Anda di halaman 1dari 27

TATA KELOLA ORGANISASI

SISTEM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

OLEH:
CHRESTELLA ZSE ZSE WIJAYA (1711023008)
WASHILATUL HUDA (1711023017)

DIV AKUNTANSI ALIH JENJANG

JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tugas kelompok ini yaitu
“Sistem Pengelolaan Keuangan Negara”. Penulisan makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas dalam perkuliahan mata kuliah Tata Kelola Organisasi.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat selesai
tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca demi
tercapainya hasil yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Padang, 22 Desember 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem administrasi keuangan negara diatur dengan berbagai ketentuan,
diantaranya UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun
2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Peranan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Sektor Publik
menjadi semakin signifikan. Dalam perkembangannya, APBN telah menjadi
instrumen kebijakan multi fungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan
bernegara. Hal tersebut terutama terlihat dari komposisi dan besarnya anggaran yang
secara langsung merefleksikan arah dan tujuan pelayanan kepada masyarakat. Oleh
karena itu, agar fungsi APBN dapat berjalan secara optimal, maka sistem anggaran
dan pencatatan atas penerimaan dan pengeluaran harus dilakukan dengan cermat dan
sistematis. Sebagai sebuah sistem, pengelolaan anggaran negara telah mengalami
banyak perkembangan. Dengan keluarnya tiga paket perundang-undangan di bidang
keuangan negara, yaitu UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, sistem
pengelolaan anggaran negara di Indonesia terus berubah dan berkembang sesuai
dengan dinamika manajemen sektor publik.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengangkat judul makalah
ini yaitu “Sistem Pengelolaan Keuangan Negara”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumusan masalah adalah:
a. Apa yang dimaksudkan dengan governance?
b. Bagaiamana siklus pengelolaan keuangan negara?
c. Apa yang dimaksud dengan kebijakan fiskal?
d. Bagaimana alur APBN ke daerah?
e. Apa saja jenis belanja negara dalam APBN (pusat dan daerah)?
f. Bagaimana alokasi Negara dalam APBN (pusat dan daerah)?

1.3 Tujuan Masalah


a. Mengetahui yang dimaksudkan dengan governance.
b. Mengetahui siklus pengelolaan keuangan negara.
c. Mengetahui maksud dari kebijakan fiskal.
d. Mengetahui alur APBN ke daerah.
e. Mengetahui jenis belanja negara dalam APBN (pusat dan daerah).
f. Mengetahui alokasi Negara dalam APBN (pusat dan daerah).
BAB DUA
PEMBAHASAN

2.1 Governance Dalam Keuangan Negara


Dalam penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan
secara profesional, terbuka, dan bertanggungjawab sesuai dengan aturan pokok yang
telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar. Sesuai dengan amanat Pasal 23 C
Undang-Undang Dasar, Undang-Undang tentang Keuangan Negara telah
menjabarkan aturan pokok yang ditetapkan Undang-Undang Dasar tersebut kedalam
asas-asas umum dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas tahunan, asas
umum, asas kesatuan, dan asas spesialisasi maupun asas-asas sebagai pencerminan.
Sejak terjadinya krisis moneter dan krisis kepercayaan yang mengakibatkan equality
perubahan dramatis pada tahun 1998, Indonesia telah memulai berbagai inisiatif yang
dirancang untuk mempromosikan good governance, akuntabilitas dan partisipasi
yang lebih luas. Good governance dipandang sebagai paradigma baru dan menjadi
ciri yang perlu ada dalam sistem administrasi publik.
Menurut doktrin ilmu hukum administrasi terdapat 13 asas-asas umum
pemerintahan yang baik (Good Governance), hal itu seperti yang pernah diungkapkan
Crince Le Roy dan ditambahkan oleh Kuntjoro Purbopranoto, yaitu: Asas kepastian
hukum (principle of legal security), Asas keseimbangan (principle of proporsioality),
Asas kesamaan (principle of equality), Asas bertindak cermat (principle of
carefulless), Asas motivasi untuk setiap keputusan pangreh (principle of motivation),
Asas jangan mencampur adukkan kewenangan (principle of non misuse of
competence), Asas permainan yang layak (principle of fairplay), Asas keadilan atau
kewajaran (principle of reasonableness or prohibition of arbitrariness), Asas
menanggapi pengaharapan yang wajar (principle of meeting raised expectation), Asas
meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal (principle of undoig the
consequences of annulled decision), Asas perlindungan atas pandangan hidup (cara
hidup) pribadi (principle of protecting the personal way of life), Asas kebijaksanaan
(sapientia), dan Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of public
service).
Sedangkan dalam aturan pokok keuangan negara sendiri telah dijabarkan
ke dalam asas-asas umum, yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal
dalam pengelolaan keuangan negara, yaitu: Asas tahunan, Asas universalitas, Asas
kesatuan, Asas spesialitas, Asas akuntabilitas, Asas profesionalitas, Asas
proporsionalitas, Asas keterbukaan dan Asas pemeriksaan keuangan.
Asas-asas umum tersebut diperlukan guna menjamin terselenggaranya
pengelolaan keuangan negara dalam rangka mewujudkan good governance. Asas-
asas umum pengelolaan keuangan negara pada dasarnya dijiwai oleh asas-asas umum
pemerintahan yang baik (good governance). Hal ini dapat dilihat dari adanya asas
akuntabilitas, proporsionalitas, profesionalitas, universalitas yang sesuai dengan
prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik, di mana pada asas-asas
good governance dikehendaki adanya prinsip bertindak cermat, jangan mencampur
adukkan kewenangan dan prinsip penyelenggaraan kepentingan umum. Karena pada
dasarnya adanya asas-asas umum pengelolaan keuangan negara yang baik bertujuan
untuk mewujudkan kepentingan umum, mensejahterakan kehidupan rakyat yang
berlandaskan pada perbuatan yang dapat dipertanggung jawabkan demi terciptanya
pemerintahan yang baik.

