Anda di halaman 1dari 15

PROGRAM PROFESI NERS

STIKES AMANAH MAKASAR

LP MINGGU KE 1

LAPORAN PENDAHULUAN
STROKE NON HEMORAGIK (SNH)

OLEH :

N.

PEMBIMBING:

CI KLINIK CI INSTITUSI

( ) ( )

PRAKTEK KLINIK NERS


STIKES AMANAH MAKASAR
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
STROKE NON HAEMORAGIC

A. PENGERTIAN
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang
jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000).
Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro
Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran
darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara
cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang
terganggu.(Harsono,1996)
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi
penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan deficit
neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi saraf otak (Sundoyo
Aru, dalam Aplikasi Nanda Nic Noc,2015).
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli dan
trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di
pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia
dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. (Arif Muttaqin, 2008).

B. ETIOLOGI
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu : Stroke Iskemik (Non Hemorrgik dan Stroke
Hemoragik).
1. Stroke Iskemik (Stroke Non Hemoragic) yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang
menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. 80% stroke
adalah stroke iskemik.
Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Stroke Trombotik : Proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
b. Stroke Embolik : Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
c. Hipoperfusion Sistemmik : Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh
karena danya gangguan denyut jantung.
2. Stroke Hemoragic adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah
otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragic terjadi pada penderita hipertensi.
a. Hemoragic intraserebral : pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak.
b. Hemoragic Subaraknoid : Pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid
(ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak).

Faktor-Faktor yang menyebabkan Stroke :


1. Faktor yang tidak dapat dirubah (Non Reversible)
- Jenis Kelamin : Pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita.
- Usia : makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke.
- Keturunan : Adanya riwayat keluarga yang terkena stroke
2. Faktor yang dapat dirubah (Reversible)
- Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang potensial. Hipertensi dapat
mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila
pembuluh darah otak pecah maka timbullah perdarahan otak dan apabila
pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan
sel – sel otak akan mengalami kematian.
- Penyakit Jantung
Berbagai penyakit jantung berpotensi untuk menimbulkan stroke. Faktor risiko ini
akan menimbulkan hambatan / sumbatan aliran darah ke otak karena jantung
melepas gumpalan darah atau sel – sel / jaringan yang telah mati ke dalam aliran
darah.
- Koleseterol tinggi
Meningginya angka kolesterol dalam darah, terutama low density lipoprotein
(LDL), merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya arteriosklerosis
(menebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian diikuti penurunan
elastisitas pembuluh darah). Peningkatan kadar LDL dan penurunan kadar HDL
(High Density Lipoprotein) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit
jantung koroner.
- Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung.
- Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus mampu menebalkan dinding pembuluh darah otak yang
berukuran besar. Menebalnya dinding pembuluh darah otak akan menyempitkan
diameter pembuluh darah dan penyempitan tersebut kemudian akan mengganggu
kelancaran aliran ke otak, yang pada akhirnya akan menyebabkan infark sel – sel
otak.
- Stress Emosional
3. Kebiasaan Hidup
- Merokok
- Peminum alcohol
- Obat-obatan terlarang
- Aktivitas yang tidak sehat : kurang olahraga, makanan berkolesterol

C. PATOFISIOLOGI
1. Trombosis.
Merupakan penyebab stroke yang paling sering, ditemukan 40 % pada semua
kasus stroke, biasanya ada kaitan dengan kerusakan lokal dinding pembuluh darah
akibat aterosklerosis.
Proses aterosklerosis ditandai oleh plak berlemak pada lapisan intima arteria
serebri menjadi tipis dan berserabut, sedangkan sel-sel ototnya menghilang. Lamina
elastika interna robek dan berjumbai, sehingga lumen pembuluh darah sebagian terisi
oleh materi sklerotik.
Tanda - tanda trombosis serebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang
tidak umum. Beberapa pasien dapat mengalami pusing, perubahan kognitif, atau
kejang, dan beberapa mengalami awitan yang tidak dapat dibedakan dari hemoragik
intraserebral atau embolisme serebral. Secara umum trombosis serebral tidak terjadi
dengan tiba - tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia, atau paralysis pada
setengah tubuh dan mendahului awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari.
2. Embolisme
Termasuk urutan kedua sebagai penyebab stroke. Penderita embolisme
biasanya lebih muda dibandingkan dengan penderita trombosis. Abnormalitas
patologik pada jantung kiri, seperti indokarditis infeksi, penyakit jantung reumatik,
Infark miokard, dan infeksi pulmonal, adalah tempat-tempat asal emboli. Pemasanagan
katup jantung prostetik dapat mencetuskan stroke, karena terdapat peningkatan insiden
embolisme setelah prosedur ini. Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah
atau cabang - cabangnya yang merusak circulari serebral. Awitan hemiparesis atau
hemiplegia tiba - tiba dengan atau tanpa afasia atau kehilangan kesadaran pad pasien
dengan penyakit jantung atau pulmonal adalah karakteristik embolisme serebral.
3. Perdarahan serebri
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus
GPDO (gangguan pembuluh darah otak) dan merupakan sepersepuluh dari semua
kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh ruptur ateri
serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan atau subaraknoid sehingga
Jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser dan tertekan.
D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu. Gejala-gejala itu
antara lain bersifat:
1. Sementara
Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri
dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA).
Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.
2. Sementara,namun lebih dari 24 jam
Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit
(RIND)
3. Gejala makin lama makin berat (progresif)
Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut
progressing stroke atau stroke inevolution
4. Sudah menetap/permanen
(Harsono,1996, )

