Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MANAJEMEN SEKOLAH

(Prinsip,Ruang lingkup dan Proses Manajemen Sekolah)

Kelompok 2:

1. Fani Febriani Dae (1501060033)


2. Maria Alfiana (1501060020 )
3. Silvia M.E. Sada (1601060058)
4. Ridwan S. Menoh (1601060038)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah manajemen pendidikan tentang
“manajemen sekolah”.
Makalah ini disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman dan arahan dalam
mempelajari dan memudahkan para mahasiswa, guru dan semua yang terkait dengan
pendidikan agar dapat memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan.
Pada akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini. Disini penyusun hanyalah manusia biasa yang tak
luput dari kesalahan ibaratnya, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk kemajuan bersama mengenai materi dan cara penyajian makalah ini, untuk
memperbaiki mutu makalah ini.

Kupang , September 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………… i

………………………………………… ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………. 1


A.Latar Belakang …………………………………………. 1
B.Tujuan …………………………………………. 1
C.Rumusan masalah …………………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN …………………………………………. 2


A.Prinsip Manajemen Sekolah …………………………………………. 2-6
B.Ruang lingkup Manajemen Sekolah …………………………………………. 7-11
C.Proses Manajemen Sekolah …………………………………………. 12-13

BAB III PENUTUP …………………………………………. 14


A.Kesimpulan …………………………………………. 14-15
B.Saran …………………………………………. 15

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………. 16

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Siapun yang menjalankan usaha tentu telah melaksanakan serangkaian kegiatan
merencanakan, melaksanakan dan menilai keberhasialan dan kegagalan usahanya. Tanpa
disadari mereka telah menempuh proses manajemen. Akan tetapi, alangkah lebih baik apabila
dalam pratik usahanya menerapkan pemahaman yang mendalam tentang ilmu manajemen,
tentu usahanya akan lebih baik terarah dan lebih mudah mencapai tujuan.
Ilmu manajemen apabila dipelajari secara komprehensif dan diterapkan secara
konsisten memberikan arah yang jelas, langkah yang teratur maka keberhasilan dan
kegagalan dapat mudah dievalusai dengan benar, akurat dan lengkap sehingga dapat
dijadikan bahan pembelajaran bagi tindakan selanjutnya.
Organisasi pendidikan sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetapi juga
mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara.
Hal tersebut tentu saja memerlukan manajemen yang profesional.
Manajemen sekolah merupakan faktor yang terpenting dalam menyelenggarakan
pendidikan dan pengajaran di sekolah yang keberhasilannya diukur oleh prestasi tamatan (out
put), oleh karena itu dalam menjalankan kepemimpinan, harus berpikir “sistem” artinya
dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah komponen-komponen terkait seperti: guru-
guru, staff TU, Orang tua siswa/Masyarakat, Pemerintah, anak didik, dan lain-lain harus
berfungsi optimal yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja pimpinan
Tantangan lembaga pendidikan (sekolah) adalah mengejar ketinggalan artinya
kompetisi dalam meraih prestasi terlebih dalam menghadapi persaingan global. Tantangan ini
akan dapat teratasi bila pengaruh kepemimpinen sekolah terkonsentrasi pada pencapaian
sasaran dimaksud.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen sekolah
2. Untuk ruang lingkup manajemen sekolah
3. Untuk mengetahui proses manajemen sekolah
C. Rumusan Masalah
1. Apa sajajakah prinsip-prinsip manajemen sekolah…?
2. Apa sajakah ruang lingkup manajemen sekolah……?
4. Bagaimana proses manajemen sekolah…………….?
5.
BAB II
PEMBAHASAN

Prinsip-prinsip Manajamen Sekolah

Menurut Nurkolis teori yang digunakan MBS untuk mengelola sekolah didasarkan
atas empat prinsip.

- Prinsip ekuifinalitas (principle of equifinality), yaitu prinsip yang didasarkan pada teori
manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda untuk
mencapai tujuan. MBS menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus dikelola oleh warga
sekolah menurut kondisi mereka masing-masing.

- Prinsip desentralisasi (prinsiple of decentralization), yaitu gejala yang penting dalam


reformasi manaemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip
ekuifinalitas. Prinsip desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah da
aktivitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. Pendidikan adalah
masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam
pelaksanaannya.

- Prinsip pengelolaan mandiri (principle of self managing system). MBS tidak


mengingkari bahwa perlu mencapai tujuan-tujuan berdasarkan suatu kebijakan yang telah
ditetapkan, tetapi terdapat berbagai cara yang berbeda-beda untuk mencapainya. MBS
menyadari pentingnya untuk mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengelolaan secara
mandiri di bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi tertentu untuk
mengembangkan tujuan pengajaran, strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan
sukmber daya lainnya dan mencapai tujuan sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

- Prinsip inisiatif manusia (principle of human initiative) sejalan dengan perkembangan


pergeakan hubungan antar manusia dan pergerakan ilmu perilaku pada manajemen modern,
orang mulai menaruh perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia pada efektivitas
organisasi. Prinsip ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis melainkan
dinamis. Oleh karena itu, perlu digali, dan dikembangkan. Perspektif sumber daya manusia
menekankan bahwa orang adalah sumber daya berharga dalam organisasi, sehingga poin
utama manajemen adalah mengembnagkan sumber daya manusia di dalam sekolah untuk
berinisiatif. Berdasarkan prespektif ini maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan
yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan aik dan mengembangkan
potensinya (Nurkolis, 2005:55)

Tim MBS. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan


Nasional pada Pasal 48 Ayat (1) menyatakan bahwa, “Pengelolaan dana pendidikan
berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik”. Sejalan
dengan amanat tersebut, Peratuan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas
PP Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 49 Ayat (1)
menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan,
partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas”.
Berdasarkan kedua isi kebijakan tersebut, prinsip MBS meliputi: (1) kemandirian, (2)
keadilan, (3) keterbukaan, (4) kemitraan, (5) partisipatif, (6) efisiensi, dan (7) akuntabilitas.
Ketujuh prinsip tersebut disingkat dengan K4 PEA.
1. Kemandirian
Kemandirian berarti kewenangan sekolah untuk mengelola sumberdaya dan mengatur
kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi seluruh warga
sekolah sesuai peraturan perundangan. Kemandirian sekolah hendaknya didukung oleh
kemampuan sekolah dalam mengambil keputusan terbaik, demokratis, mobilisasi
sumberdaya, berkomunikasi yang efektif, memecahkan masalah, antisipatif dan adaptif
terhadap inovasi pendidikan, bersinergi, kolaborasi, dan memenuhi kebutuhan sekolah
sendiri.
2. Keadilan
Keadilan berarti sekolah tidak memihak terhadap salah satu sumber daya manusia
yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya sekolah, dan dalam pembagian sumber daya
untuk kepentingan peningkatan mutu sekolah. Sumber daya manusia yang terlibat, baik
warga sekolah maupun pemangku kepentingan lainnya diberikan kesempatan yang sama
untuk ikut serta memberikan dukungan guna peningkatan mutu sekolah sesuai dengan
kapasitas mereka. Pembagian sumber daya untuk pengelolaan semua substansi manajemen
sekolah dilakukan secara bijaksana untuk mempercepat dan keberlanjutan upaya peningkatan
mutu sekolah. Dengan diperlakukan secara adil, maka semua pemangku kepentingan akan
memberikan dukungan terhadap sekolah seoptimal mungkin.
3. Keterbukaan
Manajemen dalam konteks MBS dilakukan secara terbuka atau transparan, sehingga
seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan dapat mengetahui mekanisme pengelolaan
sumber daya sekolah. Selanjutnya sekolah memperoleh kepercayaan dan dukungan dari
pemangku kepentingan. Keterbukaan dapat dilakukan melalui penyebarluasan informasi di
sekolah dan pemberian informasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sumber daya
sekolah, untuk memperoleh kepercayaan publik terhadap sekolah. Tumbuhnya kepercayaan
publik merupakan langkah awal dalam meningkatkan peran serta masyarakat terhadap
sekolah.
4. Kemitraan
Kemitraan yaitu jalinan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat, baik individu,
kelompok/organisasi, maupun Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dalam prinsip
kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dalam posisi sejajar, yang melaksanakan
kerjasama saling menguntungkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Keuntungan yang diterima sekolah antara lain meningkatnya kemampuan dan ketrampilan
peseta didik, meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana sekolah, diperolehnya
sumbangan ide untuk pengembangan sekolah, diperolehnya sumbangan dana untuk
peningkatan mutu sekolah, dan terbantunya tugas kepala sekolah dan guru. Keuntungan bagi
masyarakat biasanya dirasakan secara tidak langsung, misalnya tersedianya tenaga kerja
terdidik, terbinanya anggota masyarakat yang berakhlakul karimah, dan terciptanya tertib
sosial. Sekolah bisa menjalin kemitraan, antara lain dengan tokoh agama, tokoh masyarakat,
tokoh adat, dunia usaha, dunia industri, lembaga pemerintah, organisasi profesi, organisasi
pemuda, dan organisasi wanita.
5. Partisipatif
Partisipatif dimaksudkan sebagai keikutsertaan semua pemangku kepentingan yang
terkait dengan sekolah dalam mengelola sekolah dan pembuatan keputusan. Keikutsertaan
mereka dapat dilakukan melalui prosedur formal yaitu komite sekolah, atau keterlibatan pada
kegiatan sekolah secara insidental, seperti peringatan hari besar nasional, mendukung
keberhasilan lomba antar sekolah, atau pengembangan pembelajaran. Bentuk partisipasi
dapat berupa sumbangan tenaga, dana, dan sarana prasarana, serta bantuan teknis antara lain
gagasan tentang pengembangan sekolah.

6. Efisiensi
Efisiensi dapat diartikan sebagai penggunaan sumberdaya (dana, sarana prasarana dan
tenaga) sesedikit mungkin dengan harapan memperoleh hasil seoptimal mungkin. Efisiensi
juga berarti hemat terhadap pemakaian sumberdaya namun tetap dapat mencapai sasaran
peningkatan mutu sekolah.

7. Akuntabilitas
Akuntabilitas menekankan pada pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan di
sekolah utamanya pencapaian sasaran peningkatan mutu sekolah. Sekolah dalam mengelola
sumberdaya berdasar pada peraturan perundangan dan dapat mempertangungjawabkan
kepada pemerintah, seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan lainnya.
Pertanggungjawaban meliputi implementasi proses dan komponen manajemen sekolah.
Pertanggungjawaban dapat dilakukan secara tertulis dan tidak tertulis disertai bukti-bukti
administratif yang sah dan/atau bukti fisik (seperti bangunan gedung, bangku, dan alat-alat
laboratorium).

Sejalan dengan adanya pemberian otonomi yang lebih besar terhadap sekolah untuk
mengambil keputusan, maka implementasi ketujuh prinsip MBS di sekolah pada dasarnya
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Sekolah boleh menambah prinsip
implementasi MBS yang sesuai dengan karakteristik sekolah, guna mempercepat upaya
peningkatan mutu sekolah baik secara akademis maupun non akademis.

A. Prinsip Manajemen Pendidikan

Douglas (1963:13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai


berkut :

a. Memprioritaskan tujuan di atas kepentingan pribadi dan kepentingan makanisme kerja.


b. Mengkoordinasikan wewenang dan tanggungjawab.
c. Memberikan tanggungjawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifat-sifat dan
kemampuannya.
d. Mengenal secara baik faktor-faktor psikologi manusia.
e. Realitas nilai-nilai (nilai-niali yang berlaku)
Fattha (1996:33) yang mengklasifikasikan prinsip manajemen kedalam 3 ranah yaitu :
a. Prinsip Manajemen Berdasrkan Sasaran
Prinsip manajemen berdasarkan sasaran sudah dikembangkan menjadi suatu teknik
manajemen yaitu MBO (management by objective). Pada tingakatan sekolah, kepala sekolah,
wakil kepala sekolah, guru, TU, komite sekolah, siswa, orang tua siswa, masyarakat dan
stakeholders duduk bersama membahas rencana strategis sekolah dengan mengembangkan
tujuh langkah MBO yaitu :

 Menentukan hasil apa yang kan dicapai sekolah


 Menganalisa apakah hasil itu berkaitan dengan tujuan sekolah
 Berunding menetapkan sasaran-sasaran yang dibutuhkan
 Menetapkan kegiatan apa yang yang tepat untuk mencapai sasaran
 Menyusun tugas-tugas untuk mempermudah mencapai sasaran
 Menentukan batas-batas pekerjaan dan jenis pengarahan yang akan dipergunakan oleh
atasan
 Lakukan monitoring dan buat laporan.

b. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang


Manajemen pendidikan berdasarkan orang adalah suatu aktivitas manajemen yang diarahkan
pada pengembangan sumber daya manusia. Manajer percaya bahwa perubahan organisasi
dimuali dari perubahan perilaku yang akn berpengaruh terhadap perubahan sistem, struktur,
teknologi, strategi dan tujuan organisasi. Aplikasi prinsip ini adalah memberikan peluang
yang besar kepada staf untuk meningkatkan kemampuan melalui pelatiahan/penataran atau
studi lanjut. Di samping itu, manajer melaksanakan pelayanan manajerial berdasarkan
managerial effectivenss yang sesuai dengan kematangan staf.
c. Prinsip manajemen berdasarkan informasi
Banyak aktivitas manajemen yang membutuhkan data dan informasi secara cepat, lengakap
dan akurat. Suatu aktivitas pengambilan keputusan sangat didukung oelh informasi begitupun
untuk meaksanakan kegiatan rutin dan incidental diperlukan infomasi yang dirancang
sedemikian rupa sehingga mempermudah manajer dan pengguna mengakses dan mengelolah
data.
B . Ruang Lingkup Manajemen Sekolah

Ruang lingkup manajemen sekolah adalah luasnya bidang garapan manajemen


sekolah. Dilihat dari wujud problemanya manajemen sekolah secara substansial meliputi
bidang-bidang garapan antara lain :

1. Bidang kurikulum (pengajaran).


2. Bidang kesiswaan.
3. Bidang personalia yang mencakup tenaga edukatif dan tenaga administrasi.
4. Bidang sarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara langsung pada
pencapaiantujuan.
5. Bidang prasarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara tidak langsung
pada pencapaian tujuan.
6. Bidang hubungan dengan masyarakat, berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah
dapat menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.
Semua bidang tersebut harus dikelola dengan memperhatikan aktivitas-aktivitas
manajerial dan didukung oleh aktivitas pelaksana. Dengan Demikian terjadi sinergi dalam
pencapaian tujuan sekolah.

Bidang Kegiatan Pendidikan

Berbicara tentang kegiatan pendidikan, di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli
tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan.
Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu :

1. Administrasi material, yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/


benda-benda, seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, gedung dan alat-
alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
2. Administrasi personal, mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan
pegawai sekolah, juga administrasi murid. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan
supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting.
3. Administrasi kurikulum, seperti tugas mengajar guru-guru, penyusunan sylabus atau
rencana pengajaran tahunan, persiapan harian dan mingguan dan sebagainya.

Di lain pihak, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah


menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah, yang didalamnya mengetengahkan bidang-
bidang kegiatan manajemen pendidikan, meliputi:
(1) manajemen kurikulum;

(2) manajemen personalia;

(3) manajemen kesiswaan;

(4) manajemen keuangan;

(5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.

Manajemen Pendidikan Sekolah

Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam


buku Panduan Manajemen Sekolah, berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidang-
bidang kegiatan pendidikan di sekolah, yang mencakup :

A. Manajemen kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip


dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk
menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan
manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap :

 Perencanaan;
 Pengorganisasian dan koordinasi;
 Pelaksanaan; dan
 Pengendalian.
Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari (2006)
mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap :

1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis


kebutuhan; (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis; (3) menentukan
disain kurikulum; dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan,
pelaksanaan, dan penilaian.
2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau
dasar pemikiran; (2) perumusan visi, misi, dan tujuan; (3) penentuan struktur dan isi
program; (4) pemilihan dan pengorganisasian materi; (5) pengorganisasian kegiatan
pembelajaran; (6) pemilihan sumber, alat, dan sarana belajar; dan (7) penentuan cara
mengukur hasil belajar.
3. Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi langkah-langkah: (1)
penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP: Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan); (3) penentuan
strategi dan metode pembelajaran; (4) penyediaan sumber, alat, dan sarana
pembelajaran; (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar; dan (6)
setting lingkungan pembelajaran
4. Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan
kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk penilaian formatif
maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks, input, proses,
produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan,
kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang. Penilaian Input: memfokuskan pada
kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi design dan cost benefit
dari rancangan. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi
untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian product
berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan
evaluasi sumatif)
B. Manajemen Kesiswaan

Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu :


1. Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus
didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan
yang terkait dengan kegiatan mereka;
2. Kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan
intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana
kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang
secara optimal;
3. Siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan;
dan
4. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi
juga ranah afektif, dan psikomotor.

C. Manajemen personalia

Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu :


1. Dalam mengembangkan sekolah, sumber daya manusia adalah komponen
paling berharga;
2. Sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik,
sehingga mendukung tujuan institusional;
3. Kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial sekolah
sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah; dan
4. Manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap
warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah.

Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia, hal yang amat penting
dalammanajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di
sekolah. Oleh karena itu, upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah
menjadi mutlak diperlukan.

D. Manajemen keuangan

Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali
dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program
tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan,
pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu,
disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan
maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas
dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat
dan sumber-sumber lainnya.

E. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah

Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang
dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti gedung,
mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja,
memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif
perawatan sarana dan pra sarana sekolah.

Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara
pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan pra saran, menyiapkan jadwal
kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada
masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil
meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat
sarana dan prasarana sekolah.
Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana,
mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan
informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan membuat
program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga
sekolah.

C . Proses Manajemen Sekolah

Djojo Jomantara menjelaskan bahwa proses manajemen sekolah merupakan serangkaian


kegiatan yang saling berhubungan satu sama lain dan memiliki tingkatan atau jenjang tertentu
yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah untuk mencapai tujuan sekolah yang telah
dicita-citakan.

Hikmat (2009: 101-135) menyatakan bahwa proses manajemen pendidikan formal


(baca: sekolah) meliputi; perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, budgeting, Staffing
dan evaluasi. Subtansi dari masing-masing proses tersebut dapat disimak dari penjelasan
berikut.

Pertama, tahap perencanaan (planning). Perencanaan pendidikan formal (baca:


sekolah) adalah kegiatan yang berkaitan dengan usaha merumuskan program sekolah yang di
dalamnya memuat segala sesuatu yang akan dilaksanakan, penentuan tujuan sekolah yang
dituangkan dalam visi dan misi, kebijakan-kebijakan yang dijadikan landasan kegiatan
sekolah dan menentukan arah yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan sekolah serta
metode yang akan dijalankan dalam usaha mencapai tujuan sekolah.

Kedua, tahap pengorganisasian (organizing). Proses pengorganisasian yaitu proses


menghubungkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi sekolah dan menyatupadukan
tugas serta fungsinya dalam sistem jaringan kerja relationship antara satu dan yang lainnya.
Dalam proses pengorganisasian lembaga sekolah, kepala sekolah menetapkan pembagian
tugas, wewenang, dan tanggung jawab secara rinci berdasarkan bagian dan bidang masing-
masing sehingga terintegrasi hubungan-hubungan kerja yang sinergis, kooperatif, harmonis
dan seirama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Ketiga, tahap pengendalian (controling). Pengendalian yaitu meneliti dan


mengawasi agar semua tugas dilakukan dengan baik dan sesuai berdasarkan peraturan yang
ada atau sesuai dengan deskripsi kerja masing-masing personal. Pengendalian dapat
dilakukan secara vertikal maupun horizontal, atasan dapat melakukan pengontrolan kepada
bawahannya, demikian pula bawahan dapat melakukan upaya kritik kepada bawahannya.
Pengendalian terdiri atas penelitian terhadap hasil kerja sesuai dengan rencana/ program
kerja, pelaporan hasil kerja dan pendataan berbagai tantangan yang dihadapi serta evaluasi
hasil kerja dan problem solving.