2.2 Siklus Pengeloalaan Keuangan Negara


Pengelolaan keuangan negara mengikuti ketentuan dalam undang-undang di bidang
keuangan negara. Anggaran pendapatan dan balanja Negara/Daerah (APBN/APBD)
yang dipresentasikan setiap tahun oleh eksekutif, memberi informasi rinci kepada
DPR/DPRD dan masyarakat tentang program-program apa yang direncanakan
pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, dan bagaimana
program tersebut dibiayai. rangkaian. Proses penyusunan anggaran ada empat
macam, yaitu:
a. Membantu pemerintah mencapai tujuan fisikal dan meningkatkan koordinasi
antar bagian dalam lingkungan pemerintah.
b. Membantu menciptakan efisien dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa
publik melalui proses pemrioritasan.
c. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritaskan belanja.
d. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada
DPR/DPRD dan masyarakat luas.

Siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas:


a. Tahap Persiapan Anggaran (Preparation)
Pada tahap persiapan anggaran dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar taksiran
pendapatan yang tersedia, terkait dengan masalah tersebut yang perlu diperhatikan
adalah sebelum menyetujui taksiran pengeluaran hendaknya terlebih dahulu
dilakukan penaksiran pendapatan secara akurat. Selain itu harus disadari adanya
masalah yang cukup berbahaya jika anggaran diestimasikan pada saat bersamaan
dengan pembuatan keputusan tentang anggaran pengeluaran.
Di Indonesia proses perencanaan APBD dengan paradigma baru menekankan
pada pendapatan bottom up plaining dengan tetap mengacu pada arah kebijakan
pembangunan pemerintah pusat. Arah kebijakan pembangunan pemerintahan pusat
tertuang dalam dokumen perencanaan berupa GBHN, program pembangunan
nasional (PROPENAS), rencana strategis (RENDTRA), dan rencana pembangunan
tahunan (REPETA). Sinkronisasi perencanaan pembangunan yang digariskan oleh
pemerintah pusat dengan perencanaan pembangunan daerah secara spesifikasi diatur
dalam peraturan pemerintah No. 105 dan 108 tahun 2000. Pada pemerintah pusat,
perencanaan pembangunan dimulai dari penyusunan PROPENAS yang merupakan
operasionallisasi GBHN. PROPENAS tersebut kemudian dijadikan dalam bentuk
RENSTRA. Berdasarkan PROPONAS dan RENSTRA serta analisis fiskal dan makro
ekonomi, kemudian dibuat persiapan APBN dan REPETA.
Sementara itu, ditingkat daerah (propinsi dan kabupaten/kota) berdasarkan
ketentuan peraturan pemerintah No.108 tahun 2000 pemerintah daerah disaratkan
untuk membuat dokumen perencanaan daerah yang terdiri atas PROPEDA
(RENSTRADA). Dokumen tersebut diupayakan tidak menyimpang dari
PROPENAS dan RENSTRA yang dibuat pemerintah pusat. Dalam PROPEDA
dimungkinkan adanya penekana prioritas program pembangunan antara daerah yang
satu dengan yang lain sesuai dangan kebutuhan masing-masing daerah. PROPEDA
(RENSTRADA) dibuat oleh pemerintah daerah bersama-sama dengan DPRD dalalm
kerangka waktu 5 tahun yang kemudian dijabarkan pelaksanaannya dalam kerangka
tahunan. Rincian RENSTRADA untuk setiap tahunnya akan digunakan sebagai
masukan dalam penyusunan REPETEDA dan APBD.
Berdasarkan RENSTRADA yang telah dibuat serta analisis fisikal dan ekonomi
daerah, menurut ketentuan PP no. 105 tahun 2000 pemerintah daerah bersama-sama
dengan DPRD menetapkan arah dan kebijakan umum APBD, setelah itu pemerintah
daerah menetapkan strategi dan prioritas APBD. REPERTADA memuat program
pembangunan daerah secara menyeluruh dalam satu tahun. REPETADA juga
memuat indikator kinerja yang terukur untuk jangka waktu satu tahun. Pendekatan ini
diharapkan roakan lebih memperjelas program kerja tahunan pemerintah daerah,
termasuk sasaran yang ingin dicapai dan kebijakan yang akan ditempuh untuk
mencapai sasaran tersebut. Proses perencanaan arah dan kebijakan pembangunan
daerah tahunan (REPETADA) dan rencana anggaran tahunan (APBDD) pada
hakekatnya merupakan perencanaan instrument kebijakan publik sebagai upaya
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. APBD menunjukan implikasi anggaran
dari REPETEDA yang telah dibuat. Dengan demikian REPETEDA merupakan
kerangka bagi penyedian dana dalam APBD.

