Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI TUMBUHAN

“ALELOPATI”

Disusun Oleh

NUR DWI HANDARSIPUTRI

F1071151024

Kelompok : Satu (1)

Program Studi Pendidikan Biologi

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas Tanjungpura

Pontianak

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tumbuhan juga dapat bersaing antara sesamanya dengan secara interaksi


biokimia, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke sekitarnya
dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan lainnya. Interaksi
biokimia antara gulma dan pertanaman antara lain menyebabkan gangguan
perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar
terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya.
Peristiwa allelopati adalah peristiwa adanya pengaruh jelek dari zat kimia
(alelopat) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan
pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh di sekitarnya. Tumbuhan lain jenis
yang tumbuh sebagai tetangga menjadi kalah. Kekalahan tersebut karena
menyerap zat kimiawi yang beracun berupa produk sekunder dari tanaman
pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas atau zat cair dan
dapat keluar dari akar, batang maupun daun. Hambatan pertumbuhan akibat
adanya alelopat dalam peristiwa alelopati misalnya pertumbuhan hambatan pada
oembelahan sel, pangambilan mineral,resppirasi, penutupan stomata, sintesis
protein, dan lain-lainnya.
Untuk mengetahui bagaimana zat allelopati dari akar ilalang, umbi bawang
putih, dan daun akasia, maka dilakukan praktikum ini yang bertujuan untuk
mempelajari pengaruh allelopati terhadap perkecambahan kacang hijau.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah ada perbedaan pada perkecambahan kacang hijau yang diberi


ekstrak alellopati yang berbeda (bawang putih, akasia, ilalang) ?
2. Bagaimanakah pengaruh allelopati ekstrak akar ilalang, daun akasia, dan
bawang putih terhadap perkecambahan kacang hijau?

3. Apakah terdapat perbedaan pada perkecambah kacang hijau yang


diberikan zat allelopati ekstrak akar ilalang, daun akasia dan bawang putih
dengan konsentrasi yang berbeda (0M, 1:7 M, 1:14 M, dan 1:21 M) ?

C. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk Mempelajari pengaruh
alellopati terhadap perkecambahan kacang hijau.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Istilah alelopati (allelopathy) pertama kali dikemukakan oleh Hans


Molisch tahun 1937. Alelopati berasal dari kata allelon (saling) dan pathos
(menderita). Menurut Molisch, alelopati meliputi interaksi biokimiawi secara
timbal balik, yaitu yang bersifat penghambatan maupun perangsangan antara
semua jenis tumbuhan termasuk mikroorganisme. Tahun 1974, Rice memberikan
batasan alelopati sebagai keadaan merugikan yang dialami tumbuhan akibat
tumbuhan lain, termasuk mikroorganisme, melalui produksi senyawa kimia yang
dilepaskan ke lingkungannya. Batasan ini kemudian terus diverifikasi dengan
berbagai penelitian. Tahun 1984, Rice melaporkan bahwa senyawa organik yang
bersifat menghambat pada suatu tingkat konsentrasi, ternyata dapat memberikan
pengaruh rangsangan pada tingkat konsentrasi yang lain. Sejak tahun tersebut,
Rice dan sebagian besar ilmuwan yang menekuni alelopati merujuk terhadap
batasan yang dikemukakan oleh Molisch. Alelopati kemudian didefinisikan
sebagai pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap
yang lainnya, termasuk mikroorganisme, baik yang bersifat positif/ perangsangan,
maupun negatif/penghambatan terhadap pertumbuhan, melalui pelepasan senyawa
kimia ke lingkungannya (Rice 1995; Inderjit & Keating 1999; Singh etal. 2003).
Senyawa alelopati merupakan senyawa yang bersifat toksik yang
dihasilkan oleh suatu tanaman. Senyawa alelopati yang pertama ditemukan pada
tahun 1928 oleh Davis pada larutan hasil “leaching” serasah kering Black Walnut
(Kenari hitam) mampu menekan perkecambahan dan pertumbuhan benih tanaman
yang ada dibawah pohon kenari hitam tersebut
Menurut Sukman (1991 : 231 ) menyatakan bahwa “ Tumbuhan dapat
menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan metabolit sekunder di bagian
akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari senyawa
alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa
tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen
tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari tanaman lainnya
dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta
perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan
senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji,
perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar“
Menurut Soerjani (2001 : 1978) menyatakan bahwa “Sebagai allelopat,
substansi kimiawi itu terkandung dalam tubuh tumbuhan, baik tanaman maupun
gulma. Bertindaknya allelopat tersebut setelah tumbuhan atau bagian tumbuhan
mengalami pelapukan, pembusuk, pencucian ataupun setelah dikeluarkan berupa
eksudat maupun penguapan. Tumbuhan yang suseptibel bila terkena substansi
semacam itu akan mengalami gangguan yang berupa penghambatan pertumbuhan
atau penurunan hasil “
Menurut Odum, ( 1998 : 206 ).menyatakan bahwa “Dalam persaingan
antara individu-individu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk
memperebutkan kebutuhan-kehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor
pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam
ini disebut allelopati. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat
menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya
sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme.
Hambatan dan gangguan allelopati dapat terjadi pada perbandingan dan
perpanjangan sel, aktivitas giberelin dan IAA, penyerapan hara mineral, laju
fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sistem protein, dan aktivitas enzim
tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya daya hambat senyawa kimia
penyebab allelopati dari tanaman antara lain jenis tanaman yang menghasilkan,
macam tanaman yang dipengaruhi, keadaan pada waktu sisa tanaman mengalami
perombakan “
Menurut Mc.Naughton and Wolf (1998; 132 ) menyatakan bahwa
“Allelopati dapat meningkatkan agresivitas gulma didalam hubungan interaksi
antara gulma dan tanaman melalui eksudat yang di keluarkannya, yang
tercuci,yang teruapkan,atau melalui hasil pembusukan bagian-bagian organ yang
telah mati. Beberapa jenis tanaman yang mempunyai efek allelopati adalah Pinus
merkusii, Imperata silindrica, Musa spp, dan Acacia mangium, dsb. Dalam
pengaruhnya, Allelopati memiliki pengaruh yaitu antara lain senyawa allelopati
dapa menghambat penyerapan harayaitu dengan menurunkan kecepatan
penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, beberapa allelopat menghambat pembelahan
sel-sel akar tumbuhan,mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan, menghambat
respirasi akar, menghambat sintesa protein, menurunkan daya pemeabilitas
membran pada sel tumbuhan dan dapat mengahambat aktivitas enzim “
Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan
metabolit sekunder di bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan
biji. Fungsi dari senyawa alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun
beberapa senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora
dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari
tanaman lainnya dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan,
pertumbuhan, serta perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi
akibat paparan senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan
perkecambahan biji, perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar (Sukman,
1991).
BAB III

METODOLOGI

A. WAKTU DAN TEMPAT


Waktu :Senin, 4 Desember 2017 – 14 Desember 2017
Pukul :13.00-Selesai
Tempat :Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP UNTAN
Pontianak.

B. ALAT DAN BAHAN

No Nama Alat No Nama Bahan


1. Cawan Petri 1. Akuades
2. Kertas Saring 2. Akar Ilalang
3. Corong Penyaring 3. Umbi Bawang Putih
4. Blender 4. Daun Akasia
5. Mortar dan Alu 5. Biji Kacang Hijau
6. Kertas Merang
7. Pisau/gunting
8. Penggaris/benang meteran
9. Labu Ukur
10. Pipet Tetes

C. CARA KERJA
1. Dipilih biji kacang hijau yang baik
2. 4 cawan petridish disiapkan yang telah diberi kertas merang
3. Ekstrak akar ilalang, akasia dan bawang putih dibuat dengan cara sebagai
berikut:
a. Dihaluskan bagian tumbuhan diatas dengan blender, mortar dan
aluatau digunting halus
b. Dibuat ekstrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan
akuades dengan perbandingan sebagai berikut:
a) Bagian tumbuhan dan air (1:7)
b) Bagian tumbuhan dan air (1:14)
c) Bagian tumbuhan dan air (1:21)
4. Dibiarkan selama 24 jam, lalu saring dengan menggunakan alat penyaring.
Ini adalah larutan ekstrak yang akan digunakan sebagai perlukaan.
5. Diletakkan masing-masing 10 biji kacang hijau kedalam petridish
6. Dilakukan perlakuan pada kacang hijau sebagai berikut:
a. Petridish dengan kacang hijau + 5 ml akuades
b. Petridish dengan kacang hijau + 5 ml ekstrak ilalang
a) Ekstrak perbandingan (1:7)
b) Ekstrak perbandingan (1:14)
c) Ekstrak perbandingan (1:21)
Diulangi hal yang sama dengan menggunakan ekstrak akasia dan bawang
putih
c. Petridish dengan kacang hijau + 5 ml ekstrak akasia
d. Petridish dengan kacang hijau + 5 ml ekstrak bawang putih
7. Dibuat ulangan sebanyak 3 kali
8. Diamati perkecambahan biji-biji tersebut setiap hari selama 10 hari dan
diamati pertumbuhan kecambahnya dengan mengukur panjang kecambah
9. Ditentukan persen perkecambahan
10. Dibandingkan hasil pengamatan dengan menggunakan RAL dan RAL
factorial.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
a. Tabel pengamatan 1
DATA ALELOPATI DAUN AKASIA

KELAS VA

PERLAKUAN ULANGAN HARI KE- ( RATA-RATA) RATA-


RATA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

KONTROL 1 0 0,7 1,2 2,5 0 0 0 0 0 0 0.44


(AQUADES)
AKASIA 1 0 0 0.2 0,3 0 0 0 0 0 0 0.07
(1:7 )

AKASIA 1 0 0 0.2 0,3 0 0 0 0 0 0 0.07


( 1:14 )

AKASIA 1 0 0,4 0,6 1,3 0 0 0 0 0 0 0.23


( 1:21 )

PERLAKUAN ULANGAN KONSENTRASI TOTAL

KONTROL (1:7) (1:14) (1:21)

DAUN 1 0.44 0.07 0.07 0.23 0.81


AKASIA

TOTAL 0.44 0.07 0.07 0.23

b. Tabel pengamatan 2

DATA ALELOPATI AKAR ALANG-ALANG

KELAS VB

Treat R HARI KE- ( RATA-RATA) RATA-


RATA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

KONTROL 1 0 1,3 1,5 2 0 0 0 0 0 0 0.48


(AQUADES)

ALANG- 1 0 2 2,2 2,3 0 0 0 0 0 0 0.65


ALANG (1:7
)

ALANG- 1 0 1,2 1,3 1,6 0 0 0 0 0 0 0.41


ALANG
( 1:14 )

ALANG- 1 0 1 1,1 1,3 0 0 0 0 0 0 0.34


ALANG
( 1:21 )
PERLAKUAN ULANGAN KONSENTRASI TOTAL

KONTROL (1:7) (1:14) (1:21)

AKAR 1 0.48 0.65 0.41 0.34 1.88


ALANG-
ALANG

TOTAL 0.48 0.65 0.41 0.34

c. Tabel pengamatan 3
DATA ALELOPATI UMBI BAWANG PUTIH

KELAS V P.PAPK

Treat R HARI KE- ( RATA-RATA) RATA-


RATA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

KONTROL 1 0 0,2 0,5 1,1 0 0 0 0 0 0 0.18


(AQUADES)

BAWANG 1 0 0,1 0,1 0,7 0 0 0 0 0 0 0.09


PUTIH (1:7 )

BAWANG 1 0 0,1 0,2 0,7 0 0 0 0 0 0 0.08


PUTIH (1:14 )

BAWANG 1 0 0,2 0,2 0,7 0 0 0 0 0 0 0.10


PUTIH ( 1:21 )

PERLAKUAN ULANGAN KONSENTRASI TOTAL


KONTROL (1:7) (1:14) (1:21)
UMBI 1 0.18 0.09 0.08 0.10 0.45
BAWANG
PUTIH
TOTAL 0.18 0.09 0.08 0.10

d. Tabel pengamatan akhir


PERLAKUAN ULANGAN KONSENTRASI Total ulangan

KONTROL (1:7) (1:14) (1:21) (faktor A)


DAUN 1 0.44 0.07 0.07 0.23 0.81
AKASIA
TOTAL 0.44 0.07 0.07 0.23

ILALANG 1 0.48 0.65 0.41 0.34 1.88

TOTAL 0.48 0.65 0.41 0.34

UMBI 1 0.18 0.09 0.08 0.10 0.45


BAWANG
TOTAL 0.18 0.09 0.08 0.10
PUTIH

Total perlakuan 1.1 1.62 0.56 0.67 Y=2.492

(Faktor B)

2. Perhituang RAL dan RAL FAKTORIAL


a. DAUN AKASIA

C 0.16

SSY 0.1

SST 0.09

SSE 0.01

C 0.16

Table Anova

Source df SS MS F-test
Treatment 3 0.09 0.03 2.4
Eksp. Error 8 0.01 0.0125
Total 11 0.1
Kesimpulan : F test = 2.4 dan f table 0,05;3,8 yaitu 4,07 . F table > Ftest
maka tidak terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun akasia terhadap
pertumbuhan kacang hijau.

b. ILALANG
C 0.88
SSY 0.06
SST 0.05
SSE 0.01

Table Anova

Source df SS MS F-test
Treatment 3 0.05 0.02 1.6
Eksp. Error 8 0.01 0.0125
Total 11 0.06
Kesimpulan : F test = 1.6 dan f table 0,05;3,8 yaitu 4,07 . F table > F test
maka tidak terdapat pengaruh pemberian ekstrak ilalang terhadap
pertumbuhan kacang hijau.

c. UMBI BAWANG PUTIH


C 0.05
SSY 0.01
SST 0.009
SSE 0.001

Table Anova

Source df SS MS F-test
Treatment 3 0.009 0.003 2.4
Eksp. Error 8 0.001 0.00125
Total 11 0.39
Kesimpulan : F test = 2.4 dan f table 0,05;3,8 yaitu 4,07 . F table > F test maka
tidak terdapat pengaruh pemberian ekstrak umbi bawang putih
terhadap pertumbuhan kacang hijau.

d. Tabel Data RAL Faktorial


C 0.56
SSY 0.69
SAB 0.68
SSE 0.01
SSA 0.94
SSB 0.54
SSAB 0.28

Table Anova
Source df SS MS F-test
A 2 0.94 0.47 111.9
B 3 0.54 0.18 42.85
A*B 6 0.28 0.05 11.90
Eksp. Error 24 0.01 0.0042
Total 35 31.41
Kesimpulan :
a. F test = 111.9 dan f table 0,05;2,24 yaitu 3,4 . f table < f test maka
terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun akasia, ilalang dan umbi
bawang putih (alelopati) terhadap pertumbuhan kacang hijau.
b. F test = 42.85 dan f table 0,05;3,24 yaitu 3,01 . f table < f test maka
terdapat pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap pertumbuhan
kacang hijau.
c. F test = 11.90 dan f table 0,05;6,24 yaitu 2,51 . f table < f test maka
terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun akasia, ilalang dan umbi
bawang putih (alelopati) dan perbedaan konsentrasi terhadap
pertumbuhan kacang hijau.

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan suatu percobaan yang
berjudul “ALLELOPATI”. Praktikum ini bertujuan untuk memngetahui pengaruh
allelopati terhadap perkecambahan kacang hijau dengan pengamatan
menggunakan ekstrak bawang, akasia dan ilalang dengan masing-masing
perlakuan yang dibuat dengan konsentrasi berbeda-beda yaitu control, 1:7, 1:14
dan 1:21 dengan waktu pengamatan selama 1 minggu.
Allelopati merupakan produksi substansi (zat) oleh suatu tanaman yang
merugikan tanaman lain. Allelopati ini juga merupakan peristiwa yang terjadi
karena adanya pengaruh jelek dari zat kimia (alelopat) yang dikeluarkan
tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang
tumbuh di sekitarnya. Tumbuhan lain jenis yang tumbuh sebagai tetangga menjadi
kalah. Kekalahan tersebut karena menyerap zat kimiawi yang beracun berupa
produk sekunder dari tanaman pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat
berupa gas atau zat cair dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun.
Hambatan pertumbuhan akibat adanya alelopat dalam peristiwa alelopati misalnya
pertumbuhan hambatan pada pembelahan sel, pangambilan mineral, respirasi,
penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari
bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat yang turun kembali ke tanah dan
eksudat dari akar. Jenis yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan
fenolat, terpenoid, dan alkaloid. Bagian tumbuhan yang dibuat sebagai ekstrak
allelopati yaitu bagian akar dari ilalang, bawang putih dan daun akasia karena
pada bagian inilah alelopat sering dikeluarkan pada alang-alang dan akasia
(Resosoedarmo.2006)
Berdasarkan hasil pengamatan, pada media ekstrak bawang putih dengan 3
kali pengulangan dan 3 konsentrasi yang berbeda yaitu, pada ekstrak bawang
putih dengan konsentrasi kontrol, 1:7, 1:14 dan 1:21 masing-masing rata-rata
tinggi tanaman kecambah kacang hijau yaitu 0.18 cm, 0.09 cm, 0.08 cm, dan 0.10
cm. Pengamatan selanjutnya adalah pada media ekstrak daun akasia dengan 3 kali
pengulangan dan 3 konsentrasi yang berbeda juga yaitu kontrol, 1:7, 1:14 dan
1:21 didapatkan masing-masing rata-rata tinggi tanaman kecambah kacang hijau
yaitu 0.44 cm, 0.07 cm, 0.07 cm, dan 0.23 cm dan yang terakhir yaitu pada media
ekstrak ilalang dengan 3 kali pengulangan dan 3 konsentrasi yang berbeda yaitu
1:7, 1:14 dan 1:21 didapatkan masing-masing rata-rata tinggi tanaman kecambah
kacang hijau yaitu 0.48 cm, 0.65 cm, 0.41 cm dan 0.34 cm. Hal ini dapat terlihat
dari rendahnya tingkat kesuburan tanaman, yang ditunjukan dengan rendahnya
tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang.
Senyawa alelokimia yang terkandung pada bawang putih, akasia dan
ilalang terbukti dapat bekerja menggangu proses fotosintesis dan pembelahan sel,
yang menyebabkan terganggunya segala aktivitas metabolisme berupa
penghambatan penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman,
respirasi, sintesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan
menghambat aktivitas enzim dalam tanaman kacang hijau.
Penekanan pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau pada ekstrak
bawang putih, akasia dan ilalang ditandai dengan penurunan tinggi tanaman,
penurunan panjang akar, perubahan warna daun (Dari hijau normal menjadi
kekuning-kuningan atau kecoklatan) serta bengkaknya akar. Pertumbuhan rambut
akar juga terganggu, dengan melihat fenomena ini maka allelokimia yang berasal
dari bawang putih, akasia dan ilalang yang bekerja mengganggu proses
fotosintesis atau proses pembelahan sel. Sedangkan pada tanaman kontrol,
tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun, panjang akar dan batang. (Djamal
2007).
Selanjutnya hasil pengamatan tersebut diuji dengan menggunakan table
ANOVA dengan 4 perlakuan (control, 1:7, 1:14 dan 1:21) dan 3 faktor (bawang
putih, akasia dan ilalang) dengan 3 kali pengulanga, sehingga percobaan ini diuji
dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial karena menggunakan 3
faktor. Dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada Ketiga ekstrak ini
memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kacang hijau yang dapat bersifat
toksin. Semakin lama tumbuhan kacang hijau ditanam dalam ekstrak ini maka
semakin cepat mengalami kematian karena mengalami pembusukan.
Pada tabel ANOVA, F hitung > F tabel menunjukkan bahwa konsentrasi,
ekstrak alelopati, serta kombinasi dari konsentrasi & ekstrak tidak mempengaruhi
pertumbuhan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus). Hal ini dapat
disebabkan kurangnya ketidaktelitian praktikan dalam mengukur dan saat
tanaman yang diukur patah sehingga panjangnya berkurang Hal ini dikarenakan
adanya gangguan dari spesies lain (tikus) pada saat penyimpanan percobaan
dilaboratorium.
Adapun kesimpulan yang didapat melalui perhitungan RAL FAKTORIAL,
yaitu:
 F test = 111.9 dan f table 0,05;2,24 yaitu 3,4 . f table < f test maka
terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun akasia, ilalang dan umbi
bawang putih (alelopati) terhadap pertumbuhan kacang hijau.
 F test = 42.85 dan f table 0,05;3,24 yaitu 3,01 . f table < f test maka
terdapat pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap pertumbuhan
kacang hijau.
 F test = 11.90 dan f table 0,05;6,24 yaitu 2,51 . f table < f test maka
terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun akasia, ilalang dan umbi
bawang putih (alelopati) dan perbedaan konsentrasi terhadap
pertumbuhan kacang hijau.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Allelopati adalah merupakan senyawa yang dilepaskan tumbuhan ke
lingkungan tempat tumbuhtumbuhan lain.
2. semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, maka semakin besar pengaruh
pertumbuhan tanaman.
3. Senyawa alelokimia yang terkandung pada bawang putih, akasia dan
ilalang terbukti dapat bekerja menggangu proses fotosintesis dan
pembelahan sel.
4. Pada tanaman kontrol, tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun,
panjang akar dan batang
5. Pada tabel ANOVA, F hitung > F tabel menggunakan perhitungan RAL
Faktorial menunjukkan bahwa konsentrasi baik ekstrak alelopati maupun
kombinasi dari konsentrasi & ekstrak mempengaruhi pertumbuhan
tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus).

DAFTAR PUSTAKA

Djamal Irwan, Zoer’aini. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi Ekosistem, Lingkungan


dan Pelestariannya. Jakarta: Bumi Aksara.
MC. Naughton, Larry L. Wolf. 1992. Ekologi Umum. Yogyakarta: Gajah
Universitas Press.

Odum . 1998 . ekologi tumbuhan .rineka cipta : Jogjakarta

Rice EL. 1995. Biological Control of Weeds and Plant Diseases: Advances in
Applied Allelopathy. Norman: Univ of Oklahoma Pr.

Resosoedarmo, S., K. Kartawinata, A. Soegiarto. 2006. Pengantar Ekologi.


Bandung:Remadja Rosdakarya.

Soejani . 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: Universitas


Negeri Malang.

Sukman, Y., & Yakub. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta:
Rajawali Pers