Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Istilah manajemen sekolah, terjemahan dari “school management” dan akan
melihat bagaimana managemen subtansi-substansi pendidikan disuatu sekolah atau
manajemen berbasis sekolah agar dapat berjalan dengan tertib, lancar dan benar-benar
terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan secara efektif dan
efisien. Manajemen sekolah merupakan faktor yang terpenting dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang keberhasilannya diukur
oleh prestasi tamatan (out put), oleh karena itu dalam menjalankan kepemimpinan,
harus berpikir “sistem”artinya dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah
komponen-komponen terkait seperti: guru-guru, staff TU, Orang tua siswa/Masyarakat
, Pemerintah, anak didik, dan lain-lain harus berfungsi optimal yang dipengaruhi oleh
kebijakan dan kinerja pimpinan.
Hal yang paling penting dalam implementasi manajemen berbasis sekolah
adalah manajement terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri. Sedikitnya
terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka MBS,
yaitu manajemen kurikulum, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, layanan
sekolah,Hubungan Sekolah dengan Masyarakat, dan Tenaga Kependidikan.
Pada era globalisasi, lembaga pendidikan harus dapat mencetak “Leader-
leader” yang tangguh dan berkualitas . Leader-leader pada masa yang akan datang
harus dapat mengubah pola pikir untuk menyelesaikan sesuatu dengan kekuatan
manusia (man power) menjadi pola pikir kekuatan otak (mind power). Konsep
pendidikan juga harus dapat menghasilkan out-put lembaga pendidikan yang dapat
menciptakan “Colporate culture”, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan norma-
norma yang berlaku masa itu dan pada gilirannya tumbuh kreativitas dan inisiatif,
sehingga muncullah peluang baru (New Opportunity) out-put pendidikan dimasa
datang juga diharapkan dapat memandang manusia bukan sebagai pekerja tetapi
sebagai mitra kerja dengan keunggulan yang berbeda. Dengan demikian seorang
Leader yang keluar dari persaingan global harus dapat memandang manusia sebagai
manusia bukan pekerja.
Dari uraian-uraian di atas maka kami tertarik untuk membahas mengenai
“Manajemen komponen-komponen sekolah dan organisasi Lembaga Pendidikan”
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian, ruang lingkup, fungsi dan tujuan dari manajemen
komponen-komponen sekolah?
2. Bagaimana organisasi lembaga pendidikan sekolah?
1.3. Tujuan
1. Menguraikan Pengertian, ruang lingkup, fungsi dan tujuan dari manajemen
komponen-komponen sekolah
2. Menguraikan tentang organisasi lembaga pendidikan sekolah

1
BAB II
PEMBAHASAN

KOMPONEN MANAJEMEN SEKOLAH

2.1. Manajemen Kurikulum


2.1.1. Pengertian Manajemen Kurikulum

Secara etomologis, kata manajemen (management) berarti, pimpinan, direksi dan


pengurus, yang diambil dari kata kerja “manage” dalam bahasa perancis berarti
tindakan membimbing atau memimpin. Sedangkan dalam bahasa latin, management
berasal dari kata “managiere” terdiri dari dua kata yaitu manus dan agere. “Manus”
berarti tangan dan “agere” berarti melakukan atau melaksanakan.
Manajemen adalah suatu proses social yang berkenaan dengan keseluruhan usaha
manusia dengan bantuan manusia dan sumber-sumber lainnya, menggunakan metode
yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Kurikulum berasal dari bahasa latin, yaitu “Curriculae” artinya jarak yang harus
ditempuh oleh seorang pelari. Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan
oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang
kooperitif, komperehensip, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan
ketercapaian tujuan kurikulum. Manajemen kurikulum adalah pengaturan yang
dilakukan untuk keberhasilan kegiatan belajar mengajar (dalam istilah sekarang adalah
pembelajaran), agar kegiatan tersebut dapat mencapai hasil maksimal. Manajemen
kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian
tujuan pembelajaran dengan dititikberatkan pada usaha, meningkatkan kualitas
interaksi belajar mengajar.

2.1.2. Prinsip Manajemen Kurikulum


Terdapat lima prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen
kurikulum, yaitu sebagai berikut :
1. Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum
merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen
kurikulum. Pertimbangan bagaimana agar peserta didik dapat mencapai
hasil belajar sesuai dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam
manajemen kurikulum.
2. Demokratisasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berasaskan
demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana dan subjek didik pada
posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung
jawab untuk mencapai tujuan kurikulum.

