Anda di halaman 1dari 19
  • 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Prostatitis adalah inflamasi kelenjar prostat yang disebabkan oleh agens infeksius (bakteri, fungi, mikoplasma) atau berbagai masalah lain (misalnya, struktur uretra, hiperplasia prostatik). Mikroorganisme biasanya terbawa ke prostat dari uretra. Manifestasi klinis, gejala prostatitis dapat mencakup rasa tidak nyaman pada perianal, rasa terbakar, dorongan ingin berkemih, sering berkemih, dan nyeri saat atau setelah ejakulasi (Smeltzer, 2001). Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat pria. Prostatitis bukanlah suatu kondisi tunggal tetapi sekelompok gejala yang terkait. Kuman yang sering ditemukan adalah E.Coli, Klebsiella spp, proteus mirabilis, enterococcus faecalis dan pseudomonas aeruginosa, chlamydia trachomatis, ureaplasma urealyticum, mycoplasma hominis walaupun masih menimbulkan perdebatan. Penderitanya Nampak kesakitan, terutama didaerah perineal, adanya gangguan miksi (berkemih), demam, menggigil, pada pemeriksaan fisik dengan colok dubur, prostat teraba bengkak, hangat dan nyeri, pada keadaan ini tidak diperkenankan melakukan masase prostat untuk mengeluarkan getah kelenjar prostat karena dapat menimbulkan rasa sakit dan akan memacu terjadinya bakterimia, bahkan bila tidak ditangani secara cepat dapat menimbulkan abses prostat atau menimbulkan urosepsis.

  • 2. Tujuan 1) Tujuan Umum

Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem

Perkemihan oleh Ns. Nikmawati Puluhulawa S.Kep.,M.Kep

2) Tujuan Khusus

  • a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Prostatitis

  • b. Mampu merumuskan diagnose keperawatan pada klien dengan Prostatitis

  • c. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien dengan Prostatitis

  • d. Mampu melakukan implementasi pada klien dengan Prostatitis

  • e. Mampu melakukan evaluasi pada klien dengan Prostatitis

BAB II TINJAUAN TEORI

  • A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR PROSTAT 1. Anatomi

BAB II TINJAUAN TEORI A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR PROSTAT 1. Anatomi Prostat adalah organ genitalia

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah dari buli-buli, di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram (Purnomo, 2012). Prostat memiliki kapsula fibrosa yang padat dan dilapisi oleh jaringan ikat prostat sebagai bagian fascia pelvis visceralis. Pada bagian superior dari prostat berhubungan dengan vesika urinaria, sedangkan bagian inferior bersandar pada diafragma urogenital. Permukaan ventral prostat terpisah dari simpisis pubis oleh lemak retroperitoneal dalam spatium retropubicum dan permukaan dorsal berbatas pada ampulla recti (Moore & Agur, 2002). Kelenjar prostat terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai menonjol pada masa pubertas. Biasanya kelenjar prostat dapat tumbuh seumur hidup. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan kandung kemih, uretra, vas deferens, dan vesikula seminalis. Prostat terletak di atas diafragma panggul sehingga uretra terfiksasi pada diafragma tersebut, dapat terobek bersama diafragma bila terjadi cedera. Prostat dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur (Sjamsuhidajat dkk., 2012).

Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat mengandung cukup banyak jaringan fibrosa dan jaringan otot polos. Kelenjar ini ditembus oleh uretra dan kedua duktus ejakulatorius, dan dikelilingi oleh suatu pleksus vena. Kelenjar limfe regionalnya ialah kelenjar limfe hipogastrik, sacral, obturator, dan iliaka eksterna (Sjamsuhidajat dkk., 2012). Arteri-arteri untuk prostat terutama berasal dari arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media, cabang arteria iliaca interna. Vena-vena bergabung membentuk plexus venosus prostaticus sekeliling sisi-sisi dan alas prostat. Plexus venosus prostaticus yang terletak antara kapsula fibrosa dan sarung prostat, ditampung oleh vena iliaka interna. Plexus venosus prostaticus juga berhubungan dengan plexus venosus vesicalis dan plexus venosi vertebrales. Pembuluh limfe terutama berakhir pada nodi lymphoidei iliaci interni dan nodi lymphoidei externi (Moore & Agur, 2002) Persarafan otonom pada testis, duktus deferens, prostat dan vesikula seminalis disajikan pada gambar dibawah ini

Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat mengandung cukup banyak jaringan fibrosa dan jaringan otot polos. Kelenjar

2. Fisiologi

Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat mengandung cukup banyak jaringan fibrosa dan jaringan otot polos. Kelenjar

Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung

kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan, dan profibrinolisin. Selama

pengisian,

simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas

deferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat menambah jumlah semen lebih banyak lagi. Sifat cairan prostat yang sedikit basa

mungkin penting untuk keberhasilan fertilisasi ovum, karena cairan vas deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme sperma, dan sebagai akibatnya, akan menghambat fertilisasi sperma. Selain itu, sekret vagina

bersifat asam (pH 3,5−4). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH sekitarnya meningkat menjadi 6−6,5. Akibatnya, cairan prostat yang sedikit basa

mungkin dapat menetralkan sifat asam cairan seminalis lainnya selama ejakulasi, dan juga meningkatkan motilitas dan fertilitas sperma (Guyton & Hall, 2008; Sherwood, 2011).

  • B. KONSEP DASAR MEDIS

    • 1. Definisi Prostatitis adalah inflamasi kelenjar prostat yang sering kali disertai dengan gejala saluran kemih bawah dan gejala ketidaknyamanan dan disfungsi seksual. Prostatitis dapat disebabkan oleh agens infeksius (bakteri, jamur, mikoplasma) atau kondisi lain ( mis., striktur uretra, hyperplasia prostat jinak). E. coli adalah organisme yang paling banyak diisolasi. Ada empat jenis prostatitis : prostatitits bacterial akut (tipe I); prostatitis bacterial kronis (tipe II); prostatitis kronis/sindrom nyeri panggul (CP/CPPS) (tipe III), dan prostatitis inflamasi asimtomatik (tipe IV).

 
  • 2. Etiologi

1)

Idopatik

2)

Beberapa kejadian prostatitis terkadang terjadi begitu saja tanpa diketahui penyebabnya, baik ditelusuri pake anamnesis kepada penderita ataupun setelah dilakukan pemeriksaan. (Nickel, 2013) Agent Infeksius (bakteri, fungi, mikoplasma)

3)

Infeksi biasa terjadi akibat dari bakteri yang berasal dari usus atau melalui aliran darah yang telah menempuh perjalanan dari infeksi lain di dalam tubuh. Hal yang dapat memicu terjadinya infeksi adalah kerusakan pada prostat itu sendiri. Misalnya ada luka setelah operasi prostat dilakukan. Transmisi hubungan seksual tidak berpengaruh pada penyakit prostatitis akut. (Compeegi et al, 2014) Striktur Uretra

4)

Merupakan kondisi medis yang ditandai oleh penyempitan abnormal uretra, saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih keluar dari tubuh. Penyempitan saluran uretra ini dapat memicu terjadinya refluks urin ataupun penumpukan urin pada saluran uretra, sehingga dapat menyebabkan peradangan pada organ sekitar uretra. (Sudoyo, 2009) Hyperplasia Prestatik Terjadinya hyperplasia pada kelenjar prostat akan menginduksi terjadinya inflamasi pada kelenjar prostat, sehingga dapat memicu terjadinya prostatitis. (Compeegi et al, 2014)

3.

Manifestasi Klinis

1) Prostatitis akut dicirikan oleh awitan mendadak demam, dysuria, nyeri prostat perineum, dan gejala saluran kemih bawah, dysuria, sering berkemih, urgensi berkemih tersendat, dan nokturia 2) Sekitar 5% kasus prostatitis tipe I (prostatitis akut) berlanjut menjadi

3)

prostatitis tipe II (prostatitis bacterial kronis); pasien prostatitis tipe II biasanya tidak menunjukan gejala diantara episode penyakit. Pada pasien prostatitis tipe III sering kali tidak dijumpai adanya bakteri di

4)

dalam urine, namun mengalami nyeri genitourinary Pasien prostatitis tipe IV biasanya terdiagnosis secara tidak sengaja ketika

5)

menjalani terapi infertilitas, menunjukkan peningkatan hasil uji antigen spesifik prostat (PSA), atau mengalami gangguan lain. Frekuensi berkemih lebih sering biasanya pada malam hari

6)

Kesulitan berkemih disertai rasa panas seperti terbakar

7)

Ada darah saat berkemih dan ketika mengeluarkan air mani

8)

Rasa sakit ketika terjadi ejakulasi ( saat hubungan seksual )

9)

Rasa sakit saat buang air besar

10) Kegagalan berhubungan seksual atau kehilanagan libido ( gairah ) 11) Rasa sakit di pinggang, atas tulang kemaluan, antara bagian genetal ( kelamin ) dan anus, serta ujung penis.

  • 4. Patofisiologi Infeksi pada prostat menyebabkan kelenjar prostat menjadi bengkak dan nyeri. Kelenjar prostat mengelilingi uretra, prostat yang membengkak bisa menegakkan uretra dan menyebabkan obstruksi urin. Pasien yang mengalami prostatitis biasanya mengeluh sulit untuk memulai berkemih atau perlu mengejakan untuk dapat mengeluarkan urin. Pasien juga sering mengeluh nyeri pada bokong bawah, daerah pelvis dan perineum. Kadang-kadang ia bisa juga mengalami nyeri waktu ejakulasi atau sesudah ejakulasi.

  • 5. Pemeriksaan Penunjang

    • a. Pemeriksaan rectal ( anus ) Pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter menggunakan sarung tangan medis berpelumas, lalu jari dokter akan masuk ke dalam anus untuk

merasakan bagian belakang kelenjar prostat pasien. Biasanya pemeriksaan ini akan terasa nyeri bila pasiennya adalah penderita prostat.

  • b. Pemeriksaan USG Transrektal ( TRUS ) USG transrektal prostat untuk mendiagnosa semua bentuk prostatitis akut dan kronis, adenoma, kanker dan proses patologis lainnya, serta untuk memantau hasil pengobatan.

  • c. Pemeriksaan Urin oleh dokter spesialis prostat

    • a) Pemeriksaan urin dan cairan prostat

    • b) Pemeriksaan darah dan air mani

    • c) Pemeriksaan sitoskopi

    • d) Pemeriksaan oleh ahli studi aliran urin

  • 6. Komplikasi Komplikasi prostatitis yang sering terjdi ialah kesulitan buang air kecil. Pasien juga dapat mengalami penurunan tekanan darah dan perasaan bingung atau lemas. Selain itu, adapu pula kemungkinan perbesaran bacteria dari kelenjar prostat ke aliran darah. Fenomena komplikasi satu ini di sebut dengan sepsis. Bila terkena sepsis, tekanan darah akan menurun secara drastic. Ini membuat ginjal, hati, serta organ lain dalam tubuh tidak bekerja dengan optimal karena aliran darah yang tidak lancar.

  • 7. Penatalaksanaan

1)

Medis Tujuan terapi adalah untuk menghilangkan organisme penyebab. Terapi spesifik ditentukan berdasarkan jenis prostatitis dan hasil uji kultur dan sensitivitas pada urine. a. Jika bakteria dikultur dari urine, antibiotic, termasuk trimethoprim- sulfametoksazol (TMP-SMZ) atau fluoroquinolon (mis., siprofloksasin[cipro]), dapat diresepkan dan terapi antibiotic dosis rendah yang berkelanjutan dapat dimulai untuk menekan infeksi b. Jika pasien afebris dan menunjukan hasil urinalisis normal, agens antiinflamasi dapat diberikan; terapi penyekat alfa-adrenergik

(mis.,tamsulosin [Flomax]), dapat diresepkan untuk meningkatkan relaksasi kandung kemih dan prostat

2)

  • c. Terapi suportif, nonfarmakologis dapat diresepkan (mis., biofeedback, latihan otot dasar panggul, terapi fisik, mandi rendam, pelunan feses). Keperawatan

  • a. Berikan antibiotic sesuai program

  • b. Rekomendasikan tindakan kenyamanan : analgesic, mandi air hangat selama 10 menit-20 menit beberapa kali sehari

  • c. Instruksikan pasien untuk menyelesaikan rangkaian antibiotic yang telah diresepkan dan kenali tanda gejala prostatitis terkini

  • d. Anjurkan konsumsi cairan untuk menghilangkan haus tetapi jangan “memaksakan”, karena kadar obat yang efektif di dalam urine harus dipertahankan

  • e. Instruksikan pasien untuk menghindari makanan dan minuman yang memiliki kerja diuretic atau meningkatkan sekresi prostat, termasuk alcohol, kopi, the, cokelat, kola, dan makanan berbumbu

  • f. Instruksikan pasien untuk menghindari ramgsangan seksual dan hubungan seksual selama periode inflamasi akut

  • g. Anjurkan pasien untuk tidak duduk dalam waktu lama guna meminimalkan ketidaknyamanan

  • h. Tekankan bahwa tindak lanjut medis harus dilakukan minimal selama 6 bulan sampai 1 tahun

  • i. Informasikan pasien bahwa infeksi saluran kemih dapat terjadi kembali dan ajarkan mereka cara untuk mengenali gejalanya

8. Pencegahan

Belum diketahui secara pasti apakah pencegahan prostatitis dapat dilakukan. Namun, ada beberapa tips yang dapat anda terapkan untuk

mengurangi prostatitis.

  • 1. Segera cari bantuan medis atau kunjungi dokter bila anda merasakan beberapa gejala prostatitis

  • 2. Gunakan alat pengaman saat berolahraga untuk menghindarkan trauma di bagian otot panggul.

3.

Untuk yang hobi berseped, pencegahan prostatitis dapat dilakukan dengan menggunakan sadel yang nyaman untuk meminimalisir tekanan pada prostat.

  • 4. Minumlah banyak air agar terhindar dari dehidras. Batasi kafein dan alkohol serta makanan pedas untuk mengurangi resiko iritasi pada kandung kemih

  • 5. Bila dokter meresepkan anda antibiotic, segera konsumsi dan habiskan. Jangan menunda atau berhenti mengonsumsinya bahkan ketika anda merasa kondisi tubuh telah membaik.

  • 6. Hindari perilaku seksual yang tidak sehat seperti anak seks dan berganti-ganti pasangan seksual tanpa pengaman.

PATHWAY

Etiologi ( bakteri )

E. coli, proteous sp,

Klebsiella sp, Pseudomonas sp, Enterobakter sp, Serrate sp.

Bakteri masuk ke prostat

  • 1. Ascendiding infection

  • 2. Refluks urine dari kandung kemih yang trinfeksi ke dalam duktus prostatikus

  • 3. Langsung / secara limfogen dari organ yang berada di sekitarnya ( rectum ) yang mengalami infeksi

    • 4. Penyebaran secara hematogen

Menginfeksi prostat

Rx. Inflamasi

Nyeri

Demam

Malaise

Edema Prostat

Teraba Hangat

 
 

Menjepit uretra pars prostatika

 
 

Terjadi gangguan miksi

Retensi urine

  • C. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1.

Pengkajian

  • 1. Identitas Nama, Umur, Jenis kelamin, agama, suku, bangsa, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, alamat, tanggal masuk Rumah Sakit.

  • 2. Keluhan utama Biasnaya klien merasakan rasa tidak enak pada uretra kemudian di ikuti nyeri ketika berkemih atau nyeri saat kencing.

  • 3. Riwayat penyakit sekarang Tanyakan penyebab terjadinya infeksi, bagaimana gambaran rasa nyeri, daerah mana yang sakit, apakah menjalar atau tidak, ukur skala nyeri, dan kapan keluhan dirasakan.

  • 4. Riwayat penyakit dulu Tanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit parah sebelumnya

  • 5. Riwayat kesehatan keluarga Tanyakan apakah keluarga klien ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien

Pengkajian Kebutuhan Dasar yang terganggu

  • a. Aktivitas/istirahat

Gejala

: Tidak bisa tidur/istirahat dengan tenang jika rasa nyeri timbul

Tanda

: Gelisah

  • b. Eliminasi Gejala : Penrunan dorongan aliran urine, keragu-raguan pada awal berkemih, kandung kemih terasa pnuh, tidak dapat berkemih kecuali dengan cara mengejan, urin keluar sedikt-sedikit. Tanda : disensi vesika urinaria, pengeluaran urin < 1500 ml/hari, pengeluaran urin sedikit , nampak pemasangan kateter.

  • c. Makanan/ cairan

 

Gejala

:

klien mengeluh tidak nafsu makan , klien mengluh mual

muntah

Tanda

: penurunan BB, < porsi makan tidak dihabiskan

  • d. Sesksualitas

Gejala

: penurunan kemampuan dalam melakukan hubungan seksual.

  • e. Nyeri/kenyamanan

Gejala

: klien mengeluh nyeri saat berkemih

Tanda

: ekspresi wajah nampak meringis dan tampak memegang area

yang sakit

  • f. Integritas ego

Gejala

: klien megeluh mengenai penyakitnya

Tanda

: klin tampak gelisah

  • 2. Diagnosa Keperawatan

1)

Nyeri Akut

2)

Gangguan Eliminasi Urine

3)

Gangguan Pola Tidur

4)

Defisit Pengetahuan

  • 3. Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

1

Nyeri akut

 

NOC

  • 1. Lakukan pengkajian

Domain : 0077

Pain level

nyeri secara

Kategori : Psikologis

Pain control

kompherensif termasuk

Subkategori : Nyeri dan

Comfort level

lokasi, karateristik,

Kriteria Hasil :

durasi, frekuensi,

Keyamanan Definisi :

Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang

  • 1. Mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,

kualitas, dan faktor presipitasi

  • 2. Observasi reaksi dari nonverbal dari ketidaknyamanan

aktual atau potensial atau

mencari bantuan).

  • 3. Gunakan tehnik

digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Associatin for the study of pain ) :

  • 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen

komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

awitan yang tiba- tiba atau lambat

nyeri

  • 4. Ajarkan tentang tehnik

dari intensitas ringan hingga berat

  • 3. Mampu mengenali nyeri

nonfarmakologi

dengan akhir yang dapat

(skala, intensitas,

  • 5. Berikan analgetik untuk

12

 

diantisipasi atau diprediksi dan

 

frekuensi dan tanda nyeri.

mengurangi nyeri.

berlangsung < 6 bulan. Batasan Krakteristik :

4.

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

  • 6. Klaborasikan dengan dokter jika ada keluhan

  • 1. Perubahan selera makan

 

dan tindakan nyeri tidak

  • 2. Perubahan tekanan darah

berhasil

  • 3. Perubahan frekuensi jantung

  • 7. Pilih analgesik yang

  • 8. Monitor viatal sign

  • 9. Evaluasi efektivitas

  • 4. Perubahan frkuensi pernafasan.

diperlukan atau kombinasi dari analgesik

  • 5. Mengekspresikan perilaku (mis. Gelisah, merengek, menangis)

  • 6. Gangguan tidur.

ketika pemberian lebih dari satu

sebelum dan sesudah

pemberian analgesik pertama kali

analgesik, tanda dan gejala.

2.

Gangguan eliminasi urine

NOC

NIC

Domain : 0040

  • Urinary elimination

  • 1. Lakukan penilaian kemih

Kategori : Fisiologis

  • Urinary continuence

yang kompherensif

Subkategori : Elminasi

Kriteria hasil :

berfokud pada

Definisi :

  • 1. Kandung kemih kosong

  • 2. Tidak ada residu urine >

inkontinensia (misalnya

berkemih, fungsi

Disfungsi pada eliminasi urine. Batasan Karakteristik :

secara penuh

output urin, pola

  • 1. Disuria

 

100-200 cc

kognitif, dan masalah

  • 2. Sering berkemih

  • 3. Intake cairan dalam

kencing praeksisten)

  • 3. Inkontinensia

 

rentang normal

  • 2. Memantau pengguanaan

  • 4. Retensi

  • 4. Bebas dari ISK

obat dengan sifat anti

  • 5. Dorongan

  • 5. Tidak ada spasme bladder

kolinergik atau properti

  • 6. Gangguan sensori moorik

  • 6. Balance cairan seimbang

alpha pragonis

infeksi saluran kemih.

  • 3. Masukan kateter kemih, sesuai.

  • 4. Anjukan pasien/ keluarga

13

     

untuk merekam output urin, sesuai

  • 5. Memantau asupan dan keluaran

  • 6. Memantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi

  • 7. Meruju spesialis kontinsia kemih sesuai

3.

Gangguan pola tidur

NOC

NIC

Domain : 0055

  • Anciety reduction

  • 1. Determinasi efek-efek

Kategori : Fisiologis

  • Comfort levvel

medikasi terhadap pola

Subkategori : Aktivitas/istirahat

  • Rest : extent ang pattrn

tidur

Definisi :

  • Sleep : xtent ang pattrn

  • 2. Jelaskan pentingnya tidur

Gangguan kulitas dan kuantitas

Kriteria hasil :

yang adekuat

waktu tidur akibat factor

  • 1. Jumlah jam tidur dalam

  • 3. Fasilitas untuk

eksternal. Batasan Karakteristik :

batas normal 6-8 jam/hari

memperthankan aktivitas sebelum tidur (

  • 1. Perubahan pola tidur normal

  • 2. Pola tidur, kualitas

membaca)

  • 2. Penurunan kemampuan

dalam batas normal

  • 4. Ciptakan lingkungan

berfingsi

  • 3. Perasaan segar sesudah

yang nyaman

  • 3. Ketidakpuasan tidur

tidur atau istirahat.