b. Tahap Ratifikasi (Aprofal/Ratification)


Tahap berikutnya dalah budget rativication. Tahap ini merupakan tahap yang
melibatkan proses politik yang cukup rumit. Pimpinan eksekutif dituntut tidak hanya
memiliki “managerial skill” namun juga harus mempuyai “political skill, salesman
ship, dan coalition bulding” yang memadai supaya dia bisa meberikan argument-
argument dan bisa menjawab pertayaan yang timbul dari pihak legislatif.
c. Tahap Implemetasi (Implementation)
Setelah anggaran disetujui oleh legislatif, tahap berikutnya adalah pelaksanaan
anggaran. Dalam tahap pelaksanaan aggaran, hal terpenting yang harus
diperhatikan oleh manejer keuangan publik adalah dimilikinya sistem informasi
akuntansi dan sistem pengendalian menajemen. Menejer keungan publik dalam
hal ini bertanggung jawab untuk menciptakan sistem akauntansi yang handal
untuk perencanaan dan pengendalian anggaran yang telah disepakati, dan bahkan
dapat diandalkan untuk tahap penyesuaian anggaran periode berikutnya. Sistem
akuntansi yang baik meliputi pula sistem pengendalian interen yang memadai.

d. Tahap Pelaporan dan Evaluasi (Reporting Evalution)


Tahap terakhir dari siklus anggaran adalah pelaporan dan evaluasi anggaran.
Tahap persiapan rativikasi ,dan implementasi anggaran terkait dengan aspek
operasional anggaran, sedangkan tahap pelaporan dan evaluasi terkait dengan
aspek akuntabilitas. Jika tahap implementasi telah didukung dengan sistem
akuntansi dan sistem pengendalian manajemen yang baik, maka diharapkan
tahap butget reporting and evaluation barjalan dengan baik.Siklus pengelolaan
keuangan negara tidak terlepas dengan fungsi-fungsi manajemen yang dikenal
selama ini. Dalam suatu organisasi, pada dasarnya manajemen dapat diartikan
suatu proses yang melibatkan orang-orang untuk menentukan,
menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan
dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan
dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling). Begitupula dalam
pengelolaan keuangan negara, fungsi manajemen tersebut diwujudkan dalam
siklus pengelolaan keuangan negara yang terdiri dari: perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan anggaran/perbendaharaan, akuntansi, pemeriksaan
dan pertanggungjawaban.
2.3 Kebijakan Fisikal
Kebijakan fiskal (fiscal policy) adalah kebijakan pemerintah dalam mengatur
pengeluaran dan pendapatan negara sebagai langkah untuk menciptakan kesempatan
kerja yang luas tanpa inflasi. Subjek kebijakan fiskal adalah penerimaan dan
pengeluaran pemerintah dengan segala aspeknya termasuk aspek hukum, aspek
politik, dan lain-lain. Instrumen yang digunakan dalam kebijakan fiskal adalah berupa
perpajakan termasuk pajak umum, retribusi dan sumbangan, subsidi termasuk
bantuan penggunaan kekayaan negara, kebijakan pengeluaran atau percetakan uang
negara, kebijakan utang negara, dan kebijakan transfer.

2.3.1 Tujuan Kebijakan Fiskal


Adapun tujuan dari berlangsungnya kebijakan fiskal adalah:
a. Mencapai stabilitas perekonomian
b. Memacu dan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi
c. Memperluas dan menciptakan lapangan kerja
d. Menciptakan terwujudnya keadilan social bagi masyarakat
e. Mewujudkan pendistribusian dan pemerataan pendapatan
f. Mencegah pengangguran dan menstabilkan harga

