Anda di halaman 1dari 31

Rina Arjulina Nasution

2016–71–127
MODUL 1
MOTOR DC TIPE SHUNT

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari Motor DC Tipe Shunt.
2. Mahasiswa mampu memahami karakteristik kerja dari Motor DC Tipe Shunt.
3. Mahasiswa mampu mengenal alat, komponen dan fungsinya dalam jenis Motor
DC Shunt .

II. ALAT DAN BAHAN


1.Motor DC Tipe Shunt, 1buah
2. Generator AC 3 phase, 1 buah
3. Multitester(Tang Ampere), 1 buah
4. Tachometer, 1 buah
5. Kabel penghubung, secukupnya
6. Sumber Tegangan DC
7. Lampu (beban), 3 buah

III. TEORI MODUL


Motor Shunt
Pada motor shunt, gulungan medan (medan shunt) disambungkan secara paralel
dengan gulungan kumparan motor DC (A) seperti diperlihatkan dalam gambar
dibawah. Oleh karena itu total arus dalam jalur merupakan penjumlahan arus medan
dan arus kumparan motor DC.

Berikut tentang kecepatan motor shunt (E.T.E., 1997):


 Kecepatan pada prakteknya konstan tidak tergantung pada beban (hingga
torque tertentu setelah kecepatannya berkurang, lihat Gambar diatas dan oleh
karena itu cocok untuk penggunaan komersial dengan beban awal yang rendah,
seperti peralatan mesin).
 Kecepatan dapat dikendalikan dengan cara memasang tahanan dalam susunan
seri dengan kumparan motor DC (kecepatan berkurang) atau dengan
memasang tahanan pada arus medan (kecepatan bertambah).

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Karakteristik Motor DC Shunt
Motor DC Shunt memiliki karakteristik pengoperasian yang agak berbeda
dengan motor listrik yang sejenis. Karena medan kumparan paralel terbuat dari kabel
yang kecil. Motor ini tidak dapat memproduksi arus yang besar ketika mulai
melakukan putaran seperti pada medan kumparan seri. Hal ini berarti motor paralel
mempunyai torsi awal yang lemah. Ketika voltase diaplikasikan ke motor listrik,
resistansi yang tinggi pada kumparan paralel menjaga arus mengalir lambat.
Kumparan armatur untuk motor shunt pada dasarnya sama dengan motor seri dan
menggunakan arus untuk memproduksi medan magnetik yang cukup kuat untuk
membuat kumparan armatur memulai putaran. Seperti halnya motor seri, ketika
armatur mulai berputar, kumparan tersebut akan memproduksi GGL. GGL lawan
akan menyebabkan arus pada kumparan armatur mulai terkurangi sampai pada level
yang sangat rendah. Banyaknya arus pada kumparan armatur yang dibutuhkan akan
secara langsung berhubungan dengan banyaknya beban ketika motor mencapai
kecepatan maksimal. Ketika bebannya sedikit, kumparan armature ini akan
membutuhkan arus yang sedikit pula. Namun, ketika motor mencapai rpm yang
penuh, kecepatannya akan tetap konstan. Rangkaian eksitasi motor shunt terletak
paralel dengan jangkar. Putaran akan turun dengan naiknya momen torsi. Pada
kondisi tanpa beban, karakteristik motor shunt mirip dengan motor penguat terpisah.
Gambar karakteristik Motor DC Shunt dapat dilihat pada gambar 5e) di atas.

F = B.I.L newton

Ish I +
Ia

Eb
Rsh V
V

Gambar 1. Bagan hubungan


Motor Shunt

IV. TEORI TAMBAHAN

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Pengertian Motor Listrik
Motor listrik adalah suatu mesin yang merubah tenaga listrik, menjadi tenaga
mekanik, secara fisik motor arus searah sama dengan generator arus searah
Kerjanya adalah atas prinsip bahwa apabila suatu penghantar dialiri arus dan diletakkan
didalam suatu medan magnit, maka akan timbul gaya mekanik yang mempunyai arah
sesuai dengan hukum "tangan kiri Fleming, lihat gambar-1.1 dan besarnya adalah:

F = B.I.L newton .............................................................(1.1)

Gaya menimbulkan torsi yang akan menghasilkan rotasi mekanik, sehingga motor akan
berputar. Jadi motor arus searah ini menerima sumber arus searah dari jala-jala, kemudian
dirubah menjadi energi mekanik berupa perputaran, yang nantinya dipakai oleh peralatan
lain..

Ringkasnya prinsip kerja


dari motor membutuhkan:

1. Adanya garis-garis gaya


medan magnet (fluks),
antara kutub yang berada
di stator.

2. Penghantar yang dialiri arus


ditempatkan pada jangkar
yang berada dalam medan
magnet tadi.