E. KOMPLIKASI
1. Hemiparesis dan Hemiplagia
2. Afraksia
3. Afasia : sensorik, motorik, global
4. Disartia: kesulitan dalam berkata
5. Disfagia : sukar menelan
6. Perubahan penglihatan
7. Perubahan berpikir abstrak
8. Emosi labil
9. Inkontinensia

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) Pemeriksaan radiologi
1. CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau
menyebar ke permukaan otak (Linardi Widjaja, 1993)
2. MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik (Marilynn E.
Doenges, 2000)
3. Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau
malformasi vaskuler (Satyanegara, 1998)
4. Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat
pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis
pada penderita stroke (Jusuf Misbach, 1999)

b) Pemeriksaan laboratorium
1. Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada
perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor
masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama (Satyanegara, 1998)
2. Pemeriksaan darah rutin
3. Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula
darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun
kembali (Jusuf Misbach, 1999)
4. Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri.
(Linardi Widjaja, 1993)

G. PENATALAKSANAAN
1. Fase akut.
Pasien yang koma pada saat masuk rumah sakit mempunyai prognosis buruk,
sebaliknya pasien yang sadar penuh mempunyai hasil yang lebih baik. Fase akut
biasanya berakhir 48 sampai 72 jam. Untuk merawat keadaan akut perlu diperhatikan
faktor - faktor kritis sebagai berikut :
 Menstabilkan tanda - tanda vital.
 Mempertahankan saluran napas.
 Kendalikan tekanan darah sesuai dengan
keadaan masing-masing individu, termasuk usaha untuk memperbaiki hipotensi
maupun hipertensi.
 Deteksi dan memperbaiki Aritmia jantung..
 Menempatkan posisi penderita dengan baik
secepat mungkin ;
 Pasien ditempatkan pada posisi lateral atau
semi telungkup dengan kepala tempat tidur agak ditinggikan sampai tekanan
vena sereral berkurang.
 Penderita harus dibalik setiap jam dan latihan
gerakan pasif setiap 2 jam.
 Dalam beberapa hari dianjurkan untuk
dilakukan gerakan pasif penuh sebanyak 50 kali perhari : tindakan ini perlu
untuk mencegah tekanan pada daerah tertentu dan untuk mencegah kontraktur
terutama pada bahu, siku, dan mata kaki)

2. Penatalaksanaan Non Bedah.


Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi ;
a. Diuretic : untuk
menurunkan edema serebral.
b. Antikoagulan ; untuk mencegah
terjadi atau memberatnya trombosis atau embolisis.
c. Obat anti hipertensi; berikan jika
pasien denga riwayat hipertensi.
3. Bedah.
Untuk melakukan pembedahan pada penderita stroke sulit sekali untuk menentukan
penderita mana yang menguntungkan untuk dibedah. Tujuan utama pembedahan
adalah untuk memperbahiki aliran dara serebral.

