gambar.
3. Flyer/selebaran ialah seperti leaflet tetapi tidak dilipat
4. Flipchart/ lembar balik : suatu media menyampaikan pesan kesehatan dalam
bentuk lembar balik, bentuk buku berisi gambar peragaan dan dibaliknya
berisi kalimat sebagai pesan atau informasi berkaitan dengan gambar tersebut.
5. Poster adalah bentuk media cetak berisi pesan-pesan/ informasi kesehatan
yang biasa ditempel ditembok-tembok, ditempat umum atau kendaraan umum.

4.4.2 Media elektronik


Media elektronik dapat berupa video, radio – tv, slide dan lain-lain.

4.4.3 Media papan/papan tulis


Papan tulis biasanya ditempel ditempat umum atau kelas.

4.4.4 Ceramah – Diskusi


Ceramah adalah salah satu cara dalam penyuluhan kesehatan dimana kita
menerangkan atau menjelaskan sesuatu dengan lisan disertai dengan Tanya jawab
(diskusi) kepada sekelompok pendengar, serta dibantu oleh beberapa alat peraga yang
dianggap perlu.
Ciri-ciri ceramah :
1. Ada sekelompok pendengar yang sudah dipersiapkan
2. Ada suatu ide yang akan disampaikan dengan lisan (uraian lisan)
3. Ada kesempatan bertanya bagi pendengar, yang harus dijawab oleh
penceramah.
4. Ada alat-alat peraga yang dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang sudah
dijelaskan.

4.4.5 Demonstrasi
Adalah suatu cara penyajian pengertian atau ide yang dipersiapkan dengan
teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara menjelaskan suatu prosedur. Cara
penyajian ini disertai dengan penjelasan-penjelasan lisan atau dengan
menggunakan alat peraga adan Tanya jawab. Dalam demonstrasi pelatih
menunjukkan, memepragakan dalam mengerjakan sesuatu hal atau kegiuatan,
misalnya:
1. Memilih sayuran yang baik yang mengandung vitamin A
2. Memperagakan pembuatan larutan gula garam
Catatan : dalam demonstrasi, pelatih mengerjakan dulu kemudian diikuti oleh peserta,
dan dalam memperagakan contoh atau bahan, pelatih diharapkan berdiri lebih dekat
dengan peserta.

4.4.6 Simulasi
Adalah suatu metode untuk menyiapkan situasi yang nyata dalam kelas
dimana peserta melakukan suatu kegiatan dalam keadaan yang mirip keadaan
sesungguhnya.
Misalnya : peserta bertindak sebagai seorang kader dalam rangka memberikan
penyuluhanperorangan kepada ibu balita, ibu hamil.
4.4.7 Bermain Peran
Bermain peran adalah bentuk sederhana dimana peserta memerankan suatu tokoh
tertentu dan berbuat seperti dalam kenyataan. Karena tidak ada scenario maka mereka
terpaksa berbuat sesuai dengan pendapatnya. Peserta kemudian mencoba mengambil
makna sandiwara untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

4.4.8 Curah Pendapat


Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan
metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaan pemimpin kelompok memancing
dengan satu masalah kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan
(cara pendapat). Tanggapan ditampung dengan ditulis pada papan tulis atau flipchart.
Sebelumnya tidak boleh diberi komentar apapun oleh siapapun, baru setelah semua
memberikan komentar tiap anggota dapat mengomentari akhirnya terjadilah diskusi.

4.5 Evaluasi Program


4.5.1 Puskesmas
Peran Puskesmas dalam mencegah peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah
dengan mengadakan PONED (Puskesmas Obstetri Neonatal Emergensi Dasar). PONED
adalah puskesmas rawat inap yang mampu menyelenggarakan pelayanan obstetri dan
neonatal emergensi/komplikasi tingkat dasar dalam 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Sedangkan kriteria untuk sebuah Puskesmas dapat melaksanakan PONED adalah:
a. Puskesmas rawat inap yang dilengkapi fasilitas untuk pertolongan
persalinan, tempat tidur rawat inap sesuai kebutuhan untuk pelayanan
kasus obstetri dan neonatal emergensi/komplikasi.
b. Letaknya strategis dan mudah diakses oleh Puskesmas/Fasyankes non
PONED dari sekitarnya.
c. Puskesmas telah mampu berfungsi dalam penyelenggaraan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) dan tindakan mengatasi kegawat-daruratan,
sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya serta dilengkapi dengan
sarana prasarana yang dibutuhkan.
d. Puskesmas telah dimanfaatkan masyarakat dalam/luar wilayah kerjanya
sebagai tempat pertama mencari pelayanan, baik rawat jalan ataupun rawat
inap serta persalinan normal.
e. Mampu menyelenggarakan UKM dengan standar.
f. Jarak tempuh dari lokasi pemukiman sasaran, pelayanan dasar dan
Puskesmas non PONED ke Puskesmas mampu PONED paling lama 1 jam
dengan transportasi umum mengingat waktu paling lama untuk mengatasi
perdarahan 2 jam dan jarak tempuh Puskesmas mampu PONED ke RS
minimal 2 jam
PONED dikatakan berhasil apabila dapat melaksanakan pelayanan-pelayanan sebagai
berikut:

1. Pelayanan obstetric : pemberian oksitosin parenteral, antibiotika perenteral dan


sedative perenteral, pengeluaran plasenta manual/kuret serta pertolongan
persalinan menggunakan vakum ekstraksi/forcep ekstraksi.
2. Pelayanan neonatal : resusitasi untuk bayi asfiksia, pemberian antibiotika
parenteral, pemberian antikonvulsan parenteral, pemberian bic-nat
intraumbilical/Phenobarbital untuk mengatasi ikterus, pelaksanaan thermal
control untuk mencegah hipotermia dan penganggulangan gangguan
pemberian nutrisi.
4.5.2 Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat. Posyandu dibutuhkan dalam penyelenggaraan pembangunan
kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian
ibu dan bayi. Keberhasilan Posyandu dapat dilihat dari:
1. Peningkatan gizi (terutama anemia gizi) terhadap ibu hamil
2. Terlaksananya imunisasi TT
3. Peningkatan kunjungan antenatal (ANC) meliputi K1 sampai K4
4. Penurunan prevalensi ibu hamil yang terkena anemia

4.5.3 Program Safe Motherhood


Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan menerima
perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. Program ini dikatakan berhasil
apabila dapat melaksanakan empat pilar Safe Motherhood dengan baik, yaitu:
1. Keluarga Berencana
2. Pelayanan antenatal
3. Persalinan yang aman
4. Pelayanan obstreti esensial

REKOMENDASI & SARAN

Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), kami memiliki beberapa rekomendasi dan saran
sebagai berikut:

5. Pengajuan proposal kenaikan gaji bagi pekerja Puskesmas kepada pemerintah.


6. Mendatangkan psikolog atau motivator untuk memberikan wejangan dan
motivasi bagi para pekerja medis.
7. Mengadakan kegiatan senam ibu hamil setiap bulan di Puskesmas, difasilitasi
oleh pegawai Puskesmas.
8. Bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat untuk mendata dan memonitor
ibu hamil di masing-masing wilayah.
9. Menggunakan sarana teknologi, berupa hotline telepon dan sms selama 24 jam
untuk pelayanan persalinan
DAFTAR PUSTAKA
http://midwiferymella.blogspot.com/2011/10/antenatal-care.html
http://puskesmasmantup.wordpress.com/2011/02/02/upaya-pencegahan-kematian-ibu-dan-bayi-di-
puskesmas-mantup/
http://dhikatuy.wordpress.com/2010/12/28/perencanaan-program-pencegahan-dan-penanggulangan-
kematian-ibu-dan-bayi-untuk-meningkatkan-kualitas-kesehatan-dan-sdm/
http://ilmugreen.blogspot.com/2012/07/poned-pelayanan-obstetri-neonatal.html
http://puskesmashalmahera.wordpress.com/program-dan-kegiatan/
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/viewFile/1157/933
http://www.mutukia-ntt.net/index.php/grand-design-pengembangan-sdm-klinik/95-grand-design-
pengembangan-sdm-klinik/155-a-pengantar
http://skripsi-manajemen.blogspot.com/2011/02/teori-motivasi-maslow-mcclelland.html
http://www.antaranews.com/berita/80389/who-penurunan-angka-kematian-ibu-belum-sesuai-target-mdgs
http://www.menkokesra.go.id/content/kematian-bumil-di-papua-barat-masih-tinggi
http://www.depkes.go.id/downloads/KUNKER%20BINWIL/32%20Ringkasan%20Eksekutif%20Prov
%20Papua%20Barat.pdf
http://www.indonesian-publichealth.com/2014/02/tujuan-pelayanan-antenatal-care-anc.html
http://halamanpapua.org/umum/pengantar/meninjau-masalah-kesehatan-di-papua/
http://www.depkes.go.id/downloads/Data%20Informasi%20Kesehatan%20Prov%20Papua.pdf
http://jurnalkesehatanmasyarakat.blogspot.com/2011/12/angka-kemtian-ibu.html
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/viewFile/1044/581
http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/downloads/2014/03/PEDOMAN-PUSKESMAS-
PONED-2013.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29988/4/Chapter%20II.pdf