2.3.2 Jenis-jenis Pembiayaan Kebijakan Fiskal


Perkembangan selanjutnya kebijakan fiskal dapat dibedakan dalam empat macam atas
dasar:
a. Pembiayaan Fungsional (Functional Expenditure)
Pembiayaan fungsional adalah penyesuaian anggaran negara dengan cara
menentukan biaya pengeluaran pemerintah dengan sedemikian rupa, sehingga
tidak mempengaruhi pendapatan negara secara langsung.
b. Pengelolaan Anggaran (The Managed Budget Approach)
Pengelolaan anggaran adalah mengatur dan mengoptimalkan segala
pengeluaran, hutang pemerintah maupun perpajakan milik pemerintah, demi
tercapainya perekonomian yang stabil.
c. Stabilisasi Anggaran Otomatis (The Stabilizing Budget)
Stabilitas anggaran otomatis adalah langkah penghematan anggaran negara
dengan cara mengatur kebijakan pengeluaran dengan mempertimbangkan
manfaat dan besarnya biaya berbagai program pemerintah yang direncanakan.
d. Anggaran Belanja Seimbang (Balanced Budget Approach)
Anggaran belanja seimbang adalah penyesuaian anggaran negara dengan cara
menyesuaikan antara anggaran tersedia dengan keadaan realita. Tujuannya
adalah untuk mencapai anggaran berimbang dalam jangka panjang.

2.3.3 Macam-macam Kebijakan Fiskal Berdasarkan Jumlah Penerimaan dan


Pengeluaran Anggaran
Macam-macam kebijakan fiskal berdasarkan jumlah penerimaan dan pengeluaran
anggaran terbagi sebagai berikut:
a. Kebijakan Anggaran Seimbang
Kebijakan anggaran seimbang adalah suatu kebijakan anggaran pemerintah
dalam menyusun dan merealisasikan jumlah pendapatan pemerintah sama
dengan jumlah pengeluaran pemerintah. Kelebihan kebijakan ini adalah negara
tidak membutuhkan lagi pinjaman baik dari dalam maupun luar negeri,
sedangkan kelemahannya dari kebijakan ini adalah jika keadaan perekonomian
negara kurang sehat akan berakibat pada perekonomian yang semakin
memburuk.
b. Kebijakan Anggaran Surplus
Kebijakan anggaran surplus adalah suatu kebijakan anggaran yang julah
realisasi pendapatan atau penerimaan negara lebih besar dibandingkan
pengeluaran. Dana sisa pengeluaran negara tersebut bisa disimpan untuk
mengatasi inflasi di kemudian hari.
c. Kebijakan Anggaran Defisit
Kebijakan anggaran defisit adalah suatu kebijakan anggaran yang jumlah
realisasi pengeluarannya lebih besar dibandingkan pemasukan. Kebijakan ini
dilakukan untuk menekan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang
sedang lesu, namun kebijakan ini membuat pemerintah mengalami kekurangan
anggaran. Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan ini sejak tahun
2000.
d. Kebijakan Anggaran Dinamis
Kebijakan anggaran dinamis adalah suatu kebijakan anggaran, di mana jumlah
jumlah realisasi pendapatan negara sama dengan realisasi pengeluaran negara
dan lama kelamaan jumlah keduanya semakin bertambah.

2.4 Alur APBN ke Daerah

Gambar 2.1: Alur Belanja APBN ke Daerah

APBN memiliki 4 siklus, yaitu :


1. Tahap penyusunan dan penetapan
2. Tahap pelaksanaan
3. Tahap pengawasan pelaksanaan
4. Tahap pertanggungjawaban
Adapun penjelasan dari keempat siklus tersebut adalah:
1. Tahap Penyusunan dan Penetapan
- Pemerintah menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka
ekonomi makro kepada Dewan Perwakilan Rakyat (bulan Mei).
- Pemerintah pusat dan DPR membahas kebijaksanaan umum dan prioritas
anggaran sebagai acuan bagi Kementrian Lembaga dalam penyusunan
anggaran.
- Menteri/pimpinan lembaga menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
Kementrian Lembaga (RKA-KL) dan dibahas dengan DPR, hasilnya
disampaikan ke Menteri Keuangan sebagai bahan rancangan Undang-Undang
APBN tahun berikutnya.
- Pemerintah pusat menyampaikan RUU APBN dan Nota Keuangan kepada
DPR untuk dibahas (bulan Agustus).
- DPR menyetujui RUU APBN selambat-lambatnya 2 bulan sebelum Tahun
Anggaran yang bersangkutan berakhir.
2. Tahap Pelaksanaan
- Setelah UU APBN ditetapkan, rincian pelaksanaannya dituangkan dalam
peraturan presiden tentang rincian APBN.
- Menkeu memberitahu K/L agar menyampaikan dokumen pelaksanaan
anggaran berdasarkan alokasi dalam peraturan presiden tentang rincian
APBN.
- Menkeu mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran dan disampaikan
kepada menteri/pimpinan lembaga, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
Gubernur, Direktur Jendral Anggaran, Direktur Jenderal Perbendaharaan,
Kepala kantor wilayah Ditjen Perbendaharaan terkait, Kuasa Bendahara
Umum Negara (KPPN) terkait, dan Kuasa Pengguna Anggaran.
- Penanggung jawab kegiatan mengajukan dana dengan menerbitkan Surat
Pemerintah Membayar (SPM) kepada kuasa BUN.
- Pemerintah menyusun laporan realisasi semester I APBN dan prognosis dan
disampaikan ke DPR selambat-lambatnya akhir juli tahun anggaran yang
bersangkutan.
- Jika ada penyesuaian pemerintah pusat mengajukan RUU perubahan APBN.
3. Tahap Pengawasan Pelaksanaan
- Pengawasan dilakukan atasan kepala kantor/satker K/L
- Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN
- Pengawasan oleh DPR
4. Tahap Pertanggungjawaban
- Menteri/pimpinan lembaga membuat laporan keuangan :
1.Laporan Realisasi Anggaran
2.Neraca
3.Catatan atas laporan keuangan
- Laporan keuangan disampaikan ke Menkeu paling lambat 2 bulan setelah TA
ybs berakhir.
- Menkeu meyusun rekapitulasi LK dan disampaikan ke presiden
- Presiden menyampaikan LK ke BPK untuk diaudit
- LK yang diaudit disampaikan presiden ke DPR sebagai RUU
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN

Gambar 2.2: Bagan Alur Pelaksanaan Transfer ke Daerah


2.5 Jenis Belanja Negara Dalam APBN ( Pusat dan Daerah)
A. Belanja Pemerintah Pusat
Belanja negara dan daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas
pemerintahan pusat dan daerah serta pelaksanaan perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah. Belanja negara dan daerah menurut organisasi
disesuaikan dengan susunan kementerian negara atau lembaga pemerintahan pusat.
Belanja pemerintah pusat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pengeluaran Rutin
Pengeluaran rutin adalah pengeluaran pemerintah yang sifatnya rutin (kontinu)
yang ada setiap tahun, yang terdiri atas:
- Belanja pegawai berupa gaji pegawai dan pensiun, tunjangan beras dan lauk-
pauk, belanja pegawai dalam dan luar negeri;
- Belanja barang dalam negeri dan luar negeri;
- Subsidi yang meliputi subsidi BBM dan subsidi non BBM seperti Subsidi
daerah otonom.
- Pengeluaran rutin lainnya, seperti cicilan utang dan pembayaran bunga.
2. Pengeluaran pembangunan
Pengeluaran pembangunan adalah pengeluaran yang tidak rutin setiap tahun,
pengeluaran ini sifatnya temporer, pengeluaran pembangunan terdiri atas:
- Pembiayaan rupiah, yaitu pengeluaran pemerintah berupa barang atau uang
secara langsung.
- Bantuan proyek yaitu pengeluaran pemerintah berupa pembangunan unit-unit
proyek.

B. Belanja Pemerintah Daerah


Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah
yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu
tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah.
Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan
urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

Klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari:


