Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PERMASALAHAN KOTA TERPADU MANDIRI LAMUNTI KABUPATEN KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Mizan Yurda, Lilis Sri Mulyawati Mahasiswa Program Studi PWK Fakultas Teknik Universitas Pakuan Staf Pengajar Program Studi PWK Fakultas Teknik Universitas Pakuan

Abstrak

Pembangunan transmigrasi adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah dan memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mewujudkan tujuan pembangunan transmigrasi, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2006 mengembangkan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan-kawasan transmigrasi. Kawasan KTM Lamunti merupakan salah satu kawasan transmigrasi yang dinilai cukup potensial dan merupakan usulan Bupati Kabupaten Kapuas yang akan dikembangkan menjadi Kawasan Terpadu Mandiri ( KTM ). Hal ini juga merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah. Untuk mencapai pengembangan wilayah yang berkelanjutan perlu diadakan pendekatan pembangunan di kawasan pengembangan lahan gambut yang disesuaikan dengan daya dukung dan karakteristik yang dimiliki KTM Lamunti. Tujuan dari kegiatan studi ini untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang berhubungan dengan pembangunan Kota Terpadu Mandiri Lamunti. Dimana metode penelitian yang dipakai sini adalah metode deskriptif terhadap potensi dan permasalahan kondisi eksisting yang ada di KTM Lamunti, seperti kondisi fisik, ekonomi, sarana dan utilitas. Hasil dari identifikasi potensi yang ada di KTM Lamunti seperti kondisi topografi cukup datar dan memadai untuk pembangunan kawasan transmigrasi. Untuk sarana pendidikan, peribadatan, kesehatan dan jalan secara umum sudah memadai. Sedangkan untuk permasalahan yang ada di KTM Lamunti seperti sarana kesehatan yang sudah ada pelayanannya harus lebih ditingkatkan, jaringan listrik dan kondisi utilitas yang ada belum memadai serta jaringan jalan harus lebih ditingkatkan lagi. Dari beberapa hasil analisis potensi dan permasalahan yang ada di KTM Lamunti seperti permasalahan sarana jalan harus diperbaiki agar menjadi lebih baik, sarana pendukung lainnya seperti air bersih, listrik dan telekomunikasi juga harus lebih ditingkatkan lagi.

Kata Kunci

: Transmigrasi, Kota Terpadu Mandiri

I.

PENDAHULUAN

Pembangunan transmigrasi pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan pembangunan daerah yakni sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan terutama di kawasan yang masih terisolir/ tertinggal yang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitar. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 2 tahun 1999 tentang penyelenggaraan transmigrasi yang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan transmigrasi adalah :

a. Meningkatkan kesejahteraan transmigrasi dan masyarakat sekitarnya. b. Peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah.

c. Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Mengacu kepada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009, sejak tahun 2006 telah dicanangkan pembangunan kawasan transmigrasi dengan model “Kota Terpadu Mandiri” yang merupakan revitalisasi pengembangan permukiman transmigrasi yang ada, sebagai upaya mempercepat terwujudnya pusat pertumbuhan baru atau mendukung pusat pertumbuhan yang telah ada atau yang sedang berkembang. Program Kota Terpadu Mandiri (KTM) merupakan program Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat di unit-unit permukiman transmigrasi, terutama pada Kawasan Tertinggal dengan harapan program

KTM ini dapat mengejar ketertinggalannya sehingga menjadi kawasan cepat tumbuh. Kawasan KTM Lamunti merupakan salah satu kawasan transmigrasi yang dinilai cukup potensial dan merupakan usulan Bupati Kabupaten Kapuas yang akan dikembangkan menjadi Kawasan Terpadu Mandiri ( KTM ). Hal ini juga merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah. Untuk mencapai pengembangan wilayah yang berkelanjutan perlu diadakan pendekatan pembangunan di kawasan pengembangan lahan gambut yang disesuaikan dengan daya dukung dan karakteristik yang dimiliki KTM Lamunti. Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan unit-unit permukiman transmigrasi yang ada di KTM Lamunti

