Anda di halaman 1dari 20

5 M Asuhan Pasien

Manajemen asuhan keperawatan yang baik sangat dibutuhkan dalam


memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara sistematis dan terorganisir.
Manajemen asuhan keperawatan merupakan pengaturan sumber daya dalam
menjalankan kegiatan keperawatan dengan menggunakan metoda proses
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien atau menyelesaikan masalah klien
(Keliat, 2000).
Menurut Illie G. Dan Ciocoiu C.N (2010) mengutip dari Basic Tools for
Process Improvement (2009) bahwa diagram Fishbone (Ishikawa) menggunakan
kategori 5M yang biasa digunakan dalam mengidentifikasi penyebab dari
permasalahan yang timbul pada industri manufaktur, antara lain :
1. Machine (mesin atau teknologi), digunakan dalam menunjang kegiatan
perusahaan baik operasional maupun nonoperasional.
2. Method (metode atau proses), digunakan sebagai panduan pelaksanaan
kegiatan perusahaan
3. Material (termasuk raw material, konsumsi, dan informasi), digunakan
sebagai unsur utama untuk diolah sampai menjadi produk akhir untuk
diserahkan pada konsumen.
4. Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) / Mind Power (pekerjaan,
pikiran, saran, dsb).
5. Milieu / Mother Nature (lingkungan, seperti lokasi, waktu, temperatur, dan
kultur dimana proses beroperasi).
5M adalah istilah yang merujuk pada faktor produksi utama yang dibutuhkan
oleh suatu organisasi agar dapat beroprasi secaara maksimal. Dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah Model 5M.

A. MAN
Man (Manusia) berkaitan dengan aspek tenagakerja yang dapat dilihat dari
aspek (Misbahuddin, 2008) :
1. Lemahnya pengetahuan
2. Kurang ketrampilan
3. Pengalaman
4. Kelelahan
5. Kekuatan fisik
6. Lambatnya kecepatan kerja
7. Banyak tekanan kerja
8. Stress dll.
Dalam aspek Man terdapat faktor yang mempengaruhi penentuan
ketenagakerjaan, antara lain :
1. Kebutuhan tenagakerja perawat
Kebutuhan tenagakerja perawat dapat ditentukan berdasarkan klasifikasi
pasien, antara lain :
a. Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
Menurut Douglas (1984), klasifikasi kebergantungan klien terbagi
tiga kategori:
 Perawatan minimal memerlukan waktu 1-2 jam / 24 jam dengan
kriteria:
1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2) Makan dan minum dilakukan sendiri
3) Ambulansi dengan pengawasan
4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift)
5) Pengobatan minimal dgn status psikologis stabil
 Perawatan parsial memerlukan waktu 3-4 jam /24 jam dengan
kriteria:
1) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
2) Obsevasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
3) Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4) Klien dengan kateter urin, pemasukan, dan pengeluaran dicatat
5) Klien dengan infus, persiapan pengobatan memerlukan
prosedur
 Perawatan total memerlukan waktu 5-6 jam / 24 jam dengan
kriteria:
1) Segala keperluan klien dibantu
2) Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap
2 jam
3) Makan melalui selang lambung , terapi intravena
4) Dilakukan suksion
5) Gelisah / disorientasi
b. Jumlah tenagakerja perawatan yang diperlukan
Jumlah tenagakerja perawat yang diperlukan dapat dihitung dengan
berbagai metode (Mugianti, 2016), antara lain :
 Menurut Minetti & Hurchinsun (1975) dengan memperhatikan
waktu yang diperlukan untuk melakukan tindakan keperawatan
1) Waktu keperawatan langsung:
 self care = ½ x 4 jam = 2 jam
 partial care = ¾ x 4 jam = 3 jam
 total care = 1- 1 ½ jam x 4 jam = 4 – 6 jam
 intensif care = 2 x 4 jam = 8 jam
Rata-rata waktu keperawatan langsung 4 – 5 jam per klien per
hari
2) Waktu keperawatan tidak langsung:
 Gillies, 1989 menyebut rata-rata 38 menit/psn/hr
 Wolfe dan Young dalam Gillies 1989 menyebutkan 60
mnt/psn/hr
3) Waktu penyuluhan klien
Penyuluhan kesehatan klien sebaiknya dilakukan kurang lebih
15 menit/ pasien/ hari
Penghitungan waktu yang diperlukan untuk keperawatan klien
diperoleh dari jumlah waktu keperawatan langsung, tidak langsung
dan penyuluhan kesehatan. Penentuan tenaga kerja tergantung:
1) Jumlah klien/hr/tahun dalam 1 unit
2) Kondisi/ tingkat ketergantungan
3) Rata-rata hari rawat
4) Waktu yang dibutuhkan untuk tindakan keperawatan
5) dll (sosek, bencana, politik, hukum, dan peraturan pemerintah,
musim, kemajuan IPTEK)
Rumus:
∑ jam kprw yg Rata-rata ∑ jam kprw yg
dibutuhkan X sensus psn/hr X ∑ hr/thn = dibutuhkan/th psn/hr
Hari/thn - hari libur msg-msg X ∑ jam kerja ∑ jam kerja
perawat msg prwt prwt perth
= jumlah perawat di unit tsb

Rasio perawat ahli ; trampil : trampil = 55% : 45%


Proporsi dinas pagi: sore : malam = 47% : 36 : 17%
 Menurut Douglas (1984), tergantung dari derajat ketergantungan
klien
∑ perawat = ∑ pasien x derajat ketergantungan pasien
∑ Minimal Parsial Total
psn Pagi Sore Malam Pagi Sore Malam Pagi Sore Malam
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60

 Penghitungan Depkes, 2003 berdasarkan klasifikasi pasien


Cara penghitungan berdasarkan:
1) Tingkat ketergantungan pasien
2) Rata-rata pasien per hari
3) Jam perawatan yang diperlukan/hr/pasien
4) Jam perawatan yang diperlukan/ruangan/hari
5) Jam kerja efektif setiap perawat
Hitungan Depkes, 2003
No. Jenis/ kategori Rata2 Rata2 perawat Jumlah jam
pasien pasien/hari pasien/hari
1. Penyakit dalam 10 3,5 35
2. Bedah 8 4 32
3. Gawat 1 10 10
4. Anak 3 4,5 13,5
5. Kebidanan 1 2,5 2,5
Jumlah 23 93

Jumlah jam perawatan


Jam kerja efektif per shift

Penghitungan ditambah faktor koreksi hari libur/cuti/hari besar dan


juga adanya tugas-tugas non keperawatan seperti membuat rincian
pasien, dll
1) Loss day/hari libur/cuti/hari besar
Jml.hr.mgg dlm 1 th + cuti + hr besar X jml.perawat tersedia
Jml.hr kerja efektif
2) Tugas non keperawatan
Jml. tng. kep. + loss day x 25
100
2. Kualifikasi pendidikan
Tingkat pendidikan dalam keperawatan :
a. DIII Keperawatan’
b. S1 Keperawatan
c. S2 Keperawatan
d. Specialist Keperawatan
e. S3 Keperawatan
Tinggi rendahnya tingkat pendidikan sangat mempengaruhi keahlian
dalam memberikan asuhan keperawatan profesional.
3. Masa kerja
Masa kerja dapat dilihat menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Masa kerja > 5 tahun
b. Masa kerja < 5 tahun
Faktor-faktor tersebut mempengaruhi profesionalitas kinerja perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat mempengaruhi mutu rumah
sakit (Mumarridzoh, 2015).
B. Milieu / Mother Nature
1) Lingkungan kerja dibagi menjadi 2 :
a) Lingkungan kerja fisik
Semua keadaan yang berbentuk fisik yng terdapat di area tepat
kerja yang dapat mempengaruhi kinerja dan dapat mengganggu misi
perbaikan.
Lingkungan fisik dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan aktivitas
pekerjaan. Misalnya, posisi kursi, posisi meja, dll.
b. Lingkugan umum yang mempengaruhi aktivitas pekerjaan.
Misalnya, temperature udara, kelembaban, keamanan di
tempat kerja, dll.
b) Lingkungan kerja non fisik
Semua keadaan yang terjadi di tempat kerja yang berkaitan dengan
hubungan kerja baik dengan atasan, dengan bawahan apalagi dengan
sesame rekan kerja. Jika di area gugus memang mengalami hal ini yang
mengakibatkan komunikasi terhambat sehingga mengganggu aktivitas
pencapaian misi perbaikan maka bisa dipakai sebagai faktor penyebab
dalam diagram fishbone.
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja (Sedarmayanti,
2001:1)
a. Penerangan/cahaya di tempat kerja
Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan
guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja. Oleh sebab itu perlu
diperhatikan adanya penerangan tetapi tidak menyilaukan. Jika
penerangan kurang jelas akan menyebabkan lambatnya pekerjaan.
b. Temperature/suhu udara di tempat kerja
Dalam keadaan normal, tiap anggota tubuh manusia mempunyai
temperature berbeda. Tubuh manusia selalu berusaha untuk
mempertahankan keadaan normal, dengan suatu system tubuh yang
sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi di luar tubuh. Tapi kemampuan tersebut ada batasnya, yaitu bahwa
tubuh manusia masih dapat menyesuaikan diri dengan temperature luar
jika perubahan temperature luar tubuh tidak lebih dari 20% untuk kondisi
panas dan 35% untuk kondisi dingin, dari keadaan normal tubuh.
c. Kelembaban di tempat kerja
Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara.
Kelembaban ini dipengaruhi oleh temperature udara, dan secara bersama-
sama antara temperatur, kelembaban, kecepatan udara bergerak dan
radiasi panas dari udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh
manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya.
Suatu keadaan dengan temperatur udara sangat panas dan kelembaban
tinggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-
besaran, karena sistem penguapan. Pengaruh lain adalah makin cepatnya
denyut jantung karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi
kebutuhan oksigen, dan tubuh manusia selalu berusaha untuk mencapai
keseimbangan antar panas tubuh dengan suhu disekitarnya.
d. Kebisingan di tempat kerja
Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk
mengatasinya adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh
telinga. Tidak dikehendaki, karena terutama dalam jangka panjang bunyi
tersebut dapat mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran,
dan menimbulkan kesalahan komunikasi, bahkan menurut penelitian,
kebisingan yang serius bisa menyebabkan kematian. Karena pekerjaan
membutuhkan konsentrasi, maka suara bising hendaknya dihindarkan
agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien sehingga
produktivitas kerja meningkat.
e. Tata warna di tempat kerja
Menata warna di tempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan
dengan sebaik-baiknya. Pada kenyataannya tata warna tidak dapat
dipisahkan dengan penataan dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena
warna mempunyai pengaruh besar terhadap perasaan. Sifat dan pengaruh
warna kadang-kadang menimbulkan rasa senang, sedih, dan lain-lain,
karena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan manusia.
f. Dekorasi di tempat kerja
Dekorasi ada hubungannya dengan tata warna yang baik, karena itu
dekorasi tidak hanya berkaitan dengan hasil ruang kerja saja tetapi
berkaitan juga dengan cara mengatur tata letak, tata warna, perlengkapan,
dan lainnya untuk bekerja.
g. Keamanan di tempat kerja
Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam
keadaan aman maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu
upaya untuk menjaga keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan
tenaga Satuan Petugas Keamanan (SATPAM).
E. METHOD
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan
manajer. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan
kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan
kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu serta uang
dan kegiatan usaha.
A. Macam Metode
1. Metode Fungsional
Metode fungsionais merupakan pengorganisasian tugas
pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas
menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Contoh : Perawat A
tugasnya menyuntik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan
klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih
untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan (head
nurse) bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan
menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua
pertanyaan tentang klien. Orientasi pada jenis tugas tertentu.
a) Pendekatan ini efisien , dalam arti :
 Semua jenis pekerjaan akan terkelola dan terkontrol
 Waktu pengerjaan lebih singkat
 Seseorang dengan jenis tugas tertentu untuk jangka waktu
lama akan menjadi sangat trampil terhadap tugas tersebut
 Dibutuhkan: uraian kerja, protap jelas, kontrol terstruktur
Model ini cocok untuk keadaan darurat, tetapi kurang untuk
meningkatkan mutu askep (Gillies,1989; Tomey,1992).
Metode pemberian asuhan keperawatan fungsional
pertamakalinya berkembang pada saat perang dunia ke II.
Kebanyakan institusi menganggap keperawatan fungsional
memiliki nilai ekonomis dalam pemberian pelayanan
kesehatan. Hal tersebut benar jika kualitas pelayanan dan
pelayanan yang holistik bukan sesuatu hal yang penting.
b) Keuntungan:
 Perawat terampil untuk tugas /pekerjaan tertentu.
 Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah
selesai tugas.
 Kekurangan tenaga yang ahli dapat diganti dengan tenaga
yang kurang berpengalaman untuk satu tugas yang
sederhana.
 Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau
peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.

c) Kerugian
 Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau total sehingga
proses keperawatan sulit dilakukan.
 Apabila pekerjaan selesai cenderung meninggalkan klien
dan melakukan tugasnon keperawatan.
 Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit
diidentifikasi kontribusinya terhadap pelayanan.
 Perawat hanya melihat asuhan keperawatan sebagai
keterampilan saja.
d) Hal – hal yang harus dipertimbangkan
 Pendekatan fungsional lebih menekankan teknik –
prosedural, tidak memperhatikan keberadaan klien secara
utuh dan unik
 Pelayanan terfragmentasi, kesinambungan asuhan tidak
terjamin
 Ada kemungkinan, jenis tugas tertentu tidak teridentifikasi
sehingga luput dari perhatian staf
 Semua anggota tim harus paham terhadap permasalahan
klien – intervensi dan dampaknya – karenanya dibutuhkan
case conference secara periodik dan berkesinambungan
2. Metode Tim Keperawatan
Metode tim keperawatan yaitu pengorganisasian pelayanan
keperawatan oleh sekelompok klien dan sekelompok klien.
Kelompok ini dipimpin oleh perawat profesional yang
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya
(registered nurse). Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan
oleh pimpinan kelompok/ketua tim. Selain itu ketua tim
bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota grup/tim.
Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan
keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam
menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan. Selanjutnya
ketua tim yang melaporkan pada kepala ruangan tentang kemajuan
pelayanan/asuhan keperawatan terhadap klien.
Tim keperawatan dikembangkan pada tahun 1950-an dalam
upaya mengurangi masalah yang berhubungan dengan fungsi
pengorganisasian pelayanan pasien. Banyak yang percaya
meskipun terus-menerus kekurangan staf perawat professional,
system pelayanan pasien harus dikembangkan untuk mengurangi
pelayanan yang terpilah-pilah dari metode keperawatan fungsional.
Dalam keperawatan tim, tenaga pendukung berkolaborasi dalam
memberikan pelayanan terhadap sekelompok pasien di bawah
arahan seorang perawat professional. Seorang ketua tim
bertanggung jawab mengetahui kondisi dan kebutuhan seluruh
pasien yang dirawat oleh tim. Kewajiban ketua tim bergantung
kepada kebutuhan pasien dan beban kerja, termasuk membantu
anggota tim, memberikan pelayanan langsung kepada pasien,
mendidik pasien dan melakukan koordinasi terhadap aktivitas
pasien. Melalui komunikasi tim yang terus-menerus, pelayanan
kompehensif akan dapat diberikan kepada pasien meskipun relative
banyak staf pendukung. Keperawatan tim biasanya berkaitan
dengan pola kepemimpinan demokratis. Anggota tim diberikan
otonomi sebanyak mungkin dalam mengerjakan tugas meskipun
juga berbagi dalam tanggung jawab dan tanggung gugatnya.
Mengakui nilai-nilai individual karyawan dan memberikan
otonomi kepada anggota tim akan menghasilkan kepuasan kerja
yang tinggi.
Beberapa keuntungan dan kerugian metode keperawatan tim dapat
dilihat sebagai berikut:

a) Keuntungan
 Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang
komprehensif
 Memungkinkan pencapaian proses keperawatan
 Konflik atau perbedaan pendapat antar staf daapt
ditekan melalui rapat tim cara ini efektif untuk
belajar.
 Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan
interpersonal
 Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota
tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.
b) Kerugian
 Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi
sibuk rapat tim ditiadakan atau terburu-buru
sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan
koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga
kelancaran tugas terhambat.
 Perawat yang belum terampil dan belum
berpengalaman selalu tergantung atau berlindung
kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
 Akuntabilitas dalam tim kabur
c) Pelaksanaan metode tim harus didasarkan pada konsep
berikut:
 Ketua tim diberikan pada perawat profesional dan
harus mampu menggunakan berbagai tehnik
kepemimpinan, manajemen dan komunikasi efektif.
 Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang
prioritas perencanaan, supervisi, dan evaluasi
asuhan keperawatan.
 Komunikasi yang efektif penting untuk menjamin
kontinuitas rencana perawatan. Komunikasi yang
terbuka dapat dilakukan
 Melalui berbagai cara terutama melalui rencana
perawatan tertulis yang merupakan pedoman
pelaksanaan asuhan, supervisi dan evaluasi.
 Anggota tim harus menerima dan menghargai
kepemimpinan ketua tim. Ketua tim membantu
anggotanya untuk memahami dan melakukan tugas
sesuai dengan kemampuan mereka.
d) Prinsip tim keperawatan:
 Suatu model asuhan yang dilaksanakan oleh suatu
tim terhadap satu atau sekelompok klien/pasien
 Tim dipimpin oleh seorang perawat yang secara
klinis kompeten, mempunyai kemampuan yang baik
dalam komunikasi, mengorganisasi, dan memimpin
 Dalam model ini, tim dapat terdiri dari pelaksana
asuhan dengan level kemampuan yang berbeda
tetapi semua aktifitas tim harus terkoordinasi secara
baik
 Dalam proses asuhan, dibutuhkan kesinambungan
antar tim untuk setiap shift dinas (Pagi – Sore –
Malam). Dokumentasi akurat, timbang terima
berbasis pasien
 Semua anggota tim harus paham terhadap
permasalahan klien – intervensi dan dampaknya –
karenanya dibutuhkan case conference secara
periodik dan berkesinambungan
3. Metode Primer
Metode keperawatan primer merupakan suatu metode
pemberian asuhan keperawatan, dimana seorang perawat register
bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien dalam 24 jam.
Metode keperawatan primer berkembang pada awal tahun 1970-an
menggunakan beberapa konsep pelayanan keperawatan total dan
membawa perawat teregister kembali ke sisi tempat tidur untuk
memberikan pelayanan klinis. Sesungguhnya Manthey (2001)
dalam Marquis, B.L. & Huston, C., J. (2002) menganjurkan bahwa
hanya keperawatan primer jenis pemberian pelayanan pasien yang
mengharuskan hubungan perorangan antara seorang perawat dan
pasien dengan tanggung jawab dalam perencanaan dan pengelolaan
pelayanan secara jelas. Keperawatan primer didesain dengan
seorang tenaga keperawatan profesional terhadap 4-5 klien sebagai
perawat primer yang bertanggung jawab terhadap kondisi klien,
semua kebutuhan dan koordinasi dengan tim kesehatan lainnya.
Perawat primer bertanggung jawab mulai klien masuk sampai
pulang. Perawat Primer bertangungjawab untuk mengadakan
komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan
keperawatan dan juga akan membuat rencana pulang klien jika
diperlukan. Pada saat tidak bertugas perawat primer lain bertindak
sebagai perawat asosiet.
Tanggung jawab penting perawat primer adalah mengatur
komunikasi yang jelas di antara pasien, dokter, perawat asosiet,
dan tim kesehatan lainnya. Kombinasi komunikasi yang baik dan
keberadaan interdisiplin dalam satu grup dalam memberikan
pelayanan langsung meningkatkan kualitas pelayanan pasien secara
holistic.
Meskipun kepuasan kerja tinggi dalam keperawatan primer,
metode ini sulit diimplementasikan karena dibutuhkan tanggung
jawab dan otonomi yang tinggi dari perawat primer. Sehingga bila
perawat mengembangkan kemampuannya dalam pemberian
pelayanan keperawatan primer, mereka akan merasa tertantang dan
harus mendapatkan harga yang setimpal. Berikut beberapa
keuntungan dan kerugian metode keperawatan primer:
a) Keuntungan
 Model praktek keperawatan profesional dapat
dilakukan atau diterapkan.
 Memungkinkan asuhan keperawatan yang
komprehensif
 Memungkinkan penerapan proses keperawatan
 Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
 Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga
menerima asuhan keperawatan
b) Kerugian
 Hanya dapat dilakukan oleh perawat professional
 Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain
4. Metode Moduler
Metode keperawatan modul merupakan metode modifikasi
keperawatan tim – primer, yang dilaksanakan untuk meningkatkan
efektifitas konsep keperawatan tim melalui penugasan modular.
Perawat profesional dan vokasional bekerjasama dalam merawat
sekelompok klien dari mulai masuk ruang rawat hingga pulang
(tanggung jawab total)
Metode ini juga memerlukan perawat yg berpengetahuan
luas dan trampil, kemampuan kepemimpinan baik dimana
pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan
oleh perawat profesional dan non profesional (trampil) untuk
sekelompok klien dari mulai masuk rumah sakit sampai pulang
disebut tanggung jawab total atau keseluruhan. Untuk metode ini
diperlukan perawat yang berpengetahuan, terampil dan memiliki
kemampuan kepemimpinan. Idealnya 2-3 perawat untuk 8 – 12
orang klien.
a) Keuntungan dan Kerugian
 Sama dengan gabungan antara metode tim dan
metode keperawatan primer.
 Semua metode di atas dapat digunakan sesuai
dengan situasi dan kondisi ruangan. Jumlah staf
yang ada harus berimbang sesuai dengan yang telah
dibahas pembicara yang sebelumnya. Selain itu
kategori pendidikan tenaga yang ada perlu
diperhatikan sesuai dengan kondisi ketenagaan yang
ada saat ini di Indonesia
5. Metode Kasus
Metode ini adalah suatu penugasan yang diberikan kepada
perawat untuk memberikan asuhan secara total terhadap seorang
atau sekelompok klien.
a) Berpusat pada client/pasien
Perawat bertanggung jawab untuk melakukan asuhan secara
komprehensif terhadap satu atau sekelompok pasien pada
shift dinas tertentu
b) Secara konsisten pasien dilayani oleh perawat yang sama
dalam satu periode/shift dinas
c) Dibutuhkan level kompetensi yang tinggi dari pelaksana
asuhan

B. Pengumpulan data yang akan dilakukan pada Metode adalah


1. Penerapan MAKP (Manajemen Asuhan Keperawatan)
Manajemen asuhan keperawatan dilakukan oleh :
a) Kepala Ruang
b) Ketua Tim
c) Perawat Pelaksana
2. Operan
Operan merupakan suatu timbang terima tugas dari shift satu ke
shift lain dengan waktu, isi dan strategi yang telah ditentukan.
Operan mengkomunikasikan secara tertulis dan lisan pada staf
keperawatan dan tim kesehatan lain yang memerlukan data klien
secara teratur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa operan yang
dilakukan sesuai juknis yang berlaku. Adapun beberapa hal yang
perlu diperhatikan agar operan efektif adalah operan dilaksanakan
tepat waktu pada saat pergantian dinas yang telah disepakati,
operan diipimpin oleh katim, operan diikuti oleh semua perawat
yang akan dan telah selesai berdinas dan harus berjalan ke pasien
dan bertemu pasien secara langsung.
3. Ronde Keperawatan
4. Pengelolaan logistik dan obat
5. Perencanaan Pulang (Discharge Planning)
6. Supervisi
Supervisi adalah merencanakan, mengarahkan,
membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong,
memperbaiki, mempercayai dan mengevaluasi secara terus-
menerus dengan sabar, adil serta bijaksana sehingga setiap perawat
dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, terampil,
aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan
kemampuan dan keterbatasan perawat (Kron, 1997) Adapun hal
mengenai supervisi di ruang Bougenvile adalah:
a) Mekanisme supervisi terhadap staf.
Supervisi dilakukan secara langsung oleh kepala ruang
kepada perawat anggota, kepala ruang juga melakukan
penilaian kinerja kepada perawat anggota dan hasil
penilaian dimasukkan ke dalam raport yang hasilnya akan
diserahkan ke bagian keperawatan
b) Mekanisme supervisi terhadap asuhan keperawatan.
Supervisi dilakukan secara tidak langsung oleh tim
keperawatan terkait dengan pendokumentasian asuhan
keperawatan yang berada diruangan
c) Faktor penghambat supervise
Adanya jumlah supervisor yang terbatas dan beban yang
harus dilakukan supervise banyak. Supervisi yang
dilakukan umumnya sudah sesuai dengan prinsip dan
pedoman yang telah ditetapkan. Pada ruang Bougenvil ini
sudah dilakukan pengajuan supervise tambahan sebanyak
satu orang. Hal ini telah memberikan kontribusi yang baik
terhadap kelancaran supervise, hanya saja terdapat beberapa
hambatan yaitu adanya senioritas ruangan, namun tidak
menghalangi kelancaran supervisi dalam melakukan
pengawasan terhadap ruangan.

7. Dokumentasi
P P P P P P P P P P
No Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A Pengkajian
1 Mencatat data yang dikaji dengan pedoman
pengkajian
2 Data dikaji sejak pasien masuk sampai pulang
3 Masalah dirumuskan berdasarkan kesenjangan antara
status kesehatan dengan norma dan pola fungsi
kehidupan
B Diagnosa keperawatan
1 Diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang
telah dirumuskan
2 Merumuskan diagnosa keperawatan actual/potensial
C Rencana tindakan
1 Berdasarkan diagnosa keperawatan
2 Disusun menurut urutan prioritas
3 Rumusan tujuan mengandung komponen
pasien/subjek perubahan, perilaku, kondisi pasien dan
atau criteria
4 Rencana tindakan mengacu pada tujuan dengan
kalimat perintah, terinci dan jelas
5 Rencana tindakan menggambarkan keterlibatan
pasien atau keluarga
6 Rencana tindakan menggambarkan kerjasama tim
kesehatan lain
D Tindakan
1 Tindakan dilaksanakan sesuai rencana
2 Perawat mengobservasi respon pasien terhadap
tindakan keperawatan
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi
4 Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat
ringkas dan jelas
E Evaluasi
1 Perawat mengevaluasi respon pasien sesuai dengan
kriteria hasil yang sudah ditentukan
2 Perawat mengevaluasi respon pasien, analisa
masalah keperawatan dan rencana tindak lanjut.
F Catatan asuhan keperawatan
1 Menulis pada format yang baku
2 Pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan yang
dilaksanakan
3 Setiap melakukan tindakan perawat mancantumkan
paraf/nama jelas dan tanggal jam dilakukan tindakan
4 Berkas catatan keperawatan disimpan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
TOTAL

RATA-RATA

DAFTAR PUSTAKA
Emerson, H dalam Phiffner, J.F. dan Robert, P.V. 1960. 5 Unsur
Manajemen.
Mugianti, S. 2016. Manajemen dan Kepemimpinan dalam Praktik
Keperawatan. Jakarta : Kemenkes RI
Mumarridzoh, Z. 2015. Managemen Keperawatan. Malang. PSIK
Universitas Brawijaya.
Satrianegara, M. Fais. 2009. Buku Ajar Organisasi dan Managemen
Pelayanan Kesehatan serta Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika,
Dasar-Dasar Manajemen. Yayasan Trisakti.
Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja.
Bandung : Mandar Maju