3.Pada penghantar timbul gaya yang Gambar-1.1. Azas Motor arus searah
menghasilkan torsi. Besarnya gaya tergantung pada

1. Kuat medan magnit B

2. Besar arus I dan

3. Panjang kawat penghantar L Tidak ada perbedaan konstruksi dasar antara generator
arus searah dan motor arus-searah.

G.g.l. lawan dari jangkar

Sesuai dengan hukum induksi elektromagnit, ggl diinduksikan pada kawat


(jangkar) yang arahnya menurut hukum Fleming berlawanan dengan tegangan V yang
diterapkan pada terminalnya, lihat gambar-1.2. Dari gambar-1.1, didapat:

Tegangan  netto V  Eb
I a 
Tahanan Ra

Ra = tahanan jangkar

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
𝐸𝑏 = 𝜙𝑍𝑁 ×
𝑃
(𝐴) 𝑣𝑜𝑙𝑡……………………………………..(1.2)

N dalam perputaran per detik (rps)

atau
𝜙𝑍𝑁 𝑃
𝐸𝑏 = × (𝐴) 𝑣𝑜𝑙𝑡 ………………………………………..(1.3)
60

Eb
V= tegangan yang
V diterapkan pada
Ia terminal motor.

-
Gambar-3.2. Arah g.g.l. dan tegangan V

Dimana:
Eb = g.g.l. lawan pada jangkar, dalam volt

𝜙 = fluks per kutub,dalam Weber

Z = jumlah penghantar dari jangkar

N — kecepatan perputaran dari jangkar,

perputaran per menit (r.p.m.)

P = Banyaknya kutub

A = jumlah jalur paralel penghantar jangkar

(untuk belitan gelung A = P;belitan gelombang A = 2)

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
V. RANGKAIAN PERCOBAAN
220V-DC

V
A
V V V

C A
R A
F E Z
J U
GM S A
K X V
Beban
H Y
TA
D
W
N A
V

Gambar 1

VI. LANGKAH PRAKTIKUM

1. Siapkan sumber listrik sesuai kebutuhan praktek ( sumber arus searah 2 set )
2. Siapkan alat ukur dengan batas-ukur sesuai peralatan listrik yang akan diukur:
 Tang Ampere 1 buah
 1 ( satu ) Tacho-meter
3. Siapkan kabel penghubung secukupnya
4. Lakukan pengawatan seperti pada gambar 1
5. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk motor DC (
shunt ) adalah “ nol“
6. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk untuk excitasi
generator sinkron adalah “ nol “
7. Masukkan sumber listrik untuk motor penggerak ( motor DC ) dan naikkan
tegangan secara bertahap sampai putaran motor mencapai nominalnya.
8. Masukkan sumber listrik untuk penguatan ( excitasi ) dan naikkan tegangannya
secara bertahap (sesuai instruksi asisten )
9. Masukkan beban secara bertahap (sesuai instruksi asisten)
10. Catat hasil penunjukan dari alat ukur:
 Arus motor penggerak
 Arus eksitasi
 Arus beban
 Putaran motor pada setiap perubahan nilai arus beban
 Catat hasil pengamatan tersebut.
11. Turunkan tegangan sumber listrik untuk eksitasi sampai mencapai nilai “nol” dan
matikan sumber listriknya.
12. Turunkan tegangan sumber listrik untuk pengatur putaran motor sampai mencapai
nilai “nol” dan matikan sumber listriknya.
13. Analisa hasil percobaan ini

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
VII. TABEL PENGAMATAN

Motor Beban Motor ( Generator Sinkron)


Penggerak Arus Putaran Keterangan
No
(Motor Shunt) TEGANGAN ARUS Excitasi Motor Nyala Lampu
TEGANGA ARUS
N (V) (A)
VR-N VS-N VT-N IR IS IT IN
1
2
3
4
5
6
7
8

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
MODUL 2
MOTOR DC TIPE SERIE

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari Motor DC Tipe Serie.
2. Mahasiswa mampu memahami karakteristik kerja dari Motor DC Tipe Serie
3. Mahasiswa mampu mengenal alat, komponen dan fungsinya dalam jenis Motor DC
Serie .

II. ALAT DAN BAHAN


1. Motor DC Tipe Serie, 1buah
2. Generator AC 3 phase, 1 buah
3. Multitester(Tang Ampere), 1 buah
4. Tachometer, 1 buah
5. Kabel penghubung, secukupnya
6. Sumber Tegangan DC
7. Lampu (beban), 3 buah
8. AVR (Automatic Voltage Regulator), 1 buah
III. TEORI MODUL

Motor Seri
Dalam motor seri, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara
seri dengan gulungan kumparan motor DC (A) seperti ditunjukkan dalam
gambar dibawah. Oleh karena itu, arus medan sama dengan arus kumparan
motor DC. Berikut tentang kecepatan motor seri (Rodwell International
Corporation, 1997; L.M. Photonics Ltd, 2002) :
 Kecepatan dibatasi pada 5000 RPM
 Harus dihindarkan menjalankan motor seri tanpa ada beban sebab motor
akan mempercepat tanpa terkendali.
Motor-motor seri cocok untuk penggunaan yang memerlukan torque
penyalaan awal yang tinggi, seperti derek dan alat pengangkat hoist seperti
pada gambar berikut.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Karakteristik Motor DC Serie
Karakteristiknya antara lain, yaitu :

1). Sebagai kumparan medan biasanya membawa arus armatur, jadi ∅∞Ia di atas
titik saturasi magnetnya dan sebelum saturasi Ta∞∅. Ia atau Ta∞ Ia
2). Perubahan di Eb untuk variasi arus beban itu kecil. Jadi variasi kecepatan
berkebalikan dengan arus armatur.
3). Jika kecepatan naik, torsinya kecil.
Gambar karakteristik Motor DC Serie dapat dilihat pada gambar 5b) di atas.

