Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SPIRITUAL HIPNOSIS UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PASIEN


PASCA OPERASI YANG DIRAWAT DI RUANG ANGGREK
RSUD WATES KULON PROGO

Disusun Oleh:

Bagus Handoko 3216042


Finda Nurma Zuanita 32160
Hega Arif Nur Hidayat 32160

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

SPIRITUAL HIPNOSIS UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PASIEN


PASCA OPERASI YANG DIRAWAT DI RUANG ANGGREK
RSUD WATES KULON PROGO

Telah disetujui pada


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

(Imam Fungani, S.Kep., Ns) (Ika Cahyaningsih, S.Kep)

2
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Nyeri


Sub pokok bahasan : Spiritual Hipnosis Untuk Mengurangi Nyeri
Sasaran : Pasien di Ruang Anggrek
Target : Pasien dengan post operasi
Hari/tanggal : Sabtu, 29 April 2017
Waktu : 30 menit
Penyaji : Mahasiswa Profesi Ners Angkatan XI Stikes Jen. A. Yani
Yogyakarta
Tempat : Bangsal Anggrek RSUD Wates Kulon Progo

A. LATAR BELAKANG
Salah satu tindakan invasif dalam penanganan tindakan medis adalah
operasi, dan pasien paska operasi hampir seluruhnya merasakan nyeri
(Triyono, 2010). Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan berhubungan dengan kerusakan jaringan yang terjadi
secara aktual maupun potensial (Merskey & Bogduk, 2014). Salah satu
manajemen nyeri untuk mengurangi nyeri dengan non farmakologis adalah
spiritual hipnosis. Spiritual hipnosis bekerja melalui tiga pendekatan,
emosional, spiritual, dan rasional. Dengan pendekatan emosional, maka kasih
sayang pasien akan terpenuhi sehingga pasien tidak akan merasa sendirian,
dengan pendekatan spiritual maka kebutuhan spiritual pasien meningkat,
dengan pendekatakan rasional, maka pasien akan dibimbing bersama untuk
menemukan masalah dan menemukan solusinya, dengan pendekatan ini akan
mempengaruhi sistem tubuh sehingga nyeri diharapkan berkurang.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, diharapkan klien mampu
memahami terapi non farmakologi hipnosis spiritual untuk mengurangi
nyeri dan mampu mengungkapkan skala nyeri.

3
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1x30 menit, pasien
diharapkan mampu:
a. Memahami nyeri dan skala nyeri
b. Memahami pengertian spiritual hipnosis
c. Meningkatkan motivasi pasien dengan pendekatan emosional, spiritual,
dan rasional dalam mengurangi nyeri pasca operasi

C. METODE
1. Ceramah
2. Demontrasi

D. MEDIA
1. SAP
2. Leaflet

E. PENGORGANISASIAN
1. Leader :
2. Co-Leader :
3. Observer & Fasilitator :

F. SETTING TEMPAT

Keterangan:
: Leader : Observer : Peserta
: Co-Leader : Fasilitator

4
G. STRATEGI
1. Persiapan
a) Membuat satuan acara penyuluhan kesehatan terkait hipnosis spiritual
untuk mengurangi nyeri
b) Mempersiapkan materi dan leafleat
c) Mempersiapkan ruangan
d) Mempersiapkan keluarga klien
2. Pelaksanaan
No Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
1 5 menit Pendahuluan
a. Memberi salam a. Menjawab salam
b. Memperkenalkan penyaji b. Memperhatikan dan
dan kontrak waktu menjawab pertanyaan
c. Memberikan pertanyaan c. Memperhatikan dan
apersepsi menjawab pertanyaan
d. Mengkomunikasikan pokok d. Memperhatikan
bahasan
e. Mengkomunikasikan tujuan e. Memperhatikan
2 20 1. Kegiatan inti:
menit Memberikan penjelasan
tentang:
a. Hipnosis Spiritual a. Memperhatikan
b. Skala Nyeri b. Memperhatikan
c. Tekhnik hipnosis c. Memperhatikan
spiritual