2
3. Kooperatif, untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan
manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai
pihak yang terlibat.
4. Efektivitas dan efesiensi, rangkaian kegiatan manajemen kurikulum harus
mempertimbangkan efektivitas dan efesiensi untuk mencapai tujuan
kurikulum sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut memberikan
hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relatif singkat.
5. Mengarahkan visi, misi dan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum,
proses manajemen kurikulum harus dapat memperkuat dan mengarahkan
visi, misi, dan tujuan kurikulum.
2.1.3. Fungsi Manajemen Kurikulum
Fungsi kurikulum untuk sekolah bersangkutan sekurang-kurangnya memiliki dua
fungsi, yaitu:
1. sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan
2. sebagai pedoman untuk mengatur segala kegiatan pendidikan setiap hari
Fungsi dari manajemen kurikulum dan pembelajaran diantaranya sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum,
pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan
melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
2. Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk
mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat di capai
peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakulikuler, tetapi juga perlu
melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas
dalam mencapai tujuan kurikulum.
3. Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik,
kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan
hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan
sekitar.
4. Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran, dengan pengelolaan kurikulum yang
professional, efektif dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja
guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
5. Meningkatkan efesiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses
pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara
desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran.
Dengan demikian ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi
dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi
untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efesien, karena adanya
dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan
kurikulum.
6. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan
kurikulum, kurikulum yang dikelola secara professional akan melibatkan
masyarakat khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu
disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuhan pembangunan daerah
setempat.

3
2.1.4. Tahapan Manajemen Kurikulum
Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap :
Perencanaan, Pengorganisasian dan koordinasi, Pelaksanaan; dan Pengendalian.
Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari
(2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari
empat tahap :
1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis
kebutuhan; (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis; (3)
menentukan desain kurikulum; dan (4) membuat rencana induk (master
plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian.
2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1) perumusan
rasional atau dasar pemikiran; (2) perumusan visi, misi, dan tujuan; (3)
penentuan struktur dan isi program; (4) pemilihan dan pengorganisasian
materi; (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran; (6) pemilihan
sumber, alat, dan sarana belajar; dan (7) penentuan cara mengukur hasil
belajar.
3. Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi langkah-langkah: (1)
penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP: Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan
keluasan); (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran; (4)
penyediaan sumber, alat, dan sarana pembelajaran; (5) penentuan cara dan
alat penilaian proses dan hasil belajar; dan (6) setting lingkungan
pembelajaran.
4. Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan
dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk penilaian
formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks,
input, proses, produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada
pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan
peluang. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi
pencapaian tujuan, implementasi design dan cost benefit dari rancangan.
Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk
pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian product
berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program
(identik dengan evaluasi sumatif)

2.2. Manajemen Kesiswaan


2.2.1. Pengertian Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan atau manajemen kemuridan (peserta didik) merupakan
salah satu bidang operasional MBS dalam hal penataan dan pengaturan terhadap
kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya
peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Salah satu tugas sekolah diawal tahun
pelajaran baru adalah menata siswa. Manajemen kemuridan adalah penataan dan
pengaturan kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik (murid), awal
pendaftaran sampai mereka lulus, tetapi bukan sekedar pencatatan data peserta didik,
melainkan meliputi aspek lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya
pertumbuhan murid melalui proses pendidikan di sekolah.

4
2.2.2. Tujuan Manajemen Kesiswaan
Secara umum tujuan manajemen kesiswaan adalah untuk mengatur berbagai
kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
lancar, tertib, teratur serta dapat mencapai tujuan pendidikan sekolah. Selain itu
manajemen kesiswaan di sekolah secara baik dan berdaya guna akan membantu
seluruh staf maupun masyarakat untuk memahami kemajuan sekolah. Mutu dan derajat
sekolah tergambar dalam system sekolahnya. Jadi tujuan manajemen kesiswaan adalah
mengatur berbagi kegiatan dalam bidang kesiswaan serta sebagai wahana bagi siswa
untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin.

2.2.3. Prinsip Manajemen Kesiswaan


Berkenaan dengan manajemen kesiswaan ada beberapa prinsip dasar yang harus
mendapat perhatian berikut ini, yaitu:
1. Siswa harus diperlukan sebagai subyek dan bukan obyek
2. Keadaan dan kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik,
kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan sebagainya.
3. Pada dasrnya siswa hanya akan termotifasi belajar, jika mereka
menyenangi apa yang diajarkan.
4. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif,
tetapi juga afektif dan pisikomotorik.

