Anda di halaman 1dari 4

2.

Jelaskan yang saudara ketahui tentang penyerapan air dan mineral pada tumbuhan
meliputi proses dan faktor yang berpengaruh?
Pemasukan air dari tanah ke dalam sel-sel akar dengan jalan difusi osmosis dan imbibisi.
Berdasarkan hukum yang berlaku juga untuk zat cair dan sekalipun zat padat. Air berdifusi dari
suatu larutan yang encer ke suatu larutan yang lebih pekat, atau dengan kata-kata lain air berdifusi
dari daerah yang devisit-tekanan-difusinya kecil ke daerah yang defisit-tekanan-difusinya besar.
Keadaan semacam ini memang kita dapati dalam larutan tanah, pada umumnya larutan tanah
merupakan larutan yang konsentrasinya jauh lebih rendah daripada konsentrasi larutan yang ada
dalam sel-sel akar. Hasil penyelidikan menunjukan bahwa nilai osmosis sel-sel suatu tanaman itu
mengalami perubahan sesuai dengan keadaan air di dalam tanah. Pada umumnya terdapat
hubungan timbal balik semacam ini. Jika tanah cukup mengandung air maka nilai osmosis sel-sel
suatu tanaman tidak demikian tingginya daripada kalau tanah agak kekurangan air. Jadi cukup air
di dalam tanah menurunkan nilai osmosis, sedangkan kurang air menaikkan nilai osmosis sel-sel
suatu tanaman, bahkan nilai osmosis suatu sel pada siang hari itu berbeda dengan nilai osmosisnya
pada malam hari. Hal ini sesuai dengan keadaan air pada siang hari dan pada malam hari
(Salisbury. et al, 1995).
Dengan masuknya air dari tanah kedalam sel-sel akar tentulah terbawa juga ion-ion yang
terdapat di dalam tanah, karena larutan tanah memang mengandung ion-ion. Pemasukkan ion-ion
dari tanah kedalam akar itu dipengaruhi oleh suatu hal yang disebut antagonisme ion yang artinya,
bahwa pemasukka ion yang satu mempengaruhi, bahkan kadang-kadang menetang pemasukkan-
pemasukkan ion jenis lain. Sebagai misal ion-ion Ca²+ meniadakan ion-ion Na+ terhadap kegiatan
masuk keluarnya zat tertentu. Konsentrasi ion-ion Na+ yang agak tinggi menghambat peresapan
ion-ion K+ atau ion-ion Ca²+.
Adanya suatu kenyataan baha kation-kation sangan mempengaruhi permeabilitas sel. Hal ini
menimbulkan persangkaan, bahwa pada sel ada bagian-bagian tertentu (mungkin sekali ektoplas)
yang mudah berubah menjadi anion; kiranya lapisan itu terdiri dari atas pospolipida, sebab zat ini
mudah benar mengalami disosiasi dan sebagai hasil disosiasi ini timbullah anion-anion organik
(Salisbury. et al, 1995).
Penyerapan air dapat diserap melalui akar tetapi ada pula tumbuhan yang mampu menyerap air
lewat daun dan batang. Penyerapan air oleh akar akan dilakukan terutama oleh bulu akar yang
selalu terendam di tanah. Air bedifusi masuk ke bulu akar, pada dinding sel masuk ruang bebas,
melewati membran plasma secara osmosis dan kembali bedifusi memasuki plasma. Organela
dibatasi oleh membran yang diferensial permeabel, maka transport air diantaranya harus
menggunakan mekanisme osmosis. Sel akar dapat menyerap air bila mempunyai potensial air yang
negatif lebih besar daripada larutan tanah. Dalam hal ini akar dapat melakukan penyerapan pasif
dengan menyetimbangkan tenaga potensial air, potensial osmotik (tekanan osmotik), tekanan
turgor dan tekanan dinding sel. Air bergerak ke dalam tumbuhan melalui rambut akar, yang
merupakan tonjolan berupa rambut dari sel epidermis, dan melalui epidermis akar muda.
Mekanisme yang beroperan bagi gerakan air tanah kedalam akar belum dipahami sepenuhnya.
Pada saat ini diduga bahawa air diabsorpsi melalui dua mekanisme yang berbeda, yaitu Absorbsi
Aktif dan Absorbsi Pasif (Salisbury. et al, 1995)
a. Absorbsi Aktif
Absorbsi aktif harus dibedakan dari transport aktif seyawa-senyawa yang terlarut melalui
membran. Absorpsi aktif terjadi bilamana kelembaban tanah itu tinggi dan tumbuhan
melangsungkan transpirasi yang rendah. Dalam kondisi ini, absorbsi air dinyatakan terutama
akibat osmosis, walaupun mekanisme lain mungkin ikut terlibat. Gerakan air kedalam tergantung
pada konsentrasi solut yang lebih tinggi di dalam pembuluh xilem yang mati dibandingkan dengan
yang ada dalam larutan tanah. Gerakan tersebut dikenal sebagai absorbsi aktif karena bergantung
pada kandungan solut dan ketetapan (permeabilitas) sel-sel akar hidup.
b. Absorbsi Pasif
Bila gerakan air ke dalam tumbuhan yang mempunyai laju transpirasi yang tinggi,
menyangkut perbedaan tekanan di dalam dan di luar tumbuhan, maka kondisi ini dinamakan
absorbsi pasif karena gaya penyebabnya timbul pada puncak tumbuhan bukan dalam akar.
Absorbsi pasif bergantung pada tarikan transpirasi. Ditinjau dari volume air yang diabsorbsi,
absorbsi pasif jauh lebih penting daripada absorbsi aktif, dan boleh jadi mencakup sekitar 98 %
dari jumlah gerakan air ke dalam akar. Bila tumbuhan mengalami tanspirasi yang tinggi,
pengambilan air berlangsung melalui absorbsi pasif. Pada konsisi tersebut, absorbsi aktif tidak
berfungsi karena gerakan air yang cepat melalui akar akan menghanyutkan solut yang menentukan
dalam absorbsi aktif.
Selain penyerapan air oleh akar, tumbuhan melakukan penyerapan air melalui daun dan
batang meskipun jarang terjadi. Penyerapan air oleh daun pada tumbuhan dipengaruhi oleh:

1. Struktur dan permeabilitas epidermis dan kutikula.


2. Ada tidaknya trikoma di permukaan daun.
3. Mudah tidaknya permukaan daun itu dibasahi
4. Defisiensi air di dalam sel-sel parenkim daun.
Faktor-Faktor yang memperngaruhi penyerapan air pada tumbuhandipengaruhi oleh factor
luar dan factor dalam yaitu :
a. Faktor dalam (disebut juga faktor tumbuhan) yaitu:
1. Kecepatan Transpirasi
Penyerapan air hampir setara dengan transpirasi (penguapan lewat daun) bila penyediaan air tanah
cukup. Hal itu terjadi karena adanya transpirasi menyebabkan terbentuknya daya isap daun sebagai
akibat kohesi yang diteruskan lewat sistem hidrostatik pada xilem. Kecepatan transpirasi antara
lain ditentukan oleh banyaknya stomata dan keaadan permukaan daun.
2. Sistem Perakaran
Berbagai tumbuhan menunjukan perakaran yang berbeda, baik pada pertumbuhan maupun
kemampuannya menembus tanah. Karena penyerapan terutama berlangsung di bulu akar yang
terutama terjadi akibat percabangan akar, menentukan penyerapan. Tumbuhan yang mempunyai
akar dengan percabangan banyak tetapi hanya meliputi daerah perakaran yang sempit disebut
mempunyai perakaran intensif. Sebaliknya yang akarnya sedikit tetapi tumbuh memanjang dan
masuk jauh kedalam tanah disebut perakaran ekstensif.
3. Pertumbuan Pucuk
Bila bagian pucuk tumbuh baik, akan memerlukan banyak air menyebabkan daya serap
bertambah.
4. Metabolisme
Karena penyerapan memerlukan tenaga metabolisme, maka kecepatan metabolisme terutama
respirasi akan menentukan besarnya penyerapan. Metabolisme yang baik juga memungkinkan
pertumbuhan akar yang lebih baik, sehingga semakin banyak cabang akar / bulu akar yang
terbentuk.

b. Faktor luar yaitu:


1. Ketersediaan air tanah
Tumbuhan dapat menyerap air tanah bila kandungan air tanah terletak antara kapasitas lapang dan
titik layu tetap. Bila air berada pada keadaan diatas kapaistas lapang, penyerapan akan terhambat
karena akar berada dalam lingkungan anaerob.

2. Konsentrasi / potensial osmotik air tanah


Karena kedalam air tanah terlarut berbagai ion dan molekul maka potensial osmotiknya kan
berubah bila yang larut berkurang atau bertambah. Bila ion atau molekul yang larut terlalu banyak
sehingga potensial osmotiknya terlalu tinggi, sel tidak akan mampu menyerap, atau kalau mampu
perlu menggunakan energi lebih besar. Tumbuhan halofit mampu menyerap air dari larutan dengan
potensial osmotik yang lebih besar dari tumbuhan msofit.
3. Temperatur tanah
Temperatur tanah berpengaruh terhadap penyerapan melalu berbagai cara, yaitu bila temperatur
rendah, air menjadi lebih kental sehingga lebih sukar bergerak, permeabilitas plasma berkurang
dan pertumbuhan akar terhambat.
4. Aerasi
Aerasi yang tidak baik menghambat metabolisme dan pertumbuhan akar. Kurangnya oksigen akan
menghambat respirasi aerob sehingga energi untuk penyerapan berkurang. Bila respirasi anaerob
terjadi, hasil akhir berupa alkohol yang dapat melarutkan lipoprotein membran plasma sehingga
akar busuk. Aerasi yang jelek juga menyebabkan kadar CO2 naik dan permeabilitas akar terhadap
air berkurang.