2. Demontrasi hipnosis d. Memperagakan


spiritual
3 5 menit Penutup
a. Memberikan evaluasi secara a. Menjawab pertanyaan
lisan
b. Menyimpulkan materi b. Memperhatikan
penyuluhan bersama
keluarga dan klien
c. Memberikan salam penutup c. Menjawab salam

H. EVALUASI
1. Evaluasi struktur : Penyusunan SAP, Persiapan keluarga pasien, Tempat,
Alokasi waktu dan Materi.

5
2. Evaluasi proses : respon keluarga pasien selama mengikuti penyuluhan.
Aspek yang dievaluasi meliputi :
a. Kognitif, yaitu pengetahuan keluarga pasien yang telah mendapatkan
penyuluhan tentang :
1) Pengertian hipnosis spiritual
2) Skala nyeri
b. Afektif, yaitu sikap keluarga pasien yang telah mendapatkan
pelatihan, yang meliputi :
1) Menyatakan skala nyeri yang dirasakan
2) Menyatakan sadar akan pentingnya melakukan terap non
farmakologi: hipnosis spiritual
3. Waktu pelaksanaan evaluasi :
1) Evaluasi aspek kognitif : setelah pelaksanaan penyuluhan selesai
2) Evaluasi aspek afektif : setelah pelaksanaan penyuluhan selesai
4. Metode evaluasi : wawancara dan demontrasi
5. Instrumen evaluasi :
Daftar pertanyaan
a. Apakah pengertian hipnosis spiritual ?
b. Sebutkan ada berapa macam skala nyeri ?

6
lampiran materi

A. Pengertian Nyeri
Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan berhubungan dengan kerusakan jaringan yang terjadi secara
aktual maupun potensial (Merskey & Bogduk, 2014). Menurut Potter & Perry
(2013), makna nyeri mempengaruhi seseorang berespon terhadap nyeri dan
berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri serta
bagaimana mengatasinya. Tingkat seorang pasien memfokuskan perhatiannya
pada nyeri dapat mempengaruhi persespi nyeri tekhnik relaksasi, hipnosis,
guided imajery merupakan tekhnik untuk mengatasi nyeri.
B. Manajemen Nyeri
Manajemen nyeri paska operasi saat ini, hanya berpusat pada obat-
obatan pengurang nyeri, sedangkan penggunaan terapi non farmakologis masih
jarang digunakan di rumah sakit, padahal penggunaan manajemen nyeri non
farmakologis mempunyai resiko efek samping obat yang lebih kecil
(Mustawan, 2008). Pemberian anti nyeri untuk pasien post operasi merupakan
solusi mengurangi nyeri yang paling sering dilakukan, namun pemberian anti
nyeri mempunyai efek samping, mulai dari iritasi lambung, peradangan sendi
hingga efek ketergantungan pada obat opioid.
Shakibaei et al. (2008) mengatakan, telah banyak penelitian yang
membuktikan efektifitas dari manajemen nyeri non farmakologi, salah satunya
hipnosis untuk mengurangi nyeri. Abrahamsen et al. (2011) mengatakan respon
perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan verbal, ekspresi wajah,
gerakan tubuh, kontak fisik dengan orang lain, atau perubahan respon terhadap
lingkungan.
C. Pengertian Hipnosis
Hipnosis adalah suatu kondisi dimana perhatian menjadi sangat
terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat
tinggi. Hipnosis berasal dari kata “Hypnos” yang berarti Dewa Tidur Orang
Yunani. Namun, perlu dipahami bahwa kondisi hipnosis tidak sama dengan