H. PENCEGAHAN
1. Diet Rendah Lemak, garam, dan berhenti merokok
2. Kelola stress dengan baik
3. Mengontrol factor resiko strok
4. Mengetahui tanda dan gejala strokmencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
a) Pengkajian Primer
1. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat
kelemahan reflek batuk
2. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit
dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
3. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi
jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin,
sianosis pada tahap lanjut.
4. Disability
Klien dalam keadaan tidak sadar

b) Pengkajian Sekunder
1. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
- kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
- mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
- Perubahan tingkat kesadaran
- Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan
umum.
- gangguan penglihatan
2. Sirkulasi
Data Subyektif:
- Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,
endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif:
- Hipertensi arterial
- Disritmia, perubahan EKG
- Pulsasi : kemungkinan bervariasi
- Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

3. Integritas ego
Data Subyektif:
- Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
- Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
- kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi
Data Subyektif:
- Inkontinensia, anuria
- distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus
paralitik )
5. Makan/ minum
Data Subyektif:
- Nafsu makan hilang
- Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
- Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
- Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
- Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
- Obesitas ( factor resiko )
6. Sensori neural
Data Subyektif:
- Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
- nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
- Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
- Penglihatan berkurang
- Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka
ipsilateral ( sisi yang sama )
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah
laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral
)
- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/
kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global /
kombinasi dari keduanya.
- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral
7. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
- Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
8. Respirasi
Data Subyektif:
- Perokok ( factor resiko )
9. Keamanan
Data obyektif:
- Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
- Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
- Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
- Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
- Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang
kesadaran diri
10. Interaksi social
Data obyektif:
- Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi (Doenges E, Marilynn,2000)

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata
ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien
dapat ditanggulangi atau dikurangi.
1. Resiko perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kelemahan otot mengunyah dan menelan
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia
4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak.
5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegic.
6. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama
7. Gangguan menelan berhubungan dengan penurunan fungsi nervus atau hilangnya
refluks muntah
8. Resiko jatuh berhubungan dengan ketajaman penglihatan.
III. INTERVENSI
Tgl No DX Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
hasil
1 Tujuan : 1. Cek nadi perifer Untuk mengetahui tingkat
setelah dilakan tindakan
pada dorsalis pedis perkembangan klien
keperawatan selama 3 x 24
atau tibia posterior. sebagai pengukur
jam diharapkan perfusi
jaringan serebral
berangsur membaik Untuk mengetahui sebagai
2. Catat warna kulit
NOC :
pedoman pengukuran
Perfusi jaringan dan temperatur suhu
3.

Kriteria Hasil : 3. Jaga kehangatan Untuk mencegah adanya


1. Warna kulit normal. komplikasi lebih lanjut misal
atau suhu tubuh
2. Suhu kulit hangat.
3. Kekuatan fungsi otot. hipertermi
4. Tidak ada nyeri pada 4.
Kolaborasikan Agar tidak ada sumbatan
ekstremitas.
dengan dokter dalam pembuluh darah yang
pemberian obat dapat memperparah kondisi
pelancar peredaran
darah
2 Tujuan : NIC :
Setelah dilakukan tindakan Nutritional
keperawatan selama management
1. Untuk menghindari efek tak
1. Kaji adanya alergi
proses keperawatan
diinginkan
makanan
kondisi kurang nutrisi bisa 2.
berangsur teratasi Sebagai sarana memasukan
NOC :
Nutritional Status 2. Pasang NGT pada makanan sumber nutrisi
Kriteria Hasil 3.
pasien
1. Adanya peningkatan berat
Untuk meningkatkan kualitas
badan sesuai dengan
darah merah
tujuan
3. Anjurkan pasien
2. Peningkatan asupan 4.
untuk meningkat
makanan terpenuhi
3. Berat badan ideal sesuai intake Fe Untuk memperbaiki sel rusak
( berikan nutrisi sebagai nutrisi otot juga
dengan tinggi badan
4. Keluarga Mampu tinggi Fe ) 5.
4. Tingkatkan intake Untuk menjaga status gizi
mengidentifikasi
protein 6.
kebutuhan nutrisi
5. Tidak ada tanda-tanda Agar keluarga dan pasien
malnutrisi 5. Monitor Intake dan kooperatif dan mendukung
Output nutrisi tindakan
6. 7.
Berikan informasi Untuk menentukan diit tepat
tentang kebutuhan sehat untuk pasien
nutrisi

Kolaborasi dengan
ahli gizi
1. Untuk mengetahui
menentukan nutrisi
perkembangan
yang dibutuhkan 2. Agar status nutrisi terjaga
3. Untuk mengetahui tingkat
pasien
keberhasilan
Monitoring Nutrisi
1. Monitor turgor kulit

2. Monitor intake
nutrisi
3. Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
kondisi klien

3 Tujuan : 1. NIC : 1. Untuk mengurangi resiko


NOC : Exercise Terapy
cidera
Mobility Level
2. Untuk mengetahui kondisi
Kriteria Hasil : 1. Tempatkan pada
1. Keseimbangan klien
tempat tidur yang
3. Untuk memaksimalkan kerja
penampilan
aman
2. Mengerti tujuan dan motorik dan otot
2. Monitor TTV
meningkatkan mobilitas
sebelum dan 4. Sebagai terapi aktivitas fisik
3. Memposisikan tubuh
5. Untuk mencegah ulkus
4. Gerakan otot sesudah latihan
5. Gerakan sendi 3. Konsultasikandekubitus
6. Ambulansi jalan 6. Untuk memandirikan dan
dengan fisioterapi
7. Ambulansi kursi roda
keluarga lebih mengerti
Ket Skala: tentang rencana
1 : Dibantu total
ambulansi sesuai
2 : Memerlukanbantuan
kebutuhan
orang lain danalat
4. Berikan Range of
3 : Memerlukan orang lain
4 : Dapat melakukan Motion
5. Lakukan tirah
sendiri dengan bantuan
baring 2 jam sekali
alat
6. Ajarkan keluarga
5 : Mandiri
dan pasien
bagaimana cara
merobah posisi

4 Tujuan : NIC :
Setelah dilakukan tindakan Agar komunikasi jelas dan
Communication
keperawatan selama lancar
Enhancement
proses keperawatan 5 x 24
Speech derisit :
jam diharapkan 2. Agar mudah dimengerti
1. Minta bantuan
komunikasi berangsur
keluarga yang
membaik 3. Agar lebih jelas pembicaraan
mengerti tentang
KriteriaHasil :
diterima pasien
1. Gunakan komunikasi pembicaraan pasien.
4. Agar pasien mengerti
dengan menggunakan 2. Gunakan kata-kata 5. Agar lebih perhatian
tulisan tangan. yang sederhana dan
6. Untuk meningkatkan verbal
2. Gunakan bicara vokal.
kalimat pendek.
3. Gunakan foto dan gambar secara optimalnya
4. Gunakan kejelasan bicara.
3. Berdiri disamping
5. Gunakan bahasa
pasien ketika bicara.
1.
nonverbal.
4. Gunakan gerakan
isyarat.
5. Berbicara lebih
keras di akhir
kalimat.
6. Ajarkan pasien dan
motivasi untuk
belajar berbicara

5 Tujuan : NIC :
Setelah dilakukan tindakan Self care assistence
Untuk mengetahui tingkat
keperawatan selama Intervensi : kemampuan dan kebutuhan
1. Monitor kebutuhan
proses keperawatan klien
pasien untuk
diharapkan pasien
personal hygiene
berangsur angsur mampu 2. Agar pasien tetap terjaga
termasuk makan.
dan dapat melakukan kebersihan dirinya
Mandi, berpakaian,
3. Agar memandirikan pasien
personal higine
NOC : toileting. bisa dilatih
Self care : activity of daily
2. Ajarkan keluarga
4. Upaya peningkatan
living untuk melakukan
KriteriaHasil : kemandirian
personal higine
1. Makan secara mandiri 5. Agar upaya meningkatkan
2. Berpakaian terpenuhi pasien
kemandirian dalam higine
3. Mandi terpenuhi 3. Mandirikan
4. Kebersihan terjaga tercapai
aktivitas rutin untuk
Keterangan Skala :
perawatan diri jika
1 : Ketergantungan sudah mampu. 1.
4. Bantu pasien
2 : Membutuh kanbantuan
sampai pasien
orang lain dan alat
mampu berdiri.
3 : Membutuh kanbantuan
5. Ajarkan kepada
orang lain
anggota keluarga
4 : Mandiri dengan
untuk peningkatan
bantuan alat.
kemandirian
5 : Mandiri sepenuhnya

I. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan asuhan keperawatan ini merupakan realisasi dari rencana tindakan
keperawatan yang diberikan pada klien.
II. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah
kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan
anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan,
patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan
dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Wendra, 1999, Petunjuk Praktis Rehabilitasi Penderita Stroke, Bagian Neurologi
FKUI /RSCM,UCB Pharma Indonesia, Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC,
Jakarta.

Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan,


Edisi 3, EGC, Jakarta.

Harsono, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.

Hudak C.M.,Gallo B.M.,1996, Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI,


Volume II, EGC, Jakarta.

Juwono, T., 1996, Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek, EGC, Jakarta.

Rochani, Siti, 2000, Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan Perawat Bedah


Saraf Indonesia, Surabaya.

Susilo, Hendro, 2000, Simposium Stroke, Patofisiologi Dan Penanganan Stroke,


Suatu Pendekatan Baru Millenium III, Bangkalan.