Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

SECTIO CAESAREA a.i. FETAL DISTRESS

Oleh

NANDA PRIATNA
1401460003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

SECTIO CAESAREA (SC)

A. DEFINISI

 Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu
insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan
utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009)
 Sectio Caesarea ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas 500
gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi & Wiknjosastro, 2006)
 Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding
perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2002)

B. JENIS – JENIS

1. Sectio cesaria transperitonealis profunda

Sectio cesaria transperitonealis propunda dengan insisi di segmen bawah uterus. insisi pada
bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau memanjang. Keunggulan pembedahan ini
adalah:

a. Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak.


b. Bahaya peritonitis tidak besar.
c. Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar
karena pada nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi
seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.

2. Sectio cesaria klasik atau section cecaria korporal

Pada cectio cacaria klasik ini di buat kepada korpus uteri, pembedahan ini yang agak mudah
dilakukan,hanya di selenggarakan apabila ada halangan untuk melakukan section cacaria
transperitonealis profunda. Insisi memanjang pada segmen atas uterus.

3. Sectio cesaria ekstra peritoneal

Section cacaria eksrta peritoneal dahulu di lakukan untuk mengurangi bahaya injeksi perporal
akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap injeksi pembedahan ini sekarang tidak banyak
lagi di lakukan. Rongga peritoneum tak dibuka, dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.

4. Section cesaria Hysteroctomi

Setelah sectio cesaria, dilakukan hysteroktomy dengan indikasi:

 Atonia uteri
 Plasenta accrete
 Myoma uteri
 Infeksi intra uteri berat

C. ETIOLOGI

Manuaba (2002) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres
dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan
beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )

Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan
ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami.
Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul
yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk
panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan
dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis
tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang
panggul menjadi abnormal.

2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)

Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh
kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan
eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu
kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati
agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.

3. KPD (Ketuban Pecah Dini)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu
satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37
minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.

4. Bayi Kembar

Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar
memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi
kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan
secara normal.

5. Faktor Hambatan Jalan Lahir

Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya
pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit
bernafas.

6. Kelainan Letak Janin

a. Kelainan pada letak kepala

1) Letak kepala tengadah

2) Presentasi muka

3) Presentasi dahi

b. Letak Sungsang

Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus
uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang,
yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak
sempurna dan presentasi kaki (Saifuddin, 2002).
D. PATOFISIOLOGI
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Elektroensefalogram ( EEG ), untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT, untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti Resonance Imaging (MRI), menghasilkan bayangan dengan menggunakan
lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah
otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT.
4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ), untuk mengevaluasi kejang yang
membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann
darah dalam otak.
5. Uji laboratorium
a. Fungsi lumbal untuk menganalisis cairan serebrovaskuler
b. Hitung darah lengkap untuk mengevaluasi trombosit dan hematokrit
c. Panel elektrolit
d. Skrining toksik dari serum dan urin
e. AGD
f. Kadar kalsium darah
g. Kadar natrium darah
h. Kadar magnesium darah

F. KOMPLIKASI

Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :

1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas dibagi menjadi:

a. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari


b. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
c. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabang-cabang arteri
uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.

3. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing, embolisme paru yang
sangat jarang terjadi.

G. PENATALAKSANAAN

1. Perawatan awal

 Letakan pasien dalam posisi pemulihan


 Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama, kemudian tiap
30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit sampai sadar
 Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
 Transfusi jika diperlukan
 Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi, segera kembalikan ke
kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah

2. Diet

Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah
pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit
sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi

Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :

 Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
 Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin
setelah sadar
 Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk
bernafas dalam lalu menghembuskannya.
 Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
 Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama
sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5
pasca operasi.

4. Fungsi gastrointestinal

 Jika tindakan tidak berat beri pasien diit cair


 Jika ada tanda infeksi , tunggu bising usus timbul
 Jika pasien bisa flatus mulai berikan makanan padat
 Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum dengan baik

5. Perawatan fungsi kandung kemih

 Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah semalam
 Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih
 Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang sampai minimum 7
hari atau urin jernih.
 Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100 mg per oral per hari
sampai kateter dilepas
 Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita,
menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang
24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.

6. Pembalutan dan perawatan luka

 Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak jangan
mengganti pembalut
 Jika pembalut agak kendor , jangan ganti pembalut, tapi beri plester untuk
mengencangkan
 Ganti pembalut dengan cara steril
 Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih
 Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen, angkat jahitan kulit dilakukan pada
hari kelima pasca SC

7. Jika masih terdapat perdarahan

 Lakukan masase uterus


 Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau RL) 60 tetes/menit,
ergometrin 0,2 mg I.M. dan prostaglandin
8. Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama
48 jam :

 Ampisilin 2 g I.V. setiap 6 jam


 Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. setiap 8 jam
 Ditambah metronidazol 500 mg I.V. setiap 8 jam

9. Analgesik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan

 Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting


 Supositoria = ketopropen sup 2x/ 24 jam
 Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu

10. Obat-obatan lain

Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti
neurobian I vit. C

11. Hal – Hal lain yang perlu diperhatikan

 Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa


perdarahan dan hematoma pada daerah operasi
 Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma.
 Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar
diding abdomen tidak tegang.
 Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
 Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadiny infeksi
 Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang berat.
 Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat menaikkan tekanan
intra abdomen
 Pengkajian difokuskan pada kelancaran saluran nafas, karena bila terjadi obstruksi
kemungkinan terjadi gangguan ventilasi yang mungkin disebab-kan karena pengaruh
obat-obatan, anestetik, narkotik dan karena tekanan diafragma. Selain itu juga penting
untuk mempertahankan sirkulasi dengan mewaspadai terjadinya hipotensi dan aritmia
kardiak. Oleh karena itu perlu memantau TTV setiap 10-15 menit dan kesadaran selama
2 jam dan 4 jam sekali.
 Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik berupa nyeri dan kenya-manan
psikologis juga perlu dikaji sehingga perlu adanya orientasi dan bimbingan kegi-atan post
op seperti ambulasi dan nafas dalam untuk mempercepat hilangnya pengaruh anestesi.
 Perawatan pasca operasi, Jadwal pemeriksaan ulang tekanan darah, frekuensi nadi dan
nafas. Jadwal pengukuran jumlah produksi urin Berikan infus dengan jelas, singkat dan
terinci bila dijumpai adanya penyimpangan
 Penatalaksanaan medis, Cairan IV sesuai indikasi. Anestesia; regional atau general
Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesarea. Tes laboratorium/diagnostik
sesuai indikasi. Pemberian oksitosin sesuai indikasi. Tanda vital per protokol ruangan
pemulihan, Persiapan kulit pembedahan abdomen, Persetujuan
ditandatangani. Pemasangan kateter fole
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pada pengkajian klien dengan sectio caesarea, data yang dapat ditemukan meliputi distress janin,
kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan
plasenta previa.

a. Identitas atau biodata klien

Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan,
pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register , dan diagnosa keperawatan.

b. Keluhan utama

c. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan dahulu:

Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis,
penyakit kelamin atau abortus.

2) Riwayat kesehatan sekarang :

Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar pervaginan secara
sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan.

3) Riwayat kesehatan keluarga:

Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin,
abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien.

d. Pola-pola fungsi kesehatan

1) pola persepsi dan tata leksana hidup sehat

karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara pencegahan,
penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan
masalah dalam perawatan dirinya

2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk
menyusui bayinya.

3) Pola aktifitas

Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktifitas
ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan
aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.

4) Pola eleminasi

Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing selama masa nifas
yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra
sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.

5) Istirahat dan tidur


Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang
bayi dan nyeri epis setelah persalinan

6) Pola hubungan dan peran

Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain.

7) Pola penaggulangan stress

Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas

8) Pola sensori dan kognitif

Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri perut akibat
involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat
bayinya

9) Pola persepsi dan konsep diri

Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang persalinan


dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri

10) Pola reproduksi dan sosial

Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang
tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.

e. Pemeriksaan fisik

1) Kepala

Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya cloasma


gravidarum, dan apakah ada benjolan

2) Leher

Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya proses menerang
yang salah

3) Mata

Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-kadang keadaan
selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera
kunuing

4) Telinga

Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah cairan yang
keluar dari telinga.

5) Hidung

Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan
cuping hidung
6) Dada

Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola mamae dan papila
mamae

7) Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari
dibawa pusat.

8) Genitalia

Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat pengeluaran mekomium
yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.

9) Anus

Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur

10) Ekstermitas

Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus, karenan


preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.

11) Tanda-tanda vital

Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat, pernafasan
meningkat, suhu tubuh turun.

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Diagnosa yang mungkin muncul:

1. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir.


2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar dengan sumber
informasi tentang cara perawatan bayi.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin
4. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO DIANGOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)


KEPERAWATAN
1 Nyeri akut b.d agen injuri Setelah dilakukan Pain Management
fisik (luka insisi operasi) asuhan keperawatan § Lakukan pengkajian nyeri secara
selama 3x24 jam komprehensif termasuk lokasi,
diharapkan nteri berkurang karakteristik, durasi, frekuensi,
dengan indicator: kualitas dan faktor presipitasi
v Pain Level, § Evaluasi pengalaman nyeri masa
v Pain control, lampau
v Comfort level § Evaluasi bersama pasien dan tim
§ Mampu mengontrol kesehatan lain tentang ketidakefektifan
nyeri (tahu penyebab kontrol nyeri masa lampau
nyeri, mampu § Kontrol lingkungan yang dapat
menggunakan tehnik mempengaruhi nyeri seperti suhu
nonfarmakologi untuk ruangan, pencahayaan dan kebisingan
mengurangi nyeri, mencari § Pilih dan lakukan penanganan nyeri
bantuan) (farmakologi, non farmakologi dan
§ Melaporkan bahwa inter personal)
nyeri berkurang dengan § Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menggunakan manajemen menentukan intervensi
nyeri § Ajarkan tentang teknik non
§ Mampu mengenali farmakologi
nyeri (skala, intensitas, § Berikan analgetik untuk mengurangi
frekuensi dan tanda nyeri) nyeri
§ Menyatakan rasa § Tingkatkan istirahat
nyaman setelah nyeri § Kolaborasikan dengan dokter jika
berkurang ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
§ Tanda vital dalam berhasil
rentang normal Analgesic Administration
§ Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
§ Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
§ Cek riwayat alergi
§ Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
§ Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama
kali
§ Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
2 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan Teaching : Disease Process
tentang perawatan ibu keperawatan selama 3x24 § Berikan penilaian tentang tingkat
nifas dan perawatan post jam diharapkan pengetahuan pasien tentang proses
operasi berhubungan pengetahuan klien penyakit yang spesifik
dengan kurangnya sumber meningkat dengan § Jelaskan patofisiologi dari penyakit
informasi indicator: dan bagaimana hal ini berhubungan
v Kowlwdge : disease dengan anatomi dan fisiologi, dengan
process cara yang tepat.
v Kowledge : health § Diskusikan perubahan gaya hidup
Behavior yang mungkin diperlukan untuk
§ Pasien dan keluarga mencegah komplikasi di masa yang
menyatakan pemahaman akan datang dan atau proses
tentang penyakit, kondisi, pengontrolan penyakit
prognosis dan program § Diskusikan pilihan terapi atau
pengobatan penanganan
§ Pasien dan keluarga § Dukung pasien untuk
mampu melaksanakan mengeksplorasi atau mendapatkan
prosedur yang dijelaskan second opinion dengan cara yang tepat
secara benar atau diindikasikan
§ Pasien dan keluarga § Eksplorasi kemungkinan sumber
mampu menjelaskan atau dukungan, dengan cara yang tepat
kembali apa yang § Rujuk pasien pada grup atau agensi
dijelaskan perawat/tim di komunitas lokal, dengan cara yang
kesehatan lainnya. tepat
§ Instruksikan pasien mengenai tanda
dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
3 Defisit perawatan diri Setelah dilakukan asuhan Self Care assistane : ADLs
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 § Monitor kemempuan klien untuk
kelelahan. jam ADLs klien perawatan diri yang mandiri.
meningkat dengan § Monitor kebutuhan klien untuk alat-
indicator: alat bantu untuk kebersihan diri,
v Self care : Activity of berpakaian, berhias, toileting dan
Daily Living (ADLs) makan.
§ Klien terbebas dari bau § Sediakan bantuan sampai klien
badan mampu secara utuh untuk melakukan
§ Menyatakan self-care.
kenyamanan terhadap § Dorong klien untuk melakukan
kemampuan untuk aktivitas sehari-hari yang normal
melakukan ADLs sesuai kemampuan yang dimiliki.
§ Dapat melakukan § Dorong untuk melakukan secara
ADLS dengan bantuan mandiri, tapi beri bantuan ketika klien
tidak mampu melakukannya.
§ Ajarkan klien/ keluarga untuk
mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika pasien
tidak mampu untuk melakukannya.
§ Berikan aktivitas rutin sehari- hari
sesuai kemampuan.
§ Pertimbangkan usia klien jika
mendorong pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.
4 Risiko infeksi Setelah dilakuakan asuhan Infection Control (Kontrol infeksi)
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 § Bersihkan lingkungan setelah
tindakan invasif, paparan jam diharapkan resiko dipakai pasien lain
lingkungan patogen infeksi terkontrol dengan § Pertahankan teknik isolasi
indicator: § Batasi pengunjung bila perlu
v Immune Status § Instruksikan pada pengunjung untuk
v Knowledge : Infection mencuci tangan saat berkunjung dan
control setelah berkunjung meninggalkan
v Risk control pasien
§ Klien bebas dari tanda § Gunakan sabun antimikrobia untuk
dan gejala infeksi cuci tangan
§ Mendeskripsikan proses § Cuci tangan setiap sebelum dan
penularan penyakit, factor sesudah tindakan kperawtan
yang mempengaruhi § Gunakan baju, sarung tangan
penularan serta sebagai alat pelindung
penatalaksanaannya, § Pertahankan lingkungan aseptik
§ Menunjukkan selama pemasangan alat
kemampuan untuk § Ganti letak IV perifer dan line
mencegah timbulnya central dan dressing sesuai dengan
infeksi petunjuk umum
§ Jumlah leukosit dalam § Gunakan kateter intermiten untuk
batas normal menurunkan infeksi kandung kencing
§ Menunjukkan perilaku § Tingktkan intake nutrisi
hidup sehat § Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (Proteksi
Terhadap Infeksi)
§ Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
§ Monitor hitung granulosit, WBC
§ Monitor kerentanan terhadap infeksi
§ Batasi pengunjung
§ Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
LAPORAN PENDAHULUAN
TEKNIK INSTRUMENTASI SECTIO CAESAREA