a. Belanja pegawai; Besarnya penganggaran untuk gaji pokok dan tunjangan PNSD
disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta
memperhitungkan rencana kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD serta
pemberian gaji ketiga belas. Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan
kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat, tunjangan keluarga, dll.
b. Belanja barang dan jasa; Penganggaran untuk pengadaan barang (termasuk
berupa aset tetap) yang akan diserahkan kepada pihak ketiga/masyarakat pada
tahun anggaran berkenaan, dianggarkan pada jenis belanja barang dan jasa.
Penganggaran belanja barang pakai habis disesuaikan dengan kebutuhan nyata
yang didasarkan atas pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD, jumlah pegawai dan
volume pekerjaan serta memperhitungkan sisa persediaan barang Tahun
sebelumnya.
c. Belanja modal; Pemerintah daerah harus mengalokasikan belanja modal pada
APBD Tahun Anggaran bersangkutan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh
persen) dari belanja daerah sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun
2010 tentang RPJMN Tahun 2010-2014.
d. Belanja bunga; Bagi daerah yang belum memenuhi kewajiban pembayaran bunga
pinjaman, baik jangka menengah, maupun jangka panjang supaya dianggarkan
pembayarannya dalam APBD Tahun Anggaran bersangkutan.
e. Belanja subsidi; hanya diberikan kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga
jual dari hasil produksinya terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya
terbatas. Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan
menyangkut hajat hidup orang banyak.
f. Belanja hibah dan bantuan sosial;; Tata cara penganggaran, pelaksanaan dan
penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban serta monitoring dan evaluasi
pemberian hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD harus
mempedomani peraturan kepala daerah yang telah disesuaikan dengan peraturan
perundang-undangan di bidang hibah dan bantuan sosial.
g. Belanja bagi hasil pajak; Penganggaran dana Bagi Hasil Pajak Daerah yang
bersumber dari pendapatan pemerintah provinsi kepada pemerintah
kabupaten/kota harus mempedomani Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
h. Belanja bantuan keuangan; Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota
dapat menganggarkan bantuan keuangan kepada pemerintah daerah lainnya dan
kepada desa yang didasarkan pada pertimbangan untuk mengatasi kesenjangan
fiskal, membantu pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang tidak tersedia
alokasi dananya, sesuai kemampuan keuangan masing-masing daerah. Pemberian
bantuan keuangan dapat bersifat umum dan bersifat khusus. Bantuan keuangan
yang bersifat umum digunakan untuk mengatasi kesenjangan fiskal dengan
menggunakan formula antara lain variabel: pendapatan daerah, jumlah penduduk,
jumlah penduduk miskin dan luas wilayah yang ditetapkan dengan peraturan
kepala daerah. Bantuan keuangan yang bersifat khusus digunakan untuk
membantu capaian kinerja program prioritas pemerintah daerah/desa penerima
bantuan keuangan sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
penerima bantuan. Pemanfaatan bantuan keuangan yang bersifat khusus
ditetapkan terlebih dahulu oleh pemberi bantuan.Belanja tidak terduga;
Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan
mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2012 dan kemungkinan adanya
kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali
dan pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk
mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi
berulang, seperti kebutuhan tanggap darurat bencana, penanggulangan bencana
alam dan bencana sosial.
2.6 Alokasi Belanja Negara Menurut Kementerian/Lembaga dan Menurut
Provinsi
a. Alokasi Belanja Negara Menurut Kementrian/Lembaga
1. Belanja Pegawai
Kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada
pegawai negeri, pejabat negara, dan pensiunan serta pegawai honorer yang
akan diangkat sebagai pegawai lingkup pemerintahan baik yang bertugas di
dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksanakan dalam rangka mendukung tugas dan fungsi unit organisasi
pemerintah. Belanja Pegawai dipergunakan untuk:
- Belanja Gaji dan Tunjangan yang melekat pada pembayaran Gaji
Pegawai Negeri meliputi PNS dan TNI/POLRI;
- Belanja Gaji Dokter Pegawai Tidak Tetap;
- Belanja Gaji dan Tunjangan yang melekat pada Pembayaran Gaji Pejabat
Negara;
- Belanja Uang Makan PNS;
- Belanja Uang Lauk Pauk TNI/POLRI;
- Belanja Uang Tunggu dan Pensiun Pegawai Negeri dan Pejabat Negara
yang disalurkan melalui PT. Taspen dan PT. ASABRI;
- Belanja Asuransi Kesehatan Pegawai Negeri yang disalurkan melalui PT.
ASKES;
- Belanja Uang Lembur PNS;
- Belanja Pegawai Honorer yang diangkat dalam rangka mendukung tugas
pokok dan fungsi unit organisasi pemerintah;
- Pembayaran Tunjangan Sosial bagi Pegawai Negeri melalui unit
organisasi/Lembaga/Badan tertentu;
- Pembayaran uang vakasi;
- Pembayaran tunjangan khusus merupakan pembayaran kompensasi
kepada Pegawai Negeri yang besarannya ditetapkan oleh
Presiden/Menteri Keuangan;
- Belanja pegawai transito merupakan alokasi anggaran belanja pegawai
yang direncanakan akan ditarik/dicairkan namun database pegawai pada
Kementerian Negara/Lembaga berkenaan menurut peraturan perundang-
undangan belum dapat direkam pada Aplikasi Belanja Pegawai Satuan
Kerja (Satker) karena belum ditetapkan sebagai Pegawai Negeri pada
Satker berkenaan; dan
- Pembayaran untuk Uang Duka Wafat/Tewas yang besarannya ditetapkan
berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal
dan/atau kegiatan yang mempunyai output dalam kategori belanja barang.

2. Belanja Barang
Pengeluaran untuk pembelian barang dan/atau jasa yang habis pakai untuk
memproduksi barang dan/atau jasa yang dipasarkan maupun yang tidak
dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau
dijual kepada masyarakat di luar kriteria belanja bantuan sosial serta belanja
perjalanan.
Belanja Barang dipergunakan untuk:
- Belanja Barang Operasional merupakan pembelian barang dan/atau jasa
yang habis pakai yang dipergunakan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan dasar suatu satuan kerja dan umumnya pelayanan yang
bersifat internal. Jenis pengeluaran terdiri dari antara lain:
a. Belanja keperluan perkantoran;
b. Belanja pengadaan bahan makanan;
c. Belanja penambah daya tahan tubuh;
d. Belanja bahan;
e. Belanja pengiriman surat dinas;
f. Honor yang terkait dengan operasional Satker;
g. Belanja langganan daya dan jasa (ditafsirkan sebagai Listrik,
Telepon, dan Air) termasuk atas rumah dinas yang tidak
berpenghuni;
h. Belanja biaya pemeliharaan gedung dan bangunan (ditafsirkan
sebagai gedung operasional sehari-hari berikut halaman gedung
operasional);
i. Belanja biaya pemeliharaan peralatan dan mesin (ditafsirkan sebagai
pemeliharaan aset yang terkait dengan pelaksanaan operasional
Satker sehari-hari) tidak termasuk biaya pemeliharaan yang
dikapitalisasi;
j. Belanja sewa gedung operasional sehari-hari satuan kerja; dan
k. Belanja barang operasional lainnya yang diperlukan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.
- Belanja Barang Non Operasional merupakan pembelian barang dan/atau
jasa yang habis pakai dikaitkan dengan strategi pencapaian target kinerja
suatu satuan kerja dan umumnya pelayanan yang bersifat eksternal. Jenis
pengeluaran terdiri antara lain:
a. Honor yang terkait dengan output kegiatan;
b. Belanja operasional terkait dengan penyelenggaraan administrasi
kegiatan di luar kantor, antara lain biaya paket rapat/pertemuan,
ATK, uang saku, uang transportasi lokal, biaya sewa peralatan yang
mendukung penyelenggaraan kegiatan berkenaan;
c. Belanja jasa konsultan;
d. Belanja sewa yang dikaitkan dengan strategi pencapaian target
kinerja;
e. Belanja jasa profesi;
f. Belanja biaya pemeliharaan non kapitalisasi yang dikaitkan dengan
target kinerja;
g. Belanja jasa;
h. Belanja perjalanan;
i. Belanja barang penunjang kegiatan dekonsentrasi;
j. Belanja barang penunjang kegiatan tugas pembantuan;
k. Belanja barang fisik lain tugas pembantuan; dan
l. Belanja barang non operasional lainnya terkait dengan penetapan
target kinerja tahun yang direncanakan.
- Belanja barang Badan Layanan Umum (BLU) merupakan pengeluaran
anggaran belanja operasional BLU termasuk pembayaran gaji dan
tunjangan pegawai BLU.
- Belanja barang untuk masyarakat atau entitas lain merupakan
pengeluaran anggaran belanja negara untuk pengadaan barang yang
dimaksudkan untuk diserahkan kepada masyarakat atau entitas lain yang
tujuan kegiatannya tidak termasuk dalam kriteria kegiatan bantuan sosial

3. Belanja Modal
Pengeluaran untuk pembayaran perolehan asset dan/atau menambah nilai
asset tetap/asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode
akuntansi dan melebihi batas minimal kapitalisasi asset tetap/asset lainnya
yang ditetapkan pemerintah. Belanja modal dipergunakan untuk antara lain:
- Belanja modal tanah
Seluruh pengeluaran untuk pengadaan/pembelian/pembebasan/
penyelesaian, balik nama, pengosongan, penimbunan, perataan,
pematangan tanah, pembuatan sertifikat tanah serta pengeluaran-
pengeluaran lain yang bersifat administratif sehubungan dengan
perolehan hak dan kewajiban atas tanah pada saat
pembebasan/pembayaran ganti rugi sampai tanah tersebut siap
digunakan/dipakai.
- Belanja modal peralatan dan mesin
Pengeluaran untuk pengadaan peralatan dan mesin yang digunakan
dalam pelaksanaan kegiatan antara lain biaya pembelian, biaya
pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk
memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut
siap digunakan.
- Belanja modal gedung dan bangunan
Pengeluaran untuk memperoleh gedung dan bangunan secara kontraktual
sampai dengan gedung dan bangunan siap digunakan meliputi biaya
pembelian atau biaya konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB,
notaris, dan pajak (kontraktual).
- Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan
Pengeluaran untuk memperoleh jalan dan jembatan, irigasi dan jaringan
sampai siap pakai meliputi biaya perolehan atau biaya kontruksi dan
biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan dan jembatan, irigasi dan
jaringan tersebut siap pakai. Dalam belanja ini termasuk biaya untuk
penambahan dan penggantian yang meningkatkan masa manfaat,
menambah nilai aset, dan di atas batas minimal nilai kapitalisasi jalan
dan jembatan, irigasi dan jaringan.
- Belanja modal lainnya
Pengeluaran yang diperlukan dalam kegiatan pembentukan modal untuk
pengadaan/pembangunan belanja modal lainnya yang tidak dapat
diklasifikasikan dalam perkiraan kriteria belanja modal Tanah, Peralatan
dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jaringan (Jalan, Irigasi dan lain-lain).
Termasuk dalam belanja modal ini: kontrak sewa beli (leasehold),
pengadaan/pembelian barang-barang kesenian (art pieces), barang-
barang purbakala dan barang-barang untuk museum, serta hewan ternak,
buku-buku dan jurnal ilmiah sepanjang tidak dimaksudkan untuk dijual
dan diserahkan kepada masyarakat.
- Belanja modal Badan Layanan Umum (BLU)
Pengeluaran untuk pengadaan/perolehan/pembelian aset yang
dipergunakan dalam rangka penyelenggaraan operasional BLU.
4. Belanja Bunga Utang
Pembayaran kewajiban atas penggunaan pokok utang (principal
outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri yang
dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan dari utang yang sudah ada
dan perkiraan utang baru, termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan
utang. Pembayaran bunga utang meliputi antara lain:
- Pembayaran kewajiban pemerintah atas bunga Surat Perbendaharaan
Negara (SPN), bunga Obligasi Negara, Imbalan Surat Berharga Syariah
Negara (SBSN), Bunga Pinjaman Program, Bunga Pinjaman Proyek, dan
bunga Utang Luar Negeri melalui penjadualan kembali pinjaman;
- Pembayaran kewajiban pemerintah atas diskon SPN dan diskon Obligasi
Negara;
- Pembayaran Loss on Bond Redemption. Digunakan untuk mencatat
beban yang timbul dari selisih clean price yang dibayar pemerintah pada
saat pembelian kembali SUN (buyback) dengan carrying value SUN.
- Pembayaran diskon SBSN; dan
- Denda merupakan pembayaran imbalan bunga atas kelalaian pemerintah
membayar kembali pengembalian kelebihan pajak (restitusi),
pengembalian kelebihan bea dan cukai serta imbalan bunga atas
pinjaman perbankan dan bunga dalam negeri jangka pendek lainnya.