I
+

Rse
Ia
220 V

Eb Ra

-
Gambar 2. Bagan hubungan
Motor Serie

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
IV. TEORI TAMBAHAN

Prinsip generator:

Generator adalah mesin yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Proses
koversi energi elektromagnet didasarkan prinsip, g.g.l (tegangan) induksi yang ditimbulkan
akibat suatu penghantar yang digerakkan dalam medan magnet, lihat dasar
electromagnet. Generator arus searah dapat dibagi dalam dua bagian utama:
1. Rotor, yaitu bagian yang berputar,
2. Stator, yaitu bagian yang tidak berputar.

2.2. Prinsip kerjanya

a. Dasar Generator

Berdasarkan Hukum induksi dari Faraday yaitu apabila lilitan penghantar atau
konduktor diputar memotong garis-garis gaya medan magnit yang diam, atau lilitan
penghantar diam dipotong oleh garis-garis gaya medan magnit yang berputar, maka
pada penghantar tersebut timbul Gaya Gerak Listrik (GGL) atau tegangan induksi. Dalam
hal ini untuk generator arus searah:

1. Lilitan penghantar diletakkan pada jangkar yang berputar.


2. Garis-garis gaya medan magnet yang berasal dari kutub magnet yang berada di-stator
3. Gerak atau perputaran dari lilitan penghantar dalam medan magnet.

Pada gambar-2.1 diperlihatkan kumparan tembaga ABCD yang terdiri dari satu
belitan berbentuk persegi panjang, berputar pada porosnya dalam suatu medan magnet yang
seragam. Kedua ujung dari belitan tersebut masing-masing dihubungkan pada cincin
geser "a" dan "b". Dua sikat karbon dihubungkan ke kedua cicin geser tersebut.
Fungsi dari sikat ini adalah menyalurkan arus induksi dalam kumparan dan
kemudian disalurkan ke beban (tahanan R).
Kumparan yang berputar ini disebut rotor
atau jangkar atau armature dan magnetnya
sebagai medan magnet.
b. Cara kerja

Bayangkan suatu kumparan


berputar pada porosnya searah
Gambar -2.1. Dasar suatu Generator
dengan putaran jarum jam,
D C D

A B
U S U A S
C

poros
poros B
(a) Kumparan pada bidang netral (b) Kumparan berada pada posisi 90o

C D C

B A
U S U B S
D

A poros
poros

(c) Kumparan berada pada posisi 180o (d) Kumparan berada pada posisi 240o

Gambar-2.2. Dasar kerja suatu Generator

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

lihat gambar 2.2. Misalkan awal posisi kumparan dalam medan magnet seperti
pada gambar 2.2a, berputar searah dengan putaran jarum jam. Besarnya ggl induksi yang
timbul setiap saat berbanding lurus dengan perobahan rata-rata dari pertautan fluks (e =
Nd<S?/df), dan arahnya sesuai dengan hokum tangan kanan dari Fleming.

Pada awal rotasi misalkan bidang kumparan ABCD tegak-lurus dengan fluks,
yaitu seperti yang terlihat pada gambar 2.2a, fluks yang dicakup oleh kumparan ABCD
(pertautan fluksnya) maksimum, akan tetapi perobahan rata-rata fan pertautan fluksnya nol,
artinya pada saat ini tidak ada fluks yang dipotong oleh sisisi AB dan CD. Jadi pada posisi
ini tidak ada ggl induksi pada kumparan.

Selanjutnya bila kumparan ini berputar pada kecepatan konstan searah dengan
jarum jam, sisi-sisi kumparan mulai memotong fluks, terjadi perobahan rata-rata
pertautan fluks yang meningkat secara bertahap. Jadi tegangan induksinya pun
meningkat secara bertahap dan maksimum pada posisi gambar 2.2b. Selama periode
ini kumparan berputar melalui n/2 radian atau 90° dan peningkatan ggl induksinya sesuai
dengan hukum sinus, seperti yang terlihat pada gambar 2.3. Arab ggl induksi pada
kumparan sesuai dengan hukum tangan kanan Fleming, yaitu dari B ke A dan dari D.

ke C, lihat gambar 2.2b. Selanjutnya pada 1/4 kuadrant berikutnya yaitu dari
90° sampai dengan 180° ,tingkat pemotongan fluks oleh kumparan menurun secara
bertahap,demikian pula tegangan induksinya, sampai menjadi nol,dimana pada saat ini
e

0 90 o 180o 270o 360o


I

Gambar-2.3.Bentuk tegangan yang dihasilkan


bidang kumparan kembali tegak-lurus terhadap medan magnet, lihat gambar-2.2c. Pada
perputaran kumparan dalam 3/4 kuadrant berikutnya,yaitu antar 180° sampai 270° ,tingkat
pemotongan fluks oleh kumparan meninggkat secara bertahap dan ggl induksi menjadi
maksimum pada posisi seperti gambar 2.2d.Sekarang arah ggl dalam kumparan dari A ke B
dan dari C ke D , yaitu bertetangan dengan keadaan 1/4 kuadran pertama (gambar 2.2b)
Bila
perputaran berlanjut hasil tegangan induksinya seperti yang dilukiskan pada
gambar 2.3 Jadi, ggl yang dibangkitkan pada penghantar adalah tegangan bolak-balik.
Tegangan bolak-balik tersebut disearahkan oleh komutator, lihat gambar 2.4.