A. Definisi
Sectio Cesarea adalah tindakan pembedahan untuk mengeluarkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2002).
Sectio Cesarea adalah suatu tindakan persalinan dimana janin dikeluarkan melalui suatu
insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas
500 gram (Sarwono, 2000).

B. Indikasi Seksio Cesaria


1. Klien dengan kehamilan post date.
2. Klien dengan panggul sempit.
3. Klien dengan pre eklampsia.
4. Klien dengan plasenta previa totalis.
5. Klien dengan kehamilan primitua.
6. Klien dengn arrest dilatation.
7. Power: kontraksi uterus dan kemampuan ibu meneran.
8. Passanger: keadaan janin.
9. Passage: keadaan panggul.

C. Tujuan
1. Mengatur secara sistematis alat-alat di meja instrument.
2. Memperlancar handling instrument.
3. Mempertahankan kesterilan alat-alat instrument selama opersi.

D. Persiapan Lingkungan
1. Mengatur dan mengecek fungsi couter, mesin suction, lampu operasi, meja operasi, meja
mayo dan suhu ruangan.
2. Memasang perlak dan doek pada meja operasi, sarung meja mayo, mempersiapkan linen
steril dan instrument yang akan digunakan.
3. Menempatkan tempat sampah pada tempat yang sesuai sehingga mudah digunakan.

E. Persiapan Pasien
1. Pasien dipersiapkan dalam kondisi bersih dan mengenakan pakaian khusus masuk kamar
operasi.
2. Pasien dan keluarga telah memberika informed consent.
3. Mengatur posisi supine (terlentang) di meja operasi.
4. Melepas perhiasan dan gigi palsu.

F. Persiapan Alat
Alat Steril
a) Set dasar
No. Nama Instrument Jumlah

1 Washing dan dressing forcep ( desinfeksi klem) 1


2 Duk klem (towel clamps) 5
3 Dissecting forcep (klem chirrugies) 2
4 Tissue forcep (pinset anatomis) 2
5 Klem pean sedang/besar 2/2
6 Klem kocker lurus 2
7 Scalp blade & handle (hand vat mess) no. 4 1
8 Gunting metzenboum 1
9 Gunting jaringan kasar 1
10 Gunting benang 1
11 Nald voeder 2
12 Langen back 1

b) Instrument tambahan
No. Nama Instrumen Jumlah
1 Ring klem 2
2 Peritoneum klem 4
3 Haak SC 1
4 Ring klem 4

c) Instrumen penunjang
1. Instrument penunjang steril
No. Nama Instrumen Jumlah
1 Kabel couter / selang suction 1/1
2 Waskom besar 1
3 Kom besar / kecil 1/1