diantaranya yaitu tingkat aksesibilitas ke lokasi transmigrasi yang rendah, produksi para transmigran yang tidak dapat dipasarkan, lahan transmigrasi yang marginal (tidak subur), sarana dan prasarana sosial- ekonomi kurang mendukung pengembangan usaha transmigran, serta adanya masalah sengketa kepemilikan lahan. Hal ini menyebabkan kegiatan ekonomi di lokasi transmigrasi KTM Lamunti tidak berkembang, pendapatan para transmigran tetap rendah, desa transmigrasi tidak memiliki daya tarik bagi para pemilik modal untuk mengembangkan usahanya, dan kebutuhan masyarakat masih tergantung dari luar permukiman. Berdasarkan uraian yang telah dikemukan di atas, maka permasalahan yang timbul yang terkait dengan pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lamunti dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Potensi apa sajakah yang dimiliki oleh Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lamunti untuk menunjang pembangunan KTM itu sendiri.

2. Kendala apa sajakah yang menjadi penghambat dalam pembangunan KTM Lamunti. Adapun tujuan dari kegiatan studi ini adalah untuk :

1. Mengidentifikasi potensi Kota Terpadu Mandiri (KTM Lamunti. 2. Mengidentifikasi permasalahan yang berhubungan dengan pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lamunti.

Peta Administrasi KTM Lamunti

IDENTIFIKASI POTEN SI DAN PERMASALAH AN KTM L AMUNTI TEKNIK PERENCAN AAN WIL AYAH DAN
IDENTIFIKASI POTEN SI DAN
PERMASALAH AN KTM L AMUNTI
TEKNIK PERENCAN AAN WIL AYAH DAN
KOTA UNIVERSITAS P AKUAN B OGOR 2014

II. METODE PENELITIAN

Sesuai dengan lingkup penelitian dan tujuan yang hendak dicapai, maka penelitian ini dilakukan secara deskriptif terhadap kondisi eksisting pada kondisi kawasan KTM Lamunti sesuai dengan data di lapangan. Adapun analisa yang dilakukan disini yaitu mengenai kebijakan yang ada di Kabupaten Kapuas serta potensi secara umum yang ada di Kota Terpadu Mandiri Lamunti, seperti kondisi fisik wilayah studi, kondisi sosial budaya kependudukan, kondisi perekonomian dan kondisi sarana prasarana yang ada di Kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti. Pelaksanan identifikasi potensi disini adalah melalui data sekunder yang dikumpulkan dan melalui verifikasi yang langsung dilakukan di lapangan.

III. PEMBAHASAN

1. Kebijakan

Dalam rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kapuas 2011-2013, struktur ruang di Kecamatan Mantangai (KTM Lamunti) berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yaitu sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), namun dalam rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kapuas tidak disebutkan fungsi dan peranan Pusat Pertumbuhan Kota Terpadu Mandiri Lamunti yang sedang dikembangkan di UPT Lamunti A-1 (Lamunti Permai) sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK). Disini sebaiknya Pemerintah Kabupaten Kapuas mengadopsi dan mengintegrasikan rencana struktur pusat pelayanan dalam Kota Terpadu Mandiri Lamunti ke dalam rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kapuas. Dalam artian Pusat KTM hendaknya diadopsi sebagai Pusat Pelayanan Kawasan, dimana pusat

pertumbuhan KTM Lamunti yang sedang dalam proses pembangunan fisik di lapangan harus ditingkatkan fungsi dan peranannya sebagai Pusat Pelayanan Kawasan Promosi (PPKp) dalam konteks pengembangan struktur pusat pelayanan di Kabupaten Kapuas. Dalam rencana pola ruang Kabupaten Kapuas 2011-2013, kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti sudah diakomodasikan sebagai Kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti. Namun tidak seluruh kawasan KTM Lamunti menjadi kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam UU No.26 Tahun 2007. Kawasan KTM Lamunti yang

akan menjadi Kawasan Perkotaan Baru adalah

Pusat Pertumbuhan KTM, yang terletak di sebelah barat UPT Lamunti A-1. Sementara kawasan lainnya di kawasan KTM Lamunti akan tetap menjadi kawasan pertanian dan perkebunan sesuai dengan Masterplan KTM Lamunti. Dalam penetapan kawasan strategis Kabupaten Kapuas 2011-2013, kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti meruapakan Kawasan Strategis Ekonomi. Kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti dijadikan sebagai salah satu kawasan strategis di Kabupaten Kapuas sudah sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 sebagai kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi.

