Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH DASAR - DASAR AGRONOMI

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS PADI DAN PALAWIJA

DENGAN SISTEM SURJAN DI WATES, KULON PROGO

Disusun oleh :

Kelompok

Dorowati Rifalus S (17/409577/PN/14965)

Evrilia Ciptaningrum (17/409588/PN/14976)

Putri Gabriela Siburian (17/409597/PN/14985)

Ais Riyanti (17/412815/PN/15137)

Arum Kuncoro Wati (17/412818/PN/15140)

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa,Dip.Agr.St

Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada

2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Pembangunan pertanian ke depan dihadapkan pada beberapa kendala, diantaranya


adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian. Mengantisipasi hal tersebut,
salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan adalah pengembangan pertanian
diarahkan pada pemanfaatan lahan marginal seperti lahan pasang surut. Lahan pasang
surut mempunyai potensi cukup besar untuk dijadikan lahan pertanian karena
sebarannya sangat luas, yaitu diperkirakan sekitar 20,1 juta hektar yang terbentang di
sepanjang pantai Sumatera, Kalimantan dan Papua. Pengembangan lahan pasang surut
menjadi lahan pertanian produktif mendukung pelestarian swasembada pangan,
diversifikasi produksi, peningkatan pendapatan dan lapangan kerja, serta
pengembangan agribisnis dan wilayah.

Lahan pasang surut (rawa) merupakan agroekologi potensial yang telah banyak
dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian. Luas lahan rawa di Indonesia
diperkirakan mencapai 33,4 juta hektar, yang terdiri dari 20,12 juta hektar lahan pasang
surut dan 13,28 juta hektar lahan lebak . Lahan rawa terdiri dari berbagai tipologi dan
tipe luapan dengan karakteristik yang berbeda dan dengan kendala yang berbeda pula,
sehingga penanganannya harus dilakukan secara serius dan hati-hati. Salah pengelolaan
akan mengakibatkan rusaknya lahan dan memerlukan biaya mahal dan waktu lama
untuk memulihkannya kembali.

Upaya peningkatan produksi tanaman pangan di lahan pasang surut guna


mendukung ketahanan pangan nasional dapat dilakukan dengan optimalisasi lahan
melalui diversifikasi peningkatan produktivitas lahan Hal ini dapat dilakukan dengan
intensifikasi penerapan teknologi lahan raw lebak sebagai areal produksi pertanian
berbasis tanaman pangan melalui sistem surjan. Sistem surjan (alternating bed system)
adalah salah satu usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman di lahan
rawa lebak, atau salah satu sistem pertanaman campuran yang dicirikan oleh perbedaan
tinggi permukaan bidang tanam pada suatu luasan lahan.

Sawah surjan merupakan model pertanian yang diterapkan oleh petani yang
tinggal di pesisir Kulon Progo, Yogyakarta sudah sejak lama. Awalnya model ini
dulunya diterapkan untuk mengantisipasi adanya banjir saat air laut pasang.
Pengelolaan sumberdaya air pada ekosistem sawah ini sebagai bentuk adaptasi petani
terhadap kondisi geografis wilayah persawahan mereka. Tujuan pokok dari sistem
surjan di lahan pasang surut ini adalah untuk membagi risiko kegagalan usaha tani
sehingga dapat bertahan apabila tanaman padinya gagal.Selain itu sistem surjan dapat
meningkatkan diversifikasi tanaman, menjaga agar tanah tidak menjadi asam,
mengurangi bahaya kekeringan, mengurangi keracunan akibat genangan,
memperkecil resiko kegagalan, mendistribusikan tenaga kerja agar lebih merata dan
memanfaatkan tenaga kerja keluarga lebih optimal. Dan yang paling penting system
surjan dapat meningkatkan pendapatan petani karena cropping intensity bertambah.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa karakteristik sawah dengan sistem surjan ?

2. Apa saja kelebihan dan kekurangan penerapan sistem sawah surjan untuk kegiatn
pertanian ?

3. Bagaimana penerapan teknologi yang tepat dalam sawah surjan untuk


meningkatkan produktivitas hasil pertanian?

C. TUJUAN

1. Mengetahui karakteristik dan ciri utama sistem sawah surjan.

2. Memahami kelebihan dan kekurangan penerapan sistem sawah surja di lahan


pertanian.

3. Menegtahui bagaimana penerapan teknologi yang tepat untuk sistem sawah surjan
agar produktivitas hasil meningkat.
BAB II
ISI

A. KARAKTERISTIK & CIRI UTAMA SAWAH SURJAN

Sawah surjan merupakan sistem pengelolaan sawah khas petani di pesisir Kulon
Progo yang merupakan kearifan lokal sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi
drainase yang buruk. Kondisi drainase yang buruk ini disebabkan karena wilayah
tersebut secara geomorfologi adalah dataran fluviomarin yang merupakan bekas rawa
belakang (back swamp) (Marwasta dan Priyono, 2007).

Sawah surjan merupakan modifikasi dari lingkungan lahan pasang surut, dengan
cara penanamannya mirip dengan alur baju surjan yang secara umum memiliki makna
surjan yaitu meninggikan dengan mengali atau mengerut tanah di sekitarnya, bagian
lahan yang di gali di sebut tembokan (raise beds) sedangkan tanah yang di gali di
sebut tabukan atau lendokan (sunkens beds). Aplikasi system surjan ini biasanya pada
lahan sawah, yang dinamakan sawah surjan. Pada tembokan biasanya di tanami
tanaman palawija seperti jagung, kedelai, kacang-kacangan, dan umbi-umbian
Sistem pertanian ini merupakan teknik cocok tanam turun-temurun dan Kabupaten
Kulonprogo.

Sebutan sawah surjan berasal dari morfologi sawah yang jika dilihat dari atas
tampak bergaris-garis seperti baju surjan yang biasa dipakai oleh orang Jawa tempo
dulu. Garis-garis tersebut terbentuk dari alur-alur tinggi yang bersifat terestrial
berselang-seling dengan alur-alur rendah yang bersifat akuatik. Bagian yang terestrial
oleh petani ditanami tanaman palawija, sedangkan bagian yang bersifat akuatik
ditanami padi sepanjang tahun. Hal inilah yang menyebabkan ekosistem sawah surjan
berbeda dengan sawah lembaran pada umumnya yang hanya bersifat akuatik saja.
Selain morfologi yang berciri seperti motif pakaian adat, sawah surjan memiliki ciri
lain yang berkaitan dengan pengelolaan lahannya, antara lain :

1. Pengolahan tanah dengan membuat guludan beralur

Yang dimaksud dengan pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik


terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi
pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah penyiapan tempat
tumbuh bagi bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa-sisa
tanaman, dan memberantas gulma. Pembuatan guludan, yaitu tumpukan tanah yang
dibuat memanjang menurut arah garis kontur, bertujuan untuk mengatur drainase.
Pembuatan guludan untuk sistem drainase dibuat dengan menumpukkan tanah pada
suatu jalur memanjang searah lereng, sehingga terbentuk di kiri kanan tumpukan
tersebut saluran-saluran pembuangan air. Tinggi guludan dibuat sekitar 45-60 cm dari
dasar saluran, dengan lebar berkisar antara 7-28 meter. Pembuatan saluran drainase
dengan pembuatan guludan ini merupakan adaptasi petani terhadap kondisi lahan
yang berlereng kurang dari satu persen dan permeabilitas tanah rendah.

2. Pola tanam polikultur

Petani sawah surjan menerapkan pola tanam polikultur dengan menanam


beberapa jenis tanaman budidaya, yaitu tanaman padi pada alur bawah, dan tanaman
palawija pada alur atas atau guludan. Tanaman palawija yang ditanam bisa beberapa
macam, antara lain cabai, bawang merah, terong, tomat, atau tanaman palawija
lainnya. Dari hasil penelitian yang membandingkan antara ekosistem sawah surjan
dan sawah lembaran (sawah pada umumnya) menunjukkan bahwa sawah surjan lebih
tahan terhadap ledakan populasi hama kepinding tanah daripada sawah lembaran.
Adanya modifikasi habitat dengan adanya alur (habitat akuatik) dan guludan (habitat
terestrial/darat) menyebabkan lebih banyak komponen hayati yang saling berinteraksi
sehingga ekosistem berjalan lebih stabil dan lebih tahan terhadap ledakan populasi
jenis hama tertentu.