2. Instrument penunjang ON steril


No. Nama Instrumen Jumlah
1 Electro Surgical Unit (ESU) 1
2 Plate diatermi 1
3 Mesin anestesi 1
4 Mesin suction 1
5 Meja operasi 1
6 Meja instrument/meja mayo 1/1
7 Lampu operasi 1
8 Tempat sampah 1
9 Troli tempat baskom 1
10 Tiang infus 1
11 Infant warmer 1
12 Suction bayi 1
13 02 bayi 1

d) Set linen
No. Nama Instrumen Jumlah
1 Glown/baju 6
2 Duk besar 4
3 Duk sedang 4
4 Duk kecil 4
5 Sarung meja mayo 1
6 Handuk 6

e) Bahan habis pakai


No. Nama Instrumen Jumlah
1 Upad steril / on steril 3/1
2 Handscoon 6,5/7/7,5/8 (sesuai kebutuhan) 4/4/4/2
3 Mess no. 22 1
4 Spuit 10 cc 1
5 Aquadest steril 1 liter
6 Catheter no. 16 1
7 Urobag 1
8 Kassa besar (big kassa) 5 buah
9 Kassa sedang 20 buah
10 Deepers 5 buah
11 Alkohol 70% Secukupnya
12 Povidone iodine 10% Secukupnya
13 Hypafix Secukupnya
14 T-Plain 2-0/1 1/1
15 T-Vio 1 1
16 T-Cromic no 1/ T-Mono 3.0 1/1
17 EMP / Connection suction 1
18 Handtowel 1
19 Sofratul 1
20 Aquagell 1
G. Instrumentasi Teknik
1. Pasien datang, cek kelengkapan pasien, timbang terima dengan petugas premedikasi.
2. Menulis Identitas pasien di buku register dan buku kegiatan.
3. Bantu memindahkan pasien ke meja operasi yang sudah dialasi.
4. Atur posisi pasien/ pasien diposisikan terlentang (supine).
5. Lakukan Sign In
6. Dokter anestesi melakukan anestesi
7. Pasang chateter no. 16 cabang 2 dan pasang urobag fiksasi dengan aquadest 10cc.
8. Pasang plat diatermi dibawah pada paha kanan pasien.
9. Perawat sirkuler mencuci area operasi dengan cairan hibiscrub, lalu keringkan dengan duk
kecil.
10. Perawat instrumen melakukan cuci, memakai gaun operasi danmemakai sarung tangan steril.
11. Perawat instrumen membantu memakaikan gaun operasi dan sarung tangan steril kepada tim
operasi.
12. Antisepsis area operasi dengan povidone iodine 10 % dalam cucing yang berisi deppers
dengan mengguanakan desinfeksi klem oleh asisten operator dan melakukan drapping.
Melakukan drapping:
 Pasang U-pad di atas simfisis pubis.
 Pasang duk sedang (2) untukmenutupi bagian bawah dan atas.
 Pasang duk besar (2) untuk samping kanan dan kiri, fiksasi dengan doek klem (4).
 Pasang duk kecil (1) diatas simfisis pubis.
13. Dekatkan meja mayo dan meja instrument ke dekat area operasi, pasang kabel couter dan
slang suction, ikat dengan kassa lalu fiksasi dengan duk klem. Pasang canule suction, cek
fungsi kelayakan couter dan suction, kemudian lakukan Time Out.
14. Sebelum memulai operasi, operator memimpin doa terlebih dahulu.
15. Memberikan pinset chirurgis (1) kepada operator dan asisten untuk menandai daerah insisi.
16. Berikan handvat mess no.4 dalam bengkok dan pinset chirrugi pada operator untuk insisi
kulit.
17. Berikan pinset chirrugi dan kassa kering pada asisten untuk rawat perdarahan dengan couter
dan disuction.
18. Berikan mess no. 22 pada operator untuk membuka fasia.
19. Berikan gunting kasar dan pinset chirrugi pada operator untuk memperlebar fasia.
20. Fasia diperlebar hingga tampak musculus rectus abdominalis, otot displit / dibuka secara
tumpul dengan mengguanakan tangan ditarik kesamping kanan dan kiri sampai keliatan
peritoneum lalu berikan timan.
21. Berikan double pinset anatomis pada operator dan asisten dan gunting metzemboum pada
operator untuk membuka peritoneum kemudian diperlebar mengikuti garis insisi kulit
dengan menggunakan gunting metzemboum.
22. Rongga abdomen terbuka.
23. Pasang Haak SC.
24. Lakukan bladder flap (bila perlu).
25. Insisi pada SBR (kurang lebih 1 cm pada plica vesica urinaria) dengan mess 22.