2. Fisik

Kondisi Kondisi topografi di KTM Lamunti umumnya landai dengan presentase kemiringan 0-3%. Dalam SNI Perumahan juga disebutkan bahwa kemiringan 0-3% peruntukan lahan bisa digunakan untuk :

jalan raya;

parkir;

taman bermain;

perdagangan;

permukiman;

trotoar;

bidang resapan;

tangga umum dan rekreasi.

kawasan KTM Lamunti

antara 21 0 C -23 0 dan maksimal 36 0 C. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.371 mm-2.347

mm dengan hari hujan berkisar 93-153 hari. Dengan kondisi iklim yang demikian KTM Lamunti berpotensi untuk pengembangan lahan pertanian atau permukiman.

di

Kawasan

Lamunti adalah lahan

Temperatur

di

Tutupan

lahan

KTM

yang

paling

besar

perkebunan yang mencapai 29.487,37 Ha, hal ini bisa menjadi potensi yang dimungkinkan untuk dikembangkan lagi menjadi lahan yang lebih produktif. Sedang untuk status hutan sendiri KTM Lamunti berada di Areal Penggunaan Lain jadi tidak mengganggu penggunaan lahan lain seperti hutan produksi atau kawasan konservasi.

Tabel Luas dan Jenis Tutupan Lahan di Kawasan KTM Lamunti

No

Jenis Tutupan Lahan

Jumlah (Ha)

1

Perkebunan

29.487,37

2

Permukiman

1.486,49

3

Sawah

10.920,29

4

Semak/Belukar Rawa

7.786,33

5

Tubuh Air

1.140,93

 

Jumlah

50.821,41

Sumber: Review Masterplan KTM Lamunti. 2013

3. Sosial Kependudukan

Jumlahpenduduk di kawasan KTM Lamunti pada tahun 2012 mencapai 22.927 jiwa. Perbandingan jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di kawasan KTM Lamunti sebanyak 11.993 jiwa penduduk laki- laki (52,31%) dan 10.934 jiwa penduduk perempuan (47,69%). Dengan luas kawasan yang mencapai 50.821,41 Ha bisa dikatakan

bahwa tingkat kepadatan penduduknya masih jarang dan hal ini bisa menjadi potensi untuk menempatkan transmigran yang baru untuk mengisi kawasan KTM Lamunti. Selama periode 2009-2011, tingkat pertumbuhan penduduk tercatat turun dari 0,42 persen, tahun 2009 menjadi -5,64 persen tahun 2010 kemudian naik kembali pada tahun

2011 menjadi 0,96 persen. Laju pertumbuhan

penduduk ini tidak stabil terkadang menurun. Hal ini dikarenakan banyak penduduk trans yang meninggalkan lahan mereka namun pada saat ada bantuan datang dari pemerintah penduduk di KTM Lamunti meningkat lagi. Dari segi mata pencaharian kebanyakan penduduk di KTM Lamunti adalah sebagai petani dan sebagian lagi adalah buruh. Dengan banyaknya petani tersebut dimungkinkan untuk dikembangkan peningkatan hasil pertanian, apalagi luas lahan yang terbesar yang ada di KTM Lamunti adalah lahan perkebunan. Hal ini bisa menjadi potensi dalam meningkatkan kesejahteraan

petani dengan dukungan sarana dan prasarana pertanian yang memadai.

4. Kondisi Ekonomi

Dilihat dari PDRB Kabupaten Kapuas maka laju PDRB dari tahun 2005-2011 terjadi peningkatan tiap tahunnya, dimana sektor pertanian adalah penyumbang terbesar dalam PDRB Kabupaten Kapuas. Dengan demikian sektor pertanian adalah salah satu potensi yang bisa dikembangkan untuk menambah PDRB Kabupaten Kapuas.