Keempat, tahap penyusunan anggaran (budgeting). Setiap lembaga membutuhkan


pembiayaan tak terkecuali lembaga sekolah. Suatu anggaran merupakan rencana penggunaan
sumber-sumber keuangan yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan terpadu. Oleh
karena itu penyusunan anggaran harus dilakukan secara matang, terencana, tepat, efektif dan
efisien. Sehingga dalam penyusunan anggaran kepala sekolah harus memperhatikan income
yang diperoleh sebelum mengeluarkan dana untuk kegiatan tertentu.

Kelima, tahap staffing atau assembling resources. Staffing atau assembling


resources termasuk kegiatan organisasi dalam proses manajemen yang sangat penting karena
berhubungan dengan penempatan orang dalam tugas dan kewajiban tertentu yang harus
dilaksanakan. Dalam menjalankan tugas dan fungsi staffing, kepala sekolah harus melakukan
hal-hal berikut; menentukan jenis pekerjaan, menentukan jumlah orang yang dibutuhkan,
menentukan tenaga ahli, menempatkan personal sesuai dengan keahliannya, menentukan
tugas, fungsi, dan kedudukan pegawai, membatasi otoritas dan tanggung jawab pegawai,
menentukan hubungan antar unit kerja, menentukan gaji, upah, dan insentif bagi pegawai
serta menentukan masa jabatan, mutasi, pensiun, dan pemberhentian pegawai (berkaitan
dengan peraturan dan perundangan yang berlaku, AD/ ART sekolah).

Keenam, tahap evaluasi. Evaluasi artinya menilai semua kegiatan sebagai indikator
sukses atau gagalnya pencapaian tujuan, sehingga dapat dijadikan bahan kajian berikutnya.
Dalam mengkaji masalah yang dihadapi, rumuskan solusi alternatif yang dapat memperbaiki
kelemahan-kelemahan yang ada dan meningkatkan kualitas keberhasilan di masa yang akan
datang. Evaluasi sebagai fungsi manajemen merupakan aktivitas untuk meneliti dan
mengetahui pelaksanaan yang telah dilakukan dalam proses keseluruhan organisasi mencapai
hasil sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai
tujuan.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan makalah diatas maka dapat kami simpulkan bahwa:

 Prinsip-prinsip Manajemen sekolah

Menurut Nurkolis teori yang digunakan MBS untuk mengelola sekolah didasarkan
atas empat prinsip.

- Prinsip ekuifinalitas (principle of equifinality

- Prinsip desentralisasi (prinsiple of decentralization

- Prinsip pengelolaan mandiri (principle of self managing system)..

- Prinsip inisiatif manusia (principle of human initiative)

Selain 4 Prinsip diatas terdapat prinsip lainnya yaitu:

Kemandirian,Keadilan,Keterbukaan ,Kemitraan,Partisipatif,Efisiensi dan Akuntabilitas

 Ruang Lingkup Manajemen Sekolah

1. Bidang kurikulum (pengajaran).


2. Bidang kesiswaan.
3. Bidang personalia yang mencakup tenaga edukatif dan tenaga administrasi.
4. Bidang sarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara langsung pada
pencapaiantujuan.
5. Bidang prasarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara tidak langsung
pada pencapaian tujuan.
6. Bidang hubungan dengan masyarakat, berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah
dapat menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.
 Proses Manajemen Sekolah
Proses manajemn sekolah meliputi tahap berikut:
 perencanaan (planning).
 pengorganisasian (organizing).
 pengendalian (controling).
 penyusunan anggaran (budgeting).
 staffing atau assembling resources.
 evaluasi.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Bacal, Robert. 2001. Performance Management. Terj.Surya Darma dan Yanuar Irawan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
http ://Proses Manajemen Pendididkan-Media Pustaka.html
Rohiat. 2008. Manajemen Sekolah.Bandung: Refika Aditama