Anda di halaman 1dari 51

BUKU AJAR

ETIKA PROFESI

Disusun Oleh: Ali Mashar

Departemen Teknik Konversi Energi


Politeknik Negeri Bandung
2015
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah Yang Mahakuasa, buku ajar matakuliah Etika
Profesi ini dapat diselesaikan. Buku edisi 2015 merupakan hasil perbaikan dari buku edisi 2012
dari kesalahan-kesalahan redaksional dan ketidakjelasan tata kalimat yang dirasa cukup
mengganggu.

Buku ajar ini disusun untuk keperluan pembelajaran mahasiswa Teknik Konversi Energi,
Politeknik Negeri Bandung (Polban). Sebagai penerus pembangunan bangsa Indonesia dan
dalam konstelasinya dengan perkembangan dunia, maka mahasiswa dianggap perlu memahami,
menghayati dan menerapkan etika profesi sesuai dengan profesi yang digelutinya.

Buku ajar ini bagi mahasiswa hanyalah sebagai salah satu acuan saja. Untuk dapat memahami
konsep dan pelaksanaan etika profesi, maka perlu mempelajari materi-materi sejenis dari
berbagai sumber, baik dari buku-buku literature maupun internet khususnya yang terkait dengan
penerapannya di dunia kerja yang nyata.

Buku ajar terdiri atas 3 (tiga) bab utama, yaitu: Etika Profesi dan Perkembangannya,
Profesionalisme dan Etos Kerja, dan Peranan Kecerdasan Dalam Profesi. Dalam bab Etika
Profesi dijelaskan konsep dasar etika profesi dan kode etik profesi termasuk contoh-contohnya.
Sedangkan bab Profesionalisme dan Etos Kerja memuat konsep profesionalisme, dan bagaimana
etos kerja seorang profesional serta keterkaitannya dengan kompetensi dan Kerangka Kualifikasi
Nasional Indonesia (KKNI). Pada bab terakhir dimuat jenis-jenis kecerdasan yang dapat
mendukung profesionalisme seorang profesional.

Dengan selesainya buku ajar ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-
teman, pimpinan Jurusan dan Polban atas bantuan dan kepercayaan yang telah diberikan.
Semoga diterima Allah swt sebagai amal ibadah.

Penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa buku ajar edisi pertama ini masih belum lengkap
dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari mahasiswa, teman-teman dan
pihak lain sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depan. Akhirnya penulis berharap agar
buku ajar ini dapat bermanfaat dan memberikan maslahat bagi para mahasiswa dan pembaca
pada umumnya serta menjadi amal jariah penulis.

Bandung, Maret 2015

Penyusun:
Ali Mashar
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I ETIKA PROFESI DAN PERKEMBANGANNYA 1
1.1 Pengertian Etika, 1
1.2 Pengertian Profesi, 5
1.3 Pengertian Etika Profesi, 9
1.4 Kode Etik Profesi, 11

BAB II PROFESIONALISME DAN ETOS KERJA 20


2.1 Profesionalisme, 20
2.2 Etos Kerja, 22
2.3 Keberhasilan, 23
2.4 Kompetensi dan Profesionalisme, 24
2.5 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), 27
2.6 Profil Kompetensi, 30
2.7 Profesional, 31

BAB III PERANAN KECERDASAN DALAM PROFESI


3.1 Pengertian Kecerdasan, 34
3.2 IQ (Intellegence Quotient), 36
3.3 EQ (Emotional Quotient), 37
3.4 SQ (Spiritual Quotient), 41
3.5 CQ (Creativity Quotient), 44
3.6 AQ (Adversity Quotient), 46
BAB I
ETIKA PROFESI DAN PERKEMBANGANNYA

1.1 Pengertian Etika

Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara atau bahkan pergaulan antar negara diperlukan suatu
sistem yang mengatur bagaimana pergaulan tersebut dilakukan. Bagaimana dalam tata kehidupan
pergaulan tersebut dapat diciptakan rasa saling menghormati, seperti yang dikenal dengan sopan
santun, tata krama, tata cara atau protokoler dan lain-lain. Sistem pedoman pergaulan ini
diperlukan untuk menjaga kepentingan masing-masing pihak agar merasa senang, tenang,
tenteram, dan terlindungi tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatan yang
dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku yang secara umum dianggap perbuatan
yang baik.

Secara etimologi, kata etika atau etik berasal dari kata ethos (bentuk jamaknya “ta etha”) bahasa
Yunani, yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Etika berkaitan dengan kebiasaan
hidup yang baik, baik pada diri sendiri maupun kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.
Ini berarti bahwa etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, dan segala
kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke
generasi berikutnya.

Etika juga dimengerti sebagai “filsafat moral”, yaitu ilmu yang membahas dan mengkaji nilai
dan norma yang diberikan oleh moralitas. Sebagai cabang filsafat, etika sangat menekankan pada
pendekatan kritis dalam melihat dan mengkaji nilai dan norma moral serta permasalahan-
permasalahan moral yang timbul ditengah-tengah kehidupan manusia (bermasyakat). Ini
menunjukkan bahwa etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang (Sonny
Keraf, 2005):
a. nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia hidup yang baik sebagai manusia,
dan
b. masalah-masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma-norma
moral yang umum diterima.

Kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai 3 (tiga) arti, yaitu:
 sebagai sistem nilai atau sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi
pedoman bagi seseorang atau kelompok untuk bersikap dan bertindak;
 sebagai kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak atau moral;
 sebagai ilmu tentang yang baik dan yang buruk yang diterima dalam suatu masyarakat,
menjadi bahan refleksi yang diteliti secara sistematis dan metodis.
Ada banyak pengertian tentang etika diantaranya adalah:
 sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik (O.P.
Simorangkir),
 sebagai teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk,
sejauh yang dapat ditentukan oleh akal (Sidi Gajalba) dan
 sebagai cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan
prilaku manusia dalam hidupnya (Burhanudin Salam).
Jadi, etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesama yang
menegaskan mana yang baik dan mana yang buruk sebagai hasil kajian secara kritis dan
mendalam dari masalah-masalah kehidupan manusia yang mendasarkan pada nilai dan norma
moral yang umum diterima.

1.1.1 Jenis Etika


Secara umum etika dapat dibagi menjadi dua, yaitu etika umum dan etika khusus sebagaimana
yang diilustrasikan pada Gambar 1.1. Etika Umum berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar
bagaimana manusia bertindak atau mengambil keputusan secara etis dengan berpegang pada
teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi tolak ukur dalam menilai baik atau
buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogikan dengan ilmu pengetahuan, yang
membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
Sedangkan Etika Khusus merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang
kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berupa: bagaimana sesorang mengambil keputusan
dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan berdasarkan cara,
teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Penerapan dapat juga berupa: bagaimana seseorang menilai
perilakunya sendiri dan perilaku orang lain dalam bidang kegiatan/kehidupan khusus secara etis.

ETIKA

Kondisi/prinsip dasar Penerapan prinsip/etika


bgm manusia ETIKA dasar di bidang
ETIKA UMUM
bertindak secara etis KHUSUS kehidupan yang khusus

Kewajiban manusia Kewajiban manusia sbg


thd diri sendiri ETIKA anggota kelompok/umat
ETIKA SOSIAL
INDIVIDUAL manusia

SIKAP
ETIKA ETIKA ETIKA
TERHADAP ETIKA POLITIK DLL.
KELUARGA PROFESI LINGKUNGAN
SESAMA

(Sumber: Chairul Maulidi, 2012)

Gambar 1. Pengelompokan etika berdasarkan jenjangnya

Etika khusus dibagi menjadi dua, yaitu: etika individual dan etika sosial. Etika individual
memuat kewajiban manusia terhadap diri sendiri sedangkan etika sosial membicarakan tentang
kewajiban manusia sebagai anggota kelompok/umat manusia.
Etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di
dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni
pergaulan manusia, etika ini kemudian diwujudkan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara
sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip prinsip moral yang ada pada saat yang dibutuhkan akan
bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional
umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.

Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “kendali diri” (“self control”),
karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi)
itu sendiri dan suatu profesi hanya akan dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat bilamana
dalam diri para pelaku profesi (profesional) tersebut ada kesadaran kuat untuk mematuhi etika profesi
ketika memberikan jasa keahlian profesinya kepada masyarakat yang memerlukannya.

1.1.2 Fungsi dan Tujuan Etika


Sebagai norma-norma dasar bagi kelakuan manusia, etika mempunyai fungsi untuk:
1) memberi petunjuk yang harus dilakukan dalam situasi konkrit yang sedang dihadapi.
2) memberi petunjuk bagaimana mengatur pola konsistensi dengan orang lain.
3) membimbing tingkah laku manusia agar dalam mengelola kehidupan tidak sampai bersifat
tragis.

Selain fungsi seperti yang diuraikan di atas, etika juga mempunyai tujuan sebagai berikut:
1) agar orang dalam bertindak sesuai dengan nilai dan norma moral yang berlaku dan dapat
dipertanggungjawabkan secara moral.
2) etika sebagai ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional.
3) etika membantu manusia untuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah Etika = Etiket?


Etika menyangkut cara dilakukannya suatu perbuatan sekaligus memberi norma dari perbuatan
itu sendiri. Contohnya: Dilarang mengambil hak orang lain tanpa izin karena sama halnya
dengan mencuri. Di sini tidak dipersoalkan bagaimana seseorang tersebut mencuri. Sedangkan
Etiket hanya berlaku dalam situasi di mana kita tidak seorang diri atau ada orang lain di sekitar
kita. Bila tidak ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada orang yang menyaksikannya, maka
etiket tidak berlaku.
Contohnya: Saya belajar di perpustakaan bersama orang lain sambil meletakkan kaki saya di atas
meja belajar, maka saya dikatakan melanggar etiket. Tetapi kalau saya sedang belajar sendirian
(tidak ada orang lain), maka saya tidak melanggar etiket walaupun saya belajar dengan
menaikkan kaki di atas meja.

