Anda di halaman 1dari 3

Nama : Dwi Nur Choli

Kelas : XI MIA 2

No : 12

MUHAMMAD RASYID RIDHA

Muhammad Rasyid Ridha adalah salah satu seorang tokoh pembaharu di dunia Islam
pada masa modern. Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin
Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Ia lahir pada tanggal 27 Jumadzil ula
tahun 1282 H atau 18 Oktober 1865 menurut kalender Masehi di Lebanon (Syuriah). Saat itu
Lebanon masih menjadi bagian dari Kekhalifahan Turki Usmani. Ia adalah seorang bangsawan
Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari sayyidina Husain, putra Ali bin Abi Thalib
dan Fatimah putri Rasulullah saw, dan sekaligus cucu dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, di
depan namanya memakai gelar“ Sayyid ”.

Selain mendapat pendidikan dari keluarganya, pada umur tujuh tahun, Rasyid Ridha
mulai mengenyam pendidikan dasar tradisional (kuttaab) di desanya. Di sana, ia belajar menulis,
membaca dan menghafal al-Qur'an, serta berhitung. Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia
melanjutkan belajarnya di Madrasah Ibtida'iyyah al-Rusydiyyah, Tripoli. Madrasah tersebut
merupakan lembaga yang dikelola oleh pemerintah Turki Usmani yang diperuntukkan bagi
calon-calon pegawai pemerintah,bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki. Setelah belajar
kurang lebih selama satu tahun disana ia memutuskan keluar dari sekolah tersebut di karenakan
ia tidak betah disana dan tidak tertarik menjadi pegawai pemerintahan. Setelah keluar dari
sekolah itu atau tepatnya pada saat umurnya 18 tahun ia masuk ke sekolah Madrasah
Wathaniyyah Islamiyyah, yang merupakan sekolah terbaik pada saat itu, dengan bahasa Arab
sebagai bahasa pengantar utama. Sekolah ini didirikan oleh Syaikh Husein al-Jisr. Ulama inilah
yang kemudian banyak berpengaruh terhadap pemikiran Rasyid Ridha .Di antara pikiran-pikiran
gurunya yang sangat mempengaruhi ide pembaruan Rasyid Ridha ialah bahwa satu-satunya jalan
yang harus ditempuh umat islam untuk mencapai kemajuan ialah memadukan pendidikan agama
dan pendidikan umum dengan menggunakan metode Eropa, karena sekolah-sekolah yang
dibangun bangsa Eropa dan Amerika di Suriah sangat diminati kaum pribumi. Keadaan ini
sungguh menghawatirkan sebab sekolah-sekolah tersebut tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama .

Rasyid Ridha meneruskan pelajarannya di salah satu sekolah agama yang ada di Tripoli.
Namun hubungan dengan al-Syaikh Hussein al-Jisr berjalan terus dan guru inilah yang menjadi
pembimbing baginya di masa muda. Selanjutnya ia banyak dipengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin
al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh melalui penerbitan jurnal al-Urwah al-Wutsqa yang
diterbitkan di Paris dan di sebarkan di Mesir. Kitab ini membuatnya bersikap kritis terhadap
kehidupan umat Islam dan mendorongnya untuk membantu melepaskan umat Islam dari
belenggu keterbelakangan dan penjajahan. Kitab ini juga menimbukan keinginan yang kuat di
hatinya untuk bergabung dan berguru kepada ke duanya. Keinginan Rasyid Ridha untuk bertemu
Jamaluddin al-Afghani tidak tercapai karena ia terlebih dulu meninggal dunia sebelum Rasyid
Ridha sempat menemuinya .Tetapi sewaktu Muhammad ‘Abduh mengunjungi Syaikh Abdullah
al-Barakah, seorang pengajar di madrasah al-Khanuthiyyah., ia mendapat kesempatan baik
untuk berjumpa dan berdialog dengan murid utama al-Afghani itu. Pemikiran-pemikiran
pembaruan yang diperolehnya dari al-Syaikh Hussain al-Jisr dan yang kemudian diperluas lagi
dengan ide-ide al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh amat mempengaruhi jiwanya. Pada
pertemuan tersebut Ridha sempat bertanya kepada Abduh mengenai kitab tafsir yang terbaik.
Oleh Abduh dijawab, bahwa kitab tafsir terbaik adalah al-Kasysyaf, karya al-Zamakhsyari,
karena ketelitian redaksi dan uraian-uraian bahasanya, walaupun Abduh mengakui kritik Ridha
terhadap kentalnya nuansa Mu'tazillah dalam kitab tersebut.

Pada tahun 1894, Ridha bertemu untuk yang kedua kalinya dengan Abduh di Tripoli.
Pertemuan ini berlangsung cukup lama sehingga Ridha memiliki kesempatan untuk menanyakan
beberapa hal kepada Abduh. Dengan pertemuan ini, Ridha kemudian menerapkannya di
kampung kelahirannya, tempat ia mulai berdakwah. Namun akibat tantangan penguasa setempat
terhadap pembaharuannya, Ridha memutuskan untuk hijrah ke Mesir dan bergabung dengan
Abduh. Ini terjadi pada bulan Januari 1898 dan merupakan pertemuan ketiga antara Abduh dan
Ridha.

Sebulan sesampainya di Mesir, Ridha mengutarakan keinginannya kepada Abduh untuk


menerbitkan surat kabar yang mengulas masalah-masalah sosial, budaya, dan keagamaan.Ridha
menyatakan tekadnya dan siap menanggung kerugian materiil selama beberapa waktu setelah
penerbitannya. Akhirnya, Abduh merestui pendirian surat kabar tersebut, yang kemudian diberi
nama al-Manar.

Rasyid Ridha melihat perlunya diadakan tafsiran modern dari Alquran, yaitu tafsiran
yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan gurunya. Ia selalu menganjurkan kepada
Muhammad Abduh supaya menulis tafsir modern tetapi guru tidak sepaham dengan murid dalam
hal ini. Karena selalu didesak, Muhammad Abduh akhirnya setuju untuk memberikan kuliah
mengenai tafsir Alquran di Al-Azhar. Kuliah-kuliah itu dimulai di tahun 1899 dan dihadiri oleh
Rasyid Ridha.Setelah mendapat persetujuan karangan itu ia siarkan dalam Al-Manar. Dengan
demikian timbulah apa yang kemudian dikenal dengan Tafsir al-Manar. Muhammad Abduh
memberikan kuliah-kuliah tafsir sampai ia meninggal di tahun 1905. Setelah guru meninggal,
murid meneruskan penulisan tafsir sesuai dengan jiwa dan ide yang dicetuskan guru. Muhammad
Abduh sempat memberikan tafsiran sampai dengan ayat 125 dari surat Al-Nisa' (jilid III
dari Tafsir al-Manar) dan selanjutnya adalah tafsiran murid sendiri.

Ide-ide pembaruan penting yang dibawa Rasyid Ridha. Dalam agama ia berpendapat
bahwa umat islam lemah karena tidak lagi mengamalkan ajaran yang murni seperti yang
dibawakan Rasulullah SAW dan para sahabatnya melainkan ajaran yang sudah bercampur aduk.
Dengan ini ia mengusulkan adanya toleransi bermazhab, dan perlu adnya penyatuan mazhab
walupun ia pengikut setia mazhab Hambali.Dalam bidang pendidikan ia mengikuti jalan
Muhammad Abduh yaitu islam akan maju jika menguasai bidang pendidikan. Dengan ini ia
mendirikan madrasah Dar al-Da'wah wa al-Irsyad untuk tujuan diatas. Dalam bidang politik ia
mengeluarkan ide tentang Ukuwah Islamiah (Persaudaraan Islam) dengan pemerintahan
dijalankan oleh khalifah seperti pada masa al-Khulafa ar-Rasyidin

Ridha wafat pada hari Kamis, 22 Agustus 1935 atau 23 Jumadil Ula 1354 H, dalam
perjalanannya pulang dari kota Sues, Mesir, dalam rangka mengantar Pangeran Saud al-Faisal.
Mobil yang mengangkutnya mengalami kecelakaan dan menyebabkannya menderita gegar otak.
Ridha wafat pada usia 70 tahun.

Sumber Referensi

 http://www.timkomte.com/2012/10/muhammad-rasyid-ridha-sang-pembaharu.html
diakses pada selasa 5 april 2016 ,09:00 PM
 http://www.harjasaputra.com/riset/biografi-dan-ide-ide-pembaharuan-rasyid-ridha.html
diakses rabu 6 april 2016 11:50 PM
 http://mas-santrier.blogspot.co.id/2015/04/rasyid-ridha-dan-pemikirannya diakses jumat 8
april 2016 09:00 AM
 http://sakura-ilmi.blogspot.co.id/2014/07/sejarah-pembaharuan-pemikiran-dan.html
diakses sabtu 9 April 2016 10:49 PM
 Sumber : Ensiklopedia Islam jilid 4, halaman 161-164