Anda di halaman 1dari 12

Thursday, December 22, 2011

PENYAKIT MASYARAKAT
A. Penyebab Penyakit Masyarakat (PEKAT)
1. Masalah Ekonomi
Ketika mendengar kata ekonomi pasti uang yang akan tersirat dalam pikiran kita. Uang seakan-akan
menjadi raja dalam kehidupan. Uang dapat menyejahterakan orang karena dengan uang orang dapat memenuhi
kebutuhannya. Namun, masalahnya kemampuan orang untuk mendapatkan sejumlah uang tidaklah sama. Dilihat
dari beberapa aspek ( kepribadian : bekerja keras, ulet, dll; pendidikan : bakat, minat, prestasi; dan aspek lainnya

). Ketidaksamaan kemampuan mendapatkan uang antar individu dan kurang tepatnya peran pemerintah dalam

mengelola pasar inilah yang akan mengakibatkan penyakit masyarakat ( kemiskinan, frustasi yang lari ke narkoba,

adanya pekerja sek komersial, dll ). Masyarakat yang tidak mampu mendapatkan uang denganlayak akan

menghalalkan segala cara utuk memenuhi kebutuhan mereka.


2. Rendahnya Kualitas Pendidikan
Pendidikan meruapakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang masyarakat dapatkan guna
menghadapi tantangan masa depan. Pengertian pendidikan itu sendiri, yaitu Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Rendahnya kualitas
pendidikan merupakan salah satu faktor pendorong penyakit masyarakt karena dengan rendahnya pendidikan
dalam masyarakat maka masyarakat akan mudah untuk terhasut dan kurang bsa memahami apa yang baik untuk
dirinya dan untuk lingkungannya.
3. Globalisasi
Globalisasi menjadi salah satu factor penyebab penyakit masyarakat karena globalisasi merupakan suatu
proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan
memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara dan bersifat internasional, dan globalisasi itu lebih
condong kea rah budaya barat yang identik dengan kebebasan yg tidak sesuai dengan bangsa Indonesia.
4. Rendahnya Peran Keluarga dan Agama
Keluarga merupakan tempat dimana individu untuk pertama kalinya memperoleh pendidikan, rendahnya
peran keluarga akan menyebabkan penyakit masyarakat karena control keluarga merupakan hal penting yang harus
dilakukan guna mencegah individu melakukan penyimpangan. Sedangkan agama merupakan pondasi terpenting
yang harus dimiliki individu guna membentengi individu dari perbuatan menyimpang.

Pada zaman yang modern ini, pengaruh dari luar seperti budaya dan teknologi serta
tradisi yang serba instant membuat paradigma masyarakat berubah. Perubahan yang tidak
dikontrol dengan filter yang kuat menyebabkan tumbuhnya penyakit masyarakat.
A. Macam – macam Penyakit Masyarakat (PEKAT)
Macam-macam penyakit masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Pekerja Seks Komersial
2. Pecandu Narkotika

3. Pembunuhan

4. Pencurian

5. KKN
6. pemabukan

Dari macam – macam penyakit masyarakat diatas disini kami akan membahas lebih dalam tentang penyakit
masyarakat yaitu pecandu narkotika.
Pemakain obat bius disamping sebagai obat pembius untuk mencegah rasa sakit, juga sebagai masalah social
yang serius di Negara ini sejak lama. Kebanyakan pecandu menjual obat bius, agar dapat memperoleh uang untuk
membelinya, atau turut menjual belikan sehingga masalahnya menjadi lebih komplek. Para pecandu sering
dipandang sebagai penjahat yang sangat jahat serta berbahaya dan dirangkaikan dengan pembunuhan dan
pemerkosaan. Dalam kenyataanya pecandu adalah berbahaya, bukan ketika ia minum akan tetapi ketika ia tak
mempunyai candu ( ketagihan ) maka jiwa dan tubuhnya terganggu. Biasanya para pencandu narkotika mengalami
ketergantungan disebabkan karena:
1) Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan-tindakan berbahaya.
2) Menunjukan tindakan menentang, otoritas terhadap orang tua atau guru atau norma social.
3) Untuk mempermudah dan perbuatan seksual.
4) Untuk melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman-pengalaman emosionil
5) Untuk mencari dan menemukan arti dari pada hidup.
6) Untuk mengisi kekosongan dan kesepian atau kebosanan.Untuk menghilangakn kegelisahan, frustasi dan kepenatan
hidup.
Soedjono, 1994. Patologi Sosisal. Bandumg : Alumni ( hal 70 )
Seseorang yang menyalahgunakan narkotika telah ketagihan dan tergantung kepada zat-zat narkotika maka bila
pada saatnya tidak terpenuhi kebutuhannya dirinya akan tersiksa, dalam keadaan tersiksa dia akan berusaha
dengan jalan apa saja untuk memperolah uang agar bisa membeli narkotika untuk memenuihi kebutuhannya,
kadang-kadang untuk itu harus mencuri, merampas, dan disuruh orang untuk membunuh orang lain kemudian
diberi upah. Jelaslah bahwa orang yang telah ketagihan dan tergantun pada za-zat narkotika tidak saja merusak
dirinya, bahkan membawa kerugian pada masyarakat, karena mereka yang berada dalam ikatan zat-zat narkotika
bisa merupakan gangguan bagi masyarakat, antara lain membawa akibat-akibat gangguan lalu lintas,perbuatan
kekerasan dan, kriminalitas.
Bahaya narkotika yang disalah gunakan dapat membawa efek-efek terhadap tubuh masyarakat sebagai berikut:
a. Euphoria adalah perasaan kegembiraan yang ditimbulkan oleh narkotika yang sebenarnya tidak sesuai dengan
kenyataan yang sebenarnya, efek ini ditimbulkan oleh dosis ynag tidak terlalu tinggi.
b. Delirium adalah suatu keadaan menurunnya kesedaran disertai kegelisahan yanga gak hebat yang terjadi secara
mendadak, sehingga dapat menyebabkan gangguan koordinasi gerakan-gerakan motorik. Efek ini di timbulkan oleh
pemakaian dosis yang lebih tinggi dari dosis euphoria.
c. Hallucination adalah suatu kesalaha persepsi panca indra dimana seseoran melihat atau mendengar sesuatu yang
tidak ada pada keadaan sebenarnya.
d. Weakness adalah menimbulakan kelemahan baik psychis maupun physic, atau salah satu diantaranya.
e. Drowsiness adalah kesadara yang menurun sehingga seperti setengah tidur dengan diikuti ingatan yang kacau.
PEKAT (Penyakit Masyarakat)
Posted by faradilla at 3:15 pmBIM

Aug132010

BIM hukum

Narasumber : Budi Kuswanto, SH.

Announcer : Salsabilla

Definisi PEKAT di sisi yuridis kalau kita lihat di dalam ketentuan aturan sedikit banyak yang bisa
disampaikan kaitannya dengan penyakit masyarakat ini ada dalam ketetapan MPRS Tahun 1960,
disitu disebutkan ada beberapa gejala sosial dimana terjadi sebuah gejala yang mempengaruhi
keadaan sosial masyarakat dimana kemudian masyarakat tidak bisa menjalankan seluruh fungsi
sosialnya.

Wujudnya apa?
Di dalam Ketetapan MPR Tahaun 60 disebutkan bahwa penyakit masyarakat ini yang pertama
adalah berkaitan dengan pengemisan, yang kedua berkaitan dengan perjudian, ketiga berkaitan
dengan pelacuran, dan yang keempat adalah pemabukan atau bermabuk-mabukan dimuka umum.

Mengapa ada keempat hal tersebut? Karena memang gejala-gejala seperti itu secara patologis
(ilmu tentang penyakit sosial atau penyakit masyarakat) disebutkan bahwa apabila dibiarkan maka
akan mempengaruhi kehidupan masyarakat dan masyarakat itu sendiri tidak akan menjalankan
fungsi-fungsi dalam kemasyarakatannya. Kalau gejala-gejala tersebut dibiarkan maka bukan tidak
mungkin akan menjurus ke pelanggaran hukum. Bila kita berbicara tentang pelanggaran hukum
maka disitu ada ketentuan undang-undang hukum pidana. Satu contoh disebutkan yaitu tentang
pengemisan, kita bisa melihat pada KUHP yang disebutkan bahwa ‘pengemisan adalah sebuah
tindak pidana walaupun disitu hanya sebagai sebuah pelanggaran’ artinya bahwa ketika seorang
melakukan tindakan mengemis (pengemisan adalah meminta-minta dengan menunjukkan rasa
agar seseorang merasa belas kasihan kepada orang yang tidak mempunyai kewajiban), jadi orang
yang tidak mempunyai kewajiban memberikan sesuatu dimintai dengan menunjukkan belas kasihan.
Ketika hal itu terjadi sebenarnya adalah sebuah pelanggaran, kalau kita bicara pada konsep hukum
pidana sanksi pidananya maksimum tiga bulan. Pengemisan dalam bulan Ramadhan sangat marak
sekali dan sampai menjadi profesi (“naudzubillahimindzalik”). Hal-hal yang termasuk dalam kategori
pengemisan ini tidak hanya kemudian untuk sekedar menjaga kekhusukan bulan Ramadhan tetapi
pada bulan-bulan yang lain pun perlu dilakukan upaya bahkan sampai pada upaya represi.
Hal kedua yang berkaitan dengan penyakit masyarakat adalah perjudian. Perjudian tidak termasuk
dalam tindak pelanggaran namun dalam KUHP pasal 303 termasuk dalam kejahatan dan
hukumannya maksimal 10 tahun.

Ketiga, adalah pelacuran. Sekarang ini pelacuran sudah dima’fumkan menjadi Pekerja Seks
Komersial (PSK), dari sisi penegakan hukum saja itu merupakan sebuah kemunduran karena dalam
konteks UU kita dalam KUHP disebutkan ada istilah perzinaan. Memang dalam KUHP kita tidak ada
satu aturan pasal pun yang mengatur tentang pelacuran, tetapi jangan lupa di dalam KUHP juga
mengatur orang-orang yang mengorganisir memperoleh keuntungan dari profesi tersebut
(pelacuran) istilahnya adalah germo dan mucikari, hal itu sangat jelas sekali disebut sebuah tindak
kejahatan. Berkaitan dengan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI dalam mencegah
terjadinya kejahatan dengan memberantas penyakit-penyakit masyarakat, tentunya aparat penegak
hukum (kepolisian) berhak melakukan tindakan represi terhadap penyakit-penyakit masyarakat yang
sudah secara jelas sebagai sebuah kejahatan.
Terakhir, pemabukan atau madat (mabuk). Mabuk dalam aturan UU termasuk sebuah pelanggaran.
Dalam proses sosialisasi dimasyarakat, disadari ataupun tidak disadari seseorang pernah melakukan
tindakan penyimpangansosial, baik dalam skala besar ataupun kecil. Perilaku menyimpang apabila dilakukan secara
intens dan dalam skala yang besar bisa berubah menjadi penyakit sosial.
Penyakit sosial yang merupakan kebiasaan berperilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma dapat terjadi di
mana saja dan kapan saja, baik pada masyarakat tradisional,desa, kota, maupun pada masyarakatmodern.
PENGERTIAN PENYAKIT SOSIAL
Berbagai perilaku individu terkait erat satu sama lainnya dalam setiap kelompok atau masyarakatnya. Masyarakat
adalah suatu kelompok sosial yang terdiri atas kumpulan beberapa individu yang hidup bersama dan menjalin
interaksi sosial dalam suatu daerah dalam jangka waktu yang relatif lama.
Masyarakat dapat diibaratkan sebagai tubuh, di mana keadaan masing-masing organ berpengaruh terhadap
kondisi kesehatan tubuh. Demikian halnya masyarakat, di mana perilaku individu yang merupakan bagian dari
masyarakat menentukan bagaimana keadaan masyarakat secara kesuluruhan. Misalnya kebiasaan warga
masyarakat menjaga kebersihan lingkungannya akan membentuk situasi lingkungan masyarakat yang bersih, sehat,
rapi, dan indah. Sebaliknya, jika masing-masing warga masyarakat tidak peduli dengan keadaan lingkungannya,
maka situasi lingkungan masyarakat tersebut diwarnai dengan egoisme dan ketidakteraturan.
Masyarakat yang harmonis terbentuk dari perilaku masing-masing warga masyarakat yang sesuai dengan nilai dan
norma-norma sosial yang berlaku. Keharmonisan kehidupan masyarakat akan menciptakan suasana masyarakat
yang sehat dan teratur.
Seperti halnya dengan tubuh yang selalu menghadapi kemungkinan adanya berbagai jenis penyakit yang
berpengaruh terhadap kesehatan, di tengah masyarakat juga terdapat berbagai jenis penyakit yang dapat
merongrong kondisi keharmonisan dan keteraturan sosial. Hal-hal yang dapat mengakibatkan situasi lingkungan
masyarakat yang tidak sehat disebut sebagai penyakit sosial. Penyakit sosial merupakan bentuk kebiasaan
berperilaku sejumlah warga masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berpengaruh terhadap
kehidupan warga masyarakat.
MACAM-MACAM PENYAKIT SOSIAL
Penyakit sosial merupakan bentuk kebiasaan masyarakat yang berperilaku tidak sesuai dengan nilai dan norma
sosial, sehingga menghasilkan perilaku menyimpang. Beberapakebiasaan warga masyarakat yang dapat
dikategorikan sebagai bentuk penyakit sosial antara lain kebiasaan minum-minuman keras, berjudi,
menyalahgunakan narkoba, penyakit HIV/AIDS, penjaja sex komersial (PSK), dan sebagainya.
1. Minum-Minuman Keras
Minuman keras atau sering disingkat miras adalah minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol
dikategorikan menjadi tiga golongan berdasarkan kadar alkohol yang terkadung di dalamnya, yaitu:
a. Minuman beralkohol golongan A, mempunyai kandungan alkohol sebanyak 1 % sampai 5 %.
b. Minuman beralkohol golongan B, mempunyai kadar alkohol lebih dari 5 % sampai 20 %.
c. Minuman beralkohol golongan C, mempunyai kadar alkohol lebih dari 20 % sampai 55 %.
Alkohol termasuk zat adiktif, yakni zat yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Di samping itu,
alkohol juga termasuk golongan depresan yang dapat memperlambat aktivitas otak dan sistem saraf. Sifat alkohol
yang antiseptik sebagai larutan pelawan kuman sering dipergunakan oleh tenaga medis (dokter, perawat, bidan)
untuk membersihkan peralatan yang akan dipergunakan untuk kegiatan pengobatan, misalnya alat suntik, mencuci
peralatan operasi bedah, mensterilkan ruangan, dan sebagainya.
Masyarakat Eropa adalah kelompok masyarakat yang terbiasa meminum minuman beralkohol untuk menghangatkan
tubuh guna melawan dinginnya lingkungan. Akan tetapi, mereka meminum alkohol tidak lebih dari satu gelas kecil
(sloki) berukuran 10 ml dan hanya beberapa teguk saja, itu pun dilakukan tidak setiap saat.
Minum minuman beralkohol dalam jumlah banyak dapat menimbulkan mabuk bahkan tak sadarkan diri, karena
alkohol berpengaruh terhadap kerja dan fungsi susunan saraf. Pemakaian alkohol dalam jangka waktu lama akan
menimbulkan kerusakan pada organ hati dan otak serta menimbulkan efek ketergantungan.
Orang yang kecanduan alkohol akan menunjukkan gejala-gejala seperti mual, gelisah, gemetar, sukar tidur.
Pengaruh alkohol mengakibatkan perilaku emosional, tak terkendali, dan agresif. Hal tersebut dapat dibuktikan
bahwa banyak pelaku tindak kriminal selalu diawali dengan meminum minuman keras, sehingga tindakannya bisa di
luar batas perikemanusiaan.
2. Judi
Judi merupakan kegiatan permainan yang bertujuan memperoleh uang tanpa bekerja dan hanya mengandalkan
faktor spekulasi.
Permainan judi selalu dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi yang bertujuan memperoleh uang secara cepat tanpa
bekerja melalui suatu permainan. Kebiasaan berjudi membuat orang menjadi malas dan tidak mau bekerja, tetapi
mempunyai ambisi besar untuk mendapatkan uang dalam jangka waktu singkat.Seperti halnya miras, berjudi dapat
membuat orang ketergantungan, sehingga ia rela menghabiskan waktu dan pikirannya hanya untuk berjudi.
Kebiasaan berjudi akan membentuk seseorang tumbuh menjadi pribadi yang cenderung emosional, tidak sabaran,
tidak mampu berfikir logis, dan pemalas.
3. Narkoba
Istilah narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor
22 Tahun 1997 tentang Narkotika, narkotika diartikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Menurut Dr D.J. Siregar, istilah narkotika berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “narkotikos”, yang berarti
keadaan seseorang yang kaku seperti patung atau tidur.
Dalam dunia kedokteran narkoba sangat diperlukan sebagai sarana pengobatan. Misalnya sebagai obat penenang
atau obat bius dan penghilang rasa sakit pada pasien.
Orang yang menyalahgunakan pemakaian narkoba merupakan bentuk penyalahgunaan yang bukan hanya merusak
diri sendiri, tetapi juga mengganggu lingkungan sosial akibat sikap yang ditimbulkan dari ketergantungan
terhadap narkoba. Orang yang mengalami ketergantungan pada narkoba biasanya akan melakukan berbagai cara
untuk mendapatkannarkoba, seperti mencuri, merampok, dan merampas. Penyalahgunaan narkoba seringkali
menyebabkan masalah kejiwaan dan kesehatan yang serius bagi penggunanya. Kehidupan sosial
pemakai narkoba menjadi terganggu, sukar bergaul dan cenderung mudah terpengaruh tindak kejahatan.
Pengaruh narkoba terhadap tubuh yang sehat akan mengakibatkan gangguan mental dalam bentuk emosional,
perilaku tidak terkendali, penurunan daya ingat yang sangat drastis, kerusakan sistem saraf otak. Adapun secara
umum, ciri-ciri pemakai narkoba antara lain:
a. daya konsentrasi menurun,
b. malas, gairah untuk hidup hilang,
c. tidak peduli terhadap keadaan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya,
d. tidak mampu menggunakan akal pikirannya secara sehat,
e. sangat sensitif, emosional, dan agresif,
f. ketergantungan terhadap narkoba akan menimbulkan rasa sakit pada sekujur tubuh.
4. Penyakit HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh akibat
infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Tubuh yang terserang AIDS akan rentan terhadap infeksi penyakit,
sehingga mengakibatkan kematian. Saat ini, AIDS telah tersebar luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Virus HIV tersebar melalui pertukaran cairan tubuh, seperti darah, sekreta dari alat kelamin (cairan semen dan cairan
vagina),
dan air susu. Oleh sebab itu, HIV menular lewat hubungan seksual dengan penderita HIV (baik melalui anus atau
vagina), kontak melalui darah dan produk-produk darah (misalnya serum), serta kegiatan menyusui dari ibu penderita
HIV kepada anak yang disusuinya.
Meskipun HIV juga terdapat dalam air ludah dan urin, namun virus ini tidak cukup kuat untuk menyebabkan infeksi.
Kontak biasa dengan orang yang terinfeksi HIV, seperti mengobrol, bersalaman, makan bersama, dan berenang,
tidak akan menularkan HIV.
Selain menimbulkan gejala influenza, seperti demam, pusing, dan hidung tersumbat, seseorang yang terinfeksi HIV
juga mengalami beberapa gejala, seperti batuk, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening,
gangguan penglihatan, serta gangguan saraf dan otak. Para pecandu narkoba yang terinfeksi HIV sering mengalami
gejala tambahan, seperti penyakit kuning, sesak napas, dan jantung berdebar-debar. Apabila jumlah sel turun
sampai di bawah 200 sel per mikroliter darah, orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala-gejala infeksi
oporturiistik dan kanker, seperti pneumonia pneumosistis (infeksi paru-paru), sitomegalovirus, herpes, serta kanker
sarkoma kaposi (kanker pembuluh darah) dan kanker leher rahim.
5. PSK
Pekerja sex komersial (PSK) merupakan salah satu bentuk penyakit sosial yang tertua di dunia. Kegiatan PSK yang
disebut sebagai prostitusi telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno.
Meskipun upaya pemberantasan terus-menerus dilakukan, tetapi praktik prostitusi tetap saja marak di masyarakat,
baik yang berlangsung secara terang-terangan maupun secara terselubung dengan berkedok dan membaur dalam
kegiatan sosial lainnya.
Pada umumnya kegiatan prostitusi berlatar belakang pada faktor kesulitan ekonomi. Namun secara psikologis,
prostitusi merupakan bentuk kelainan mental yang hanya dapat berhenti atas kesadaran pelaku semata. Oleh karena
itu, meskipun pelaku prostitusi dijaring, dibina, dan diberi aneka keterampilan agar bekerja secara sewajarnya,
namun tetap saja ia akan kembali menekuni prostitusi sebagai pilihan hidupnya apa pun risikonya.
Melalui prostitusi inilah akan berkembang subur penyakitpenyakit sosial lainnya, sehingga terciptalah mata rantai
yang tidak terputus, bahkan saling terkait misalnya antara prostitusi dengan miras, penyalahgunaan narkoba,
perjudian, dan proses penularan penyakit HIV/AIDS.
6. Kenakalan Remaja
Usia remaja erat kaitannya dengan perubahan sikap dan pola perilaku pada diri seseorang. Suatu hal yang alamiah
bahwa dunia remaja selalu diwarnai dengan perilaku-perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma yang telah
diserapnya, karena keinginannya untuk menemukan jati diri dan adanya dorongan untuk tidak mau dikendalikan oleh
orang lain. Dalam kondisi alamiah inilah peran orang tua sebagai penanggung jawab mengenai perilaku anak-anak
sangat diharapkan. Kecenderungan remaja terikat dengan lingkungan sosial sebayanya memudahkan remaja
terbawa arus lingkungannya. Oleh karena itu, orang tua wajib mengenali secara benar siapa saja teman sebaya
anaknya yang sedang memasuki masa remaja.
Kenakalan remaja merupakan bentuk aktivitas sekelompok remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial
yang berlaku. Sesuai dengan sifat remaja yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan emosi, perilaku
mereka mencerminkan gejolak emosi tanpa mempedulikan lingkungannya. Misalnya kebut-kebutan, membikin
keonaran/keributan, dan selalu melakukan aktivitas-aktivitas untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat
besar. Mudahnya remaja terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, miras, merokok bahkan tindak kejahatan
merupakan bentuk perilaku menyimpang yang selalu berawal dari iseng atau coba-coba yang membuatnya mudah
terjerumus ke perilaku menyimpang.
Seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang selalu berganti generasi, maka gejala
kenakalan remaja pun selalu ada dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai bentuk sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Definisi, Penyebab, dan Macam-Macam Penyakit Sosial
Submitted by admin on Tue, 05/07/2011 - 15:19Tags

Edisi C3I: e-Konsel 249 - Penyakit Sosial


G. Kartasaputra mendefinisikan bahwa perilaku penyimpangan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang, yang tidak sesuai atau tidak menyesuaikan diri dengan norma-norma
yang berlaku di masyarakat, baik yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. Bentuk-bentuk penyimpangan
tersebut, apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya penyakit sosial dalam masyarakat.
Dengan kata lain, penyakit sosial adalah bentuk penyimpangan terhadap norma masyarakat yang dilakukan
secara terus-menerus.

Sama halnya dengan penyakit-penyakit fisik pada umumnya, penyakit sosial pun tidak muncul secara
seketika. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit sosial di masyarakat kita. Faktor-
faktor tersebut antara lain:

1. Tidak adanya figur yang bisa dijadikan teladan dalam memahami dan menerapkan norma-norma yang
berlaku di masyarakat. Dengan demikian, apa yang dirasa benar, akan dilakukan terus-menerus tanpa
memedulikan apakah hal itu melanggar norma atau tidak.

2. Pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik. Lingkungan yang sebagian besar masyarakatnya
sering melakukan tindak penyimpangan, seperti prostitusi, perjudian, dan mabuk-mabukan, bisa
memengaruhi kondisi masyarakat yang tinggal di daerah itu, sehingga warganya ikut terjangkit penyakit
sosial serupa.

3. Proses sosialisasi yang negatif. Seseorang yang bergaul dengan para pelaku penyimpangan sosial, seperti
kelompok preman, pemabuk, penjudi, dan sebagainya, lambat laun akan menjadi sama dengan teman-
teman sekelompok dengannya.

4. Ketidakadilan. Seseorang yang mendapatkan perlakuan tidak adil, bisa memicunya untuk melakukan
protes, unjuk rasa, bahkan bisa menjurus ke tindakan anarkis.

Sementara itu, bentuk-bentuk penyakit sosial pun bermacam-macam. Beberapa penyakit sosial yang bisa
ditemukan di masyarakat antara lain sebagai berikut.

1. Minuman Keras (Miras)

Minuman keras adalah minuman yang memiliki kandungan alkohol lebih dari 5 persen. Keberadaan miras di
Indonesia sangat dibatasi oleh aturan pemerintah. Orang-orang yang menyalahgunakan miras akan dikenai
sanksi. Adapun yang dimaksud penyalahgunaan di sini adalah suatu bentuk pemakaian yang tidak sesuai
dengan ambang batas kesehatan. Artinya, pada dasarnya minuman keras boleh digunakan sejauh hanya
untuk maksud pengobatan atau kesehatan di bawah pengawasan dokter atau ahlinya. Di beberapa daerah di
Indonesia, terdapat jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman keras.
Sebenarnya, jika tidak digunakan secara berlebihan, jamu atau minuman tradisional yang dapat
digolongkan sebagai minuman keras tersebut, dapat bermanfaat bagi tubuh. Namun, sangat disayangkan
jika jamu atau minuman tradisional tersebut, dikonsumsi secara berlebihan atau sengaja digunakan untuk
mabuk-mabukan.

Para pemabuk minuman keras dapat dianggap sebagai penyakit masyarakat. Para pemabuk biasanya sudah
kehilangan rasa malunya, tindakannya tidak terkontrol, dan sering kali melakukan hal-hal yang melanggar
aturan masyarakat atau aturan hukum. Minuman keras juga berbahaya jika dikonsumsi saat mengemudi,
karena dapat merusak konsentrasi sehingga dapat menimbulkan kecelakaan. Pada pemakaian jangka
panjang, tidak jarang para pemabuk minuman keras meninggal dunia karena organ lambung atau hatinya
rusak akibat efek samping alkohol yang dikonsumsinya.

2. Penyalahgunaan Narkotik

Pada awalnya, narkotik digunakan untuk keperluan medis, terutama sebagai bahan campuran obat-obatan
dan berbagai penggunaan medis lainnya. Narkotik banyak digunakan dalam keperluan operasi medis,
karena narkotik memberikan efek nyaman dan dapat menghilangkan rasa sakit sementara waktu, sehingga
pasien dapat dioperasi tanpa merasa sakit. Pada pemakaiannya di bidang medis, dibutuhkan seorang dokter
ahli untuk mengetahui kadar yang tepat bagi manusia, karena obat-obatan yang termasuk narkotik
memunyai efek ketergantungan bagi para pemakainya. Penggunaan narkotik secara sembarangan/tanpa
memerhatikan dosis penggunaan inilah yang memberikan dampak buruk. Sejak zaman globalisasi, di
Indonesia sendiri, sudah banyak orang yang jatuh dalam penyalahgunaan narkoba. Pemakaiannya pun
dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dihirup asapnya, dihirup serbuknya, disuntikkan, atau ditelan
dalam bentuk pil atau kapsul. Padahal, dengan mengonsumsi narkoba, si pengguna bisa menjadi
kecanduan. Jika sudah kecanduan, pemakaian narkoba bisa merusak sistem saraf manusia, bahkan dapat
menyebabkan kematian. Berikut adalah contoh zat-zat yang termasuk dalam kategori narkotik.

a. Heroin

Heroin adalah jenis narkotik yang sangat keras, dengan zat adiktif yang cukup tinggi, dan bentuk yang
beragam, seperti butiran, tepung, atau cairan. Zat ini sifatnya memperdaya penggunanya dengan cepat,
baik secara fisik ataupun mental. Bagi mereka yang sudah kecanduan, usaha untuk menghentikan
pemakaiannya dapat menimbulkan rasa sakit disertai kejang-kejang, kram perut dan muntah-muntah,
keluar ingus, mata berair, kehilangan nafsu makan, serta dapat kehilangan cairan tubuh (dehidrasi). Salah
satu jenis heroin yang banyak disalahgunakan dalam masyarakat adalah putauw.

b. Ganja

Ganja mengandung zat kimia yang dapat memengaruhi perasaan, penglihatan, dan pendengaran. Dampak
penyalahgunaan ganja di antaranya adalah hilangnya konsentrasi, meningkatnya denyut jantung, gelisah,
panik, depresi, dan sering berhalusinasi. Para pengguna ganja biasanya melakukan penyalahgunaan ganja
dengan cara mengisapnya, seperti halnya tembakau pada rokok.

c. Ekstasi

Ekstasi termasuk jenis zat psikotropika yang diproduksi secara ilegal dalam bentuk tablet atau kapsul.
Dengan mengonsumsi ekstasi, pengguna akan merasa lebih berenergi dan lebih kuat dibanding biasanya.
Hal ini menyebabkan pengguna berkeringat secara berlebih juga. Akibatnya, pengguna akan selalu merasa
haus, bahkan dehidrasi. Dampak yang ditimbulkan dari pengguna ekstasi di antaranya diare, rasa haus yang
berlebihan, hiperaktif, sakit kepala, menggigil, detak jantung tidak teratur, dan hilangnya nafsu makan.

d. Sabu-Sabu

Sabu-sabu berbentuk kristal kecil yang tidak berbau dan tidak berwarna. Zat ini menimbulkan dampak
negatif yang sangat kuat bagi penggunanya, khususnya di bagian saraf. Dampak yang ditimbulkan akibat
penggunaan sabu-sabu di antaranya penurunan berat badan secara berlebihan, impotensi, sariawan akut,
halusinasi, kerusakan ginjal, jantung, hati, dan stroke, bahkan dapat berakhir dengan kematian. Para
pecandu biasanya mengonsumsi sabu-sabu dengan menggunakan alat yang dikenal dengan sebutan bong.

e. Amfetamin

Amfetamin merupakan jenis obat-obatan yang mampu mendorong dan memiliki dampak perangsang yang
sangat kuat pada jaringan saraf. Meskipun setelah mengonsumsi amfetamin badan bisa terasa bugar,
namun dampak yang ditinggalkan juga cukup berbahaya. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan obat
ini di antaranya penurunan berat badan yang drastis, gelisah, kenaikan tekanan darah dan denyut jantung,
paranoid, mudah lelah dan pingsan, serta penggunanya sering bertindak kasar dan berperilaku aneh.

f. Inhalen

Inhalen merupakan salah satu bentuk tindakan menyimpang dengan cara menghirup uap lem, tiner, cat,
atau sejenisnya. Tindakan ini sering dilakukan oleh anak-anak jalanan yang lazim disebut dengan "ngelem".
Penyalahgunaan inhalen dapat memengaruhi perkembangan otot-otot saraf, kerusakan paru-paru dan hati,
serta gagal jantung.

3. Perkelahian Antarpelajar

Perkelahian antarpelajar sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar
lainnya. Perkelahian tersebut tidak hanya menggunakan tangan kosong atau perkelahian satu lawan satu,
melainkan perkelahian bersenjata. Bahkan ada yang menggunakan senjata tajam dan dilakukan secara
berkelompok. Banyak korban berjatuhan, bahkan ada yang meninggal dunia. Lebih disayangkan lagi,
kebanyakan korban perkelahian tersebut adalah mereka yang justru tidak terlibat perkelahian secara
langsung. Mereka umumnya hanya sekadar lewat atau hanya karena salah sasaran pengeroyokan. Kondisi
ini jelas sangat mengganggu dan membawa dampak psikis dan traumatis bagi masyarakat, khususnya
kalangan pelajar. Pada umumnya mereka menjadi was-was, sehingga kreativitas mereka menjadi
terhambat. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian dari semua kalangan, sehingga dapat tercipta
suasana yang nyaman dan kondusif khususnya bagi masyarakat usia sekolah.

4. Perilaku Seks di Luar Nikah

Perilaku seks di luar nikah selain ditentang oleh norma-norma sosial, juga secara tegas dilarang oleh
agama. Perilaku menyimpang ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang belum atau bahkan tidak
memiliki ikatan pernikahan resmi. Dampak negatif dari perilaku seks di luar nikah, antara lain: lahirnya anak
di luar nikah, terjangkit PMS (penyakit menular seksual), bahkan HIV/AIDS, dan turunnya moral para
pelaku.

5. Berjudi

Berjudi merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial. Berjudi adalah cara mempertaruhkan harta atau
nafkah yang seharusnya dapat dimanfaatkan. Seseorang yang gemar berjudi, akan menjadi malas dan
hanya berangan-angan mendapatkan banyak uang dengan cara-cara yang sebenarnya belum pasti.
Indonesia merupakan salah satu negara yang melarang adanya perjudian, sehingga seluruh kegiatan
perjudian di Indonesia adalah kegiatan ilegal yang dapat dikenai sanksi hukum. Akan tetapi, dalam
beberapa kasus, aparat keamanan masih menoleransi kegiatan perjudian yang berkedok budaya, misalnya
perjudian yang dilakukan masyarakat saat salah seorang warganya memunyai hajat. Langkah ini
sebenarnya kurang tepat, mengingat bagaimanapun juga hal ini tetap merupakan bentuk perjudian yang
dilarang agama.

6. Kejahatan (Kriminalitas)

Kejahatan adalah tingkah laku yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga
masyarakat menentangnya. Secara yuridis formal, kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan
dengan moral kemanusiaan (amoral), merugikan masyarakat, sifatnya asosiatif, dan melanggar
hukum/undang-undang pidana. Tindak kejahatan bisa dilakukan oleh siapa pun baik wanita maupun pria,
dapat berlangsung pada usia anak, dewasa, maupun usia lanjut. Tindak kejahatan pada umumnya terjadi
pada masyarakat yang mengalami perubahan kebudayaan yang cepat, yang tidak dapat diikuti oleh semua
anggota masyarakat, sehingga tidak terjadi penyesuaian yang sempurna. Selain itu, tindak kejahatan bisa
muncul karena adanya tekanan mental atau kepincangan sosial. Oleh karena itu, tindak kejahatan
(kriminalitas) sering terjadi pada masyarakat yang dinamis seperti di perkotaan. Tindak kejahatan
(kriminalitas) mencakup pembunuhan, penjambretan, perampokan, korupsi, dan lain-lain.