  • 5. Kolaborasi pemberian

  • 4. Menyatakn tidak merasa cukup

  • 4. Mampu

obat tidur

istirahat.

mengidentiksikan hal- hal yang meningkatkan tidur.

  • 6. Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang tehnik tidur pasien

  • 7. Instruksikan untuk memonitor tidur pasien

  • 8. Monitor waktu makan dan minum dengan waktu tidur

14

     
  • 9. Monitor/ catat kebutuhan tidur pasien setiap hari dan jam

4.

Defisit pengetahuan

NOC

NIC

Domain : 0111 Kategori : Perilaku

Knowledge : disease process

  • 1. Berikan penilaian tentang tingkat

Subkategori : penyuluhan dan

Knowledge : health

pengetahuan pasien

pembelajaran Definisi :

behavior Kriteria hasil :

tentang proses penyakit yang spesifi

Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu Batasan Karakteristik :

  • 1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program

  • 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan

  • 1. Ketidakakuratan mengikuti

 

pengobatan

anatomi dan fisiologi,

perintah

  • 2. Pasien dan keluarga

dengan cara yang tepat

  • 2. Ketidakakuratan melakukan tes

 

mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan

  • 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul

  • 3. Pengungkapan masalah

secara benar

pada penyakit dengan

  • 4. Salah interpretasi informasi

  • 3. Pasien dan keluarga

cara yang tepat

  • 5. Tidak familier dengan sumber informasi

 

mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/ tim

  • 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

kesehatan lainnya

  • 5. Identifikasikan kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

 
  • 6. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

15

     
  • 7. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

  • 8. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

  • 9. Instruksikan pasien mengenai tanda dan fejal untuk melaporkan tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.

5

Hipertermia

NOC

NIC

Domain : 0130 Kategori : Lingkungan

Thermoregulation Kriteria Hasil :

  • 1. Monitor suhu sesering mungkin

Subkategori : Keamanan dan Proteksi

  • Suhu tubuh dalam rentang normal

  • 2. Monitor warana dan suhu kulit

Definisi :

  • Nadi dan RR dalam

  • Idak ada perubahan

  • 3. Monitor tekanan

  • 4. Berikan pengobatan

Suhu tubuh meningkat diatas rentang normal tubuh. Batasan Karakteristik :

rentang normal

warna kulit dan tidak

darah, nadi, dan RR

unuk mengatasi

  • 1. Kulit kemerahan

ada pusing

penybab demam

  • 2. Peningkatan suhu tubuh diatas

  • 5. Kolaborasikan

kisaran normal

pemberian cairan

  • 3. Tajipnea

intravena

  • 4. Takikardi

  • 6. Kompres pasien pada

  • 5. Penyakit

lipat paha dan aksila.

  • 6. Peninkatan laju metabolisme

16

  • 1. Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Prostatitis adalah inflamasi kelenjar prostat yang disebabkan oleh agens infeksius (bakteri, fungi, mikoplasma) atau berbagai masalah lain (misalnya, struktur uretra, hiperplasia prostatik). Mikroorganisme biasanya terbawa ke prostat dari uretra. Manifestasi klinis, gejala prostatitis dapat mencakup rasa tidak nyaman pada perianal, rasa terbakar, dorongan ingin

berkemih, sering berkemih, dan nyeri saat atau setelah ejakulasi (Smeltzer,

2001).

Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat pria. Prostatitis bukanlah suatu kondisi tunggal tetapi sekelompok gejala yang terkait. Kuman yang sering ditemukan adalah E.Coli, Klebsiella spp, proteus mirabilis, enterococcus faecalis dan pseudomonas aeruginosa, chlamydia trachomatis, ureaplasma urealyticum, mycoplasma hominis

  • 2. Saran

1)

Bagi mahasiswa / Mahasiswi Agar ada penulis lain yang dapat membuat makalah Prostatitis dengan

2)

lebih baik lagi. Bagi Instiusi Pendidikan

  • a. Agar dapat melengkapi buku buku perpustakaan tentang Prostatitis

  • b. Agar dapat meningkatatkan kualitas pengajaran dan proses bimbingan yang berhubungan dengan Prostatitis

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E., Marry, F

..

M

and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan

Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.