Tabel PDRB Kapuas Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah)

No

Lapangan Usaha

 

Tahun

2009

2010

2011

1

Pertanian

2.013.932,79

2.270.314,49

2.551.920,11

2

Pertambangan

14.478,30

18.124,30

23.380,77

3

Industri Pengolahan

250.303,96

267.320,59

285.881,62

 

Listrik dan Air

     

4

Bersih

14.970,98

15.787,18

17.520,00

5

Banguan/Konstruksi

412.139,59

482.811,12

1.008.340,69

6

Perdagangan, Hotel,

791.913,30

894.412,12

1.008.340,69

dan Restoran

7

Pengangkutan dan

162.028,44

183.287,59

206.913,52

Telekomunikasi

8

Keuangan dan Jasa

218.870,35

267.908,06

321.257,33

Perusahaan

9

Jasa-jasa

466.551,19

536.344,86

604.722,98

 

Total/PDRB

4.345.188,89

4.936.310,95

5.588.994,47

Sumber: Review Masterplan KTM Lamunti. 2013

5. Kondisi Sarana dan Prasarana

Sarana prasarana pendidikan di kawasan KTM sudah dapat dikatakan lengkap, dimana sudah tersedia untuk semua jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian (SMK Pertanian). Secara fisik bangunan keseluruhan sudah cukup baik, akan tetapi masih terdapat di beberapa desa yang fasilitas pendidikannya kurang terawat dengan baik sehingga terkesan kumuh.Sarana dan prasarana tersebut terletak hampir di seluruh kawasan yang ada di KTM Lamunti dan sudah memenuhi standar pelayanan minimum.

di KTM Lamunti dan sudah memenuhi standar pelayanan minimum. Sarana kesehatan yang tersedia di kawasan KTM
di KTM Lamunti dan sudah memenuhi standar pelayanan minimum. Sarana kesehatan yang tersedia di kawasan KTM

Sarana kesehatan yang tersedia di kawasan KTM Lamunti terdiri dari beberapa sarana kesehatan seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Praktek Dokter Umum, Praktek Bidan, Poskesdes, Polindes dan Posyandu. Dengan fasiltas yang demikian sudah bisa dikatakan sebagai potensi untuk meningkatan kesehatan masyarakat yang ada di kawasan KTM Lamunti. Namun Permasalahan dari sarana kesehatan yang ada di KTM Lamunti adalah tidak tersedianya tenaga kesehatan di lokasi kawasan itu sendiri yang akibat dari itu semua sarana kesehatan yang tersedia saat ini tidak berjalan dengan maksimal dan tidak beroperasi karena kurangnya tenaga ahli kesehatan. Tidak sedikit puskesmas atau posyandu yang tidak beroperasi setiap hari, sehingga masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan harus menunggu sampai waktu-waktu tertentu atau harus mendatangai puskesmas yang terletak di desa lain yang jaraknya cukup jauh.

Tabel JumlahKetersediaan Sarana Kesehatan di Kawasan KTM Lamunti

     

Sarana Kesehatan (Unit)

 

No

Kecamatan

   

Praktek

Praktek

Pos

 

Pos

Puskesmas

Pustu

Dokter

Bidan

Kesdes

Polindes

Yandu

1

Mantangai

2

4

2

4

5

5

20

2

Kapuas Murung

-

1

-

1

1

-

2

3

Kapuas Barat

-

2

-

-

-

-

3

4

Dadahup

-

4

-

1

-

-

4

 

Jumlah Total

2

11

2

6

6

5

29

Sumber: Review Masterplan KTM Lamunti. 2013

Di kawasan KTM ini sudah terdapat musholla, masjid, gereja maupun pura untuk menunjang kegiatan peribadatan masyarakat setempat. Bahkan untuk masjid sendiri, hampir disetiap desa sudah tersedia dan ditunjang pula oleh beberapa musholla. Untuk kondisi fisik bangunannya sendiri sudah layak untuk digunakan, walaupun tetap membutuhkan beberapa renovasi dan perawatan untuk lebih membuat nyaman masyarakat yang menggunakan sarana peribadatan tersebut. Sementara itu untuk status dari bangunan-bangunan peribadatan itu ada yang berupa bantuan dari pemerintah setempat, dan ada juga yang merupakan hasil dari swadaya masyarakat sekitar. Dengan kondisi sarana peribadatan yang telah dimiliki oleh KTM Lamunti maka bila di lihat dengan SPM menunjukkan bahwa kondisi sarana tersebut sudah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh SPM. Potensi dari tercukupinya kebutuhan sarana peribadatan

adalah masyarakat yang ada di KTM Lamunti dapat menjalankan ibadahnya sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya.

ibadahnya sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Sarana perdagangan dan jasa dimana keberadaan warung/kios

Sarana perdagangan dan jasa dimana keberadaan warung/kios sembako cukup banyak terdapat di kawasan KTM Lamunti dan barang-barang yang disediakan pun sudah cukup lengkap. Dengan tersedianya sarana perdagangan, hal ini bisa menjadi potensi bagi masyarakat di KTM Lamunti dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Permasalahan disini adalah jenis pasar yang terdapat di kawasan KTM ini merupakan pasar mingguan dan terdapat hanya pada beberapa desa saja seperti di pusat KTM. Untuk waktu operasinya sendiri dibagi berdasarkan hari dan jumlah pasar yang ada, dalam seminggu di kawasan KTM memang ada pasar yang beroperasi meskipun lokasinya berbeda-beda.

Tabel Jumlah Sarana Perdagangan di Kawasan KTM Lamunti

   

Sarana Perdagangan

No

Kecamatan

 

(Unit)

Pasar

Toko

Warung

1

Mantangai

4

230

50

2

Kapuas Murung

-

7

-

3

Kapuas Barat

-

19

3

4

Dadahup

-

20

10

 

Jumlah Total

4

276

63

Sumber: Review Masterplan KTM Lamunti. 2013

Untuk sarana transportasi dengan luas kawasan yang mencapai 50.821,41Ha, maka kegiatan perekonomian di kawasan KTM Lamunti selain mengandalkan parit/sungai sebagai akses, masyarakat juga sangat mengandalkan akses jalan dan jembatan guna mendistribusikan hasil perekonomian yang mereka lakukan. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal menyebutkan bahwa untuk jaringan jalan di permukiman perdesaan harus mempunyai cakupan dengan panjang jalan 25-50 m/ha dan lebar 2-5 m. Dari hasil identifikasi kondisi jalan yang ada di kawasan KTM Lamunti sudah

cukup memenuhi standar yang telah ditetapkan. Potensi jalan yang ada di KTM Lamunti dapat dilihat dari, bahwa jalan yang ada dalam kawasan sudah membuka antar desa dalam kecamatan atau antar kecamatan dalam kawasan dan sudah terbentuknya jaringan jalan antar pusat desa dengan desa utama namun kondisi jalannya harus lebih ditingkatkan kualitas dan volume jalannya. Permasalahan untuk sarana disini adalah untuk jalan poros menuju pusat KTM jenis jalan sudah berupa sirtu (pasir-batu). Akan tetapi untuk jaringan jalan di luar jalan poros tersebut masih berupa tanah yang sangat sulit untuk dilalui apabila hujan maupun sesudah hujan.Kondisi jembatan sangatlah memprihatinkan dan sangat tidak layak. Dari hasil pengamatan dilapangan bahwa di kawasan KTM ini tidak terdapat jembatan yang permanen terbuat dari besi, baja maupun beton. Kondisi jembatan yang terbuat dari susunan kayu-kayu tentu sangat rentan dan berbahaya ketika kondisi kayu sudah tua dan lapuk. Sedang untuk Moda angkutan antar kawasan yang digunakan berupa kendaraan roda empat berukuran sedang yang melayani rute dari Mantangai-Kawasan KTM Lamunti- Kuala Kapuas dan hanya beroperasi pada pagi dan siang hari. Dengan demikian untuk menggunakan moda angkutan tersebut harus memilih waktu-waktu tertentu. Sedangkan untuk transportasi intra kawasan yang melayani rute dalam kawasan KTM Lamunti

masyarakat hanya menggunakan perahu kecil

(klotok) sebagai alat transportasi air/sungai

dan menggunakan kendaraan roda dua untuk

menjalankan kegiatan sehari-hari. Demikian

moda transportasi di kawasan KTM Lamunti dapat dikatakan masih kurang memadai untuk melayani seluruh kawasan KTM Lamunti, khususnya transportasi intra kawasan dan jumlah moda angkutan yang ada masih sangat terbatas.

dan jumlah moda angkutan yang ada masih sangat terbatas. Untuk prasarana dasar dan utilitas sebagian besar

Untuk prasarana dasar dan utilitas sebagian besar masyarakat Kawasan KTM menggunakan sumur bor sebagai penghasil air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari- harinya. Sementara itu peran PDAM yang tersedia di kawasan ini tidaklah berfungsi dan

terkelola. Adapun instalansi-instalansi air bersih yang dibangun oleh pemerintah di kawasan ini tidak berfungsi dan terbengkalai karena tidak adanya pengelolaan lebih lanjut yang dilakukan. Sistem drainase berupa jaringan drainase di kawasan KTM Lamunti belum ada. Drainase yang ada yaitu berupa badan air atau sungai- sungai kecil yang ada disekitar rumah penduduk dimana pada saat musim kemarau sungai-sungai tersebut airnya menjadi kering. Fasilitas sanitasi yang terdapat di kawasan KTM Lamunti adalah sistem setempat, belum ada satupun yang memakai sistem sanatasi terpusat. Sistem pembuangan disini masih menggunakan badan air baik berupa sungai maupun selokan, sehingga dimungkinkan lambat laut akan timbul pencemaran terhadap air tanah dan mengganggu kesehatan penduduk. Pembuangan limbah cair domestik

ke badan air secara langsung kemungkinan

terjadi hampir di semua kawasan yang ada di KTM Lamunti. Disamping itu ada juga pengumpulan air limbah rumah tangga dialirkan melalui saluran terbuka dan dilepas di halaman rumah berupa galian tanah sebagai penampung. Jaringan listrik sebagian besar sudah tersedia dikawasan KTM, meskipun masih terdapat juga beberapa desa yang belum terlayani oleh jaringan listrik sehingga memaksa masyarakatnya untuk menggunakan fasilitas generator set sebagai daya penerangan. Untuk telekomunikasi telah terdapat beberapa tower yang disediakan oleh beberapa operator sehingga jaringan komunikasi di desa ini sudah tersedia walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Selain itu di kawasan KTM tepatnya di desa Lamunti Permai (A1) telah tesedia jaringan internet desa yang merupakan program dari pemerintah pusat (Kemkominfo). Infrastruktur persampahan di kawasan KTM Lamunti sampai saat ini belum tersedia, baik berupa tempat pembuangan sampah sementara, tempat pembuangan sampah akhir, tempat pengolahan sampah, maupun tempat sampah berupa tong sampah dan semacamnya. Dari hal tersebut, mengakibatkan beberapa tumpukan sampah

di beberapa lokasi yang membuat kondisi

lingkungan menjadi tidak baik.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penyajian data dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan:

- Secara umum pelaksanaan pembangunan transmigrasi yang ada di Kawasan Kota Terpadu Mandiri Lamunti telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh KTM Lamunti, meskipun demikian terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi sehingga dari program-program pembangunan transmigrasi yang telah dilaksanakan belum mendapatkan hasil yang maksimal yaitu mencapai kesejahteraan masyarakat transmigrasi secara merata dan menyeluruh.

- Dilihat dari kondisi topografi maka dapat dikatakan bahwa topografinya 100% datar dan sudah memadai untuk pembangunan kawasan transmigrasi.

- Untuk sarana pendidikan, peribadatan, kesehatan dan jalan sudah cukup memadai.

- Potensi unggulan yang ada di kawasan KTM Lamunti dilihat dari produktifitas

pertanian dan perkebunan adalah ubi kayu, kacang tanah, kacang kedelei, padi gogo, nenas, bawang daun serta tanaman karet dan sawit. Sedangkan untuk permasalahannya adalah :

1. Sarana kesehatan yang sudah ada sekarang dimana pelayanannya harus lebih ditingkatkan, baik tenaga medis maupun tenaga dokter serta memaksimalkan sarana yang sudah terbangun.

2. Jaringan listrik yang belum merata, kondisi

utilitas seperti air bersih, drinase, sanitasi dan persampahan belum memadai, kondisi pasarnya masih kurang layak dan waktu operasinya yang tidak rutin dan sarana transportasi yang ada di KTM Lamunti yang hingga saat ini belum tersedia dengan baik. Berdasarkan kesimpulan di atas maka, kalau dilihat dari aspek permasalahan yang ada seperti sarana dan prasarana jalan harus diperbaiki sehingga dukungan jalan terhadap perkembangan pemasaran dan produksi usahatani menjadi lebih baik. Dengan kata lain, jalan-jalan yang sudah ada harus ditingkatkan ke tingkat yang lebih baik lagi sehingga keterbukaan daerah menjadi lebih besar lagi dan aksesibilitas terhadap segala hal yang mendukung pengembangan menjadi lebih besar.