Gambar-2.4. Azas generator arus-seara

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Tegangan searah tersebut oleh sikat
dikumpulkan, kemudian diberikan ke-terminal generator
untuk ditransfer ke beban. Pada posisi gambar-2.4a, e
terlihat arah arus pada sisi a dan sisi b dari
penghantar,sedangkan pada gambar-2.4b, karena tidak
ada fluks yang dipotong penghantar maka tidak timbul
g.g.l induksi sehingga arusnya nol. Pada posisi gambar- 0 90o 180o 270o 360o
I
2.4c, yaitu kebalikan dari posisi gambar-2.4a, demikian Gambar-2.5.Tegangan induksi yang
pula arah arus pada sisi-sisi penghantar berobah. disearahkan oleh komutator
Tegangan induksi bolak-balik yang telah disearahkan oleh komutator bentuknya berupa
setengah gelombang, seperti yang terlihat pada gambar-2.5.

Arus yang mengalir pada penghantar jangkar karena beban tersebut, akan
membangkitkan medan yang melawan atau mengurangi medan utama yang dihasilkan
oleh kutub sehingga tegangan terminal turun, hal ini disebut reaksi jangkar.

Arus yang mengalir pada penghantar jangkar karena beban tersebut, akan
membangkitkan medan yang melawan, atau mengurangi medan utama yang dihasilkan oleh
kutub sehingga tegangan terminal turun, hal ini disebut reaksi jangkar.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
V. RANGKAIAN PERCOBAAN
220V-DC

V
A
V V V

C A
R A
F E Z
J U
GM S A
K X V
Beban
H Y
TA
D
W
N A
V

220V-DC

Gambar 2

VI. LANGKAH PRAKTIKUM

1. Siapkan sumber listrik sesuai kebutuhan praktek ( sumber arus searah 2 set )
2. Siapkan alat ukur dengan batas-ukur sesuai peralatan listrik yang akan diukur:
 Tang Ampere 1 buah
 1 ( satu ) Tacho-meter
3. Siapkan kabel penghubung secukupnya
4. Lakukan pengawatan seperti pada gambar 1
5. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk motor DC (
seri ) adalah “ nol“
6. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk untuk excitasi
generator sinkron adalah “ nol “
7. Masukkan sumber listrik untuk motor penggerak ( motor DC ) dan naikkan
tegangan secara bertahap sampai putaran motor mencapai nominalnya.
8. Masukkan sumber listrik untuk penguatan ( excitasi ) dan naikkan tegangannya
secara bertahap (sesuai instruksi asisten )
9. Masukkan beban secara bertahap (sesuai instruksi asisten)
10. Catat hasil penunjukan dari alat ukur:
 Arus motor penggerak
 Arus eksitasi
 Arus beban
 Putaran motor pada setiap perubahan nilai arus beban
 Catat hasil pengamatan tersebut.
11. Turunkan tegangan sumber listrik untuk eksitasi sampai mencapai nilai “nol” dan
matikan sumber listriknya.
12. Turunkan tegangan sumber listrik untuk pengatur putaran motor sampai mencapai
nilai “nol” dan matikan sumber listriknya.
13. Analisa hasil percobaan ini

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
VII. TABEL PENGAMATAN

Motor Beban Motor ( Generator Sinkron)


Penggerak Arus Putaran Keterangan
No
(Motor Seri) TEGANGAN ARUS Excitasi Motor Nyala Lampu
TEGANGA ARUS
N (V) (A)
VR-N VS-N VT-N IR IS IT IN
1
2
3
4
5
6
7
8

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
MODUL 3
MOTOR DC TIPE KOMPON PANJANG

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari Motor DC Tipe Kompon
panjang.
2. Mahasiswa mampu memahami karakteristik kerja dari Motor DC Tipe
Kompon Panjang
3. Mahasiswa mampu mengenal alat,komponen dan fungsinya dalam jenis Motor
DC Kompon panjang.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Motor DC Tipe Shunt, 1buah
2. Generator AC 3 phase, 1 buah
3. Multitester(Tang Ampere), 1 buah
4. Tachometer, 1 buah
5. Kabel penghubung, secukupnya
6. Sumber Tegangan DC
7. Lampu (beban), 3 buah

III. TEORI MODUL


Motor DC Kompon/Gabungan
Motor Kompon DC merupakan gabungan motor seri dan shunt. Pada motor
kompon, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara paralel dan seri
dengan gulungan kumparan motor DC (A) seperti yang ditunjukkan dalam gambar
dibawah. Sehingga, motor kompon memiliki torque penyalaan awal yang bagus dan
kecepatan yang stabil. Makin tinggi persentase penggabungan (yakni persentase
gulungan medan yang dihubungkan secara seri), makin tinggi pula torque penyalaan
awal yang dapat ditangani oleh motor ini.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Contoh, penggabungan 40-50% menjadikan motor ini cocok untuk alat
pengangkat hoist dan derek, sedangkan motor kompon yang standar (12%) tidak
cocok (myElectrical, 2005).

Karakteristik Motor DC Kompon

Pada motor kompon, kutub utama berisi rangkaian seri dan paralel. Dalam
kondisi tanpa beban, motor kompon mempunyai sifat seperti motor shunt. Pada
kondisi beban terpasang, dengan momen torsi yang sama, akan didapat putaran
sedikit lebih tinggi.
Ish I
+

Rm Tahanan mula

Ia
240 V
Rsh

Eb Ra

-
Gambar 8. Motor Shunt dengan tahanan
mula (Motor DC Kompon Panjang)

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
IV. TEORI TAMBAHAN

Konstruksi dasar Generator arus searah.

Generator arus searah dapat dibagi dalam dua bagian utama:

1). Rotor, yaitu bagian yang berputar,

2). Stator, yaitu bagian yang tidak berputar.

Gambar konstruksi dari mesin ini secara umum dapat dilihatpada gambar 2.6.

a. Bagian-bagian Rotor b. Bagianbagian stator

(i) Poros angkar (i) Kerangka generator

(ii) Inti jangkar (ii) Kutub utama beserta belitannya

(iii)Komutator (iii) Kutub-kutub bantu beserta belitannya

(iv) Kumparan jangkar (iv) Bantalan-bantalan poros

(a) Rotor (b) Sikat

(c) Komutator (d) Stator

Gambar-2.6. Generator arus searah beserta kelengkapannya

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Macam belitan jangkar

Ada dua macam belitan jangkar: (a) Belitan gelung (lap), dan (b) Belitan gelombang

. 1. Belitan gelung (lap), lihat gambar 2.7

Kumparan biasanya terdiri dari beberapa lilitan yang membentuk trapesium.


Apabila kumparan dihubungkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga setiap kumparan
menggelung kembali kesisi kumparan berikutnya, maka hubungan itu disebut belitan
gelung. Dapat juga dikatakan , bila dua ujung kumparannya dihubungkan ke segmen komutator
yang berdekatan atau berjarak satu segmen, dua segmen dan seterusnya, sehingga
memberikan hubungan multiplex yakni simplex, duplek, triplek dan seterusnya.

YB
YF

U S

YC
(a)

Gambar-2.7. Belitan gelung. (a).Dasar belitan-gelung; (b). Tampan-muka, c). Bentangan


belitan-gelung.
Yc = kisar-kolektor; YB = kisar-mundur; YF = kisar-maju; YR = kisar –resultan

Setiap kumparan mempunyai dua ujung, dimana kedua ujung kumparan tersebut
dihubungkan dengan setiap segmen komutator yang terisolir satu sama lain, berputar
bersama rotor. Agar tegangan sisi kumparan saling memperbesar, maka bila satu sisi
kumparan berada dibawah kutub utara, pasangan sisi kumparan lainnya harus terletak
dibawah kutub selatan, lihat gambar-2.7a. dan gambar-2.7b.

Sebagai contoh, pada gambar 2.7b terlihat tampan-muka dari belitan gelung,
dua-lapis, dua kutub, 8-alur dan 16-kumparan yang disambung dengan komutator. Gambar-
2.7c adalah bentangan dari kumparan gelung. Angka-angka dalam laingkaran ini
menunjukkan nomer alur; angka yang tidak dalam lingkaran adalah nomer sisi
penghantar/kumparan. Dalam gambar-2.7b dan 2.7c, kisar-maju YF = 7 (1 s/d 8) dan kisar-
mundur YB = -5(8 s/d 3) dan kisar-resultan YR = 7 - 5 = 2. Jumlah jalur kolektor dihitung
berapa yang mundur dan yang maju dinamakan "kisar-kolektor" = Yc , dalam hal ini YR
= 1.

Karena setiap kumparan mempunyai dua ujung, dan setiap segmen komutator
menghubungkan dua ujung kumparan, maka terdapatlah enam-belas segmen komutator yang
saling di-isolir satu sama lain. Segmen komutator turut berputar bersama rotor.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
V. RANGKAIAN PERCOBAAN
220V-DC

V
A
V V V

C A
RA
F E Z
J U
GM S A
K X V
Beban
H Y
TA
D
W
N A
V

220V-DC

Gambar 3

VI. LANGKAH PRAKTIKUM

1. Siapkan sumber listrik sesuai kebutuhan praktek ( sumber arus searah 2 set )
2. Siapkan alat ukur dengan batas-ukur sesuai peralatan listrik yang akan diukur:
 Tang Ampere 1 buah
 1 ( satu ) Tacho-meter
3. Siapkan kabel penghubung secukupnya
4. Lakukan pengawatan seperti pada gambar 3
5. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk motor DC (
Kompon Panjang ) adalah “ nol“
6. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk untuk excitasi
generator sinkron adalah “ nol “
7. Masukkan sumber listrik untuk motor penggerak ( motor DC ) dan naikkan
tegangan secara bertahap sampai putaran motor mencapai nominalnya.
8. Masukkan sumber listrik untuk penguatan ( excitasi ) dan naikkan tegangannya
secara bertahap (sesuai instruksi asisten )
9. Masukkan beban secara bertahap (sesuai instruksi asisten)
10. Catat hasil penunjukan dari alat ukur:
 Arus motor penggerak
 Arus eksitasi
 Arus beban
 Putaran motor pada setiap perubahan nilai arus beban
 Catat hasil pengamatan tersebut.
11. Turunkan tegangan sumber listrik untuk eksitasi sampai mencapai nilai “nol” dan
matikan sumber listriknya.
12. Turunkan tegangan sumber listrik untuk pengatur putaran motor sampai mencapai
nilai “nol” dan matikan sumber listriknya.
13. Analisa hasil percobaan ini

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
VII. TABEL PENGAMATAN

Motor Beban Motor ( Generator Sinkron)


Penggerak Arus Putaran Keterangan
No
(Motor Shunt) TEGANGAN ARUS Excitasi Motor Nyala Lampu
TEGANGA ARUS
N (V) (A)
VR-N VS-N VT-N IR IS IT IN
1
2
3
4
5
6
7
8

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
MODUL 4
MOTOR DC TIPE KOMPON PENDEK

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari Motor DC Tipe Kompon pendek.
2. Mahasiswa mampu memahami karakteristik kerja dariMotor DC Tipe Kompon
pendek.
3. Mahasiswa mampu mengenal alat, komponen dan fungsinya dalam jenis Motor
DC Kompon pendek.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Motor DC Tipe Shunt, 1buah
2. Generator AC 3 phase, 1 buah
3. Multitester(Tang Ampere), 1 buah
4. Tachometer, 1 buah
5. Kabel penghubung, secukupnya
6. Sumber Tegangan DC
7. Lampu (beban), 3 buah

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
III. TEORI MODUL
Motor DC Kompon/Gabungan
Motor Kompon DC merupakan gabungan motor seri dan shunt. Pada motor
kompon, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara paralel dan seri
dengan gulungan kumparan motor DC (A) seperti yang ditunjukkan dalam gambar
dibawah. Sehingga, motor kompon memiliki torque penyalaan awal yang bagus
dan kecepatan yang stabil. Makin tinggi persentase penggabungan (yakni
persentase gulungan medan yang dihubungkan secara seri), makin tinggi pula
torque penyalaan awal yang dapat ditangani oleh motor ini.

Contoh, penggabungan 40-50% menjadikan motor ini cocok untuk alat


pengangkat hoist dan derek, sedangkan motor kompon yang standar (12%) tidak
cocok (myElectrical, 2005).

Karakteristik Motor DC Kompon

Pada motor kompon, kutub utama berisi rangkaian seri dan paralel. Dalam
kondisi tanpa beban, motor kompon mempunyai sifat seperti motor shunt. Pada
kondisi beban terpasang, dengan momen torsi yang sama, akan didapat putaran
sedikit lebih tinggi.

I
+
Ise

Rse Tahanan serie

Ish
Ia 240 V
Rsh

Eb Ra

-
Gambar 9. Motor Shunt dengan tahanan
mula (Motor DC Kompon Pendek)

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

IV. TEORI TAMBAHAN

Dalam dunia
industri, motor arus searah banyak digunakan sebagai motor penggerak.
Pemilihan motor arus searah sebagai motor penggerak dibandingkan motor
induksi karena motor arus searah memiliki rentang pengaturan kecepatan yang
lebar. Pengaturan kecepatan motor arus searah juga mudah dilakukan dalam
berbagai kecepatan dan variasi beban. Pada motor arus searah Kompon, jika beban
bertambah maka kecepatan rotor cenderung menurun oleh karena itu diperlukan
pengaturan kecepatan, di dalam melayani beban dan diharapkan motor arus searah
mampu memiliki efisiensi maksimal sehingga motor searah kompon memiliki
kinerja yang baik dalam melayani beban. Berdasarkan hubungan rangkaian
penguat medannya, salah satu jenis motor DC adalah motor DC penguatan
kompon. Motor DC penguatan kompon ini ada dua jenis yaitu motor DC kompon
panjang dan motor DC kompon pendek. Motor DC penguatan kompon memiliki
torsi penyalaan awal yang bagus sehingga sangat banyak digunakan sebagai motor
penggerak. Motor DC yang digunakan dibidang industri pada umumnya memiliki
kapasitas daya yang relatif besar dan disesuaikan dengan beban mekanis dan
volume. Dengan demikian perlu dilakukan pengujian untuk membandingkan
pengaruh pengaturan putaran terhadap efisiensi motor DC kompon panjang dan
motor DC kompon pendek sehingga dalam pengaturan kecepatan didapatkan
efisiensi yang paling maksimal.

Pada motor kompon, kutub utama berisi rangkaian seri dan paralel. Dalam
kondisi tanpa beban, motor kompon mempunyai sifat seperti motor shunt. Pada
kondisi beban terpasang, dengan momen torsi yang sama, akan didapat putaran
sedikit lebih tinggi.
Pada motor kompon mempunyai dua buah kumparan medan dihubungkan
seri dan paralel dengan angker. Bila motor seri diberi penguat shunt tambahan
seperti gambar dibawah disebut motor kompon shunt panjang.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

Bila motor shunt diberi tambahan penguat seri seperti gambar dibawah
disebut motor kompon shunt pendek.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

V. RANGKAIAN PERCOBAAN
220V-DC

V
A
V V V

C A
R A
F E Z
J U
GM S A
K X V
Beban
H Y
TA
D
W
N A
V

220V-DC

Gambar 4

VI. LANGKAH PRAKTIKUM

1. Siapkan sumber listrik sesuai kebutuhan praktek ( sumber arus searah 2 set )
2. Siapkan alat ukur dengan batas-ukur sesuai peralatan listrik yang akan diukur:
 Tang Ampere 1 buah
 1 ( satu ) Tacho-meter
3. Siapkan kabel penghubung secukupnya
4. Lakukan pengawatan seperti pada gambar 4
5. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk motor DC (
Kompon Pendek ) adalah “ nol“

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
6. Pastikan posisi pengatur tegangan sumber listrik arus searah untuk untuk excitasi
generator sinkron adalah “ nol “
7. Masukkan sumber listrik untuk motor penggerak ( motor DC ) dan naikkan
tegangan secara bertahap sampai putaran motor mencapai nominalnya.
8. Masukkan sumber listrik untuk penguatan ( excitasi ) dan naikkan tegangannya
secara bertahap (sesuai instruksi asisten )
9. Masukkan beban secara bertahap (sesuai instruksi asisten)
10. Catat hasil penunjukan dari alat ukur:
 Arus motor penggerak
 Arus eksitasi
 Arus beban
 Putaran motor pada setiap perubahan nilai arus beban
 Catat hasil pengamatan tersebut.
11. Turunkan tegangan sumber listrik untuk eksitasi sampai mencapai nilai “nol” dan
matikan sumber listriknya.
12. Turunkan tegangan sumber listrik untuk pengatur putaran motor sampai mencapai
nilai “nol” dan matikan sumber listriknya.
13. Analisa hasil percobaan ini

VII. TABEL PENGAMATAN

Motor Beban Motor ( Generator Sinkron)


Penggerak Arus Putaran Keterangan
No
(Motor Shunt) TEGANGAN ARUS Excitasi Motor Nyala Lampu
TEGANGA ARUS
N (V) (A)
VR-N VS-N VT-N IR IS IT IN
1
2
3
4
5
6
7
8

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

MODUL 5
GENERATOR DC

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari Generator DC.
2. Mahasiswa mampu memahami karakteristik kerja dari Generator DC.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Motor DC Tipe Shunt, 1buah
2. Generator AC 3 phase, 1 buah
3. Tang Ampere, 1 buah
4. Tachometer, 1 buah
5. Kabel penghubung, secukupnya
6. Sumber Tegangan DC
7. Lampu (beban), 3 buah

III. TEORI MODUL


Generator Arus-Searah
Generator DC merupakan sebuah perangkat mesin listrik dinamis yang mengubah
energi mekanis menjadi energi listrik. Generator DC menghasilkan arus DC / arus
searah. Generator DC dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan dari
rangkaian belitan magnet atau penguat eksitasinya terhadap jangkar (anker).
Prinsip Kerja generator DC
Prinsip kerja suatu generator arus searah berdasarkan hukum Faraday :

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

Dengan lain perkataan, apabila suatu konduktor memotong garis-garis fluksi


magnetik yang berubah-ubah, maka GGL akan dibangkitkan dalam konduktor itu.
Jadi syarat untuk dapat dibangkitkan GGL adalah :
 harus ada konduktor ( hantaran kawat )
 harus ada medan magnetik
 harus ada gerak atau perputaran dari konduktor dalam medan, atau ada fluksi
yang berubah yang memotong konduktor itu.

Prinsip Kerja Generator DC

Keterangan gambar :
 Pada gambar Generator DC Sederhana dengan sebuah penghantar kutub
tersebut, dengan memutar rotor ( penghantar ) maka pada penghantar akan timbul
EMF.
 Kumparan ABCD terletak dalam medan magnet sedemikian rupa sehingga sisi A-B
dan C-D terletak tegak lurus pada arah fluks magnet.
 Kumparan ABCD diputar dengan kecepatan sudut yang tetap terhadap
sumbu putarnya yang sejajar dengan sisi A-B dan C-D.
 GGL induksi yang terbentuk pada sisi A-B dan sisi C-D besarnya sesuai
dengan perubahan fluks magnet yang dipotong kumparan ABCD tiap detik sebesar :

Untuk menentukan arah arus pada setiap saat, berlaku pada kaidah tangan kanan
:
 ibu jari : gerak perputaran
 jari telunjuk : medan magnetik kutub utara dan selatan
 jari tengah : besaran galvanis tegangan U dan arus

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

IV. TEORI TAMBAHAN

Apabila kumparan-kumparan motor induksi satu fasa dialiri arus bolak-balik


satu fasa, maka pada celah udara akan dibangkitkan medan yang berputar.
Medan magnet berputar bergerak memotong lilitan rotor sehingga
menginduksikan tegangan listrik pada kumparan-kumparan tersebut. Biasanya
lilitan rotor berada dalam hubungsingkat. Akibatnya lilitan rotor akan
memngalir arus listrik yang besarnya tergantung pada besarnya tegangan
induksi dan impedansi rotor. Arus listrik yang mengalir pada rotor akan
mengakibatkan medan magnet rotor dengan kecepatan sama dengan kecepatan
medan putar stator (Ns). Interaksi medan stator dan rotor akan membangkitkan
torsi yang menggerakkan rotor berputar searah dengan arah medan putar stator.
Interaksi medan stator dan rotor juga menyebabkan terjadinya gaya gerak
listrik induksi yang disebabkan oleh kumparan-kumparan stator dan rotor.
Prinsip kerja generator (dinamo) DC sama dengan generator AC.
Namun, pada generator DC arah arus induksinya tidak berubah. Hal ini
disebabkan cincin yang digunakan pada generator DC berupa cincin belah
(komutator).
Pembangkitan tegangan induksi oleh sebuah generator diperoleh melalui dua
cara :
• Dengan menggunakan cincin-seret, menghasilkan tegangan induksi bolak-
balik.
• Dengan menggunakan komutator, menghasilkan tegangan DC.
Proses pembangkitan tegangan tegangan induksi tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2 dan Gambar 3.

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
Gambar 9. Pembangkitan Tegangan Induksi.

Jika rotor diputar dalam pengaruh medan magnet, maka akan terjadi
perpotongan medan magnet oleh lilitan kawat pada rotor. Hal ini akan
menimbulkan tegangan induksi. Tegangan induksi terbesar terjadi saat rotor
menempati posisi seperti Gambar 2 (a) dan (c). Pada posisi ini terjadi
perpotongan medan magnet secara maksimum oleh penghantar. Sedangkan
posisi jangkar pada Gambar 2.(b), akan menghasilkan tegangan induksi nol.
Hal ini karena tidak adanya perpotongan medan magnet dengan penghantar
pada jangkar atau rotor. Daerah medan ini disebut daerah netral.

Gambar 10. Tegangan Rotor yang dihasilkan melalui cincin-seret dan komutator

Jika ujung belitan rotor dihubungkan dengan slip-ring berupa dua


cincin (disebut juga dengan cincin seret), seperti ditunjukkan Gambar 3.(1),
maka dihasilkan listrik AC (arus bolak-balik) berbentuk sinusoidal. Bila
ujung belitan rotor dihubungkan dengan komutator satu cincin Gambar 3.(2)
dengan dua belahan, maka dihasilkan listrik DC dengan dua gelombang
positip.
• Rotor dari generator DC akan menghasilkan tegangan induksi bolak-balik.
Sebuah komutator berfungsi sebagai penyearah tegangan AC.
• Besarnya tegangan yang dihasilkan oleh sebuah generator DC, sebanding
dengan banyaknya putaran dan besarnya arus eksitasi (arus penguat medan).

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127

V. RANGKAIAN PERCOBAAN

220 V - AC

A
A

C
V

Gambar 5

VI. LANGKAH PRAKTIKUM

1. Siapkan sumber listrik sesuai kebutuhan praktek ( sumber arus bolak-balik dan
arus searah masing-masing 1 set )
2. Siapkan alat ukur dengan batas-ukur sesuai peralatan listrik yang akan diukur:
 Tang Ampere (1 buah)
 1 ( satu ) Tacho-meter
3. Siapkan kabel penghubung secukupnya
4. Lakukan pengawatan seperti pada gambar 1

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN
Rina Arjulina Nasution
2016–71–127
5.Masukkan sumber listrik untuk motor penggerak, pastikan posisi pengatur
tegangan adalah “ nol “
6. Naikkan tegangan secara bertahap sampai putaran motor mencapai nominalnya.
7. Masukkan sumber listrik untuk penguatan ( excitasi ) dan pastikan posisi pengatur
tegangan adalah “ nol “ dan naikkan tegangannya secara bertahap sampai
menunjukkan arus excitasi mulai dari 10 % sampai dengan 100 % dan amati
penunjukan :
 Volt meter tegangan motor penggerak
 Amper meter motor penggerak
 Amper meter arus excitasi
 Perubahan nilai tegangan keluaran
 Putaran generator pada setiap perubahan nilai arus penguatan
 Catat hasil pengamatan tersebut.
8. Turunkan tegangan sumber listrik untuk excitasi sampai mencapai nilai “nol” dan
matikan sumber listriknya.
9. Turunkan tegangan sumber listrik untuk pengatur putaran motor sampai mencapai
nilai “nol” dan matikan sumber listriknya.
10. Analisa hasil percobaan ini

VII. TABEL PENGAMATAN

No % Motor Tegangan Keluaran Generator


Arus Penggerak Putaran
excitasi generator
V I
V V V V V V
R-N S-N T-N R-S S-T T-R
1 0
2 10
3 20
4 30
5 40

Bengkel DIII Teknik Elektro


STT-PLN