5. Belanja Subsidi
Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga untuk
memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa, yang
memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya
dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja subsidi diberikan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Belanja subsidi terdiri dari:
- Energi
Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga yang
menyediakan dan mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM)
jenistertentu, liquefied petroleumgas (LPG) konsumsi rumah tangga dan
usaha mikro serta tenaga listrik sehingga harga jualnya terjangkau oleh
masyarakat yang membutuhkan.
- Non-Energi
Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga yang
menyediakan dan mendistribusikan barang publik yang bersifat non
energi sehingga harga jualnya terjangkau oleh masyarakat yang
membutuhkan.

6. Belanja Bantuan Sosial


Transfer uang atau barang yang diberikan oleh Pemerintah Pusat/Daerah
kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko
sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat
dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk didalamnya bantuan untuk
lembaga non pemerintah bidang pendidikan, keagamaan, dan bidang lain
yang berperan untuk melindungi individu, kelompok dan/atau masyarakat
dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.

7. Belanja Lain-Lain
Pengeluaran negara untuk pembayaran atas kewajiban pemerintah yang tidak
masuk dalam kategori belanja pegawai, belanja barang, belanja modal,
belanja bunga utang, belanja subsidi, belanja hibah, dan belanja bantuan
sosial serta bersifat mendesak dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.
Belanja lain-lain dipergunakan antara lain:
- Belanja Lain-Lain Dana Cadangan dan Risiko Fiskal
- Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian
- Belanja Lain-Lain Bendahara Umum Negara
- Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat
- Belanja lainnya
b. Alokasi Belanja Negara Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota
Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus mendukung
tercapainya sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional sesuai dengan potensi
dan kondisi masing-masing daerah, mengingat keberhasilan pencapaian sasaran
utama dan prioritas pembangunan nasional dimaksud sangat tergantung pada
sinkronisasi kebijakan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah dan antara
pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah dan pemerintah provinsi yang
dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Untuk itu, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam menyusun
RKPD mempedomani Peraturan Menteri Dalam Negeri tahun sebelumnya tentang
Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi RKPD. Sinkronisasi kebijakan
pemerintah daerah dan pemerintah antara lain diwujudkan dalam penyusunan
rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan rancangan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara (PPAS) yang disepakati bersama antara pemerintah daerah dan
DPRD sebagai dasar dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah. KUA dan
PPAS pemerintah provinsi berpedoman pada RKPD provinsi Tahun bersangkutan
yang telah disinkronisasikan dengan RKP Tahun itu, sedangkan KUA dan PPAS
pemerintah kabupaten/kota berpedoman pada RKPD kabupaten/kota Tahun
bersangkutan yang telah disinkronisasikan dengan RKP Tahun bersangkutan dan
RKPD provinsi Tahun bersangkutan.
BAB TIGA
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai
dengan uang, serta segala sesuatu baikberupa uang maupun berupa barang yang
dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut.
2. Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam
penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan
secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok
yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
3. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan
melakukan pinjaman; kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan
umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
DAFTAR PUSTAKA

http://tthebeginning.blogspot.co.id/2013/11/sistem-pengelolaan-keuangan-negara-
dan.html (diunduh 21/12/17)
https://www.scribd.com/doc/232436014/Pengelolaan-keuangan-negara-dan-daerah
(diunduh 21/12/17)
http://www.nafiun.com/2013/11/jenis-jenis-pengeluaran-negara-dan-daerah.html
(diunduh 21/12/17)
http://kartikarachmawati1.blogspot.co.id/2013/12/jenis-jenis-pengeluaran-
pemerintah.html (diunduh 21/12/17)
http://www.manajemen-pembiayaankesehatan.net/index.php/80-sumber-dana/154-
alur-belanja-apbn-ke-daerah (diunduh 21/12/17)
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3700218/ini-kementerian-dan-
lembaga-dengan-anggaran-terbesar-di-2018 (diunduh 21/12/17)