7
tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar
suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi hipnosis, meskipun
tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas, dan
merespon informasi yang diterimanya (Praktisi Indonesia, 2014).
Hipnosis dapat menjadi solusi manajemen nyeri non farmakologi,
beberapa penelitian menunjukkan efektifitas hipnosis dalam menurunkan nyeri,
pasien post operasi yang diberikan hipnosis dapat berkurang nyerinya,
membutuhkan sedikit morfin, efek samping dari obat opioid juga berkurang,
seperti nausea, fomiting, dan konstipasi (Renee et al, 2015).
D. Pengertian Spiritual Hipnosis
Spiritual hipnosis adalah memberikan pelayanan kesehatan pada
pasien post operasi yang berupa rangkaian tindakan dan kata yang bersifat
positif, mengandung nilai spiritual, emosional, kognitif, disampaikan dengan
cara tertentu dan bersifat komprehensif (Yeoung, 2008).
Elizabeth (2011) mengatakan, spiritual hipnosis dapat meningkatkan
motivasi klien melalui tiga pendekatan emosional, spiritual, dan rasional.
Dengan pendekatan emosional maka kasih sayang pasien akan terpenuhi
sehingga pasien tidak akan merasa sendirian.dengan pendekatan spiritual, maka
kebutuhan spiritual pasien terpenuhi sehingga kecerdasan spiritual pasien
meningkat. Dengan pendekatan rasional, maka pasien akan dibimbing bersama
untuk menemukan masalah dan menemukan solusinya, dengan pendekatan ini
sehingga nyeri berkurang.
E. Tahapan Spiritual Hipnosis (Mulyadi, 2016)
Model spiritual hipnosis dengan tahapan sebagai berikut:
1. Tahap pertama adalah pra induksi dengan mendiskusikan keluhan pasien,
kemudian pasien dibimbing berdoa untuk mengurangi nyeri.
2. Tahap kedua adalah induksi, pasien diminta rileks namun khusyu’ sambil
membaca surah Al Fatihah dan menghirup napas dalam.
3. Tahap ketiga adalah deepining, pasien membayangkan sedang berada di
masjid.

8
4. Tahap keempat adalah sugesti, tahap ini merupakan inti spiritual
hipnosis, sugesti yang berikan adalah merasakan tubuh pasien sendiri
secara berurutan, mulai dari ujung kepala sampai kaki, kemudian pasien
dimintai untuk fokus pada bagian yang sakit, dan merasakan secara
seksama pada bagian yang sakit tersebut. Kemudian pasien diminta untuk
mengikhlaskan bagian yang sakit tersebut.
5. Tahap kelima adalah tahap terminasi dengan membaca Al Fatihah dan
mengucapkan Alhamdulillah.

9
DAFTAR PUSTAKA

Abrahamsen, R. et al., (2011). Effect of Hypnosis on Pain and Blink Reflexes in


Patients With Painful Temporomandibular Disorders. The Clinical
Journal of Pain, 27(4), pp.344–351. Available at:
http://content.wkhealth.com [Accessed 28 April 2017]

Elizabeth O'brien, M., (2011). Spirituality In Nursing, Standing On Holy Ground.


4th ed. Washington DC: Jones and Bartlett Learning.

Merskey, H. & Bogduk, N., (2014). International Association for the Study Of
Pain. [Online] Available at: http://www.iasp-pain.org/Taxonomy
[Accessed 28 April 2017].

Mulyadi, E. (2016). Modifikasi Model Spiritual Hipnosis Untuk Mengurangi


Nyeri Pasien Pasca Operasi. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan UniversitasWiraraja. Proseding Call For Paper.
ISBN: 978-602-1961. Naskah dipublikasikan

Mustawan, Z., (2008). eprint.ums. [Online] Universitas Muhammadiyah


Surakarta. Available at "http://eprints.ums.ac.id [Accessed 28 April
2017]

Potter, P.A., Perry, A.G., Stockert, P.A. & Hall, A.M., (2013). Fundamental of
Nursing. 8th ed. Missouri: Elsevier.

Praktisi Indonesia Health & Training Center (2014). Modul Pelatihan Hypnosis.
Jakarta.

Renee, C.B. et al., (2015). Journal of Pediatric Surgical Nursing : Hypnosis for
Postoperative Pain Management of Thoracoscopic Approach to Repair
Pectus Excavatum : Retrospective Analysis. p.4000.

Shakibaei, F. et al., (2008). Hypnotherapy in Management of Pain and


Reexperiencing of Trauma in Burn Patients. International Journal of
Clinical and Experimental Hypnosis, 56(2), pp.185–197. Available at:
http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00207140701849536
[Accessed 28 April 2017]

Triyono, B., (2010). Perbedaan tampilan kolagen di sekitar luka insisi pada tikus
wistar yang diberi infiltrasi penghilang nyeri levobupivakain dan yang
tidak diberi levobupivakain. Institutional Repository, 1(1), p.1.

10