Anda di halaman 1dari 5

A.

TUJUAN
Mengamati apusan vagina hamster
B. DASAR TEORI
Menurut Partodiharjo (1992), Siklus reproduksi merupakan rangkaian semua
kejadian biologik yang berlangsung secara sambung menyambung hingga terlahir
generasi baru dari suatu makhluk hidup. Berdasarkan hal tersebut berarti siklus
reproduksi sangat berperan penting terkait kesuburan hidup betina karena dengan
adanya siklus reproduksi maka akan melahirkan generasi yang dapat melestarikan
keturunan.
Jadi siklus reproduksi adalah perubahan siklis atau perubahan yang sambung
menyambung yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus, dan
vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil hingga terlahir generasi baru dari
makhluk hidup tersebut.
Siklus estrus ditandai dengan masa berahi atau estrus. Pada saat estrus, hewan
betina akan reseptif terhadap hewan jantan dan kopulasinya kemungkinan besar akan
vertil sebab di dalam ovarium sedang terjadi ovulasi dan uterusnya berada pada fase
yang tepat untuk implantasi. Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus atau
jarak antara estrus yang satu sampai pada estrus yang berikutnya (Hafez, 1968).
Metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui fase estrus pada mencit
dengan metode Vaginal Smear. Metode vaginal smear lebih banyak digunakan karena
bisa menunjukkan hasil yang lebih akurat. Metode ini menggunakan sel epitel dan
leukosit sebagai bahan identifikasi. Sel epitel merupakan sel yang terletak di
permukan vagina, sehingga apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epitel
merupakan sel yang paling awal terkena akibat dari perubahan tersebut. Leukosit
merupakan sel antibodi yang terdapat di seluruh bagian individu. Leukosit di vagina
berfungsi membunuh bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum. Sel epitel
berbentuk oval atau polygonal, sedangkan leukosit berbentuk bulat berinti (Tomi,
1990).
Siklus reproduksi yang biasa disebut siklus estrus memiliki 4 tahap yaitu
Proestrus, estrus Metestrus, dan Diestrus. Tahap Proestrus merupakan tahapan awal
dimana folikel tumbuh berkembang dengan stimuli FSH dan menghasilkan hormone
estrogen. Terdapat banyak sel epitel berinti dan beberapa leukosit dan sel epitel
terkornifikasi (Xiao, 2014).
Siklus birahi adalah jarak antara berahi satu sampai berahi berikutnya,
sedangkan berahi sendiri merupakan saat dimana hewan betina bersedia menerima
hewan jantan untuk kopulasi. Kopulasi dapat menghasilkan kebuntingan daan
selanjutnya dapat menghasilkan anak (Yatim, 1994).

Terjadi perubahan-perubahan fisiologik dari alat kelamin betina pada suatu


mencit. Perubahan ini bersifat sambung-menyambung satu sama lain, akhirnya
bertemu kembali pada permulaannya. Sedangkan untuk dapat mengetahui siklus
birahi berdasarkan gejala yang terlihat dari luar tubuh, satu siklus birahi dibedakan ke
dalam 4 fase, yaitu meliputi: proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus (Sutyarso,
1996).

Siklus estrus dibedakan dalam 2 fase, yaitu fase folikular dan fase luteal. Fase
folikular adalah fase pembentukan folikel sampai masak, sedangkan fase luteal adalah
fase setelah ovulasi, kemudian terbentuk korpus luteum dan sampai pada dimulainya
siklus (Spornitz, et al., 1999). Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus,
metestrus, diestrus, dan proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus
dan serangkaiannya, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim
kawin. Berikut ini penjelasan masing–masing fase birahi pada siklus estrus menurut
Frandson (1992):
a. Fase Proestrus
Produksi estrogen meningkat di bawah stimulasi FSH (Folicle Stimulating
Hormon) dan adenohipofisis pituitary dan LH (Luteinizing Hormon) ovari yang
menyebabkan meningkatnya perkembangan uterus, vagina, oviduk, dan volikel ovari.
Fase yang pertama (proestrus) dari siklus estrus dianggap sebagai fase penumpukan.
Fase proestrus ini folikel ovary dengan ovumnya yang menempel membesar terutama
karena meningkatnya cairan folikel yang berisi hormon–hormone estrogenik.
Estrogen yang diserap dari folikel kedalam aliran darah merangsang penaikan
vesikularitas dan pertumbuhansel genitalia tubular dalam persiapan untuk birahi dan
kebuntingan yang akan terjadi. Menurut Adnan (2006), fase proestrus ditandai
dengan adanya sel-sel epitel berinti berbentuk bulat dan leukosit tidak ada atau sangat
sedikit.
b. Fase Estrus
Fase estrus adalah tahap penerimaan seksual pada hewan betina, yang terutama
ditentukan oleh tingkat sirkulasi estrogen. Setelah periode itu terjadilah ovulasi, ini
terjadi dengan penurunan tingkat FSH dalam darah dan peningkatan tingkat LH.
Sesaat sebelum ovulasi folikel membesar dan mengalami turgid, serta ovum yang
mengalami pemasakan. Estrus berakhir kira–kira pada saat pecahnya folikel ovary
atau terjadinya ovulasi. Perilaku mencit betina pada tahap ini sudah mulai gelisah
namun keinginan untuk kopulasi belum terlalu besar. Fase ini terjadi selama 12 jam.
Menurut Adnan (2006), fase estrus ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk
yang sangat banyak dan beberapa sel-sel epitel dengan inti yang berdegenerasi.
Tahap Estrus adalah tahap dimana folikel sudah matang dan siap berovulasi.
Tidak terlihat sel leukosit. Lebih banyak sel epitel yang terkornifikasi dan beberapa
sel epitel berinti. Fase estrus dapat terlihat dari perilaku mencit dan morfologi vagina
mencit. Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan
kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan
(Chakraborti, 2013).
c. Fase Metestrus
Fase metestrus adalah fase setelah ovulasi dimana korpus luteum mulai
berfungsi. Panjangnya metestrus dapat tergantung pada panjang waktu LTH
(Lutetropik Hormon) disekresi adenohipofisis. Selama periode ini terdapat penurunan
estrogen dan penaikan progesteron yang dibentuk oleh ovari. Fase ini terjadi selama 6
jam. Pada tahap ini hormone yang terkandung paling banyak adalah hormon
progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum. Menurut Adnan (2006), fase
metestrus ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan leukosit yang banyak.
d. Fase Diestrus
Fase diestrus adalah tahap yang relatif pendek antara siklus estrus pada hewan-
hewan yang tergolong poliestrus. Selama fase disetrus corpus luteum bekerja dengan
optimal, konsentrasi progesteron yang tinggi menghambat pelepasan FSH dan LH.
Jika betina tidak mengalami kehamilan selama fase awal estrus, PGF2 akan
dilepaskan dari uterus dan dibawa menuju ovarium. Tahap ini terjadi selama 2-2,5
hari. Pada tahap ini terbentuk folikel-folikel primer yang belum tumbuh dan beberapa
yang mengalami pertumbuhan awal. Hormon yang terkandung dalam ovarium adalah
estrogen meski kandungannya sangat sedikit. Menurut Adnan (2006), fase diestrus
ditandai adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan leukosit
dalam jumlah yang sangat banyak.
Proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan
pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat . Proestrus
berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus meningkat dan
mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar endometrial mengalami
hipertrofi. Estrus adalah masa keinginan kawin yang ditandai dengan keadaaan tikus
tidak tenang, keluar lendir dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel
meningkat dengan cepat, uterus mengalami vaskularisasi dengan maksimal, ovulasi
terjadi dengan cepat, dan sel-sel epitelnya mengalami akhir perkembangan terjadi
dengan cepat. Metestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan
pecahnya folikel, rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran
lendir terhenti. Selain itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularitas. Diestrus
adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum berkembang dengan
sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon yang dihasilkan dari
corpus luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus serta folikel-folikel kecil
denan korpora lutea pada vagina lebih besar dari ovulasi sebelumnya (Dvorak 1991).
Setiap hewan mempunyai siklus estrus yang berbeda-beda tergantung jenisnya.
Golongan hewan :
a) monoestrus (estrus sekali dalam satu tahun)
b) poliestrus (estrus beberapa kali dalam satu tahun)
monoestrus bermusim (estrus hanya selama musim tertentu dalam setahun.
C. METODELOGI
1. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Senin, 12 Maret 2018
Waktu : 15.00 WIB
Tempat : Laboratorium Pendidikan Biologi Bawah FKIP UNTAN.
2. Alat dan Bahan
a. Alat : pipet tetes, mikroskop, kaca objek, kaca penutup, dan cotton bud.
b. Bahan : hamster betina, NaCI 0,9 %, metylen blue 1 %, alkohol 70%, dan
akuades
3. Cara Kerja
1. Diambil hamster betina, kemudian dipegang dengan tangan kiri, ibu dan telunjuk
jari memegang tengkuknya atau leher dorsal.
2. Dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking memegang badan dan ekor.
3. Dicelupkan cutton bud kedalam NaCl 0.9%. kemudian ujungnya dimasukkan
kedalam ubang vagina hamster dan diputar pean-pelan.
4. Ujung cutton bud kemudian dioleskan pada kaca objek yang teah ditetesi larutan
NaCl 0.9%, lalu dibuat apusan tipis merata.
5. Difiksasi preparat dengan alkohol 70% selama 5 menit.
6. Di tetesi dengan larutan pewarna metilen blue 1%, dibiarkan 5-10 menit.
7. Diamati di bawah mikroskop. Bila zat warna berlebih, dibilas dengan akuades
dengan cara mengalirkan akuades dan dibiarkan kering.
8. Di tutup dengan kaca penutup.
9. Apabila hamster sedang dalam keadaan estrus, maka pada apusan vagina akan
terlihat sel epitel kornifikasi.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Keteranga
Gambar pengamatan Gambar literatur
n
https://sites.google.com/a/umn.edu/
margaret-v-peggy-root- Fase

kustritz/home/general-practice- diestrus

perbesaran 4x10 rotation-information/vaginal-


cytology-review

2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan siklus reproduksi pada hamster.
Menurut Partodiharjo (1992), Siklus reproduksi merupakan rangkaian semua
kejadian biologik yang berlangsung secara sambung menyambung hingga terlahir
generasi baru dari suatu makhluk hidup. Berdasarkan hal tersebut berarti siklus
reproduksi sangat berperan penting terkait kesuburan hidup betina karena dengan
adanya siklus reproduksi maka akan melahirkan generasi yang dapat melestarikan
keturunan.
Siklus reproduksi pada hewan primata disebut siklus estrus. Siklus estrus
ditandai dengan masa berahi atau estrus. Pada saat estrus, hewan betina akan reseptif
terhadap hewan jantan dan kopulasinya kemungkinan besar akan vertil sebab di dalam
ovarium sedang terjadi ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk
implantasi. Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus atau jarak antara estrus
yang satu sampai pada estrus yang berikutnya (Hafez, 1968).