Sarana pendukung lainnya seperti air bersih, listrik, sanitasi dan persampahan serta telekomunikasi juga harus ditingkatkan dengan bantuan pemerintah sehingga akan menambah aksesibilitas mansyarakat transmigrasi nantinya terhadap perubahan- perubahan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Mengakomodasi program yang berhubungan dengan pengembangan permukiman transmigrasi dalam memacu percepatan pelaksanaan pengembangan transmigrasi di lokasi studi serta melakukan koordinasi lintas sektoral dalam hal pembangunan di wilayah studi agar tetap sesuai dengan peruntukannya.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Anharuddin dkk, 2005. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota. blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [2] Brown,1977. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota. blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [3] Budiharjo, 1998. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota. blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html [4] Badan Pusat Statistik, 2012. Kapuas Dalam Angka. [5] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Statistik Daerah Kecamatan Kapuas Murung 2012. [6] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Statistik Daerah Kecamatan Dadahup 2012. [7] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Statistik Daerah Kecamatan Kapuas Barat 2012. [8] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Statistik Daerah Kecamatan Mantangai 2012. [9] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Statistik Daerah Kabupaten Kapuas 2012. [10] Colin Mac Andrew, 1979. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota.blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html.

[11]

Dimas,

2012.

Paradigma

Baru

Pembangunan

 

KTM.http://dimashandoko

09.

blogspot. com/2012/07/paradigma-

baru-pembangunan-kota-

 

[12]

mandiri.html. [Depnakertrans] Departemen Tenaga

Kerja dan Transmigrasi. 2000. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian. Jakarta. [13] H.J. Heeren, 1979. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota.blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [14] Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, 2007. Master Plan Kota Terpadu Mandiri Lamunti Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. [15] Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, 2013. Review Master Plan Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lamunti Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. [16] Kepmen Kimpraswil PU 534, 2001. Pedoman Standar Pelayanan Minimal. [17] Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lamunti, 2013. Laporan KTM Lamunti. Program Pengembangan Pusat Pertumbuhan/Kota Terpadu Mandiri s/d Tahun Anggaran 2013. [18] Nazir, 1999. Metode Penelitian. http://www.sigodangpos.com /2011/ 11/metode-penelitian.html. [19] Pusat Rencana Dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan, 2007. Rencana Induk (Master Plan) Rehabilitasi Dan Konservasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut Di Provinsi Kalimantan Tengah. [20] Permen PU No. 20-PRT-M-2007, Kriteria Teknis Kawasan Budidaya Tentang Pedoman Teknis Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Ekonomi dalam Penyusunan RTRW. [21] Provinsi Kalimantan Tengah, 2010- 2015. Rencana Jangka Panjang Menengah Daerah. [22] Provinsi Kalimantan Tengah, 2005- 2015. Rencana Jangka Panjang Daerah (Perda No.4 Tahun 2010).

[23] Provinsi Kalimantan Tengah. Raperda RTRWP. [24] Provinsi Kalimantan Tengah, 2013. Musyawarah Rencana Pembangunan. [25] Provinsi Kalimantan Tengah. Kelompok Kerja Kota Terpadu Mandiri. [26] Ramadhan KH, Hamid Jobbar, Rofiq Ahmed, 1993. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota.blogspot.com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [27] [R.I] Republik Indonesia, 2004. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Jakarta. [28] Republik Indonesia, 2007. Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jakarta. [29] Suparno, 2007. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota.blogspot. com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [30] Suhandy Siswoyo, 2009. Model Pengembangan KTM. Teras/IX/1/ Desember 2009 16# # Model Pengembangan Kota Terpadu Mandiri Di Kawasan Transmigrasi Lore-Poso SuhandySiswoyo*).

[31]

Sukmadinata,

2006.

Penelitian

Deskriptif.

wordpress.

com/2008/02/27/penelitian-

 

deskriptif.

[32]

Sugiyono,

2010.

Landasan

Teori

Tinjauan

Pustaka

Dan

Kerangka

teori-tinjauan-pustaka-dan-

kerangka-berfikir. [33] Turner, 1976. Teori Program Transmigrasi. Perencanaan Kota. logspot. com/2012/01 teori- program-transmigrasi-html. [34] Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 sebagai pengganti Undang- Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.

RIWAYAT PENULIS

1. Mizan Yurda, ST. Alumni (2014) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pakuan Bogor. 2. Ir. Lilis Sri Mulyawati, M.Si. Staf Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pakuan Bogor.