2.2.4. Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan


kegiatan administrasi siswa dapat didaftar melalui gambaran bahwa lembaga
pendidikan diumpamakan sebuah transformasi, yang mengenal masukan (input).
Pengelolaan didalam tranformasi (proses) dan keluaran (output). Dengan
demikian penyajian penjelasaan administrasi siswa dapat diurutkan menurut
aspek-aspek tersebut. Dengan melihat pada proses memasuki sekolah sampai
murid meninggalkannya, terdapat 4 (empat) kelompok pengadministrasian yaitu:
(1) penerimaan murid, (2), pencatatan prestasi belajar (3) pencatatan bimbingan
dan penyuluhan serta (4) mutasi. Oleh karena itu manajemen kesiswaan akan
membahas penerimaan siswa baru, pencatatan prestasi siswa, pencatatan
bimbingan dan penyuluhan.
a) Penerimaan Siswa Baru
1. Penetapan Persyaratan Siswa yang akan diterima
Setiap sekolah berbeda dalam menetapkan persyaratan calon siswa baru
yang akan diterima. Pada umumnya persyaratan itu menyangkut: aspek
waktu, persyaratan dan proses penerimaan siswa baru. Penerimaan siswa
baru harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga kegiatan belajar mengajar
sudah dapat dimulai pada hari pertama setiap tahun ajaran baru. Pada
umumnya persyaratan itu menyangkut: aspek: umur, kesehatan,
kemampuan hasil belajar dan persyartan administrasi lainnya. Persyaratan
untuk masuk SMA adalah sebagai berikut:
 Besarnya uang pendaftaran
 Berapa rata-rata nilai raport yang bisa diterima sebagai pendaftar
 STTB/ijazah dan foto copy ijazah terakhir yang sudah di sahkan
oleh yang berwenang

5
 Pas foto (selain jumlah ditentukan juga ukurannya)
Cara Penerimaan siswa baru yaitu : Pertama, berdasrkan hasil Tes masuk
yaitu siapa yang diterima dari calon peserta didikyang mendaftar,
ditentukan berdasarkan hasil tes yang diadakan. Sekolah menentukan nilai
batas lulus, calon yang memperoleh nilai tes masuk sama atau lebih tinggi
dari nilai batas lulus dinyatakan diterima. Kedua Berdasarkan Hasil UAN
(Ujian Akhir Nasional). Dengan cara ini filter atau penyaring diterimanya
calon peserta didik yang mendaftar didasarkan pada posisi jumlah NEM
yang dimiliki dikaitkan dengan posisi jumlah NEM dari semua
pendaftar.Semua calon di rangking menurut jumlah NEM .Penentuan siapa
yang diterima hingga NEM tertentu, sampai jumlah peserta didik yang
diperlukan sekolah terpenuhi.

2. Pembentukan Panitia penerimaan siswa baru


Panitia penerimaan siswa baru di lakukan sekali setahun. Oleh karena itu
dibentuk khusus untuk itu dan dibubarkan setelah kegiatan selesai. Penitia
penerimaan siswa baru terdiri dari kepala sekolah dan beberapa guru yang
ditunjuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan yakni:
a) Syarat-syarat pendaftaran murid baru
b) Formulir Pendaftaran
c) Pengumuman
d) buku pendaftaran
e) waktu pendaftaran
f) jumlah calon yan diterima

3. Masa Orientasi Siswa Baru


Orientasi siswa baru adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan
mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan sekolah. Tujuan
orientasi siswa baru yaitu agar peserta didik dapat mengerti dan mentaati
segala peraturan yang berlaku di sekolah, Agar peserta didik dapat
berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang di selenggarakan sekolah,
dan agar peserta didik siap menghadapi lingkungannya yang baru baik
secara fisik, mental dan emosional sehingga ia merasa betah dalam
mengikuti proses pembelajaran di sekolah serta dapat menyesuaikan
dengan kehidupan sekolah.27 Sebelum siswa baru menerima pelajaran
biasa di kelas-kelas,ada sejumlah kegiatan yang harus diikuti oleh mereka
selama OSPEK. Kegiatan-kegiatan itu di antara lain adalah :
a) Perkenalan dengan para guru dan staf sekolah
b) Perkenalan dengan siswa lama dan pengurus OSIS
c) Penjelasan tentang program sekolah
d) Penjelasan tentang tata tertib sekolah
e) Mengenal fasilitasm pendidikan yang dimiliki sekolah
f) Penjelasan tentang struktur organisasi sekolah.