26. Lakukan suction.
27. Insisi diperlebar secara tumpul dengan tangan operator.
28. Tampak lapisan amonion menonjol, berikan kocker pada operator untuk melakukan
omniotomy, kemudian lakukan suction.
29. Insisi diperlebar ke lateral secara tumpul dengan jari operator.
30. Tangan kiri operator meluksir kepala bayi.
31. Tangan kanan membuka jalan lahir.
32. Asisten mendorong fundus uteri.
33. Minta anestesi untuk injeksi oxcitosyn.
34. Kepala lahir, operator melahirkan bahu depan kemudian ditarik kemudian lahirkan badan
bayi.
35. Resusitasi bayi dengan dilap kassa basah.
36. Kemudian lahirkan bayi.
37. Berikan suction untuk mrnyedot perdarahan.
38. Berikan 2 klem dan gunting untuk memotong tali pusat bayi diserahkan kepada petugas
perinatologi.
39. Berikan bengkok untuk tempat plasenta.
40. Berikan 2 ring klem memegang insisi segmen bawah rahim.
41. Berikan deppers membersihkan uterus dari sisa-sisa plasenta.
42. Berikan hacting set dengan benang cromic no 2 untuk menjahit sudut uterus.
43. Berikan hacting set dengan benang monosyn 1 untik menjahit endometrium dan sebagian
myometri.
44. Berikan hacting set dengan benang croomic 2 untuk mrnjahit retroperitoneum.
45. Berikan mikulitz 4 buah untuk menjepit peritoneum.
46. (Evaluasi perdarahan), jika masih terjadi perdarahan perawat menyiapkan jahitan.
47. Menghitung dan mengeluarkan kassa besar dan instrument.
48. Berikan cairan NaCl 0,9% (bila perlu) untuk mencuci intra abdomen.
49. Lakukan Sign Out.
50. Melakukan penutupan luka operasi lapis demi lapis. Berikan nald voeder dan pinset anatomi
dengan benang plain mo 1 dan jarum round sedang pada operator untuk menutup
peritoneum, kemudian dilanjut dengan otot, berikan klem bengkok dan gunting benang pada
asisten.
51. Berikan kocker 2 pada operator untuk menjepit ujung kanan dan kiri fasia dan jahir dengan
benang safil 1 dilanjutkan dengan jahit lemak dengan benang plain 2-0 jarum round.
kemudian tutup kulit dengan monosyn 3-0 dijahit subkutikuler.
52. Setelah selesai dijahit bersihkan luka dengan kassa basah dan keringkan dengan kassa
kering, kemudian berikan sufratule dan tutup dengan hypafix.
53. Operasi selesai, bereskan semua alat instrument, selang suction, dan kabel couter dilepas.
54. Bersihkan bagian tubuh pasien dari bekas betadine yang masih menempel dengan
menggunakan handtowel dan keringkan.
55. Pindahkan pasien ke brankart dan dorong ke ruang recovery dengan petugas anaesthesi.
56. Semua instrument didekontaminasi, dicuci, dibersihkan dan dikeringkan, kemudian
diinventaris dan di set kembali, dibungkus dengan kain siap disterilkan.
57. Inventaris bahan habis pakai (mengisi depo alkes).
58. Bersihkan ruangan dan lingkungan kamar operasi, rapikan dan kembalikan alat-alat yang
dipakai pada tempatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa keperawatan dan
masalah kolaboratif. Jakarta: EGC

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey:
Upper Saddle River

Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

Manuaba, Ida Bagus Gede. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana, Jakarta : EGC

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River

Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC

Caraspot. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta : mocaMedia

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika

Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta :
penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo

Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka