Anda di halaman 1dari 11

USULAN PENELITIAN

EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS


(Ananas comosus L. Merr) PADA TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR WISTAR

NURUL RIZQAN SEPTIMA

F1F115021

PROGRAM STUDI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2018
USULAN PENELITIAN

EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS


(Ananas comosus L. Merr) PADA TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR WISTAR

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam melakukan penelitian dalam rangka
penulisan Skripsi pada Program Studi Farmasi

NURUL RIZQAN SEPTIMA

F1F115021

PROGRAM STUDI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diuretik adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran


kemih (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal untuk
meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida (Tjay dan Rahardja,
2002). Secara normal reabsorpsi garam dan air dikendalikan masing
masing oleh aldosteron dan vasopresin. Sebagian besar diuretik bekerja
denganmenurunkan reabsorpsi elektrolit oleh tubulus. Ekskresi
elektrolit yang meningkatdiikuti oleh peningkatan ekskresi air, yang
dapat mempertahankan keseimbanganosmotik (Neal, 2006:
34).Pengeluaran urin terutama digunakan untuk mengurangi sembab
yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah cairan luar sel, pada
keadaan yang berhubungan dengan kegagalan jantung kongestif,
kegagalan ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keracunan kehamilan,
glaukoma, hiperkalsemia, diabetes insipidus dan sembab yang
disebabkan oleh penggunaan jangka panjang kortikosteroid (Siswandono
dan Soekardjo, 2000).
Namun obat-obatan diuretik sintetik memiliki kekurangan atau
efek samping jika dikonsumsi jangka panjang diantaranya menyebabkan
ganguan keseimbangan cairan dan elektrolit seperti hipokalemia,
hiperurikemia, hiperglikemia, hiperlipidemia. Selain itu juga memiliki
indikasi untuk penderita nefritis interstisialis alergik yang menyebabkan
gagal ginjal (Tjay dan Rahardja, 2010). Salah satu sumber bahan obat
diuretik berasal dari bahan alam adalah kulit nanas.
Nanas merupakan makanan penting yang dapat dimakan
langsung atau dimakan dalam bentuk olahan. Adapun olahan nanas
yang sudah sering dijumpai di masyarakat yaitu dodol nanas, selai
nanas, jelly nanas, keripik nanas, dan sirup nanas .
Berbagai produk yang dihasilkan dari olahan nanas, tentunya
akan menyisakan limbah yaitu berupa kulit nanas. Seringkali kita
jumpai di pasar-pasar, limbah kulit nanas ini kurang dimanfaatkan
bahkan dibuang begitu saja di tempat sampah. Semakin lama kulit
nanas dibiarkan menumpuk tentunya akan mencemari lingkungan

1
2

terutama baunya yang tidak enak. Sangat disayangkan bila kulit nanas
hanya menjadi pencemar lingkungan, padahal kulit nanas mengandung
flavonoid, alkaloid, tannin, dan steroid (Kalaiselvi et al., 2012). Akan
lebih baik bila limbah kulit nanas ini dapat dimanfaatkan dengan baik
melihat kandungan senyawa aktif dalam kulit nanas.
Flavonoid yang merupakan salah satu metabolit sekunder dari
tanaman mempunyai aktivitas biologis yang cukup beragam diantaranya
aromatik, diuretik, analgetik, pengendur otot, antioksidan dan
antiinflamasi. Mekanisme kerja flavonoid sebagai diuretik dengan cara
meningkatkan laju kecepatan glomerulus dan menghambat reabsorpsi
Na+ dan Cl– sehingga menyebabkan peningkatan Na+dan air dalam
tubulus(Jouad,2001). Selain itu menurut jayadi dkk (2015) infusa akar
seledri dapat meningkatkan volume urin yang disebabkan karena
adanya kandungan flavonoid yang berperan dalam meningkatkan
volume urin (diuresis). Dari hasil penelitian tersebut juga dapat
diketahui bahwa flavonoid memiliki aktivitas diuretik sehingga
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya efek
diuretik dari ekstrak etanol kulit nanas karena pada kulit nanas
terdapat terdapat banyak senyawa flavonoid.
1.2 Identifikasi dan perumusan masalah

Kulit nanas dapat memiliki efek diuretik karena pada kulit nanas
memiliki senyawa flavonoid. Flavonoid yang merupakan salah satu
metabolit sekunder dari tanaman mempunyai aktivitas biologis yang
cukup beragam. Salah satu efek flavonoid yaitu diuretik. Mekanisme
kerja flavonoid sebagai diuretik dengan cara meningkatkan laju
kecepatan glomerulus dan menghambat reabsorpsi Na+ dan Cl–
sehingga menyebabkan peningkatan Na+dan air dalam tubulus.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah :
1. Apakah ekstrak etanol kulit nanas mempunyai efek diuretik pada
tikus putih jantan galur Wistar?
2. Pada dosis berapa ekstrak etanol kulit nanas menunjukkan efek
diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar?
1.3 Hipotesis
Ekstrak etanol kulit nanas memiliki aktivitas diuretik pada tikus
jantan galur wistar
1.4 Tujuan
1. Mengetahui efek diuretik ekstrak etanol kulit nanas pada tikus putih
jantan galur Wistar.
2. Mengetahui dosis ekstrak etanol kulit nanas yang dapat memberikan
efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar.
1.5 Manfaat
1. Memberikan informasi bahwa ekstrak etanol kulit nanas berkhasiat
sebagai diuretik
2. Memberikan referensi mengenai dosis dari ekstrak etanol kulit nanas
yang menimbulkan efek diuretic
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nanas (Ananas comosus. L)

