Anda di halaman 1dari 5

Breaking bad news

Buckman’s 6-step guide


“S.P.I.K.E.S.”
S – etting, listening Skills
P – atient’s Perception
I – nvite patient to share Information
K – nowledge transmission
E - xplore Emotions and Empathize
S – ummarize & Strategize

1. Setting, Listening Skills


Sebelum menyampaikan kabar buruk kepada pasien, perlu adanya persiapan untuk menjamin
kelancaran penyampaian informasi kepada pasien, sebagai berikut:
- Persiapkan diri sendiri
Dokter sebagai penyampai ‘bad news’ mempersiapkan mental terlebih dahulu agar
tidak ikut larut dalam emosi pasien nantinya, namun tetap berempati sebagaimana
mestinya.
Perkenalkan diri
Yang harus dihindari: tampak nervous di hadapan pasien, bahkan sebelum
menyampaikan kabar buruk.
- Hargai Privasi pasien
- Libatkan pendamping
Untuk menghindari kesan kurang baik yang dapat muncul bila pasien dan dokter berada
di tempat tertutup (untuk menjaga privasi), diperlukan satu pendamping
Perkenalkan pendamping kepada pasien
- Posisi duduk
Posisi pasien dan dokter sebaiknya setara. Dokter menyampaikan kabar buruk dalam
posisi duduk
Tujuan: untuk menghilangkan kesan bahwa dokter berkuasa atas pasien dan
memojokkan pasien
Sebaiknya penghalang fisik seperti meja, dihindari. Duduk di tepi tempat tidur pasien
jauh lebih baik.
- Listening
Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya persiapkan kemampuan
‘mendengar’, secara prinsip meliputi:
o Silence
Jangan memotong kata-kata pasien ataupun berbicara tumpang tindih dengan pasien
o Repetition
Ulangi kata-kata pasien atau berikan tanggapan, untuk menunjukkan
pemahaman terhadap apa yang ingin disampaikan pasien
- Availability
Dokter harus ada di tempat mulai awal hingga akhir penyampaian kabar buruk
Jangan sampai ada gangguan berupa interupsi apapun
2. Patient’s Perception
Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya dokter mengetahui persepsi pasien
terhadap:
Kondisi medis dirinya sendiri
Harapannya terhadap hasil medikasi yang ia tempuh
3. Invitation to share Information
- Tanyakan apakah pasien ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya atau tidak. Apabila
pasien menyatakan diri belum siap, pertimbangkan untuk menyampaikan di waktu lain yang lebih
tepat dan minta pasien untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu.
- Apabila pasien menyatakan ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya, tanyakan sejauh
mana ia ingin tahu, secara umum ataukah mendetail.
4. Knowledge transmission/ Penyampaian ‘bad news’
- Sebelum menyampaikan kabar buruk, lakukan ‘warning shot’ sebagai pembukaan / katakan pada
pasien bahwa ada ‘kabar buruk’ yang akan disampaikan pada pasien
- Cara penyampaian:
Gunakan bahasa yang sama dan hindari bahasa medis.
Bila bahasa pasien berbeda, gunakan penerjemah yang kompeten
Sampaikan informasi sedikit demi sedikit (bertahap)
o Setiap menyampaikan sepenggal informasi, nilai ekspresi dan tanggapan pasien,
beri waktu pasien untuk bertanya ataupun sekedar mengekspresikan emosinya.
o Bila kondisi pasien tampak memungkinkan untuk menerima informasi tahap
selanjutnya, teruskan penyampaian informasi.
o Bila pasien tampak sangat tergunjang hingga tidak memungkinkan untuk
menerima lebih banyak informasi lagi, pertimbangkan penyampaian ulang kabar
buruk di lain waktu sambil mempersiapkan pasien.
Sampaikan dengan intonasi yang jelas namun lembut, tempo yang tidak terlalu cepat dengan
jeda untuk memberi kesempatan pada pasien dalam mencerna kalimat yang ia terima.
5. Explore Emotions and Empathize
- Amati selalu ekspresi dan emosi pasien serta apa yang mendasari perubahan emosinya
(informasi mana yang merubah emosinya), nilai sejauh mana kondisi emosi pasien
- Tunjukkan pengertian atas kondisi emosi pasien. Dalam hal ini, menunjukkan pengertian tidak
diartikan sebagai ‘mengerti apa yang dirasakan pasien’, namun lebih pada ‘dapat memahami bahwa
apa yang dirasakan pasien saat ini adalah sesuatu yang dapat dimaklumi’.
6. Summarize and Strategize
- Di akhir percakapan, review kembali percakapan secara keseluruhan:
simpulkan ‘kabar buruk’ yang tadinya disampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit)
Simpulkan juga tanggapan yang diberikan pasien selama kabar buruk disampaikan /
tunjukkan bahwa dokter mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikan pasien
Berikan pasien kesempatan bertanya
Berikan feed back
Percakapan yang ada harus terdokumentasi dalam rekam medis pasien. Harus tertera dengan
jelas:
o Apa yang telah dikatakan atau disampaikan, dan kepada siapa
o Terms used – tumor, massa, dll
o Informasi spesifik mengenai pilihan terapi dan prognosis

Dokter : Selamat pagi Bapak.


Pasien : Selamat pagi dok.
Dokter : Silahkan duduk pak.
Pasien : Oh ya Terima kasih Dok.
Dokter : Bapak. Perkenalkan nama saya dr. Reva. Apakah saya boleh tahu nama bapak?
Pasien : Nama saya Andi.
Dokter : Baik pak Andi, apakah saya boleh tahu umur, pekerjaan, dan alamat bapak?
Pasien : Sekarang umur saya 45 tahun, saya seorang kontraktor, alamat saya di Palembang
Dokter : Apakah benar bahwa bapak datang kesini untuk mengetahui hasil pemeriksaan
laboratorium?
Pasien : Benar dok.
Dokter : Apakah bapak membawa hasil labortoriumnya?
Pasien : Oh ya ini dok (menyerahkan hasil lab)
Dokter : Sebelum saya membacakan hasil lab ini, saya ingin tahu terlebih dahulu mengenai
keluhan penyakit bapak. Apakah ada perkembangan atau malah menjadi tambah buruk bapak?
Pasien : Rasanya penyakit yang saya derita ini tidak mengalami perubahan dok dari beberapa
hari yang lalu. Saya masih mengalami sesak nafas dengan nyeri di dada, batuk disertai dengan darah
dok. Demamnya juga masih dok.
Dokter : Lalu bagaimana respon obat yang diberikan kepada bapak?
Pasien : Sepertinya tidak memberikan efek yang cukup dok. Buktinya penyakit saya masih
ada.
Dokter : Bisa disimpulkan berarti keluhan-keluhan yang bapak alami tidak mengalami
perubahan yang berarti meskipun itu sudah di berikan obat, benar begitu bapak Andi?
Pasien : Ya benar dok.
Dokter : Baik bapak selanjutnya saya akan membacakan hasil laboraturium. Bapak, saya
harapkan bapak tabah dan menerima apapun hasil dari pemeriksaan laboratorium ini, baik hasil itu
sesuai dengan harapan bapak atau tidak, saya harapkan bapak tetap menerimanya ya bapak?
Pasien : Baik dok.
Dokter : Apakah bapak siap?
Pasien : Siap dok.
Dokter : Baik bapak, dari hasil lab ternyata menunjang diagnosis saya. Bapak menderita TBC
/ tuberculosis.
Pasien : Apa dok? Apa itu TBC?
Dokter : Bapak mendrita TBC yang menandakan bapak telah terkena bakteri Mycobacterium
tuberculosis yang menyebabkan gejala-gejala yang bapak alami. Penyakit TBC adalah jenis penyakit
yang mudah menular, media penularannya bisa melalui cairan di dalam saluran nafas yang keluar
ketika penderita batuk atau bersin kemudian terhirup oleh orang lain yang berada di lingkungan
sekitar penderita TBC tsb.
Pasien : Apa pemeriksaan itu tidak salah dok?
Dokter : Begini bapak, untuk pemeriksaan kasus-kasus seperti ini kami telah menggunakan
alat dengan sensitivitas dan spesifisasi yang hampir sama yaitu 99,99%. Namun apabila bapak ragu
bapak boleh melakukan tes untuk kedua kalinya.
Pasien : Lalu apa yang akan terjadi pada saya dok? Apakah saya akan mati?
Dokter : Bapak jangan khawatir karena penyakit ini sudah ada obatnya jenis pengobatan
penyakit jangka panjang, biasanya lama pengobatan minimal 6 bulan dan bapak harus minum paling
macam- macam obat. Selama pengobatan, bapak harus tekun dan disiplin minum obat dan secara rutin
melakukan kontrol ke dokter untuk memastikan kemajuan pengobatan hingga bapak dianggap benar-
benar sembuh total. Karena tidak boleh putus obat. Apakah bapak sudah mengerti?
Pasien : Sudah dok. Lalu apa yang harus saya lakukan dok?
Dokter : Karena mudah menular melalui batuk dan dahak bapak. Saran saya apabila bapak
batuk sebisa mungkin di tutup agar tidak menyebarkan bakteri lalu bapak jangan membuang dahak
sembarangan.
Pasien : Baik dok saya mengerti.
Dokter : Disini saya harapkan bapak tidak putus asa dan mudah menyerah. Bukankah bapak
masih memiliki anak dan istri, pikirkanlah mereka, jadikan mereka sebagai motivasi bapak untuk
terus bertahan hidup karena masih banyk orang yang menyayangi bapak. Baik bapak apakah bapak
setuju untuk melakukan terapi yang saya anjurkan?
Pasien : Saya setuju dok.
Dokter : Apakah ada yang di tanyakan kembali bapak?
Pasien : Tidak dok. Terima kasih dok atas sarannya
Dokter : Sama-sama bapak. Baik bapak selamat pagi bapak. Semoga cepat sembuh.
Pasien : Selamat pagi dok.

Contoh komorbid ketergantungan alkohol dan depresi