1.2 Pengertian Profesi


Kata profesi sudah tidak asing lagi di telinga kita karena istilah ini demikian banyak digunakan
untuk suatu bidang pekerjaan atau atktivitas yang sedang dilakukan atau dijalani oleh seseorang.
Bila ada suatu pertanyaan, apakah profesi anda, jawabnya bisa bermacam-macam, misalnya:
dokter, pilot, tukang batu, dan bahkan ada yang menjawab sebagai mahasiswa. Betulkah
jawaban-jawaban tersebut? Bagia berikut ini adalah penjelasannya.

1.2.1 Apakah profesi?


Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah
hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian dan keterampilan yang tinggi dan melibatkan
komitmen pribadi (moral) yang mendalam (R. T. De George, 1986). Sebagai pokok mata
pencaharian mengandung makna bahwa profesi itu merupakan wadah di mana seseorang
berkiprah mencari nafkah untuk kebutuhan hidupnya. Keahlian merupakan suatu aspek yang
dibutuhkan untuk dapat melakukan pekerjaan itu. Tanpa keahlian kita tidak bisa melaksanakan
tugas dengan baik. Dikatakan ahli di sini berarti memerlukan ilmu pengetahuan yang mendalam,
keterampilan dan pengalaman yang matang. Oleh karena itu, profesi membutuhkan pendidikan,
pelatihan dan pengalaman secara memadai untuk menjadi seorang profesional. Namun, apakah
seseorang yang profesional termasuk kategori orang yang memiliki profesi?

Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari
pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Seorang profesional adalah
seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau terlibat dalam suatu
kegiatan tertentu yang menurut keahlian. Sementara ada orang lain yang melakukan hal yang
sama namun hanya sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang. Apakah
yang terakhir ini termasuk dalam kategori profesional?

1.2.2 Ciri-ciri Profesi


Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu:
1) Adanya keahlian dan keterampilan khusus. Untuk dapat menjalankan pekerjaannya
dengan baik seorang profesional harus memiliki keahlian dan keterampilan. Para profesional
memiliki keahlian dan keterampilan yang lebih tinggi dari orang dari profesi lain.
Kemampuan ini biasanya diperoleh dari pendidikan, dan pelatihan serta pengalaman yang
bertahun-tahun. Bahkan pendidikan dan pelatihan biasanya dilakukan dengan tingkat seleksi
yang sangat ketat.
2) Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Kaidah dan standar moral ini
dituangkan dalam satu dokumen yang disebut kode etik profesi. Sebagai contoh: kode etik
insinyur, kode etik dokter, kode etik arsitek, dan lain-lain. Kode etik ini berupa aturan sebagai
kaidah moral atau aturan main dalam menjalankan profesinya.
3) Mengabdi pada kepentingan masyarakat. Setiap insan pelaksana profesi harus
mendahulukan kepentingan masyarakat luas di atas kepentingan pribadi.
4) Para profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi. Sebagai profesional,
seseorang hidup dari profesinya. Sebagai imbalan terhadap keahlian, tenaga, pikiran dan
keterampilan mereka dibayar mahal. Di samping itu, profesi juga akan membentuk identitas
seseorang.
5) Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi selalu menyangkut
kepentingan orang banyak dan selalu berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan berupa
keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu
profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.

Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum
profesional adalah orang-orang yang memiliki indikator perilaku yang berada di atas rata-rata. Di
satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan
mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua
bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa
diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang sangat baik.

1.2.3 Pengembangan Profesi


Profesi harus dikembangkan secara berkelanjutan sebagai jawaban terhadap tuntutan zaman.
Untuk mengembangkan profesi, menurut pendapat Tatty S.B. Amran, memerlukan hal-hal yang
terkait dengan “KASAH” sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
1) Knowledge (Pengetahuan): sesuatu yang didapat dari membaca dan pengalaman.
Pengetahuan dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu:
a. Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan tentang hal – hal biasa, kejadian sehari – hari
yang selanjutnya disebut pengetahuan.
b. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai sistem dan metode tertentu
yang selanjutnya disebut ilmu pengetahuan.
c. Pengetahuan filosofis, yaitu semacam ilmu istimewa yang mencoba menjawab hal-hal
yang tidak terjawab oleh ilmu – ilmu biasa yang sering disebut dengan filsafat.
d. Pengetahuan teologis, yaitu pengetahuan tentang keagamaan, pengetahuan tentang
pemberitahuan dari Tuhan.
2) Ability (Kemampuan): meliputi kemampuan yang bisa dipelajari, yaitu pengetahuan dan
keterampilan, dan yang alamiah yaitu bakat.
3) Skill (Keterampilan): merupakan keahlian yang diperoleh dari latihan/melakukan secara
terus menerus dan bermanfaat untuk jangka panjang.
4) Attitude (Sikap diri): sikap diri merupakan suatu konsep yang tertanam pada diri seseorang
yang dibentuk oleh suasana lingkungan.
5) Habit (Kebiasaan diri): kegiatan yang harus terus menerus dilakukan yang tumbuh dari
dalam pikiran yang dilandasi dengan kesadaran bahwa usaha membutuhkan proses yang
panjang.

1.2.4 Integritas Dalam Menjalankan Sebuah Profesi


Integritas menunjuk pada suatu pengertian sifat dasar yang harus dimiliki seseorang yang utuh
kepribadiannya, bersikap dan bertindak sebagai diri sendiri, konsekwen dalam berbagai dimensi
kehidupan menurut suatu pola kepribadian yang tidak dibuat – buat baik dalam pergaulan,
pekerjaan, maupun dalan segala hal.
Adapun dalam menjalankan profesinya, seorang dituntut memiliki integritas meliputi:
1) Integritas Intelektual: keterlibatan dalam kebenaran, artinya tidak berlaku bohong, dan
mempunyai perasaan jijik terhadap ketidakjujuran intelektual.
2) Integritas Moral: tidak main kotor, tidak berkhianat, memiliki keadilan dasar, jujur, tidak
munafik, tidak kejam, rendah hati, tidak sok pintar, dst.
3) Integritas Religius: agama bukan salah satu sektor terpisah dari kepribadiannya tetapi
turut menentukan sikap orang dalam semua bidang (Benny Tengker, 1994)
1.2.5 Syarat-syarat suatu Profesi
1) Melibatkan kegiatan intelektual.
2) Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
3) Memerlukan persiapan profesional yang dalam dan bukan sekedar latihan.
4) Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
5) Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
6) Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7) Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8) Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.
1.3 Pengertian Etika Profesi
1.3.1 Peranan Etika dalam Profesi
1) Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja,
tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu
keluarga sampai dengan kelompok yang sangat besar, yaitu suatu bangsa. Dengan nilai-
nilai etika tersebut, kelompok tersebut diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk
mengatur kehidupan bersama.
2) Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan
dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan
sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat
perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu: kode
etik profesi) dan akan menjadi pegangan para anggotanya.
3) Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para
anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati
bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada
masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal
adanya mafia peradilan, pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di
daerah mewah dan mahal, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin bisa berobat ke
sana.

1.3.2 Etika Profesi


Berikut ini adalah pengertian tentang etika profesi yang merupakan standar moral yang tinggi
yang digunakan sebagai petunjuk dan pedoman para profesional dalam menjalankan profesinya.
1) Etika profesi memberikan wawasan agar kita mampu berfikir kritis terhadap norma moral
yang berlaku pada suatu profesi sebagai pegangan, pedoman untuk menjalankan
profesinya dengan penuh tanggung jawab sehingga semua tuntutan moral dari suatu
profesi dapat dilaksanakan.
2) Etika profesi tidak hanya terbatas pada norma-norma formal yang berlaku dalam profesi
saja melainkan juga sebagai pengantar sang pelaku menjadi manusia yang lebih
sempurna. Sebagai contoh seorang dokter tidak cukup sekedar memegang sumpahnya
sebagaimana diikrarkan pada abad IV SM oleh Hipocrates, di mana seorang dokter dalam
menjalankan tugasnya akan selalu menyimpan tentang apa yang dia lihat, dengar dari
seorang pasiennya. Dokter yang memegang teguh sumpah ini sudah dapat dikatakan
sebagai dokter yang baik, tetapi tidak sendirinya telah menjadi orang yang baik secara
moral dan utuh. Nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam lingkungan profesinya
perlu dihargai dan digunakan sebagai acuan sebagai dokter. Ini berarti keadilan, cinta
kasih, dan penghargaan terhadap hak asasi orang lain harus menjiwai pelayanan yang
diberikan, dalam arti profesi dokter sebagai sumber hidup berperan juga sebagai wadah
pemanusiaan dirinya sebagai dokter.
3) Etika profesi membantu orang dengan norma-norma untuk menyatakan identitasnya
sebagai manusia yang baik. Ini berarti bahwa dengan melaksanakan norma-norma etika
profesi, identitas seseorang tidak hanya diakui oleh masyarakat internal, namun
mendapatkan pengakuan dari masyarakat umum tentang identitasnya itu.
1.3.3 Prinsip-prinsip Etika Profesi
Prinsip adalah sesuatu sikap yang dipegang kokoh sebagai suatu pedoman. Prinsip-
prinsip etika profesi meliputi: tanggung jawab, keadilan dan otonomi.
1) Tanggung jawab
 Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
 Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada
umumnya.
2) Keadilan
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi
haknya.
3) Otonomi
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan diberi kebebasan
dalam menjalankan profesinya.
1.4 Kode Etik Profesi
Kode etik profesi merupakan suatu pedoman bagi para profesional dalam menjalankan
profesinya. Bagian ini akan memberikan pengertian, tujuan dan fungsi serta beberapa contoh
kode etik profesi.
1.4.1 Pengertian Kode Etik Profesi
Kode adalah tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang
disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau
suatu kesepakatan organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis.

Kode etik adalah norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan
tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Kode etik profesi adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan
dan apa yang harus dihindari oleh para profesional dalam rangka memberikan jasa sebaik-
baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi
masyarakat dari perbuatan yang tidak profesional.

Kode etik profesi sebetulnya bukanlah hal yang baru. Ini dibuat untuk mengatur tingkah laku
moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang
diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh anggota kelompok itu. Salah satu contoh tertua
tentang kode etik profesi adalah SUMPAH HIPOCRATES, yang dipandang sebagai kode etik
pertama untuk profesi dokter.

Profesi adalah suatu Moral Community yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode
etik profesi dapat menjadi penyeimbang segi-segi negatif dari suatu profesi, sehingga kode etik
ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin
mutu moral profesi itu di mata masyarakat.
Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, sebab dihasilkan berkat penerapan
pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi setelah kode etik ada, pemikiran
etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu
didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan semestinya, salah satu syarat
mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau
ditentukan dari atas atau oleh pihak lain karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai
yang hidup dalam kalangan profesi itu sendiri.
Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga membantu
dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh profesi yang
bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus menjadi hasil
pengaturan diri (self regulation) dari profesi.

Dengan membuat kode etik profesi sendiri akan menetapkan hitam di atas putih niatnya untuk
mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa
dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan cita-cita yang diterima oleh
profesi itu sendiri yang bisa mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan untuk
dilaksanakan dengan tekun dan konsekwen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat
berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya diawasi terus menerus. Pada umumnya kode
etik akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.

1.4.2 Tujuan dan Fungsi Kode Etik Profesi


Tujuan kode etik profesi adalah untuk:
1) menjunjung tinggi martabat profesi;
2) menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota;
3) meningkatkan pengabdian para anggota profesi;
4) meningkatkan mutu profesi;
5) meningkatkan mutu organisasi profesi;
6) meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi;
7) mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat;
8) menentukan baku standarnya sendiri.

Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah:


1) memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang
digariskan;
2) sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan;
3) mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam
keanggotaan profesi;
4) etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang.
Kode etik di Indonesia cukup banyak dan bervariasi sesuai dengan jumlah dan jenis profesi yang
ada. Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat nasional,
misalnya: Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Ikatan Penasehat HUKUM Indonesia, Jurnalistik
Indonesia, Advokasi Indonesia.
Suatu gejala baru dan positif adalah bahwa sekarang ini perusahaan-perusahan swasta cenderung
membuat kode etik sendiri untuk menunjukkan mutu etisnya dan sekaligus meningkatkan
kredibilitasnya.
Contoh Kode Etik:
 Kode Etik Insinyur Indonesia
"CATUR KARSA SAPTA DHARMA INSINYUR INDONESIA"

PERTAMA, PRINSIP-PRINSIP DASAR

1. Mengutamakan keluhuran budi.


2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat
manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.
KEDUA, TUJUH TUNTUNAN SIKAP
1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan
Masyarakat.
2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kompetensinya.
3. Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan.
4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam
tanggung jawab tugasnya.
5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan
masing-masing.
6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat
profesi.
7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.
 Kode Etik: Pusat Teknologi Informasi Universitas OHIO

Gambar 2 Kode Etik Pusat Teknologi Informasi Universitas OHIO


 Parameter Mutu Insinyur berdasarkan ABET Engineering Criteria 2000
1. Kemampuan penerapan ilmu dasar dan keinsinyuran
2. Kemampuan merancang dan melaksanakan penelitian
3. Kemampuan merekayasa komponen, sistem atau proses
4. Kemampuan menangani masalah keinsinyuran
5. Kemampuan bekerjasama antar kejuruan
6. Ketaatan pada kode etik dan tatalaku profesional
7. Kemampuan interaksi sosial (termasuk komunikasi)
8. Pemahaman dampak sosial, lingkungan dan global
9. Kesadaran dan kemampuan untuk senantiasa belajar bagi peningkatan kemampuan
10. Pemahaman akan hal-ihwal mutakhir
11. Ketrampilan praktek keinsinyuran

1.4.3 Pelanggaran Kode Etik


Yang dimaksud dengan pelanggaran kode etik adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai yang
seharusnya dijunjung tinggi oleh segenap anggota profesi seperti: nepotisme (kolusi), menaikkan
harga secara tidak wajar (mark-up), meminta jasa (kick-back fee). Selain itu pelanggaran juga
bisa berupa layanan jasa, yaitu layanan yang tidak sesuai dengan standard kualitas kinerja
profesional.

Di dunia kerja/industri sering terjadi pelanggaran etika profesi seperti:


 penyuapan, pemalsuan;
 ketidak-adilan, ketidak-amanan produk;
 ketidak jujuran dalam pengujian;
 ketidak pedulian dalam perlindungan kesehatan dan lingkungan;
 kelalaian, kelambanan, pelanggaran ketentuan.
Menurut M. Gandi, pelanggaran etika merupakan:
 Science without humanity
 Knowledge without character
 Commerce without morality
 Wealth without work
 Pleasure without conscience
 Politics without principles
 Religion without sacrifices

Banyak jenis pelanggaran etika profesi, tergantung dari profesi masing-masing. Berikut ini
adalah beberapa contoh tentang tentang pelanggaran etika profesi.

Contoh Pelanggaran Etika Profesi Perawat Gigi


(1) Perbuatan yang bersifat memuji diri tentang pelayanan yang diberikan.
(2) Melakukan pelayanan kesehatan gigi di luar kewenangannya.
(3) Melakukan tindakan pelayanan tidak sesuai dengan indikasinya.
(4) Menerima imbalan selain daripada yang layak sesuai dengan jasanya kecuali dengan
keikhlasan, sepengetahuan dan kehendak pasien.
(5) Menggunakan gelar/sebutan yang tidak resmi/diakui.
(6) Melakukan atau mencoba melakukan tindakan yang bersifat asusila sewaktu
menjalankan profesinya.

1.4.4 Sanksi Pelanggaran Kode Etik


Kode etik profesi adalah aturan dan sistem nilai yang dirumuskan dan diterapkan oleh dan pada
profesi itu sendiri. Kode etik ini sifatnya mengikat bagi semua anggotanya. Oleh karena itu, bila
terjadi pelanggaran terhadap kode etik, maka akan ada sanksi bagi yang bersangkutan. Secara
umum sanksi pelanggaran terhadap kode etik ini dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu: sanksi
moral dan sanksi dikeluarkan dari organisasi.

Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan atau
komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku
yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional, seperti
kewajiban melapor jika mengetahui teman sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu
merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud dalam kode etik; sepertinya kode etik
itu berasal dari niat profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi
untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek sehari-hari
kontrol ini biasanya tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat dalam
anggota-anggota profesi, yaitu: seseorang profesional pada umumnya merasa segan melaporkan
teman sejawat yang melakukan pelanggaran. Bila terjadi hal seperti ini berarti tujuan kode etik
tidak tercapai karena solidaritas antar kolega ditempatkan di atas kode etik profesi. Oleh karena
itu, sebagai pelaksana profesi, maka yang bersangkutan harus memahami betul tujuan kode etik
profesi sebelum melaksanakannya.

Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan
dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi.
Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih
sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi.
Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan
tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah
dan perbuatan apa yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional.

Contoh:
Sanksi Terhadap Pelanggaran Kode Etik Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan
(BKPSL) Indonesia:
(1) Pengurus Pusat BKPSL menyusun penggolongan dan peringkat pelanggaran kode etik
dan sanksi yang dapat dikenakan pada anggota;
(2) Pengurus Pusat memutuskan pengenaan sanksi dan rehabilitasi dalam batas
kewenangannya;
(3) Sanksi pelanggaran kode etik ditetapkan oleh Pengurus Pusat dan berlaku secara
Nasional;
(4) Sanksi dapat berbentuk pemberhentian sebagai anggota, pencabutan seluruh atau
sebagian hak anggota, pemberhentian sementara sebagai anggota, peringatan atau
teguran yang dipublikasikan;
(5) Sanksi yang diberikan oleh Pengurus Pusat mempertimbangkan kaitannya dengan
sanksi hukum oleh negara.
BAB II
PROFESIONALISME DAN ETOS KERJA

2.1 Profesionalisme
2.1.1 Pengertian Profesionalisme
Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau suatu rangkaian kualitas yang
menandai atau melukiskan coraknya suatu “profesi”. Profesionalisme mengandung pula
pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber penghidupan.
Profesi sering kita artikan dengan “pekerjaan” atau “job” kita sehari-hari. Tetapi dalam kata
profession yang berasal dari perbendaharaan Angglo Saxon tidak hanya terkandung pengertian
“pekerjaan” saja. Profesi mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui
persiapan dan latihan, tetapi dalam arti “profession” atau “panggilan”. Dengan begitu, maka arti
“profession” mengandung dua unsur. Pertama unsur keahlian dan kedua unsur panggilan.
Sehingga seorang “profesional” harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang
diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik sebagai ekspresi
panggilan. Penguasaan teknik saja tidak membuat seseorang menjadi “profesional”, kedua-
duanya harus menyatu.

Manusia-manusia profesional dalam suatu perusahaan merupakan suatu kelompok tersendiri


yang bertugas menggerakkan roda perusahaan melalui sistem kepemimpinan dalam perusahaan
tersebut, meliputi segala tingkatan, mulai yang teratas sampai dengan yang terbawah.

Dalam perkembangannya perlu diingat, bahwa profesionalisme mengandung dua unsur, yaitu
unsur keahlian dan unsur panggilan, unsur kecakapan teknik dan kematangan etik, unsur akal
dan unsur moral. Kedua-duanya itulah merupakan kebulatan unsur kepemimpinan. Dengan
demikian, jika berbicara tentang profesionalisme tidak dapat kita lepaskan dari masalah
kepemimpinan dalam arti yang luas.
Profesi masih sering dikaitkan dengan tingkat lulusan perguruan tinggi: institut/ universitas,
politeknik, sekolah tinggi, dan lain-lain. Suatu profesi tidak mutlak harus dijalankan oleh seorang
sarjana. Sebagai contoh, di Indonesia kita juga telah mengenal profesi-profesi yang tidak bersifat
akademik, seperti: pemain sepak bola, atau petinju “profesional”.

Walaupun obyek yang ditangani dapat berupa orang atau benda fisik, yang menjadi penilaian
orang tentang suatu profesi ialah hasilnya, yaitu tentang mutu jasa atau baik buruk pelaksanaan
fungsinya. Dalam situasi yang penuh tantangan dan persaingan ketat seperti sekarang ini, kunci
keberhasilan profesi terletak pada kemahiran orang yang menjalankannya dan kemahiran seperti
ini hanya dapat diperoleh melalui proses belajar dan berlatih sampai tingkat yang disyaratkan.

Bagi seseorang yang berbakat, proses pembelajaran mungkin dapat terlaksana secara lebih baik
dan lebih cepat dari pada yang lain. Namun bukan berarti bahwa orang yang tidak berbakat tidak
bisa mencapai kemahiran tertingginya, pasti bisa, namun butuh waktu yang lebih lama.

Gelar akademik bukanlah jaminan prestasi seseorang, namun gelar akademik akan memberi
harapan tentang tercapaiannya kemahiran atau kemampuam, walaupun pengetahuan yang
diperoleh masih harus dibuktikan melalui penerapannya di lapangan. Dalam hal ini pengalaman
adalah guru yang baik. Dengan pengalaman seseorang akan banyak belajar dari fenomena-
fenomena nyata yang ada di lapangan. Proses pembelajaran inilah yang membuat manusia
semakin maju dan cerdas dalam mengatasi segala macam persoalan yang ada. Oleh karena itu,
faktor pegalaman juga sangat berperan dalam menentukan keberhasilan seseorang.

2.1.2 Ciri-ciri profesionalisme


Berikut ini adalah beberapa ciri profesionalisme:
1) Profesionalisme menghendaki sifat mengejar kesempurnaan hasil (perfect result),
sehingga kita dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas kerja.
2) Profesionalisme memerlukan kesungguhan dan ketelitian kerja yang hanya dapat
diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan.
3) Profesionalisme menuntut ketekunan dan ketabahan, yaitu sifat tidak mudah puas atau
putus asa sampai hasil tercapai.
4) Profesionalisme memerlukan integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh “keadaan
terpaksa” atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup.
5) Profesionalisme memerlukan adanya kebulatan fikiran dan perbuatan, sehingga terjaga
efektivitas kerja yang tinggi.

Ciri-ciri di atas menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi seorang pelaksana profesi yang
profesional, banyak kriteria yang harus dipenuhinya. Lebih jelas lagi dikemukakan oleh Tjerk
Hooghiemstra bahwa seorang yang dikatakan profesional adalah mereka yang sangat kompeten
atau memiliki kompetensi-kompetensi tertentu yang mendasari kinerjanya.

2.2 Etos Kerja


2.2.1 Prinsip Etos Kerja
Prinsip etos kerja adalah harapan yang ingin diciptakan melalui kerja. Ada tiga prinsip etos kerja
yang penting untuk dibangun, baik bagi individu maupun organisasi, yaitu:
 Mencetak prestasi (motivasi)
 Membangun masa depan (visioner)
 Mencipta nilai baru (inovasi)

2.2.2 Formulasi Etos Kerja


Kerja bukanlah sekedar upaya untuk menghasilkan suatu produk yang kemudian dikonversi
dalam bentuk gaji, honor atau bentuk imbalan lain. Hasil kerja bisa diartikan secara pendek,
seperti sehabis menyelesaikan pekerjaan kita akan dapat upah, atau secara jangka panjang, yakni
bekerja bisa membawa seseorang pada posisi yang sangat mulia. Berikut ini adalah formulasi
etos kerja yang mengandung nilai-nilai yang sangat luas dan mulia.
 Kerja adalah rahmat, bekerja dengan tulus dan rasa syukur.
 Kerja adalah amanah, bekerja dengan benar dan tanggung jawab.
 Kerja adalah panggilan, bekerja secara tuntas dan penuh integritas.
 Kerja adalah aktualisasi diri, bekerja keras dan penuh semangat.
 Kerja adalah ibadah, bekerja serius dan penuh kecintaan.
 Kerja adalah seni, bekerja cerdas dan kreatif.
 Kerja adalah kehormatan, bekerja tekun dan mengutamakan keunggulan.
 Kerja adalah pelayanan, bekerja dengan sempurna dan kerendahan hati.
2.3 Keberhasilan
Setiap orang atau organisasi selalu mengharapkan keberhasilan. Bagaimanakah
keberhasilan itu bisa dicapai? Berikut ini adalah beberapa pendapat tentang keberhasilan.

 Formulasi keberhasilan menurut Prof. Hadipranata,A.F. (Universitas Gajah Mada, 2004):


 Keberhasilan ditentukan oleh profesiensi dan performansi;
 Profisiensi ditentukan oleh personal, social, dan job maturity;
 Performansi adalah motivasi ditambah kemampuan;
 Sumbangan profesiensi 48,3% dan sumbangan performansi 51,7%.

 Menurut Prof. Yacobus Oentoro (Universitas Pelita Harapan, 2008):


Keberhasilan seseorang ditentukan 65 % oleh karakter/sikap dan 35 % oleh
kemampuan/profesiensi.

2.4 Kompetensi dan Profesionalisme


Dalam buku Etika Profesi (R. Rizal Isnanto, 2009) telah diuraikan secara lengkap tentang
keterkaitan antara kompetensi dan profesionalisme kerja. Dalam buku ini dimuat pendapat-
pendapat para ahli tentang kedua hal yang dimaksud sebagaimana seperti yang diuraikan pada
bagian berikut ini.

 Tjerk Hooghiemstra (Integrated Management of Human Resources):


Kompetensi adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan unjuk kerja
yang efektif atau superior pada jabatan tertentu.

Selanjutnya diuraikan bahwa perlu dibedakan antara unjuk kerja superior dengan rata-rata.
Kompetensi dapat berupa motiv, sifat, konsep diri pribadi, attitude atau nilai-nilai,
pengetahuan yang dimiliki, keterampilan dan berbagai sifat-sifat seseorang yang dapat diukur
dan dapat menunjukkan perbedaan antara rata-rata dengan superior.

 Lyle M. Spencer (“Competence at Work”):


Kompetensi adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan atau
menghasilkan unjuk kerja yang efektif dan atau superior pada jabatan tertentu atau situasi
tertentu sesuai kriteria yang telah ditetapkan.

Karakteristik pokok mempunyai arti kompetensi yang sangat mendalam dan merupakan
bagian melekat pada pribadi seseorang dan dapat menyesuaikan sikap pada berbagai kondisi
atau berbagai tugas pada jabatan tertentu. Ada lima karakteristik kompetensi: motive, trait
(sikap), self concept (konsep diri: attitude, nilai-nilai atau imajinasi diri), knowledge
(pengetahuan) dan skill (keterampilan).
 Motive: Keinginan yang menuntut tindak-lanjut, mulai pemikiran sampai dengan tindak
nyata.
 Trait: sifat dan respon yang konsisten terhadap informasi atau situasi.
 Self Concept: sikap/nilai yang dimiliki atau gambaran dirinya.
 Knowledge: informasi yang dimiliki dibidang pengetahuan tertentu.
 Skill: kemampuan melaksanakan tugas tertentu, baik secara fisik maupun mental.

 ILO/ASPDEP pada seminar penyusunan Regional Model Competency Standards (RMCS),


Bangkok, 1999, kompetensi meliputi:
 Keterampilan melaksanakan tugas individu dengan efesien (Task skill).
 Keterampilan mengelola beberapa tugas yang berbeda dalam pekerjaannya (Task
management skill).
 Keterampilan merespon dengan efektif hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan rutin
dan kerusakan (Contigency management skill).
 Keterampilan menghadapi tanggung jawab dan tuntutan lingkungan termasuk bekerja
dengan orang lain dan bekerja dalam kelompok (Job/role environment skill).
Kompetensi lebih menitik beratkan pada apa yang diharapkan dikerjakan oleh pekerja di tempat
kerja, atau dengan perkataan lain kompetensi menjelaskan apa yang seharusnya dikerjakan oleh
seseorang bukan latihan apa yang seharusnya diikuti. Kompetensi juga harus dapat
menggambarkan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan dan keterampilan pada situasi
dan lingkungan yang baru. Karena itu uraian kompetensi harus dapat menggambarkan cara
melakukan sesuatu dengan efektif bukan hanya mendata tugas. Melakukan sesuatu dengan
efektif dapat dicapai dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Sikap kerja atau attitude
sangat mempengaruhi produktivitas, namun sampai saat ini masih diperdebatkan bagaimana
merubah sikap kerja serta menilainya.

 Model for Occupational Skill Standard:


Dalam Model for Accupational Skill Standard dijelaskan bahwa kompetensi adalah kemampuan
yang diperoleh melalui pelatihan yang efektif. Pengertian efektif di sini bukan sekedar materi
yang baik, instruktur yang kompeten dan kehadiran peserta saja, namun lebih menekankan pada
dampaknya terhadap peserta setelah mengikuti pelatihan. (Training is not considered as just an
activity but more important is the impact to the participant after the training)

 Australia National Training Authority:


Dalam Australia National Training Authority dikatakan bahwa kompetensi adalah kemampuan
yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan, didukung oleh sikap dan etos kerja dan diterapkan di
dunia usaha dan industri serta memenuhi persyaratan unjuk kerja yang telah ditetapkan.
Menurut konsep Jerman (dalam sistem ganda) menggunakan istilah kompetensi profesional atau
kualifikasi kunci. Kompetensi profesional mencakup kumpulan beberapa kompetensi yang
berbeda seperti ditunjukkan di bawah.
(Sumber: R. Rizal Isnanto, 2009)
Gambar 3 Komponen-komponen kompetensi profesional

2.5 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)


Di Indonesia dengan diberlakukannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun
2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), maka setiap jenjang pendidikan
di Indonesia dalam menentukan kompetensi lulusan dan atau hasil pembelajarannya harus
mengacu pada ketentuan ini.

Berdasarkan KKNI ini jenjang kualifikasi dikelompokkan menjadi 9 (Sembilan) jenjang, yaitu:
jenjang kualifikasi 1 – 9. Tabel berikut ini menjelaskan deskripsi jenjang kualifikasi KKNI ini.
Kerangka Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI)

DESKRIPSI JENJANG KUALIFIKASI KKNI

JENJANG
URAIAN
KUALIFIKASI

Umum
Mampu melaksanakan tugas sederhana, terbatas, bersifat rutin, dengan menggunakan alat,
aturan, dan proses yang telah ditetapkan, serta di
bawah bimbingan, pengawasan, dan tanggung jawab atasannya.
1
Memiliki pengetahuan faktual.
Bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan tidak bertanggung jawab atas pekerjaan orang
lain.
Mampu melaksanakan satu tugas spesifik, dengan menggunakan alat, dan informasi, dan
prosedur kerja yang lazim dilakukan, serta menunjukkan kinerja dengan mutu yang terukur, di
bawah pengawasan langsung atasannya.
2 Memiliki pengetahuan operasional dasar dan pengetahuan faktual bidang kerja yang spesifik,
sehingga mampu memilih penyelesaian yang tersedia terhadap masalah yang lazim timbul.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab membimbing orang
lain.
Mampu melaksanakan serangkaian tugas spesifik, dengan menerjemahkan informasi dan
menggunakan alat, berdasarkan sejumlah pilihan prosedur kerja, serta mampu menunjukkan
kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur, yang sebagian merupakan hasil kerja sendiri
dengan pengawasan tidak langsung.
Memiliki pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-prinsip serta konsep umum yang terkait
3 dengan fakta bidang keahlian tertentu, sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah yang
lazim dengan metode yang sesuai.
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi dalam lingkup kerjanya
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan
mutu hasil kerja orang lain
Mampu menyelesaikan tugas berlingkup luas dan kasus spesifik dengan menganalisis informasi
secara terbatas, memilih metode yang sesuai dari beberapa pilihan yang baku, serta mampu
menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur.
Menguasai beberapa prinsip dasar bidang keahlian tertentu dan mampu menyelaraskan dengan
4 permasalahan faktual di bidang kerjanya
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi, menyusun laporan tertulis dalam lingkup
terbatas, dan memiliki inisiatif
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas hasil kerja
orang lain
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas, memilih metode yang
sesuai dari beragam pilihan yang sudah maupun belum baku dengan menganalisis data, serta
mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur
Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum, serta
5 mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural
Mampu mengelola kelompok kerja dan menyusun laporan tertulis secara komprehensif
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian
hasil kerja kelompok
Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidangnya dalam penyelesaian
masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi
Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan
konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara
6 (Sarjana) mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah
prosedural
Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu
memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian
hasil kerja organisasi
Mampu merencanakan dan mengelola sumberdaya di bawah tanggung jawabnya, dan
mengevaluasi secara komprehensif kerjanya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan/atau seni untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan strategis
organisasi
7
Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam
bidang keilmuannya melalui pendekatan monodisipliner
Mampu melakukan riset dan mengambil keputusan strategis dengan akuntabilitas dan tanggung
jawab penuh atas semua aspek yang berada di bawah tanggung jawab bidang keahliannya
Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya
8 (Master)
atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji
Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam
bidang keilmuannya melalui pendekatan inter atau multidisipliner
Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi masyarakat dan keilmuan,
serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional
Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru di dalam bidang
keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif,
original, dan teruji
Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam
9 (Doktor)
bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner
Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan
pengembangan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, serta
mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional

Jenjang kualifikasi ini bila dikaitkan dengan jenjang pendidikan di Indonesia sebagaimana yang
dibuat oleh Komisi Pembelajaran Forum Direktur Politeknik Negeri Indonesia (FDPNI) seperti
yang dsajikan pada Gambar 4.
Sumber: Isa-FDPNI, 2012
Gambar 4 Jenjang Kualifikasi dan Jenjang Pendidikan di Indonesia

Untuk jalur pendidikan politeknik KKNI: level 1-2 merupakan jenjang kualifikasi SD-SMA/K,
level 3 dan 4 oleh Diploma 1 dan Diploma 2, Level 5 oleh Diploma 3, level 6 oleh Diploma 4
dan level 8 dan 9 oleh Master Terapan dan Doktor Terapan atau pada sisi lain oleh Spesialis I
dan II.

Dengan dikeluarkannya KKNI ini, maka semua profesi yang ada di Indonesia harus mengacu
juga pada ketentuan ini. Dengan KKNI ini juga memperjelas posisi masing-masing pelaku
profesi dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai profesional.

2.6 Profil Kompetensi


Seseorang dikatakan kompeten bila yang bersangkutan memiliki kemampuan: pengetahuan
(kognitif), keterampilan (motorik) dan attitude (sikap). Berikut ini adalah uraian singkat tentang
ketiga kemampuan yang termasuk dalam kompetensi kerja secara umum.
 Tingkat Pengetahuan:
1) Mengenali (to identify)
2) Membedakan (to differentiate)
3) Mengelompokkan (to group)
4) Menganalisis (to analyze)
5) Mensintesis (to synthesize)
6) Merencanakan (to plan)
7) Mengevaluasi (to evaluate/assess)
8) Berkreasi (to create)

 Tingkat Keterampilan:
1) Mengoperasikan (to operate)
2) Menyusun (to set up)
3) Memperbaiki (to repair)
4) Meningkatkan (to improve)
5) Memproduksi (to produce)
6) Menyesuaikan (to adapt)
7) Menginovasi (to innovate)

 Tingkat Sikap:
1) Menerima (to receive)
2) Menghargai (to value)
3) Bekerja sama (to work together)
4) Mengkoordinasi (to coordinate)
5) Mengorganisasi (to organize)
6) Bertanggungjawab (to responsible)
7) Memimpin (to lead)

2.7 Profesional
Seseorang dikatakan profesional apabila:
 Mempraktekkan keahlian dan/atau keterampilan sesuai bidang profesinya
 Memiliki sikap dan etos kerja yang mencakup keahlian dan keterampilan
 Mensintesis berbagai informasi untuk melakukan rancangan/rekayasa
 Menerapkan kaedah keteknikan untuk menangani hal yang belum pernah ditangani
 Mengembangkan keteknikan dan menerapkan secara berkelanjutan
 Menerapkan pandangan sistemik dan terpadu dalam memanfaatkan peluang
 Mengelola dan menggunakan data yang terkait dengan profesinya
 Menyelenggarakan manajemen dan kepemimpinan untuk menerapkan iptek bagi kepentingan
masyarakat
 Proaktif, fokus pada lingkar pengaruh (focus on the circle of influence)
 Merespon sesuai nilai (responding to value)
 Menerima tanggung jawab (accepting responsibility)
 Menjadi tokoh transisi (transitional figure) untuk kemanfaatan kelompok

Ciri-ciri SDM profesional:


 Bekerja secara efisien, efektif dan produktif
 Mandiri, tidak tergantung pada orang lain
 Mampu bersaing melalui kompetisi sehat
 Memiliki kemampuan manajemen dibidang profesinya (managerial skill)
 Memiliki kemauan untuk belajar seumur hidup (life time education)

Di Lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), seorang profesional akan melaksanakan tugas
/pekerjaan dengan prinsip 5-C, yaitu:
 Competency (Sesuai kompetensi)
 Conceptual (berdasarkan konsep)
 Consistence (secara konsisten)
 Cooperative (kerjasama kelompok)
 Commitment (menepati janji/ memenuhi kesanggupan)

Dalam PII, juga dikenal dengan Tujuh Tuntunan Sikap, yaitu:


1. Bekerja sesuai dengan kompetensi dibidang keahliannya
2. Mengutamakan keselamatan, kesehatan & kesejahteraan masyarakat
3. Menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung-jawabkan
4. Menghindari pertentangan kepentingan dalam tugas & tanggung-jawab
5. Membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing
6. Memegung teguh kehormatan, integritas & martabat profesi
7. Mengembangkan kemampuan pofesional

Badan akreditasi bidang rekayasa (ABET) memberikan kriteria keteknikan (engineering criteria)
sebagai prinsip fundamental.
Fundamental Principles :
 Using knowledge & skill for human welfare
 Honest & impartial, serving with fidelity to the public and client
 Striving to increase the competence and prestige of engineering profession
 Supporting the profesional and technical society of their discipline

Demikian pula dengan yang dimuat Code of Ethics for Engineers


Fundamental cannons :
 Hold safety, health and welfare of the public in the performance of the discipline
 Perform services only in the area of competence
 Issue public statement only in objective and truthful manner
 Act in profesional manner and avoid conflict of interest
 Build profesional reputation and not compete unfairly
 Uphold and enhance the honor, integrity and dignity of profession
 Continue the profesional development and provide opportunities of the staffs for
profesional development
BAB III
PERANAN KECERDASAN DALAM PROFESI

3.1 Pengertian Kecerdasan


Apakah Kecerdasan? Kecerdasan didefinisikan sebagai kumpulan kapasitas seseorang untuk
bereaksi searah dengan tujuan, berpikir rasional dan mengelola lingkungan secara efektif (David
Wechsler, 1939). Lalu bagaimana kita bisa mengukur kecerdasan ini. Terkait dengan ini, David
Wechsler mengembangkan alat ukur uji kecerdasan seseorang yang sampai saat ini digunakan
dan dipercaya sebagai skala kecerdasan yang disebut Wechsler Intelligence Scale.

Sebelumnya telah ada beberapa konsep tentang kecerdasan ini. JL. Stockton (1921)
mendefinisikan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi proses memilih
yang berprinsip pada kesamaan (similarities).

Menurut Kamus Psikologi (2000) memberi uraian bahwa kecerdasan merupakan:


a. Kemampuan menggunakan konsep abstrak.
b. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi baru.
c. Kemampuan mempelajari dan memahami sesuatu.

Sedangkan Gardener (2002) menjelaskan bahwa pengertian kecerdasan (intelligence) mencakup


tiga kemampuan, yaitu:
a. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia.
b. Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.
c. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan memunculkan penghargaan dalam
budaya seorang individu.

Kemudian disimpulkan bahwa bahwa kecerdasan merupakan potensi dasar seseorang untuk
berpikir, menganalisis dan mengelola tingkah lakunya di dalam lingkungan dan potensi itu dapat
diukur.
Ciri-ciri dasar kecerdasan adalah:
 To judge well (dapat menilai dengan baik)
 To comprehend well (memahami secara menyeluruh dengan baik).
 To reason well (memberi alasan dengan baik).

Ciri-ciri perilaku cerdas:


 Masalah yang dihadapi merupakan masalah baru bagi yang bersangkutan.
 Serasi tujuan dan ekonomis (efesien).
 Masalah mengandung tingkat kesulitan.
 Keterangan pemecahannya dapat diterima.
 Sering menggunakan abstraksi.
 Bercirikan kecepatan.
 Memerlukan pemusatan perhatian.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan:


 Pembawaan: kapasitas / batas kesanggupan.
 Kematangan: telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya, erat kaitan dengan
umur.
 Pembentukan: pengaruh dari luar.
 Kebebasan; terutama dalam memecahkan masalah.

Pengertian bahwa kecerdasan itu bersifat tunggal seperti yang kita kenal selama ini. Sampai
menimbulkan dampak negatif atas persepsi ini. Sebagai contoh seseorang yang rendah
kecerdasan “akademik tradisionalnya”, yakni matematik dan verbal (kata-kata), dianggap bodoh
dan kurang dihargai oleh masyarakat. Hal ini kemudian terkikis habis oleh hasil temuan mutakhir
dan sangat dapat dipercaya, yaitu bahwa kecerdasan manusia itu tidaklah bersifat tunggal namun
banyak rumpunnya dan bersifat multidimensional.

Kecerdasan dapat dikelompokkan sebagai berikut:


 IQ (Intellegence Quotient)
 EQ (Emotional Quotient)
 AQ (Adversity Quotient)
 SQ (Spiritual Quotient)
 CQ (Creativity Quotient)
 AQ (Adversity Quotient)

Atas dasar pemikiran ini memberikan pemahaman yang lebih tepat dan komprehensif tentang
kecerdasan ini. Potensi seseorang dapat muncul dan dikembangkangkan pada semua rumpun
kecerdasan. Oleh karena itu, kecerdasan seseorang akan diperkaya melalui kecerdasan-
kecerdasan tersebut. Eksplorasi terhadap kecerdasan-kecerdasan yang multidimensional tersebut
menghilangkan batasan antara seseorang yang ber IQ tinggi dan yang tidak.

Begitu pula dengan pelaku profesi harus terdorong dan berpeluang melakukan eksplorasi kreatif
dengan banyak cara dan yang cocok dengan karakteristik individu masing-masing. Dengan
demikian tak ada kata putus asa dalam segala keadaan. Dengan bekal berbagai kecerdasan
tersebut pastilah semua persoalan akan dapat diatasi. Dengan berbagai cara dan alternatif yang
ada, maka kemampuan dalam berkarya pasti akan terwujud.

3.2 IQ (Intellegence Quotient)


IQ (Intelligence Quotient) merupakan ukuran kapasitas seseorang yang berhubungan dengan
kemampuan penalaran (berfikir)nya untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu secara efektif.
Kecerdasan dipercayai bersifat tunggal dan dapat diukur dalam satu angka (Alfred Bined 1964).
Ukuran yang digunakan untuk IQ adalah sebagai berikut:

 ≥ 130 : Very Superior


 120-129 : Superior
 110-119 : Bright normal
 90 -109 : Average
 80-89 : Dull Normal
 70-79 : Borderline
 ≤ 69 : Mental Defective
Ciri-ciri IQ adalah: Logis, Rasional, Linier, dan Sistematis. IQ merupakan pusat rasional dalam
kepribadian manusia. Dengan memiliki IQ yang baik berarti memiliki kemantapan pemahaman
tentang potensi diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif
dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk peranannya sebagai pelaksana / pelaku profesi.
Berarti IQ memiliki peranan yang sangat penting untuk dapat mengembangkan kemampuan
kreativitas dan produktivitas seseorang.

3.3 EQ (Emotional Quotient)


3.3.1 Pengertian EQ
Kata emosi merupakan sebuah kata yang sangat melekat pada manusia. Banyak peristiwa yang
tidak terpuji dikatakan sebagai akibat emosi yang tidak terkendali. Apakah hanya sebatas itukah
emosi sebagai sesuatu yang selalu negatif? Lalu bagaimana keterkaitannya dengan EQ
(kecerdasan emosi)? Penjelasan berikut ini diharapkan bisa memberikan pemahaman tentang
kecerdasan emosi ini.

Suatu hasil penelitian yang dianggap sangat monumental dan cukup mengejutkan bagi banyak
kalangan adalah yang dilakukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1996 (Emotional Quotion,
1966). Dalam hasil penelitian tersebut dinyatakan bahwa faktor yang menentukan keberhasilan
seseorang dalam karirnya bukan oleh Intellegence Quotient (IQ), tapi lebih oleh Emotional
Quotient (EQ), yaitu: 15% IQ dan 85% EQ. IQ menyangkut pengetahuan dan keterampilan,
sedangkan EQ dipahami sebagai kemampuan kecerdasan emosional (olah rasa). Orang yang
memiliki IQ tinggi tapi dengan EQ yang rendah lebih banyak mengalami kegagalan dari pada
keberhasilannya. Ini menunjukkan bahwa faktor EQ jauh lebih berperan dari pada IQ dalam
penentuan keberhasilan seseorang.

Emosi adalah ekspresi letupan perasaan seseorang. Lalu bagaimana dengan EQ (Emotional
Quotient) / kecerdasan emosi. Banyak ahli yang memberikan batasan tentang EQ ini, di
antaranya adalah seperti yang dimuat berikut ini.
 Daniel Goldman: Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan
sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan
berhubungan dengan orang lain.
 Peter Salovely & John Mayer: Kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengerti
dan mengendalikan emosi.
 Cooper & Sawaf: Kecerdasan emosi merupakan kemampuan mengindra, memahami dan
dengan efektif menerapkan kekuatan, ketajaman, emosi sebagai sumber energi,
informasi, dan pengaruh.
 Seagel: Kecerdasan emosi merupakan sifat bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran
diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial.

3.3.2 Aspek EQ
Aspek EQ ada 5 (lima), yaitu:
1) Kemampuan mengenal diri (kesadaran diri).
2) Kemampuan mengelola emosi (penguasaan diri).
3) Kemampuan memotivasi diri.
4) Kemampuan mengendalikan emosi orang lain.
5) Kemampuan berhubungan dengan orang lain (empati).

3.3.3 Prilaku Cerdas Emosi:


 Menghargai emosi negatif orang lain.
 Sabar menghadapi emosi negatif orang lain.
 Sadar dan menghargai emosi diri sendiri.
 Emosi negatif untuk membina hubungan.
 Peka terhadap emosi orang lain.
 Tidak bingung menghadapi emosi orang lain.
 Tidak menganggap lucu emosi orang lain.
 Tidak memaksa apa yang harus dirasakan.
 Tidak harus membereskan emosi orang lain.
 Saat emosional adalah saat mendengatkan
3.3.4 EQ Tinggi
Yang dimaksud dengan EQ yang tinggi adalah sifat-sifat yang terkait dengan hal-hal berikut ini:
 Berempati.
 Mengungkapkan dan memahami perasaan.
 Mengendalikan amarah.
 Kemandirian.
 Kemampuan menyesuaikan diri.
 Disukai.
 Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi.
 Ketekunan.
 Kesetiakawanan.
 Keramahan.
 Sikap hormat.

Melihat karkeristik sebagaimana yang telah diuraikan di atas, Emotional Quotient (EQ)
mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan dan dapat dianggap sebagai persyaratan
bagi kesuksesan pribadi. Penting bahwa kita perlu memahami apa yang diperlukan untuk
membantu kita membangun kehidupan yang positif dan memuaskan, karena ini akan mendorong
terwujudnya keprofesionalan kita.

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi tidak berprestasi
dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ rendah justru lebih berprestasi. Hal ini terjadi karena
penyakit orang yang ber-IQ tinggi seringkali memiliki sifat-sifat yang kurang terpuji dan
membelenggu. Sebagai contoh:
 Merasa mengetahui semua hal.
 Merasa dirinya paling cerdas dari pada orang lain.
 Menggunakan fikiran hanya untuk menalar tidak untuk merasakan.
 Meyakini bahwa IQ lebih penting dari EQ.
Kemampuan akademik, seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), predikat kelulusan perguruan
tinggi tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya tolok ukur kinerja seseorang, atau keberhasilan
seseorang.

3.3.5 Cara Membangun Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional dapat dibangun dengan menggunakan metode atau cara-cara yang dalam
pelaksanaannya melibat emosi. Beriktu ini adalah cara membangun kecerdasan emosional
(Patricia Patton) sebagai berikut.

1) Memahami pentingnya peran emosi dan memahami yang memungkinkan anda


merasakan perbedaan besar dalam bagaimana kita mengendalikan emosi. Seperti ketika
merasakan kegembiraan yang luar biasa yang membuat seseorang tidak mampu
mengontrol perasaannya. Pemahaman ini sangat diperlukan untuk mencegah agar
keinginan ingin berbagi dan rasa menghormati perasaan orang lain tidak terkorbankan.
2) Menyadari kenyataan bahwa tidak seorangpun memiliki perasaan yang sama tentang satu
hal yang sama. Dengan dimikian akan mengapresiasi adanya perbedaan pandangan,
perbedaan pendapat, dan lain-lain.
3) Mengekang emosi bukanlah tindakan tepat karena akan mengarahkan kita pada tindakan-
tindakan yang tidak baik. Yang paling tepat adalah menyalurkan emosi secara wajar dan
bertahap.
4) Mempertajam kemampuan intuisi dalam memecahkan masalah ketika menghadapi suatu
masalah besar yang kita tidak mungkin dapat mengontrolnya. Ini penting untuk
memahami perbedaan antara pengaruh dan pengendalian (kontrol). Ada kemungkinan
kita dapat mempengaruhi masyarakat dan situasi, tetapi dapat juga terjadi kemungkinan
sebaliknya, masyarakat yang ingin mengendalikan segalanya.
5) Mengetahui keterbatasan diri sendiri dan tahu kapan kita perlu mengubah strategi.
6) Memungkinkan orang lain menjadi diri sendiri, tanpa memaksakan harapan kita pada
mereka.
7) Mengetahui diri sendiri dan menghargai potensi yang kita miliki bagi pertumbuhan
pribadi.
8) Mengetahui pentingnya kasih sayang, perhatian dan berbagi bagi sesama.
3.4 SQ (Spiritual Quotient)
3.4.1 Pengertian SQ
Dalam buku Etika Profesi (R.Rizal Isnanto, 2011) telah dicuplik pendapat-pendapat tentang SQ
atau kecerdasan spiritual. Spiritual adalah inti dari pusat diri sendiri. Kecerdasan spiritual adalah
sumber yang mengilhami, menyemangati dan mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai
kebenaran tanpa batas waktu (Agus N. Germanto, 2001).

Kecerdasan spiritual sering disebut SQ (Spiritual Quotient) diperlukan bagi setiap hamba Tuhan
untuk dapat berhubungan dengan Tuhannya. Melibatkan kemampuan dan menghidupkan
kebenaran yang paling dalam. Dalam arti mewujudkan hal yang terbaik dan paling manusiawi
dalam batin. Gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup, mengalir dari
dalam dari suatu keadaan kesadaran yang hidup bersama cinta (Danah Zohar, Lan Marshal,
2000).

3.4.2 Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual yang tinggi


Ciri-ciri kecerdasan ada 4 (empat) (Agus Nggermanto, 2001), yaitu:
 Memiliki prinsip dan visi yang kuat.
 Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman.
 Mampu memaknai setiap sisi kehidupan.
 Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan penderitaan.

1) Memiliki Prinsip dan Visi yang Kuat


Prinsip adalah suatu kebenaran yang hakiki dan fundamental serta berlaku secara universal bagi
seluruh umat. Prinsip merupakan pedoman dalam bertindak atau berperilaku, yang berupa nilai-
nilai yang permanen dan mendasar. Ada 3 prinsip utama bagi orang yang tinggi spiritualnya,
yakni: prinsip kebenaran, prinsip keadilan dan prinsip kebaikan.
 Prinsip kebenaran
Suatu yang abadi dalam kehidupan ini adalah kebenaran dan sebaliknya sesuatu yang tidak
benar pasti akan fana.
Contoh :
Hukum alamiah, jika kita menyemai benih pada tempat yang salah, waktunya tidak tepat,
pengairannya keliru, pemupukannya salah, maka apa yang terjadi? Benih membusuk dan
sirna. Pelanggaran atas nilai kebenaran membuat kita kehilangan jati diri, hati nurani yang
tidak jernih.
 Prinsip Keadilan
Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan hak yang seharusnya diterima, tidak
mengabaikan, tidak mengurang-ngurangi.
 Prinsp Kebaikan
Kebaikan adalah memberikan sesuatu lebih dari hak yang seharusnya.
Contoh :
Ketika kita parkir dikenakan tarif parkir Rp 2.000,- Tetapi kemudian kita membayar ke
tukang parkir sebesar Rp 5.000,- Inilah contoh dari kebaikan.

Di samping prinsip, kita perlu memiliki visi yang kuat sedangkan visi adalah cara pandang kita
ke depan. Kita ingin menjadi apakah kelak nanti. Dengan adanya visi ini, kita akan terbawa
untuk mencari cara/jalan untuk dapat mewujudkankannya.

2) Mampu Melihat Kesatuan dalam Keanekaragaman


Isinya beraneka ragam, tapi mempunyai tujuan yang sama. Sebagai contoh dalam proses belajar
mengajar, guru menginginkan agar siswanya belajar dengan semangat agar mendapatkan hasil
yang baik. Sementara siswanya menginginkan suasana belajar yang menyenangkan. Ini
menunjukkan adanya perbedaan kepentingan, tetapi tujuannya adalah sama, yaitu kebaikan.

3) Mampu Memaknai Setiap Sisi Kehidupan


Semua kejadian yang menimpa seseorang di dunia ini selalu mengandung makna. Baik itu yang
berupa kesenangan maupun kesedihan. Ketika berhasil kita bersyukur dan tidak lupa diri.
Sebaliknya kita akan mendapat banyak pelajaran yang akan meningkatkan kecerdasan spiritual
kita. Jadi, setiap kejadian di muka bumi ini selalu ada hikmahnya.

4) Mampu Bertahan dalam Kesulitan dan Penderitaan


Untuk menjadi besar dan sukses tidak mungkin bisa dikerjakan dengan santai-santai saja. Semua
pasti perlu perjuangan dan pengorbanan. Orang yang sukses hampir dapat dipastikan diawali
dengan cobaan dan ujian. Berkat ujian dan cobaan itulah seseorang menjadi kuat dan tangguh
sehingga mampu meraih kesuksesannya.

3.4.3 Kecerdasan Spiritual Seorang Profesional


Seorang profesional dengan dengan tingkat kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi bukanlah
sekedar pemimpin yang beragama, tetapi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Seorang yang beriman adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada, Maha Melihat, Maha
Mendengar dan Maha Mengetahui apa-apa yang diucapkan, diperbuat bahkan isi hati atau niat
manusia. Selain itu, orang yang beriman percaya adanya malaikat, yang mencatat segala
perbuatan yang baik maupun yang buruk tanpa kompromi. Seorang profesional tahu mana yang
baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana
yang haram, mana yang melanggar hukum dan mana yang sesuai dengan hukum.

Seorang profesional yang baik harus selalu memegang amanah, konsisten dan tugas yang
diembannya adalah ibadah kepada Tuhan. Oleh karena itu, semua sikap, ucapan dan
tindakannya selalu mengacu pada nilai-nilai moral dan etika agama, selalu memohon taufiq dan
hidayah kepada Allah swt, berpijak kepada sikap amar am’ruf nahi munkar (mengajak pada
kebaikan dan mencegah kejahatan).

3.5 CQ (Creativity Quotient)


Kecerdasan kreativitas adalah potensi seseorang untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru
dalam bidang ilmu dan teknologi atau pun lainnya. Kreativitas adalah kemampuan seseorang
untuk mencipta dan berkreasi. Walaupun belum ada teori yang secara komprehensif tentang
faktor-faktor pendukung ide kreatif ini, tapi yang jelas ide kreatif banyak dirangsang oleh adanya
usaha perbaikan kualitas hidup atau karena timbulnya berbagai permasalahan dalam hidup ini.

Adapun ciri-ciri kreativitas menurut Guil Ford ada 5, yaitu:


a. Kelancaran: Kemampuan memproduksi banyak ide.
b. Keluwesan: Kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan jalan pemecahan
masalah.
c. Keaslian: Kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinal sebagai hasil pemikiran
sendiri.
d. Penguraian: Kemampuan menguraikan sesuatu secara terperinci.
e. Perumusan Kembali: Kemampuan untuk mengkaji kembali suatu persoalan melalui cara yang
berbeda dari kebiasaan.

Manusia yang kreatif, pada umumnya mempunyai pikiran terbuka terhadap imajinasi, ide sendiri
maupun ide orang lain. Manusia berkreasi adalah karena adanya tuntutan kebutuhan dasar,
seperti keamanan, cinta dan penghargaan. Di samping itu, daya kreasi juga dimotivasi oleh
lingkungan yang manfaatnya bisa berupa kehidupan yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri
yang lebih besar, kegembiraan hidup serta bisa digunakan untuk menunjukkan kemampuan
terbaiknya.

Kalau tadi sudah dijelaskan tentang hal-hal yang merangsang daya kreasi manusia, kecerdasan
kreatif ini bisa terhambat perkembangannya. Faktor-faktor yang banyak menjadi kendala dalam
mengembangkan kecerdasan kreativitas ini di anataranya adalah: faktor kebiasaan, waktu,
masalah yang menimpa, perasaan takut gagal, takut dikritik orang, takut, kebiasaan bersenang-
senang.

Jadi, kecerdasan kreatif ini merupakan salah satu kecerdasan yang dapat mengarahkan kita pada
kehidupan lebih layak dan selalu berkembang dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu,
kecerdasan ini perlu untuk selalu diasah dan dikembangkan agar gagasan-gagasan yang
dihasilkan merupakan gagasan yang cerdas, efektif dan efisien. Berikut ini adalah beberapa tip
untuk dapat menghasilkan gagasan kreatif.

1. Kuantitas gagasan
Teknik-teknik kreatif pada awalnya bertumpu pada satu gagasan yang dianggap baik dan efektif.
Akan tetapi bila masalahnyanya kompleks, maka kita butuh banyak gagasan untuk dipilih.

2. Teknik brainstorming
Brainstorming merupakan cara yang paling banyak digunakan, tetapi juga merupakan cara
pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Teknik ini biasanya menghasilkan gagasan baru
yang orisinil untuk menambah jumlah gagasan konvensional yang ada.

3. Sinektik
Sinektik adalah metode atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk
menghasilkan gagasan kreatif atau wawasan segar ke dalam permasalahan. Proses sinektik ini
membuat yang asing menjadi akrab dan juga sebaliknya.

4. Memfokuskan tujuan
Membuat seolah-olah apa yang diinginkan esok, telah terjadi pada saat ini dengan melakukan
visualisasi yang kuat. Apabila proses itu dilakukan secara berulang-ulang, maka pikiran anda
akan terpusat ke arah tujuan yang dimaksud dan terjadilah proses auto sugesti ke dalam diri
maupun keluar. Tentu saja untuk keberhasilannya perlu pembelajaran dan pelatihan intensif
bagaimana menggunakan kekuatan bawah sadar Anda itu, dengan mengaktifkan Nur Ilahi untuk
mendapatkan imajinasi yang kuat, agar kreativitas selalu muncul saat dibutuhkan, membangun
Prestasi dan Citra yang membanggakan.

Seorang profesional dengan tingkat kecerdasan kreativitas (CQ) yang tinggi, adalah individu
yang kreatif, mampu mencari dan menciptakan terobosan dalam mengatasi berbagai hambatan
atau permasalahan yang muncul dalam lembaga profesinya.

Seorang pelaksana profesi yang ingin mencapai nilai-nilai profesional, haruslah mempunyai CQ
yang tinggi, yaitu mampu menghasilkan ide-ide baru (orisinil) dalam meningkatkan daya saing
dalam dunia kerjanya dan lebih luas lagi daya saing di era globalisasi. Seorang pelaksana profesi
haruslah bersikap fleksibel, komunikatif dan aspiratif, serta tidak dapat diam, selalu
menginginkan perubahan-perubahan kearah kehidupan yang lebih baik, reformatif dan tidak
statis.

3.6 AQ (ADVERSITY QUOTIENT)


Adversity Qountient adalah kemampuan / kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan
menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.

Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang
dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan
kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan
lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.
Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal
ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian: quitter (yang menyerah), camper
(berkemah di tengah perjalanan), dan climber (pendaki yang mencapai puncak). Para quitter
adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup. Para camper labih baik, karena biasanya
mereka berani melakukan pekerjaan yang beresiko, tetapi tetap mengambil resiko yang terukur
dan aman.

Para climber adalah mereka yang dengan segala keberaniannya menghadapi masalah dan
tantangan. Dikaitkan dengan AQ yang merupakan kemampuan / kecerdasan seseorang dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengatasi tantangan, resiko, dan pekerjaannya, maka para
climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dari ketiga kelompok tersebut antara para climber,
camper dan quitter dapat dikatakan mempunyai AQ yang berbeda. Para climber yang berhasil
sampai puncak mempunyai AQ tertinggi, kemudian secara berturut-turut disusul oleh para
camper dan quitter seperti yang diilustrasikan berikut ini.

a. AQ Tingkat “Quitters” (Orang-orang yang Berhenti). Orang yang mudah menyerah ketika
menghadapi kesulitan hidup memiliki AQ yang paling rendah. Ini termasuk golongan yang
kurang berikhtiar dan hanya berkeluh kesah menghadapi penderitaan/kesusahan hidup, dan
lain-lain.
b. AQ Tingkat “Campers” (Orang yang Berkemah)
Campers adalah AQ tingkat bawah. Awalnya giat mendaki / berusaha
menghadapi kesulitan hidup, di tengah perjalanan mudah merasa cukup dan mengakhiri
pendakian atau usahanya. Contoh: orang yang sudah merasa cukup dengan menjadi sarjana,
merasa sukses bila memiliki jabatan dan materi.
c. AQ Tingkat “Climbers” (Orang yang Mendaki)
Climbers adalah pendaki sejati. Orang yang seumur hidup mendaki mencari
hakikat kehidupan menuju kemuliaan manusia dunia dan akhirat sampai tercapai apa yang
dicita-citakan.

Rentang AQ meliputi tiga (3) golongan:


 AQ rendah (0-50)
 AQ sedang (95-134)
 AQ tinggi (166-200)

AQ bukanlah sekadar anugerah yang bersifat diberi (given), tapi bisa dipelajari. Dengan latihan-
latihan tertentu orang akan bisa meningkatkan kemampuan AQnya. Di banyak perusahaan yang
dilatihnya, Stoltz berhasil melihat peningkatan kinerja – dalam berbagai ukuran – para
karyawannya. Di sebuah perusahaan farmasi multinasional, Stoltz mendapatkan fakta bahwa
peningkatan AQ para karyawan, membuat perusahaan lebih mudah melakukan perubahan
strategis. Padahal kita semua mafhum, banyak perubahan strategis yang mahal biayanya karena
resistensi para karyawannya.

Dunia kerja adalah dunia yang penuh dengan tantangan dan rintangan, karenanya sanggupkah
kita menjalaninya? Sebagai pelaksana profesi yang ingin menjadi seorang yang profesional
hendaklah menetapkan di hati bahwa “Saya adalah pendaki sejati, yang akan mengarungi semua
tantangan dan rintangan yang ada”.

Namun satu hal yang perlu kita yakini bersama bahwa tidak ada manusia yang
sempurna, tidak ada jalan yang lurus mulus. Setiap individu mempunyai kelebihan dan
kekurangan dalam dirinya. Hambatan dan peluang akan ditemui dalam mencapai cita-cita masa
depan.
Untuk mengetahui kondisi kita secara lebih cermat kita bisa lakukan evaluasi diri, yaitu
melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri. Dalam mengavualasi sudah tentu sudah ada set alat
evaluasinya atau yang disebut instrumen ukur yang mudah digunakan dan mudah pula
memahaminya. Salah satu metode yang tidak sedikit masyarakat memanfaatkannya adalah
melalui metode analisis yang dikenal dengan analisis SWOT (Srength, Weakness, Opportunity
dan Threat).

 Strength (Kekuatan): adalah potensi yang ada pada diri sendiri yang menunjang tercapainya
cita-cita / karier. Strenth juga merupakan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh
seseorang.
 Weakness (Kelemahan): adalah kekurangan-kekurangan yang ada pada diri sendiri dan akan
bisa menghambat cita-cita/ karier.
 Opportunity (Peluang): adalah segala jenis kesempatan di luar diri sendiri yang bila dapat
meraihnya, maka akan sangat menentukan tercapaianya cita-cita dan bahkan lebih tinggi dari
itu.
 Threat (Ancaman): adalah segala bentuk gejala yang dapat mengancam cita-cita seseorang
bila tidak melakukan hal yang terbaik. Ibaratnya suatu kompetisi alamiah, barang siapa yang
bisa menghindari atau mengatasi ancaman, dialah yang akan tetap bertahan. Demikian
sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Amran, Tatty S.B., 1994,Kiat Wanita Meniti Karir, PT. Pusaka Binamam Persindo
2. Keraf, Sonny, 2005, Etika Bisnis, Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta: Kanisius.
3. National Society of Pofessional Engineers, 2007, Code of Ethics for Engineers, Virginia:
NSPE.
4. Nursiti, Nathalia, 2009. Makna Etika Profesi Bagi Penyandang Profesi Sekretaris,
Secretarial: ISSN 2085-4803 Vol 1 No. 1, Juni 2009.
5. Partowijoto, Achmadi, Organisasi PII dan Etika Profesi, Jakarta: PII.
6. Prasko, 2011, Etika Profesi Perawat Gigi (1-9), www.zona-prasko.blogspot.com, 2011.
7. Risnanto, R. Rizal, 2099, Etika Profesi, Semarang: Universitas Diponegoro.
8. Suseno, Frans Magnis, 1993, Etika Sosial, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
9. Tengker, Benny, 1994, Etika Profesi, Jakarta: Akademi Ilmu Sekretari dan Manajemen
Indonesia.