6
b) Pendataan Kemajuan Belajar Siswa
Keberhasilan kemajuan dan prestasi belajar para siswa memerlukan data
yang otentik, dapat dipercaya dan memiliki keabsahan. Data ini diperlukan
untuk mengetahui dan mengontrol keberhasilan atau prestasi oleh kepala
sekolah sebagai manajer pendidikan di sekolah. Kemajuan belajar siswa secara
periodik harus dilaporkan kepada orang tua sebagai masukan untuk berprestasi
dalam proses pendidikan dan membimbing anaknya dalam belajar baik di
rumah maupun di sekolah. Dalam pendataan kemajuan belajar siswa untuk
kemajuan dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar secara maksimal
diperlukan buku catatan prestasi belajar murid, yang meliputi buku daftar nilai,
buku legger dan raport.
1. Buku Daftar Nilai
Buku ini merupakan buku pertama yang digunakan untuk menestan nilai
hasil belajar yang di peroleh langsung dari kertas pekerjaan ulangan atau
dari hasil ujian lisan.
2. Buku Legger
Yaitu buku kumpulan nilai yang memuat semua nilai untuk semua bidang
studi yang diikuti oleh siswa di dalam periode tertentu. Buku legger ini diisi
oleh wali kelas yang menampung nilai-nilai dari guru-guru yang memegang
pelajaran di kelas tersebut. Sekolah juga memiliki buku legger yang
merupakan kumpulan nilai dari legger-legger kelas.
3. Buku Raport
Sebuah buku yang memuat hasil belajar siswa selama siswa tersebut
mengikuti pelajan di suatu sekolah30 . Oleh karena itu paling sedikit
banyaknya lembaran raport sama dengan banyaknya tingkatan di suatu
sekolah.
c) Bimbingan Konseling
Bimbingan: bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan
potensi-potensi yang ada pada siswa agar dapat berkembang se maksimal
mungkin. Penyuluhan: proses interaksi antar pribadi pembimbing dan
terbimbing untuk membicarakan masalah untuk mendapatkan pemecahan
masalah.
d) Mutasi
Perpindahan di dalam sekolah sendiri atau perpindahan ke luar sekolah.

7
2.3. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Manajemen Keuangan (MK) adalah manajemen terhadap fungsi-fungsi
keuangan, yaitu mengelola fungsi penggunaan dan mendapatkan dana. Keuangan
dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung
menunjang efektivitas dan efesiensi pengelolaan pendidikan. Dalam MBS sekolah
dituntut memiliki kemampuan dalam merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara
transparan kepada masyarakat dan pemerintah. Fungsi manajemen keuangan
adalah melakukan pengelolaan terhadap penggunaan dana (allocation of fund) dan
mendapatkan/memperoleh dana (rising of fund).
Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan
potensi yang sangat menentukan karena setiap kegiatan yang dilakukan sekolah
memerlukan biaya. Oleh karena itu, komponen keuangan dan pembiayaan perlu
dikelola dengan baik agar dana-dana yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal
untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Sumber keuangan dan
pembiayaan pada sekolah dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu :
1. Pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun kedua-duanya yang
bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan.
2. Orang tua atau peserta didik.
3. Masyarakat baik mengikat maupun tidak mengikat.
Dimensi pengeluaran meliputi biaya rutin dan biaya pembangunan.
1. Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, seperti
gaji pegawai (guru dan non guru), serta biaya operasional, biaya
pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pengajaran.
2. Biaya pembangunan misalnya, biaya pemeliharaan atau pengembangan
tanah, pembangunan gedung, perbaikan atau rehab gedung, penambahan
furnitur, serta biaya atau pengeluaran untuk barang-barang tidak habis pakai.
Dalam pelaksanaan MBS, manajemen keuangan harus dilaksanakan dengan
baik dan teliti, mulai tahap penyusunan anggaran, penggunaan, pengawasan dan
pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana
sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efektif, efisien, tidak ada kebocoran-
kebocoran, serta bebas dari penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.
Tugas Manajemen Keuangan dapat dibagi menjadi tiga (3) fase yaitu :
1. Financial planning, merupakan kegiatan mengkoordinasi semua sumber
daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis
tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan.
2. Implementation involves accounting (pelaksanaan anggaran), ialah kegiatan
berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian
jika diperlukan.
3. Evaluation involves, merupakan proses eveluasi terhadap pencapaian
sasaran.
Kepala sekolah sebagai manejer, seharusnya berfungsi sebagai otorisator, dan
limpahi fungsi ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, kepala
sekolah tidak melaksanakan fungsi bendaharawan karena berkewajiban
melakukan pengawasan ke dalam.

8
2.4. Manajemen Tenaga Kependidikan
Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan bertujuan
untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai
hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Manajemen
tenaga kependidikan mencakup :
1. Perencanaan pegawai
Merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan pegawai, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif untuk sekarang dan masa depan. Sebelum
menyusun rencana, perlu dilakukan analisis pekerjaan (job analisis) dan
analisis jabatan untuk memperoleh deskripsi pekerjaan (gambaran tentang
tugas-tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan).
2. Pengadaan pegawai
Merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pegawai pada suatu lembaga,
baik jumlah maupun kualitasnya. Untuk mendapatkan pegawai yang sesuai
dengan kebutuhan diperlukan rekruitment, yaitu usaha untuk mencari dan
mendapatkan calon-calon pegawai yang memenuhi syarat sebanyak mungkin
untuk dipilih calon terbaik dan tercakap. Oleh karena itu, diperlukan seleksi,
maupun ujian lisan, tulisan dan praktek. Namun, terkadang pada suatu
organisasi, pengadaan pegawai dapat didatangkan secara intern atau dari
organisasi baik melalui promosi maupun mutasi.
3. Pembinaan dan pengembangan pegawai
Suatu organisasi pasti menginginkan agar personil-personilnya melaksanakan
tugas secara optimal dan mengerahkan semua kemampuannya untuk kemajuan
organisasi. Fungsi pembinaan dan pengembangan pegawai merupakan fungsi
pengelolaan personil yang mutlak harus ada, untuk memperbaiki, menjaga, dan
meningkatkan kinerja pegawai.
4. Promosi dan mutasi pegawai
5. Pemberhentian pegawai
Merupakan fungsi personalia yang menyebabkan terlepasnya pihak organisasi
dan personil dari hak dan kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja dan
sebagai pegawai.
6. Kompensasi
Adalah balas jasa yang diberikan kepada pegawai, dapat dinilai dengan uang
dan mempunyai kecenderungan diberikan secara tetap. Kompensasi
merupakan salah satu bentuk tantangan karena imbalan oleh para pekerja tidak
lagi dipandang semata-mata sebagai alat pemuas kebutuhan material dan
dikaitkan dengan harkat dan martabat manusia.
7. Penilaian pegawai
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, diperlukan sistem penilaian
pegawai secara objektif dan akurat. Penilaian ini difokuskan pada prestasi
individu dan peran serta dalam kegiatan sekolah. Bagi para pegawai, penilaian
berguna sebagai umpan balik berbagai hal, seperti kemampuan, keletihan,
kekurangan dan potensi. Bagi sekolah, hasil penilaian sangat penting dalam
pengambilan keputusan berbagai hal, seperti identifikasi kebutuhan program

9
sekolah, penerimaan, pemilihan, pengenalan, penempatan, promosi, sistem
imbalan, dan aspek lain dari keseluruhan proses efektif sumber daya manusia.
Semua kegiatan manajemen tesebut perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa
yang diharapkan tercapai, yakni tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan
dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan
dengan baik dan berkualitas.

2.5. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan


Sarana pendidikan merupakan peralatan dan perlengkapan yang secara
langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses
pembelajaran, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta alat-alat dan media
pengajaran.
Prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang
jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah,
jalan menuju sekolah, tetapi tidak dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar
mengajar komponen tersebut merupakan sarana pendidikan. Misalnya taman sekolah
untuk pembelajaran biologi.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga
sarana dan prasarana pendidikan agar memberikan kontribusi secara optimal dan
berarti pada proses pendidikan. Kegiatan ini meliputi kegiatan perencanaan,
pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan serta penataan.
Dengan adanya manajemen sarana dan prasarana ini, diharapakan dapat menciptakan
sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan
baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Selain itu, diharapkan pula
tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif
dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk
kepentingan proses pendidikan dan pengajaran.

2.6. Manajemen Layanan Khusus


Manajemen layanan khusus itu meliputi :
1. Perpustakaan
Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan
kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses
pembelajaran disekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta
memberi layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka. Perpustakaan yang
dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih
mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya di
dalam kelas secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi,
misalnya belajar individual.
2. Kesehatan
Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Usaha Kesehatan Sekolah adalah usaha
kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah. Menurut Jesse Ferring
William pada buku Pengelolaan Layanan Khusus di sekolah oleh Kusmintardjo
(1992) mendefinisikan layanan kesehatan adalah sebuah klinik yang didirikan
sebagai bagian dari universitas atau sekolah yang berdiri sendiri yang

10
menentukan diagnosa dan pengobatan fisik dan penyakit jiwa dan dibiayai dari
biaya khusus dari semua siswa. Selain itu layanan kesehatan juga dapat
diartikan sebagai usaha sekolah dalam rangka membantu (mungkin bersifat
sementara) murid-muridnya yang mengalami persoalan yang berkaitan dengan
kesehatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa layanan kesehatan peserta
didik adalah suatu layanan kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah
dan menjadikan peserta didik sebagai sasaran utama dan personalia sekolah
yang lainnya sebagai sasaran tambahan.
3. Keamanan
Layanan keamanan yaitu layanan yang dapat memberikan rasa aman dan
nyaman untuk para peserta didik selama belajar di sekolah dan para substansi-
substansi sekolah lainnya misalnya adanya penjagaan oleh satpam sekolah.
4. Bimbingan dan Konseling Peserta Didik
Layanan bimbingan dan konseling adalah proses bantuan yang diberikan
kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang
adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal,
sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan
bersikap sesuai dengan tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan
masyarakat. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan bimbingan dan konseling adalah salah satu kegiatan bantuan dan
tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada
khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.
5. Laboratorium Peserta Didik
Laboratorium diperlukan peserta didik apabila mereka akan
mengadakan penelitian yang berkaitan dengan percobaan-percobaan tentang
suatu objek tertentu. Laboratorium adalah suatu tempat baik tertutup maupun
terbuka yang dipergunakan untuk melakukan penyelidikan, percobaan,
praktikum, pengujian dan pengembangan. Laboratorium sekolah adalah
saranan penunjang proses belajar mengajar baik tertutup maupun terbuka yang
dipergunakan untuk melaksanakan pratikum, penyelidikan, percobaan,
pengembangan dan bahkan pembakuan.
6. Asrama
Bagi para peserta didik khususnya jenjang pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi terutama bagi mereka yang jauh dari orang tuanya diperlukan
asrama. Selain manfaat untuk peserta didik, asrama mempunyai manfaat bagi
para pendidik dan petugas asrama tersebut.
7. Kafetaria
Kantin atau warung sekolah diiperlukan adanya ditiap sekolah supaya makanan
yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi.
Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi
dengan pengelolah kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peran
lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari
makanan keluar lingkungan sekolah. Layanan kafetaria adalah layanan
makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh peserta didik diselah-selah
mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan daya jangkau
peserta didik. Makanan dan minuman yang tersedia di kafetaria tersebut,

11
terjangkau dilihat dari jumlah uang saku peserta didik tetapi juga memenuhi
syarat kebersihan dan cukup kandungan gizinya.

2.7. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (HUSEMAS)


HUSEMAS merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan
diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu
untuk mendapatkan simpati masyarakat pada umumnya serta dari publiknya, pada
khususnya sehingga kegiatan operasional sekolah/pendidikan semakin efektif dan
efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Pada
hakekatnya sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat,
khususnya masyarakat publiknya, seperti para orang tua murid/anggota Badan
Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) dan atasan langsungnya. Demikian pula
hasil pendidikan pelaksanaan sekolah akan menjadi harapan bahkan dambaan
masyarakatnya, maka kegiatan-kegiatan sekolah juga harus terpadu dengan derap
masyarakatnya. Sekolah juga menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah,
orang tua, dan masyarakat. Tetapi orang tua hanya sebagai pembantu penyelenggaraan
pendidikan, dan tidak berhak untuk mempengaruhi apalagi mengubah arah sasaran
pendidikannya. Simpati yang diharapakan dari publiknya akan menambah animo
masyarakat terhadap sekolah tersebut, yang berarti menambah masukan yang sangat
berharga.
Maka segala daya upaya untuk menambah simpati harus terus dilancarkan
dengan meningkatkan layanannya kepada masyarakat, menampilkan produk-produk
unggulannya serta prestasi yang menonjol yang berakibat baik harus dimanfaatkan
untuk usaha-usaha di atas, seperti acara tutup tahun yang diikuti dengan bazaar yang
menampilkan serta memperkenalkan prestasi-prestasi sekolah, hasil pekerjaan serta
kreasi para siswa, hasil penelitian, hasil kejuaraan keteladanan dan sebagainya. Secara
lebih jelasnya maka HUSEMAS ini dapat dilihat dari fungsi,tujuan, manfaat dan
bentuk-bentuk operasionalnya.
Fungsi pokok dari HUSEMAS adalah menarik simpati masyarakat pada
umumnya serta publik (masyarakat terdekat dan langsung terkait) khususnya. Tujuan
dari HUSEMAS adalah meningkatkan popularitas sekolah dimata masyarakat.
Manfaat dari HUSEMAS dengan demikian adalah menambah simpati masyarakat
yang dapat meningkatkan harga diri (Prestise) sekolah. Bentuk-bentuk operasional dari
HUSEMAS bisa bermacam-macam tergantung pada kreatifitas sekolah, kondisi dan
situasi sekolah, fasilitas dan sebagainya.Kegiatan olahraga dan kesenian juga dapat
merupakan sarana HUSEMAS. Menyediakan fasilitas sekolah untuk kepentingan
masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran PBM. Mengikutsertakan
sivitas akademika sekolah dalam kegiatan-kegiatan masyarakat sekitarnya.
Mengikutsertakan tokoh-tokoh/pemuka-pemuka/pekar-pakar masyarakat dalam
kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler sekolah.
Adapun sifat hubungan sekolah dengan masyarakat dapat merupakan:
 Hubungan timbal balik yang menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.
 Hubungan yang bersifat sukarela berdasarkan prinsip bahwa sekolah
merupakan bagian yang tak terpisahkan (integral) dari masyarakat.
 Hubungan yang bersifat kontinu/berkesinambungan antara sekolah dengan
masyarakat.

12
 Hubungan keluar kampus atau “external public relation” guna menambah
simpati masyarakat terhadap sekolah.
 Hubungan kedalam kampus atau “internal public relation” guna menambah
keyakinan atau mempertebal pengertian para sivitas akademika tentang segala
pemilikan material dan nonmaterial sekolah.
Dengan adanya hubungan-hubungan tersebut diatas dapatlah terjalin kretivitas serta
dinamika kedua belah pihak yang inovatif.Selain itu dapat memadukan kehidupan
sekolah dan kehidupan masyarakat.