Menurut BPS Yogyakarta, 2011 sekitar 67% warga Kulonprogo yang


berprofesi sebagai petani yang memanfaatkan sawah surjan. Keuntungan dari sawah
surjan yaitu dapat mengatasi pasang surut, mengasi gagal panen karena ada tanaman
cadangan yang di tanam di tembokan, serta mengatasi penyarangan hama secara besar
besaran katena hama antara lendokan dan tembokan berbeda, hal ini memungkinkan
hama tidak berkembang melampaui batas di samping itu juga menjaga keseimbangan
ekosistem. Sistem pertanian surjan memiliki ketangguhan tinggi untuk mengatasi
kualitas lahan yang marginal dengan iklim ekstrim.
B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SAWAH SURJAN
 Kelebihan system surjan
Penataan lahan dan sistem tata air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
pengembangan pertanian di lahan pasang surut dalam kaitannya dengan optimalisasi
Penataan lahan sistem surjan dalam usahatani . Kelebihan dan kekurangan sistem
surjan

(1) intensistas penggunaan lahan meningkat,

(2) beragam produksi pertanian dapat dihasilkan,

(3) resiko kegagalan panen dapat dikurangi, dan stabilitas produksi dan pendapatan
meningkat. Penerapan penataan lahan tersebut selain dapat meningkatkan kualitas dan
produktivitas lahan, juga dapat meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan
penerapan beragam pola tanam sesuai pendapatan masyarakat transmigran dari Jawa
dan Bali.

(4) Mencegah Kekurangan Air

Pada daerah tadah hujan, bedengan (galengan) yang tinggi tentu dibutuhkan untuk
menyimpan air pada lahan sawah. dengan memperbesar galengan dapat mencegah
galengan jebol, sehingga cadangan air pada lahan tadah hujan bisa tercukupi.

(5) Diversifikasi Pangan

Galengan yang besar tentu sayang jika tidak dimanfaatkan untuk bertanam komoditas
lain. Jika kita selaku petani telaten dengan menanami galengan tersebut dengan
komoditas lain seperti jagung, singkong, atau sayuran, kebutuhan akan
keanekaragaman pangan keluarga tentu akan bisa kita cukupi dari lahan kita sendiri.

(6) Mencegah Hama/ Penyakit Tanaman

Keanekaragaman hayati yang ada di lahan surjan memungkinkan organisme parasit/


predator juga hidup di lahan tersebut. dengan demikian, ancaman peledakan hama
dapat dicegah karena keseimbangan ekosistem bisa terjaga. Keseimbangan Ekosistem
juga memungkinkan untuk tumbuh dan berkembangnya organisme penambat unsur
hara seperti Azotobacter, Rhizobium, dll. sehingga kesuburan tanah bisa terjaga.

(7) MenambahPenghasilan Petani


Komoditas Hortikultura merupakan komoditas yang memiliki potensi pasar yang luar
biasa besar bagi petani. Kita sering menjumpai harga cabe, bawang, dan sayuran lain
melambung harganya ketika musim tertentu. Bila petani memanfaatkan peluang ini,
menanami galengannya dengan tanaman- tanaman hortikultura, kemungkinan para
petani bisa mendapat keuntungan berlipat ganda dari komoditas hortikultura yang ia
tanam. atau paling tidak bisa menstabilkan harga.

(8) Mendapat Hasil 2 Macam Tanaman

Tanaman padi dan palawija sekaligus. Sehingga hal ini dinilai lebih dapat
menyejahterakan masyarakat, karena selain beras tercukupi, kebutuhan lain seperti
sayur-sayuran juga tetap tersedia. Kemandirian panganpun terpenuhi, karena dapat
memproduksi sendiri.

 Kekurangan system surjan

Selain memilki kelebihan, sistem pertanaman multiple cropping memilki beberapa


kekurangan diantaranya sebagai berikut :

a. Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman

b. Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat

c. Masalah di lahan pasang surut


Genangan air menjadi kendala pengembangan terutama pada lahan bertipe luapan A
yang sering mengalami kebanjiran karena keadaan topografinya menyulitkan
pembuangan airnya. Kemasaman tanah yang tinggi mempengaruhi keseimbangan
reaksi kimia dalam tanah dan ketersediaan unsur hara dalam tanah terutama fosfat.
Rendahnya tingkat kesuburan alami tanah di lahan pasang surut berkaitan erat dengan
karakteristik lahannya. Lahan gambut memiliki kekurangan unsur mikro turutama Zn,
Cu, dan Bo, sedangkan lahan sulfat masam umumnya memiliki ketersedian P yang
rendah karena besarnya fiksasi oleh Al dan Fe menjadi senyawa kompleks.
Karakteristik lahan yang menjadi masalah dalam pengembangan pertanian di lahan
pasang surut meliputi: fluktuasi rejim air, beragamnya kondisi fisiko-kimia tanahnya,
tingginya kemasaman tanah dan asam organik pada lahan gambut, adanya zat beracun,
intrusi air garam, dan rendahnya kesuburan alami tanahnya.
d. Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman
e. Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat

C. Penerapan dan teknologi dalam meningkatkan hasil produksi

Teknologi yang banyak digunakan oleh petani yang menggunakan system


surjan yaitu pola tanam polikurtur, pada tanah surjan yang merupakan tanah pertanain
yang dibagi berdasarkan ketinggian tanahnya tanah bagian atas yang tidak terendam
air dihumakan untuk menanami tanaman palawija dan tanaman lainya seperti
sayur-sayuran, sementara tanah yang tergenang oleh air digunakan untuk menanam
padi. Peningkatan produk pertanian juga merupakan pengaruh dari tanamn yang
ditanam pada lahan surjan ini tanamn yang digunakan haruslah tidak saling merampas
makanan artinya tingkat petani haruslah mampu memilih bibit yang tepat untuk
menurunkan kompetensi diantara tanaman-tanaman yang ditanam di satu lahan
tersebut, akan lebih baik lagi bila tumbuhan yang hidup dalam satu wilayah dapat
bekerja sama dan saling menguntungkan satu sama lain.

Pola tanam polikultur yang diterapkan oleh petani sawah surjan dapat
memberikan keuntungan, antara lain pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien dan
lestari, karena hasil tanaman yang lebih banyak bervariasi dan dapat dipanen
berturutan (Beets, 1982 cit Aminatun 2014). Pola tanam polikultur juga memberikan
keuntungan, jika sampai terjadi kegagalan panen pada salah satu tanaman budidaya,
misalnya padi, maka petani masih dapatmendapatkan hasil dari tanaman yang lain,
misalnya palawija. Sistem surjan memungkinkan panen bisa dilakukan sepanjang
tahun karena pola tanam yang campuran (mixed cropping) pada bagian alur yang
terestrial (guludan). Karena ekosistem sawah merupakan ekosistem buatan maka
komponen sosial-ekonomi memegang peran penting dalam konservasi lahan pertanian
oleh petani. Sistem pengelolaan sawah yang menghasilkanm income paling tinggilah
yang akan dipilih petani untuk mempertahankan atau melestarikan lahan sawahnya.

Pola kearifan petani sawah surjan di Kulon Progo dalam mengkonservasi


lahan pertanian adalah secara turun temurun, seringkali tanpa memahami makna

(tanpa sadar). Hubungan pola kearifan petani sawah surjan di Kulon Progo dengan
komponen-komponen ekosistem pertanian yang dapat dikonservasi adalah membantu
menciptakan ekosistem pertanian yang lebih stabil dengan adanya keragaman
tanaman yang ditanam, sehingga tidak mudah terserang hama dan dengan adanya
diversifikasi hasil panen yang dapat memberikan keuntungan lebih bagi petani.
Temuan tersebut mengandung implikasi perlunya dilakukan penyegaran/ penyuluhan
kepada petani tentang pentingnya dan keistimewaan sawah
BAB III
KESIMPULAN

1. Sawah surjan merupakan sistem pengelolaan sawah khas petani di pesisir Kulon
Progo yang merupakan kearifan lokal sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi
drainase yang buruk. Sawah surjan di modifikasi dari lingkungan lahan pasang surut,
dengan cara penanamannya mirip dengan alur baju surjan yang secara umum
memiliki makna surjan yaitu meninggikan dengan mengali atau mengerut tanah di
sekitarnya, bagian yang di gali di sebut tembokan (raise beds) sedangkan tanah yang
di gali di sebut tabukan atau lendokan (sunkens beds).

2. Teknologi yang banyak digunakan oleh petani yang menggunakan system surjan
yaitu pola tanam polikurtur. Pola tanam polikultur yang diterapkan oleh petani sawah
surjan dapat memberikan keuntungan, antara lain pemanfaatan sumberdaya yang lebih
efisien dan lestari, karena hasil tanaman yang lebih banyak bervariasi dan dapat
dipanen berturutan dan panennya dapat dilakukan sepanjang tahun.
DAFTAR PUSTAKA

Aminatun, Tien, S. H. Widyastuti, Djuwanto, 2014. Pola Kearifan Masyarakat


Lokal Dalam SIstem Sawah Surjan Untuk Konservasi Ekosistem Pertanian.
Jurnal Penelitian Humaniora. 19(1) 65-78

Marwasta, D. dan Priyono, K.D. 2007. Analisis Karakteristik Desa-desa Pesisir di


Kabupaten Kulon Progo. Forum Geografi, Vol 21 No. 1, Juli 2007: 57-68

Susilawati, A dan D. Nursyamsi. 2014. Sistem surjan: kearifan lokal petani lahan
pasang surut dalam mengantisipasi perubahan iklim. Jurnal Sumberdaya Lahan.
8 (1) : 32-34