Nanas diperkiran berasal dari Amerika Selatan, tanaman


nanas (Ananas comosus. L) pertama kali ditemukan oleh orang
Eropa pada tahun 1493 di pulau Caribbean yang kemudian
tanaman ini dinamai Guadalupe. Pada akhir abad ke- 16,
penjelajah Portugis dan Spanyol memperkenalkan Ananas
comosus. L ke benua Asia. Afrika dan Pasifik Selatan merupakan
negara-negara di mana Ananas comosus. L masih berkembang saat
ini. Pada abad 18 Ananas comosus. L mulai dibudidayakan di
Hawaii, satu-satunya negara di Amerika di mana tanaman ini
masih tumbuh. Selain Hawaii, negara-negara lain yang secara
komersial tumbuh nanas termasuk Thailand, Filipina, China,
Brasil dan Meksiko ( D.Lawal, 2013).
Tanaman nanas merupakan tanaman buah berupa semak
yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. L. memiliki nama
daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Dalam bahasa Inggis
disebut Pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya Pina.
Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina
dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15,
(1599). Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman
pekarangan, dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di
seluruh wilayah nusantara. Tanaman ini kini dipelihara di daerah
tropik dan sub tropik (Prihatman, 2000).
2.2 Klasifikasi Ilmiah Nanas

Klasifikasi ilmiah atau taksonomi dari nanas adalah sebagai berikut:


Tabel 2.1 Klasifikasi Ilmiah Nanas (D.Lawal, 2013)
Kingdom Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-division Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas Dicotyledonae (tumbuhan berkeping biji dua)
Sub-class Magnoliales
Ordo Annonales
Family Annonaceae
Genus Annona
Species comosus
2.3 Morfologi Tanaman Nanas

Nanas (Ananas comosus. L) merupakan salah satu buah tropis


yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Buah nanas selain
digemari masyarakat untuk konsumsi buah segar, juga merupakan
bahan baku industri buah kalengan dan olahan seperti selai, sirup
dan lain-lain. Indonesia memiliki berbagai macam jenis nanas yang
telah dibudidayakan oleh para petani mulai dari Sumatra sampai
Irian Jaya. Nanas dapat tumbuh di wilayah dengan tipe iklim
pertumbuhan yang berbeda-beda mulai dari dataran tinggi sampai
dataran rendah. Daerah penghasil buah nanas adalah Palembang,
Riau, Jambi, Bogor, Subang, Pandeglang, Tasikmalaya, dan Kutai.
Buah nanas sudah menjadi trademark bagi suatu daerah atau
wilayah. Menurut Whiting rasa pada buah nanas merupakan
perpaduan antara gula dan asam (Irfandi, 2005).
Berdasarkan habitat tanaman, terutama bentuk daun dan buah
dikenal 4 jenis golongan nanas, yaitu (Kumalasari, 2011) :
a. Cayenne :
Daun halus, ada yang berduri dan ada yang tidak berduri, ukuran
buah besar, silindris, mata buah agak datar, berwarna hijau
kekuning-kuningan, dan rasanya agak masam.
b. Queen :
Daun pendek dan berduri tajam, buah berbentuk lonjong mirip
kerucut sampai silindris, mata buah menonjol, berwarna kuning
kemerah-merahan dan rasanya manis.
c. Spanish :
Daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan
mata datar.
d. Abacaxi :
Daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida.

Varietas nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan


Cayyene dan Queen. Golongan Spanish dikembangkan di
Kepulauan India Barat, Puerto Riko, Meksiko dan Malaysia.
Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia (Kumalasari, 2011).
2.4 Kulit Nanas
Kulit nenas merupakan produk hasil olahan industri yang terdiri
dari sisa daging buah, kulit, dan kulit terluar. Jika kulit nenas tidak
dimanfaatkan bisa menyebabkan pencemaran lingkungan. Kulit
nanas merupakan sumber potensial untuk pemanfaatan dari
senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya, terutama enzim
Bromelin (Ketnawa dkk, 2009). Selain itu kulit nanas juga
mengandung flavonoid, alkaloid, tannin, dan steroid (Kalaiselvi et al.,
2012). Akan lebih baik bila limbah kulit nanas ini dapat
dimanfaatkan dengan baik melihat kandungan senyawa aktif dalam
kulit nanas.

Gambar 2.1 Kulit Nanas (Plur, 2010)

2.5 Diuretik
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan
pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian,
pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang
diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran
(kehilangan) zat-zat terlarut dan air. Fungsi utama diuretik adalah
untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan
ekstrasel kembali menjadi normal (Tanu, 2009).
Diuretik berperan dalam penurunan tekanan darah yang terjadi
setelah penggunaan senyawa ini berlangsung 2 fase. Penurunan
tekanan darah mula-mula terjadi akibat peningkatan eksresi
natrium. Konsentrasi ion natrium terjadi penurunan akibatnya
volume plasma dan volume menit jantung akan turun, sebaliknya
tekanan perifer (secara reflektoris) agak naik. Pada fase kedua,
volume plasma akan dinormalkan kembali dan eksresi natrium akan
hampir sama dengan harga awal terapi. Penurunan tekanan darah
pada fase ini kemungkinan terutama disebabkan oleh kurangnya
kandungan natrium dalam dinding pembuluh (Ernst Mutschler,
1991). Tetapi pada umumnya yang digunakan dalam menangani
hipertensi adalah dengan menggunakan obat-obatan sintetis seperti
furosemid (Tanu, 2009).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN