Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN MEDIS

NON HEMORAGIK STROKE

A. DEFINISI
a. Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah gangguan neurologik mendadak
yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui
system suplai arteri Stroke non hemoregik adalah sindroma klinis yang
awalnya timbul mendadak, progresi cepat berupa deficit neurologis fokal
atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbul
kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non
straumatik .
b. Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli
dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru
bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi
iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema
sekunder

B. ANATOMI FISIOLOGI
Vaskularisasi Otak Darah mengalir ke otak melalui dua arteri karotis
dan dua arteri vertebralis Arteri karotis interna, setelah memisahkan diri dari
arteri karotis komunis, naik dan masuk ke rongga tengkorak melalui kanalis
karotikus, berjalan dalam sinus kavernosus, mempercabangkan arteri untuk
nervus optikus dan retina, akhirnya bercabang dua: arteri serebri anterior dan
arteri serebri media. Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi pada
regio sentral dan lateral hemisfer. Arteri serebri anterior memberikan
vaskularisasi pada korteks frontalis, parietalis bagian tengah, korpus kalosum
dan nukleus kaudatus. Arteri serebri media memberikan vaskularisasi pada
korteks lobus frontalis, parietalis dan temporalis.
Stenosis pada arteri karotis Sistem vertebral dibentuk oleh arteri vertebralis
kanan dan kiri yang berpangkal di arteri subklavia, menuju dasar tengkorak
melalui kanalis transversalis di kolumna vertebralis servikalis, masuk rongga
kranium melalui foramen magnum, lalu mempercabangkan masing-masing
sepasang arteri serebeli inferior. Pada batas medula oblongata dan pons,
keduanya bersatu menjadi arteri basilaris dan setelah mengeluarkan 3
kelompok cabang arteri, pada tingkat mesensefalon, arteri basilaris berakhir
sebagai sepasang cabang arteri serebri posterior. Arteri vertebralis
memberikan vaskularisasi pada batang otak dan medula spinalis atas. Arteri
basilaris memberikan vaskularisasi pada pons. Arteri serebri posterior
memberikan vaskularisasi pada lobus temporalis, oksipitalis, sebagian kapsula
interna, talamus, hipokampus, korpus genikulatum dan mamilaria, pleksus
koroid dan batang otak bagian atas.

C. ETIOLOGI
stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian yaitu:
1. Thrombosis serebral Arteriosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi
serebral adalah penyebabutama trombosis serebral, yang merupakan penyebab
paling umum dari stroke. Tanda-tanda trombosis serebral bervariasi. Sakit
kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien dapat mengalami
pusing, perubahan kognitif, atau kejang, dan beberapa mengalami awitan
yang tidak dapat dibedakan dari haemorrhagi intracerebral atau embolisme
serebral. Secara umum, thrombosis serebral tidak terjadi dengan tiba-tiba, dan
kehilangan bicara sementara, hemiplegia, atau parestesia pada setengah tubuh
dapat mendahului awitan paralisis berat pada beberapa jam atau hari.
2. Embolisme serebral Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah
atau cabang -cabangnya, yang merusak sirkulasi serebral. Awitan hemiparesis
atauhemiplegia tiba-tiba dengan afasia atau tanpa afasia atau kehilangan
kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung atau pulmonal adalah
karakteristik dari embolisme serebral.
3. Iskemia serebral Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak)
terutama karena konstriksi ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
4. Haemorhagi ekstradural (haemorrhagi epidural) adalah kedaruratan
bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Keadaan ini biasanya
mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri tengah arteri meninges
lain, dan pasien harus diatasi dalam beberapa jam cedera untuk
mempertahankan hidup.

D. PATOFISIOLOGI

Dalam keadaan fisiologis arah aliran darah ke otak dan kelangsungan


fungsinya sangat tergantung pada oksigen, dan otak tidak mempunyai
cadangan oksigen. Apabila terdapat anorexia seperti pada stroke metabolisme
serebral terganggu dan kematian sel serta kerusakan yang melekat dapat
terjadi dalam 3 – 10 menit.
Berbagai kondisi yang menyebabkan gangguan perfusi serebral dapat
mengakibatkan hipoksia dan anoxia, bila aliran darah ke otak berkurang 24 –
30 ml/100gr jaringan otak dan akan terjadi iskemia, untuk gangguan yang
lama otak hanya mendapatkan suplai darah kurang dari 16 ml/100 gr jaringan
otak/mnt akan terjadi infark jaringan yang sifatnya permanen.
Gangguan aliran darah serebral yang mengakibatkan stroke dapat disebabkan
oleh penyempitan/ tertutupnya salah satu pembuluh darah ke otak dan ini
terjadi umumnya pada trombosis serebral dan pendarahan intra kranial.
Pada dasarnya stroke infark serebra terjadi akibat berkurangnya suplai
peredaran darah menuju otak. Aliran atau suplai darah tidak disampingkan ke
daerah tersebut. Oleh karena arteri yang bersangkutan tersumbat atau padat
sehingga aliran darah ke otak berkurang sampai 20 – 70 ml/ 100 gr. Jaring
akan terjadi iskemik untuk jangka waktu yang lama dan akan mengalami
kerusakan yang bersifat permanen.
Tipe gangguan otak tergantung pada area otak yang terkena dan ini tergantung
pula pada pembuluh darah serebral yang mengalami gangguan. Gangguan
aliran darah serebral yang mengakibatkan stroke dapat disebabkan oleh
penyempitan atau tertutupnya salah satu pembuluh darah ke otak dan ini
terjadi pada umumnya oleh :
a) Trombosis Serebral.
Yang diakibatkan adanya Arterosklerosis yang pada umumnya menyerang
usia lanjut. Trombosis ini biasanya terjadi pada pembuluh darah dimana ekluri
terjadi. Trombosis ini dapat menyebabkan iskemik jaringan otak. Endemik-
endemik kongesti di area sekitarnya stroke karena terbentuknya thrombus
biasanya terjadi pada orang tua yang mengalami penurunan aktivitas simpatis
dan posisi recumben menyebabkan menurunnya tekanan darah sehingga dapat
mengakibatkan Iskemik Serebral.
b) Emboli Serebral.
Merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bawaan darah, lemak
ataupun udara, pada umumnya berasal dari trombus di jantung yang terlepas,
dan menyumbat sistem ateriserebral. Emboli serebral biasanya cepat dan
gejala yang timbul < 10 – 30 detik.
c) Pendarahan Intra Serebral.
Terjadi karena Arterosklerosis dan Hipertensi, keadaan ini pada umumnya
terjadi pada usia diatas 50 tahun, sehingga menyebabkan penekanan,
pergeseran, dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, akibatnya otak
akan membengkak. Jaringan otak internal tertekan sehingga menyebabkan
infark otak, edema, dan kemungkinan hemiase otak.
E. MANIFESTASI KLINIS
a. Kehilangan motorik: stroke adalah penyakit neuron atas dan
mengakibatkan kehilangan kontrol volunter. Gangguan kontrol volunter pada
salah satu sisi tubuh dapat menunjukan kerusakan pada neuron atas pada sisi
yang belawanan dari otak. Disfungsi neuron paling umum adalah hemiplegi
(paralisis pada salah satu sisi tubuh) karena lesi pada sisi otak yang
berlawanan dan hemiparises (kelemahan salah satu sisi tubuh)
b. Kehilangan komunikasi: fungsi otak lain yang yang dipengaruhi oleh
stroke adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab afasia paling
umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikanoleh hal
berikut:
1) Disatria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit
dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab
menghasilkan bicara.
2) Disfasia atau afasia (kehilangan bicara), yang terutama ekspresif atau
reseptif.
3) Apraksia, ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari
sebelumnya.
c. Defisit lapang pandang, sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi
tubuh yang paralisis yaitu kesulitan menilai jarak, tidak menyadari orang atau
objek ditempat kehilangan penglihatan
d. Defisit sensori, terjadi pada sisi berlawanan dari lesi yaitu kehilangan
kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh.
e. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, bila kerusakan pada lobus
frontal, mempelajari kapasitas, memori atau fungsi intelektual mungkin
terganggu. Disfungsi ini dapat ditunjukan dalam lapang perhatian terbatas,
kesulitan dalam pemahaman, lupa dan kurang motivasi.
f. Disfungsi kandung kemih, setelah stroke pasien mungkin mengalami
inkontenensia urinarius karena kerusakan kontrol motorik.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan diagnostik
1) CT Scan (Computer Tomografi Scan)
Pembidaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma
adanya jaringan otak yang infark atau iskemia, dan posisinya secara pasti.
Hasil pemerikasaan biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang pemadatan
terlihat di ventrikel atau menyebar ke permukaan otak.
2) Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan
atau obstruksi arteri adanya titik okulasi atau raftur.
3) Pungsi Lumbal
Menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.
4) Magnatik Resonan Imaging (MRI):
Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
5) Ultrasonografi Dopler :
Mengidentifikasi penyakit arteriovena.
6) Sinar X Tengkorak:
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.
7) Elektro Encephalografi (EEG)
Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin
memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

H. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1) Lumbal pungsi, pemeriksaan likuor merah biasanya di jumpai pada
perdarahan yang Pasif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor
masih normal sewaktu hari – hari pertama.
2) Pemeriksaan kimia darah, pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula
darah dapat mencapai 250 mg didalam serum.

I. PENCEGAHAN
Pencegahan stroke yang efektif dengan cara menghindari faktor resikonya,
banyak faktor resiko stroke yang bisa di modifikasi. Sebagian dari pencegahan
stroke caranya:
1. Kontrol tekanan darah. hipertensi merupakan penyebab serangan stroke.
2. Kurangi atau hentikan merokok. Karena nikotin dapat menempel di pembuluh
darah dan menjadi plak, jika plaknya menumpuk bisa menyumbat pembuluh
darah.
3. Olahraga teratur. Olahraga teratur bisa meningkatkan ketahanan jantung dan
menurunkan berat badan
4. Perbanyak makan sayur dan buah. Sayur dan buah mengandung banyak
antioksidan yang bisa menangkal radikal bebas, selain itu sayur dan buah rendah
kolesterol.
5. Suplai Vitamin E yang cukup. Para peneliti dari Columbia Presbyterian
Medical Center melaporkan bahwa konsumsi vitamin E tiap hari menurunkan
resiko stroke sampai 50% vitamin E juga menghaluskan kulit.
K. PENATALAKSANAAN
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai
berikut:
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan:
a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendir
yang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
b. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
2. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
3. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat
mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan
gerak pasif.

 Pengobatan Konservatif
1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan,
tetapi maknanya pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
3. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi
pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
 Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral:
1. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan
membuka arteri karotis di leher.
2. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya
paling dirasakan oleh pasien TIA.
3. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut.
4. Ligasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.
LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN

Non Hemoragik Stroke

Pengkajian
a. Pengkajian Primer
– Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat
kelemahan reflek batuk
– Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit
dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
– Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi
jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin,
sianosis pada tahap lanjut
b. Pengkajian Sekunder
1. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
– kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
– mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
– Perubahan tingkat kesadaran
– Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan
umum.
– gangguan penglihatan
2. Sirkulasi
Data Subyektif:
– Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,
endokarditis bacterial ), polisitemia.Data obyektif:
– Hipertensi arterial
– Disritmia, perubahan EKG
– Pulsasi : kemungkinan bervariasi
– Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
3. Integritas ego
Data Subyektif:
– Perasaan tidak berdaya, hilang harapanData obyektif:
– Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
– kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi
Data Subyektif:
– Inkontinensia, anuria
– distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus
paralitik )
5. Makan/ minumData Subyektif:
– Nafsu makan hilang
– Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
– Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
– Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
– Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
– Obesitas ( factor resiko )
6. Sensori neural Data Subyektif:
– Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
– nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
– Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
– Penglihatan berkurang
– Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka
ipsilateral ( sisi yang sama )
– Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
– Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah
laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
– Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral )
– Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
– Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan
berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari
keduanya.
– Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
– Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
– Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral
7. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
– Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
– Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
8. Respirasi
Data Subyektif:
– Perokok ( factor resiko )
9.Keamanan
Data obyektif:
– Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
– Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
– Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
– Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
– Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang
kesadaran diri
10. Interaksi social
Data obyektif:
– Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
Rencana Asuhan Keperawatan

Nama Pasien :

Nama Mahasiswa :
Ruang :
NPM :
No. M.R :
N Diagnosa Tujuan / sasaran Intervensi Rasional
o Keperawatan
1. Perubahan Setelah x 24 jam MANDIRI
perfusi jaringan pemberian asuhan Menentuka Mempengaruhi
serebral b/d keperawatan, pasien n faktor- penetapan
interupsi aliran akan : faktor yang intervensi.
darahm Mempertahan berhubungan
gangguan kan tingkat dengan
oklusif, kesadaran kejadian /
hemoragi, biasanya atau penyebab
vasospasme membaik, khusus Mengetahui
serevral dan fungsi kognitif selama koma kecenderungan
edema serebral dan motorik / penurunan tingkat
DS : sensori. perfusi kesadaran dan
– Defisit Menunjukkan serebral dan potensial
sensori, TTV stabil dan potensial peningkatan TIK
bahasam tak ada tanda- terjadinya dan mengetahui
intektual dan tanda peningkatan lokasi, luas dan
emosi. peningkatan TIK. kemajuan /
DO : TIK Memantau resolusi
– Perubahan dan mencatat kerusakan SSP.
tingkat status TIA merupakan
kesadaran, neurologis tanda terjadi
kehilangan sesering trombosis baru
memori mungkin dan Memantau dan
– Perubahan bandingkan mengidentifikasi
TTV dengan jika terjadi
– Gelisah keadaan perubahan yang
normal atau tiba-tiba atau
standar signifikan

Reaksi pupil
diatur oleh saraf
Pantau kranial
TTV, Seperti okulomotor dan
: adanya berguna dalam
hipertensi, menentukan
frekuensi dan apakah batang
irama otak tersebut
jantung, masih baik
auskultasi Gangguan
adanya penglihatan yang
murmur, catat spesifik
pola irama mencerminkan
dari daerah otak yang
pernapasan. terkena.
Evaluasi Mengidentifikasi
pupil, catat kan keamanan
ukuran, yang harus
bentuk, mendapat
kesamaan, perhatian.
dan reaksinya Menurunkan
terhadap tekanan arteri
cahaya. dengan
meningkatkan
drainase dan
Catat meningkatkan
perubahan sirkulasi / perfusi
dalam serebral.
penglihatan Aktivitas yang
2. seperti kontinu dapat
adanya meningkatkan
kebutaan, TIK.
Setelah x 24 jam gangguan
Kerusakan pemberian asuhan lapang
mobilitas fisik keperawatan, pasien pandang dan
b.d keterlibatan akan : persepsi. Valsava manuver
neuromuskuler, Mempertahan dapat
kelemahan, kan posisi meningkatkan
parestesia, optimal dari  TIK
flaksid/ paralysis fungsi 
hipotonik, Mempertahan 
Letakkan
paralysis spastis. kan atau kepala Menurunkan
Kerusakan meningkatkan dengan posisi hipoksia yang
perceptual / kekuatan dan agak dapat
kognitif. fungsi tubuh ditinggikan menyebabkan
DS: Mempertahan dan dalam vasodilatasi
– Klien kan integritas posisi serebral dan
enggan untuk kulit anatomis. tekanan
bergerak meningkat
DO : Pertahankan Memberikan
– Penurunan keadaan tirah informasi
kemampuan baring, tentang
untuk ciptakan keefektifan
bergerak lingkungan pengobatan /
– yang tenang, kadar terapetik
Keterbatasan batasi
rentang gerak pengunjung
atau aktivitas
klien sesuai
indikasi. Mengidentifkasi
Cegah kan kekuatan /
terjadinya kelemahan dan
mengedan dapat
saat defekasi memberikan
informasi
KOLABORASI mengenai
Memberika pemulihan.
n oksigen Membantu
3. sesuai dalam pemilihan
indikasi] intervensi
Menurunkan
resiko terjadinya
Memantau trauma/iskemia
Setelah x 24 jam pemeriksaan jaringan dan
pemberian asuhan laboratorium kerusakan pada
keperawatan, pasien sesuai kulit
Kerusakan akan : indikasi, Meminimalkan
komunikasi Mengindikas seperti masa atrofi otot,
verbal b.d ikan protrombin, meningkatkan
kerusakan pemahaman kadar dilantin sirkulasi dan
sirkulasi serebral, tentang membantu
kerusakan masalah mencegah
neuromuskular, komunikasi Mandiri terjadinya
kehilangan tonus, Menerima Mengkaji kontraktur.
kelemahan/kelela pesan-pesan kemampuan
han umum. melalui secara
metode- fungsional /
metode luasnya Penggunaan
alternatif kerusakan penyanggga
Memperlihat awal dengan dapat
kan cara yang menurunkan
peningkatan benar. resiko terjadinya
kemampuan Klasifikasika sublukasio
untuk mengerti n melalui lengan dan
skala 0-4 sindrom bahu-
lengan
Meningkatkan
Ubah posisi aliran balik vema
minimal dan membantu
setiap 2 jam mencegah
(telentang, terbentuknya
miring) dan edema.
sebagainya
Melakukan Meningkatkan
latihan gerak distribusi merara
aktif dan berat badan yang
pasif pada menurunkan
semua pada tekanan pada
saat masuk. tulang-tulang
Menganjurka tertentu dan
n melakukan membantu untuk
latihan seperti mencegah
latihan kerusakan
quadrisep/glu kulit/terbentukny
teal, meremas a dekubitus.
bola karet, Program yang
melebarkan khusus dapat
jari-jari dan dikembangkan
telapak untuk
tangan menemukan
Gunakan kebutuhan yang
penyangga berarti / menjaga
lengan ketika kekurangan
pasien berada tersebut dalam
dalam posisi keseimbangan,
tegak koordinasi dan
kekuatan
Tinggikan
tangan dan
kepala Membantu
menentukan
daerah atau
Kolaborasi derajat
Memberika kerusakan
n tempat tidur serebral yang
dengan terjadi dan
matras bulat kesulitan pasien
sesuai dalam beberapa
indikasi atau seluruh
tahap proses
komunikasi
Klien mungkin
kehilangan
Konsultasik kemampuan
an dengan untuk memantau
ahli ucapan yang
fisioterapi keluar dan tidak
secara aktif, menyadari
latihan bahwa
resistif dan komunikasi yang
ambulasi diucapkannya
pasien. tidak nyata.
Melalukan
penilaian
terhadap adanya
kerusakan
Mandiri sensorik
Mengkaji
tipe/ derajat
disfungsi Melalukan
seperti pasien penilaian
tidak tampak terhadap adanya
memahami kerusakan
kata atau motorik
mengalami
kesulitan Mengurangi
berbicara atau isolasi sosial
membuat pasien dan
pengertian meningkatkan
sendiri. pencipataan
komunikasi yang
Memperhati efektif.
kan kesalahan
dalam
komunikasi
dan berikan
umpan balik
Pengkajian
secara individual
Meminta kemampuan
pasien untuk bicara dan
mengikuti sensori, motorik
perintah dan kognitif
sederhanan berfungsi untuk
ulangi dengan mengidentifikasi
kata atau kekurangan atau
kalimat kebutuhan terapi.
sederhana
Menunjukk
an objek dan
meminta
pasien untuk
menyebutkan
nama tersebut
Menganjurk
an
pengunjung/o
rang terdekat
mempertahan
kan usahanya
untuk
berkomunikas
i dengan
pasien,
seperti
membaca
surat, diskusi
tentang hal-
hal yang
terjadi pada
keluarga.

Kolaborasi
Konsultasik
an kepada
ahli terapi
wicara
REFERENSI

Perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. 2000. Jakarta :


penerbit Buku Kedokteran
Purwanti, Okti S. 2008. Rehabilitasi Pasca Stroke, Jurnal Berita Ilmu
Keperawatan. Vol. 1, No. 1, Maret 2008: 43 Saputra ,Lyndon. 2009.
Kapita Selekta Kedokteran Klinik. Jakarta : Binarupa Aksara
Publisher Smeltzer, Suzanne. 2005.
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Sudoyo, Aru. 2006.
Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Wilkinson,
Judith M. 2012.
Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC Black, Joyce M.
1997.
Medical Surgical Nursing fifth edition : clinical managemen
forcontinuity of care. Philadelfia : WB. Saunders company Carpenito, Lynda
Juall. 2001.
Buku saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC Doengoes,
Marilynn E, Jacobs, Ester Matasarrin. Rencana asuhan keperawatan :
pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasiaan perawatan pasien.2000.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Gejala, Diagnosa & Terapi Stroke Non Hemoragik. Diambil dari


http://www.jevuska.com/2007/04/11/gejala-diagnosa-terapi-stroke-non-
hemoragik/ tanggal 4 oktober 2008 pukul 19.00

Stroke non hemoragik. Diambil dari manahttp://ekspresi


ekspresiku.blogspot.com/2008/07/stroke-nonhemoragik.html tanggal 4
Oktober 2006 pukul 19.15