ORGANISASI LEMBAGA PENDIDIKAN

2.8. Pengertian Organisasi Lembaga Pendidikan


Beberapa definisi organisasi menurut para ahli :
 Annanda W.P Guruge (1977)
Organisasi didefinisikan sebagai tatana tugas yang kompleks yang dikelola
oleh suatu unit dan mendeskripsikan hubungan formal antara orang-orang yang
ditugaskan berbagai macam tugas.
 SB Hri Lubis (1987)
Terdapat kesamaan pengertian dari keseluruhan definisi organisasi yaitu
pada dasarnya organisasi sebagai suatu kesatuan sosial dari sekelompok
manusia yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap
anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-massing, yaitu
sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas
yang jelas, sehingga dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
Dari berbagai definisi para ahli mengenai organisasi, pada intinya dapat
disimpulkan bahwa organisasi adalah koordinasi/ secara rasional kegiatan
sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama yang dirumuskan secara
eksplisit, melalui peraturan dan pembagian kerja serta melalui hirarki
kekuasaan dan tanggungjawab.

Suatu lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mewujudkan
nilai-nilai dan tata cara umum tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
tertentu. Lembaga termasuk diantara norma-norma masyarakat yang paling resmi dan
bersifat memaksa. Kalau kebiasaan dan tata kelakuan disekitar suatu kegiatan yang
penting menjadi terorganisir ke dalam sistem keyakinan dan perilaku yang sangat
formal dan mengikat, maka suatu lembaga telah berkembang. Oleh karena itu suatu
lembaga mencakup :

13
 Seperangkat perrilaku yang telah distandarisasi dengan baik
 Serangkaian tata kelakuan, sikap, nilai-nilai yang mendukung dan
 Sebentuk tradisi, ritual, upacara dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.
Definisi Pendidikan
Ada beberapa definisi mengenai pendidikan menurut para ahli, antara lain :
 Crow and crow (1960)
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk persiapan hidup yang
akan datang, tetapi juga untuk kehidupan sekarang yang dialami individu
dalam perkembangannya menuju ketingkat kedewasaannya.
 Driyakara (1980)
Pendidikan adalah memanusiakan manusia
 Dictionary of education
Pendidikan adalah :
a) Proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku
lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup.
b) Proses sosialisasi yang terjadi pada seseorang yang dihadapkan pada
pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang
datang dari sekolah), sehingga mereka dapat memperoleh
perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang
optimum. Dengan kata lain pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan
atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang sifatnya
permanen (tetap) dalam tingkah laku, pikiran dan sikapnya.
Selain itu, dari berbagai definisi pendidikan menurut para ahli tersebut dapat
disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari pengertian masing-masing kata tersebut dapat diketahui definisi organisasi
lembaga pendidikan adalah koordinasi secara rasional sejumlah orang dalam
membentuk institusi pendidikan. Tujuannya antara lain adalah menyiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau
profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, memperkaya ilmu

14
pengetahuan, teknologi, kesenian serta mengupayaka penggunaannya untuk
meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
2.9. Struktur Organisasi Lembaga Pendidikan

Struktur organisasi merupakan bentuk dari organisasi secara keseluruhan yang


menggambarkan kesatuan dari berbagai segmen dan fungsi organisasi yang
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, ukuran, jenis teknologi yang digunakan dan
sasaran yang hendak dicapai. Struktur bersifat relatif stabil (tidak berubah) statis dan
berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian.
Menurut Storne (1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur yaitu :

1. Spesialisasi aktivitas
Spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan
kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas
tersebut ke dalam unit kerja.
2. Standardisasi aktivitas
Adalah prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakan
kegunaan aktivitas. Menstandarisasi artinya menjadikan seragam dan konsisten
pekerjaan yang harus dilakukan bawahan, biasanya dengan menggunakan
peraturan, uraian jabatan, dan program seleksi, orientasi kerja serta ketrampilan
kerja.
3. Koordinasi aktivitas
Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam
organisasi seperti fungsi primer dalam satuan badan usaha.
4. Sentralisasi dan desentralisasi keputusan
Sentralisasi dan desentralisasi adalah pengambilan keputusan yang mengacu
pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi adalah proses
pemberian wewenang pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu
organisasi, sedangkan desentralisasi merupakan pendelegasian wewenang pada
semua tingkat organisasi.
5. Ukuran dan unit kerja
Ukuran dan unit kerja mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok
kerja.

Struktur organisasi akan menjadi lebih jelas apabila digambarkan dalam bagan
atau skema organisasi. Pada sturktur organisasi terdapat gambaran posisi kerja,
pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dan bawahan,
kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi.
Struktur organisasi menspesifikkan pembagian kegiatan kerja dan menunjukkan
bagaimana fungsi atau bagaimana kegiatan yang berbeda-beda itu dihubungkan.
Struktur juga menunjukkan hierarki dan struktur wewenang organisasi serta
memperlihatkan hubungan pelapornya.
Skema organisasi memberikan penjelasan mengenai hubungan pelaporan yang
dinyatakan sebagai garis vertikal pada skema organisasi menunjukkan pada siapa suatu
jabatan atau seseorang individu harus melapor, menggambarkan lingkungan tanggung
jawab, alokasi tugas dan tanggung jawab setiap jabatan dalam organisasi.

15
Bagan organisasi menunjukkan struktur organisasi dengan kotak-kotak atau
garis-garis yang disusun menurut kedudukannya yang masing-masing mempunyai
fungsi tertentu, yang satu sama lain dihubungkan dengan garis-garis saluran
wewenang. Untuk lebih jelasnya terlihat pada gambar di bawah ini :

1. Kepala Sekolah
Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap seluruh kegiatan sekolah,baik
kedalam maupun keluar, yaitu:
 Penyelenggaraan program kerja sekolah, meliputi :
1. Penyusunan program kerja sekolah
2. Pengawasan proses belajar mengajar, pelaksanaan dan penilaian proses
dan hasil belajar serta bimbingan dan konseling

16
 Pembinaan kesiswaan
 Pelaksanaan bimbingan dan penilaian bagi guru serta tenaga kependidikan
lainnya.
 Penyelenggaraan administrasi sekolah meliputi administrasi ketenagaan,
keuangan, kesiswaan, perlengkapan dan kurikulum.
 Pelaksanaan hubungan sekolah dengan lingkungan dan atau masyarakat.
2. Wakasek Kurikulum
Wakil kepala sekolah bidang kurikulum bertanggung jawab atas semua
kegiatan belajar mengajar, berikut tugas-tugasnya :
 Menyusun pembagian tugas guru
 Mengelolah kegiatan belajar mengajar
 Menyusun jadwal evaluasi
 Menyusun kriteria kenaikan kelas dan kurikulum
 Menyusun pelaksanaan UAS dan UAN.
 Menyusun instrumen kegiatan belajar mengajar
 Menyusun kegiatan ekstrakulikuler
3. Wakasek Kesiswaan
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan membidangi urusan kesiswaan,
bertanggung jawab atas semua kegiatan belajar mengajar yang antara lain :
 Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler
 Pengadaan pembinaan dan pembina kegiatan OSIS
 Pembuatan dan pengawasan pelaksanaan tata tertib sekolah
 Penginventarian absensi dan pelanggaran-pelanggaran
 Penilaian terhadap siswa untuk mewakili sekolah terhadap kegiatan
diluar sekolah.
 Perencanaan kegiatan setelah siswa lulus.

4. Wakasek Sarana
Wakil kepala sekolah bidang sarana membidangi sarana dan prasarana,
bertanggung jawab atas semua kegiatan belajar mengajar yang antara lain:
 Inventarisasi bahan terdiri atas mencatat alat atau bahan yang masuk,
mencatat alat laboratorium yang masuk dan mencatat alat peraga.
 Pengadaan sarana dan prasarana olaraga

17
 Pendayagunaan sarana dan prasarana
 Penyusunan anggaran sekolah
5. Wakasek Humas
Wakil kepala sekolah humas membidangi hubungan masyarakat, bertanggung
jawab atas semua kegiatan belajar mengajar yang antara lain :
 Membina kerja sama dengan masyarakat
 Membantu pelaksanaan tugas BP3

18
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam
rangka MBS yaitu manajemen kurikulum, kesiswaan, keuangan, sarana dan
prasarana, layanan sekolah, Hubungan Sekolah dengan Masyarakat, dan
Tenaga Kependidikan. Masing-masing komponen memiliki spesifikasi
tersendiri (tugas, fungsi, ruang lingkup & definisi)
2. Lembaga pendidikan adalah koordinasi secara rasional sejumlah orang dalam
membentuk institusi pendidikan. Dalam Lembaga ini terdapat hierarki
kepemimpinan yang ditunjukkan dengan Bagan organisasi. Bagan tersebut
menunjukkan struktur organisasi dengan kotak-kotak atau garis-garis yang
disusun menurut kedudukannya yang masing-masing mempunyai fungsi
tertentu, yang satu sama lain dihubungkan dengan garis-garis saluran
wewenang.

3.2. Saran
Sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi pendidik, hendaknya mengetahui
manajemen komponen-komponen sekolah (manajemen kurikulum, kesiswaan,
keuangan, sarana dan prasarana, layanan sekolah, Hubungan Sekolah dengan
Masyarakat, dan Tenaga Kependidikan) dan struktur organisasi lembaga pendidikan,
agar nanti ketika menjadi pendidik tidak canggung lagi di lingkungan sekolah tempat
anda mengajar.

19